Udah lama nggak ke Kambing Soen, akhirnya suatu malam saya dan pacar memutuskan untuk kembali datang ke restoran yang satu tempat dengan Puri Tomat ini. Nggak enak dong ah kalau cuma makan berdua, akhirnya saya pun mengajak teman saya yang kebetulan kosannya ada di Dago Barat untuk bergabung. Untungnya, dia setuju dan segera melaju ke Kambing Soen menemui kami.
Dari luar, penampakan Kambing Soen di malam hari terlihat amat menggoda. Restoran yang terletak di halaman Puri Tomat ini terlihat sepi dan cocok untuk bersantai. Untuk Anda yang ingin menyambangi restoran ini, tinggal lajukan aja mobil menuju ke arah Dago Atas, tapi tentu saja nggak sejauh itu. Patokannya adalah Hotel Sheraton. Begitu lewat hotel mewah ini, berarti jarak Anda dengan Kambing Soen sudah dekat. Yang perlu Anda lakukan adalah memasang mata awas ke sebelah kanan agar tidak terlewat. Plangnya memang tidak terlalu besar. Tapi, karena ini adalah plang neon yang bersinar di antara gelapnya malam, jadi kemungkinan terlihat lebih besar. Kalau Anda sudah lihat Kambing Soen, berarti Anda tinggal mencari putar balik. Mudah kan?
Karena satu tempat dengan Puri Tomat, nggak heran kalau para pengunjung yang datang ke sini kerap memilih untuk makan di sini. Para pelayannya juga kemungkinan bersedia mengantarkan pesanan kita ke kamar. Istilah kerennya sih room service. Tapi, mungkin untuk itu kita akan dikenai biaya tambahan. Tapi, meski satu halaman dengan Puri Tomat, bukan berarti orang luar nggak boleh makan, malah bisa banget kok datang ke sini. Kalau saya, ini adalah kunjungan ketiga. Pertama, saya duduk di bagian dalam yang lampunya terlalu temaram. Kedua, saya datang pas lagi salat Jumat sehingga harus nunggu nyaris setengah jam sampai pelayan datang. Nah, kalau yang ketiga, pas nih. Malam hari dan di bagian depan yang penerangannya nggak remang-remang.

Setelah kami duduk, nggak berapa lama kemudian, pelayan datang membawakan daftar menu. Oh iya, bahas sedikit soal tempatnya ya. Kambing Soen ini konsepnya adalah menggabungkan antara menu masakan kambing dengan film. Hal ini terlihat dari banyaknya poster film yang ditempel di dinding hingga kasir. Ruangannya juga dibagi dua. Bagian depan untuk mereka yang ingin makan sambil ngobrol santai, sementara bagian belakang (yang lampunya temaram itu dan bersebelahan dengan dapur) adalah tempat untuk menonton film karena di situ ada televisi layar datar, DVD player, dan sound system yang dahsyat. Pas saya datang ke sana, lagi ada film Tron Legacy yang diputar. Suaranya pun terasa sampai ke bagian depan.
Oke, kembali ke menu. Ternyata, Kambing Soen kini punya menu tambahan yang berbeda merk. Ada Yagi-Yagi. Ini bisa dibilang snack karena porsinya nggak sebanyak menu biasa. Yagi-Yagi ini merupakan daging kambing yang dipotong kecil-kecil kemudian digoreng dan disajikan dengan kentang. Untuk mereka yang nggak suka kambing, bisa minta ganti ikan dori kok. Cara penyajiannya juga sama. Selain Yagi-Yagi, ada iPie yang khusus menyajikan menu pie (ya iyalaaah, udah ketahuan dari namanya juga

). Pie yang disajikan tentu saja beragam rasanya. Ada cokelat, blueberry, apel, dan daging. Dan, semuanya itu disajikan bersama dengan segelas latte machiatto. Hmm, menggoda banget nggak sih??
Eits, kepengen sih kepengen, tapi perut udah meronta nih minta diisi. Akhirnya, saya putuskan untuk membeli paket 150 gram yang isinya kambing, sambal kecap, nasi, dan ice lemon tea. Komplit ya? Harganya cukup murah lho dengan paket segitu, yaitu Rp27.500. Nggak berapa lama kemudian, pesanan pun datang. Waaah, lapar saya yang tadinya biasa saja mendadak menggila mencium bau harum daging kambing yang langsung saya lahap. Hap!
Daging kambing di Kambing Soen emang bisa dibilang juara banget. Kalau biasanya daging kambing itu alot, di sini sama sekali nggak tuh. Empuk banget. Terus, kalau yang masak nggak jago, biasanya masih akan tersisa aroma bandot dari kambing tersebut, tapi di sini nggak sama sekali. Daging kambing dicampur dengan nasi hangat emang paling enak. Cumaaa, sambalnya pedas bangeeeet. Perut saya jadi panas

Puas makan, saya dan pacar masih tergoda untuk nyoba pie apelnya. Kayak apa sih rasanya? Akhirnya, kami berdua sepakat membayar patungan. Dengan harga Rp18.000, kita sudah dapat satu porsi pie apel dan latte machiatto. Wah, boleh juga nih. Tunggu punya tunggu, datanglah pie apel yang kami pesan. Jreng...jreng! Ukurannya sih nggak terlalu besar ya, mungkin hanya setelapak tangan. Gelas lattenya pun juga nggak besar-besar amat. Ketika pie dipotong, kulitnya hancur dengan sukses layaknya nastar. Begitu disuap ke mulut, bagian dalamnya masih hangat. Selai apelnya pun terasa banget. Sebagai penutup, hirup latte machiatto yang masih hangat. Nikmaaaaat!
Recommended Dish(es):
paket komplit 150 gram
Date of Visit:
2012-06-28
Spending:
Approximately
IDR 50.000