6
2
0
Telephone
(022) 7273626
Good For
Dating / Couple
Family Gathering
Opening Hours
Mon - Sun 10:00 - 23:00
Payment Method
Visa Master Cash / Tunai
Number of Seats
70
Other Info
Delivery Service
Outdoor Seats
Parking Area
Reservation
Sales Tax
Service Charge
Open Till Late
Signature Dishes
Sirloin Steak
Review (8)
Veteran Gourmet 2013-05-20
333 views
Waktu itu lagi ada pertandingan bola, dan si dia ngajakin nonton bareng. Tapi pengennya di Csfe yang punya bigscreennya. Akhirnya aku bilang kalo di Green Cafe ada bigscreennya.So kita pun langsung menuju kesana. Green cafe ini terletak di Jl. Diponegoro pas banget bersebrangan dengan Museum Geologi Bandung, ga jauh dari Taman Lansia dan Gedung Sate. Tempatnya cukup strategis ya. Green Cafe sendiri tempatnya ngegabung sama distro 3 Second, jadi dibagian dalem cafenya ada outelt 3 Secong. Bahkan di dalam cafe banyak dipajang manekin dan distro stuff dari 3Second. Pas kita dateng pertandingan udah mulai beberapa menit. Dan beberapa spot enak pun sudah terisi. Jadi akhirnya kita duduk di paling depan pojok kanan bener-bener deket ma layarnya. Soalnya tinggal tempat itu yang tersedia kalo mau nonton. Setelah duduk, pelayannya lalu ngasi buku menunya. Buku menunya unik juga karena dilapisi denim gitu. Untuk menu yang aku pesan adalah French fries, Chicken Chilli Garlic, Living on a Green, dan Ice Green Tea Latte.Minumannya serba green gini, mentang-mentang nama cafenya Green Cafe.Tak lama satu per satu pesananku datang.Chicken Chilli Garlic ini adalah menu makanan yang terdiri dari butter rice yang gurih dan ayam yang disajikan dengan mangkuk dari semacam kulit lupia yang disgoreng kering. Didalamnya terdapat potongan ayam goreng, cabe rawit, dan taburan bawang putih yang di caramelized jadi agak manis rasanya. Owya didalam butterricenya juga terdapat potongan sayuran jadi makanannya bener-bener bergizi dan enak.Kentang gorengnya sih standar, cuma memang porsinya cukup banyak dan ditambah dengan taburan keju parut diatasnya. Bikin rasanya tambah gurih aja. Dilengkapi dengan saus sambal tentunya.Ice greentea Lattenya ini aku paling suka, kenapa? karena harganya murah tapi porsinya gede. Heheeheh.. Rasa greenteanyapun cukup pekat ga kalah sama rasa susunya. Penampilannya dipercantik oleh sebuah strawberry yang disematkan di ujung gelas. Ini dia Living on a Green yang best seller menu disini dan rekomended katanya. Isinya adalah sayuran segara (sepertinya sawi atau pakchoy), madu, apel, dan nanas. Rasanya seru dan segar lo. Tak lup minuman ini pun pastinya sehat ya kan mengandung banyak serat. Penampilannya sama dengan grentea latte yang sama-sama dipercantik oleh buah strawberry.Pelayanan disini cukup memuaskan, para pelayan tersebar di berbagai sudut ruangan sehingga memudahkan kita untuk meminta bantuan ataupun memesan makanan. continue reading
(The above review is the personal opinion of an user which does not represent OpenRice’s point of view.)
Veteran Gourmet 2012-12-13
160 views
Entah mengapa beberapa minggub terakhir ini saya lagi ngidam yang namanya iga. Alhasil sudah lumayan banyak juga resto, cafe dan pkl yang saya sambangi. Terakhir saya masih ingat ketika makan di Green cafe & resto yang terletak dijalan dipenogoro cukup berkesan.Tempatnya sangat nyaman, apalagi susah sekali resto yang memiliki konsep seperti green cafe ditengah kota. Dari sejak pintu masuk sudah terlihat suasana hijau dan alami. Kursi yang terbuat dari sofa membuat saya bisa santai berlama-lama. Ruangannya selalu nampak bersih, cerah dan bisa bikin hati adem. Ini semua didukung juga dengan pelayannya yang baik dan cepat.Menu yang disediakan green cafe cukup bervariasi mulai dari makanan indonesia, japan hingga western. Kali ini pesanan saya adalah iga bakar. Iganya cukup besar, wanginya harum serta berwarna kecoklatan. Tekstur dagingnya empuk dan sedikit kenyal. Bumbunya terasa gurih dan manis. Selain itu bumbunya menyerap kedalam setiap lapisan daging, sehingga rasanya bener-bener mantap. Harga makanan disini berkisar Rp 50000an saja. continue reading
(The above review is the personal opinion of an user which does not represent OpenRice’s point of view.)
Veteran Gourmet 2012-06-14
136 views
Green Cafe ini sebenarnya sudah lama sekali menjadi tempat hang out anak Bandung. Lokasinya yang berada di pusat kota Bandung tepatnya di pinggir jalan Diponegoro ini menyatu dengan distro 3 3 Second. Suasananya sangat asri saat pertama kali menginjakkan kaki disini. Area terasnya cozy namun tetap mengusung gaya anak muda terlihat dari salah satu sudutnya memiliki sofa dengan bendera Inggris dan Swedia yang mencirikan kebebasan anak muda yang lengket dengan simbol-simbol tertentu. Di sudut lain ada beberapa sofa yang enak untuk ngopi sambil merokok, di bagian dalam terdapat beberapa sofa juga dan etalase berisi kue-kue cantik yang menggoda perut.Sambil menemani ngobrol cantik saya di siang menjelang sore yang mendung di Bandung, seporsi Nasi Chicken Katsu Cheese tersaji di meja. Porsinya ternyata sangat besar, Nasinya sepintas seperti nasi lemak tapi ternyata ini nasi yang sedikit digoreng dengan mentega sehingga rasa asin dan gurihnya mentega sangat terasa. Chicken katsunya dagingnya lembut dan bagian kulitnya juga crunchy apalagi topping melted mozarella cheese-nya bikin saya pengen nambah lagi!Melengkapi makan siang saya, segelas Blueberry Shake menjadi pilihan yang tepat. Paduan blueberry yang di blended dengan susu ini rasanya segar dan manisnya pas. Saya suka banget asam manisnya blueberry di minuman ini. Karena masih haus akhirnya saya iseng nyobain minuman pacar juga hehe, kebetulan dia memesan Orange Shake. Ini campuran jus jeruk dengan susu. Wah sama segarnya dengan blueberry shake. Jeruknya asam manis namun rasa manis susunya tetap terasa lebih kuat.Range harga makanan disini mulai dari Rp9.000 – 45.000, sedangkan minuman mulai dari Rp10.000 – 25.000. Overall sih, saya suka baget hangout di Green cafe ini apalagi kalau malam minggu suka ada live music dan banyak artis terkenal juga yang suka manggung disini. Great place, good food! continue reading
(The above review is the personal opinion of an user which does not represent OpenRice’s point of view.)