Asia DiningAsia Dining
ichakhairisa

Profile Stat:

The First to Review: 98
Review: 216
Photos Uploaded: 1184
Videos Uploaded: 0
Favorite Restaurant: 2
Recommended Reviews: 0
Recommended: 12
Following: 0
Followers: 8

ichakhairisa

My name is ichakhairisa. I live in Cilincing. I am a Editor, work in Kuningan . I often go to Sudirman , Kelapa Gading , Kuningan . I love Betawi , Jawa , International food , Chocolate / Candy Shop , Coffee & Tea Shop and Ice Cream / Yoghurt , Dessert , Soto / Rawon , Dim Sum, Salad the most.

Showing 1 to 15 of 216 reviews
1 2 3 4 5 ... 15
Sort by:
Region:
Tsurukamedou: When Honest Words Turn Into Flavours
Smile 1 day ago

Tsurukamedou ( Green Ville )
Overview & Venue

Ramen masih terus datang silih berganti, seperti my latest post, kali ini saya memuaskan rasa penasaran saya akan gerai ramen terbaru dibilangan Taman Ratu, Green Ville, Jakarta Barat. Ramen ini sedang menjadi pembicaraan hangat dikalangan foodies, tidak hanya rasanya yang otentik, namun keramahan dan how low profile the owner-nya pun membuat semua orang ingin kembali kesini. Sambil ditemani hujan deras kala itu, kaki saya melangkah masuk ke sebuah gerai yang dari depannya tidak akan tampak jika kita tidak jeli. Lokasi gerainya ini memang terapit dua ruko yang juga sama-sama kecil disepanjang jalan Taman Ratu. Namun, jika kita jeli, carilah ruko dengan plang bertuliskan huruf Jepang dan kata-kata Tsurukamedou. Disitulah sebuah resto ramen yang baru lahir beberapa bulan dan sudah dibicarakan banyak orang itu. Restonya kecil mirip dengan tipikal kedai ramen pinggir jalan di Jepang hanya saja dengan tampilann lebih modern. Susunan set meja makan kayu berwarna cokelat muda membuat resto ini terkesan minimalis. Pencahayaannya yang kuning juga makin membuat resto ini hangat dan bersahabat. Open kitchennya membuat pengunjung bisa dengan bebas melihat pembuatan ramennya atau chef asal Jepang asyik meracik ramen untuk kita. Jika bosan, bisa membaca majalah-majalah berbahasa Inggris dan Jepang yang tersedia di depan meja kasir.

Saya dan teman-teman langsung disambut hangat oleh sang pemilik yang sangat-sangat low profile dan ramah. Awalnya saya malah tidak tahu kalau ownernya ada diantara kami, karena dia ikut berdiri di depan pintu sambil membantu beres-beres meja juga. Tidak lama kemudian beliau baru menyapa saya dan teman-teman kemudian menceritakan sekilas tentang resto asal Nagoya yang sudah memiliki 8 cabang ini. Kata Tsurukamedou sendiri berasal dari dua pendekar Tsuru dan Kame, Tsuru merupakan pendekar Bangau sedangkan Kame merupakan pendekar kura-kura. Keduanya terinspirasi dari serial Dragon Ball. Resto ini terkenal dengan Hakata Style Super Tonkotsu Ramen-nya yang tidak menyajikan banyak menu hanya pure ramen tradisional dengan beberapa side dish dan aneka topping tambahan. Hal ini dilakukan untuk menjaga citarasa ramennya sampai-sampai kuah ramennya pun harus digodok selama dua hari.

Saya setuju sekali dengan kejujuran si pemilik Tsurukamedou apalagi saya bukan seorang ramen judge hanya seorang penikmat, maka saya menikmati malam itu tanpa harapan apa-apa, karena saya tahu dari sebuah keramahan dan kejujuran, saya pasti yakin ramen disini pun akan berbicara jujur. Setelah kami memesan makanan, si pelayan langsung meneriakkan menu yang kami pesan dengan cara berteriak kepada staf di dapur dan kemudian staf di dapur tersebut membalas dengan kata ‘Hai’ atau ‘Ya’ dalam bahasa Jepang. Unik sekali kedengarannya, tapi itulah cara Tsurukamedou berbeda dari yang lainnya.

Menu

Karena mereka mengandalkan keotentikan Hakata style, maka menu yang ditawarkan disini pun sangat terbatas. Mereka hanya punya Tonkotsu Ramen dengan base kuah daging babi dan Tori Ramen dengan base kuah daging ayam. Kesemuanya dapat dipesan dengan tambahan topping dan ras akuah yang spicy atau non spicy. Mereka juga punya Chahan dengan empat pilihan ebi, tori, buta, dan shinsen. Sedangkan untuk snacknya mereka punya Tori Kaarage, Tori Katsu, Gyoza dengan tiga pilihan filing yaitu buta, tori, dan ebi yang bisa di grilled ataupun di goreng dan aneka snacks lainnya. Dessert pun hanya berupa compliment Manngo Jelly. Minuman juga terbatas dan ocha yang free refill tentunya jadi jualan utama mereka,

Food & Beverages

Malam itu dibuka dengan segelas ocha hangat yang menghangatkan tubuh saya, disusul dengan sepiring Ebi Gyoza (32K). Cemilan khas gerai ramen ini disajikan enam pieces tiap piringnya. Kita bisa memilih filingnya dan teknik memasaknya, ada yang buta (babi), tori (ayam), dan ebi (udang ebi) baik di fried atau grilled. Ebi Gyoza disini memiliki kulit gyoza yang sangat lunak dan lembut sampai-sampai harus hati-hati memegangnya. Aroma jahe sudah tercium sebelum saya menggigitnya dan semakin kuat saat saya membuka dan mengigit bagian dalamnya. Potongan ayam cincang yang gurih berpadu pas dengan aroma jahenya. I simply love this dish!

 

Tori Kaarage (32K)

Tori Kaarage juga mencuri perhatian saya, daging paha ayam yang dipotong kecil-kecil dan digoreng dengan tepung hingga garing ini benar-benar cemilan yang menyenangkan. Daging paha ayamnya cukup tebal dan saya tidak menemukan sagu yang saya temukan apda Tori Kaarage di ramen resto sebelumnya. Biasanya sagu didalam kaarage dibuat untuk ‘menggemukkan’ tampilan si kaarage, tapi Tsurukamedou tak perlu tambahan sagu, dagingnya yang tebal dan tepung yang crunchy sudah membuat kaarage ini jadi juara. Rasanya gurih namun tiba-tiba berubah jadi pedas hehehe…saya nggak menyangka spicy-nya justru jadi after taste, tapi untung nggak terlalu pedas, jadi masih bisa saya makan. Tori Kaarage ini disajikan dengan coleslaw dengan dressing asin khas Hakata style. Refreshing!

 

Tori Katsu (32K)

Chicken Katsu disini juga tidak tebal karena tepung, tapi ayamnya. Dagingnya memang tebal dan empuk dibalut tepung yang digoreng sangat crunchy dan nggak berminyak. Wah, rasa-rasanya saya sanggup menghabiskan cemilan ini sendirian nih!

 

Tori Ramen (45K)

Berhubung saya tidak mengkonsumsi daging babi, akhirnya saya pilih Tori Ramen. Ramen berkuah ayam ini disajikan dengan potongan ayam, telur setengah matang, nori, jamur dan daun bawang cincang. Saya suka bagaimana mereka memadukan mie ramen yang tipis dengan kuah tidak terllau pkeat namun sangat gurih dan kaya akan kaldu ayam. Saya bahkan sampai menyeruput berkali-kali kuahnya tanpa mie ramennya hahaha! Dibanding kuah ramen otentik Jepang yang saya coba sebelumnya, kuah Tsurukamedou asinnya masih netral dan nggak butuh tambahan kaldu lagi dan yang pasti nggak bikin tenggorokan saya kering dan haus karena ada beberapa kuah ramen yang kandungan MSG-nya tinggi sampai-sampai asinnya bikin haus. Potongan daging ayamnya juga tebal dan lembut. It’s just perfect for non spicy lover!

 

Spicy Tori Ramen (45K)

Ramen versi pedas ini hampir mirip dengan ramen yang tidak pedas. Hanya saja toppingnya berbeda. Spicy Tori Ramen ini hanya bertopping potongan daging ayam, tauge, dan daun bawang cincang. Kuahnya cukup pekat dan pedasnya menusuk lidah. Wah, ini bukan tipe saya, nggak kuat nyeruput kuahnya hehehe….

Ebi Chahan (32K)

Nasi goreng Jepang ini disajikan dengan empat pilihan topping ebi, tori, shinsen dan buta. Saya mencicipi yang Ebi Chahan. Saya suka sekali dengan cara mereka memasak nasi goreng ini hingga tidak berminyak, lembut namun tidak lembek. Nasinya pulen dengan aroma ebi dan rasa ebi yang cukup kuat bercampur rasa gurih dari bumbu rahasia Jepang yang langsung memenuhi mulut saya. Nasi goreng ini juga dicampur dengan telur orak-arik dan potongan daun bawang. Simple yet tasty!

 

Mango Jelly

Setelah puas nyobain ramen, kami diberikan complimentary Mango Jelly yang kenyal dan rasanya segar. Aroma manga dan rasa mangganya begitu terasa di jellynya. Perfect closing for tonight!

Price

Menikmati ramen disini juga tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Harga semangkuk ramen disini berkisar antara Rp45.000 – 59.000. Untuk aneka snacks seperti gyoza, tori kaarage dan chicken katsu dapat dinikmati dengan harga hampir sama Rp32.000.

Service & Conclusion

Saya merasa seperti punya keluarga disini. Makan bersama teman-teman didampingi dengan owner yang begitu kekeluargaan, dan makanan yang benar-benar jujur apa adanya dan berhasil membuat saya terpesona. Mungkin beginilah seharusnya sebuah authentic restaurant, bukan hanya masakannya yang diutamakan tapi juga bagaimana membuat pengunjung merasa benar-benar ‘dirumah’. Pelayanann mereka sangat cepat, setelah si pelayan berteriak, makanan kami datang hanya 15 menit setelahnya. Ownernya pun ikut membantu kami menawarkan makanan yang menurut dia recommended. I believe that Tsurukamedou need neither a fancy place nor a happening area, the honest taste of Tsurukamedou will bring you a loyal customer in the future. Sure I'll be back here someday!

Recommended Dish(es):
tori kaarage

Date of Visit:
2013-05-19

Spending:
Approximately
IDR 50000(Dinner)

Restaurant Ratings
  • Taste (5)
  • Environment (4)
  • Service (4)
  • Clean (4)
  • Price (4)
Rate this review

  • Keep it up

    0

  • Look Forward

    0

  • Interesting

    0

  • Touched

    0

  • Admiration

    0

  • Nice Photo

    0
Jadi Tahanan Bahagia Sehari
Smile 1 day ago

Bong Kopitown ( Kelapa Gading )
Overview & Venue

Suatu hari ada dua orang sahabat bernama Kim dan Bong yang terpisah karena Kim harus mendekam di penjara akibat kesalahan yang tidak dilakukannya. Karena kesetiaannya, Bong memutuskan menemani Kim dengan menjadi koki di penjara tersebut. Tak disangaka, masakan mereka terkenal enak hingga membuat 3 buronan bernama Lee, Ming dan Ken menyerahkan diri dan akhirnya menutup penjara tersebut dan membuka restoran bernama Bong Kopitown.
Sekilas cerita di atas membuat saya terbayang-bayang suasana penjara dan seperti apa masakan Bong dan Kim yang mampu membuat 3 buronan relamenyerahkan diri tersebut. Bong Kopitown, sebuah restoran yang terbilang baru dibilangan Kelapa Gading ini memang berhasil membawa pengunjungnya terkesima dengan cerita khayalan tentang asal muasal restoran ini. Memang cliché tapi saat mengunjungi restoran ini, saya seperti dibawa masuk ke Hongkong tahun 1967 dimana penjara pada jaman itu terkesan sangat kuno dan kumuh, namun Bong Kopitown tetap mencampurkannya dengan gaya modern. Dimulai di pintu masuknya saya sudah disuguhi aneka barang-barang tempo dulu seperti mesin ketik usang dan beberapa buku-buku jaman dahulu. Masuk ke lantai kedua, area tangganya dihias dengan teralis persis seperti di penjara dan kitapun juga disambut dengan waiter yang berpakain ala tahanan penjara dengan baju bergaris hitam putih. Di salah satu sudutnya terdapat buffet yang berisikan barang-barang kuno. Kapasitas meja disini kira-kira cukup untuk menampung hingga 200 orang.

Menu

Resto yang memiliki tagline The Happiest Prisoner on Earth ini mencoba meyakinkan penikmat kuliner kalau di penjara pun kita bisa tetap makan enak. Restoran ini membawa hidangan chinese dan peranakan a la rumahan seperti Singapore Laksa Noodle, Wonton Noodle Soup, Char Kway Teow atau Grandma Porridge. Mereka juga memiliki Kongkow Menu seperti Toast, Cassava with Coconut Milk, Fried Mantau hingga Boiled Eggs. Tak lupa menu andalan mereka, menu Buronan yaitu Ote-Ote, Choi Pan dan Ham Pan dan Nasi Penjara yang benar-benar mengingatkan akan sederhananya sebuah penjara.

Food & Beverages

Setinggi rasa penasaran saya dan seramah pelayanan para sipir penjara, saya merasakan ternyata ada nikmatnya juga masakan a la penjara berikut ini:

Ote-Ote (14K)

Menu buronan Lee ini bahkan tidak diketahui isinya oleh sang owner. Tapi ya setelah dimakan akhirnya ketahuan juga hehe.. Si Ote-ote ini tampilannya mirip pangsit goreng hanya saja ada isinya dan isinya berupa sayura-sayuran dengan campuran ebi dan sedikit rasa asin ebi namun ada after taste manisnya juga. Kulitnya crunchy, cocok banget buat cemilan apalagi dimakannya dicocol dengan sambal cair khas Bong Kopitown.

Choi Pan (14K)

Menu buronan Ming ini sepintas mirip dim sum, namun aslinya makanan ini berasal dari Singkawang. Tekstur kulit luarnya sangat lunak, lembut dan cenderung hambar namun gurih setelah dikunyah. Bagian dalamnya berupa sayuran seperti isian Ote-ote. I love it karena mengingatkan saya pada dim sum.

Ham Pan (14K)

Menu buronan Ken ini sebenarnya agak aneh tapi unik. Ham Pan merupakan bubur sumsum yang gurih dan sedikit manis dengan topping sayuran seperti isian Ote-ote. Buat saya rasanya aneh sekali bubur sum-sum yang manis dicampur dengan rasa asin sayuran hehehe….

Singkawang Rojak (18K)

Lagi-lagi makanan dari Singkawang dan kali ini rujak dengan ebi dan emping sebagai toppingnya. Wah, belum pernah saya melihat seperti ini nih. Tekstur bumbu kacang untuk sambalnya tidak diblender halus, justru kacang yang masih kasar itu menimbulkan sensasi makan rujak yang berbeda. Sambalnya tidak terlalu pedas dan disajikan dengan buah seperti kedondong, mangga muda, mentimun, dll.

Claypot Rice Beef (29K)

Seporsi claypot rice ini berisi nasi yang ditutup dengan potongan daging sapi, jagung, brokoli dan telur orak-arik. Porsinya cukup besar untuk 1 orang. Cara makannya lebih enak jika diaduk bersamaan. Tekstur dagingnya cukup lembut dan ada sedikit rasa saus barbeque didalamnya, sementara jagung, brokoli dan telurnya menjadi pelengkap yang pas.

Grandma Porridge Udang Ayam (18K)

Grandma Porridge ini punya tiga pilihan topping, yaitu seafood, chicken atau telur phitan. Yang saya coba kali ini bertopping seafood yang berupa udang dan ayam ditambah dengan potongan pangsit goreng dna daun bawang. Tekstur buburnya lembut sekali, rasanya pun gurih, begitu juga dengan potongan udangnya tidak amis. Ah gak ada yang lebih nikmat memang selain bubur dengan topping yang pas!

Bong Fried Rice Seafood (27K)

Nasi goreng ini juga punya tiga pilihan, nasi goreng seafood, daging atau ayam. Saya mencicipi nasi goreng seafoodnya dan buat saya rasanya lumayan. Nasinya pulen dan tidak terlalu berlemak, ditambah dengan irisan seafood seperti cumi dan udang yang tidak amis. Rasa nasi gorengnya mirip perpaduan kecap dengan bumbu pedas khas masakan Chineses yang aroma agak tajam. Disajikan dengan emping, potongan mentimun dan tomat.

Penang Fried Noodle (28K)

Tipikal mie a la Malaysian ini memang bertekstur tebal namun lembut. Rasa pedas dan manis cukup terasa di mie goreng ini. Toppingnya berupa potongan baso, ayam, udang dan cumi. Saya suka dengan bumbu a la Penang yang mereka gunakan. Kuat sekali aromanya. Enak deh!

Singapore Laksa Noodle (28K)

I love Laksa, baik asli Indonesia atau Singapur apalagi yang punya kuah pekat, gurih dan sedikit pedas dan Singapore Laksa Noodle a la Bong Kopitown ini juara buat saya. Kuah santannya sangat pekat dan terasa seperti kari India namun tidka terlalu pedas. Mie yang digunakan sama dengan mie yang dipakai pada Penang Fried Noodle, agak tebal namun lunak dan lembut. Ditambah dengan irisan ayam, potongan telur, udang, dan irisan daun bawang. Perfect!

Nasi Penjara (23K)

This is what makes me wanna stay in prison hahaha! Nasi Penjaranya benar-benar seperti makanan di penjara. Disajikan dalam piring aluminium tipis yang suka dipakai di rumah skait dna penjara, membuat masakan ini makin mirip seperti di penjara. Aslinya ini hanya nasi yang disiram dengan semacam kuah pada kwetiaw siram, kuah sagu yang sedikit pekat dengan sayuran seperti kol, jagung, baso, dan irisan ayam. Kuahnya sangat gurih dan benar-benar pas dicampur dengan nasi. Suka banget sama nasi penjara ini!

Untuk menyegarkan tenggorokan saya mencicipi Lychee Ice Tea (17K). Minuman ini sangat segar sekali buat saya. Perpaduan teh dan sirup lecinya pas. Tehnya tidak terlalu pahit dan saya masih bisa merasakan rasa leci yang manis serta aroma teh yang juga wangi.

Teh Tarik (15K)

Minuman yang disajikan dingin ini memang sangat khas peranakan Melayu yang sudah familiar di lidah orang Indonesia. Minuman ini memang hanya campuran teh dengan susu dan untungnya disini campurannya pas. Biasanya saya menemukan yang susunya tidak terasa atau tehnya terllau pekat, tapi Bong membuat saya menyeruput teh dengan rasa susu yang sempurna!

Price

Makanan a la penjara disini juga disesuaikan dengan kantong setiap orang, berhubung konsep mereka lebih ke kafe, makanya harganya pun sangat terjangkau. Aneka menu Kongkow dapat dinikmati dari harga Rp14.000 – 15.000, menu Buronan Rp14.000, menu utama Rp23.000 – 27.000, aneka minuman Rp6.000 – 20.000. Kalau mau lebih hemat lagi, kita bisa menikmati menu Tertangkap Basah Berdua, dengan hanya Rp19.500 per orang exclude tax dan service charge, kita bisa menikmati 1 menu pilihan plus Ice Tea.

Pelayanan

Jadi tahanan disini sangat dimanjakan sama sipir-sipirnya heheehe…Walaupun berbaju ala tahanan, si pelayan yang harusnya jadi tahanan justru jadi sipir yang melayani pengunjung hehehe…Saat saya kesini kebetulan ketemu dengan marcomm-nya, dia bahkan sangat ramah dan menjelaskan ke saya asal muasal penjara Bong ini. Dengan harga yang murah dan masakan yang juga familiar di lidah saya rasa setiap orang yang kesini bakal jadi the happiest prisoner on earth. Well, wanna try to be a happiest prisoner, silahkan cari Bong Kopitown di Kelapa Gading.

Recommended Dish(es):
Singapore Laksa,Nasi Penjara

Date of Visit:
2013-05-11

Spending:
Approximately
IDR 25000(Dinner)

Restaurant Ratings
  • Taste (4)
  • Environment (4)
  • Service (4)
  • Clean (4)
  • Price (2)
Rate this review

  • Keep it up

    0

  • Look Forward

    0

  • Interesting

    0

  • Touched

    0

  • Admiration

    0

  • Nice Photo

    0
Failed Rustic American
Cries 2 days ago

19th Avenue ( Green Ville )
Overview

Saya teringat percakapan saya dengan beberapa food blogger beberapa hari lalu dan hampir semua setuju kalau kebanyakan restoran baru di Jakarta hanya fokus pada lokasi dan ambience bukan pada signature dishes yang harusnya menjadi ciri khas sebuah restoran. Ya, mungkin ada segelintir saja yang memang fokus pada makanannya dan sayangnya kebanyakan penduduk kota ini lebih mengutamakan urusan ‘tempat’ daripada ‘perut’. Sejak makin mantap di dunia food blogging saya semakin bisa membedakan mana restoran yang memang focus pada makanannya mana yang focus menjual tempatnya. Dan baru saja dua hari lalu saya ‘terjebak’lagi dalam restoran yang hanya focus pada tempat.

Venue

Bicara soal pemilihan lokasi, restoran yang menamakan dirinya 19th Avenue Kitchen & Bar ini cukup cerdik memilih daerah Taman Ratu, Green Ville dimana disepanjang jalan ini berdiri beragam restoran dan kafe. Keseluruhan interiornya pun dibuat a la Rustic American di era 20-an. Dari mulai pintu masuknya, mereka tidka menggunakan pintu melainkan sebuah gerbang geser seperti di sebuah gudang atau garasi dan berhasil membuat saya bingung bagaimana cara memasukinya hehe…ternyata dari dalam ada waiter yang siap membukakan untuk tamu yang datang ke restoran dengan dua lantai ini. Suasana temaram dengan lampu gantung bergaya industrial, bohlam kuning di dalam sebuah kerangka terbuat dari kawat yang dibentuk unik, langsung menyambu setiap pengunjung. Di bagian tengah mereka malah memberanikan diri memasang lampu hias besar nan mewah seperti yang biasa dipakai di ballroom sebuah hotel dan membuat area ini terkesan sophisticated. Ada bar dengan tulisan HEY AWESOME berhias lampu yang menyala menambah kesan Rustic American semakin kental. Di lantai dua terdapat area indoor dengan kapasitas kursi hingga 100 orang dan area outdoor kecil dengan dinding batu koral yang justru lebih mendekat ke nuansa alam.

Suasana disini memang sangat nyaman seolah membawa setiap pengunjungnya berada di era Rustic American. Uniknya lagi di setiap meja makan mereka meletakkan sebuah kertas permainan acak kata yang berguna sekali untuk mengisi waktu sambil menungu pesanan datang. Sayangnya, semua kenyamanan dan gemerlapnya abad 20 itu hanya sebuah ilusi di mata tidak untuk di perut saya.

Menu

19th avenue memang menawarkan beragam menu western, mulai dari soup dan salad; light bites seperti bruschetta dan friench fries; aneka pasta seperti creamy salmon, meat in balls, 19th avenue pasta yang kesemuanya bisa based on your preferences bisa spaghetti, fettuccine atau penne; Asian menu seperti Oxtail Fried Rice, Homemade Ribs Soup, Hainan Chicken Rice; Grill section seperti Salamony Salmon, Mc tender 200gr, atau Grilled Chicky; Aneka pizza dan West Side dengan English breakfast dan mini burger sebagai andalannya; hingga Dessert seperti Sweet I’m Sweet atau Chocolate Lava Cake. Untuk minumannya juga beragam, mulai dari aneka tea, coffee, smoothies, milkshake hingga beer. Sayangnya, entah mengapa beberapa menu yang saya cicipi berikut ini sama sekali tak sepadan dengan gemerlapnya Rustic American.

Food & Beverages

Going Nuts Smoothies (20K). Terbuat dari campuran hazelnut, susu, es krim dengan potongan almond dan marshmallow sebagai topping. Untuk pembuka, buat saya minuman ini enak. Perpaduan cokelatnya pas, teksturnya lembut dan creamy namun nggak terlalu manis apalagi ada potongan almond yang sangat saya sukai. But the worst part is teman saya yang juga memesan minuman ini menemukan potongan plastik di dalamnya! How come 19th avenue! I’m just trying to be honest for this part. Secara ini pertama kalinya saya menemui kecerobohan seperti ini. Euw I’m speechless, saat pihak resto mengakui kesalahannya pun saya rasa saya bisa menerimanya tapi masih terheran-heran bagaimana caranya plastik es bisa tak terlihat dan masuk ke dalam gelas sih!

Rise and Shine (20K) ini merupakan campuran dari nanas, stroberi, pisang, jeruk dan yoghurt. There no shine melainkan hanya satu kata. Asam! This is not into me. Campuran buah-buahannya nggak membuat smoothies yang pekat ini segar, hanya asam yang pekat di lidah saya. Mungkin 19th Avenue perlu menambahkan sedikit gula.

19th Avenue Punch (26K) untungnya bisa menetralkan minuman sebelumnya. Campuran grenadine syrup, sprite, lime dan stroberi ini memang menyegarkan tenggorokan, rasa asam dan manisnya pas.

Creamy Salmon Fettuccine (52K). Pasta fettuccine ini dibalut dengan saus yang cukup pekat dan creamy. Cukup gurih dan sedikit manis. Taburan daging salmonnya juga cukup empuk. Hanya saja menurut saya cream-nya terlalu pekat dan tekstur fettuccine-nya agak keras hingga di suapan terakhir saya merasa eneg dan penuh.

Pesto Spaghetti (48K). Pasta dengan saus pesto ini cukup gurih, hanya saus pesto-nya masih belum autentik masih terlalu creamy meskipun rasanya enak. Sayang saya tidak berhasil memotretnya karena pencahayaannya parah sekali disini.

Raviolli Scoglio (47K). Ah sayang sekali pasta ini tidak secantik penampilannya. Raviolli-nya overcooked sampai-sampai teksturnya sangat ‘benyek’, daging cincang di bagian dalamnya pun tidak terasa gurih. Dan mussels yang menjadi dippingnya pun masih tercium bau amis.

19th Avenue Sauce Spaghetti (35K). Sausnya sedikit hambar dan terlalu kental dengan aroma dan rasa tomat, justru cenderung seperti saus pasta instan yang sering saya temui di supermarket. Tekstur spaghettinya cukup lembut dan chicken teriyaki di atasnya cukup juicy dan crunchy bagian kulitnya.

Gindara Teriyaki (49K). Dari sekian jenis makanan yang saya coba sebelumnya, Gindara Teriyaki ini masih lebih baik daripada seporsi pasta yang so so menurut saya. Tekstur gindaranya juicy dan saus teriyakinya gurih dan manis. Gindara Teriyaki ini juga dilengkapi dengan nasi dan salad yang cukup mengenyangkan perut.

Cheese Burger (48K). Porsinya lumayan besar dengan French fries sebagai pelengkapnya. Sayangnya, even burger ini terlihat besar dan menggiurkan beef di bagian dalamnya terasa biasa saja cenderung hambar dan tidak ada tambahan saus didalamnya. Keseluruhan burger ini sebelum ditambahkan saus yang banyak menurut saya plain. Untungnya, French fries-nya masih menolong, tidak terlalu asin namun garing.

Price

Harga makanan dan minuman disini masih terjangkau menurut saya, hanya kalau sudha melihat porsi dan rasanya menurut saya sih berlebihan. Makanan dapat dinikmati mulai dari Rp27.000-98.000, sedangkan minumannya dapat dinikmati mulai dari Rp15.000-26.000, untuk beer dijual tergantung jenis dan ukuran botolnya rata-rata berkisar antara Rp22.000-75.000 dan untuk per basketnya bisa sampai 300.000.

Service

Servisnya tidak memuaskan buat saya. Saya kan kesini datang bersama teman-teman atas undangan mereka. Sampai disini pun kami hanya disambut ala kadarnya dan langsung ditawarkan untuk memesan makanan yang jumlahnya pun dibatasi. 1 orang hanya boleh 1 makanan dan minuman, itupun makanannya hanya boleh aneka pasta dan menu Asian yang harganya tidak di atas 70 ribu. Tidak ada perkenalan apapun tentang resto ini, bagaimana acara food tasting ini berjalan, sambutannya sangat biasa saja, seolah mereka menjual mahal sekali restorannya. Saat tragedy plastik es di dalam smoothies pun awalnya waiternya seolah menganggap ini hal biasa, kemudian barulah datang marketingnya dan meminta maaf kemudian menjelaskan masalahnya. Saat saya dan teman-teman blogger pulang pun mereka hanya menyalami kami tanpa basa-basi apapun yang menurut saya tidak ramah sama sekali. Well, this is very awkward food tasting ever buat saya.

Overall, saya hanya ingin memberi masukkan kepada 19th Avenue untuk lebih teliti lagi dalam menyajikan makanannya dan treating their customers. Bagaimanapun juga restoran akan maju jika mereka menghargai pengunjungnya. Well, this is my opinion, how about you, eaters?!

Recommended Dish(es):
going nuts smoothies

Date of Visit:
2013-05-19

Spending:
Approximately
IDR 45000(Dinner)

Restaurant Ratings
  • Taste (2)
  • Environment (4)
  • Service (2)
  • Clean (4)
  • Price (4)
Rate this review

  • Keep it up

    0

  • Look Forward

    0

  • Interesting

    0

  • Touched

    0

  • Admiration

    0

  • Nice Photo

    0
White European Asparagus Affair
Smile 3 days ago

Scusa ( Sudirman )
Overall Description

is one of the beautiful yet rainy season where some of flowers and vegetables grows seasonally. Asparagus is one of the most-waiting vegetables in this month and that’s why when it comes to April several restaurants are racing to serve delicious dishes with the beautiful asparagus. Scusa, an Italian dining located in InterContinental Jakarta MidPlaza is one of the racers who take part in this racing, with the event called White European Asparagus Affair, they offer white asparagus rather than the green one since it grows seasonally from late April to June. White asparagus is different than the green asparagus because of the planting process where the white colour from the white asparagus comes because the plant did not get any enough sun light, therefore the photosynthetic process is not occurred.

The white asparagus referred to as the royal vegetable which is less bitter and much more tender. It must be peeled before cooking or raw consumption. Besides, this premium vegetable is very healthy with 95% consists of water and has no cholesterols, high levels of antioxidants, a good source of vitamin C and dietary fibre which is good for disease prevention and balance our diet. In this event, Scusa not only bring this European delicacy to their kitchen, but also convince their customers that white asparagus can turn into a beautiful yet scrumptious food which can give customers a good once-in-a-year dining experience.

Venue

It was me and several food bloggers who was invited to feel this once-in-a-year dining experience. We were gathered in this fine dining restaurant which recently change its concept into casual dining. Scusa has quite spacious room with two private room upstairs which is usually booked for private meeting, while downstairs they have several cozy dining table with chocolate and maroon domination in its furniture, bar with several glasses hanging on the hanging tray and open kitchen. Scusa also provides customers with a warm lighting that make everyone who dining here feel private. We can see several award achieved by Scusa in front of the resto. There are several trophies awarding Scusa in several event such as 1st Runner Up for Best Italian/Spanish Restaurant from NOW! Jakarta Magazine. Near the open kitchen we can see a wine display. Overall, the atmosphere is still fine dining look alike for me.

Food & Beverages

The night was opened by Fantasia Mocktail (55K) with slices of lychee and orange on the top. It was a super refreshing mocktail which became the most favourite drink here. It was a fusion of Orange, Lychee, Mango and Grenadine syrup which offered me a colourful taste from the sour bitterness of orange to the sweetness of mango infused grenadine. Perfect opening!



Walnut Bread with Feta Cheese
became a complimentary food tonight. It will and always served for everyone who dining here. This bread filled with a Feta cheese comes from Greece and served with olive oil as a dipping. The taste was a lilttle bit sour but it gave me a super good cheese sensation. The bread was chewy as well. Great for waiting the main course.

Then, Chef Wawan Barito as the Chef De Cuisine of Scusa, served us the White Asparagus in a fried egg with Parmesan, black truffle, and rosemary butter sauce. This is the first time I meet white asparagus, I thought they are twins but actually they’re not. White asparagus much crunchier and sweeter than the green one, moreover, the white asparagus here is imported freshly from Peru. The half fried egg was just okay and the rest ingredients completing this dish.

Next, White Asparagus Soup came on my table. It served in a plate not in a bowl but the portion still enough to one person. This pale yellow soup is simply like a cream soup but the texture was rougher since it made from puree asparagus. The taste is a little bit sour and savoury, the pesto sauce on the top of soup enhanced the flavour. The surprising part was the cheese ball also in the top of the soup. It made from parmigiano reggiano cheese which has strong flavour but savoury as well. I simply love this soup.

Grilled White Asparagus and Beef Tenderloin with gorgonzola, creamed potatoes and béarnaise sauce. I chose medium rare for the beef and it gave me a super juicy and tender meat. The melted cheese and béarnaise sauce were also added the flavour of this beef. Otherwise, I prefer the grilled asparagus, it was crunchy and less water. The creamed potato was also good, it simply looks like a mashed potato but the texture was more solid.

We also got side dishes, the White Asparagus Risotto with parmesan and truffle served with fried asparagus. The asparagus here was well-fried like a crunchy snack; however, the texture inside was still moist and succulent. Meanwhile, the risotto’s texture which infused with parmesan and truffle was soft like porridge. The cheese flavour was so strong but melted on my mouth.

The best closing for tonight dining, of course, the Warm Melted Cake. This beautiful cake was served with rum raisin ice cream. It was a Chef Wawan masterpiece for me. The cake was moist outside but when you cut it you will find a treasure inside, a melted, flavorous and yummy dark chocolate. Sluuurrpp! The chocolate, however, not so dark, it gave me a sweet after taste as well and it just melted in my mouth. Oh God, who doesn’t love chocolate! The other garnishes, the stick biscuit and the rum raisin ice cream was also completing this dessert. A super winning dessert!

Price

Well, this once-in-a-year dining experience can be enjoying from 15 April to June 2013 at Scusa and Bacchus (in Bacchus you can also made your own asparagus dishes). With only Rp105.000++ to Rp445.000++ per portion, trust me you can get a great once-in-a-year dining experience which, yeah might be, enrich your personal knowledge and taste about white asparagus.

Service

No worry about the service, as they are formerly a fine dining resto, they still serve you with the best service and warm staffs even I can chat with Chef De Cuisine of Scusa, Chef Wawan Barito and asking several questions popped up in my mind especially about white asparagus. The service and the food was also good and fast. Everything just perfect for me that night

So, wanna try a once-in-a-year dining experience. Just visit Scusa before June passes your day, Openricers!

Recommended Dish(es):
Warm Melted Cake

Date of Visit:
2013-04-24

Spending:
Approximately
IDR 450000(Dinner)

Restaurant Ratings
  • Taste (5)
  • Environment (5)
  • Service (5)
  • Clean (5)
  • Price (5)
Rate this review

  • Keep it up

    0

  • Look Forward

    0

  • Interesting

    0

  • Touched

    0

  • Admiration

    0

  • Nice Photo

    0
The Long Lasting Coffe Shop
Smile 7 days ago

Kopi Progo ( Riau )
Venue & Facilities

Saat lagi butuh ngobrol santai sambil ngopi cantik di Bandung saya biasanya selalu mencari tempat yang enak, homey dan punya wifi kencang serta bebas pakai sepuasnya. Salah satu tempat yang membuat saya betah berlama-lama disini adalah Kopi Progo. Terletak di Jalan Progo No. 22, Bandung, kedai kopi ini boleh dibilang pioneer kedai atau kafe kopi di daerah ini. Kafe yang berdiri sejak 2009ini menempati sebuah rumah jaman Belanda yang sudah mendapatkan sedikit renovasi di beberapa sisi, namun saya masih bisa merasakan betapa homey-nya tempat ini saat pertama kali kesini. Kali kedua saya kesini, tempat ini mengingatkan saya akan rumah nenek saya.

Kafe ini seolah tidak memberi batas pada pengunjung setianya. Mereka mengijinkan pengunjungnya untuk tak sekedar makan tapi menikmati kalau ini rumah mereka. Nggak heran duduk berlama-lama disini pun nggak akan pernah diusir sama pelayannya hehe...Mereka menyediakan banyak sofa berwarna oranye ciri khas Kopi Progo dan kursi malas di halaman rumahnya dan beberapa kursi kayu di bagian dalam. Bagian dalamnya akan terasa interior rumah khas Bandung jaman dulu yang kental dengan tembok batu alam dan marmer, namun kini sudah dibuat lebih modern dengan marmer warna-warni. Kopi Progo juga menyediakan entertainment space berupa panggung band mini yang sering digunakan untuk live music di waktu weekend serta fasilitas home theater untuk acara nonton bola bareng dan satu lagi yang seru fasilitas wi-fi disini sangat bagus dan bebas dipakai sepuasnya even kita Cuma ngopi dan duduk berjam-jam disini hehehe…

Menu

Tentunya kopi menjadi incaran setiap orang yang berkunjung kesini. Kopi Progo menghadirkan puluhan sajian kopi yang semuanya berasal dari Indonesia seperti dari Mandailing, Toraja dan Wamena. Serunya lagi disini kita bisa menyesuaikan kopi sesuai keinginan kamu. Kita bisa memilih apakah kopinya akan diolah dengan dreep coffee, kopi peres atau kopi tubruk. Dreep coffee rasanya sangat original dan cocok untuk penggemar kopi berat, sedangkan kopi peres cocok untuk yang ingin kopi agak ringan. Kalau penasaran, kita bisa langsung mampir ke dapurnya dan melihat langsung pembuatannya. Untuk menemani ngopi cantik, Kopi Progo juga menyediakan aneka makanan ringan sampai makanan berat. Coba tengok Risoles Progo, Cheese Roll Pancake, Potato Pie, Potato Broccoli & Cheese sebagai teman ngopi kamu atau kalau sudah lapar berat pilihan aneka steak seperti Sirloin Steak atau Mie Goreng Lasem bisa mengenyangkan perut. Segarkan tenggorokan juga dengan pilihan minuman seperti Green Tea Cream atau Frozen Berrys.

Food & Beverages

Green Tea Cream

Minuman ini sering sekali disebut sebagai signature drink and one of favourite here. So, I chose it and for me it’s great! Perpaduan green tea, milk, and cream-nya benar-benar pas. Green tea-nya ngeblend dengan susu jadi tidak terlalu pahit dan susunya pun tidak terllau manis plus krim yang membuat minuman ini sangat sempurna buat saya!

Potato Pie

Ini menurut saya semi main course, padahal ini appetizer. Potato Pie ini sejenis mashed potato yang teksturnya tidak sekaku mashed potato pada umumnya, cenderung seperti bubur tapi agak padat dan lembut. The surprise part is ada keju mozzarella di dalamnya dan itu langsung meleleh pas saya potong potato pie ini. It’s heaven! Rasanya benar-benar heaven, lembutnya kentang yang rasanya gurih dan sedikit asin berpadu dengan lelehan mozzarella cheese benar-benar tak terlukiskan. Kalau bisa saya gambarkan, potato pie ini seperti perpaduan macaroni schotel yang rich of cheese tapi dalam versi lebih lunak. Ah can’t agree more! This is just delicious!

Blueberry Pancake

Sayangnya, penutup nongkrong cantik saya kali ini tidak memuaskan. Pancakenya beda banget sama gambar di buku menunya haha. Porsinya pan kecil. Tekstur adonan pancakenya sih lembut tapi entah mengapa semakiin saya kunyah kok malah semakin kasar dan agak keras ya. Sudah begitu, blueberrynya hanya berupa olesan selai blueberry dibagian luarnya saja, bahkan tidak didalam pancakenya (setidaknya) untung adonannya sedikit manis dan tambahan vanilla ice cream-nya juga sedikit menolong. Karena porsi pancake dan es krimnya gak seimbang, saat es krim sudah lebih dulu habis, pancakenya masih tersisa dan nggak ada pairingnya lagi, ujung-ujungnya mubazir deh.

Price

Kita dapat menikmati aneka minuman disini mulai dari Rp7.000 sampai Rp 20.000 sementara untuk makanan sebesar Rp14.000 hingga Rp30.000-an. No service charge hanya pajaknya 5%.

Pelayanan
Saya sangat menghargai pelayanan yang helpful dan make me feel home. Disini pelayannya cekatan dan sigap serta ramah. Saya memang tak disambut dengan greetings ala Jepang, tapi setelah melihat saya duduk mereka langsung menyodorkan buku menu dan mencatat pesanan saya dengan cepat. Makanan saya pun datang tidak sampai 20 menit.

Ah, saya nggak akan pernah bosan sampai kapanpun nongkrong disini. Meskipun buat saya menunya dari tahun ke tahun kebanyakan gak berubah, tapi tempat ini memang sangat pas buat nongkrong dan ngobrol panjang sama teman-teman. Nggak pernah tuh pelayannya mengusir saya hanya karena saya pesan secangkir kopi, internetan gratis dan duduk berjam-jam hehehe…Very recommended café to go for you coffee lover!

Recommended Dish(es):
potato pie

Date of Visit:
2013-03-16

Spending:
Approximately
IDR 25000(Lunch)

Restaurant Ratings
  • Taste (4)
  • Environment (4)
  • Service (4)
  • Clean (4)
  • Price (3)
Rate this review

  • Keep it up

    0

  • Look Forward

    0

  • Interesting

    0

  • Touched

    0

  • Admiration

    0

  • Nice Photo

    0
Tokyo Ramen Tabushi: The Other Game Changer
Smile 7 days ago

Tokyo Ramen Tabushi ( Kelapa Gading )
Overview & Venue

Ramen itu makanan yang nggak pernah ada matinya. Seolah datang bergelombang ke negara ini. Mulai dari yang mengaku No.1 hingga yang mengakui kalau bahan-bahannya tidak dimiliki oleh gerai ramen lainnya. Bagi pecintanya, si masakan Jepang ini selalu dinanti-nanti baik yang menyukai tekstur mie tipis atau tebal, kuah kental atau encer. Salah satu gerai ramen Jepang yang mencoba peruntungannya di Jakarta adalah Tokyo Ramen Tabushi. Gerai ramen ini sebelumnya sangat terkenal di daerah Tabushi, Jepang. Menjadi No. 1 dan satu-satunya gerai ramen yang menggunakan minyak ikan Bonito dalam kuah ramen dan ikan bonito dalam adonan handmade noodle mereka. Ikan Bonito sendiri diakui sebagai ikan yang mampu mencegah kolesterol, so even you have a bowl of ramen, you don't need to worry about gaining a weight hehehe...

Restorannya yang di Kelapa Gading merupakan satu-satunya gerai di Jakarta. Konsepnya pun simpel, sama dengan nuansa resto aslinya di Jepang. Saat memasuki resto ini, beberapa pelayan langsung menyambut saya dengan teriakan selamat datang a la Jepang. Dengan senyum manisnya mereka langsung mempersilahkan saya naik ke lantai dua karena di bawah kebetulan penuh. Satu hal yang membuat saya heran itu, pengunjung disini mayoritas orang Jepang lho. Usut punya usut ternyata pangsa pasar mereka memang orang Jepang yang tinggal di Indonesia. Kebanyakan dari orang-orang Jepang tersebut mengetahui kalau Tokyo Ramen Tabushi ini memiliki citarasa ramen Jepang asli dibandingkan kebanyakan resto ramen yang sudah ada.

Resto yang menempati ruko dua lantai ini cukup simple, kursi dan mejamakan kayu berwarna cokelat muda membuat tampilan resto ini tidak terlalu berlebihan, cenderung seperti kedai-kedai rame di pinggiran jalan di Jepang. Restorannya kecil tapi bersih dan AC-nya kencang. Jadi nggak usah takut kegerahan meskipun restonya kecil hehehe…Beberapa lampion di pasang di bagian depan pintu dan di area depan pintu masuk. Ada open kitchen yang sangat sibuk di lantai 1 dengan seorang chef bernama Fukuda yang memakai handuk ikat dan kacamata hitam beraksi dengan gaya santainya.
Kebetulan hari ini saya memiliki kesempatan untuk berbincang dengan chef Fukuda langsung dan dengan senyum malu-malunya ia bercerita kalau ia baru 7 bulan tinggal di Indonesia dan ingin memanjakan lidah orang Jepang yang kangen masakan Tabushi serta memperkenalkan masakan ramen khas Tabushi pada penikmat makanan Indonesia.

Menu & Food

Tokyo Ramen Tabushi tidak hanya berbeda dalam penggunaan ikan bonito, mereka juga membedakan dirinya dengan menawarkan menu ramen kering (penyajiannya seperti mie yamin Indonesia) atau disebut Aburasoba serta ramen kering celup (dipisah dengan kuah dan cara makannya dicelup ke kuah) disebut Tsukemen. Selain itu, ada beragam jenis ramen yang bisa menjadi pilihan seperti Syouyu Ramen with soy sauce taste, Miso Ramen with Miso taste, atau buat yang suka pedas bisa mencoba Karami Ramen. For those who love Chicken Ramen, Tokyo Tabushi menawarkan Tokusei Chukasoba atau Chicken Soup Ramen. Setiap ramen bisa diupgrade dengan tambahan pilihan topping hanya dengan menambah Rp20.000. Mereka juga punya appetizer mulai dari gyoza, chicken kaarage hingga roast pork belly. Sayangnya, berhubung masih dalam tahap tes pasar dan terus berkembang, mereka belum mempunyai dessert untuk teman makan ramen. Chef Fukuda bilang dalam waktu dekat akan tersedia dessert. Hooray!

Nah, yuk simak pengalaman saya mencicipi aneka makanan ala Tabushi, Jepang ini.

Tori Kaarage (25K)

This is a well opening appetizer! Kulitnya bagian luar ayamnya sangat crunchy dengan aroma kecap dan madu yang kuat, begitupun pas digigit saya bisamenikmati rasa asin, gurih dan manis sekaligus. Bagian dalamnya juga kenyal dan mudah digigit, adonan tepung sagu yang membalut daging ayamnya sangat lunak dan lembut menyatu sempurna dengan daging yang lembut. Pelengkapnya berupa mayonnaise yang juga segar dan tidak terlalu asam. Ah enough to say! Oishiii!

Buta Gyoza (28K)

Setiap gerai ramen pasti punya appetizer seperti ini. Saya sudah sering nyobain gyoza seperti ini dan menurut saya sih rasanya hampir sama, berupa kulit tipis yang didalamnya diisi daging baik babi atau ayam. Disini hanya tersedia daging babi panggang atau goreng untuk isiannya. Sayangnya, saya tidak makan babi, jadi saya hanya bisa memegangnya kalau dilihat sih kulitnya cukup lunak dan empuk meskipun sudah di fried. Kalau rasa menurut teman saya yang memakannya sih gurih dan dagingnya juga juicy.

Chicken Namban (28K)

Appetizer ini menurut saya unik selain daging dada ayam yang di marinated dan digoreng tepung, saus tar tar-nya sangat enak! Saus tar-tar yang jadi pelengkap cocolan ayam namban ini dibuat dari campuran saus tar-tar dengan potongan telur rebus dan menurut saya ada tambahan mayonnaise di dalamnya karena pas dimakan rasanya persis seperti mayonnaise gurih, sedikit asam dan ada manisnya sedikit. I really love it!

Tabushi Ramen (48K)

Nah, ini dia signature ramen disini. Ramennya disajikan dalam mangkuk putih besar karena porsi disini juga porsi besar. Oiya, ramen disini tersedia dalam dua pilihan daging tonkotsu (babi) atau chicken. Sayangnya, khusus si Tabushi ini hanya tersedia dalam daging babi. Kalau saya lihat ramen ini kuahnya memang sangat pekat sampai berwarna cokelat, mie-nya sendiri tebal (bisa request kalau mau mie yang lebih tipis) dan ditambah dengan potongan daging babi, nori serta telur ayam setengah matang. Tapi ternyata rasa kuahnya sangat asin kalau melihat teman saya yang memakannya hihi…Dia sampai berkali-kali memastikan kuahnya memang sangat asin dan ternyata memang benar, karena ini signature dish yang notabenenya asli Jepang makanya dibuat asin sesuai dengan selera orang Jepang asli.

Karami Ramen (52K)

Karami ramen ini merupakan versi spicy dari Tabushi Ramen. Bedanya menggunakan daging babi atau daging ayam yang dicincang. Kuahnya sanngat sangat pekat dan pedas sampai-sampai kuahnya berwarna merah pekat. Namun, rasanya lebih nendang dan nggak terlalu asin dibandingkan Tabushi Ramen. Topping lainnya sams berupa nori dan telur setengah matang.

Mabo Ramen (52K)

Saya penasaran dengan ramen ini karena ini satu-satunya ramen yang ramah untuk vegetarian. Disajikan dalam mangkuk yang cukup besar, ramen dengan mie cukup tebal ini membuat saya tersenyum karena bertopping potongan tofu dan sayuran, seperti kol, tomat dan telur setengah matang. Ditambah dengan potongan chicken atau babi sesuai pilihan. Kuahnya cukup pekat namunmenurut saya kurang gurih dan buat penyuka pedas sepertinya perlu menambahkan sedikit bubuk cabai kedalamnya.

Miso Ramen (52K)

Kalau sebelumnya Mabo Ramen cukup sehat karena bertopping sayur, si Miso Ramen ini lebih sehat lagi karena katanya kandungan kuah ramennya bisa membantu menurunkan kolesterol. Wah, saya terkejut sekali, masa sih? Ya, kuah ramen ini mengandung black garlic yang konon membantu menetralkan kolesterol dalam darah. Kuahnya sendiri seperti umumnya kuah miso, gurih dan sedikit terasa kari ayamnya. Kuahnya awalnya berwarna kuning tapi semakin menghitam jika diaduk karena ada black garlic didalamnya. Toppingnya sendiri terdiri dari chicken, telur setengah matang dan nori. Kita juga bisa menggantinya dengan babi. Saya suka sekali kuah misonya, rich of flavour!

Syouyou Tsukemen (48K)

Dipping ramen ini dibuat terpisah. Mie-nya disajikan kering dan kuahnya ditempatkan dalam mangkuk yang cukup besar. Tapi sayangnya, tekstur mie yang terpisah dengan kuahnya malah terlalu lengket dan keras. Saya butuh perjuangan untuk mengambil mie-nya loh hehe...Cara makannya ambil mie-nya dengan garpu atau sumpit kemudian makan bersama kuahnya atau istilahnya cocol dengan kuahnya. Sebenarnya agak repot memakannya apalagi mie-nya susah diambilnya hehehe...Tsukemen ini menurut saya kuahnya asin sekali seperti yang sebelumnya saya bilang, khasnya orang Jepang hehehe….Tapi tenang mereka menyediakan kuah gurih untuk penetral rasa asin. Tapi buat saya sih sebanyak apapun kuahnya, tetap saja asin banget hahaha!

Harga

Untuk harga mereka masih dalam range wajar. Aneka ramen dibanderol dari harga Rp48.000 - 52.000, sedangkan appetizernya bisa dinikmati mulai dari Rp.15.000 - 28.000. Minuman juga tidak terlalu banyak rata-rata harganya Rp10.000 - 15.000

Pelayanan

Saya suka sekali pelayanan disini, mulai dari kita masuk pintu, pelayannya sudah berteriak dan menyambut saya dengan greetings in Japanese. Mereka juga sigap memberikan buku menu dan makanan saya datang hanya dalam waktu kurang dari 15 menit. Waktu saya bertanya mengapa kuahnya asin dan segala macam saus yang mereka punya pun, si pelayan menjelaskan dengan ramah. Bahkan mereka sedikit berpromosi dengan menjelaskan kalau kita LIKE Facebook mereka, kita bisa mendapatka free Chicken Kaarage. Satu lagi yang membuat saya betah ya si Chef Fukuda yang ramah dan selalu senyum malu-malu hihi…

So, bagi kamu pecinta ramen, silahkan mencicipi dan membandingkan ramen ini, apakah bisa menjadi tempat yang bikin kamu balik lagi atau tidak. Apakah menurut kamu mereka berupaya merubah permainan ramen di Indonesia? Think and Just decide and most of all just enjoy your culinary traveling

Recommended Dish(es):
Miso Ramen

Date of Visit:
2013-05-08

Spending:
Approximately
IDR 55000(Dinner)

Restaurant Ratings
  • Taste (4)
  • Environment (4)
  • Service (5)
  • Clean (4)
  • Price (4)
Rate this review

  • Keep it up

    0

  • Look Forward

    0

  • Interesting

    0

  • Touched

    0

  • Admiration

    0

  • Nice Photo

    0
Freezing Chicken Wings
Cries 2013-05-15

The Cow Feed Resto ( Kuningan )
Venue

Satu hal yang terlintas dipikiran saya saat melewati restoran ini adalah, apakah ini restoran vegetarian? Kalau dilihat dari nama, Cow Feed Resto, sudah pasti resto ini mengusung tema seperti memberi makan sapi kan. Semua orang sudah tahu sapi itu makanannyan gak jauh-jauh dari rumput atau sayuran. Dan ternyata dugaan saya benar, restoran ini memang menempatkan salad sebagai menu utama mereka. Jadi, buat yang vegetarian atau sedang on diet, restoran ini sepertinya bisa jadi pilihan yang tepat. Dekorasinya dibuat persis seolah kita berada di sebuah peternakan sapi tapi dipadu dengan gaya modern minimalist. Hanya saja menurut saya desainnya sepintas mirip taman kanak-kanak hehehe...

 

 

 

 

Deretan kursi dan bangku pendek yang terbuat dari kayu dengan pot-pot berisi pohon bamboo membuat resto ini jadi bernuansa alam. Penerangan didalamnya cukup hangat dengan lampu gantung berbentuk bulat ditambah dengan beberapa pilar bercat hitam yang bertuliskan kata-kata dalam bahasa inggris bertumpuk yang membuatnya jadi unik. Ada semi open kitchen juga dapat kita lihat di sudut restoran. Area makannya ada yang indoor dan outdoor. Yang outdoornya menghadap langsung ke area taman terbuka Epiwalk yang berada ditengah mall ini.

Menu

Makanan yang ditawarkan disini utamanya salad, mulai dari nicoise salad, farmer salad, dan aneka racikan salad lainnya yang bisa kita pilih sendiri alias you can make your own salad. Ada beragam sayuran disajikan disini mulai dari selada, lettuce, arugula, wortel, mentimun jepang, kentang, jagung yang bisa ditambahkan dengan biji olive oil, dan aneka salad dressing lainnya. Tapi tenang saja, untuk yang non vegetarian, Cow Feed Resto juga menawarkan aneka pasta dan side dishes seperti chicken wings. Umumnya sih, menu yang mereka tawarkan disini menu-menu side dishes aja, jadi jangan berharap menemukan menu utama seperti nasi ya disini hehehe…

 

Berhubung saya dan teman saya yang sedang on diet penasaran juga dengan makanan disini, akhirnya kami memesan dua menu berikut:

Salmon Fettuccine Bolognese (45K)

Yang unik dari makanan ini adalah penyajiannya, pastanya disajikan bukan di dalam piring melainkan sebuah wajan atau penggorengan aluminium tipis dan berukuran sedang. Pasta fettuccine ini disiram dengan saus Bolognese yang kental akan rasa tomat. Tapi menurut saya saking pekatnya rasa tomat, sampai-sampai membuat pasta ini terasa hambar dan saya sampai butuh membuatnya sedikit pedas dengan tambahan saus. Pastanya sendiri direbus dengan sempurna sehingga kenyal dan tidak alot. Salmon-nya sendiri di half-grilled sehingga warnanya masih sangat oranye but it’s juicy dan tender.

 

 

Chicken Wings (28.5K)

Penyajian chicken wings ini juga terbilang tak biasa, karena disajikan di atas sebuah nampan kayu bulat. Namun, saya kecewa sekali dengan penyajian lima sayap ayam bersalut saus teriyaki ini, sudah bumbunya tak meresap, bagian kulitnya pun nggak terasa teriyakinya dan ayamnya disajikan dingin! Saya sampai berulang kali memastikan sama temen saya apakah benar ayamnya dingin dan akhirnya saya sampai meminta pelayannya untuk memanggang kembali ayam ini sampai benar-benar panas. Padahal makanan kami datangnya hampir setengah jam lho, tapi kok sampai bisa pesanan kami jadi dingin begitu. Dan setelah dipanggang pun, si chef-nya memanggang ala kadarnya, yasudah daripada protes lagi dan saya tidak jadi makan, akhirnya tetap dinikmati ala kadarnya.

 

Price

Range harga makanan disini untuk aneka salad mulai dari Rp40.000 – 65.000. Untuk aneka side dishes, mulai dari Rp25.000 – 55.000. Aneka minuman mulai dari Rp15.000 – 25.000.

Pelayanan

Pelayannya gak sigap menurut saya. Pas kami datang pun, duduk, setelah 10 menit memanggil pelayannya baru datang. Padahal saat itu menurut saya restonya sedang sepi. Makan saya juga datangnya lama sekali hamper 30 menit, padahal resto sedang sepi. Ditambah masalah makanan yang dingin itu. Saat saya bertanya ke pelayannya apa alasan ayamnya sampai dingin begitu juga dia Cuma cengar-cengir aja. Dan tanpa babibu langsung ngacir ke dapur, nggak ada permintaan maaf selain kata maaf yang terlihat nggak tulus. Harusnya mungkin saja mereka memberikan pengganti atau compliment sebagai permintaan maaf kan.

Overall, saya sih nggak akan balik lagi kesini. Cukup sekali buat saya mengetahui pelayanan sebuah resto yang nggak tanggap dari awal dengan pesanan si customer. Mungkin mereka butuh sedikit penngembangan terutama memastikan bahwa semua makanan disajikan dengan fresh.

Date of Visit:
2013-04-24

Spending:
Approximately
IDR 50000(Dinner)

Restaurant Ratings
  • Taste (2)
  • Environment (4)
  • Service (1)
  • Clean (4)
  • Price (3)
Rate this review

  • Keep it up

    0

  • Look Forward

    0

  • Interesting

    0

  • Touched

    0

  • Admiration

    0

  • Nice Photo

    0
Of-Fish-Cially Best Fish in Town
Smile 2013-05-15

The Manhattan Fish Market ( Kemang )
Berbekal sebuah voucher dining, saya dan adik saya bela-belain mengunjungi outlet terbaru The Manhattan Fish Market yang terletak di Lippo Mal Kemang, sebuah newly exclusive mal di daerah Kemang. Outletnya disini tidak terlalu besar seperti yang di GI atau Central Park tapi dari segi interior saya melihatnya disini lebih berbau industrial dan tentunya masih dengan ciri khas mereka menggunakan furniture berbahan kayu. Di bagian depan pintu masuk terlihat sebuah bar kecil dan dibelakangnya terdapat dapur yang tertutup. Konsep industrial ini berpadu dengan sedikit sentuhan childhood yang terlihat dari wallpaper dinding kanan mereka berupa lukisan mural bergambar pop art dan cenderung seperti kartun futuristic sih menurut saya. Sementara itu, pada dinding sebelah kiri berjajar rapi pigura-pigura yang juga berisikan foto-foto pop art. Menurut saya sih konsep MFM disini berbeda dengan beberapa cabang lainnya yang lebih menonjolkan sisi beach dan fish market mereka. Kalau dibanyak cabang lain mereka kental dengan nuansa pasar ikan atau hal-hal yang berbau kapal nelayan dan pantai, disini dibuat simple dining bahkan kita nggak bisa memilih ikan segar langsung atau melihat open kitchennya.

 

 



Namanya juga fish market, of course they sell fish menu here hehehe…Sama seperti kebanyakan restoran seafood yang jaid saingannya, MFM menawarkan aneka fish and seafood platter, seperti niasa Fish n Cips selalu menajid andalan mereka, bisa dengan Pacific Dory, Pacific Cod atau Sword Fish. Pilihlah sesuka hati kamu. Kalau bosan dengan Fish n Chips mereka punya aneka masakan ayam seperti Chicken of Liberty atau aneka pasta seperti Grilled Chicken Breast Pasta dan Mixed Seafood Pasta. Kalau sekedar ingin nyemil, coba intip aneka starter mereka, temukan Fried Country Mushroom, Garllic Herb Mussels atau Sizzling Lousiana Prawns untuk tetap bisa nyemil seafood porsi kecil atau aneka salad dan soups of the day untuk versi dietary. Bagi yang ingin makan besar Whole Lobster Platter atau Fisherman’s Giant Platters bisa jadi pilihan yang sangat tepat. Segarkan tenggorokan kamu dengan aneka pilihan Mocktails mereka mulai dari Tropical Breeze, Gummy Bear hingga Pirate’s Queen yang rata-rata merupakan fruit fusion bisa jadi pilihan yang segar apalagi di siang hari.

 

 

 



Karena keterbatasan voucher dan hanya boleh memilih dua main course dan dua drink, akhirnya saya dan adik saya memilih makanan dan minuman berikut ini:

Citrus Mint (25K)

Minuman pembuka ini lucu sekali karena berwarna hijau khas daun mint. Minuman ini disajikan dalam gelas beling sedang dan merupakan campuran dari lemon juice dan daun mint yang diblend dengan es batu. Tapi rasanya lebih aneh lagi, pahit dan menurut saya seperti menelan obat batuk rasa mint hihihi… Sebenernya sih segar pas diminum tapi meninggalkan after taste pahit teramat sangat di tenggorokan. Ah sayang sekali, penampilannya menipu.

 

Gummy Bear (25K)

Penyajian minuman ini sama dengan minuman sebelumnya dan untunglah si minuman berwarna biru muda ini masih masuk akal dibanding yang sebelumnya. Kombinasi Curacao dan tropical fruitnya membuat minuman ini terasa manis dan segar serta nggak menimbulkan rasa pahit di lidah. Rasanya seperti minum bubble gum namun lebih meninggalkan rasa pepsi blue sih buat saya hehehe. Simply as drinking a sweet pepsi blue.

 

Dory Fish & Chips (49K)

Ada yang bilang fish & chips di sini itu paling juara. Dan saya membuktikannya dengan memesan Dory Fish & Chips yang disajikan dengan french fries yang sudah ditambahkan bumbu perasa cheese yang membuatnya semakin gurih dengan rasa keju yang nagih dilengkapi dengan salad yang terdiri dari selada, mentimun, dan wortel. Selain karena tekstur ikan dory yang sangat lembut, tidak berminyak di bagian dalam dagingnya, crunchy kulit bagian luarnya pun sangat menggugah selera saya. Ditambah dengan creamy sauce diatasnya, aahhh I can’t agree more. This dish just perfect for my lunch!

 

Chicken Marinara (69K)

Pasta spaghetti ini disajikan bersama grilled chicken dan parmesan cheese di atasnya serta disiram saus Marinara. Buat saya sih, saus marinaranya kurang nendang. Terlalu hambar dan terlalu banyak tomatnya menurut saya, jadi saya butuh banyak saus sambal untuk membuatnya lebih ‘nendang’ di lidah saya. Tekstur ayamnya sendiri empuk dan kulit bagian luar manis seperti dikasih madu. Enaak banget deh ini! Parmesan cheese-nya malah tidak terlalu relalu banyak di atasnya dan tidak menambah rasa apapun selain sedikit asin pada pastanya.

 

Price

Overall, saya sangat menikmati acara akan siang disini. Untuk harga sih sebenarnya hampir sama dengan sebuah restoran sejenis yang terkenal dengan huruf F&C itu. Rata-rata menu fish dan platter dibanderol mulai dari 50.000-379.000. Untuk starter dapat dinikmati mulai dari Rp39.000-59.000. Aneka soup dan salad mulai dari Rp21.000-39.000 dan aneka pasta mulai dari 59.000-69.000. Sementara, minumannya mulai dari Rp25.000-35.000. It’s very worth untuk ukuran menu ikan karena memang seporsinya setiap orang mendapat satu ekor ikan. Great for satisfying your hungry belly!

Pelayanan sangat memuaskan, dari awal kita sudah disambut ramah oleh pelayannya dan nggak sampai 5 menit mereka langsung membawakan buku menu tanpa saya panggil. Makanan juga datangnya sekitar 20 menit-an. Kebersihan resto dan kenyamanannya juga patut diacungi jempol apalagi disini interiornya lebih ke simple dining resto jadi enak dan nggak terlalu rebut kayak di cabang lainnya.

Recommended Dish(es):
dory fish n chips

Date of Visit:
2013-04-19

Spending:
Approximately
IDR 50000(Lunch)

Restaurant Ratings
  • Taste (4)
  • Environment (4)
  • Service (4)
  • Clean (4)
  • Price (4)
Rate this review

  • Keep it up

    0

  • Look Forward

    0

  • Interesting

    0

  • Touched

    0

  • Admiration

    0

  • Nice Photo

    0
Masakan Asia dari 5 negara
Smile 2013-05-13

De'Resto Asian Food ( Kuningan )
Venue

Restoran dengan nuansa hijau ini menempati lantai dasar Plaza Festival, Kuningan. Letaknya tepat disamping Dim Sum inc. Saat saya kesini, suasananya kebetulan tidak terlalu ramai. Berhubung teman-teman saya juga ingin masakan Indonesia akhirnya kami memutuskan makan disini. Desain restonya simpel, mereka menggunakan furnitur kayu untuk perabotannya. Ada sekitar 20 set meja dan kira-kira cukup untuk menampung 80 pengunjung. Di bagian dindingnya banyak ditempel pigura bergampar spot-spot pariwisata di 5 negara yang makanannya disajikan disini. Penerangan di restonya juga cukup hangat sehingga cocok untuk acara makan malam bersama relasi atau keluarga.

Menu

De' Asia Resto ini tentunya mengusung menu-menu dari 5 negara di Asia seperti Indonesia, Malaysia, Singapura dan China. Masakan mulai dari dim sum, soup, ikan bakar, tofu, aneka seafood menjadi pilihan yang ditawarkan mereka. Sepintas saya melihat menunya memang menu peranakan dan Indonesia. Tengok saja gurame goreng, kangkung balacan, cumi goreng saus padang, dll. Oiya, menu disini porsinya besar, jadi lebih enak kalau makan bersama teman-teman disini dan sharing food.

Food

Berikut pengalaman makan saya dan teman-teman:

Sapo Tahu

Sapo tahu menjadi pembuka makan malam kami. Sapo tahu ini seperti biasanya berisikan aneka tofu atau tahu dengan potongan udang, cumi dan kerang. Kuahnya pun sangat pekat dan gurih serta tidak terlalu asin. Porsinya juga sangat besar, disjaikan dalam manngkuk keramik dan sangat cocok untuk dimakan 4-5 orang.

Udang Goreng Mayonnaise

I love the mayonnaise so much! Katanya ini handmade mayonnaise mereka. Well, teksturnya tidak terlalu pekat dan tidak terlalu asam justru cenderung gurih dan manis. Di cocol bersama udang goreng dengan kulit yang sangat garing membuat dish ini jadi salah satu favorit saya dan teman-teman.

Kacang Panjang Balacan

Tumis kacang panjang ini berbalut bumbu balacan dengan aroma terasi khas yang sangat menggugah selera. Pedasnya pas dan tumisan ini benar-benar mencerminkan masakan asli Indonesia yang original. It just perfect for completing the other dishes.

Gurame De'Resto

Seporsi gurame yang disjaikan dalam piring besar ini disiram dengan saus asam manis yang gurih dengan rasa asam dan manis yang juga pas. Tekstur ikannya pun lembut, sayangnya bagi yang tidak ahli mengolah gurame, bau lumpur akan sedikit tercium, dan De'Resto sepertinya belum mengolahnya dengan benar.

Mie Hijau De’Resto

Buat yang vegetarian mie ini patut dicoba. Warna mie-nya memang hijau dan katanya terbuat dari sayur-sayuran dan bahan-bahan alami lainnya. Mie ini disajikan tanpa kuah beserta potongan beef blackpepper dan sawi hijau. Buat saya mie ini kurang gurih justru pedasnya hanya terasa dari beef blackpeppernya yang dagingnya juga juicy. Yeah, ternyata presentasi tidak sepenuhnya menjamin rasa.

Price

Harga makanan disini masih terjangkau, rata-rata dimulai dari Rp15.000 - 85.000 untuk aneka ikan berporsi besar. Minuman pun mulai dari Rp7.000 - 15.000. Untuk kelas porsi besar, makanan disini sangat lumayan menurut saya, apalagi kalau makannya rame-rame jaid kan bisa patungan dan semuanya kenyang hehe…

Service

Pelayanannya sangat bagus. Pelayannya semua cekatan dan makanan kami dengan pesanan segitu banyak semuanya disajikan kurang dari 20 menit. Hanya saja saya sedikit kurang nyaman saat melihat semi open kitchennya. Kok dapurnya terlihat lusuh dan kotor ya, apa karena pencahayaannya yang redup atau memang seperti itu adanya. Yeah, at least perut saya kenyang sih malam itu hehe…

Overall, buat pecinta masakan Asia terutama Indonesia dan sedang berada di Plaza Festival, resto ini bisa jadi pilihan yang tepat

Date of Visit:
2013-05-10

Spending:
Approximately
IDR 35000(Dinner)

Restaurant Ratings
  • Taste (3)
  • Environment (4)
  • Service (4)
  • Clean (4)
  • Price (3)
Rate this review

  • Keep it up

    0

  • Look Forward

    0

  • Interesting

    0

  • Touched

    0

  • Admiration

    0

  • Nice Photo

    0
Uniknya Hidangan Pakistan
Smile 2013-05-13

Koh e Noor ( Kuningan )
Overview & Venue

Masakan negara-negara Middle East memang tidak pernah ada matinya. Selalu saja ada yang berbeda dari tiap masakannya di tiap negara. Kali ini saya mencicipi restoran Koh e Noor yang merupakan Pakistani dan Indian restoran. Restoran ini terletak di lantai dasar Plaza Festival Kuningan disebelah 711. Dari luar restoran ini terkesan sanngat privat karena tertutupi tirai. Pencahayaannya pun redup dengan lampu-lampu hias kuning namun menimbulkan kesan romantis dan hangat. Di dominasi warna merah pada furniturnya, saya bersama teman-teman penasaran ingin mencicipi seperti apa menu ala Pakistan. Masuk ke dalam restorannya, interior berubah menjadi dominasi merah mulai dari sofa hingga napkin-nya. Lampu-lampu hias juga masih menghiasi langit-langit restoran di pinggir-pinggir jendelanya. Beberapa pigura berukir emas juga tampak di beberapa sudut dinding.

 

Menu

Saat saya kesini restoran ini sedang sepi, beruntunglah tidak sampai 1 menit pelayannya memberikan buku menu. Menu yang mereka tawarkan disini rata-rata mirip dengan masakan India hanya ada perpaduan juga dengan menu Pakistan. Sebut saja Chicken Tikka, Briyani Rice, Roti Prata menjadi jualan utama disini. Ada juga beberapa menu Pakistan yang tidka familiar di telinga saya, misalnya Daal, Paneer dan lainnya.

Food

Karena penasaran akhirnya saya mencoba beberapa menu Pakistan seperti berikut ini:

Daal Makhni (50K)

Ini berupa lentil (sejenis kacang-kacangan) yang dimasak dengan butter dan special bumbu sindhi masala. Agak rumit memang membaca bahan-bahannya tapi pas disajikan, makanan ini terlihat seperti bubur bayi berwarna kuning. Ewww awalnya saya nggak berani mencobanya, tapi pas dicicpi ini seperti bubur kari saja. Enak, rasa karinya begitu terasa namun nggak terlalu pekat dan ada sedikit remah-remah lentilnya yang sebenarnya sedikit mengganggu tenggorokan saya.

Paneer Sagwala (55K)

Ini lebih aneh lagi penyajiannya. Hanya disebuah cawan kecil dan tekstur makanannya lagi-lagi seperti bubur bayi. Tapi ternyata ini memang bayam yang diblender bersama keju. Teksturnya lebih lembut dari Daal Makhni dan tidak menimbulkan rasa aneh di tenggorokan. Rasanya sih dominan bayam dengan rasa gurih dan sedikit asin. Tapi buat saya ini nagih banget loh.

Chicken Briyani (70K)

Kalau ini sebenarnya sudah sangat biasa buat saya. Nasi Briyani India ini terbuat dari beras basmati dengan ukuran lebih panjang dari beras Indoneisa. Warnanya juga kuning keoranye-an dan biasanya dimasak dengan aroma kari dan disajikan dengan chicken atau lamb. Nasi Briyani yang saya makan ini aroma dan rasa karinya sangat menyengat bahkan hingga kedalam daging ayamnya.

Chicken Tikka Makhanwala (70K)

Menu ini tidak pernah ketinggalan tiap kali saya pesan masakan India. Disini bumbu chicken tikka-nya sangat pekat bahkan sampai bagian kulit daging ayamnya dibuat berwarna merah yang membuat aroma dan rasa campuran kari dan bumbu masala sangat menyengat namun tidak pedas sama sekali.

Untuk dessertnya, saya mencicipi sesuatu yang unik juga. Ini dia:

Gajar Halwah (25K)

Pernah membayangkan wortel dijadikan dessert? Nah jangan heran, menu ala Pakistan ini berupa wortel yang diparut kemudian dicampur dengan susu cair, jadilah si Gajar Halwah ini. Enak banget! Tekstur wortelnya sudah sangat halus dan menjadi sedikit kaku karena dicampur dengan susu kental manis. Meskipun menggunakan susu kental manis, tapi rasa wortelnya manisnya pas dan tidak membuat eneg.

 

Gulab Jamun (22K)

Dessert yang ini lebih aneh lagi, saya pikir awalnya ini mocha ternyata ini berupa fried milk balls yang disajikan dengan sirup manis. Jadi, kalau kata pelayannya ini berupa susu skim yang dibentuk bulat dan digoreng kemudian disiram dengan sirup manis dan beraroma vanilla. Duh, mendengarnya saja sudah membuat saya merinding, nggak kebayang manisnya dan ternyata benar saja, cukup dua suapan saya menyerah. Too much sweet!

Price

Harga makan disini cukup high dan porsinya jugamenurut saya kecil jadi lebih baik dinikmati dengan makan bersama, jadi bisa pesan makanan kecil banyak untuk rame-rame. Rangenya mulai dari Rp33.000 - 85.000 untuk makanan sedangkan minuman mulai dari Rp15.000 - 30.000

Conclusion

Overall, saya suka sekali dinner disini, selain sepi dan terkesan private, makanannya pun unik-unik. Pelayannya juga ramah dan dengan snenang hati menjelaskan pada saya bahan-bahan yang terkandung dalam makanan Pakistan yang unik dan aneh-aneh itu hihihi…Buat yang suka kulineran, wajib banget nyobain masakan disini, apalagi carrot dessertnya!

Recommended Dish(es):
Gulab Jamun,Gajar Halwah

Date of Visit:
2013-04-19

Spending:
Approximately
IDR 50000(Dinner)

Restaurant Ratings
  • Taste (4)
  • Environment (4)
  • Service (4)
  • Clean (4)
  • Price (4)
Rate this review

  • Keep it up

    0

  • Look Forward

    0

  • Interesting

    0

  • Touched

    0

  • Admiration

    0

  • Nice Photo

    0
Food & Price Speak More Honest
Smile 2013-04-30

Madame Lily ( Thamrin )
Venue

Actually I not particularly like to dinner in Plaza Indonesia area, not only because this is a high class mall but I feel like it’s too 'lame' to join with socialites women or aunties who dress up glamorously while carrying their favourite branded bag and dining in several resto here hahaha (yeah okay it’s just in my mind, I’m not judging). But then, how can I resist an invitation from my friends to taste a recently-established restaurant even though I should again sit next to the ladies carrying Hermes. Oh God not again! Well, first thing on my mind when I stared at a word ‘Honest Food with Attitude’, in front of the resto, was ‘Do they serve that?’. I kept my thought first while waiting for some of other friends and looked around this fancy resto. Anyway, I adore their interior, how they could arrange a not-so-spacious place to one minimalist but looking glamour and chic by putting grey and silver in most of their furniture also with many mirrors embedded on the wall. It’s Victorian style indeed, but juggled adequately. At least I don’t have to bring the Hermes or LV to dine here hahaha…

I love how they set their entire interior, from the broken white engraved lamp to wine buffet, from the cake tire which make the cake seems delish to a tissue embellished with a word ‘Call Me 2992 3868’. It quite honest like a guy put his cell phone number in the club to ask you join his next drink invitation or sort of ask you a date ;-) .

Menu

Talking about honest, Madame honestly is declaring that they serve Indonesian fusion cuisines which again raise my curiousness. As I opened the menu book, I saw their honest trying to serve various kind of Indonesian with international fusion such as in Pizza Tuna Sambal Matah or Spaghetti Tuna Sambal Matah. The rest is various kind of Indonesian food such as Rendang Wagyu, Sop Buntut, Nasi Bali paired with various kind of western and Italian food such as pasta, salad, roast chicken, grilled chicken and of course desserts that I could not resist.

Food

So, here’s I tried to open my stomach honestly tasted their food. The first I tasted Dory Cream Chowder (52K). This is a thick condensed soup consists of dory and cream. I thought it’s more like cream soup with dory and some potatoes, carrots and chicken cutlets inside. It’s a lil bit tasty, not too creamy. It just went well on my stomach and great to open my taste buds.

Next is Nasi Bali (89,5K) which I wanna say honestly that the portion is inversely disproportional with the price. However, I still interest with the overall combination served. The tiny satays (sate lilit) were delish, flavourful and quite tender, so did the shredded chicken and Pindang boiled egg, but I didn’t find any surprising flavour in its shredded vegetables or Indonesian called it ‘urap’. It is too plain for me. Overall, it’s good trying, if I can tell Madame directly, I wanna say please reconsider the portion, Madame. It’s too tiny for the high price.

After Indonesian fusion, I had BBQ Chicken Pizza (78K) with an unusual kind of serving; the pizza was made in a rectangular shape and placed in also wooden rectangular pan. Soft dough with rich of BBQ flavour and their melted cheese just make me feel head over heels.

Cream Dory Mille Feuille (88K). Ah this dish too fancy for me. At first, I worried the taste wasn’t as good as its appearance but after munching the crunchy chips covered with melted cream and the juicy dory, I could say to myself to not judge a book by its cover. One thing I, again, regretted was only the price and the portion. Compared to the previous Nasi Bali, this is much more overrated! Do you think the same, Madame?

Finally, the night was closed with Honey Comb Crunch Cake (40,5K). It had a soft texture more like chiffon cake with a sweet cream and honey comb crunch cutlets. I didn’t put my interest on the cake, but I love the honey comb crunch, the caramel flavour made me want to munch it more and more. Satisfy my sweet tooth madness!
And oh the drink, I tasted several mocktails and latte of them.

Apple Kiwi Crumble (44.5K). This is fresh kiwi and apple topped up with soda. It’s indeed refreshing!
Strawberry Peach Crumble (44.5K). This is fresh strawberry and peach topped up with soda, compared to the previous, this one more bitter and the soda I didn’t know more shocking in my tongue.
Berries Ice Tea (44.5K). This is a great fusion of strawberry and cranberry. Sweet enough and also refreshing!
Green Tea Latte (44.5K) The green tea was well-blended with the latte. It just great for me.
If I should be honest about their price, I would say that they are overrated. They start the appetizer to main course from to dessert in range of IDR38.000 to 300.000, while the desserts are from IDR IDR25.000 to 97.500. Beverages start from IDR35.500 to 95.500.

Overall, I really enjoy dinner here but after I leave the resto, I feel like I wanna drop my honest comment about what actually they want to offer. They are not a fine dining restaurant but why should they embed an overrated price for a very tiny portion. They might be located at a high class mal but I thought their competitor doesn’t put too much price for a tiny portion. I thought that…ah too many thought in my mind…Let Madame answer the reason with their heart honestly and action with their respectable attitude.

Recommended Dish(es):
honey comb crunchy cake

Date of Visit:
2013-03-14

Spending:
Approximately
IDR 150000(Dinner)

Restaurant Ratings
  • Taste (3)
  • Environment (5)
  • Service (4)
  • Clean (4)
  • Price (5)
Rate this review

  • Keep it up

    0

  • Look Forward

    0

  • Interesting

    0

  • Touched

    0

  • Admiration

    0

  • Nice Photo

    1
It's Bobabits
Smile 2013-04-30

Bobabits by Auntie Betsie ( Kelapa Gading )
Overall Description & Venue

Well, bubble tea booming is still in the air with many new brands come up offering their specialties and uniqueness.After the most-talked Cha Time, I give a try for the also most-wanted bubble tea, Bobabits. It also comes from Taiwan, this brand not only offer beverages but also Taiwan street snacks from variety of fried snacks such as fried mushroom, fried shrimp, honey wing, to well-known Japanese snacks, takoyaki and okonomiyaki. Their milk teas also havemany mouth-watering choices both infused with milk and original with many choices of toppings. Choose from the recommended Jasmine Tea or Oolong Tea, pick your toppings from bubble jelly, grass jelly, aloe vera, nata de coco, chocolate pudding, etc., and choose the fusion you want, from Red Velvet Milk Tea to Crème Brulee Milk Tea or you want challenge your taste bud with their creative drinks such as Fruit Delight with a stack of fruits or Hot Grass Jelly Fiesta. All of them just made me drooled!

Bobabits also provides a very comfy area to enjoy our bubble. I visited one of their branches in Gading Walk, Mal KelapaGading 3. It is a green-comfy walking area with several resto and café. Bobabits designed their outlet also with green as their logo in green. There are two areas, indoor and outdoor. In indoor, watch their ceiling, you will see a unique balloon made from concrete. Isn’t it unique? In outdoor, there are some chairs with a cubic shape and a unique hanging lamp. I prefer stay in their outdoor area. It is just a perfect place to hanging out and waiting for a night.

Food

So, what I got from this outlet? Well, on that time I’ve already full after eating pizza, so I decided to only take their milk teas and the Choco Oreo Milk Tea and Red Velvet Milk Tea raised my curiousness.

 

Red Velvet Milk Tea. I chose it with chocolate pudding topping. Well, I feel like chewing a true red velvet cake, creamy and the chocolate pudding also soft and juicy but I thought it’s too sweet.

 

Choco Oreo Milk Tea. Compared to the previous, I prefer this one. I know this is just a blended ore with tea and milk, but hey how can you resist this child favourite biscuit in a super good blend of milk and tea. It just perfect for me, moreover it’s not too sweet and the bubble always be my favourite!

Price

You don’t need to pay high for those bubble teas. I thought they’re still in a good range compared to their competitor. Enjoy milk teas from IDR20,000 – 23.000, Original teas from IDR18,000 – 21,000 and creative drinks from IDR23,000 – 34,000 while snacks and desserts from IDR19,000 – 35,000.

So, have you try one of them? Which one your favorite? Tell me and have a milk tea joy!

Recommended Dish(es):
red velvet milk tea

Date of Visit:
2013-04-20

Spending:
Approximately
IDR 21000(Tea)

Restaurant Ratings
  • Taste (4)
  • Environment (5)
  • Service (3)
  • Clean (4)
  • Price (2)
Rate this review

  • Keep it up

    0

  • Look Forward

    0

  • Interesting

    0

  • Touched

    0

  • Admiration

    0

  • Nice Photo

    0
Decanter Dining Story
Smile 2013-04-29

Decanter Wine House ( Kuningan )
Venue

Setelah puas menikmati wine tasting yang diadakan di Decanter Wine House, saya dan beberapa teman-teman food blogger melanjutkan malam sambil ngobrol dan makan. Rasanya sayang sekali meninggalkan tempat hangout yang suasanya cozy banget seperti Decanter. Interior yang mereka usung sebenarnya seperti normalnya sebuah wine house atau lounge. Khusus di bagian lounge-nya konsep industrial sangat kental dengan bar table dan bar chairs terbuat dari kayu ditambah dengan deretan bohlam yang sangat banyak menghiasi langit-langit dan membawa nuansa romantic saat malam tiba. Di area resto-nya terdapat dua area, area sayap sebelah kiri resto terdapat sofa/bangku dan meja panjang dengan ukuran rendan, sementara di sayap kanan resto terdapat wine chiller dan bar table juga. Di area tengahnya terdapat set dining table panjang lengkap dengan gelas wine dan perlengkapan makannya. Masuk ke area agak dalam, kita dapat melihat semi open kitchennya serta toilet yang bergaya sedikit eklektik. Semakin malam nuansa bar & lounge ini semakin romantic, lampu-lampu kuning semakin meredup dan menghantarkan cahaya hangat yang cocok untuk menikmati private dining.

Saya pun menikmati private dining saya bersama teman-teman sambi menyicipi beberapa menu andalan Decanter. Berhubung perut sudah sedikit penuh dengan tegukan-tegukan wine, jadi kebanyakan dari kami hanya memesan menu appetizer untuk di sharing.

Food

Escargot in Beer Batter Blanket (40K) yang disajikan dengan Garlic & Herbs Butter menjadi the best opening for that night. Tekstur escargot-nya begitu empuk meskipun sudah dibalut tepung dan direndam dalam beer batter. Sayangnya, agak terlalu asin, maybe next time saya bisa request untuk tingkat keasinannya ya.

Blackpepper Crusted Tuna Loin (82,5K) disajikan dengan Arugula and Fennel Salad serta Caramelized Onion and Balsamic Mustard Dressing. This is the very first time I met Arugula and Fennel which I thought inedible but this time it’s served as salad haha…The leaves are plain and smells like mint and left a highly herb aroma on my mouth. Ditambah daun Arugulanya agak tajam di pinggirannya, jadi lucu terasa ada yang menggigit di lidah. Blakpepper Crusted Tuna-nya sendiri very juicy, blackpepper-nya menempel di bagian pingir tuna dan tidak pedas sama sekali buat saya, malah cenderung asin. Dengan beragam sensasi rasa yang ‘baru’ dari tiap ingredients-nya, I thought I’m not into this food.

Grilled Calamari (50K) disajikan dengan Spicy Tomato Fondue. Satu kata. Scrumptious! Daging cuminya empuk dan kenyal banget, sangat fresh. Sambalnya juga agak pedas jadi bisa menetralkan si calamari yang plain dan hanya half-grilled ini.

Classic BLT (65K), sandwich disajikan dengan beef, lettuce, tomato, egg dan friench fries. Menutup malam kami kali ini malah agak berat hehe…but it’s worth to try, sandwich dengan isi daging, tomat, lettuce, dan telur yang segar itu nggak pernah salah. Berhasil membuat saya say enough! I’m full hihi…

Price

Harga makanan dan minuman disini sedikit middle-range, mulai dari Rp40.000 – 250.000, sedangkan minumannya lebih sangat bervariasi apalagi mereka juga menyediakan wine. Range minuman non wine-nya mulai dari Rp25.000 – 45.000 sedangkan wine per bottle-nya biasanya berbeda harga tergantung jenis dan mereknya. Pelayanan disini sangat ramah dan cekatan.

Conclusion

Ditambah dengan owner dan manager-nya yang siap menampung segala masukkan dari saya dan teman-teman blogge rmalam itu tentang makanan dan wine-nya. Anyway, I really enjoy to have dinner here, most of all paired with bottles of wine. Suasana, makanan, orang-orangnya semuanya ramah dan serasa menyatu malam ini. Pun saya nanti akan kesini lagi, saya ras anggak ada salahnya membawa orang tercinta untuk menghabiskan malam disini.

Recommended Dish(es):
grilled calamari

Date of Visit:
2013-03-21

Spending:
Approximately
IDR 50000(Dinner)

Restaurant Ratings
  • Taste (4)
  • Environment (5)
  • Service (4)
  • Clean (4)
  • Price (5)
Rate this review

  • Keep it up

    0

  • Look Forward

    0

  • Interesting

    1

  • Touched

    0

  • Admiration

    0

  • Nice Photo

    0
Sunny Side Up : Egg My Day!
Smile 2013-04-26

Sunny Side Up ( Kuningan )
Overall Description & Venue

Di keseharian saya, masakan berbahan dasar telur paling hanya dinikmati dalam bentuk telur dadar, telur ceplok, omelette, telur disambelin atau disemur. Nah, pas mampir ke Sunny Side Up, ternyata saya menemukan ada banyak macam masakan yang bisa dibuat dari hanya sebuah telur. Restoran yang sudah established beberapa bulan yang lalu ini memang menspesialkan telur sebagai bahan dasar menu mereka. Telur yang mereka pakai bukan telur ayam biasa, based on info yang saya baca sih, telur yang mereka pakai yaitu Arabian Eggs, dengan merah telur yang lebih besar dan kenyal, tidak bau amis, tidak menimbulkan bisul/alergi dan mengandung Omega sebesar 127,8 mg/100 g telur serta kaya akan betakaroten. Wah, mendengarnya saja saya sudah penasaran kayak apa bedanya si Arabian Eggs itu.

Sunny Side Up yang memiliki icon telur ceplok ini punya beberapa outlet di Jakarta seperti di Alam Sutera, Mal Kelapa Gading dan Kota Kasablanka tempat saya dinner beberapa hari lalu. Interior resto mereka hamper sama di semua cabang, full of orange and white color seperti halnya warna putih dan kuning telur dan soft blue sebagai penetralnya. Nuansa ceria layaknya children playground juga dipilih mereka terlihat dari furniturnya yang bergaya childhood. Dibeberapa sudut dinding juga ada pigura-pigura white-orange yang berisikan gambar-gambar kartun telur. Lucu banget! Di bagian teras mereka juga menyediakan kursi-kursi bergaya ayunan dan sofa tidur yang enak banget buat leyeh-leyeh sambil nyemil.

Menu

Untuk menu utamanya sudah pasti Egg Specialties menjadi jualan utama mereka. Kita bisa memilih aneka masakan telur mulai dari Omelette (even you can made your own omelette, yay!), breakfast set menu dengan aneka condiment seperti sausage, red bean dan bread. Ada juga variasi Omurice Fusion, Omelette Fried Rice, pancake hingga menu tempura dan udon serta aneka dessert yang bahkan mereka bervariasi menggunakan egg yolk a.k.a putih telur dalam salah satu juice mereka, Egg Yolk Juice. Sounds funny but not for tonight try haha!

Food

So, here’s my dinner’s review:

Saya memilih Creamy Salmon Omurice, a chef’s recommended, butter rice yang ditutup dengan thin omelette dan disiram dengan creamy sauce, potongan daging salmon, dan wortel. I always love any creamy sauce apalagi untuk campuran pasta. Makanya pas makanan ini datang, saya langsung tes seperti apa creamy sauce-nya and for me, it’s SUPERB! Creamy sauce yang tidak terlalu pekat itu benar-benar fusion yang sempurna dari krim, keju dan susu, bahkan saya sedikit bisa merasakan ada jamur didalamnya. Ah couldn’t say more. Salmon dan nasinya juga jadi pelengkap sempurna. Hanya saja makin lama, mencampurkan krim dan nasi dalam tiap suapan membuat perut saya penuh dan sedikit eneg juga hahaha!

 

Omelette Fried Rice, sebaliknya, menurut saya just too simple. Nasi goreng dibalut omelette dengan tambahan dua fried crispy nugget dan potongan tomat serta timun. Nasi gorengnya sepertinya dicampur dengan telur ½ matang sehingga teksturnya agak basah namun tidak tercium bau amis sama sekali, hanya saja agak aneh makan nasi goreng basah hehe…Nugget-nya cukup crispy dan yeah just complete the meal.

Green Tea Milkshake cukuplah jadi penetral dinner malam itu meskipun buat saya kurang creamy dan terlalu banyak air dan kurang manis, jadilah rasa green tea-nya pas-pasan, susunya juga kurang. Yeah, a good try at least.

Price & Conclusion

Untuk harga, masih reasonable. Untuk makanan rata-rata dimulai dari harga Rp15.000 – 45.000, minuman Rp9.000 – 25.000 dan dessert mulai dari Rp15.000 – 25.000. Dengan pelayanan dan kenyaman resto yang juga sangat bagus, overall, I will give another menu try on my next visit. Simple resto with unusual concept. Way to go Sunny Side Up!

Recommended Dish(es):
salmon creamy omurice

Date of Visit:
2013-04-22

Spending:
Approximately
IDR 50000(Dinner)

Restaurant Ratings
  • Taste (4)
  • Environment (4)
  • Service (3)
  • Clean (3)
  • Price (3)
Rate this review

  • Keep it up

    0

  • Look Forward

    0

  • Interesting

    0

  • Touched

    0

  • Admiration

    0

  • Nice Photo

    0
Asian Dolce Latte
Smile 2013-04-25

Starbucks Coffee ( Kebayoran Lama )
This month, Starbucks shares the joy by introducing us the other favourite latte with Asian taste, Asian Dolce Latte. Located in their newest outlet, the 143rd in Indonesia, at 1Park Residence Apartment, Gandaria. The outlet has recently opened one month ago and it is only a small outlett with several pairs of table. The wifi also hasn't set up yet. And the apartment is also newly opening, nothing you can see here except Starbucks and Guardian.

Starbucks not only share their newest beverage but also invite me and other coffee enthusiasts to explore the journey of coffee in a seminar entitled "Starbucks Coffee Perfection Seminar." The coffee expert of Starbucks, Mr. Mirza, tells us a story about how coffee come in our hand and it takes a long long journey after all. From growing the coffee beans, buying, roasting, to brewing by the baristas handed to our hand. The saddest thing is most of Indonesian coffee beans are still roasting outside our country and it becomes more expensive, yeah I believe you know it all.

Anyway, along with the coffee perfection seminar, Mr. Mirza also guided us in enjoying Sumatra coffee. This is one of the best coffees made by perfect fusion of coffee beans from several regions in Sumatra. A full bodied coffee with a strong and thick texture. Perfect for those who love black coffee. First sip I tasted a lil bit dark chocolate flavour, next sip I got a strong shot of black-bitter coffee with strong spices aroma. Fortunately, this Sumatra coffee is less acidity, so it’s perfect for your gastric.

Next, Starbucks introduces us the new Asian Dolce Latte, a double shot dark-roasted Starbucks Espresso Roast with a dolce sauce and steamed milk. This beverage can be made either hot or cold with the additional whipped cream and espresso dusting. Me love the cold version because it’s sweeter and milky, the dolce sauce and steamed milk become perfect fusion for everyone who love mild coffee flavour. In hot version, I can find double shot of espresso where I taste stronger and richer of Arabica coffee used. FYI, this newest beverage is available only in Asia Pacific and ready to brew in Indonesia from March 5 to April 22, 2013.

To company us enjoying the Sumatra and Asian Dolce Latte , we can choose several sweet indulgences such as Sumatra Éclair and Sumatra Mousse. Sumatra Mousse (25K) give me a good fusion of chocolate with a hint of Sumatra coffee and cream cheese although I prefer the cream cheese texture, moist and cheesy.

While, Sumatra Éclair (17K) is a puff pastry filled with chocolate truffle and hint of Sumatra coffee. Its filling is thick and sweet enough in the first munch and lil bit bitter after passing your throat. This is my first crush; I always pair this food every time I enjoy any Starbucks coffee.

For bigger portion, Half Double Decker Sandwich (35K) could be your perfect choice. It’s three layered toasted bread with omelette, cheese, lettuce, tomato, and smoked chicken inside. All ingredients made fresh and the bread is very moist and could be served either freeze or warm. It’s made me full by the way hehe…

Date of Visit:
2013-03-14

Spending:
Approximately
IDR 50000(Tea)

Restaurant Ratings
  • Taste (4)
  • Environment (4)
  • Service (4)
  • Clean (4)
  • Price (4)
Rate this review

  • Keep it up

    0

  • Look Forward

    0

  • Interesting

    0

  • Touched

    0

  • Admiration

    1

  • Nice Photo

    0