Puas Makan Kambing dan Ayam di RM Banyumas
2012-07-04
Kalau malam, daerah Simpang Dago memang ramai banget. Selain tempat perhentian banyak penumpang yang ingin menyambung angkot, daerah ini juga ramai karena ada pasar Simpang. Kalau paginya ramai oleh penjual sayur-sayuran dan daging, kalau malam, justru penjual makananlah yang merajalela di sini. Aneka makanan, mulai dari yang berat sampai ringan pun ada. Makanya, saya sama pacar kalau pengen makan malam nggak perlu repot-repot karena cukup jalan kaki sedikit dan kurang dari lima menit, kami pasti sudah sampai di Simpang. Kali ini, kami memutuskan untuk mencoba makan RM Banyumas yang terletak di belokan Pasar Simpang Dago yang mengarah ke Dipati Ukur.
Kalau dari Dipati Ukur mau berjalan ke arah Tubagus Ismail atau Dago Atas, kita pasti akan melewati rumah makan yang meletakkan panggangan satenya di luar sehingga asap pembakarannya yang harum itu menguar ke mana-mana. Yap, ini dia yang namanya RM Banyumas. Tempatnya emang rada nyempil, namun bukan berarti lantas sepi pengunjung. Pemiliknya adalah sepasang suami-istri orang Jawa yang masih aktif melayani pengunjung. Kalau si bapak membantu membakar sate di bagian depan, istrinya jaga mesin kasir dan siap melayani pesanan pengunjung yang di dalam. Kompak.
Karena lokasinya yang nyempil, ruangan RM Banyumas ini cukup kecil. Bahkan, di dekat pintu masuk pun ada satu meja yang rasanya agak menghalangi jalan. Tapi ternyata, selain di bagian bawah, di atas juga ada ruang makan. Saya sih nggak sempat melongok ke sana, tapi kayaknya ruang makan yang di atas mampu menampung orang sama banyaknya dengan di bawah. Tenang, biarpun tempatnya kecil, tapi suasananya gak pengap kok karena ada kipas angin besar yang siap bikin kita adem.
Menu yang disajikan di sini beragam, tapi terutama menyajikan tiga besar menu daging, yaitu ayam, sapi, dan kambing. Jangan melotot melihat harga sate satu porsi yang biasanya di pinggir jalan hanya Rp10.000 di sini rata-rata berkisar antara Rp25.000-Rp28.000. Hal ini wajar karena potongan dagingnya cukup besar. Selain itu, adapula gulai, tongseng, iga goreng, nasi goreng, mendoan, dan masih banyak lagi. Untuk minum, ada jus dan es teh manis. Kalau mau yang gratis, tinggal minta air putih aja yang akan disediakan dalam gelas cukup besar. 
Kami pun akhirnya sepakat untuk memesan ayam bakar (untuk saya) dan iga goreng + sambal goang (si pacar). Ditambah nasi putih 2 dan tempe mendoan satu porsi yang isinya dua buah. Sempat ragu apakah dengan harga segitu kami bisa puas. Ternyata? Puas banget!
Begitu pesanan datang, kami melotot karena takjub, kaget, dan senang sekaligus. Ternyata, harga memang nggak bohong. Dibandingkan di beberapa tempat makan yang suka mematok harga tinggi, tapi ternyata porsinya sedikit, di RM Banyumas ini ternyata porsinya sangat mengenyangkan. Pesanan pacar yang datang pertama kali berupa gule kambing goreng yang disajikan dengan sambal goang. Ini adalah potongan daging kambing yang masih nempel di tulangnya, kemudian ditambah dengan kuah gule yang disajikan terpisah. Rasanya enak, gurih, dan empuk. Dan yang pasti, bau kambing yang suka tercium kalau yang masak kurang ahli, gak ada. Kuahnya juga enak. Ngomong-ngomong soal sambelnya, kayaknya penyuka pedas harus mencicipi nih. Cuma nyoba sejumput kecil aja udah bikin saya dan pacar megap-megap. Pedasnya parah! Akhirnya, sambal ini cuma habis seperempat sama kami saking pedasnya >_<. Oh iya, untuk gule kambing goreng dan sambal goang dihargai Rp25.000. Sementara, nasi dijual terpisah dengan harga Rp4.000. Bisa juga mesan 1/2 porsi, kena Rp3.000.
Pesanan saya datang belakangan, berupa ayam bakar yang diberi siraman kecap manis dan sambal terasi. Dibandingkan sambal goang, sambal terasi ini rasa pedasnya lebih kurang sedikit (tapi tetep aja bikin saya menenggak air putih berkali-kali karena pedas). Kalau dilihat dari harga ayamnya yang Rp10.000, mungkin kita akan misuh-misuh karena mahal. Tapi, begitu pesanan datang, wah ternyata ukurannya cukup besar lho. Bahkan, ketika nasi saya sudah habis, ayamnya masih sisa 3/4. Dagingnya banyak dan bakarannya pun enak dengan bumbu yang mantap banget. Sebagai tambahan, saya dan pacar pesan tempe mendoan yang tergolong murah karena hanya seharga Rp4.000 udah dapat dua potong yang besar-besar. Nyaaammm..
Kalau dari Dipati Ukur mau berjalan ke arah Tubagus Ismail atau Dago Atas, kita pasti akan melewati rumah makan yang meletakkan panggangan satenya di luar sehingga asap pembakarannya yang harum itu menguar ke mana-mana. Yap, ini dia yang namanya RM Banyumas. Tempatnya emang rada nyempil, namun bukan berarti lantas sepi pengunjung. Pemiliknya adalah sepasang suami-istri orang Jawa yang masih aktif melayani pengunjung. Kalau si bapak membantu membakar sate di bagian depan, istrinya jaga mesin kasir dan siap melayani pesanan pengunjung yang di dalam. Kompak.
Karena lokasinya yang nyempil, ruangan RM Banyumas ini cukup kecil. Bahkan, di dekat pintu masuk pun ada satu meja yang rasanya agak menghalangi jalan. Tapi ternyata, selain di bagian bawah, di atas juga ada ruang makan. Saya sih nggak sempat melongok ke sana, tapi kayaknya ruang makan yang di atas mampu menampung orang sama banyaknya dengan di bawah. Tenang, biarpun tempatnya kecil, tapi suasananya gak pengap kok karena ada kipas angin besar yang siap bikin kita adem.
Kami pun akhirnya sepakat untuk memesan ayam bakar (untuk saya) dan iga goreng + sambal goang (si pacar). Ditambah nasi putih 2 dan tempe mendoan satu porsi yang isinya dua buah. Sempat ragu apakah dengan harga segitu kami bisa puas. Ternyata? Puas banget!
Recommended Dish(es):
gule kambing goreng,tempe mendoan,ayam bakar
Date of Visit: 2012-07-02
Spending:
Approximately
IDR 53.000













