3
2
0
Level4
2015-08-17 192 views
Sebuah ajakan dari teman kerja mengantarkan saya berujung di Biku. Tapi kali ini, saya ingin berbagi pengalaman yang tidak terlalu menyenangkan. Ketika saya dan teman saya tiba, kondisi di dalam Biku hanya ada beberapa meja saja yang terisi dan kebanyakkan memang turis yang sedang bersantap. Sebelum kami masuk, mbak host nya bertanya "Untuk berapa orang?" dan kami jawab, untuk bertiga, karena nanti teman kami menyusul 1 orang lagi. Lalu si mbak tersebut mengecek ke komputer kemudian mengatakan,
Read full review
Sebuah ajakan dari teman kerja mengantarkan saya berujung di Biku. Tapi kali ini, saya ingin berbagi pengalaman yang tidak terlalu menyenangkan. Ketika saya dan teman saya tiba, kondisi di dalam Biku hanya ada beberapa meja saja yang terisi dan kebanyakkan memang turis yang sedang bersantap. Sebelum kami masuk, mbak host nya bertanya "Untuk berapa orang?" dan kami jawab, untuk bertiga, karena nanti teman kami menyusul 1 orang lagi. Lalu si mbak tersebut mengecek ke komputer kemudian mengatakan, "Hanya ada 1 meja saja dan cuma bisa digunakan selama satu jam saja yah, karena nanti jam 7 malam akan penuh dengan tamu-tamu yang reservasi." Lalu kami bingung, karena meja-meja di dalam banyak yang kosong dan di atas meja pun tidak ada tulisan "reserved" nya. Tapi yasudahlah kami masuk.
18 views
0 likes
0 comments
Duduk di salah satu meja yang diberikan dan memesan Tradisional Afternoon Tea, yang dibanderol seharga 110.000 IDR per orang, mendapatkan 1 tier penuh pilihan kue, scones, sandwiches, dan ginger cookies. Kemudian teman saya memesan Coconut Orange Cake dan Mix Vegetable Juice. Untuk rasa makanannya, saya sangat sangat sangat suka dengan tekstur Scones nya! Tidak terlalu lembut namun tidak terlalu keras juga, diolesi dengan selai stroberi dan whipped cream, setiap gigitan bikin nagih! Ukuran sconesnya juga cukup besar, makan 3 scones sudah lumayan bikin perut setengah kenyang. Saya juga suka sandwich tipis berisi salad dan irisan ikan (entah tuna atau salmon) namun sebagai lidah Indonesia, saya rasa kalau bisa dicolek ke sambal, pasti sempurna, hehe.
15 views
0 likes
0 comments
18 views
0 likes
0 comments
11 views
0 likes
0 comments
18 views
0 likes
0 comments
Tanpa terasa, sudah mau 1 jam kami duduk-duduk dan ngobrol. Tier afternoon tea nya masih saja terlihat banyak, dari 3 susun tier, baru 1 lapisan yang paling atas saja yang sudah habis. Tier kedua yang penuh dengan kue, dan tier paling bawah paling banyak dengan variasi sandwich. Saya pikir yah di-take away saja kalau tidak sempat dihabiskan. Sempat juga ada lalat yang hinggap di salah satu sandwich, sehingga kami agak ragu memakannya. Padahal kami berada di ruangan indoor, namun entah kenapa ada seekor lalat bisa menyusup masuk.
Lalu si mbak host menghampiri meja kami dan berkata, “Sudah mau 1 jam yah, jika masih mau pindah meja, masih ada 1 di sofa sebelah sana, tapi itu hanya bisa digunakan setengah jam saja, karena jam 8 sudah ada yang reservasi juga.” Entah mengapa, tapi menurut saya, cara si mbak menghampiri kami itu tidak terlalu bagus etikanya. Tidak ada senyum, tidak ada kata ‘permisi’ dan terasa kurang ramah. Saya hanya menyayangkan etika si mbak itu saja, karena waitress yang lain baik dan ramah semua, tidak congkak seperti mbak host.

Jadi overall, secara makanan saya bisa katakan cukup puas walaupun memang pricey tapi worth the value. Secara pelayanan, sedikit mengecewakan memang dengan si mbak host, tapi yah apa mau dikata kalau memang tempat itu penuh dengan reservasi. Semoga ke depannya bisa memberikan pelayanan yang lebih baik saja, terutama tata bahasanya.
(The above review is the personal opinion of a user which does not represent OpenRice's point of view.)
Post
DETAILED RATING
Taste
Decor
Service
Hygiene
Value
Dining Method
Dine In
Spending Per Head
Rp120000 (Tea)
Recommended Dishes
  • Scones!