5
0
0
Telephone
(022) 2532103
Good For
Dating / Couple
Family Gathering
Hang Out
Opening Hours
Mon.-Sun. 09:00-22:00
Payment Method
Cash / Tunai
Other Info
Parking Area
Review (5)
Level4 2013-12-15
94 views
Terakhir kali gathering beberapa waktu lalu diajakin ke cafe di kawasan dago yaitu The Food Opera. Letakya berada di Jl H. Djuanda 151 kalau dari arah simpang dago ga begitu jauh setelah Amanda, kalau dari arah bawah setelah pom bensin dan seberangnya Patra Jasa Hotel. Tempatnya sendiri satu gedung dengan Factory Outlet dan Boutique, aku lupa namanya nih. Pintu masuk nya ada di pojok kanan gedung. Ada ruangan seperti lorong dan didalam ada kasirnya juga tangga menuju keatas dimana cafe sebagian besar ada di atas. Walaupun di lorong tadi tetap ada meja dan kursi untuk makan tetap tak sebanyak diatas. Suasana yang didapat sangat cozy enak banget buat hang out atau nge date sekalipun. Perwakilan dari cafe ini, Pak Sugih, sangat ramah dalam menjamu kami semua. Kami disediakan meja khusus untuk fine dining. Ada meja panjang di tengah ruangan dimana sudah tertata rapi peralatan makan lengkap dengan lilinnya lo. Pak Sugih sendiri menjelaskan konsep dari cafe The Food Opera yang di dago ini adalah inspirasi dari London in 50' or 60' (cmiiw). Dindingnya ada batu bata tersusun rapi dan beberapa dekorasi yang menggambarkan konsep tersebut.Setelah mengobrol-ngobrol kamipun disajikan menu andalan dari sini. Dimulai dari minuman andalannya yaitu Alaskan Breeze. Minuman ini merupakan campuran dari kopi, kurma, es krim vanila, dan sedikit esens tiramisu. Untuk toping diberi whipped cream, potongan cherry, dan daun mint. Rasanya memang dominan kopi dan lembut. Sayang efek 'breeze'-nya kurang berasa mungkin kebanyakan kopinya. Selanjutnya ada Shawarma. Yup ini sih ga asing di dengar. Bentuknya mirip dengan kebab gitu deh. Satu porsi ada 2 gulungan roti kebab yang dipanggang dan diberi toping mayones, dan di bagian dasarnya ada saus cabai. Isinya sendiri cukup banyak lo ada daging ayam, bawang bombay, salada, paprika dan mayones. Rasanya gurih dan enak. Cocok sebagai appetizer atau cemilan nih. Beralih ke menu lain yaitu Opera Fried Banana. Ini tuh entah appetizer apa dessert ya cocoknya. Disajikan dalam mangkuk kecil, ada pisang yang dipotong-potong lalu diberi madu dan keju diatasnya lalu diselimuti semacam roti jala dan ditambah satu scoop es krim coklat. Enak banget nih, pisangnya cocok banget dengan keju dan es krimnya. Roti jalanya pun bukan hanya sebagai hiasan tapi tetap enak untuk dimakan lo.Untuk Main Course ada 3 macam yang disajikan yaitu pertama adalah Nasi Kebuli Kambing. Udah pasti tau donk menu khas Timur-tengah ini. Salah satu menu favorit ni. Nasinya dimasak dengan rempah khas dan disajikan dengan kambing bakar dan acar khas juga. Tak lupa ada kuah sup di sampingnya yang menarik perhatianku. Kuahnya agak kental berwarna kuning pas dicobain rasanya rempah banget dan cocok banget dipadu dengan kambingnya. Rasa timur tengahnya dapet banget deh. Wajib dicoba.Ada Nasi Bebek Muda Sambal Kecombrang. Menu ini memang tak terlalu besar ya. Ada nasi, sepotong bebek, tahu goreng, emping dan sambal kecombrang khas nya. Untuk bebek mudanya sendiri memang kecil karena memang masih muda kali ya. Rasanya gurih dan sangat empuk. Sambal kecombrangnya enak, sayang kurang pedas. Yang kurang dari menu ini adalah penambahan tahu goreng tapi rasanya hambar. Terakhir ada menu andalan favorit persembahan The Food Opera yaitu Australian Wagyu Steak. Uniknya ini disajikan mentah dan kita boleh memasaknya sendiri lo. Yang disajikan ada sebuah papan dimana di bagian tengah ada papan dari hot stone berwarna hitam. Disampingnya ada side dish seperti potato wedges, acar, sayuran dan mushroom juga saus barbeque nya. Dagingnya sendiri ada 200 gram lo. Dari mentah lalu dimasak sampai medium. Sayang daging tidak dibumbui dulu jadi kurang ada seasoning dan cenderung hambar. Walaupun kita tuangkan saus tetap berasa ada yang kurang. Dagingnya sendiri empuk dan juicy. Begitulah pengalaman ku berkunjung dan menikmati menu andalan dari The Food Opera. Cukup mengesankan dan yang paling saya suka adalah suasananya yang nyaman. Juga keramahan para pelayannya. continue reading
(The above review is the personal opinion of an user which does not represent OpenRice's point of view.)
Dapat undangan gathering lagi yang kali ini untuk di The Food Opera Jl. Ir. H. Juanda.Hal yang bikin senang, dari kediamanku cukup 1x saja naik angkot dan turun tepat di lokasi restonya yang menurutku, ditata menurut selera Italia. Ada dinding dari bata merah yang membuat suasana hangat di cuaca Bandung yang sejuk.Masuk ke dalamnya, sudah ada sebuah meja yang ditata sekilas seperti untuk Fine Dining Langsung saja kita ke menu yang disajikanMinuman ini adalah kopi yang diberi campuran es krim Vanilla, taburan kurma dan ada whipped cream. Kurma ada mengendap di dasar gelas, tapi karena si peracik minuman lupa memasukkan larutan Mint, jadi nggak ada sensasi breeze-nya itu. Walau begitu, rasa minumannya, sih, masih enak.Ingin merasakan daging sapi wagyu yang terkenal enak itu tapi dengan harga lebih terjangkau kantong? Nah, menu Australian Wagyu ini memang istimewa. Kualitasnya Marble 5, teksturnya lembut setelah kita sendiri memanggangnya di atas batu lava panas. Bisa atur sendiri tingkat kematangannya. Mau yang rare, medium atau well done. Benar-benar mak nyusss.... rasanya.3 Menu ini :Bebek Kecombrang, Nasi Kebuli Kambing, dan Saurma, tidak sempat aku cicipi betul-betul karena keburu habis oleh kawan-kawan OpenRicers lainnya. Menurut info dari mereka, rasanya sih, enak.Ini sebenarnya kreasi Pisang GOreng a la The Food Opera, yang ditambahi Roti Jala dan ditutup dengan 1 sendok es krim rasa Coklat. Duh, enaknya dan tekstur Roti Jala juga empuk.Mengobati kekecewaan karena menu icip-icipnya kehabisan, aku beli (!) seporsi Chicken Parmigiana, mumpung saat itu untuk para wanita ada promosi diskon 50% .Tampilannya cantik berupa filet dada ayam goreng di atas pasta Spaghetti, ditutupi keju mozarella ang meleleh dan saus tomat. Enak, empuk dan membuat kenyang! Layak direkomendasikan. continue reading
(The above review is the personal opinion of an user which does not represent OpenRice's point of view.)
Level1 2013-12-03
47 views
Minggu lalu saya mendapatkan undangan gathering lagi dari openrice, hell yeah! Tentu saja saya iyakan undangan tersebut. Terutama karena tempat ngumpul kali ini adalah The Food Opera, sebuah tempat makan yang saya sering lewati karena deket ama kontrakan tapi blom sempat mampir. Akhirnya malam itu saya berkesempatan mampir juga di resto ini, kesan awal tempatnya cozy dan terkesan lux melihat gelagat ini cukup membuat dugaan kalo harga makanan disini bakalan mahal, tapi ah cuek aja karena ini gathering maka makan-makannya gratis hehe .setelah menunggu member-member yang lain berkumpul, akhirnya saat untuk icip-icip masakan Food Opera pun dimulai. Makanan yang saya icip pertama adalah bebek goreng sambal kecombrang yang dihidangkan pas didepan mata. Hasilnya mantap! bebeknya empuk dan sambalnya enak agak asin dikit sih tapi enak, anehnya sambal tapi ga pedes. Dimakan dengan nasi rasanya lebih maknyuss. Menu berikutnya yang siap di coba adalah Nasi Kebuli, nasi ini disajikan dengan kambing goreng dan kaldu. ketika di coba nasinya hambar sedangkan dagingnya udah agak alot, mungkin karena sudah dingin. Menurut empunya makan nasi ini harus dengan kaldunya, ketika dicoba wow baru terasa enaknya.lalu menu selanjutnya adalah Shawarma, makan khas timur tengah ini berisikan daging ayam, selada dan banyak macam lainnya rasanya biasa sih mirip-mirip kebab gitu tapi porsinya yang besarlah yang menjadi perhatian, kalo dimakan sendiri cukup membuat perut kenyang tuntas.menu berikutnya adalah yang paling leziiss... yaitu wagyu tepatnya Australian Wagyu Stone Grill, karena daging steaknya kita masak sendiri diatas batu panas. Dagingnya menggunakan daging wagyu kualitas marble 5. Sudah bisa dipastikan kalau hidangan ini akan menjadi favorit para peserta, tekstur daging yang lembut, aromanya, serta tampilannya pas sekali. Steak wagyu ini disajikan bersama pelengkap dan saus berbeque, saya ga icip pake saus karena dagingya sendiri sudah enak sekali. sebagai desert ada Opera fried Banana pisang yang digoreng dengan mentega lalu di tutup dengan roti jala dan diatasnya ditaruh satu scoop eskrim coklat, benar2 nikmat. baiknya dinikmati setelah disajikan karena pisangnya panas jadi eskrimnya cepat meleleh.Ada minuman yang disajikan disini yaitu Alaskan Breeze, kopi yang dicampur kurma dan eskrim vanilla serta tambahan whip cream. ketika di coba rasanya biasa saja, kurmanya mengendap di bawah. Sayangnya yang bikin minuman bilang kalau ia lupa menambahkan daunt mint nya untuk menimbulkan efek breeze, jadilah ini seperti minuman kopi biasa, walau tetap enak.itulah masakan yang kita bisa cicipi saat gathering kemaren overall tempatnya asik dan masakannya pun enak-enak tapi mungkin bagi kantong yang pas-pasan seperti saya tempat ini akan jarang saya datangi haha. continue reading
(The above review is the personal opinion of an user which does not represent OpenRice's point of view.)
Hai openricers!Kamis kemarin saya dapet undangan gathering buat Makan di The Food Opera. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengiyakan undangan itu, karena lokasinya lumayan deket dari kontrakan Lokasinya mudah ditemui karena terletak di Jalan Ir Juanda yang hampir semua orang tahu. Nah, patokannya itu Pom Bensin Ir Juanda, ya! gak jauh dari situ Untuk Restonya sendiri terdiri dari 2 lantai, tapi di lantai satu itu gak terlalu luas, jadi kalau saya pribadi prefer di lantai 2.Interiornya cukup cozy buat dinner. Remang remang gimanaa gitu Selain itu disini ada VIP room yang bisa dipakai dengan minimal pemesanan tertentu Pelayanan cukup baik. Manager of Marketingnya, Bapak Sugih, benar benar menyambut kami dengan ramah dan hangat. Pelayan melani kami dengan cekatan, misal, waktu itu saya sempet minta sesuatu, mereka dengan segera menyediakannya untuk kami. Alaska BreezeIni merupakan salah satu chef recommendation. Yap! Sesuai namanya, alaska breeze ini merupakan perpaduan dari kopi, tiramisu, ice cream vanilla, kurma, yang diblend dengan sempurna dan makin komplit dengan whipped cream diatasnya. Alaska nya diwakilin dengan hiasan daun mint yang mempercantik outlook dari beverage yang satu ini.:chopstik: Creamy Beras KencurIni unik tau, beras kuncur, tapi menggunakan cream. Jadi rasanya kental. Dan kalau temen2 nyobain, teksturnya malah mirip kayak cream soup, tapi ini minuman, dan rasanya beras kencur!! Enak sih, tapi kalau saya lebih terkesan pada keunikan tekstur dari minuman yang satu ini SaurmaMungkin kita lebih mengenalnya sebagai kebab Ya, tortilla dari saurma di The Food Opera ini bener2 lembut dan padat, jadi mengenyangkan Apalagi isian dari saurma ini bener2 royal. Filling yang dipakai adalah paprika, bawang bombay, fillet ayam, lettuce, mayo. Yang jelas, perpaduannya bener bener JOS dan nyatu banget di lidah. Opera Fried BananaOpera Fried Banana ini tampilannya unik banget. Apalagi adonan roti yang dibikin mirip kayak roti jala yang menyelimuti cup dan justru mempercantik presentasi.Pisang nya di goreng menggunakan mentega, lalu diberi topping ice cream yang kalau dibiarin agak lama, bisa mencair, soalnya pisangnya juga disajikan pada saat masih hangat Nasi KebuliMenurut saya, nasi kebuli disini sudah cukup meninggalkan kesan timur tengah. Karena, disini beras yang digunakan adalah beras khas timur tengah, yaitu abukash. Jadi nasinya bentuknya lebih panjang2 dan tiap butir berasnya terpisah Rempah rempah nya sudah bisa tercium. dari soup yang disediakan bersamaan dengan nasi kebuli ini.Daging kambingnya juga empuk banget, bumbunya merasuk dengan sempurna, sehingga sedapnya merata. Nice Bekmud KecombrangBebek muda ini walaupun muda ukurannya cukup besar loh. Porsinya juga komplit karena disajikan dengan nasi putih, sayuran, tahu goreng, emping, dan ini dia yang spesial, sambal kecombrang!!Dari bebeknya sendiri cukup empuk, pas tasting bebek yang disajikan diatas meja agak keasinan sih, makannya harus pake nasi. Tapi waktu saya bungkus si Bebek Kecombrang di Food Opera malam itu juga, rasanya enak dan pas, mungkin mereka langsung menerima saran dari kami heheNah untuk kecombrangnya rasanya gak seseram penampilannya. Yap! Dari penampilan, emang "Cabe Banget" Karena potongan cabenya bener2 "nyata". Nah, tapi rasanya seger loh, gak pedes sama sekali, enak dan yummy banget dimakan bareng si Bebek Australian Wagyu Stone GrillNah Australian Wagyu Stone Grill ini recommended banget. Jadi saat penyajian, kita emang disediain stone grill dan side dishnya. Jadi untuk daging, customer sendiri lah yang menentukan tingkat kematangan dari steak. Daging wagyunya empuk banget, nagih, istilahnya, makan dagingnya aja, gak usah pake bumbu atau saus juga rasanya udah wow dan nikmat banget. Apalagi disini side dishnya cukup lengkap, ada potatoes wedges, salad, sayuran, champignon, dan saus barbeque. Untuk saus anda bisa minta saus lainnya kok, ada mushroom sauce, dan blackpepper) Turkish PizzaNah turkish pizza ini enak banget. Sebenernya ini gak dikasih waktu tasting, tapi saya dapetin di kunjungan berbeda sehari setelah gathering Toppingnya royal dan rasanya cukup menggugah selera. Mungkin karna topping yang royal alias melimpah itu ya, Ada paprika, sausage, mushroom, dan mozarella cheese yang bikin makan pizza kali ini bener2 puas :9 (kalau ada topping yang lupa kesebut dimaafin yah >.< )Makan di the food opera ini bener2 puas. Kalau openricers kesini, kalian juga pasti akan kebingungan milih menu, karna menu yang disediain disini cukup variatif.Kalau ditanya mau balik atau enggak, sudah pasti saya akan balik untuk mencicipi makanan lain disini continue reading
(The above review is the personal opinion of an user which does not represent OpenRice's point of view.)
Level4 2013-11-23
51 views
Suasana Bandung dalam beberapa minggu terakhir ini lagi nggak begitu enak deh. Hujan terus-menerus atau tiupan angin dingin di malam hari bikin kesehatan saya menurun. Jadilah, saya langsung menderita flu dan agak sedikit demam. Untungnya, pas kemarin diundang untuk ikut gathering Open Rice, kesehatan saya udah agak membaik. Iyalah, mana mau saya ngelewatin acara kumpul-kumpul sambil makan enak, hehehe. Acara kali ini diadakan di The Food Opera Dago yang kebetulan dekat dengan tempat kost saya dan pacar. Letaknya sendiri satu lokasi dengan butik Polo Ralph Laurent dengan Food Opera menempati lantai 2. Pintu masuknya sendiri berupa lorong berukuran satu meter dengan sebuah tangga kayu yang mengarah ke atas. Begitu sampai di atas, kita langsung disambut dengan ruangan yang cozy dengan dominan warna cokelat tanah. Lampu-lampunya juga sengaja dipasang dengan tingkat keterangan yang pas sehingga nggak berkesan temaram, tapi juga nggak gelap. Pilihan area duduknya sendiri ada outdoor dan indoor dengan kursi kayu, kursi suede, atau sofa. Tinggal pilih enaknya duduk di mana. Saya sempat mengintip sedikit menu yang disajikan di Food Opera ini. Untuk menu utamanya sendiri ada Australian Wagyu Steak yang digadang-gadang sebagai daging steak terempuk di dunia. Selain itu, ada juga Arabian Food, Western Food, dan yang pasti Indonesian Food. Untuk kisaran harganya mulai dari Rp20.000-Rp170.000 (steak). Mereka juga menyediakan Chinese Food lho meskipun, menurut Pak Sugi, menu ini hanya dapat disajikan bila dipesan untuk acara tertentu dan bukan a la carte. Pilihan minuman dan dessertnya sendiri cukup melimpah lho. Dijamin pusing bin puyeng milihnya .Asyiknya lagi, bocoran dari Pak Sugi adalah setiap Rabu dan Kamis ada diskon sebesar 50% untuk pembeli wanita (food only). Wah, para peserta langsung antusias memilih menu yang nantinya akan mereka pesan kalau nggak kenyang. Untuk Selasa sendiri, diskon berlaku untuk para pegawai bank sebesar 20%. Lumayan kan, kapan lagi makan wagyu bisa diskon sampai setengah harga? Hehehe. Terus, karena tempatnya yang cukup besar dan nyaman, kita bisa ngadain acara di sini. Tidak dikenakan charge untuk tempat, cukup hanya membayar biaya listrik sebesar Rp100.000 pada saat acara berlangsung. Setelah menunggu selama sekitar setengah jam, akhirnya makanan pun dikeluarkan. Wah, para peserta gathering langsung antusias memotret dan bertanya kepada chef dan Pak Sugi yang setia mendampingi untuk memastikan rasa ingin tahu kami terpuaskan . Setelah puas memotret, para peserta dipersilakan duduk di meja panjang yang sudah disusun oleh pihak Food Opera. Terus, apa saja menu yang dihidangkan? Ini dia reviewnya:Alaskan BreezeSepintas, minuman ini mirip kopi dengan whipped cream. Tapi, begitu ditanya campurannya ternyata cukup banyak juga. Ada kopi, tiramisu, es krim vanilla, whipped cream, dan kurma. Rasanya cukup ringan sehingga cocok untuk yang ingin minum kopi, tapi takut nggak bisa tidur. Jangan lupa diaduk karena rasa kurmanya agak mengendap di bawah sehingga baru akan terasa menjelang akhir kalau tidak diaduk. Ukurannya cukup besar dan kayaknya pesan satu udah cukup mengenyangkan. Nasi Kebuli Kambing + SupNasi kebuli sepintas kayak nasi goreng, tapi rasanya sendiri gurih dan tidak terlalu berminyak. Menu ini disajikan dengan daging kambing yang telah dibakar di bagian atasnya plus salata (acar versi Arab yang isinya terdiri dari timun, bawang bombay, dan wortel yang direndam di dalam cuka). Nasinya sendiri cukup enak dan pera’ alias tidak pulen. Jenis nasi yang memang pas digunakan untuk menu seperti nasi goreng dan nasi kebuli ini. Daging kambingnya sendiri agak sedikit keras, mungkin karena disajikan sudah dingin. Oh ya, makannya sendiri harus disiram sup berwarna kuning yang sedikit asam untuk memberikan rasa tersendiri di atas daging kambingnya. Nasi Bebek Sambal KecombrangTampilannya tidak terlalu istimewa, tapi menu yang satu ini wajib dicoba. Kenapa? Rasanya enak banget. Daging bebeknya empuk dan nasinya juga pulen. Di atasnya diberi siraman sambal kecombrang yang dicampur dengan bawang bombay. Meski banyak yang bilang kalau daging bebeknya asin, tapi pas saya makan rasanya nggak asin. Mungkin ketika dimasak bumbunya kurang tercampur rata. Cuma, untuk jenis makanan berat dari bebek, menu ini rekomendasi banget sih. ShawarmaNamanya mungkin sering kita dengar di tukang kebab pinggir jalan. Tampilannya juga nggak jauh beda, cuma bentuknya memang lebih besar dan dihidangkan di atas piring dengan dua porsi. Yang membedakan antara shawarma di sini dengan di pinggir jalan mungkin hanya dari isiannya yang lebih variatif. Bila tukang pinggir jalan menggunakan daging, maka di sini digunakan daging ayam yang disuwir-suwir. Ditambah dengan bawang bombay, paprika, salada, dan tomat plus mayonnaise. Sayang, sayurannya menurut saya agak kebanyakan sehingga daging ayamnya agak tertutup. Tapi, rasanya yang enak-enak asam memang pas di lidah dan cocok sebagai appetizer sebelum main course dihidangkan. Australian Wagyu SteakIni dia menu utama yang sudah saya tunggu-tunggu. Wagyu asal Australia yang beratnya 200 gram. Harganya Rp159.500. Side dish-nya lengkap banget karena ada sayuran, kentang bulat, wedges yang diberi bumbu, dan salad dengan taburan kacang mete di atasnya. Bersama dengan side dish itu, kita disediakan stone grill alias batu vulkanik yang sudah dipanaskan terlebih dulu di dalam oven. Daging wagyu yang disajikan kemudian bisa kita masak sendiri atas stone grill itu sehingga tingkat kematangannya bisa kita pilih sendiri, mau rare, medium rare, atau well done. Dan, apa yang menjadi tagline The Food Opera ‘steak terempuk sedunia’ memang benar adanya (biarpun saya belum pernah makan steak di belahan dunia lain sih, hehehe). Rasanya empuk dan lembut. Nggak nyangkut di gigi lagi. Sausnya sendiri ada tiga pilihan, yaitu barbeque, mushroom, dan blackpepper. Opera Fried BananaSetelah disajikan menu yang begitu berlimpah tadi, sekarang saatnya dessert alias pencuci mulut. Kami dihidangkan Opera Fried Banana yang disajikan dalam mangkuk kecil. Isinya ada potongan pisang, madu, dan keju yang ditutup dengan adonan semacam kue cubit yang dibentuk menyerupai roti jala kemudian di atasnya diberi es krim cokelat. Dessert ini disajikan hangat dan rasanya juga cukup enak. Sayang, pisangnya masih agak kurang matang sehingga sedikit keras dan agak bergetah. Overall, rasa makanan di Food Opera cukup enak dan suasananya cozy. Cocok dipakai untuk nongkrong atau bikin acara di sini. Pelayannya juga ramah. continue reading
(The above review is the personal opinion of an user which does not represent OpenRice's point of view.)