0
1
0
Opening Hours
Mon - Sun 10:00 - 22:00
Payment Method
Cash / Tunai
Review (1)
NOTE: Waktu saya menulis review ini, Ayam Kolgo beserta kios dan PKL lainnya di belakang kampus ITB sedang proses pembangunan kembali secara ilegal setelah beberapa waktu lalu digusur. Yah selamat-tidaknya, bertahan-tidaknya Ayam Kolgo kita doakan saja ya, yang penting review dulu. Sekilas, Ayam Kolgo memang tidak terlihat istimewa dibanding dengan warung sejenis. Yang membedakan menu Ayam Kolgo dengan menu pecel ayam di tempat lain adalah kolgo alias kol gorengnya. Kol dipotong kecil-kecil lalu di goreng dalam wajan berisi lautan minyak dengan api besar (atau bahasa kerennya sih, deep fried) hingga daun kolnya lemas dan menghitam, disajikan bersama ayam goreng, nasi putih hangat dan sambal. Memang nggak sehat dan penampilannya buruk, tapi banyak yang suka bahkan saya sekalipun yang notabene nggak suka sayuran kalo diolah biasa, pasti saya nggak bakal makan kol. Rasa kolgo juga entah kenapa pas dipadukan dengan ayam goreng, nasi dan sambalnya. Gurih-gurih gimana gitu. Ayamnya dan sambalnya sendiri sih nggak ada yang istimewa, cuma sambalnya agak cair dan lebih mirip sambal buat soto/makanan berkuah. Kalo ayam dan kolgo aja nggak cukup, kita bisa minta tambahan ati, ampela, atau telor. Untuk ayamnya juga kita bisa milih mau dada atau paha. Oh ya, disini dikasih minum teh tawar hangat gratis lho, boleh minta refill lagi (sambalnya juga). Untuk menu standar yang isinya ayam+kolgo+nasi putih seingat saya harganya sekitar IDR 9000. Mau pake tambahan harganya jadi belasan ribu. Sedangkan untuk minuman seperti teh manis kira-kira IDR 3000. Murah, 'kan? Buat yang berada di areal belakang ITB dan pengen makan murah, Ayam Kolgo saya sarankan untuk dicoba. Tapi biasanya Ayam Kolgo selalu ramai oleh mahasiswa yang makan, jadi hindari jam-jam makan siang apalagi kalo bawa banyak teman. Dan jangan sering-sering, karena minyak yang dipake buat goreng kurang sehat. Ya namanya juga makanan murah pinggir jalan, pasti ada resikonya continue reading
(The above review is the personal opinion of an user which does not represent OpenRice's point of view.)