How To Start Your Own Food Blog?
2013-02-18

Ramai dunia kuliner dengan kreasi tanpa batas menjadikan industri ini semakin menggeliat di tengah berbagai pilihan bisnis menjanjikan lainnya. Tak hanya pemilik bisnis kuliner yang mendapat sorotan, ternyata ada banyak sosok di balik industri ini yang juga turut memberikan sumbangsih mereka melalui caranya masing-masing. Salah satunya yaitu melalui media micro-blogging atau lebih familiar kita kenal dengan Blog. Blogger, adalah sebutan bagi mereka yang menggeluti bidang tulis-menulis melalui digital media. Selain Travel Writer dan Fashion Blogger, Food Blogger kini semakin diakui eksistensinya. Tools berupa perangkat kamera dan passion untuk menuliskan cerita dalam bentuk teks menjadi dua komposisi wajib yang perlu dimiliki oleh setiap Blogger. Memadukan foto makanan lezat dari berbagai angle hingga mampu membangkitkan rasa lapar serta gaya penceritaan secara deskriptif juga perlu diasah oleh Food Blogger. Selain itu, apa saja yang sebaiknya dimiliki oleh seorang Food Blogger? OpenRice mencoba menggali cerita singkat perjalanan kedua Food Blogger yang mungkin telah dikenal oleh OpenRicers dalam dunia micro-blogging. An Nur Khairisa, atau lebih akrab kami sapa dengan Icha, adalah sosok di balik blog "Eating Until Diee" yang juga merupakan salah seorang member senior OpenRice sejak lama (Ichakhairisa). Sosok lainnya, yaitu Fellexandro Ruby, seorang Food & Travel Storyteller / Photographer di balik blog bertitel "Wanderbites!". Memiliki karakter dan kepribadian berbeda, keduanya bersedia menceritakan perjalanan blog kuliner yang mereka kelola hingga saat ini. Seperti apa kisahnya, simak ulasannya berikut ini yah OpenRicers!

OpenRice: Masih ingat tanggal berapa blog kalian pertama kali ditayangkan secara online? Dan sejak saat itu sampai sekarang, perubahan apa saja yang terjadi di blog "Eating Until Diee" milik Icha, dan "Wanderbites!" milik Ruby? Icha : Awalnya blog pribadi saya di tahun 2009, isinya campuran traveling, curhat dan kuliner. Dulu nggak terlalu aktif nulis tentang kuliner, tapi karena sering traveling, nulis dan nyobain tempat makan baru dan banyak juga teman yang suka nanya rekomendasi tempat makan, akhirnya saya memutuskan untuk berbagi info kuliner lewat blog. Kebetulan juga di tahun 2010, muncul sebuah situs resto and food guiding OpenRice.com (dulu OpenRice belom sebooming sekarang, hehe), saya diajak menulis disana dan blog saya harus full about culinary. Akhirnya, saya pisahkan tulisan kuliner ke "Eating Until Diee" dan post pertama tertanggal 10 Februari 2010. Sejak itu, blog saya makin ramai dikunjungi orang karena difitur sama OpenRice. Awalnya hanya posting, kemudian saya lengkapi dengan kolom Cuisine (masakan dari Negara apa), Hot Spot (lokasi restoran), dan Fellow Eater (rekomandasi teman-teman food blogger saya yang lain). Ditambah, saya dapat invitation ke Jakarta Culinary Festival 2010, Food Blogger’s Dinner. Disitu saya ketemu banyak food blogger yang juga sedang mengembangkan blog kulinernya dan saling tukar pikiran dan sejak itu food blog dan food blogger di Indonesia mulai terdengar suaranya dan makin diperhitungkan eksistensinya sampai sekarang, termasuk saya, hehehe! Ruby : *ngubek-ngubek email registrasi domain* Nah, ketemu! Pertama kali Wanderbites.com mengudara ternyata Januari 2011. Makasih loh OpenRice udah nanya, gue jadi tau, haha! Perubahan paling utama adalah konten. Tahun 2008 gue mulai nge-blog segala hal yang menarik (baca: curhat siang bolong). Masih menggunakan domain bebas di Posterous. Baru secara religius nge-blog soal cabang olahraga makan-memakan ini November 2010 sewaktu dijerumuskan di Jakarta Culinary Festival. There's no turning back from that point forward. Gue terus bermain dengan berbagai ide. Mulai dari simplifying logo menjadi sebuah huruf dan exclamation mark saja: W! (ini ada makna filosofis di belakangnya lho), kemudian dari cara foto yang lebih memasukkan unsur manusia, kadang gue take away makanan dan styling sendiri di rumah dengan gaya gue baru difoto, that's how much I'm into it sometimes. OpenRice: "Eating Until Diee" dan "Wanderbites!", boleh diceritakan darimana tercetusnya ide pemberian nama untuk blog kalian ini? Icha : Dulu saya sering dikomentarin teman kok bisa makan banyak tapi nggak gemuk, hehe. Saya sendiri juga nggak tau kenapa, ditambah saya dengar keluhan teman yang menunda makan atau diet ketat demi kurus seperti saya, haha! Dari situ saya berpikir bahwa makan sebenarnya bagaimana konsep pikiran kita, kalau bahagia dengan apa yang kita makan dan nggak mikirin apakah akan gemuk atau enggak, kita pasti baik-baik aja. Sementara, kalo terlalu mikir "ah kalo makan ini nanti gemuk, ah kalo makan itu nanti gak kurus", kita enggak akan pernah bisa menikmati makanan. Akhirnya Eating Until Diee muncul di kepala saya sebagai campaign bahwa nggak usah takut makan demi hidup kalian, makan lah selagi kalian masih bisa hidup untuk makan, gemuk atau kurus itu tergantung mindset dan sikap kita mengatur pola makan, alias makanlah sebelom mati, hehehe. Ruby : "Wander" dari kata Wanderlust yg artinya 'a strong irresistible impulse to travel / explore the world.' "Bites" ini terinspirasi dari food blog favorit waktu itu, yaitu Mattbites.com. Jadi memang sedari awal sudah pengen cover both travel & culinary. Travelnya masih kurang tapi, kurang sponsor. *colek marcom OpenRice*

OpenRice: Dari pemilihan bahasanya sendiri, kenapa Icha memilih Bahasa Indonesia untuk Eating Until Diee, sedangkan Ruby menjatuhkan pilihan untuk menggunakan Bahasa Inggris di Wanderbites? Icha : Saya melihat target pasar karena hidup di Negara Indonesia dengan pengguna internetnya juga mayoritas orang Indonesia yang butuh informasi cepat. Menurut saya, walaupun semua orang Indonesia rata-rata bisa berbahasa Inggris, tapi jika mereka mencari informasi tentang makanan dan detailnya, saya rasa mereka juga butuh ‘membaca pesan’ yang bahasanya mudah dimengerti oleh mereka dan langsung ‘klik’ dengan yang mereka harapkan. Lagipula, jika menulis dengan Bahasa Inggris yang broken juga nggak bagus, makanya saya fokus ke Bahasa Indonesia saja yang penting PESAN saya ke pembaca tersampaikan. Ruby : Secara natural lebih lancar ngecap dengan Bahasa Inggris. Partly, karena somehow bisa lebih ekspresif. Contohnya, "enak" dalam Bahasa Inggris bisa menjadi delicious, delish, scrumptious, yummy, orgasmic, over-the-top, etc. Partly karena memang mau sekalian latihan menggunakan Inggris supaya enggak luntur, dan karena memang pengen bisa dinikmati masyarakat dunia (go international kalau kata seorang artis penyanyi wanita, hehe). By the way, statistik blog menunjukkan hampir 20% visitor dari luar Indonesia, hampir setengahnya dari US. OpenRice: Jika Ruby pernah menulis dalam blognya menggunakan Bahasa Indonesia, nah sebaliknya, apakah Icha pernah mencoba menulis menggunakan Bahasa Inggris? Icha : Pernah di beberapa artikel. Saya berusaha mix artikel-artikel saya, karena mulai banyak pembaca dari luar negeri yang mengunjungi blog saya. Tapi style saya sih lebih ke Bahasa Indonesia yang simple. OpenRice: Pernah menggunakan Bahasa Indonesia dalam postingan blog di Wanderbites, nah bagaimana rasanya jika dibandingkan dengan kebiasaan menulis dalam Bahasa Inggris? Ruby : Pernah! Enggak berbeda jauh, tapi somehow permainan kata-kata dalam Bahasa Inggris lebih menantang gimana gitu.

OpenRice: Melihat perkembangan dunia kuliner dan Food Blogger di Indonesia saat ini, ada saran atau tips dari kalian berdua untuk OpenRicers yang ingin mulai menekuni bidang food blog ini? Icha : Saran saya, yang penting mau belajar menulis, jujur, dan tentukan style kamu. 1. Belajar menulis. Setiap orang pasti bisa nulis, tapi menulis yang memberikan pesan sampai seseorang ‘ngiler’ sama deskripsi makanan yang kita tulis, itu yang susah. Coba tajamkan semua indera saat makan, terutama indera pengecap dan ingat-ingat sensasi seperti apa yang didapat saat makan dan setelah makan, selanjutnya menulis pasti lancar. 2. Jujur. Kebanyakan yang saya lihat dari kebanyakan blogger pemula, mereka masih takut eksplor apa yang mereka rasakan saat makan, jadi semua makanan dibilang enak. Padahal ada baiknya jujur dengan apa yang kita rasakan dan kalau bisa deskripsikan kelebihan dan kekurangan makanannya, kalaupun makanan itu enggak enak kita enggak akan dituntut sama restorannya kok, malah restonya akan berterima kasih karena sudah dapet kritikan dari blogger dan jadi masukan untuk perkembangan restoran mereka juga. 3. Style. Kamu suka nulis, motret atau keduanya? Tentukan saja mana yang lebih dominan. Foto dan tulisan, keduanya sebenarnya ‘tools’ yang sangat penting dalam sebuah tulisan, tapi enggak mesti semuanya dipenuhi asal bisa menonjolkan salah satunya. Kalau kalian suka nulis tapi enggak jago motret, ya tajamkan gaya nulis kalian, gimana caranya bikin orang berimajinasi tentang apa yang kalian tulis. Kalau kalian jago motret tapi enggak jago nulis, buat foto makanan semenarik mungkin sampe orang ‘ngiler’ pas melihatnya, because sometimes picture do speaks, right? But, trust me, seiring berjalannya waktu, semakin kalian sering nulis dan sering motret, kedua skill tersebut lama-lama jadi meningkat juga kok. Saya dulu enggak jago motret, karena penasaran mau buat foto makanan yang bagus, saya belajar dan lama-lama foto makanan saya jadi lumayan bagus. Ruby : Yang ingin mulai menekuni. Artinya baru mau mulai. Tipsnya, mulai aja langsung sob! If you never try, you never know. This weekend, go and have a good lunch, take photos, take notes on how the food taste and how the food make you feel. Tulis di blog. Kalau kalian merasa seru dan bersemangat ngerjainnya, food blog might just be for you. Sesi tanya jawab ini masih belum selesai loh OpenRicers... Info kuliner yang menarik dan bermanfaat cuma di OpenSnap

Keyword
Food Blog
Food Blogger
OpenRice
Eating Until Diee
Wanderbites
OpenRice Editor
Related Articles
Serunya Gathering OpenRice Nyoba Yoforia Di Bandung
2017-01-26