3
2
0
Opening Hours
Mon.-Sun. 10:00-22:00
Payment Methods
Cash / Tunai
Other Info
Outdoor Seats
Parking Area
Review (5)
Level4 2016-03-22
111 views
Great place, great coffe, great chocolate, great tea, great foods. Paket lengkap deh, pertama kalinya kesini, bikin pengen balik lagu. Waktu itu aku sama temen2 pesen dari menu tea, chocolate, coffe sama french friesnya semuanya enak!! Selain itu pelayanannya juga sangat memuaskan, semuanya ramah. Kurangnya sih gara2 tempatnya terlalu kecil aja dengam peminat yg segitu banyak, soga kedepannya bisa diperluas dan buka lebih banyak cabang lagi ya karena kami keburu ga sabar coba menunya jadi yg kepoto cuma hot chocolate ini hihi continue reading
(The above review is the personal opinion of a user which does not represent OpenRice's point of view.)
Level3 2016-02-08
94 views
Kopi tidak hanya sebagai minuman penghilang rasa kantuk, namun saat ini kopi sudah menjadi gaya hidup. Kenapa bisa dibilang begitu? Karena saat ini kopi bukan lagi diminum oleh bapak-bapak atau kaum pria saja, banyak sekali anak muda saat ini menggemari kopi. Tak heran banyak sekali kedai kopi yang bermunculan, terlebih lagi saat film Filosofi Kopi tayang di Layar Lebar.Sukses dengan filmnya dan sukses juga dengan kedai kopinya, nama dari kedai kopi ini memang sengaja diambil dari nama filmnya. Filosofi Kopi Kafe yang berada di kawasan Melawai, menjadi tempat ngopi favorit para pecinta kopi. Deretan kursi yang berjejer di kafe ini, terisi penuh dengan para pelanggan yang memesan secangkir kopi.Baik muda, tua bahkan warga asing pun turut hadir di kafe ini. Pas gue datang kesini, sayangnya kursi didalam sudah terisi penuh, dan akhirnya gue duduk didepan. Setiap gue datang kesini, ga pernah gue liat kafe ini kosong dan pasti selalu ramai. Sayangnya Kafe ini hanya memiliki satu lantai, mungkin kedepannya bisa dibuat menjadi dua lantai hahahah… berharapWalaupun begitu kafe ini masih menjadi favorit untuk mencicipi secangkir kopi hangat maupun dingin, menu favorit gue disini adalah Machiato yang disajikan dengan cangkir mungil. Macchiato adalah minuman kopi yang dicampur dengan susu, sehingga rasanya bukan pure kopi. Gue selalu suka sama rasanya yang soft banget, untuk menikmati macchiato gue ga pernah tambah gula lagi jadi rasanya masih original buatan barista.Engga puas dengan macchiato, gue pesen coffee latte kali ini dengan suhu dingin. Caffe latte disini disajikan dengan botol kaca, itu kalo lo pesennya yang dingin. Lagi-lagi gue ga menambahkan gula, karena memang gue kalo minum kopi ga pernah pake gula jadi gue bisa tau kopi mana yang enak.Disini juga tersedia cemilan, untuk menemani lo semua yang asik ngobrol bareng temen. Filosofi kopi kafe menyediakan waffle dan churros, kalo gue boleh saran waffle disini enak dengan ukuran yang lumayan besar. Itu aja sih review dari gue, thx. continue reading
(The above review is the personal opinion of a user which does not represent OpenRice's point of view.)
Level3 2016-01-31
65 views
Being a coffee person rather than a tea person, I'm always psyched to try new coffee place. Filosofi Kopi coffee shop was actually used first as the location set for a movie with the same title (that is an adaptation from a bestselling book by Dewi Lestari or Dee).Located right across M Hotel. There is no store sign on but you could recognize the place by the crowd of people taking pictures outside of a store with huge windows and white panelling. (I actually have to walk around the area first before I could get there, but it is no biggie because I found some other interesting places that I visit later that day).It was a full house when I got there around 3 PM. I had to split with my friends to tag seats (which is a Must, since other people are doing the same thing). Light cream coloured bricks give a warm ambiance to the room. There were two posters of the movie on the wall but the rest was covered with small sized paintings which give the place a really cool vibe.The menu was simple which was divided into two categories: coffee and non-coffee. They also had snacks too, such as fries and waffles. Being a red velvet fan I ordered hot red velvet (Hot 32k, cold 35k) and add a shot of coffee for IDR 10k while my friends had iced green tea and cafe latte. The iced green tea was refreshing; well it was really hot that day so a cold drink was spot on. But taste wise it was ordinary, same as the latte. Their cafe latte tasted like any other cafe latte, so I'm not going to give you too much detail on that. But the red velvet was great. The texture was smooth and velvety, very rich. It was already sweetened but the coffee shot gave a kick to it. Seriously, the red velvet was delicious. We didn't try their Tiwus coffee (the one they described on the movie and book) because I forgot. maybe I'll try it some other time.So if you're around Kebayoran Baru area and want to meet up and chat with friends over cup of coffee, now you know a place. No need to take your latest reading companion with you as the place is always busy (mind the queue outside). continue reading
(The above review is the personal opinion of a user which does not represent OpenRice's point of view.)
Minggu lalu gue ke Filosofi Kopi yang ada dikawasan Melawai, ketika gue berada disini yang gue bayangkan adalah settingan dalam film Filosofi Kopi yang diperankan oleh Rio Dewanto dengan Chicco Jerikho. Tidak hanya filmnya yang sukses mendongkrak kopi sebagai alur ceritanya, tapi cafe yang berdiri sejak film tersebut pun ikut mendulang sukses. Lihat saja disetiap sudut kursi dari cafe ini sudah terisi para pecinta kopi atau anak muda yang asik menikmati secangkir kopi. Kalo diperhatiin semua aksesoris, dan desain interiornya ga ad sedikit pun yang berubah dari film tersebut. Hanya yang berbeda adalah bagian depan, yaitu poster dari masing-masing para pemeran dari film Filosofi Kopi. Berhubung ini adalah cafe yang spesial menyajikan menu kopi, jadi yang gue pesan pastinya kopi. Pesanan gue saat itu adalah vietname dip, yang disajikan diatas gelas dengan tampilan susu kental manis pada bagian bawah dicampur dengan kopi hitam dibagian atasnya. Tampilannya tidak ada yang spesial diminuman yang satu ini, dan pas gue coba merasakan kopinya yah gue bilang cukup enak. Dengan aroma yang tidak terlalu kuat pada kopinya. Pesanan kedua gue adalah minuman dinginnya, yaitu ice coffee latte yang disajikan begitu unik dengan menggunakan botol kaca. Terlihat warna putih susu dan warna coklat untuk kopinya terlihat jelas di botol itu, yang dipenuhi dengan ice batu. Sang barista sengaja tidak memberikan gula, supaya pelanggannya bisa menambahkan sendiri gula yang sesuai dengan seleranya. Karena gue suka dengan kopi yang tidak terlalu manis, dan cenderung ke pahit jadi menurut gue minuman yang satu ini pas buat gue. Ditambah lagi dinginnya menurut gue cukup menggoda, dicuaca Jakarta saat itu. Seperti biasa ga lengkap rasanya klo gue ngopi ga ada temennya, jadi gue pesen waffle dengan topping ice cream. Berhubung memang Filosofi memiliki spesial menu waffle, ga ada salahnya juga gue coba untuk mencicipi. Sekitar 10 menit gue menunggu pesenan waffle gue itu, akhirnya waffle yang gue tunggu selesai juga dibuat. Sang waitter pun manggil nama gue, menandakan pesenan gue sudah bisa di ambil untuk disantap. Waffle with ice cream, ukurannya lumayan besar dan cukup mengenyangkan sebagai cemilan. Warna yang coklat pada waffle, serta tambahan 1 scoop vanila ice cream diatasnya terlihat begitu cantik. ketika gue potong dan gue coba makan wafflenya empuk dan enak, ditambah ice creamnya yang lembut. Pasta coklatnya menambah citarasa manis di waffle tersebut, dengan kata lain waffle ini oke banget dan membuat gue kenyang. continue reading
(The above review is the personal opinion of a user which does not represent OpenRice's point of view.)
Level4 2015-05-29
101 views
Belum banyak yang mendeskripsikan lebih detail mengenai preferensi kopi di Filosofi Kopi, menjadikan saya segera mengarahkan kaki untuk sekedar mengunjungi dan menuangkannya dalam sebuah tulisan. Saya pun tertarik menggali Tiwus lebih dalam. Karakter yang tercermin dari rasa itu meneguhkan kualitas biji kopi yang diemban. Namun sayang, saat ditanya lebih jauh mengenai asal usul biji kopi Tiwus, sang barista hanya menjawab Tiwus dari Pulau Jawa tanpa mengindentifikasi lanjut soal roasting dan lain sebagainya.Menerjemahkan rasa penasaran saya, seteguk kopi Tiwus memberikan jawaban. Sekedar info, kopi yang saya pesan menggunakan metode pure over dengan alat seduh V60. Aroma yang keluar dari kopi ini mirip dengan spesifikasi kopi Toraja dimana tercium aroma rempah dan earthy yang khas. Tingkat asiditas atau keasaman yang saya rasakan di bagian tepi lidah kurang begitu pekat, justru rasa pahit paling mendominasi. Sementara untuk body, kopi Tiwus punya tingkat kekentalan yang cukup tebal, artinya biji kopi yang dipanggang (roasting) medium. Lagi pula kopi yang saya nikmati terlalu panas, mengisyaratkan suhu air yang digunakan oleh barista untuk menyeduh terlalu tinggi yang mana akan berpengaruh pada rasa kopi keseluruhan. Menu saya berikutnya yang tak lewat dari pendeskripsian adalah Green Tea Latte. Ia nampak cantik dengan sentuhan latte art berbentuk menyerupai dedaunan. Seperti preferensi pada umumnya, karakteristik Green Tea Latte yang saya pesan punya body yang tebal, rasa manis yang pas, dan memiliki aroma yang khas.  continue reading
(The above review is the personal opinion of a user which does not represent OpenRice's point of view.)