2
0
0
Telephone
(0271) 656205
Good For
Family Gathering
Opening Hours
Mon.-Sun. 10:00-22:00
Payment Methods
Cash / Tunai
Other Info
Parking Area
Review (2)
Level2 2015-02-13
62 views
Halo open ricer, kali ini saya ingin mereview sebuah tempat makan unik bercitarasa dan interior traditional namun penuh modifikasi rasa di menu makanannya. Yak, tempat itu bernama omah selat yang terletak di jagalan, solo. Omah selat menyajikan aneka selat mulai selat solo, hingga modifikasinya.sedangkan minumannya menyajikan selain teh, juga ada aneka jus buah.kali ini saya akan mereview menu favorit saya, namanya selat iga bakar Madu. Iga sapi diaajikan dengan saus yang gurih dan manis, ditaburi keju. Dihidangkan juga kentang dan ubi ungu sebagai pelengkapnya, ditambah saus dressing. Rasanya sangat lembut, gurih , manis, dan cukup mengenyangkan meskipun kita makan tanpa nasi. Karena sudah ada karbonya sendiri, yakni kentang dan ubi. selain makanannya oke, harganya pun murah meriah. Selain itu dekorasi interiornya sangat unik, sengaja ditempatkan furnitur dan ornamen rumah jawa jaman dahulu. Sehingga cocok untuk berfoto, menikmati suasana etnik jaman lama, dan juga untuk bersantai dengan cara yang berbeda karena selain kursi terdapat pula bangku panjang yang mirip sofa.. continue reading
(The above review is the personal opinion of a user which does not represent OpenRice's point of view.)
Level4 2012-11-28
33 views
Satu-satunya alasan saya mau datang ke Solo adalah masih banyak restoran yang menjunjung tinggi nuansa tradisional dan homey-nya rumah di perkampungan Solo dalam interior ataupun eksterior restorannya, salah satunya adalah Omah Selat. Mulsi dari area bagian depannya saja sudah disuguhkan suasana rumah tempo dulu dengan deretan kursi dan dinding dari kayu jati dihiasi dengan perlengkapan rumah tangga jaman dulu mulai dari nampan corak bunga dari besi yang sudah berkarat, piring-piring kaca, juga lampu petromak yang dimodifikasi.Masuk ke bagian dalam nuansa tradisional semakin terasa dengan dinding kayu berukiran khas Solo dan penerangan redup yang menghasilkan cahaya kuning di segala sisinya. Ada beberapa area di ruangan ini, area pertama merupakan area lesehan yang di beberapa sudutnya terdapat deretan teko-teko alumunium tua, lemari tua berukiran Jepara dan beberapa pajangan keris gantung. Masuk ke bagian tengah terdapat satu set meja makan. Dindingnya kental dengan beragam ukiran dan hiasan piring-piring keramik dan oh ada satu yang lucu ada frame berisikan foto gadis a la 50-an, tipikal foto-fotonya Andy Warhol. Ada juga pajangan berupa rantang jaman dulu dengan corak hijau army-nya. Lampu gantungnya juga unik, tipikal lampu pada rumah gaya Jawa dan Betawi tempo dulu. Masuk ke bagian agak dalam, atau paling belakang terdapat dua ruangan, ruangan sebelah kiri pertama memiliki dua sofa besar yang bisa ditidurin yey! Di seberangnya terdapat dertan setrikaan sangat kuno yang jaman dulul masih menggunakan arang, tapi lucunya ada TV LCD 29 inch di gantung ditengan dinding. Tak lupa deretan toples usang di bagian samping dan foto-foto pemilik restoran ini. Ruangan sebelahnya terkesan agak private karena sangat tertutup dan memiliki set meja makan yang lebih bagus mirip seperti kursi makan di keraton Solo. Di bagian luarnya terdapat pajangan termos-termos tua dan rantang. Ah rasanya masuk ke restoran ini seperti dibawa kembali ke Solo beratus tahun silam dan tidak sampai disini, saya juga dimanjakan dengan kuliner khas Solo yang jadi jualan utama restoran ini, Selat Solo. Mungkin sedikit asing bagi yang belum pernah mendengarnya, saya pun begitu, ternyata selat merupakan makanan yang terbuat dari daging sama seperti steak hanya saja penyajiannya ya a la tradisional. Coba tengok Selat Segar (12.5K) yang saya pesan ini. Selatnya berupa rolade daging yang disiram dengan kuah kecap yang cair disajikan dengan kentang goreng, potongan wortel, telur rebus, kacang polong, selada, dan keripik kentang. Mirip sekali seperti penyajian steak hanya saja steak Solo ini direndam di kuah hihihi... Rasanya? Sama persisi seperti makan beef steak. Daging roladenya empuk, dengan bumbu kecap dan sedikit rempah yang cukup menyengat di lidah. Agak sedikit kemanisan sih buat saya, but so far it's okay. I just enjoy something new dari sebuah kekayaan kuliner Indonesia ;-) Berbeda dengan selat segar, Selat Iga Bakar (20K) yang ini disajikan sebagaimana steak pada umumnya. Potongan iga sapi yang dibakar dan disajikan dengan potongan wortel, buncis, ubi ungu, kentang goreng dan mayonnaise. Lucunya di atas iga yang dibakar ada lelehan kejunya wuoooh makin ngiler saya! Iganya dibakar well-done, dagingnya empuk sekali, dan bumbunya meresap sampai kedalamnya sedangkan sausnya mirip saus bolognese untuk pasta hanya sedikit pedas manis. Soup Lapis Galantin (12.5K) lebih unik lagi, sup ini berisikan selat yang merupakan campuran daging sapi dan ayam ditambah dengan potongan wortel, kacang polong, jamur kuping putih, keripik kentang dan sosis sapi. Kuah supnya gurih dan asinnya pas. Sisanya sih menurut saya seperti menyantap sop pada umumnya saja. Overall, lagi-lagi saya menikmati apapun yang unik disini, lagipula nggak perlu merogoh kocek terlalu dalam juga tiap kali makan di Solo. Disini seporsi selat yang notabenenya sudah bermodel steak mahal saja range harganya masih dikisaran Rp20.000 - 25.000, selat segar dan sop malah hanya Rp12.500. Hmm...nggak salah saya memilih jelajah kulineran disini, selain suasana homey yang saya cari, makanan dengan harga 'terlalu' masuk akal pun bisa saya dapatkan. Pelayanan juga sangat memuaskan. Disini seperti kebiasaan orang Solo yang lembuh lembut dan sopan, kamu dijamin makin betah deh makan disini.I'm gonna miss this city for sure! continue reading
(The above review is the personal opinion of a user which does not represent OpenRice's point of view.)