1
0
0
Good For
Dating / Couple
Family Gathering
Opening Hours
Mon - Sun 10:00 - 22:00
Payment Methods
Cash / Tunai
Other Info
Parking Area
Review (1)
Ketika lagi ingin makan steak, teman saya mengajak saya berpetualang menikmati sajian steak yang lain daripada biasanya, yah di kota Solo tempat saya backpacking ini memang selalu saja ada kuliner Indonesia yang tak lazim saya temui sebelumnya. Kali ini saya tidak mampir ke restoran steak melainkan ke sebuah rumah makan yang menyediakan bistik Jawa atau bestik kata orang Solo. Di sebuah rumah makan di pinggir jalan Honggowoso, Solo, bestik ini dijajakan. Rumah makannya memiliki dua area, satu tenda pinggir jalan, satu lagi di dalam ruko. Malam itu saya bisa melihat rumah makan ini begitu ramai dikunjungi, aroma daging dengan kecap menyeruak dimana-mana dan menusuk-nusuk hidung saya. Area tenda terlihat tidak terlalu bersih menurut saya ditambah dengan asap yang mengepul dari gerobak tukang masaknya. Akhirnya, saya memilih area ruko dengan jejeran bangku dan kursi kayu sederhana dan penerangan yang sedikit redup. Menu andalan disini pastinya bestik, mulai dari bestik daging, bestik ayam, bestik lidah, bestik, jerohan, dll. Ada juga aneka bakmi, mie goreng, nasi goreng, fu yung hai, dan paklai. Saya penasaran dengan Bestik Daging-nya (18K). Dan ketika sampai di meja, saya terbengong-bengong. Lho ini toh bistiknya? kirain salah pesanan hehehe...ya, yang datang di meja saya bukanlah bistik berupa daging berpotongan besar yang di panggang melainkan potongan daging cincang yang disiram kuah kecap lengkap dengan potongan wortel dan kentang serta selada. Wuih, inilah bestik Jawa yang dikenal dikota ini. Mungkin aneh buat saya karena sebelumnya memang belum pernah makan bistik Jawa dimanapun hehehe...Kalau dari segi rasa saya acungi jempol, sama saja seperti saya makan steak potong, bedanya ini dicincang. Dagingnya dicincang halus, kuah kecapnya mirip saus teriyaki dan menguarkan roma daging sapi panggang yang kuat. Sebagai tambahan, saya coba mencicipi Nasi Goreng Daging (14K) dengan tambahan telur dadar isi daging. Nasi gorengnya kurang bersahabat dengan selera saya, karena rasanya sedikit hambar dan terasa seperti makan nasi gosong. Telur dadarnya cukup enak dengan pottongan daging yang empuk dan gurih. Untuk menyegarkan tenggorokan, Es Coklat (3,5K) menjadi pilihan saya. Sepertinya ini memang hanya cokelat bubuk biasa yang diberi tambahan gula dan es. Cokelatnya cukup pekat, manisnya pas, dan segar buat menetralisir makanan berkuah kental yang saya makan sebelumnya. Overall, nggak pernah ada kata menyesal jika mencicipi kuliner Nusantara, kalaupun itu nggak enak, ya itu semata-mata hanya perbedaan lidah tiap orang kan. Makan di rumah makan sederhana ini juga tak perlu merogoh kocek terlalu dalam, cukup dengan Rp11.000 - 22.000 kamu bisa mencicipi aneka bestik khas Solo dan Rp 2.500 - 3.000 saja untuk minumannya. Pelayanannya agak lama karena memang malam itu penuh sekali warungnya dan agak panas juga karena hanya mengandalkan kipas angin di langit-langit. At least, makan di Solo, selalu masuk akal, bukan! continue reading
(The above review is the personal opinion of a user which does not represent OpenRice's point of view.)