OpenRice Index
  
missnl
This is missnl living in Cilandak. I am a graphic designer, work in Lebak Bulus. I like to hang out in Tanjung Duren, Pondok Indah, Senayan. Bali, Chinese, Itali, India are my favorite cuisines. I also love Street Foods, Kafe, Restaurant, lounge and Siomay / Batagor, Pizza & Pasta, sate lilit bali.
Member 10 First(s)
No. of Review67 Review(s)
編輯推介數目33 Editor's Choice
Recommended8 Recommended
Popularity3655 View(s)
Replies in Forum1 Comment(s)
Upload Photos1237 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant42 My Restaurant(s)
Follow58 Following
粉絲391 Follower(s)
missnl  Level 3
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 1 to 5 of 67 Reviews in Indonesia
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Perancis | Restaurant | Halal | Kencan / Berpasangan | Kumpul Keluarga

Sudah lama saya mengetahui keberadaan BokaBuka French Restaurant karena lokasinya dekat rumah, tetapi belum sekali pun mampir. Mengapa? Karena saya agak terintimidasi dengan embel-embel "French Restaurant" yang identik dengan escargot, and I won't eat snail, ever!

 

 
BokaBuka berlokasi di daerah Cipete, Jakarta Selatan, tepatnya di jalan Cipete Raya yang menghubungkan antara jalan Fatmawati dengan jalan Pangeran Antasari. Dahulu jalan ini belum seramai sekarang dan jarang ada restoran, berbeda sekali dengan sekarang dimana restoran berderet-deret di kiri-kanan sepanjang jalan, dari yang berupa kedai kecil hingga restoran franchise internasional pun ada. BokaBuka sendiri awalnya hanya menempati satu kapling kecil dengan dua lantai yang menyerupai bangunan ruko. Saya memang belum pernah masuk ke dalamnya, tapi jika saya lewat di malam hari terlihat dari luar resto ini suasananya nyaman dan berkesan romantis. Kini BokaBuka sudah pindah menempati lokasi baru yang hanya di seberang tempat lamanya. Areanya tentu lebih luas dan berbentuk rumah bukan bangunan ruko lagi. Memasuki resto, terasa seperti di sebuah rumah lama bergaya klasik dengan meja dan kursi makan terbuat dari kayu berwarna gelap serta beberapa pernik etnik menghiasi ruangan. Masih terlihat jelas pembagian ruangan-ruangan asalnya seperti ruang tamu, ruang keluarga, kamar, bahkan kamar mandinya masih tetap dibiarkan seperti semula yaitu satu kamar mandi luas hanya ada satu kloset duduk, lengkap dengan shower cubicle. Terbayang kalau resto ini sedang ramai bisa-bisa antrian toiletnya panjang nih. Ketika berjalan menuju toilet, ada yang menarik di dinding sebelah kiri lorong yaitu dua jendela kaca besar yang telah dimodifikasi menjadi rak kaca besar penuh berisi botol-botol minuman keras terpajang rapi. Entah botol-botol itu hanya sekedar pajangan saja atau benar-benar penyimpanan botol minuman keras yang masih dijual. Sudut itu menjadi makin menarik karena kedua rak dipisahkan dinding bercat merah darah dengan lukisan hitam putih, ditambah efek pencahayaan dari taman yang masuk melalui kaca menjadikan botol-botol minuman terlihat "glowing". Cantik!

 
Saya suka taman belakangnya yang mengingatkan suasana di Bali dengan kolam dan banyak tanaman. Jika datang di siang hari sepertinya akan terasa adem duduk-duduk santai di tengah halaman asri dan suara gemericik air, tapi kalau sudah gelap begini sih adanya diserbu nyamuk. Antara ruangan dalam dengan taman dihubungkan oleh pintu kaca, dan tepat kita membuka pintu ada 2 patung bebek dengan ekspresi dan pose yang lucu, diletakkan di bagian bawah kiri dan kanan.. sayangnya tidak bisa saya foto karena terlalu gelap. Ada satu lagi ornamen yang menarik perhatian saya, yaitu papan catur yang ditempatkan di tengah-tengah ruangan dalam. Papan caturnya terbuat dari kayu berbingkai ukiran ornamen klasik, dan bidaknya unik berbentuk tokoh wayang Jawa. Unik juga sebuah resto Perancis didekor dengan sentuhan interior Indonesia.

Kami para "tukang makan" yang diundang ditempatkan di private room tak berpintu yang saya duga tadinya adalah kamar tidur karena letaknya agak di belakang. Ruangannya cukup ideal untuk 10-12 orang, dan bersebelahan langsung dengan area bar/service tempat makanan keluar. Sambil menunggu OpenRicers yang belum sampai, kami disuguhkan ice tea. Tidak ada masalah dengan minumannya, hanya waitress yang menyajikannya sama sekali tidak ada basa-basi ramah, hanya datang, meletakkan minuman-minuman di meja (sekalipun mejanya belum ditempati) kemudian berlalu begitu saja. Kesan pertama yang kurang baik. Sepanjang kami menunggu pun tidak ada pihak resto yang menemui kami untuk sekedar berbincang atau menyapa, padahal resto sedang sepi tidak ada satu pun tamu lain.

Ketika akhirnya acara dimulai dengan dikeluarkannya menu pertama, yang menjelaskan tentang makanan sekaligus menceritakan sedikit latar belakang BokaBuka adalah asisten chef-nya. Resto ini dibuka pada tahun 2002 oleh ownernya yang berkebangsaan Perancis dan istrinya orang Indonesia (tidak mengherankan jika interiornya bergaya Indonesia). Mereka mempunyai teman seorang chef asal Perancis bernama Chantal, yang kemudian dipercaya sebagai head chef BokaBuka. Tahun ini BokaBuka juga membuka cabang di tempat yang sedang 'hitz' di Jakarta Selatan yaitu Street Gallery Pondok Indah Mall. Untuk arti nama BokaBuka diambil dari bahasa Spanyol yaitu boca yang berarti mulut. Arti ini juga diimplementasikan ke logo BokaBuka berupa empat kotak bergambar mulut, bibir, sendok dan garpu.

Drink
Ice Tea (IDR 17k)
Es teh dengan gula cair yang terpisah sehingga kita bebas menentukan kadar manisnya.

Foods

 
BokaBuka Salad (IDR 55k)
Merupakan salah satu signature dish yang sudah ada sejak awal resto ini buka hingga sekarang. Porsinya tidak terlalu besar, satu porsi maksimal hanya untuk di-share berdua. Saladnya berisi lettuce, brokoli, kentang, apel, anggur red globe, potongan smoked beef, dan daun bawang dirajang halus. Dressingnya terbuat dari white vinegar, madu, dan mustard yang dicampur oregano, garam, dan black pepper. Salad berempah ini agak aneh rasanya bagi saya, tidak match antara campuran buah yang manis dengan aroma rempah. Jika salad sayuran saja dicampur rempah masih enak, atau salad sayuran dicampur buah saya suka, tapi kalau dicampur semuanya seperti ini rasanya justru "bertabrakan". Satu hal lagi, mungkin kalau potongan smoked beef-nya digoreng sampai agak kering akan lebih enak dan ada kombinasi tekstur pada salad ini.

 
Cream of Pumpkin Soup (IDR 30k)
Terbuat dari labu parang dan labu kabocha yang dicampur dengan puree kentang sebagai pengikat agar supnya tidak terlalu encer/cair. Bumbunya sendiri sederhana saja hanya dengan bayleaves dan lada-garam. Penyajiannya sangat sederhana tanpa garnish apa pun, hanya dituangi sedikit cream di tengah sup. Rasa labunya cukup kuat, sedikit creamy setelah cream di tengah itu dicampur merata dengan supnya. Overall sup ini biasa saja, 'flat' dan tidak istimewa.

 
Chicken with Onion Butter (IDR 80k)
Fillet dada ayam dimarinasi dengan kikkoman sauce lalu di-pan fried, disajikan dengan onion butter bersama side dish potato gratin dan sayuran rebus. Fillet ayamnya enak, terasa asin, gurih, dan cukup meresap marinasinya.. tapi sayang sekali ada bagian yang belum matang. Sayalah yang kurang beruntung mendapatkan bagian daging yang masih berwarna pink itu, dan cukup banyak jumlahnya kira-kira sepertiga dari potongan fillet yang saya ambil. Saya pun bertanya ke teman di kiri-kanan untuk memastikan daging itu benar tidak matang, bukan hanya saya yang salah lihat dan semuanya sependapat kalau itu memang tidak matang. Onion butter cukup baik karena caramelized onion-nya tidak sampai gosong, hanya mungkin butter yang digunakan terlalu banyak sehingga banyak minyak di dasar piring. Sayuran berupa buncis dan wortel rebus tergolong overcooked karena warnanya sudah agak pucat dan wortelnya patah ketika ditusuk garpu. Satu-satunya komponen yang paling enak di piring ini justru potato gratin. Potongan kentangnya cukup tipis merata sehingga semuanya matang, juga cream diantara layer-layer kentang itu terasa pas baik dari rasa dan jumlahnya.

 
Beef Fillet with Mushroom Sauce (IDR 98k)
Grilled tenderloin (160 gr) yang dimarinasi dengan lada garam, disajikan dengan mushroom sauce dan side dish potato gratin dan sayuran rebus. Ketika kami menanyakan jenis daging yang dipakai, sang asisten chef menjawab ini adalah australian beef, tetapi kami semua meragukannya. Daging yang kami makan cukup alot, tidak juicy sama sekali untuk daging yang katanya dimasak pada tingkat kematangan medium-well. Bahkan beberapa teman yang gemar makan daging berpendapat bahwa ini seperti daging rendang biasa, bukan daging untuk steak. Mushroom sauce yang memakai white wine terasa cukup creamy, tetapi malah tidak bercita rasa jamur, hanya terdapat beberapa potongan tipis jamur saja. Sayuran rebus masih sama overcooked seperti di menu ayam sebelumnya, dan potato gratin tetap jadi juara. Mungkin sebaiknya potato gratin ini dibuat jadi satu menu tersendiri saja, karena rasanya memang enak dan pas, jauh lebih baik dari makanan utamanya.

Dessert

 
Dame Bruxelles (IDR 40k)
Arti namanya adalah "Lady Brussel", merupakan menu dessert spesial di sini. Terdiri dari Belgian waffle dengan satu scoop es krim vanilla, siraman saus coklat, dan taburan icing sugar. Wafflenya enak karena tidak terlalu tebal, empuk, dan agak sedikit crispy di bagian luarnya. Waffle yang masih hangat cocok dimakan dengan ice cream yang dingin, berpadu dengan manisnya saus coklat. Meskipun hampir semua komponennya manis, masih ada rasa asin gurih dari waffle sehingga keseluruhan rasanya balance. Dari semua menu yang di cicipi hari ini, dessert merupakan penutup terbaik tanpa cela diantara semua menu.

Selain pelayanan yang kurang ramah, kami semua cukup heran dengan lamanya makanan keluar dari dapur padahal resto sedang sepi, ragam menu yang disediakan juga tidak banyak (2 appetizer, 2 main course, dan 1 dessert, masing-masing hanya 1 atau 2 porsi saja), dan kedatangan kami tentunya sudah dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika resto ini memang well prepared dan cara kerja dapurnya profesional, rasanya tidak perlu waktu sekian lama untuk memasak semua hidangan. Di akhir acara, tidak ada penutupan dari pihak resto sama sekali. Sang asisten chef tidak keluar lagi menemui kami untuk menanyakan kesan atau masukan mengenai makanannya, padahal resto tetap sedang sepi seperti ketika kami datang tadi. Saya yang semula ingin komplain mengenai daging ayam tidak matang tadi pun jadi mengurungkan niat. Bahkan untuk komplain ke waitress yang membereskan piring makan saya pun sudah malas karena sikap tidak ramah mereka.

Ternyata, baik-buruknya kualitas makanan dan pelayanan suatu resto tidak bisa diukur dari lamanya masa operasional mereka. Dan, maaf, rupanya BokaBuka merupakan salah satu contoh yang kurang baik buat saya.
 
Recommended Dish(es):  Dame Bruxelles (waffle)
 
Date of Visit: Jul 03, 2013 

Spending per head: Approximately Rp150000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 2  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 2  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 2

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Kecewa di Churreria Cry Apr 09, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Eropa | Kafe | Kencan / Berpasangan

Saya mengetahui Churreria dari promo Disdus dan tertarik mencobanya karena resto ini menawarkan dessert khas spanyol yang jarang ada. Mumpung ada promo, tentunya jadi kesempatan bagus untuk mencoba2 sesuatu yang baru.

Saya pun datang di hari terakhir masa berlaku promo sesuai yang tercantum di vouchernya. Saya sampai di Central Park sudah cukup malam, sudah lewat dari jam makan malam. Churreria berlokasi di Tribeca di lantai atas, letaknya di dekat eskalator jadi tak sulit menemukannya. Restonya berpintu kaca, sehingga bagian dalam bisa terlihat jelas dari luar. Area makannya selain di dalam yang ber AC ada juga di luar yang non AC dan smoking area. Untunglah saya lihat masih ada meja kosong di dalam, sehingga saya aman dari asap rokok. Saya menempati meja di bagian terjauh dari kasir/pantry, tapi karena tempatnya memang kecil yah masih bisa terlihat jelas seisi ruangan itu. Area indoor didominasi warna coklat kayu, dengan meja dan kursi kayu pula.

Ketika saya datang, seorang waitress segera menghampiri & memberikan buku menu. Saya pun segera mengatakan bahwa saya mau pakai voucher Disdus. Waiter itu pun mengiyakan, tampaknya memang sudah banyak yang menggunakan voucher sejenis. Dia pun menjelaskan meu apa yang saya bisa dapatkan, yaitu menu churros isi 4 dengan 1 dip sauce dan 1 menu dessert pilihan. Sayangnya dari tiga piilihan yang ada semuanya habis, jadi katanya bisa diganti dgn jenis dessert yg lain yaitu churros juga dengan topping ice cream. Dia juga menawarkan alternatif jika tidak mau pakai vouchernya sekarang, karena ternyata masa berlaku voucher diperpanjang hingga 12 Februari. Wah, sudah jauh2 saya ke CP, jadi sia2 kalau tidak jadi..maka saya pun menyetujui menu pengganti itu. Berikut menu yang saya dapatkan dengan voucher:

Churros isi 4 + dipping
Churros itu sendiri semacam adonan dari tepung (fluor base) sepanjang kira2 30 cm, rasanya manis, kering seperti kue dengan sedikit rasa asin samar2. Rupanya inilah dessert khas spanyol specialities resto ini. Dipping sauce nya saya pilih dark chocolate sauce. Enak juga churos dicocol saus coklat, hanya sayang jatah seporsi dipping nya tergolong pelit. Kalau kurang harus beli dipping tambahan lagi.

 
Caramello
Sebenarnya sama saja isinya churros yang dipotong jadi 2 disusun ke atas dan diberi topping es krim vanilla, siraman madu, dan sedikit taburan almond. Saya pribadi justru tidak suka menu ini, karena rasa madu-nya malah bikin eneg karena terlalu manis. Masih lebih baik churros saja dengan dip sauce.

Meskipun bukan selera saya banget, sebenarnya tidak ada masalah dengan makanannya. Satu hal yang membuat saya sungguh kecewa adalah lamanya menunggu pesanan datang! Churros dgn dip sauce itu sangat sederhana (dibanding menu masakan yang harus dibuat dari awal) itu pun baru keluar setelah 2x saya menanyakan ke waiter karena mulai tak sabar menunggu. Saya lihat tamu yang datang lebih belakangan dari saya sudah keluar pesanannya, sama2 churros juga. Rupanya ada yang tidak beres dalam urutan bon pesanan yang masuk, atau memang buruk mengorganisirnya sehingga waiter yang bagian menghidangkan menu tidak tahu mana pesanan yang lebih dulu masuk? Lebih mengesalkan lagi menunggu Caramello saya keluar. Saya sampai harus menanyakan 2x lagi untuk menu kedua ini. Memang saya lihat di bagian dapurnya (yang dapat terlihat dengan jelas) agak berantakan cara kerjanya, terkesan rush. Sangat disayangkan untuk resto sekelas ini, di mall besar pula. Bahkan, saya pernah membaca ulasan customer yang kecewa karena pihak restoran menghidangkan minuman di gelas yang masih ada bekas cap bibirnya ke tamu yang baru datang. Wow, rupanya kekesalan saya menunggu lama ini masih belum apa2. Sorry to say, saya mem-black list Churreria untuk ke depannya.
 
Date of Visit: Feb 06, 2012 

Spending per head: Approximately Rp50000

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 1  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Ternyata Tak Sesuai Harapan Cry Apr 09, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Kopitiam | Halal | Kumpul Keluarga

Jujur saya berharap banyak dengan resto ini, terutama karena nama besar sang empunya resto yang sudah malang melintang di dunia kuliner. Berkali2 pula saya sudah melewati resto di jalan sabang ini, akhirnya baru kesampaian mampir bersama sekelompok teman2 cewe. Siang itu kami datang untuk late lunch, karena kira2 sudah pk. 13.30. Kami pun sudah lapar berat sehabis ikut tour jalan2 keliling kota tua dari pagi hari.

Resto ini menempati satu kapling kecil yang berderet2 di jalan Sabang, sebuah kawasan pertokoan tua yang memang ramai dan sekarang terkenal sebagai salah satu pusat kuliner top di jakarta. Kopitiam Oey tampil menarik diantara toko2 di sebelahnya dengan cat bagian depan berwarna pink dan tulisan "Kopitiam Oey" menjadi nameplate yang sederhana dan terlihat old style. Pintu masuknya dan keseluruhan bagian depan resto bergaya kawasan chinatown di batavia kuno, sungguh menarik! Agak disayangkan bagian depan ini terhalang gerobak sate yang memang sengaja diletakkan di situ. Mungkin maksudnya agar benar2 seperti suasana resto tempo dulu yg di depannya sering ada penjual makanan kaki lima numpang mangkal, atau mungkin sekaligus sebagai "perluasan" dapur juga yah? mengingat kecilnya area resto ini.smile

Masuk ke dalam ruangan, terasa sejuknya AC, tentu melegakan bagi kami yang habis kepanasan di luar, pas siang2 begini...mad Interior dalam ruangan pun tak kalah cantik, kursi2 bergaya antik dari kayu, meja kayu dengan marmer di atasnya, dinding dipenuhi hiasan iklan2 kuno yang dipigura, dan beberapa pernak pernik old style lainnya.

Siang itu resto cukup penuh, beruntung kami bisa mendapat tempat yang cukup untuk kami berlima (beberapa meja kosong yg ada hanya untuk 2-3 orang saja). Segera kami memilih2 menu yang akan dipesan. Dua teman saya memilih sate ayam, satu memilih gado2, saya sendiri memilih Roti Cane dengan Kari Ayam. Satu teman saya tidak jadi pesan makanan, karena menu yang dia mau ternyata hanya ada saat breakfast time saja , jadilah dia hanya pesan minuman yang mengenyangkan saja seperti milkshake.. Tak terlalu lama makanan datang, kelihatannya menarik dari tampilan awalnya, berikut reviewnya:

 
Roti Cane dengan Kari Ayam
Tak salah saya pesan ini, karena kari ayamnya enak, gurih & creamy, hanya sayang kuahnya pelittttt banget. Hanya semangkuk mini kira2 seukuran cangkir teh, itu pun penuh karena potongan ayam di dalamnya. Jadi kuahnya sendiri benar2 sedikit, mesti saya hemat2 agar cukup untuk mencocol 2 lembar roti cane-nya. Roti canenya biasa saja, standar, dan lumayan berminyak.

Sate Ayam dgn lontong
Saya sempat mencicipi sedikit dari piring teman saya.. Lontongnya besar dan pulenny pas. Satenya sih lumayan besar2 dan berdaging, tidak banyak jerohan, tapiii... sayang sekali bumbunya tidak enak, rasanya terlalu manis dan terasa kacangnya seperti belum terlalu matang & tidak menyatu dengan minyak bumbunya. Dua teman saya yg memesan sate tentu saja kecewa berat, dan harganya pun tidak semurah sate2 gerobakan biasa. Gado2nya pun menurut teman saya biasa aja, dengan harga yang tentunya lebih mahal dari penjua gado2 kaki lima.

Overall kami agak kecewa makan di sini. Tempat oke, pelayanan standar resto/cafe, tampilan makanan oke, sayang justru rasanya yang tidak oke... Ternyata nama besar pemiliknya saja tidak cukup menjamin kami suka dengan makanannya. Meskipun tempatnya bagus, jujur, kami malas untuk kembali kedua kalinya.
 
Recommended Dish(es):  -
 
Spending per head: Approximately Rp50000

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Ramen Hangat di Ikkudo Ichi OK Oct 17, 2014   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jepang | Restaurant | Ramen | Kumpul Keluarga

Setelah hampir 3 jam perjalanan menembus macet parah di sepanjang Slipi, sampai juga saya ke Central Park. Hari sudah cukup larut dan sebenarnya saya dalam keadaan kkurang sehat, tetapi karena ada keperluan mengharuskan saya ke mall yang satu ini. Untunglah seperti biasa ada teman saya yang menemani, dan tujuan pertama saya setiba di sini adalah mengisi perut agar tidak semakin sakit.

AC di mall terasa semakin dingin karena sore tadi turun hujan cukup lebat, maka saya pun ingin makan sesuatu yang hangat dan berkuah, serta cepat saji karena saya ada keperluan yang harus segera diselesaikan segera. Teman saya pun menyarankan Ikkudo Ichi yang menurut dia memenuhi semua "kriteria" tersebut.
Beautiful!

Beautiful!

 
Unique ornament

Unique ornament

 
Outletnya tidak terlalu besar, namun ditata cantik dengan lampion-lampion dan rangkaian sakura imitasi pada langit-langitnya, senada dengan lighting seluruh ruangan yang berwarna kuning agak temaram. Pada salah satu dinding samping terdapat hiasan menarik yang terbuat dari susunan sendok di atas background merah dengan aksara kanji super besar. Hiasan yang sederhana, namun idenya menarik dan perpaduan warna merah-hitamnya sangat eye catching. Keseluruhan desain interiornya bertema modern minimalis dengan sentuhan khas Jepang di sana-sini. Di setiap meja terdapat tempat menaruh peralatan makan dan saus berbahan kayu yang desainnya compact dan unik. Di bagian atas tempat meletakkan botol-botol saus, di samping ada tempat untuk sedotan, dan di bawahnya ada laci kecil tempat untuk sumpit.
Details

Details

 
Ikkudo Ichi tampaknya selalu ramai, termasuk saat kami datang meskipun sudah cukup larut dan lewat dari jam makan malam. Outlet selalu ramai dan sebagian besar mejanya terisi customer yang datang dan pergi silih berganti. Bagusnya ketika kami masuk masih ada tempat kosong sehingga tidak perlu menunggu. Buku menu telah tersedia di setiap meja sehingga customer bisa langsung memilih menu. Tak lama seorang waitress menghampiri untuk menanyakan menu yang akan kami pesan. Bingung menentukan menu, saya pun menerima rekomendasi teman tercinta yang tentunya sudah pernah makan di sini.

Uniknya Ikkudo Ichi, selain beberapa macam kuah ramen yang tersedia, kita bisa meng-customize lagi menunya sesuai selera:
- Noodle Firmness: Soft, Normal, Hard
- Flavour Strength: Weak, Normal, Strong
- Richness (the amount of oil filtered from the soup): Light, Normal, Heavy
- Choices of Noodles: Small Noodle, Curvy Noodle

Tori/Buta Tantan (IDR 59k)
Chicken/pork ramen served with minced meat & homemade spicy tantan sauce
Yummy

Yummy

 

 

 
Sebenarnya ini pilihan teman saya, berhubung tidak berminat dengan menu lainnya, saya pun memilih menu yang sama, hanya berbeda pada pilihan customize yang sudah disebutkan di atas. Tertera di menu, bagi yang baru pertama kali atau untuk rasa terbaik disarankan memilih tingkat "Normal" pada ketiga aspek tersebut, tetapi karena saat itu selera makan sedang tidak terlalu baik maka saya memilih tingkat Soft-Weak-Light dengan small noodles.

Semangkuk ramen berisi sebutir telur yang dibelah dua, dua buah pork slices, dan masih ada potongan daging babi berbentuk dadu kecil. Potongan daging yang kecil tidak ada masalah buat saya, tetapi pork slices-nya agak banyak lemak sehingga saya kurang suka. Ramennya empuk dan tidak kenyal sesuai pilihan dan ekspektasi saya, tetapi kuahnya terasa terlalu asin di lidah saya saat itu. Entah apakah ini karena saya yang sedang tidak sehat atau memang keasinan, tetapi teman saya mengatakan ramen pesanannya pas tidak terlalu asin. Okay, mungkin memang lidah saya yang sedang error.

Pork Bun (IDR 15k)
Homemade bun with pork belly on Ikkudo's special sauce (1 bun per serving)

 
Bun-nya empuk dan moist, pork belly garing di bagian luar. Disajikan dengan selembar daun selada dan saus putih seperti mayonnaise yang sudah diolah khusus ala ikkudo. Satu porsinya tidak terlalu besar, tetapi cukup mengenyangkan sebagai appetizer.

Cold Ocha

 
Minuman standar namun tetap merupakan pilihan terbaik di resto Jepang. Meskipun sedang kurang sehat, tetap saja saya memilih cold ocha karena memang tidak suka teh hangat. Ocha-nya berwarna kuning kehijauan, tidak pekat, dan tidak pahit.

Pelayanan di sini menurut saya standar. Waiter/waitress tergolong cekatan meng-handle customer yang terus berdatangan, dan makanan standar seperti ramen (yang tidak perlu dimasak dari awal/scratch) terhidang cukup cepat meskipun outlet sedang ramai. Dari segi harga masih sesuai dengan besar porsi yang kita dapatkan, serta yang penting rasanya enak.

Saya percaya ramen Ikkudo Ichi sebenarnya lebih enak dari yang saya rasakan ketika itu. Memang salah saya yang sedang dalam keadaan kurang sehat, sehingga indera pengecap pun pastinya tidak sebaik biasanya. Pastinya saya ingin kembali lagi untuk mencicipi kelezatan sebenarnya ramen Ikkudo Ichi.
 
Recommended Dish(es):  Cold Ocha,Buta Tantan
 
Table Wait Time: 10 minute(s)


Spending per head: Approximately Rp75000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Green Tea Cake from Delika OK Oct 16, 2014   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Roti & Kue

Lelah berjalan-jalan keliling Central Park sambil menunggu mulainya sebuah acara, saya memutuskan mampir ke Delika setelah melihat jajaran kuenya yang tampak menggiurkan di di display. Setelah mengamati kue-kuenya sambil bertanya ke waitress, akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada kue green tea.

Waitress mempersilakan saya masuk dan duduk sambil menunggu kue pilihan saya dihidangkan. Awalnya saya memilih duduk di kursi makan biasa, kemudian saya bertanya ke salah satu waitress apakah ada stop kontak untuk men-charge handphone. Waitress itu mengatakan hanya ada di dalam area service di dekat meja bar, tetapi ia mempersilakan saya memakainya jika mau. Akhirnya saya pun pindah duduk di depan meja bar sehingga bisa makan sambil menunggui HP yang sedang di-charge.
HKC Entrance look

HKC Entrance look

 
Sambil menikmati kue saya mengamati suasana sekitar. Delika terletak di area yang sama dengan Hongkong Cafe (HKC), tepatnya di bagian depan HKC. Saat saya datang resto sedang tidak ramai, khususnya di area Delika sendiri memang sangat sepi karena kebanyakan pengunjung memilih duduk di dalam HKC. 
Mirror mirror on the wall

Mirror mirror on the wall

 
Nice details

Nice details

 
Pencahayaan di ruangan memang dibuat temaram di seluruh bagian resto, tetapi Delika sedikit lebih terang karena di bagian terluar yang masih mendapat cahaya tambahan dari lampu mall di luar area resto. Kursi tinggi di area bar tempat saya duduk sedikit memberi keleluasaan untuk mengamati beberapa detail cantik yang terdapat di area ini.
Menu

Menu

 
Untuk menunya, Deilka memang mengkhususkan pada bakery dan dessert seperti ice cream, crepes, dan cake. Berikut adalah cake yang saya coba:

Green Tea Slice Cake (IDR 17k)

 

 
Cake yang terdiri dari tiga layer berwarna hijau muda, dengan lapisan cream tipis di antaranya. Di paling atas ditaburi bubuk green tea yang cukup tebal sehingga terasa kuat aroma green tea-nya dan sedikit pahit. Di salah satu ujungnya ditaburkan gula halus yang beraroma vanila dan terlihat seperti salju di atas hamparan rumput hijau. Cake-nya sendiri empuk, bertekstur lembut tetapi tidak spongy, dan rasanya tidak terlalu manis dengan aroma green tea yang pas. Kue ini terasa enak dan balance jika dimakan sekaligus semua komponennya dalam satu suapan. Ketika rasa manis, pahit green tea, dan seberkas asin disatukan dengan tekstur yang lembut dan creamy, maka perpaduan rasa semuanya akan terasa balance dan pastinya enak. Dari segi harga, menurut saya sangat sesuai dan tergolong tidak mahal.

Pelayanan yang saya dapatkan ketika itu sangat memuaskan. Waitress-nya ramah dan mereka membiarkan saya duduk berlama-lama -sendirian- di meja bar tanpa banyak mengganggu saya (misalnya dengan menawarkan tambahan menu atau minuman untuk dipesan). Meskipun hanya memesan satu slice kue saja, saya tetap dilayani dengan baik dan ramah. Excellent!
 
Recommended Dish(es):  Green Tea Slice Cake
 
Table Wait Time: 5 minute(s)


Spending per head: Approximately Rp20000(Other)

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0