OpenRice Index
  
missnl
This is missnl living in Cilandak. I am a graphic designer, work in Lebak Bulus. I like to hang out in Tanjung Duren, Pondok Indah, Senayan. Bali, Chinese, Itali, India are my favorite cuisines. I also love Street Foods, Kafe, Restaurant, lounge and Siomay / Batagor, Pizza & Pasta, sate lilit bali.
Member 10 First(s)
No. of Review67 Review(s)
編輯推介數目33 Editor's Choice
Recommended8 Recommended
Popularity3689 View(s)
Replies in Forum1 Comment(s)
Upload Photos1237 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant42 My Restaurant(s)
Follow58 Following
粉絲391 Follower(s)
missnl  Level 3
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 61 to 65 of 67 Reviews in Indonesia
Pie Enak di Aroma's Cafe OK Apr 09, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Bali | Restaurant | Kencan / Berpasangan | Kumpul Keluarga

Cafe ini letaknya tak jauh dari hotel tempat saya menginap di jl. Legian. Pada malam terakhir di Bali sebelum pulang keesokan harinya, kami (saya & nyokap, again!) sempatkan makan di sini, terutama untuk mencoba Provencale Pie-nya yang direkomendasikan di beberapa food review yang saya baca di internet. Cafe ini sudah beroperasi cukup lama, dan katanya memang Pie ini menu jagoannya. Di bagian depan ada toko kue sekaligus tempat memesan/bayar, dan beberapa meja. Ketika kami datang, waitress nya menawarkan bisa juga duduk di bagian belakang, kami pikir boleh juga nih, karena di belakang pasti tidak terlalu terganggu dengan keramaian Legian plus club2nya. Di bagian belakang tempatnya seperti pendopo, sekelilingnya terbuka dengan pagar tanaman, atap cukup tinggi. Lebih terasa sejuk di sini, tapi lebih gelap dan banyak nyamuk! Area ini juga lebih dekat dengan dapur yang letaknya di paling belakang. Dari tempat kami duduk masih bisa terdengar suara2 kesibukan di dapur.lol

Untuk menunya, inilah plihan kami:

 
Provencale Pie, 42,5k
Tentunya, ini menu incaran. Cukup lama menunggunya terhidang di meja kami, rupanya memang benar2 dibuat dari awal. Rasanya tidak mengecewakan. Bentuk luarnya menyerupai zuppa soup tapi pastry-nya lebih tebal. Isinya mushroom dengan cheddar cheese & herbs, dimasak menjadi seperti cream agak kental yang rasanya asin, gurih, dan enak. Sebagai pendampingnya ada semacam acar timun (tapi tidak asam, melainkan sedikit asin) dengan taburan kacang mete. Rasanya unik juga ketika dimakan berbarengan dengan pie-nya. Di menunya disebutkan pie ini mengunakan resep perancis kuno. hmm, yummy!

 
Punjabi Thali, 46,5k
Menu satunya lagi sengaja kami pilih yang benar2 beda 'genre'nya. Set menu North indian & Nepalese Specialities ini dihidangkan dengan Thali style. Satu menu isinya beberapa jenis masakan, yang kami tidak tahu namanya satu persatu. Yang jelas, sangat mengeyangkan! Soal rasa, masih bisa kami terima walaupun tak semuanya terasa enak tongue

Overall, kami cukup puas makan di sini. Harga affordable, rasa enak, pelayanan standar, meskipun tempat kurang nyaman. Menurut waiternya, cafe ini sebentar lagi akan ditutup sementara untuk renovasi habis2an, bahkan katanya akan ada hotelnya. Kita tunggu saja seperti apa nanti jadinya.
 
Recommended Dish(es):  Provencale Pie
 
Spending per head: Approximately Rp50000

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 2  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 2  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Tempat Nongkrong Serasa di Bali OK Aug 07, 2011   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Barat | Kafe | Steak & Grills | Pizza & Pasta | Kencan / Berpasangan

Revo8 Fettuccine

Revo8 Fettuccine

 
Cafe kecil -atau lebih tepatnya beerhouse- di salah satu sudut Kemang ini mengingatkan suasana di Legian or Kuta yg jalanannya tidak besar tapi ramai. Ga salah memang klo Kemang disebut Bali-nya Jakarta. Revo8 terletak di sebelah Little Baghdad yg sudah lebih famous, signbboad-nya tidak terlalu jelas, tapi dgn berpatokan pada Little Baghdad pasti ketemu sih.. Revo8 menyediakan tempat indoor dgn AC dan outdoor meskipun masing2 areanya pun tak bisa memuat banyak orang. Satu hal yg disayangkan, di dalam ruangan AC tidak dilarang untuk merokok! Sungguh menyebalkan sehingga saya & teman yg sama2 pembenci asap rokok pun memilih pindah ke outdoor (meskipun di luar lbh banyak yg merokok tp at least open air).

Mengenai makanannya.. kami hanya mencoba 1 makanan yaitu Beef Fettuccine yg katanya merupakan favorite dish di Revo8. Area cafe yg kecil membuat aroma masakan saat dimasak di dapur bisa leluasa tercium, enak, aroma bawang putihnya bikin makin lapar smile Proses masaknya agak lama juga, padahal saat itu hanya kami saja yg pesan makanan. Hasilnya? fettuccine-nya tergolong enak untuk masakan rumahan & harganya pun tidak overprice.

Untuk minumannya, kami memang datang ke Revo8 untuk mencoba minumannya, karena teman saya punya voucher special price dari Dealkeren yg berlaku hanya untuk minuman saja smile) Kami mencoba Blended ice chocolate & orange white chocolate. Iced chocolate-nya tidak istimewa, home made biasa & rasa coklatnya pun tidak terlalu nyata.. cenderung mengecewakan. Yang enak justru orange white chocolate-nya.. terasa lebih manis seperti white chocolate yg dicairkan & ada aroma orange (sepertinya dari orange soda) jadi tidak 'eneg'.. harganya pun justru sedikit lebih murah dari ice chocolate yg tak enak itu. Asyiknya lagi, beerhouse ini memberi special treatment berupa free 1 glass mixed beer (local beer, of course!) Berhubung teman saya tidak minum alkohol, maka hanya 1 gelas saja yg diberikan.. not bad, beer dgn campuran rasa lemon. FYI, Revo8 menyediakan cukup banyak jenis beer lokal maupun import & harganya pun sesuai. Bagi pecinta beer pasti suka kesini.
 
Recommended Dish(es):  Fettuccine, orange white chocolate
 
Date of Visit: Jul 21, 2011 

Spending per head: Approximately Rp50000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 2  |  
Pelayanan
 2  |  
Higienis
 2  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Perancis | Restaurant | Halal | Kencan / Berpasangan | Kumpul Keluarga

Sudah lama saya mengetahui keberadaan BokaBuka French Restaurant karena lokasinya dekat rumah, tetapi belum sekali pun mampir. Mengapa? Karena saya agak terintimidasi dengan embel-embel "French Restaurant" yang identik dengan escargot, and I won't eat snail, ever!

 

 
BokaBuka berlokasi di daerah Cipete, Jakarta Selatan, tepatnya di jalan Cipete Raya yang menghubungkan antara jalan Fatmawati dengan jalan Pangeran Antasari. Dahulu jalan ini belum seramai sekarang dan jarang ada restoran, berbeda sekali dengan sekarang dimana restoran berderet-deret di kiri-kanan sepanjang jalan, dari yang berupa kedai kecil hingga restoran franchise internasional pun ada. BokaBuka sendiri awalnya hanya menempati satu kapling kecil dengan dua lantai yang menyerupai bangunan ruko. Saya memang belum pernah masuk ke dalamnya, tapi jika saya lewat di malam hari terlihat dari luar resto ini suasananya nyaman dan berkesan romantis. Kini BokaBuka sudah pindah menempati lokasi baru yang hanya di seberang tempat lamanya. Areanya tentu lebih luas dan berbentuk rumah bukan bangunan ruko lagi. Memasuki resto, terasa seperti di sebuah rumah lama bergaya klasik dengan meja dan kursi makan terbuat dari kayu berwarna gelap serta beberapa pernik etnik menghiasi ruangan. Masih terlihat jelas pembagian ruangan-ruangan asalnya seperti ruang tamu, ruang keluarga, kamar, bahkan kamar mandinya masih tetap dibiarkan seperti semula yaitu satu kamar mandi luas hanya ada satu kloset duduk, lengkap dengan shower cubicle. Terbayang kalau resto ini sedang ramai bisa-bisa antrian toiletnya panjang nih. Ketika berjalan menuju toilet, ada yang menarik di dinding sebelah kiri lorong yaitu dua jendela kaca besar yang telah dimodifikasi menjadi rak kaca besar penuh berisi botol-botol minuman keras terpajang rapi. Entah botol-botol itu hanya sekedar pajangan saja atau benar-benar penyimpanan botol minuman keras yang masih dijual. Sudut itu menjadi makin menarik karena kedua rak dipisahkan dinding bercat merah darah dengan lukisan hitam putih, ditambah efek pencahayaan dari taman yang masuk melalui kaca menjadikan botol-botol minuman terlihat "glowing". Cantik!

 
Saya suka taman belakangnya yang mengingatkan suasana di Bali dengan kolam dan banyak tanaman. Jika datang di siang hari sepertinya akan terasa adem duduk-duduk santai di tengah halaman asri dan suara gemericik air, tapi kalau sudah gelap begini sih adanya diserbu nyamuk. Antara ruangan dalam dengan taman dihubungkan oleh pintu kaca, dan tepat kita membuka pintu ada 2 patung bebek dengan ekspresi dan pose yang lucu, diletakkan di bagian bawah kiri dan kanan.. sayangnya tidak bisa saya foto karena terlalu gelap. Ada satu lagi ornamen yang menarik perhatian saya, yaitu papan catur yang ditempatkan di tengah-tengah ruangan dalam. Papan caturnya terbuat dari kayu berbingkai ukiran ornamen klasik, dan bidaknya unik berbentuk tokoh wayang Jawa. Unik juga sebuah resto Perancis didekor dengan sentuhan interior Indonesia.

Kami para "tukang makan" yang diundang ditempatkan di private room tak berpintu yang saya duga tadinya adalah kamar tidur karena letaknya agak di belakang. Ruangannya cukup ideal untuk 10-12 orang, dan bersebelahan langsung dengan area bar/service tempat makanan keluar. Sambil menunggu OpenRicers yang belum sampai, kami disuguhkan ice tea. Tidak ada masalah dengan minumannya, hanya waitress yang menyajikannya sama sekali tidak ada basa-basi ramah, hanya datang, meletakkan minuman-minuman di meja (sekalipun mejanya belum ditempati) kemudian berlalu begitu saja. Kesan pertama yang kurang baik. Sepanjang kami menunggu pun tidak ada pihak resto yang menemui kami untuk sekedar berbincang atau menyapa, padahal resto sedang sepi tidak ada satu pun tamu lain.

Ketika akhirnya acara dimulai dengan dikeluarkannya menu pertama, yang menjelaskan tentang makanan sekaligus menceritakan sedikit latar belakang BokaBuka adalah asisten chef-nya. Resto ini dibuka pada tahun 2002 oleh ownernya yang berkebangsaan Perancis dan istrinya orang Indonesia (tidak mengherankan jika interiornya bergaya Indonesia). Mereka mempunyai teman seorang chef asal Perancis bernama Chantal, yang kemudian dipercaya sebagai head chef BokaBuka. Tahun ini BokaBuka juga membuka cabang di tempat yang sedang 'hitz' di Jakarta Selatan yaitu Street Gallery Pondok Indah Mall. Untuk arti nama BokaBuka diambil dari bahasa Spanyol yaitu boca yang berarti mulut. Arti ini juga diimplementasikan ke logo BokaBuka berupa empat kotak bergambar mulut, bibir, sendok dan garpu.

Drink
Ice Tea (IDR 17k)
Es teh dengan gula cair yang terpisah sehingga kita bebas menentukan kadar manisnya.

Foods

 
BokaBuka Salad (IDR 55k)
Merupakan salah satu signature dish yang sudah ada sejak awal resto ini buka hingga sekarang. Porsinya tidak terlalu besar, satu porsi maksimal hanya untuk di-share berdua. Saladnya berisi lettuce, brokoli, kentang, apel, anggur red globe, potongan smoked beef, dan daun bawang dirajang halus. Dressingnya terbuat dari white vinegar, madu, dan mustard yang dicampur oregano, garam, dan black pepper. Salad berempah ini agak aneh rasanya bagi saya, tidak match antara campuran buah yang manis dengan aroma rempah. Jika salad sayuran saja dicampur rempah masih enak, atau salad sayuran dicampur buah saya suka, tapi kalau dicampur semuanya seperti ini rasanya justru "bertabrakan". Satu hal lagi, mungkin kalau potongan smoked beef-nya digoreng sampai agak kering akan lebih enak dan ada kombinasi tekstur pada salad ini.

 
Cream of Pumpkin Soup (IDR 30k)
Terbuat dari labu parang dan labu kabocha yang dicampur dengan puree kentang sebagai pengikat agar supnya tidak terlalu encer/cair. Bumbunya sendiri sederhana saja hanya dengan bayleaves dan lada-garam. Penyajiannya sangat sederhana tanpa garnish apa pun, hanya dituangi sedikit cream di tengah sup. Rasa labunya cukup kuat, sedikit creamy setelah cream di tengah itu dicampur merata dengan supnya. Overall sup ini biasa saja, 'flat' dan tidak istimewa.

 
Chicken with Onion Butter (IDR 80k)
Fillet dada ayam dimarinasi dengan kikkoman sauce lalu di-pan fried, disajikan dengan onion butter bersama side dish potato gratin dan sayuran rebus. Fillet ayamnya enak, terasa asin, gurih, dan cukup meresap marinasinya.. tapi sayang sekali ada bagian yang belum matang. Sayalah yang kurang beruntung mendapatkan bagian daging yang masih berwarna pink itu, dan cukup banyak jumlahnya kira-kira sepertiga dari potongan fillet yang saya ambil. Saya pun bertanya ke teman di kiri-kanan untuk memastikan daging itu benar tidak matang, bukan hanya saya yang salah lihat dan semuanya sependapat kalau itu memang tidak matang. Onion butter cukup baik karena caramelized onion-nya tidak sampai gosong, hanya mungkin butter yang digunakan terlalu banyak sehingga banyak minyak di dasar piring. Sayuran berupa buncis dan wortel rebus tergolong overcooked karena warnanya sudah agak pucat dan wortelnya patah ketika ditusuk garpu. Satu-satunya komponen yang paling enak di piring ini justru potato gratin. Potongan kentangnya cukup tipis merata sehingga semuanya matang, juga cream diantara layer-layer kentang itu terasa pas baik dari rasa dan jumlahnya.

 
Beef Fillet with Mushroom Sauce (IDR 98k)
Grilled tenderloin (160 gr) yang dimarinasi dengan lada garam, disajikan dengan mushroom sauce dan side dish potato gratin dan sayuran rebus. Ketika kami menanyakan jenis daging yang dipakai, sang asisten chef menjawab ini adalah australian beef, tetapi kami semua meragukannya. Daging yang kami makan cukup alot, tidak juicy sama sekali untuk daging yang katanya dimasak pada tingkat kematangan medium-well. Bahkan beberapa teman yang gemar makan daging berpendapat bahwa ini seperti daging rendang biasa, bukan daging untuk steak. Mushroom sauce yang memakai white wine terasa cukup creamy, tetapi malah tidak bercita rasa jamur, hanya terdapat beberapa potongan tipis jamur saja. Sayuran rebus masih sama overcooked seperti di menu ayam sebelumnya, dan potato gratin tetap jadi juara. Mungkin sebaiknya potato gratin ini dibuat jadi satu menu tersendiri saja, karena rasanya memang enak dan pas, jauh lebih baik dari makanan utamanya.

Dessert

 
Dame Bruxelles (IDR 40k)
Arti namanya adalah "Lady Brussel", merupakan menu dessert spesial di sini. Terdiri dari Belgian waffle dengan satu scoop es krim vanilla, siraman saus coklat, dan taburan icing sugar. Wafflenya enak karena tidak terlalu tebal, empuk, dan agak sedikit crispy di bagian luarnya. Waffle yang masih hangat cocok dimakan dengan ice cream yang dingin, berpadu dengan manisnya saus coklat. Meskipun hampir semua komponennya manis, masih ada rasa asin gurih dari waffle sehingga keseluruhan rasanya balance. Dari semua menu yang di cicipi hari ini, dessert merupakan penutup terbaik tanpa cela diantara semua menu.

Selain pelayanan yang kurang ramah, kami semua cukup heran dengan lamanya makanan keluar dari dapur padahal resto sedang sepi, ragam menu yang disediakan juga tidak banyak (2 appetizer, 2 main course, dan 1 dessert, masing-masing hanya 1 atau 2 porsi saja), dan kedatangan kami tentunya sudah dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika resto ini memang well prepared dan cara kerja dapurnya profesional, rasanya tidak perlu waktu sekian lama untuk memasak semua hidangan. Di akhir acara, tidak ada penutupan dari pihak resto sama sekali. Sang asisten chef tidak keluar lagi menemui kami untuk menanyakan kesan atau masukan mengenai makanannya, padahal resto tetap sedang sepi seperti ketika kami datang tadi. Saya yang semula ingin komplain mengenai daging ayam tidak matang tadi pun jadi mengurungkan niat. Bahkan untuk komplain ke waitress yang membereskan piring makan saya pun sudah malas karena sikap tidak ramah mereka.

Ternyata, baik-buruknya kualitas makanan dan pelayanan suatu resto tidak bisa diukur dari lamanya masa operasional mereka. Dan, maaf, rupanya BokaBuka merupakan salah satu contoh yang kurang baik buat saya.
 
Recommended Dish(es):  Dame Bruxelles (waffle)
 
Date of Visit: Jul 03, 2013 

Spending per head: Approximately Rp150000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 2  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 2  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 2

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Food Court | Live Music | Hang Out

Kemang, sebagai salah satu pusat keramaian yang sudah ternama sejak lama, menjadi tujuan favorit kaum urban di bilangan Jakarta Selatan untuk kongkow sepulang kerja. Keadaan ini mendorong semakin menjamurnya tempat makan di seluruh area Kemang, mulai dari restoran berjaringan internasional, cafe, food court, hingga warung.
Welcome!

Welcome!

 
Salah satu tempat makan di Kemang yang tergolong baru adalah Kampung Kemang. Menempati lokasi sangat strategis di Jalan Kemang Raya, Kampung Kemang menawarkan konsep food court yang cukup unik yaitu membidik komunitas sebagai target marketnya. Saat ini begitu banyak komunitas di Jakarta namun sering kesulitan mendapat tempat gathering yang nyaman dengan harga terjangkau. Kampung Kemang didirikan untuk menjawab kebutuhan ini dengan area yang luas (kapasitas sekitar 300 orang), lahan parkir yang memadai (dapat menampung hingga 70 mobil), dan makanan enak dengan harga terjangkau. Hebatnya lagi, tidak ada charge khusus untuk menyewa tempat ini, cukup dengan membeli makanan dan minumannya saja tanpa membawa makanan dan minuman dari luar.
Spacey!

Spacey!

 
Bangunannya terletak agak jauh di dalam, tergolong sederhana, tidak bertingkat, dan berlatarkan gedung pencakar langit di kejauhan. Interior di sini ketika saya perhatikan seperti sebuah rumah yang dimodifikasi menjadi lebih terbuka. Area yang luas seakan terbagi menjadi beberapa bagian dengan meja dan kursi makan yang berbeda. Di bagian depan terdapat meja dan bangku kayu panjang tanpa sandaran seperti di warung, di bagian tengah ada meja-meja lebih kecil dengan kursi anyaman rotan seperti umumnya di cafe, sedangkan di bagian belakang adalah area terbuka tanpa atap dengan meja kursi besi. Saat malam hari dan tidak hujan begini area belakang terlihat cantik dan bernuansa romantis dengan hiasan lampu bohlam gantung. Di satu sudut ada sebuah kursi ayunan yang tampak nyaman untuk duduk-duduk sambil menikmati minuman dan snack bersama pasangan, a romantic corner! Area yang luas dan terbuka seperti ini tentunya tidak memakai AC, dan memang tidak perlu karena hembusan angin sebagai "AC alami" sudah cukup membuat nyaman.
A romantic corner

A romantic corner

 

 
Kampung Kemang sendiri hanya menjual minuman saja, dari yang simple seperti kopi, teh, juice hingga minuman beralkohol tetapi tetap dengan harga terjangkau. Untuk segelas cocktail disini kisaran harganya hanya Rp 40.000,- ke bawah (di wilayah elit sekelas Kemang, harga itu murah banget lho!), dan pada periode tertentu ada pula promo buy 2 get 1 free untuk minuman alkohol botolan.
Food tenants to choose

Food tenants to choose

 
Untuk makanannya, seperti umumnya food court, terdapat beberapa tenant di Kampung Kemang. Saat ini terdapat 3 tenant makanan yang mengisi yaitu Martabak D'Marco, Nasi Goreng Laka-Laka, dan Mie Ayam Koga. Menurut Andreas sang owner, Kampung Kemang memang bertujuan memberikan kesempatan kepada kalangan UKM untuk membuka usaha, maka sengaja tidak menghadirkan tenant makanan ternama. Saya lihat masih ada satu space kosong tersedia, barangkali ada yang berminat mengisinya? tongue

Customer yang makan (hampir) pasti membutuhkan minum, dan bisa pula customer yang awalnya hanya ingin minum-minum sambil duduk santai jadi tertarik memesan cemilan hingga makanan berat. Seperti yang sudah saya sebutkan tadi, minuman hanya dijual oleh pihak Kampung Kemang saja, sedangkan tenant hanya menjual makanan tanpa minuman. Jadi, hampir bisa dipastikan setiap customer akan memesan dari Kampung Kemang dan para tenant makanan. Sebuah kerja sama yang saling menguntungkan, bukan?
The Bar

The Bar

 
Area tempat menyajikan minuman terletak di bagian tengah bangunan, berbentuk bar dengan beberapa kursi bar di salah satu sisinya. Berbagai jenis minuman tersedia, baik yang dibuat disini maupun minuman kemasan (botolan). Pada kesempatan ini saya mencoba dua minuman andalan Kampung Kemang.

Ice Chocolate (IDR 17k)

 
Jangan terlalu mengharapkan susu coklat manis nan gurih disini, karena ice chocolate Kampung Kemang benar-benar terasa coklat dengan seberkas rasa pahit dari dark chocolate dan tidak terlalu manis. Penggemar coklat seperti saya justru suka versi ini karena tidak membuat eneg meskipun menghabiskan segelas besar sendirian. Jika sedang tidak ingin minuman dingin, tersedia hot chocolate sebagai alternatif.

Flavour Ice Tea - Peach (IDR 15k)

 
Bosan dengan es teh manis standar? Flavour ice tea bisa menjadi pilihan. Saya mencoba varian peach, es teh dengan sirup peach dan potongan buah peach kalengan. Meskipun bagi saya agak terlalu manis di awalnya, tetapi saya suka karena potongan buah peach-nya cukup royal. Kalau di tempat lain sering saya temukan buah peach dipotong dadu kecil-kecil dan hanya sedikit, versi Kampung Kemang memberikan tiga potong besar buah peach, mantap! Apalagi setelah esnya mencair hingga menetralisir rasa manis yang berlebihan menjadi pas di lidah saya. Tidak mengherankan jika minuman menyegarkan ini menjadi salah satu best seller.
Local Band

Local Band

 
Setelah kenyang makan dan minum, kita masih bisa berlama-lama menikmati penampilan live music dari sebuah band lokal yang tampaknya sudah biasa mengisi acara di sini. Band yang tampil malam itu cukup interaktif dan komunikatif dalam menghibur pengunjung, membuat customer betah dan tidak ingin cepat-cepat beranjak pergi meskipun sudah selesai makan minum. Duduk-duduk santai sekedar menikmati suasana malam atau nonton pertandingan bola selama musim piala dunia bisa menjadi pilihan Anda untuk menutup hari di Kampung Kemang.
Supplementary Information:
Just relax and enjoy your time here!
 
Recommended Dish(es):  ice chocolate,flavour ice tea,Ice Chocolate,Flavour Ice Tea-Peach
 
Date of Visit: Jun 27, 2014 

Dining Offers: Tasting Event


Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

So Special, Nas-Gor Laka-Laka! OK Jul 06, 2014   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Food Court | Hang Out

 
Nasi Goreng Laka-Laka merupakan salah satu tenant yang terdapat di Kampung Kemang, Jakarta Selatan.

Tenant yang satu ini khusus menjual menu nasi goreng saja, tepat sesuai "nama dagang" yang terpampang di depan outlet. Tersedia berbagai pilihan nasi goreng disini, dengan menu jagoan diantaranya Nas-Gor Kambing atau Nas-Gor Pete Kambing. Range harga berkisar antara 25k-35k yang tergolong wajar untuk seporsi nasi goreng di restoran. Menurut promosi yang disampaikan oleh Ika Hendrani mewakili Bayu, owner Nasi Goreng Laka-Laka yang ketika itu berhalangan hadir, bumbu nasi gorengnya so special dan berbeda dari nasi goreng dimana pun. Wah, pas banget saya adalah penggemar nasi goreng, jadi tak sabar ingin mencoba.

Nas-Gor Ayam (IDR 25k)

 
Memang betul sesuai promosi, nas-gor disini bumbunya beda! Racikan bumbu spesial yang belum pernah saya temukan di tempat lain, terasa lebih rich and spicy, sedikit pedas tetapi tergolong tidak seberapa bagi yang suka pedas. Disajikan di piring beralas daun pisang dengan potongan ketimun, tomat, acar, kerupuk udang, serta taburan bawang goreng. Nasi goreng paling nikmat dimakan ketika masih hangat selesai dimasak, sayang sekali ketika saya mencoba nasgor sudah dingin sehingga berkurang kenikmatannya. Untuk saya pribadi, nasinya sendiri terlalu keras (pera) dan akan lebih baik jika lebih lunak sedikit saja.
 
Recommended Dish(es):  Nas-Gor Ayam
 
Date of Visit: Jun 27, 2014 

Dining Offers: Tasting Event


Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0