OpenRice Index
  
missnl
This is missnl living in Cilandak. I am a graphic designer, work in Lebak Bulus. I like to hang out in Tanjung Duren, Pondok Indah, Senayan. Bali, Chinese, Itali, India are my favorite cuisines. I also love Street Foods, Kafe, Restaurant, lounge and Siomay / Batagor, Pizza & Pasta, sate lilit bali.
Member 10 First(s)
No. of Review67 Review(s)
編輯推介數目33 Editor's Choice
Recommended8 Recommended
Popularity3689 View(s)
Replies in Forum1 Comment(s)
Upload Photos1237 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant42 My Restaurant(s)
Follow58 Following
粉絲391 Follower(s)
missnl  Level 3
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 66 to 67 of 67 Reviews in Indonesia
Martabak Naik Kelas ala D'Marco Smile Jun 30, 2014   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Food Court | Martabak | Hang Out

Jumat sore selepas jam kantor, ini saatnya melepas kepenatan yang menumpuk selama lima hari. Sudah menjadi semacam habit bagi warga Jakarta untuk hangout di Jumat sore hingga malam, sekedar makan malam sambil ngobrol santai bersama pasangan, teman, atau kolega.
Kali ini saya berkesempatan menyambangi Kampung Kemang, sebuah food court baru yang berlokasi sangat strategis di Jalan Kemang Raya, tepatnya di seberang Plaza Adorama. Kampung Kemang memiliki area yang luas, tempat parkir yang memadai, dan makanan enak dengan harga terjangkau sehingga cocok untuk sekedar kumpul bersama teman hingga mengadakan acara semisal gathering, launching produk, atau mini party.

Seperti umumnya food court, terdapat beberapa stand di Kampung Kemang, salah satunya adalah Martabak D'Marco

 
Welcome!

Welcome!

 
Ika Hendrani, the owner

Ika Hendrani, the owner

 
Sesuai namanya yang merupakan singkatan dari MARtabak dan COffee, D'Marco mengusung martabak sebagai bintang utamanya. D'Marco didirikan pada tanggal 10 Mei 2012 oleh tiga orang yaitu Ika Hendrani, Ira Lathief, dan Budiyono dengan outlet pertama berkonsep mini cafe di Sabang. Beliau bertiga mempunyai visi misi untuk menaikkan derajat martabak manis dari makanan kelas kaki lima yang biasa dijual di pinggir jalan menjadi makanan yang layak disajikan di cafe atau resto. Lebih jauh lagi, ke depannya mereka ingin menjadikan martabak manis sebagai kuliner khas asal Indonesia yang mendunia seperti halnya pizza dari Italia. Setelah mini cafe di Sabang mendapat sambutan baik, D'Marco membuka cabang kedua di daerah Tebet pada 20 November 2013 dengan konsep food court, dilanjutkan cabang ketiga di Kampung Kemang pada 1 Mei 2014 yang juga berkonsep food court.
Bagaimana dengan makanannya? Berbagai varian martabak disediakan di sini, mulai dari varian klasik martabak manis yang jadi menu standar di martabak kaki lima hingga menu modifikasi hasil kreasi ownernya. Penasaran? Mari kita coba…
The Kitchen

The Kitchen

 
Martabak Burger (IDR 30k)

 

 
Salah satu hasil kreasi terbaru dari sang owner yang menjadi menu favorit. Meskipun base-nya berbahan martabak manis, ternyata cocok saja dipadukan dengan topping asin dan savory seperti burger ini. Base martabaknya dibuat tidak terlalu tebal dan tidak ditaburi gula seperti martabak manis di luaran. Di atasnya diletakkan selada, keju, irisan tomat, dan patty burger di paling atas, kemudian digarnish dengan saus sambal dan mayones. Ketika dimakan sekaligus rasanya enak dengan perpaduan rasa dan tekstur dari semua komponennya. Ada rasa asin, sedikit pedas manis, dan gurih semua terasa balance di mulut. Base martabaknya sendiri enak, tidak hambar, ketebalannya pas sehingga tetap empuk, dan yang terpenting untuk saya adalah tidak terlalu berminyak. Tidak percuma jika sang owner sampai belajar langsung dari tukang martabak berpengalaman, sehingga bisa menghasilkan base martabak manis seenak ini. Besar porsinya tergolong mengenyangkan untuk satu orang seperti saya, kecuali jika kapasitas perutnya besar mungkin harus tambah seporsi lagi *wink*.

Martabak Nutella
(IDR 25k)

 

 
Penggemar coklat terutama Nutella pasti suka menu simple nan menggugah selera ini. Martabak manis dioles Nutella spread yang cukup "royal" sebagai pengganti coklat meises pada martabak manis standar, se-simple itu… tapi rasanya jangan ditanya! Saya pribadi suka karena meskipun olesan Nutella cukup tebal tetapi adonan martabaknya tidak manis (justru ada sedikit rasa asin) sehingga secara keseluruhan manisnya tidak berlebihan. Bagi yang ingin variasi rasa lebih, tersedia martabak Nutella dengan pisang, kacang, strawberry, atau Oreo crumbs. Daripada sibuk membayangkan rasanya dari penjelasan saya ini, lebih baik langsung dicoba saja, deh…

Martabak Ice Cheese Oreo

 

 
Ini dia menu baru kebanggaan sang owner, Ika Hendrani, yang pastinya masuk dalam daftar best seller di D'Marco. Martabak manis ditaburi parutan keju dan Oreo crumbs, kemudian diberi satu scoop es krim di atasnya. Tak ketinggalan sebuah biskuit Oreo utuh ditancapkan di puncak es krim sebagai pelengkap garnish. Disarankan untuk menyantapnya segera setelah dihidangkan agar es krim tidak semakin mencair. Ketika dimakan sekaligus semua komponennya, terdapat perpaduan rasa dan tekstur yang begitu kompleks namun balance. Ada rasa asin, manis, creamy, tekstur halus lembut dari es krim dan Oreo crumbs yang agak kasar, serta base martabak yang masih hangat dengan dinginnya es krim… lengkap! Meskipun kelihatannya mudah hanya menggabungkan beberapa topping saja, namun saya yakin resep ini sudah melalui trial & error sebelumnya sehingga menghasilkan komposisi tepat untuk rasa yang pas dan nikmat.
Jika boleh memberi sumbang saran, mungkin akan menarik jika ada menu "create your own martabak" dimana konsumen bisa memesan martabak dengan perpaduan topping yang dikreasikan sendiri. Realisasinya yaitu dengan menjual additional topping secara terpisah, jadi konsumen dapat memesan tambahan topping sesuai kemauannya. Menurut saya, konsumen akan lebih tertarik atau terpancing kreativitasnya membuat menu martabak baru yang belum pernah ada sebelumnya, sesuai selera pribadi masing-masing. Cara ini sekaligus bisa menjadi masukan atau tambahan ide untuk menghasilkan kreasi menu baru yang selanjutnya bisa menjadi menu tetap di D'Marco. Ide dari banyak orang terkadang lebih baik daripada satu atau beberapa orang saja, bukan?
Menu D'Marco

Menu D'Marco

 
Selain beraneka menu martabak, tersedia pula beberapa pilihan menu nasi dan ayam, serta appetizer berupa dimsum, chicken wings, dan french fries. Pilihan menu yang cukup bervariasi menjadikan Martabak D'Marco dapat menjangkau berbagai kalangan dan usia karena konsumen tidak akan cepat bosan datang kesini lagi dan lagi.

Dari segi pelayanan tergolong baik dan makanan disajikan tidak terlalu lama, tapi saya rasa jika akan order dalam jumlah banyak lebih baik memesan sebelumnya. Bisa dimaklumi dari area dapurnya yang terbatas memang tidak memungkinkan membuat martabak dalam jumlah banyak dengan waktu cepat, apalagi jika sedang ramai pesanan.

 
Martabak D'Marco juga membuka peluang untuk kemitraan bersistem waralaba dengan paket investasi menarik. Informasi lengkap bisa dilihat di website www.dmarcocafe.com

Sukses terus Martabak D'Marco, mari kita sama-sama menjadikan martabak manis sebagai kuliner khas Indonesia yang bisa dikenal dunia!
Supplementary Information:
Jika akan datang dalam rombongan besar atau mau order dalam jumlah banyak sebaiknya pesan dahulu agar tidak menunggu lama nantinya.
 
Recommended Dish(es):  Martabak Ice Cheese Oreo,Martabak Nutella,Martabak Burger
 
Date of Visit: Jun 27, 2014 

Dining Offers: Tasting Event


Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 2  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Barat | Restaurant | Steak & Grills | Halal | Kencan / Berpasangan | Kumpul Keluarga

Awal Februari ini saya mendapat undangan untuk menghadiri food tasting yang diadakan oleh Outback Steakhouse cabang Kuningan City. Acara yang bertajuk Steakopedia ini ternyata bukan sekedar food tasting biasa, karena selain untuk lebih mengenal menu-menu Outback Steakhouse, kami juga mendapatkan pengetahuan tentang steak yang cukup lengkap.
Hello!

Hello!

 
Outlet Outback Steakhouse di Kuningan City cukup luas dan menempati area strategis yang tidak jauh dari pintu masuk. Kesan hangat dan nyaman terpancar dari interior resto yang didominasi unsur kayu pada lantai dan meja-kursi makannya, berpadu dengan lampu-lampu gantung dan lukisan yang berkesan modern dan catchy. Ornamen dengan style Aborigin tampak menghiasi beberapa bagian di restoran asal Amerika bergaya Australia ini.

Acara dibuka dengan perkenalan singkat dari pihak Outback Steakhouse, kemudian tanpa berlama-lama dimulailah "Steak Lesson" yang dibawakan langsung oleh Mr. Dilip Khrisnan, head of marketing Outback Steakhouse for Southeast Asia. Mr. Dilip menjelaskan dengan lengkap segala sesuatu tentang steak, mulai dari jenis-jenis daging sapi, cutting, dan cara memasaknya hingga siap terhidang untuk konsumen. Beberapa tips memilih steak yang enak dan berkualitas juga beliau bagikan, tentunya ini sangat bermanfaat untuk saya yang tergolong tidak berpengalaman soal steak.
Steakopedia presentation

Steakopedia presentation

 
Satu catatan yang ingin saya bagikan disini adalah mengenai tingkat kematangan daging (steak doneness) yang penting diketahui dalam memilih steak:
- Raw (mentah): Memang jarang menu yang disajikan raw, contohnya Carpaccio dan Steak Tartare
- Blue Rare: Daging dimasak secara cepat sehingga hanya bagian luarnya saja yang berubah warna, sedangkan bagian dalam masih merah seluruhnya karena tidak terkena panas. Daging yang dimasak pada tingkat kematangan ini sering disebut dengan istilah populer blood rare atau bloody as hell.
- Rare: Warna bagian luarnya sudah abu-abu kecoklatan, sedangkan bagian dalamnya 75% masih berwarna merah.
Medium Rare: Sedikit lebih matang dari rare dengan bagian dalamnya 50% masih berwarna merah.
- Medium: Sudah lebih matang dengan menyisakan bagian dalamnya 25% masih berwarna pink
- Medium Well: Daging sudah cukup matang tetapi menyisakan sedikit bagian berwarna pink kecoklatan di bagian dalam.
- Well Done: Daging sudah benar-benar matang hingga ke bagian dalamnya 100% berwarna coklat. Biasanya daging sudah tidak juicy lagi dan cenderung keras, sehingga kurang bisa dinikmati rasa dagingnya.
- Overcook: Sudah melewati tingkat well done dimana daging sudah gosong di bagian luar, terasa pahit, dan tekstur daging sudah sangat kering/keras.
Outback Steakhouse sendiri menggunakan daging sapi jenis USDA "Choice" Certified Angus Beef yang berkualitas tinggi namun masih tergolong terjangkau. Ini merupakan pilihan tepat karena kualitasnya tidak diragukan dan harga yang "bersahabat" akan bisa menjangkau lebih banyak konsumen. Daging diimpor dalam keadaan beku (frozen) dan utuh, kemudian disimpan di lemari pendingin pada suhu tertentu. Daging ini akan dibiarkan dalam pendingin selama 3-5 hari, kemudian dimasak selama 2-3 hari menjadi aged beef.
Usai penjelasannya, kami berkesempatan tour ke dapur Outback Steakhouse untuk melihat langsung proses memasak steak yang tadi sudah kami dapatkan "teori"nya. Suatu keberanian besar jika restoran memperlihatkan seluruh bagian dapurnya kepada konsumen, terbukti memang dapur Outback Steakhouse ini memiliki standar yang sangat baik. Dapurnya bersih, tidak terlalu besar, namun semuanya tertata baik dan penempatannya efisien.
Tour to Outback's kitchen!

Tour to Outback's kitchen!

 
Kami juga melihat langsung tim dapur sedang memasak hidangan makan siang yang nanti akan kami santap, dimulai dari memotong daging, dibumbui dengan 17 macam bumbu spesial, dan di-grill sesuai pesanan. Outback Steakhouse menggunakan pemanggang jenis Flat Top dengan 3 bagian temperatur yang berbeda untuk menghasilkan tingkat kematangan sesuai pesanan konsumen. 
Flat Top Grill

Flat Top Grill

 
Tak hanya kualitas daging saja yang harus prima, sayuran untuk side dish pun harus segar dan berkualitas baik. Semua sauce atau dressing yang digunakan pada menu juga dibuat fresh setiap hari sehingga kualitasnya terjaga. Sehabis dari dapur rasanya jadi makin tidak sabar untuk langsung mencicipi makan siang kami, karena tadi sudah melihat dan mencium aromanya yang wangi menggoda. Baiklah, mari makan siang!

Bottomless Iced Tea (IDR 25,9k)
Iced tea merupakan minuman "sejuta umat" yang cocok dengan berbagai hidangan. Demikian pula dengan iced tea di sini, tehnya tidak terlalu pekat ataupun encer, serta aromanya tidak terlalu kuat sehingga bisa menetralkan berbagai rasa di lidah setelah makan. Bagi yang suka minum banyak, kata "bottomless" tentunya jadi pertimbangan penting untuk memilih menu yang satu ini ya.. hehe..

Complimentary Bread
Rotinya lembut dan enak, disajikan dengan plain butter. Khusus untuk roti ini, Outback Steakhouse memesannya dari sebuah produsen roti ternama, dengan resep khusus yang hanya dimiliki oleh Outback Steakhouse saja.

 
Soup of the day:
Chicken and Mushroom Cream Soup (Cup: IDR 29,9k / Bowl: IDR 34,9k)
Saya suka cream soup yang kental dan creamy. Beberapa teman berkomentar supnya terlalu kental, tapi buat saya tidak ada masalah selama rasanya lezat dan tidak bikin eneg... dan yang satu ini enak lhoo!

 
Crispy Fried Mushrooms (IDR 69,9k)
Lightly breaded and fried mushrooms, served with spicy ranch dressing.
Yummy Mushroom!

Yummy Mushroom!

 
Fried mushroom is my favourite! Saya tidak akan melewatkan kesempatan mencicipi menu ini hampir di manapun saya menemukannya. Terlebih lagi fried mushroom dari Outback Steakhouse memang enak sekali karena tepungnya tidak terlalu tebal namun membalut sempurna dan bumbunya pas. Lebih lengkap lagi dicocol dengan spicy dressing-nya yang tidak pedas justru cenderung asin tapi jadi balance karena jamurnya sendiri tidak asin.
Spinach Artichoke Dip (IDR 89,9k)
A creamy blend of spinach, artichokes, Monterey Jack and Parmesan cheese, baked until bubbly. Served with tortilla chips.

 
Sebuah menu baru dari Outback Steakhouse yang belum tercantum di buku menu. Kami beruntung mendapat kesempatan mencobanya sebelum di-launching secara umum. Saya suka tortilla chips-nya yang renyah dan berbumbu pas, bahkan sudah enak dimakan tanpa cocolan. Spinach artichoke dip-nya sendiri buat saya pribadi tidak terlalu istimewa karena rasanya "datar" saja. Aroma dari Monterey Jack dan parmesan cheese yang saya harapkan terasa dominan pun ternyata samar-samar saja. Saya justru lebih sering mencomot tortilla chips-nya saja, lagi dan lagi...
MAIN COURSE
Grilled Salmon (IDR 129,9k)
A boneless Salmon fillet, seasoned an grilled , then served with fresh seasonal veggies and rice pilaf.
I love salmon!

I love salmon!

 
Senangnya ketika membaca ada pilihan menu non beef di daftar menu hari itu. Ketika saya tanyakan ke waitress, dikatakan bahwa pilihannya hanya satu yaitu salmon steak. Ya, dengan segera saya setujui karena salmon merupakan favorit saya, and I definitely won't eat red meat that day! Salmon steak terhidang dengan cukup menarik bersama sayuran dan pilaf rice. Awalnya (dan memang standar menunya demikian) tidak ada sauce yang menyertai, tetapi kebetulan sebelum makan saya sedikit ngobrol dengan Mba Rima, kemudian beliau menawarkan remoulade sauce sebagai pelengkap. Tentunya saya tidak menolak, karena salmon steak tanpa sauce apa-apa rasanya "sepi". Saya suka sauce yang rasanya mirip tartar sauce ini, hanya memang (lagi-lagi) agak terlalu asin. Potongan salmonnya cukup besar, di-grilled dengan sempurna pada tingkat kematangan yang pas. Dagingnya masih cukup empuk, walaupun tidak terlalu juicy tetapi tidak sampai "dry" atau keras. Tampilan luarnya juga cantik dengan garis-garis bakaran yang tidak terlalu gosong. Disajikan dengan sedikit sayuran dan potongan lemon yang menjadikan tampilan di piring saya terlihat "berwarna".
Prime Rib 8oz (IDR 249,9k)
Meticulously aged, then slow-roasted to seal in the savory beef flavor and to ensure tenderness, hand-carved to order and served with our mouth-watering au jus. Or, have it oven roasted slowly then seasoned and seared to perfection.
Outback's speciality!

Outback's speciality!

 
Prime Rib merupakan menu best seller di Outback, tapi karena sehari sebelumnya saya baru saja makan steak, dengan terpaksa saya tidak memilih menu ini. Saya hanya mencicip sepotong dari menu pilihan teman. Disajikan dengan mashed potato, sayuran, dan au jus sauce. Teman saya memesan tingkat kematangan medium well, dan beliau agak menyesal karena seharusnya akan lebih enak jika memesan yang medium. Menurut saya pribadi dagingnya masih empuk, cukup lembut, dan tentunya lezat dengan bumbu spesial Outback. Au jus-nya sendiri tidak begitu diperlukan karena rasanya agak terlalu asin (menurut saya dan juga teman saya). Mashed pototo masih sedikit chunky dan memang tidak dibuat lembut/creamy, tetapi dibumbui dengan baik sehingga enak rasanya.
Outback Special 8oz (IDR 219,9k)
Our signature sirloin is seasoned with bold spices and seared just right.

 
Saya tidak sempat mencoba menu yang satu ini, hanya melihat pesanan milik tetangga sebelah. Saya tidak berani mencoba karena tingkat kematangan yang dipesannya adalah medium rare, sedangkan limit saya untuk steak hanya sampai medium hehehe. Menurut sang tetangga, dagingnya juicy dan tingkat kematangan yang didapat pas seperti keinginannya.
Fish and Chips (IDR 89,9k)
Tender fish fillet, battered and deep fried until golden brown. Served with Aussie Fries and homemade tartar sauce.

Saya juga tidak mencoba menu ini, karena merupakan pesanan tetangga yang agak jauh tempat duduknya. Dari tampilannya sebenarnya saya cukup tergoda untuk mencoba, karena fish fillet terlihat crispy dalam balutan tepung yang digoreng pas pada tingkat golden brown. Berbeda dengan saya yang ditawarkan menu salmon sebagai pengganti steak, tetangga yang satu ini hanya ditawarkan Fish and Chips saja oleh waitress. Wah, beda waitress beda menu ya rupanya?

DESSERT
Chocolate Thunder from Down Under (IDR 69,9k) for share
Fresh-baked pecan brownie is crowned with rich vanilla ice cream, drizzled with our classic warm chocolate sauce and finished with chocolate shavings and whipped cream. A chocolate lover’s dream.
Like a thunder in my mouth!

Like a thunder in my mouth!

 
Ini dia dessert andalan Outback Steakhouse. Sebenarnya menu ini simple saja, brownies dengan es krim, tapi karena semuanya home made maka rasanya jadi spesial. Brownies coklatnya mantap dan es krimnya tidak terlalu manis, so yummy! Sang Chocolate Thunder ini pun menjadi penutup yang tak terlupakan untuk Steakology kami siang itu.
Oh ya, Outback Steakhouse juga mempunyai paket lunch special yang cocok untuk arisan atau gathering bersama teman dan keluarga. Dengan harga mulai dari Rp 159.900++ per pax, sudah bisa menikmati lunch lezat berkualitas dari Outback Steakhouse. Untuk info lengkap dan reservasi bisa langsung menghubungi ketiga cabang Outback Steakhouse di Jakarta.

Untuk foto-foto yang lebih lengkap bisa dilihat di http://andrianiwiria.blogspot.com
Supplementary Information:
Outback Steakhouse

Pondok Indah Mall (Tel. +62 21 750 6771)

Ratu Plaza (Tel. +62 21 725 2188)

Kuningan City Mall (Tel. +62 21 3048 0505)

Facebook: Outback Steakhouse Indonesia Twitter: @OutbackIN

Website: www.outback-sea.com
 
Recommended Dish(es):  Prime Rib,Chocolate Thunder from Down Under,Grilled Salmon,Crispy Fried Mushrooms,Prime Rib 8oz,Chicken and Mushroom Cream Soup,Spinach Artichoke Dip
 
Table Wait Time: 10 minute(s)


Date of Visit: Feb 01, 2014 

Spending per head: Approximately Rp120000(Lunch)

Dining Offers: Tasting Event


Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 5  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0