OpenRice Index
  
missnl
This is missnl living in Cilandak. I am a graphic designer, work in Lebak Bulus. I like to hang out in Tanjung Duren, Pondok Indah, Senayan. Bali, Chinese, Itali, India are my favorite cuisines. I also love Street Foods, Kafe, Restaurant, lounge and Siomay / Batagor, Pizza & Pasta, sate lilit bali.
Member 10 First(s)
No. of Review67 Review(s)
編輯推介數目33 Editor's Choice
Recommended8 Recommended
Popularity3683 View(s)
Replies in Forum1 Comment(s)
Upload Photos1237 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant42 My Restaurant(s)
Follow58 Following
粉絲391 Follower(s)
missnl  Level 3
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 36 to 40 of 67 Reviews in Indonesia
Serba Pertama Bersama Teritorri Smile Jul 09, 2013   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jepang | Restaurant | Sushi | Kencan / Berpasangan | Kumpul Keluarga

Sesuatu yang pertama pasti terasa istimewa, apalagi kalau "serba" pertama. Ya, ini pertama kalinya saya mencoba makanan di Teritorri bersama teman-teman. Teritorri sendiri adalah teriyaki chain pertama di Indonesia.. serba pertama, kan? Tenang, nanti masih ada lagi "pertama" yang lain. Berikut catatan seputar food tasting kali ini:

Location

 
Teritorri berada di Area 51, sebuah food junction di Pondok Indah Mall 1 yang terdiri dari 2 lantai. Lantai bawah untuk booth merchant dan lantai atas yang berformat resto/cafe. Di lantai atas inilah Teritorri berada. Area restonya terbagi 2, ada yang indoor yaitu bagian yang menyatu dengan dapur dan outdoor yang tepat di tepi jalan menuju/dari eskalator. Interior restonya (terutama yang di bagian indoor) berkesan homey seperti rumah di pedesaan Jepang dengan lantai, dinding, meja dan kursi serba kayu. Di dinding bagian belakang terdapat rak kayu berbentuk kotak-kotak rapi yang diisi benda-benda pajangan khas Jepang. Gaya interiornya memadukan sentuhan tradisional yang serba kayu dengan gaya modern yang bisa terlihat dari bentuk dan material kap lampu berbahan logam, juga adanya meja yang berkonsep seperti bar (lebih tinggi dari meja makan lainnya) di area outdoor. Meja ala bar inilah yang kami tempati siang itu.

 
Dapurnya sendiri bisa dibilang semi open kitchen, karena tertutup tapi ada jendela sehingga tamu pun bisa melihat semua kegiatan di dapur. Area dapurnya kecil saja, namun rapi dan teratur baik cara kerjanya. Terbukti, meskipun dapurnya kecil tapi makanan cukup cepat terhidang, apalagi rombongan Openricers kami jumlahnya lumayan banyak sekitar 20 orang dan jenis makanan yang dicobakan cukup beragam. Rupanya, kepiawaian "tim dapur" ini tak lepas dari arahan sang head chef yang memang sudah berpengalaman mengelola resto Jepang di dalam dan luar negeri.
Satu hal lagi yang saya perhatikan dan saya suka melihatnya, yaitu graphic design perangkat restoran seperti buku menu, place mat dan sarung sumpit. Karakteristik design Jepang-nya kuat sekali, yaitu simple minimalis dengan nuansa modern.

Drinks
Di awal acara, sejak baru datang dan menunggu semuanya berkumpul, kami mendapat refillable Hot/Cold Ocha (IDR 10k). Saya memilih cold ocha karena memang tidak suka minuman panas. Saya suka ocha-nya tidak terlalu pahit karena tidak pekat, tapi tidak kelewat encer juga. Pelayannya pun sigap menambahkan isinya ketika kita minta refill. Selain ocha, Teritorri juga menyediakan pilihan minuman beberapa jenis iced tea (range harga IDR 12-29k), fresh fruit juice (IDR 29-39k) dan minuman beralkohol termasuk sake (range harga IDR 75-155k).

The Foods
Acara food tasting sudah pasti fokusnya adalah menu yang akan dicoba. Ga sabar untuk mencicipi? Pastinya! Tapi, sebelum mulai makan ada penjelasan dahulu tentang Teritorri dan menu-menunya. Tak tanggung-tanggung, Pak Gatot Ariawan, sang head chef sekaligus co-owner Teritorri sendiri yang turun tangan. Beliau menceritakan secara garis besar seputar pengalamannya di dunia kuliner Jepang, konsep resto Teritorri, serta keunggulan hidangannya yaitu pada bahan baku yang semuanya kualitas utama. Teriyaki, bahan utamanya daging, maka digunakanlah daging terbaik yang didatangkan dalam keadaan chilled, bukan frozen. Keistimewaannya, daging selalu baru/fresh karena tidak bisa disimpan lama dan dari segi harga sudah tentu lebih mahal dari yang frozen. Daging berkualitas itu pun di-grilled dengan Lava Rock yang diimpor langsung dari Aussie. Kelebihan lava rock adalah bisa menghasilkan burnt flavour tapi daging masih tetap juicy. Unuk menu fusion sushi di sini sangat up-to-date dengan trend di USA, tetapi bahan bakunya tetap berkiblat dari Jepang sehingga dari segi rasa tidak terlalu creamy atau cheesy seperti kebanyakan menu fusion sushi di tempat lain.
Usai penjelasannya, kami diajak melihat sample 4 signature dish dari Teritorri yang sudah tersaji:

 
House Salad with Soft Shell Crab (IDR 35k)
Menu ini merupakan salad khas Jepang karena menggunakan soyu dressing, isinya selada segar, kyuri, wakame, dan tomat cherry dengan topping kepiting bercangkang lunak yang digoreng berbalut tepung tempura. Untuk toppingnya bisa dipilih antara soft shell crab, salmon skin (IDR 29k), smoked salmon (IDR 45k), atau house salad saja tanpa topping (IDR 25k). Saya suka salad ini terutama karena soyu dressingnya yang terasa segar, light, dan bercita rasa jepang banget... bahkan tanpa topping tambahan apa pun saya pasti suka salad ini.

 
Flaming Dragon Roll (IDR 75k)
Ini dia salah satu fusion sushi yang sedang trend di USA. Sushi yang satu ini menarik sekali, karena sesuai namanya, disajikan dengan di-flame di depan customer. Dragon roll terbungkus aluminium foil diletakkan di piring panjang yang dituangi sedikit minyak, kemudian waiter akan menyulut api sehingga piring berapi biru kekuningan. Jumlah minyak tentunya sudah disesuaikan kebutuhan sehingga api tipis saja dan akan mati dengan sendirinya, lalu ketika aluminium foil dibuka tampaklah dragon roll yang sudah matang sempurna, siap disantap. Bentuknya memang menarik menyerupai dragon (naga) dengan deretan sushi roll sebagai badannya dan kepala+ekor udang besar di kedua ujungnya. Presentasi yang sebenarnya simple dengan memanfaatkan sampah udang, namun jadi menarik perhatian karena sudah dipikirkan dengan baik sesuai konsep makanannya.Saya beruntung masih kebagian sepotong dragon roll ini. Potongannya besar, rasanya mantap dan kaya tekstur dari crunchy-nya ebi tempura, nasi yang pulen agak sticky, kelembutan potongan tipis alpukat, dan sedikit kenyal dari unagi on top with eel sauce. Basically saya tidak suka unagi lho.. tapi sekali ini saya tidak menyesal 'nekat' melahapnya, karena keseluruhan rasanya memang yummy.

 
Monkey Brain (IDR 35k)
Salah satu menu best seller di Teritorri. Namanya unik agak menyeramkan ya.. tapi jangan khawatir, hidangan ini sebenarnya 'aman' koq. Jamur champignon di-stuffed spicy salmon, kemudian dibalut tepung tempura dan dihidangkan dengan saus spicy mayo. Saat dimakan ada perpaduan antara tekstur crunchy dari tepung tempura, jamur champignon yang agak kenyal, dan lembutnya salmon. Dari segi rasa lebih dominan asin (tapi tidak keasinan yah) apalagi jika dicocol dengan saus spicy mayo yang dibentuk cantik di piring mengelilingi makanannya. Sebagai penyuka jamur dan salmon, menu ini enak dan saya suka baik dari rasa maupun teksturnya, namun bagi beberapa Openricers katanya terasa aneh. Hehe.. masalah selera saja kali yah...

 
US Rib Eye Teriyaki Set (150 gr-IDR 139k; 200 gr-IDR 155k)
Pastinya menu ini merupakan "jagoan" dari Teritorri dengan daging kualitas terbaik pula. Teriyaki disini selalu menggunakan daging "rib eye" dengan 3 jenis daging pilihan mulai dari grade tertinggi (dan termahal harganya) yaitu US, Australia, dan NZ. Ketiga pilihan tersebut masing-masing tersedia dalam ukuran 150 gr dan 200 gr, tinggal disesuaikan kapasitas perut kita tongue. Menu set ini sudah lengkap dengan nasi, salad, dan miso soup.. porsinya pas untuk satu orang. Dari semua komponen dalam set menu ini, teriyaki adalah bintangnya. Daging berkualitas diolah secara maksimal sehingga top enaknya.

 
Bento Special
Selesai mengobservasi keempat hidangan tersebut, Chef Ariawan mengatakan bahwa hidangan sudah siap untuk kami semua... saat makan yang dinanti pun tiba! Hidangan disajikan dalam bentuk bento, sehingga kami bisa mencicipi beberapa macam makanan sekaligus. Bento ini memang khusus hanya disediakan untuk OpenRicers saja, jadi tidak ada di buku menu. Penataannya cukup rapi walaupun simple, berisi nasi, salad, beef & chicken teriyaki, serta 3 potong sushi lengkap dengan wasabi dan pickles. Berikut review untuk setiap komponennya:
- Nasinya putih, pulen, ditaburi potongan nori tipis di atasnya. Saya tidak sanggup menghabiskan seporsi nasi di bento ini karena sudah kekenyangan dengan potongan sushi yang notabene nasi juga... Berat hati rasanya menyisakan makanan, tapi apa daya perut sudah penuh, maaf ya nasi...
- Saladnya berisi sayuran segar dengan mayonnaise home made Teritorri yang rasanya pas antara gurih, asin dan sedikit asam.
- Teriyakinya sudah pasti istimewa dengan saus coklat kehitaman racikan andalan Teritorri. Kekentalan sausnya pas, rasanya enak, walaupun untuk saya sedikit terlalu asin (mungkin karena saya terbiasa mengurangi konsumsi garam).
- Chicken teriyakinya berupa potongan daging ayam yang cukup tipis, masih dengan kulitnya, dilapis tepung tempura kemudian di-deep fried sehingga crunchy saat dimakan. Cukup enak jika dimakan dengan saus teriyakinya, tapi overall tidak terlalu istimewa bagi saya. Sebenarnya di buku menu ada 2 jenis chicken teriyaki yaitu breaded chicken dan skinless grilled chicken. Kalau boleh memilih tentunya saya lebih cocok dengan yang kedua, karena saya tidak suka kulit ayam.
- Bagaimana dengan beef teriyakinya? Nah, ada cerita disini. Agak kaget ketika mengangkat potongan grilled beef dengan sumpit, karena di bagian tengahnya masih terlihat merah. Awalnya agak sedikit ragu, mau dimakan atau tidak ya? Akhirnya nekat, saya coba juga! So, inilah pertama kalinya saya makan daging yang dimasak medium, karena biasanya selalu minta 'well done'. Ternyata enak juga karena daging yang dimasak medium benar-benar masih juicy. Selain itu kualitas daging yang bagus memang tak bisa bohong, terasa lembut dan gurih. Saya yang bukan penggemar daging merah pun kali ini sangat menikmatinya.
- Belum cukup sampai disitu, 3 potong sushi yang terhidang punya cerita sendiri. Dua diantaranya memakai unagi sebagai topping luarnya. Meskipun ini untuk pertama kalinya pula saya makan unagi, langsung santap sajalah.. ternyata, not bad! Unaginya agak kenyal, di-grill dan dibumbui jadi tak masalah karena rasanya menyatu dengan keseluruhan sushi yang berisi crab stick dan kyuri. Tepat saat saya menyantap sushi itu, chef Ariawan yang sedang berkeliling ke meja kami menjelaskan bahwa crab stick yang dipakai adalah 1st grade yang diimpor dari Jepang. Hmm.. tak heran kalau rasanya seenak ini. Sepotong salmon nigiri terakhir menjadi pengalaman tak terlupakan bagi saya. Untuk pertama kalinya… saya menyantap salmon mentah! Sempat ragu sebelumnya, tapi saya pikir kepalang tanggung.. hap, masuk mulut sekaligus. Rasanya, jangan ditanya! Hampir saja keluar lagi, cepat-cepat saya kunyah, telan, langsung minum ocha.. aman! Sungguh pengalaman pertama yang tak akan terlupakan. Salmonnya memang fresh dan kualitasnya tidak diragukan, warnanya orange cantik dan tidak amis, tapi.. sushi berbahan mentah rupanya memang tidak cocok untuk saya. Rasanya ini akan menjadi yang pertama sekaligus terakhir saya makan ikan mentah.. kapok sad

Dessert
Selesai menyantap semua hidangan -beneran ludes semuanya nih..- datanglah seporsi dessert manis menyenangkan yaitu:

 
Matcha Ice Cream with Ogura (IDR 19k)
Satu scoop matcha ice cream dengan sejumput ogura di atasnya. Meskipun bukan penggemar matcha, saya bisa merasakan bahwa yang satu ini memang istimewa rasanya. Aroma matcha dan tingkat kemanisannya pas, ice creamnya lembut, dan oguranya enak.. Hmm, andaikan ada 1 porsi lagi.. hehehe.

Service
Siang itu cukup banyak meja terisi di Teritorri, karena memang sedang jam makan siang. Terlihat jelas bahwa pelayanan di resto ini baik. Saya sempat memperhatikan di meja-meja lain, pelayannya ramah dan sigap sehingga semua tamu terlayani dengan baik, dan makanan pun tidak terlalu lama keluar dari dapur.

Overall memuaskan pengalaman serba pertama saya di Teritorri, dan pastinya akan ada yang kunjungan kedua, ketiga, dst karena memang memuaskan makan disini.
 
Recommended Dish(es):  Monkey Brain,Teriyaki
 
Spending per head: Approximately Rp100000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Membeli Suasana di The Rock Bar Smile Apr 10, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Lounge/Bar | Wine | Pesta | Pemandangan Laut | Hang Out

Banyaknya review tentang Rock Bar di berbagai media, membuat saya sangat tertarik mengunjunginya. Meskipun sudah melihat foto2nya di internet dan majalah, tentu belum afdol jika belum datang langsung. Maka dari itu, jauh2 di ujung Jimbaran pun saya datangi tempat ini. The Rock Bar berada di Ayana Resort & Spa, sebuah hotel eksklusif di daerah Jimbaran. Rock Bar merupakan bar terbuka (open top bar) yang sangat terkenal karena lokasinya yang unik yaitu dibangun di karang terjal setinggi 14 meter di pantai Jimbaran oleh arsitek Jepang. Bar ini bergaya modern minimalis dengan lantai kayu, bertingkat-tingkat mengikuti kontur tanahnya. Lokasi ini menjadikan Rock Bar memiliki pemandangan fantastik ke laut lepas. Untuk mencapainya, harus turun dengan semacam cable car dari halaman belakang hotel Ayana. Cable car ini berfungsi sebagai lift yang mengantar tamu datang & pulang. Untuk tamu yang menginap di Ayana Resort sebenarnya ada jalan lain bertangga tanpa harus pakai cable car, tapi tentu lebih jauh mad Dalam perjalanan dengan cable car pun pemandangannya sudah indah. Sekali jalan cable car bisa mengangkut 4-5 orang dewasa dan memakan waktu sekitar 2-3 menit.

Sampai di area Rock Bar, setiap tamu yang datang langsung disambut reception desk untuk mendaftarkan nama baru kemudian diantar oleh usher ke tempat duduk. Jadi tamu tidak bisa masuk sembarangan sesuka hati. Tamu yang menginap di hotel Ayana mendapat privillege karena bisa menempati area bar yang posisinya paling tinggi sehingga view-nya paling baik untuk menyaksikan sunset. Area bar ini baru dibuka untuk umum setelah jam 6. Karena datang agak awal, saya masih bisa mendapat tempat yang cukup strategis di area umum, yang tidak terhalang orang untuk nanti memotret sunset. Di bawah area saya duduk, ada satu bagian yang lebih rendah dengan tempat duduk sofa rotan berpadding empuk dan meja rendah, ketika saya tanyakan, tempat itu hanya untuk tamu yang akan spending 600ribu ke atas. Wow... jadi semua tempat beda harganya di sini. Jika mau dapat tempat terbaik, ada harga yang harus dibayar. Ketika sudah gelap, laut tidak kelihatan lagi, hanya suara ombak saja yang terdengar. Sebagai gantinya, tamu bisa menikmati tata cahaya yang indah disini. Memang harus sedikit hari2 melangkah karena pencahayaannya temaram. Menjelang malam bar makin ramai, terutama tamunya para ekspatriat alias bule. Jika sedang ramai begini, tamu harus pasrah jika untuk naik atau turun ke bar harus mengantri panjang untuk naik cable car.

Saya datang sekitar pk. 16.00, saat matahari masih sangat terik. Sambil memberikan buku menu, waitress pun menawarkan payung untuk menghalau panas, rupanya memang sudah diantisipasi yah.. Saya pun tidak menolak, at least untuk menghalau silaunya matahari yang sangat tak nyaman di mata (karena saya berkaca mata silinder, jadi tidak pakai sunglasses). Saya memang hanya berencana untuk snacking saja disini, karena sudah ada jadwal makan malam sendiri di pantai Jimbaran nanti. Berikut menu snack yang saya pilih:

 
Mixed potato, 50k
Berisi potato wedges, curly fries & pita breads dengan cocolan hummus, curry mayonnaise, & saus tomat. Potato wedges & curly fries biasa saja seperti yang bisa didapat dimana2, tapi pita breads nya yang enak, kering dan renyah. Cocolannya saya paling suka curry mayonnaise yang paling enak. Menu yang sebenarnya sederhana ini tampil sangat menarik karena penyajiannya. Mixed potatoes ditata dalam gelas anyaman rotan, saus masing2 di cobek mini dari batu hitam, semuanya ditempatkan dalam baki kayu hitam dengan pinggiran logam sebagai bingkai. Mewah!

Virgin tropical tango, 80k
Mocktail yang diracik dari strawberry, mango, pineapple, & grenadine. Rasanya asam manis dan bersoda. Cocok diminum ditengah udara panas seperti ini. Warnanya cantik, rasanya enak, dan penyajiannya menarik di gelas pendek dengan garnish simple.

 
Inilah hasil foto yang saya dapatkan dari tempat duduk saya. Walaupun sunset-nya tidak sempurna karena ada awan, tetap menjadi pengalaman tak terlupakan bisa berada di tempat bagus ini. Kesimpulannya, Rock Bar memang 'menjual' tempat dan suasana sebagai yang utama.

 
Spending per head: Approximately Rp130000

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 5  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Super kenyang di Tokio Kitchen Smile Apr 09, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jepang | Food Court | Sushi | Kencan / Berpasangan

Tokio Kitchen masih satu management dengan Urban Kitchen, berkonsep sama yaitu food court, tapi khusus kumpulan counter2 makanan jepang. Pertama kali mengetahui tempat ini dari sahabat sy sesama penggemar kuliner yg tinggal di apt Medit sebelah CP, tentunya dia sudah pernah mencoba Tokio Kitchen & memberikan referensi bagus. Interior food court ini sungguh menarik, counter2 makanan ditata menyerupai food stall/counter2 kecil khas jepang. Di pojok kanan belakang ada satu mobil VW combi merah yang beralih fungsi jadi kasir. "Pintu keluar" ini langsung tersambung ke Urban Kitchen di sebelahnya. Area tempat duduk pun ada beberapa tema dari harajuku, tatami style (tapi tidak benar2 lesehan karena ternyata bagian tengah bolong & mejanya lebih dibawah), hingga yg bersekat seperti sebuah ruangan kecil dalam rumah jepang. Kami pun duduk di area harajuku dengan meja & kursi biasa, hanya di satu sisi dinding dekat kami dipenuhi poster2 khas harajuku style.

Berbekal voucher Disdus senilai 73rb (untuk 2 sushi & 1 pizza), saya pun datang bersama nyokap (sayangnya sahabat sy sedang di luar kota jadi tidak bisa ikut, dan hari ini hari terakhir berlakunya voucher). Setelah melihat2 sekeliling, kami pun menetapkan pilihan untuk makan malam kali ini.

 
Aburi Chilli Salmon Roll
Salmon roll sebenarnya tak terlalu spesial, tapi yang membedakan di sini adalah saus mayonnaise pedasnya yang memang racikan khusus, memberikan rasa yang pas berpadu dengan baked salmon di dalam gulungan sushi plus flamed salmon fillet on top. Kami yg bukan penggemar sushi (tapi kami penggemar salmon) pun langsung suka dgn yg satu ini.

 
Tokio Dragon Roll
dragon roll special ala Tokio Kitchen, dgn ebi tempura yang crunchy di dalam, kani, serta (seharusnya) unagi on top. Karena kami tidak makan unagi, dgn sedikit tawar menawar, kami sukses mendapat shrimp on top sebagai gantinya.

 
Shrimp n Cheese Pizza
Meskipun lama sekali menunggunya plus self service ambil sendiri ke counter pizza.. ternyata worth it karena rasanya yg unik tapi enak. Menu ini jadi menu "cross culture" yaitu pizza jepang. Toppingnya yg sederhana berupa shrimp tempura 'n lots of mozzarela cheese justru menjadikannya uenak! Perpaduan mozzarela yang empuk meleleh dgn crispy nya tempura udang memberi rasa & tekstur yg mantap. Saking kenyangnya, setengah pizza ini kami bawa pulang karena sudah tak muat lagi di perut.
Secara keseluruhan, makanannya memuaskan.. bagi kami yang bukan penggemar japanese food pun rasanya enak, juga porsinya cukup besar, terutama sushi yg terdiri dari 8 potongan besar per porsi. Pelayanannya standar sebagaimana yg berlaku di urban kitchen, hanya malam itu kami agak tidak beruntung karena cukup lama menunggu makanan datang, bahkan salah satunya sampai sy ambil sendiri ke counter saking lamanya menunggu. Soal harga, rasanya standar makanan jepang yang memang agak mahal, tapi karena pakai voucher bagi kami jadi murah. Thanks to Disdus!
 
Recommended Dish(es):  Shrimp n Cheese Pizza,Aburi Chilli Salmon Roll
 
Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 2  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Lomie Pinangsia Di Tempat Aslinya Smile Oct 23, 2014   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Chinese | Restaurant | Bakmi/Kwetiau

Mengikuti "tour kuliner" bersama teman-teman yang mempunyai minat sama memang mengasyikkan dan seru, salah satunya saya bisa menyambangi sebuah restoran kecil namun legendaris di daerah Pinangsia. 

Ada banyak restoran atau warung yang menggunakan nama Lomie Pinangsia, namun Lomie "Amen" Pinangsia ini disebut-sebut sebagai pelopor lomie khas Pinangsia yang berkuah coklat kental bening, bukan kuah putih keruh seperti lomie pada umumnya. Di kemudian hari memang ada juga yang meniru kuah coklat seperti ini, namun jika ingin mencicipi cita rasa yang asli tentu kita harus mencoba dari pelopornya.
Lomie Amen Pinangsia yang asli

Lomie Amen Pinangsia yang asli

 
Tampak depan restoran

Tampak depan restoran

 
Lomie "Amen" Pinangsia tempatnya sangat sederhana, terletak di lantai 1 dari rumah pemiliknya yang berbentuk memanjang ke belakang. Logo restoran hanya berupa spanduk yang dipasang di atas pagar depan, namun cukup eye catching dengan huruf berwarna merah di atas background kuning terang. Di sebelah kiri tulisan terdapat foto sang pemilik yaitu Bapak Amen yang juga kami temui secara langsung di restoran saat itu. Bangunannya terlihat sudah lama, tetapi di dalamnya cukup bersih dengan meja-kursi makan yang sederhana pula. Dapur tempat meracik makanan berada di bagian depan dengan pembatas kaca yang fungsinya jadi seperti etalase. Setiap pengunjung yang datang pasti akan melewati bagian dapur ini sebelum masuk dan duduk di ruang makan. Dapurnya memang tidak bisa disebut rapi ala restoran, lebih seperti dapur di rumah biasa, tetapi tergolong bersih. Sang pemilik sendiri langsung turun tangan meracik lomie pesanan customer dengan dibantu karyawan atau anggota keluarganya.

Pelayanan di restoran yang dikelola oleh keluarga ini juga tidak mengecewakan. Ketika customer datang dan duduk, langsung ditanya ingin pesan makanan dan minuman apa. Tak lama setelah memesan, minuman sudah diantarkan, dan tak lama kemudian lomie pun terhidang. Baik anggota keluarga maupun karyawan semuanya sigap dan cekatan melayani customer, terlihat mereka sudah biasa melayani banyak orang saat restoran ramai.

Tak perlu lama-lama memilih karena menu utama di sini hanya lomie saja, dengan pilihan memakai daging babi, ayam, atau campuran keduanya. Daging babi panggang dan ayam rebus yang akan dijadikan topping sudah tersedia di dapur, jadi jika customer ada special request ingin bagian daging tertentu bisa minta langsung saat memesan.
Topping Lomie

Topping Lomie

 
Lomie Ayam (IDR 40k)
Lomie dengan potongan daging dada ayam rebus

Lomie dengan potongan daging dada ayam rebus

 
Saya bersama beberapa teman sepakat berbagi (sharing) karena sebelumnya kami sudah makan di tempat lain sehingga "kapasitas" perut sudah berkurang. Seporsi Lomie terhidang di depan kami tanpa menunggu lama. Kami memilih topping daging ayam karena beberapa di antara kami tidak makan daging babi.
Lezat!

Lezat!

 
Yummy

Yummy

 
Porsi lomie cukup besar berisi mie, sayuran, topping daging, dan kuah coklat bening yang terlihat kental. Bentuk mie agak tebal dan teksturnya firm, tetapi tidak terlalu kenyal -dan saya suka mie yang seperti ini. Sayuran berupa bayam dan tauge yang direbus sebentar terasa masih "crunchy" dengan tingkat kematangan yang pas. Topping daging ayam yang diberikan cukup generous, dan saya senang sekali karena mendapat bagian dada yang empuk dan tebal -tepat seperti kesukaan saya. Semua komponen tersebut disiram kuah coklat bening yang sepintas terlihat sangat kental. Setelah diaduk beberapa saat, ternyata kuahnya tidak sekental kelihatannya, dan yang lebih penting rasanya enak sekali! Ini melebihi ekspektasi saya pribadi, karena biasanya saya tidak suka kuah lomie yang putih keruh agak kental. Kuah coklat ini rasanya balance dan ada seberkas aroma jeruk limau yang menjadikannya segar, tidak membuat eneg.

Es Teh Manis (IDR 4k)
Siang hari yang terik di daerah Jakarta Utara begini paling enak minum sesuatu yang dingin. Es teh manis menjadi pilihan tepat yang menyegarkan. Kepekatan dan rasa manisnya pas menghalau dahaga sekaligus menetralisir rasa gurih-asin setelah makan lomie.

Saya merasa puas dan senang bisa makan Lomie Pinangsia di tempat aslinya, langsung diracik oleh pemiliknya sendiri pula. Meskipun tempatnya sederhana dan cukup jauh dari keramaian, semuanya terbayar dengan cita rasa lomie yang istimewa. Tidak heran jika restoran lomie yang sudah beroperasi sejak tahun 1945 ini tetap eksis hingga sekarang, bahkan sudah membuka cabang di salah satu mall besar. Ya, bagi yang ingin menikmati Lomie "Amen" Pinangsia dengan lebih mudah dan nyaman bisa mengunjungi Eat & Eat di Mall Kelapa Gading dan mencari booth Lomie "Amen" Pinangsia di sana.
Supplementary Information:
Lomie sebaiknya segera dihabiskan selagi masih hangat karena akan lebih enak rasanya dibanding jika sudah mulai dingin. Ada cabang di Eat & Eat Mall Kelapa Gading.
 
Recommended Dish(es):  Lomie Ayam
 
Table Wait Time: 7 minute(s)


Spending per head: Approximately Rp45000

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 2  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Bakmi Legendaris Yong Yam Smile Oct 20, 2014   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Chinese | Stand / Kios | Bakmi/Kwetiau

Mumpung sedang jalan-jalan ke daerah Mangga Besar, tidak saya lewatkan kesempatan menyambangi sebuah restoran bakmi legendaris yaitu Bakmi Yong Yam yang sudah ada sejak tahun 1928. Wow, it must be a legend!
Bakmi legendaris

Bakmi legendaris

 
Terletak di tepi jalan Mangga Besar Raya yang selalu ramai, gampang-gampang susah menemukan restoran ini. Untuk patokan mudahnya, Bakmi Yong Yam terletak di seberang RS Husada, namun kita harus sedikit cermat untuk menemukan papan nama resto yang tergolong kecil di antara jajaran ruko, hotel, dan kantor di sepanjang jalan. Papan nama yang tidak besar itu masih sedikit "tersamarkan" oleh daun dari pohon rindang tepat di depan resto, namun pohon itu berjasa memberi keteduhan saat kita akan memasuki resto.
Area dapur di depan

Area dapur di depan

 
Dari gerbang depan kita akan melewati area open kitchen alias dapur tempat mie diracik. Jika mau, pengunjung bisa menyaksikan langsung saat bakmi pesanannya disiapkan, namun tempatnya memang sempit karena lebar keseluruhan resto hanya sekitar 3 meter saja. Memasuki ruang makan sedikit lebih nyaman dengan adanya pendingin ruangan, tetapi jika resto penuh maka dinginnya tidak akan terlalu terasa lagi. Bentuk ruangan resto yang memanjang ke belakang kira-kira dapat menampung 35-40 orang saja, dan pada jam makan siang biasanya akan penuh dengan pengunjung. Tampilan resto sederhana dengan dinding, langit-langit, dan lantai berwarna putih serta meja kursi makan berbahan plastik. Satu poster besar berisi foto dan nama menu terpasang di salah satu sisi dinding membuat customer lebih mudah memilih menu, tentunya sangat efektif di saat resto sedang ramai.
Resto yang selalu ramai

Resto yang selalu ramai

 
Pelayanan tergolong memuaskan karena para waitress semuanya ramah dan sigap, terlihat sudah terbiasa menghadapi banyak customer pada jam-jam restoran ramai. Makanan dan minuman terhidang cukup cepat meskipun saat itu kami datang dalam jumlah cukup banyak. Dalam hal kebersihan, meskipun Bakmi Yong Yam menyebut dirinya sebagai warung, namun kebersihannya terjaga baik. Setidaknya para waitress dengan cekatan membersihkan meja kotor agar bisa segera ditempati oleh customer berikutnya.
Menu

Menu

 
Menu yang tersedia tidak terlalu banyak, terutama bakmi dengan berbagai variasi dikombinasikan dengan bakso dan pangsit. Selain bakmi keriting, tersedia pula pilihan bihun, kwetiaw, dan lochupan. Dikarenakan kami datang beramai-ramai, agar penyajiannya cepat kami pun memilih Bakmi Yong Yam yang menjadi menu spesial/khas di sini. Bakmi Yong Yam sendiri ada 3 jenis, yaitu Bakmi Yong Yam Biasa, Special, dan Jumbo. Apa bedanya? Setelah kami tanyakan ke waitress, Yong Yam Jumbo baik topping dan mie-nya lebih banyak dari Yong Yam Biasa, sedangkan Yong Yam Special hanya toppingnya saja yang lebih banyak. Semuanya enak, tinggal disesuaikan saja dengan selera dan keinginan kita. Nah, pilih yang mana ya?

 
Bakmi Yong Yam Spesial Babi (IDR 22k)
mantap

mantap

 
Bakmi ala Singkawang ini terdiri dari mie keriting, sawi hijau dan tauge rebus, udang rebus, potongan daging ayam masak kecap, pangsit isi, dan daging babi cincang. Kuah kaldu disajikan terpisah dalam mangkuk kecil. Bakmi keriting di sini lebih halus teksturnya dan tidak sekenyal bakmi keriting pada umumnya, dan saya justru lebih suka yang seperti ini. Bakminya sudah diaduk dengan minyak berbumbu sehingga tidak hambar, namun tidak sampai terlalu berminyak juga. Udang hanya direbus tanpa bumbu, namun terlihat segar dengan warna yang cantik dan tekstur firm karena dimasak pada tingkat kematangan tepat. Daging ayam dicincang kasar dan dimasak dengan kecap sehingga warnanya coklat dan rasanya dominan manis. Pangsit isi disajikan kering bersama mie, namun jika suka bisa dicelupkan ke kuah saat masih panas sehingga menjadi seperti pangsit rebus. Topping paling khas yang membedakan dari bakmi babi di tempat lain adalah daging babi cincang yang sudah dibumbui dan dikukus menjadi satu adonan besar, lalu disajikan dalam potongan-potongan tipis. Dagingnya empuk dan tidak terlalu banyak bagian berlemak, serta bumbunya tidak terlalu menonjol dengan rasa asin yang samar, menjadikan topping ini pas melengkapi keseluruhan rasa bakmi jika dimakan semuanya sekaligus.

Bakmi Yong Yam Special memang paling pas untuk orang yang "kapasitas" perutnya tidak terlalu besar seperti saya. Puas dengan topping yang lebih banyak, namun tidak sampai kekenyangan karena porsi mie yang terlalu besar. Jika dinilai dari harganya, IDR 22k untuk mie berisi daging ayam, babi, dan udang rasanya sangat sesuai dan terjangkau. 

Bakmi Yong Yam Spesial Ayam (IDR 22k)
yummy

yummy

 
Bagi yang tidak makan daging babi, jangan khawatir karena bisa memesan Bakmi Yong Yam yang sama, hanya special request tanpa topping daging babi dan tanpa pangsit yang rupanya berisi daging babi. Sebagai gantinya akan ditambah udang dan potongan ayamnya sedikit lebih banyak. Dengan komposisi yang sama, rasanya pun tidak jauh berbeda dengan bakmi babi, sama-sama enak!

Es Jeruk Sonkit (IDR 5k)
Asam manis segar

Asam manis segar

 
Minuman khas yang selalu ada di restoran ala Kalimantan ini tak boleh dilewatkan. Rasa asam dan aroma jeruk sonkit ini khas sehingga terasa berbeda dari jeruk lainnya. Es jeruk sonkit di sini warnanya kuning pucat memang kurang menarik kelihatannya, namun rasa asam manisnya balance, dan pastinya segar dinikmati pada tengah hari yang super panas saat itu. Penambahan es batunya juga tidak berlebihan sehingga rasanya masih tetap enak (tidak menjadi hambar seperti tinggal air putih saja) sampai terakhir saat minuman habis. Satu gelas es jeruk sonkit porsinya menurut saya pas untuk satu orang (kecuali kalau sedang sangat kehausan) dan harganya tergolong sangat terjangkau dan sesuai.

Saya dan teman-teman puas makan di Bakmi Yong Yam. Rasa makanan yang enak, pelayanan baik dan cepat, serta harga yang terjangkau pastinya membuat kami ingin kembali lagi menikmati bakmi ala Singkawang nan legendaris ini. 
Supplementary Information:
Pilih menu Spesial untuk topping yang lebih banyak, sedangkan banyaknya mie tidak berbeda jauh dari yang biasa jadi tidak perlu takut terlalu kenyang. Bakmi Yong Yam mempunyai cabang di Jl. Jembatan Lima Raya yang masih terletak di kawasan Kota.
 
Recommended Dish(es):  Bakmi spesial ayam,Bakmi spesial babi,Es Jeruk Sonkit
 
Spending per head: Approximately Rp30000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 2  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0