OpenRice Index
  
missnl
This is missnl living in Cilandak. I am a graphic designer, work in Lebak Bulus. I like to hang out in Tanjung Duren, Pondok Indah, Senayan. Bali, Chinese, Itali, India are my favorite cuisines. I also love Street Foods, Kafe, Restaurant, lounge and Siomay / Batagor, Pizza & Pasta, sate lilit bali.
Member 10 First(s)
No. of Review67 Review(s)
編輯推介數目33 Editor's Choice
Recommended8 Recommended
Popularity3693 View(s)
Replies in Forum1 Comment(s)
Upload Photos1237 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant42 My Restaurant(s)
Follow58 Following
粉絲391 Follower(s)
missnl  Level 3
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 46 to 50 of 67 Reviews in Indonesia
So Special, Nas-Gor Laka-Laka! OK Jul 06, 2014   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Food Court | Hang Out

 
Nasi Goreng Laka-Laka merupakan salah satu tenant yang terdapat di Kampung Kemang, Jakarta Selatan.

Tenant yang satu ini khusus menjual menu nasi goreng saja, tepat sesuai "nama dagang" yang terpampang di depan outlet. Tersedia berbagai pilihan nasi goreng disini, dengan menu jagoan diantaranya Nas-Gor Kambing atau Nas-Gor Pete Kambing. Range harga berkisar antara 25k-35k yang tergolong wajar untuk seporsi nasi goreng di restoran. Menurut promosi yang disampaikan oleh Ika Hendrani mewakili Bayu, owner Nasi Goreng Laka-Laka yang ketika itu berhalangan hadir, bumbu nasi gorengnya so special dan berbeda dari nasi goreng dimana pun. Wah, pas banget saya adalah penggemar nasi goreng, jadi tak sabar ingin mencoba.

Nas-Gor Ayam (IDR 25k)

 
Memang betul sesuai promosi, nas-gor disini bumbunya beda! Racikan bumbu spesial yang belum pernah saya temukan di tempat lain, terasa lebih rich and spicy, sedikit pedas tetapi tergolong tidak seberapa bagi yang suka pedas. Disajikan di piring beralas daun pisang dengan potongan ketimun, tomat, acar, kerupuk udang, serta taburan bawang goreng. Nasi goreng paling nikmat dimakan ketika masih hangat selesai dimasak, sayang sekali ketika saya mencoba nasgor sudah dingin sehingga berkurang kenikmatannya. Untuk saya pribadi, nasinya sendiri terlalu keras (pera) dan akan lebih baik jika lebih lunak sedikit saja.
 
Recommended Dish(es):  Nas-Gor Ayam
 
Date of Visit: Jun 27, 2014 

Dining Offers: Tasting Event


Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Martabak Naik Kelas ala D'Marco Smile Jun 30, 2014   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Food Court | Martabak | Hang Out

Jumat sore selepas jam kantor, ini saatnya melepas kepenatan yang menumpuk selama lima hari. Sudah menjadi semacam habit bagi warga Jakarta untuk hangout di Jumat sore hingga malam, sekedar makan malam sambil ngobrol santai bersama pasangan, teman, atau kolega.
Kali ini saya berkesempatan menyambangi Kampung Kemang, sebuah food court baru yang berlokasi sangat strategis di Jalan Kemang Raya, tepatnya di seberang Plaza Adorama. Kampung Kemang memiliki area yang luas, tempat parkir yang memadai, dan makanan enak dengan harga terjangkau sehingga cocok untuk sekedar kumpul bersama teman hingga mengadakan acara semisal gathering, launching produk, atau mini party.

Seperti umumnya food court, terdapat beberapa stand di Kampung Kemang, salah satunya adalah Martabak D'Marco

 
Welcome!

Welcome!

 
Ika Hendrani, the owner

Ika Hendrani, the owner

 
Sesuai namanya yang merupakan singkatan dari MARtabak dan COffee, D'Marco mengusung martabak sebagai bintang utamanya. D'Marco didirikan pada tanggal 10 Mei 2012 oleh tiga orang yaitu Ika Hendrani, Ira Lathief, dan Budiyono dengan outlet pertama berkonsep mini cafe di Sabang. Beliau bertiga mempunyai visi misi untuk menaikkan derajat martabak manis dari makanan kelas kaki lima yang biasa dijual di pinggir jalan menjadi makanan yang layak disajikan di cafe atau resto. Lebih jauh lagi, ke depannya mereka ingin menjadikan martabak manis sebagai kuliner khas asal Indonesia yang mendunia seperti halnya pizza dari Italia. Setelah mini cafe di Sabang mendapat sambutan baik, D'Marco membuka cabang kedua di daerah Tebet pada 20 November 2013 dengan konsep food court, dilanjutkan cabang ketiga di Kampung Kemang pada 1 Mei 2014 yang juga berkonsep food court.
Bagaimana dengan makanannya? Berbagai varian martabak disediakan di sini, mulai dari varian klasik martabak manis yang jadi menu standar di martabak kaki lima hingga menu modifikasi hasil kreasi ownernya. Penasaran? Mari kita coba…
The Kitchen

The Kitchen

 
Martabak Burger (IDR 30k)

 

 
Salah satu hasil kreasi terbaru dari sang owner yang menjadi menu favorit. Meskipun base-nya berbahan martabak manis, ternyata cocok saja dipadukan dengan topping asin dan savory seperti burger ini. Base martabaknya dibuat tidak terlalu tebal dan tidak ditaburi gula seperti martabak manis di luaran. Di atasnya diletakkan selada, keju, irisan tomat, dan patty burger di paling atas, kemudian digarnish dengan saus sambal dan mayones. Ketika dimakan sekaligus rasanya enak dengan perpaduan rasa dan tekstur dari semua komponennya. Ada rasa asin, sedikit pedas manis, dan gurih semua terasa balance di mulut. Base martabaknya sendiri enak, tidak hambar, ketebalannya pas sehingga tetap empuk, dan yang terpenting untuk saya adalah tidak terlalu berminyak. Tidak percuma jika sang owner sampai belajar langsung dari tukang martabak berpengalaman, sehingga bisa menghasilkan base martabak manis seenak ini. Besar porsinya tergolong mengenyangkan untuk satu orang seperti saya, kecuali jika kapasitas perutnya besar mungkin harus tambah seporsi lagi *wink*.

Martabak Nutella
(IDR 25k)

 

 
Penggemar coklat terutama Nutella pasti suka menu simple nan menggugah selera ini. Martabak manis dioles Nutella spread yang cukup "royal" sebagai pengganti coklat meises pada martabak manis standar, se-simple itu… tapi rasanya jangan ditanya! Saya pribadi suka karena meskipun olesan Nutella cukup tebal tetapi adonan martabaknya tidak manis (justru ada sedikit rasa asin) sehingga secara keseluruhan manisnya tidak berlebihan. Bagi yang ingin variasi rasa lebih, tersedia martabak Nutella dengan pisang, kacang, strawberry, atau Oreo crumbs. Daripada sibuk membayangkan rasanya dari penjelasan saya ini, lebih baik langsung dicoba saja, deh…

Martabak Ice Cheese Oreo

 

 
Ini dia menu baru kebanggaan sang owner, Ika Hendrani, yang pastinya masuk dalam daftar best seller di D'Marco. Martabak manis ditaburi parutan keju dan Oreo crumbs, kemudian diberi satu scoop es krim di atasnya. Tak ketinggalan sebuah biskuit Oreo utuh ditancapkan di puncak es krim sebagai pelengkap garnish. Disarankan untuk menyantapnya segera setelah dihidangkan agar es krim tidak semakin mencair. Ketika dimakan sekaligus semua komponennya, terdapat perpaduan rasa dan tekstur yang begitu kompleks namun balance. Ada rasa asin, manis, creamy, tekstur halus lembut dari es krim dan Oreo crumbs yang agak kasar, serta base martabak yang masih hangat dengan dinginnya es krim… lengkap! Meskipun kelihatannya mudah hanya menggabungkan beberapa topping saja, namun saya yakin resep ini sudah melalui trial & error sebelumnya sehingga menghasilkan komposisi tepat untuk rasa yang pas dan nikmat.
Jika boleh memberi sumbang saran, mungkin akan menarik jika ada menu "create your own martabak" dimana konsumen bisa memesan martabak dengan perpaduan topping yang dikreasikan sendiri. Realisasinya yaitu dengan menjual additional topping secara terpisah, jadi konsumen dapat memesan tambahan topping sesuai kemauannya. Menurut saya, konsumen akan lebih tertarik atau terpancing kreativitasnya membuat menu martabak baru yang belum pernah ada sebelumnya, sesuai selera pribadi masing-masing. Cara ini sekaligus bisa menjadi masukan atau tambahan ide untuk menghasilkan kreasi menu baru yang selanjutnya bisa menjadi menu tetap di D'Marco. Ide dari banyak orang terkadang lebih baik daripada satu atau beberapa orang saja, bukan?
Menu D'Marco

Menu D'Marco

 
Selain beraneka menu martabak, tersedia pula beberapa pilihan menu nasi dan ayam, serta appetizer berupa dimsum, chicken wings, dan french fries. Pilihan menu yang cukup bervariasi menjadikan Martabak D'Marco dapat menjangkau berbagai kalangan dan usia karena konsumen tidak akan cepat bosan datang kesini lagi dan lagi.

Dari segi pelayanan tergolong baik dan makanan disajikan tidak terlalu lama, tapi saya rasa jika akan order dalam jumlah banyak lebih baik memesan sebelumnya. Bisa dimaklumi dari area dapurnya yang terbatas memang tidak memungkinkan membuat martabak dalam jumlah banyak dengan waktu cepat, apalagi jika sedang ramai pesanan.

 
Martabak D'Marco juga membuka peluang untuk kemitraan bersistem waralaba dengan paket investasi menarik. Informasi lengkap bisa dilihat di website www.dmarcocafe.com

Sukses terus Martabak D'Marco, mari kita sama-sama menjadikan martabak manis sebagai kuliner khas Indonesia yang bisa dikenal dunia!
Supplementary Information:
Jika akan datang dalam rombongan besar atau mau order dalam jumlah banyak sebaiknya pesan dahulu agar tidak menunggu lama nantinya.
 
Recommended Dish(es):  Martabak Ice Cheese Oreo,Martabak Nutella,Martabak Burger
 
Date of Visit: Jun 27, 2014 

Dining Offers: Tasting Event


Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 2  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Thailand | Restaurant | Halal | Kumpul Keluarga

Semakin terjangkaunya transportasi dan akomodasi ke Thailand menjadikan semakin banyak orang bisa "mencicipi" pesona Thailand dan tak ketinggalan tentu saja kulinernya yang sudah mendunia.
Bagaimana jika tiba-tiba kangen dengan makanan Thailand yang rasanya benar-benar seperti di tempat asalnya? Tenang, Thai Alley punya solusinya!
Thai Alley merupakan bagian dari F & B retailer Culinary Concepts yang didirikan pada tahun 2008. Culinary Concepts dengan tagline "Passion for Food, Obsession for Detail" telah mempunyai 5 dining concepts yaitu:
- Culinary Concept Catering
- Thai Alley
- Thai GoGo
- The Apartment Restaurant + Bar
- The Butcher

Thai Alley sendiri telah mempunyai 2 cabang yaitu di Pacific Place dan Gandaria City. Dengan konsep "Authentic Thai Street Food", Thai Alley bermaksud menghadirkan suasana asli Thailand baik melalui cita rasa makanan maupun suasana tempat makannya. Mengapa street food? Ya, karena real taste atau cita rasa otentik dari masakan Thailand memang berakar dari streed food-nya.
Saya dan teman-teman berkesempatan mengunjungi cabang Thai Alley di Gandaria City untuk mencoba menu-menu unggulan mereka. Sangat mudah menemukan letak Thai Alley yang berada di lantai dasar, tepat di sebelah pintu masuk South Lobby.

Interior resto dibuat seperti suasana sebuah sudut di jalan atau gang (alley) di Thailand dengan tembok yang dipenuhi coretan graffiti dan booth yang terbuat dari seng gelombang. Meja dan kursi makan terbuat dari kayu dicat warna-warni cerah tapi sudah berkesan usang. Sebagian tempat duduknya bahkan hanya berbentuk bangku tanpa sandaran, meskipun ada pula yang berbentuk sofa dengan bantalan empuk. Tak ketinggalan pepohonan dalam pot kaleng besar ikut melengkapi suasana sehingga makin menyerupai asli.
Like in Bangkok

Like in Bangkok

 
Di bagian depan terdapat Thai dessert booth yang terang benderang dengan hiasan deretan lampu bohlam. Sofa-sofa di sekitarnya memang pas sekali untuk tempat duduk-duduk santai, ngobrol bersama teman atau keluarga sambil menikmati Thai dessert yang dipesan dari booth tersebut.
Sebuah private room terdapat di bagian belakang, berkapasitas sekitar 25 seating seat. Dindingnya dipenuhi graffiti dan sebagian lagi berupa dinding kaca yang berbatasan langsung dengan dropping area Gandaria City sehingga dari dalam resto terlihat mobil lalu-lalang di luar. Suasananya jadi seperti benar-benar di pinggir jalan di Bangkok, loh...

Selain interior yang sudah dibuat semirip mungkin dengan di Thailand, cita rasa masakan pastinya menjadi perhatian utama. Tak tanggung-tanggung, chef-nya didatangkan langsung dari Thailand! Chef King, yang bertanggung jawab untuk Thai Alley cabang Gandaria City, saat itu mengadakan live demo pembuatan dua macam Thai salad yang sangat ngetop itu. Terdapat sebuah gerobak dipenuhi bahan-bahan pembuatan salad, dan Chef King meracik salad di belakang gerobak seperti penjual makanan kali lima.
Chef King presents Yam Mamuang

Chef King presents Yam Mamuang

 
Sambil meracik salad, Chef King yang sudah cukup lancar berbahasa Indonesia menerangkan tentang bahan-bahan yang digunakan dan langkah-langkah pembuatannya. Beberapa jenis bahan seperti kecap ikan masih didatangkan langsung dari Thailand untuk menjaga keaslian rasa. Tak ketinggalan semacam lumpang kayu tempat menumbuk saladnya juga masih impor dari Thailand. Meskipun dibuat ala street food, di Thai Alley kebersihan sangat diutamakan, salah satunya sang chef selalu memakai sarung tangan saat meracik makanan.

DRINK
Nam Bay Ma Khud (IDR 45k)
Orange leaves, lime, sugar
Daun jeruk yang dimaksud di sini adalah daun jeruk purut yang di Indonesia memang lazim digunakan untuk masakan ataupun minuman. Menurut saya paduan rasa antara daun jeruk purut dengan jeruk nipis ini menghasilkan aroma yang agak unik, segar, dan wangi. Penambahan gulanya pas, sehingga rasa asamnya cukup menyegarkan mata yang lagi ngantuk, tapi tidak akan membuat sakit perut.

SALADS

Yam Mamuang (IDR 45k)
Spicy mango salad with chill and lime juice

 


Bahan-bahannya simple saja yaitu serutan mangga muda, cabai, perasan jeruk nipis, plus saus racikan Thai Alley. Semua bahan ditumbuk kasar, diaduk rata, kemudian ditaburi kacang mete dan kacang tanah sangrai. Asam dan pedasnya mantap karena tadi sang chef memasukkan cabai cukup banyak. Jangan khawatir, customer bisa request tingkat kepedasannya, atau bahkan tidak pakai cabai sama sekali, walaupun menurut Chef King, "makanan Thailand tidak enak kalau tidak pedas."

Som Tam
(IDR 45k)
Spicy papaya salad

 

This is my favorite! Rasanya mirip som tam yang saya makan di Bangkok dulu. Serutan daging pepaya muda, wortel, tomat, dan kacang panjang mentah, ditumbuk dengan saus khas Thai Alley dan kecap ikan, plus taburan kacang tanah sangrai sebagai topping akhir. Rasa asam, manis, pedas, asin, dan gurih dari kecap ikan berpadu pas dan balance. Kalau tidak ingat masih banyak antrian menu lainnya, saya pasti makan salad ini lagi dan lagi…

APPETIZERS

Nang Krob Pad Heng (IDR 45k)
Crispy dried beef skin crackers with tom yum paste
Kerupuk kulit sapi atau yang di beberapa daerah di Indonesia dikenal sebagai kerupuk rambak, ternyata ada juga dalam hidangan Thailand. Di daftar menu disebutkan bahwa kerupuk ini dimasak dengan tom yum paste, tapi bagi saya pribadi hanya terasa dominan manis seperti rasa kecap. Kerupuk kulitnya juga menjadi agak keras dan alot karena siraman bumbu tersebut.

Tod Man Pla
(IDR 45k)
Light curry flavoured fish cake

 
I love fish cakes! Demikian juga cemilan satu ini, enak sekali dengan rasa curry yang agak malu-malu alias tidak terlalu terasa. Fish cake digoreng hingga berwarna kecoklatan yang pas dan merata di seluruh bagiannya, menjadikan bagian luarnya cukup kering tetapi bagian dalamnya masih empuk. Kalau tidak ingat teman-teman yang lain, seisi piring ini pasti akan berpindah ke perut saya.. *wink*

MAINS

Grand Seafood Tower (IDR 398k)
Freshly picked squid, prawn, crab, mussels, baby octopus served with Thai Alley's dipping sauce, Thai mango salad, and Thai papaya salad

 
Sebuah menu komplit bagi pecinta seafood karena di dalamnya tersedia lengkap dari udang besar yang di-grill maupun di-steam, baby octopus digoreng tepung, kepiting, cumi-cumi, dan kerang yang di-steam. Terdapat dua macam dipping sauce untuk menemani makan seafoodnya. Saus berwarna merah seperti sambal Bangkok yang diolah khusus menjadi khas Thai Alley, rasanya asam manis, tidak pedas, cocok untuk makan seafood yang digoreng. Satu saus lain berwarna putih kekuningan dengan aroma bawang putih yang kuat dan cenderung asin, cocok untuk makan seafood yang di-steam. Saya pribadi lebih menyukai saus putih beraroma garlic ini untuk semua jenis seafood, apalagi karena tepung yang membalut calamari cenderung plain, jadi memang memerlukan dipping sauce. Menu ini tidak diragukan lagi, besar sekali! Tiga sampai empat orang rasanya pas untuk menghabiskan satu tower penuh seafood lezat ini.
Tampilannya cantik sekali disusun dalam wadah bersusun dua tingkat dan di paling atas terdapat empat buah udang panggang berdiri tegak. Saya bersama teman-teman semeja malah asyik berfoto seru-seruan dengan seafood tower ini sementara yang lain sudah mulai makan. Boleh lah ya, narsis dikit sebelum towernya diacak-acak. Hihihi...

Neua Yang
(IDR 98k)
Grilled Australian rib eye seasoned with Thai herbs and served with spicy sauce

 

Dari penjelasan menunya saya membayangkan rasanya pedas dan khas Thailand karena ada kata "Thai herbs". Tampilan dagingnya menarik, terlihat tasty, warnanya coklat dengan beberapa bagian bakaran tetapi tidak sampai terlalu gosong. Saya yang tidak terlalu suka red meat pun kali ini tak sabar ingin mencoba. Ketika saya cicipi.. lho koq rasanya seperti sate? Benar-benar menurut saya pribadi ini seperti makan sate sapi kelas premium yang empuk dan enak sekali. Kualitas daging memang sangat berpengaruh, ditambah lagi bumbunya yang sangat meresap membuat saya tidak mau berhenti mengunyah sampai isi piringnya habis. Oh ya, tidak perlu takut dengan kata spicy-nya, karena ini sama sekali tidak pedas.

Pla Garupa Manaow
(IDR 249k)
Steamed grouper fish with fresh lime juice and chill sauce

 

Terhidang agak sedikit "heboh' dengan kompor pemanas di bagian bawahnya, sehingga kuahnya masih terus mengepul menguarkan aroma sedap. Kepala ikan kerapu yang cukup besar di-steam dengan kuah jeruk nipis dan bawang putih. Ikan kerapu memang paling enak dimasak dengan cara di-steam, terbukti di menu ini daging ikannya lembut dan juicy. Pada kuahnya terlihat banyak bawang putih baik yang sudah dicincang halus maupun masih berupa potongan, sehingga tidak mengherankan kalau rasa bawang putihnya dominan sekali dan agak "beradu" dengan aroma jeruk nipisnya. Beberapa potongan cabai rawit merah yang tersebar di kuah ternyata tidak perlu dikhawatirkan karena tidak membuat kuahnya menjadi pedas, kecuali jika potongan cabainya dimakan baru terasa mantap pedasnya.. Saya tetap suka menu ini, hanya saja bukan merupakan favorit saya karena rasa jeruk nipis dan bawang putih yang terlalu tajam di lidah saya.

Pad Thai
(IDR 55k)
Stir fried rice noodle with shrimps, eggs, tomatoes, bean sprouts, and chives

 

Menu basic yang dapat ditemui di hampir semua Thai resto, ibaratnya, kalau tidak ada menu pad thai jangan berani meng-klaim sebagai Thai resto, deh! Pad Thai di sini disajikan dengan beberapa komponen tambahan yang masih terpisah di tepi piring. Mungkin maksudnya jika ada customer yang tidak suka salah satu komponen tersebut bisa dengan mudah menyingkirkannya sebelum dicampur. Kebetulan saya dan teman-teman tidak ada keluhan atau pantangan dengan semua komponen tersebut, jadi kami campur saja semuanya. Tambahan komponen tersebut memberikan rasa dan tekstur yang lengkap pada masakan ini. Misalnya taoge (bean sprouts) mentah memberikan tekstur crunchy-nya sayuran segar dan rasa manis, demikian pula dengan perasan jeruk nipis menambah aroma plus sebersit rasa asam menyegarkan.

Goong Pad Met Mamuang Goong
(IDR 69k)
Stir fried shrimp with sweet and sour sauce, cashew nuts, and dried chill

 

Udangnya besar-besar dan segar, terlihat dari warnanya yang cantik, teksturnya kenyal, dan ada rasa manis ketika dikunyah. Komposisi bumbu asam manisnya pas tidak terlalu dominan, dan cukup meresap ke udangnya. Jika dimakan sekaligus bersama potongan bawang bombai, kacang mete, dan potongan cabai kering yang menyertainya akan menjadi perpaduan nikmat. Jangan takut bagi yang tidak suka pedas, karena tidak terasa pedas kalau tidak mengunyah cabai keringnya. Selain itu potongan cabai keringnya besar-besar sehingga mudah disisihkan. Penggemar udang pasti suka menu ini… that's me!

Broccoli Kratiam
(IDR 49k)
Stir fried broccoli with garlic
Menu sayuran ini terasa ligjt dibanding masakan lainnya, dan satu-satunya yang tidak ada cita rasa khas Thailand, tapi bukan berarti tidak enak. Broccoli tumis bawang putih ini umum kita temui di Chinese food resto, rasanya pun sama dengan aroma bawang putih yang cukup dominan seperti kesukaan saya. Broccolinya sudah dipotong dalam kuntum-kuntum kecil yang pas dalam sekali suap, sehingga kita tidak repot memakannya. Tingkat kematangan broccoli pas, warnanya masih hijau segar, dan ketika dikunyah terasa renyah. Penggemar sayuran terutama broccoli pasti suka menu ini, bahkan mungkin yang tadinya tidak suka broccoli bisa jadi suka karena rasanya enak.

DESSERT

Kati Sod Ma Praw Awn
Homemade fresh coconut ice cream with toppings

 

Menu terbaru dari Thai Alley yang bahkan belum dijual untuk umum. Suatu kehormatan kami menjadi customer pertama yang bisa mencobanya. Biasanya es krim kelapa tidak pernah menarik minat saya, tapi yang ini berbeda. Es krimnya tidak terlalu manis, lembut, dan terasa alami tanpa tambahan artificial flavor. Toppingnya cukup ramai mulai dari daging kelapa muda, sari kelapa, kolang kaling, kacang merah, manisan ubi, dan pipilan jagung manis. Mangkuk sajinya unik memakai batok kelapa muda yang isinya sudah dikeruk untuk topping. Penyajian yang bagus ya, bisa memanfaatkan "sampah" sebelum dibuang. Meskipun masih menu percobaan, tapi kami yakin pasti jadi best seller kelak, soalnya uenakkk! Untuk dessert seenak ini kami rela menjadi kelinci percobaan… yumm!

Sebelum pulang kami masih mendapat Goody Bag dari Thai Alley berupa voucher makan dan dua jenis take away menu dari Thai GoGo.

 
Thai GoGo merupakan salah satu dining concept dari Culinary Concepts yang ditujukan terutama bagi masyarakat urban yang sibuk. Dengan adanya Thai GoGo tidak perlu khawatir lagi kalau sedang tidak sempat makan di restoran, kita tetap bisa menikmati menu Thai yang lezat ini di rumah, di kantor, atau di perjalanan. Masih tidak sempat mampir untuk membeli take away menu? Tenang, tersedia pula GoGo Delivery yang siap mengantar pesanan Anda, cukup dengan menghubungi 021 5797 3139.

Foto-foto yang lebih lengkap dapat dilihat di: http://andrianiwiria.blogspot.com
Supplementary Information:
Thai Alley

Gandaria City, South Lobby

Jl. Sultan Iskandar Muda, Jakarta 12240

Tel. +62 21 2900 8038

Pacific Place, 5th Floor

Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53, Jakarta 12190

Tel. +62 21 5797 3600

Email: thaialley@culinaryconcepts.asia

Facebook-Twitter-Instagram: @ThaiAlley

Thai GoGo

Pacific Place, B1 (BEI Underpass)

Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53, Jakarta 12190

Tel. +62 21 5797 3139

Twitter-Instagram: @thai_gogo
 
Recommended Dish(es):  Tod Man Pla,Som Tam,Grand Seafood Tower,Kati Sod Ma Praw Awn
 
Date of Visit: Apr 11, 2014 

Spending per head: Approximately Rp150000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 5  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Barat | Restaurant | Steak & Grills | Halal | Kencan / Berpasangan | Kumpul Keluarga

Awal Februari ini saya mendapat undangan untuk menghadiri food tasting yang diadakan oleh Outback Steakhouse cabang Kuningan City. Acara yang bertajuk Steakopedia ini ternyata bukan sekedar food tasting biasa, karena selain untuk lebih mengenal menu-menu Outback Steakhouse, kami juga mendapatkan pengetahuan tentang steak yang cukup lengkap.
Hello!

Hello!

 
Outlet Outback Steakhouse di Kuningan City cukup luas dan menempati area strategis yang tidak jauh dari pintu masuk. Kesan hangat dan nyaman terpancar dari interior resto yang didominasi unsur kayu pada lantai dan meja-kursi makannya, berpadu dengan lampu-lampu gantung dan lukisan yang berkesan modern dan catchy. Ornamen dengan style Aborigin tampak menghiasi beberapa bagian di restoran asal Amerika bergaya Australia ini.

Acara dibuka dengan perkenalan singkat dari pihak Outback Steakhouse, kemudian tanpa berlama-lama dimulailah "Steak Lesson" yang dibawakan langsung oleh Mr. Dilip Khrisnan, head of marketing Outback Steakhouse for Southeast Asia. Mr. Dilip menjelaskan dengan lengkap segala sesuatu tentang steak, mulai dari jenis-jenis daging sapi, cutting, dan cara memasaknya hingga siap terhidang untuk konsumen. Beberapa tips memilih steak yang enak dan berkualitas juga beliau bagikan, tentunya ini sangat bermanfaat untuk saya yang tergolong tidak berpengalaman soal steak.
Steakopedia presentation

Steakopedia presentation

 
Satu catatan yang ingin saya bagikan disini adalah mengenai tingkat kematangan daging (steak doneness) yang penting diketahui dalam memilih steak:
- Raw (mentah): Memang jarang menu yang disajikan raw, contohnya Carpaccio dan Steak Tartare
- Blue Rare: Daging dimasak secara cepat sehingga hanya bagian luarnya saja yang berubah warna, sedangkan bagian dalam masih merah seluruhnya karena tidak terkena panas. Daging yang dimasak pada tingkat kematangan ini sering disebut dengan istilah populer blood rare atau bloody as hell.
- Rare: Warna bagian luarnya sudah abu-abu kecoklatan, sedangkan bagian dalamnya 75% masih berwarna merah.
Medium Rare: Sedikit lebih matang dari rare dengan bagian dalamnya 50% masih berwarna merah.
- Medium: Sudah lebih matang dengan menyisakan bagian dalamnya 25% masih berwarna pink
- Medium Well: Daging sudah cukup matang tetapi menyisakan sedikit bagian berwarna pink kecoklatan di bagian dalam.
- Well Done: Daging sudah benar-benar matang hingga ke bagian dalamnya 100% berwarna coklat. Biasanya daging sudah tidak juicy lagi dan cenderung keras, sehingga kurang bisa dinikmati rasa dagingnya.
- Overcook: Sudah melewati tingkat well done dimana daging sudah gosong di bagian luar, terasa pahit, dan tekstur daging sudah sangat kering/keras.
Outback Steakhouse sendiri menggunakan daging sapi jenis USDA "Choice" Certified Angus Beef yang berkualitas tinggi namun masih tergolong terjangkau. Ini merupakan pilihan tepat karena kualitasnya tidak diragukan dan harga yang "bersahabat" akan bisa menjangkau lebih banyak konsumen. Daging diimpor dalam keadaan beku (frozen) dan utuh, kemudian disimpan di lemari pendingin pada suhu tertentu. Daging ini akan dibiarkan dalam pendingin selama 3-5 hari, kemudian dimasak selama 2-3 hari menjadi aged beef.
Usai penjelasannya, kami berkesempatan tour ke dapur Outback Steakhouse untuk melihat langsung proses memasak steak yang tadi sudah kami dapatkan "teori"nya. Suatu keberanian besar jika restoran memperlihatkan seluruh bagian dapurnya kepada konsumen, terbukti memang dapur Outback Steakhouse ini memiliki standar yang sangat baik. Dapurnya bersih, tidak terlalu besar, namun semuanya tertata baik dan penempatannya efisien.
Tour to Outback's kitchen!

Tour to Outback's kitchen!

 
Kami juga melihat langsung tim dapur sedang memasak hidangan makan siang yang nanti akan kami santap, dimulai dari memotong daging, dibumbui dengan 17 macam bumbu spesial, dan di-grill sesuai pesanan. Outback Steakhouse menggunakan pemanggang jenis Flat Top dengan 3 bagian temperatur yang berbeda untuk menghasilkan tingkat kematangan sesuai pesanan konsumen. 
Flat Top Grill

Flat Top Grill

 
Tak hanya kualitas daging saja yang harus prima, sayuran untuk side dish pun harus segar dan berkualitas baik. Semua sauce atau dressing yang digunakan pada menu juga dibuat fresh setiap hari sehingga kualitasnya terjaga. Sehabis dari dapur rasanya jadi makin tidak sabar untuk langsung mencicipi makan siang kami, karena tadi sudah melihat dan mencium aromanya yang wangi menggoda. Baiklah, mari makan siang!

Bottomless Iced Tea (IDR 25,9k)
Iced tea merupakan minuman "sejuta umat" yang cocok dengan berbagai hidangan. Demikian pula dengan iced tea di sini, tehnya tidak terlalu pekat ataupun encer, serta aromanya tidak terlalu kuat sehingga bisa menetralkan berbagai rasa di lidah setelah makan. Bagi yang suka minum banyak, kata "bottomless" tentunya jadi pertimbangan penting untuk memilih menu yang satu ini ya.. hehe..

Complimentary Bread
Rotinya lembut dan enak, disajikan dengan plain butter. Khusus untuk roti ini, Outback Steakhouse memesannya dari sebuah produsen roti ternama, dengan resep khusus yang hanya dimiliki oleh Outback Steakhouse saja.

 
Soup of the day:
Chicken and Mushroom Cream Soup (Cup: IDR 29,9k / Bowl: IDR 34,9k)
Saya suka cream soup yang kental dan creamy. Beberapa teman berkomentar supnya terlalu kental, tapi buat saya tidak ada masalah selama rasanya lezat dan tidak bikin eneg... dan yang satu ini enak lhoo!

 
Crispy Fried Mushrooms (IDR 69,9k)
Lightly breaded and fried mushrooms, served with spicy ranch dressing.
Yummy Mushroom!

Yummy Mushroom!

 
Fried mushroom is my favourite! Saya tidak akan melewatkan kesempatan mencicipi menu ini hampir di manapun saya menemukannya. Terlebih lagi fried mushroom dari Outback Steakhouse memang enak sekali karena tepungnya tidak terlalu tebal namun membalut sempurna dan bumbunya pas. Lebih lengkap lagi dicocol dengan spicy dressing-nya yang tidak pedas justru cenderung asin tapi jadi balance karena jamurnya sendiri tidak asin.
Spinach Artichoke Dip (IDR 89,9k)
A creamy blend of spinach, artichokes, Monterey Jack and Parmesan cheese, baked until bubbly. Served with tortilla chips.

 
Sebuah menu baru dari Outback Steakhouse yang belum tercantum di buku menu. Kami beruntung mendapat kesempatan mencobanya sebelum di-launching secara umum. Saya suka tortilla chips-nya yang renyah dan berbumbu pas, bahkan sudah enak dimakan tanpa cocolan. Spinach artichoke dip-nya sendiri buat saya pribadi tidak terlalu istimewa karena rasanya "datar" saja. Aroma dari Monterey Jack dan parmesan cheese yang saya harapkan terasa dominan pun ternyata samar-samar saja. Saya justru lebih sering mencomot tortilla chips-nya saja, lagi dan lagi...
MAIN COURSE
Grilled Salmon (IDR 129,9k)
A boneless Salmon fillet, seasoned an grilled , then served with fresh seasonal veggies and rice pilaf.
I love salmon!

I love salmon!

 
Senangnya ketika membaca ada pilihan menu non beef di daftar menu hari itu. Ketika saya tanyakan ke waitress, dikatakan bahwa pilihannya hanya satu yaitu salmon steak. Ya, dengan segera saya setujui karena salmon merupakan favorit saya, and I definitely won't eat red meat that day! Salmon steak terhidang dengan cukup menarik bersama sayuran dan pilaf rice. Awalnya (dan memang standar menunya demikian) tidak ada sauce yang menyertai, tetapi kebetulan sebelum makan saya sedikit ngobrol dengan Mba Rima, kemudian beliau menawarkan remoulade sauce sebagai pelengkap. Tentunya saya tidak menolak, karena salmon steak tanpa sauce apa-apa rasanya "sepi". Saya suka sauce yang rasanya mirip tartar sauce ini, hanya memang (lagi-lagi) agak terlalu asin. Potongan salmonnya cukup besar, di-grilled dengan sempurna pada tingkat kematangan yang pas. Dagingnya masih cukup empuk, walaupun tidak terlalu juicy tetapi tidak sampai "dry" atau keras. Tampilan luarnya juga cantik dengan garis-garis bakaran yang tidak terlalu gosong. Disajikan dengan sedikit sayuran dan potongan lemon yang menjadikan tampilan di piring saya terlihat "berwarna".
Prime Rib 8oz (IDR 249,9k)
Meticulously aged, then slow-roasted to seal in the savory beef flavor and to ensure tenderness, hand-carved to order and served with our mouth-watering au jus. Or, have it oven roasted slowly then seasoned and seared to perfection.
Outback's speciality!

Outback's speciality!

 
Prime Rib merupakan menu best seller di Outback, tapi karena sehari sebelumnya saya baru saja makan steak, dengan terpaksa saya tidak memilih menu ini. Saya hanya mencicip sepotong dari menu pilihan teman. Disajikan dengan mashed potato, sayuran, dan au jus sauce. Teman saya memesan tingkat kematangan medium well, dan beliau agak menyesal karena seharusnya akan lebih enak jika memesan yang medium. Menurut saya pribadi dagingnya masih empuk, cukup lembut, dan tentunya lezat dengan bumbu spesial Outback. Au jus-nya sendiri tidak begitu diperlukan karena rasanya agak terlalu asin (menurut saya dan juga teman saya). Mashed pototo masih sedikit chunky dan memang tidak dibuat lembut/creamy, tetapi dibumbui dengan baik sehingga enak rasanya.
Outback Special 8oz (IDR 219,9k)
Our signature sirloin is seasoned with bold spices and seared just right.

 
Saya tidak sempat mencoba menu yang satu ini, hanya melihat pesanan milik tetangga sebelah. Saya tidak berani mencoba karena tingkat kematangan yang dipesannya adalah medium rare, sedangkan limit saya untuk steak hanya sampai medium hehehe. Menurut sang tetangga, dagingnya juicy dan tingkat kematangan yang didapat pas seperti keinginannya.
Fish and Chips (IDR 89,9k)
Tender fish fillet, battered and deep fried until golden brown. Served with Aussie Fries and homemade tartar sauce.

Saya juga tidak mencoba menu ini, karena merupakan pesanan tetangga yang agak jauh tempat duduknya. Dari tampilannya sebenarnya saya cukup tergoda untuk mencoba, karena fish fillet terlihat crispy dalam balutan tepung yang digoreng pas pada tingkat golden brown. Berbeda dengan saya yang ditawarkan menu salmon sebagai pengganti steak, tetangga yang satu ini hanya ditawarkan Fish and Chips saja oleh waitress. Wah, beda waitress beda menu ya rupanya?

DESSERT
Chocolate Thunder from Down Under (IDR 69,9k) for share
Fresh-baked pecan brownie is crowned with rich vanilla ice cream, drizzled with our classic warm chocolate sauce and finished with chocolate shavings and whipped cream. A chocolate lover’s dream.
Like a thunder in my mouth!

Like a thunder in my mouth!

 
Ini dia dessert andalan Outback Steakhouse. Sebenarnya menu ini simple saja, brownies dengan es krim, tapi karena semuanya home made maka rasanya jadi spesial. Brownies coklatnya mantap dan es krimnya tidak terlalu manis, so yummy! Sang Chocolate Thunder ini pun menjadi penutup yang tak terlupakan untuk Steakology kami siang itu.
Oh ya, Outback Steakhouse juga mempunyai paket lunch special yang cocok untuk arisan atau gathering bersama teman dan keluarga. Dengan harga mulai dari Rp 159.900++ per pax, sudah bisa menikmati lunch lezat berkualitas dari Outback Steakhouse. Untuk info lengkap dan reservasi bisa langsung menghubungi ketiga cabang Outback Steakhouse di Jakarta.

Untuk foto-foto yang lebih lengkap bisa dilihat di http://andrianiwiria.blogspot.com
Supplementary Information:
Outback Steakhouse

Pondok Indah Mall (Tel. +62 21 750 6771)

Ratu Plaza (Tel. +62 21 725 2188)

Kuningan City Mall (Tel. +62 21 3048 0505)

Facebook: Outback Steakhouse Indonesia Twitter: @OutbackIN

Website: www.outback-sea.com
 
Recommended Dish(es):  Prime Rib,Chocolate Thunder from Down Under,Grilled Salmon,Crispy Fried Mushrooms,Prime Rib 8oz,Chicken and Mushroom Cream Soup,Spinach Artichoke Dip
 
Table Wait Time: 10 minute(s)


Date of Visit: Feb 01, 2014 

Spending per head: Approximately Rp120000(Lunch)

Dining Offers: Tasting Event


Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 5  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Roti & Kue

Suatu siang di bulan Februari 2013, teman kantor saya memberi info bahwa ada toko kue yang baru dibuka di area tidak jauh dari kantor, bisa dicapai dengan berjalan kaki saja dari kantor kami di Lebak Bulus. Bahkan teman saya membawakan business card toko kue tersebut yang berdesain simple tapi cukup cantik. Teman saya baru saja dari sana, dan katanya cake shop ini sedang memberikan free trial untuk semua tamu selama 2 hari. Well, sungguh menarik sebenarnya.. tapi berhubung jam istirahat sudah habis, saya pun berencana untuk mengunjunginya keesokan hari saja, toh memang free trial-nya berlangsung sampai besok.

Keesokan harinya, dengan excited saya berkunjung ke Jakarta Cake House yang dimaksud itu. Saya mengajak seorang teman kantor lainnya yang kebetulan berminat juga (bukan teman yang memberi info kemarin). Cukup berjalan kaki sekitar 5 menit saja, sampailah kami di tempat tersebut. Lokasinya sudah cukup familiar untuk kami, yaitu di bagian depan (teras) dari resto Warung Abah yang sudah cukup dikenal. Tokonya benar-benar 'minimalis' karena memang hanya menempati bagian teras dari resto, dengan satu etalase kaca, satu steamer untuk makanan hangat dan meja panjang tempat meletakkan display kue-kue kering atau makanan yang bisa dipajang di display terbuka. Meja untuk customer hanya ada dua saja, kecil, dengan dua atau tiga kursi masing-masingnya. Minimalis ya? Kalau sedang ramai, customer harus pasrah menunggu atau pesan take away saja nih...

Beruntung saat kami datang cake shop sedang benar-benar sepi. Kami disambut sapaan ramah dua orang waiter dan seorang bapak yang rupanya adalah 'chef' cake shop ini. Waiternya menjelaskan bahwa setiap customer bisa mencoba maksimal dua macam hidangan yang tersedia. Ketika kami tanyakan apakah bisa membeli jika ingin mencoba varian yang lainnya, mereka menjawab bahwa selama masa free trial ini semua makanan tidak dijual.. jadi khusus untuk icip-icip saja. Baiklah... kami datang berdua, berarti seharusnya bisa mencoba maksimal empat varian. Sambil memilih-milih makanan yang mau dicoba, saya sedikit 'melobi' bapak chef tadi. Alhasil, saya pun mendapatkan dua jenis makanan tambahan lagi... senangnya!

http://static1.id.orstatic.com/UserPhoto/photopending/0/KC/0040NQ4EC58385B3E0A2BBc.jpg
Siomay Jamur
Siomay adalah salah satu makanan favorit saya. Kapan pun di mana pun, setiap ada siomay pasti ingin saya coba. Sejak awal datang saya sudah melihat siomay ini tertata di steamer transparan, pastinya jadi pilihan pertama saya! Siomay jamur ini menjadi satu alternatif yang akan menyenangkan para vegetarian atau bahkan vegan sekalipun, karena sama sekali tanpa daging dan ikan. Siomay disajikan lengkap dengan bumbu kacang dan saus-kecap-jeruk limau dalam wadah terpisah. Saya suka dengan plating-nya yang minimalis dan cantik ala resto bintang lima ini. Tampilan sudah ok, lalu bagaimana dengan rasanya, ya? Rasa jamurnya masih cukup terasa, tekstur siomaynya lembut dan tidak terlalu banyak campuran tepungnya. Bentuknya rapi cantik dengan sebutir kacang polong sebagai pemanis di bagian atasnya. Siomay enak belum lengkap tanpa bumbu kacang yang lezat, tapi sayang bumbu kacang disini tidak bisa dibilang enak karena masih terasa aroma kacang yang diblender. Saya pernah mencoba membuat bumbu siomay sendiri di rumah dengan mengikuti resep dari majalah, dan gagal alias tidak enak... nah seperti itulah rasanya bumbu siomay di JCH ini. Mungkin buat orang lain bumbu siomay tidak masalah, tapi bagi penggemar siomay seperti saya, JCH perlu improve lebih banyak lagi untuk bumbu siomaynya.

http://static1.id.orstatic.com/UserPhoto/photopending/0/KC/0040NO439A7E4988C3C7ACc.jpg
http://static4.id.orstatic.com/UserPhoto/photopending/0/KC/0040NP6CBABD67BD194134c.jpg
Pudak Jagung
Penganan tradisional dari Manado ini baru pertama kali saya coba di JCH. Bentuknya sederhana tapi cukup menarik, tampilannya di foto ini jadi seperti mini pocong tapi berwarna kuning ya... hihihi... *imajinasi yang agak berlebihan*. Penganan ini sebenarnya sederhana baik dari bentuk, bahan-bahan, dan cara membuatnya. Bahannya hanya terdiri dari jagung pipilan, kelapa parut, dan santan.. that's all! Jika suka manis bisa ditambahkan gula pasir dan essence vanilla agar lebih harum. Semua bahan diaduk merata, kemudian dibungkus dalam klobot (kulit) jagung lalu dikukus. Sesederhana itu, tapi rasanya enak lho! Pudak jangung yang masih hangat akan terasa manis, legit, seberkas asin, dan ada unsur creamy dari santannya, tetapi keseluruhan tetap light. Tadinya saya mengira penganan ini memakai sedikit susu pada bahannya, tapi ternyata sama sekali tidak. Kulit jagung selain sebagai pembungkus juga berperan memberikan aroma khas yang tidak tergantikan.

Kroket Mini
Ini adalah pilihan teman saya, dan karena bentuknya sudah mini maka saya tidak ikutan mencicipinya.. sekali caplok juga habis, sih.. Menurut teman saya rasanya enak dan kentangnya lembut.

http://static4.id.orstatic.com/UserPhoto/photopending/0/KC/0040NN0DFA2B3167E1C74Cc.jpg
Klappertaart Mocca
Sebuah inovasi yang simple tapi berhasil. Klappertaart original untuk saya pribadi biasanya terasa agak 'berat' dan kadang bikin eneg. Disinilah peran aroma mocca untuk menetralisir rasa eneg tersebut. Klappertaartnya enak, kelapa mudanya pas (tidak terlalu muda atau terlalu tua), di bagian atas bertabur kismis dan kenari cincang yang menambah tekstur, dan yang penting tidak ada aroma cinnamon yang tidak saya sukai itu. Aroma mocca itulah yang menggantikan cinnamon.. hmm, harumnya pas, tidak terlalu kuat tapi masih jelas terasa. Porsinya memang terbilang kecil, tapi justru pas untuk saya.. kalau mau makan lebih banyak tinggal order dua buah atau lebih, fleksibel kan?

Carrot Cake
Awalnya saya ragu mencoba cake yang satu ini, karena saya tidak suka aroma wortel yang diblender atau di-juice. Antara ragu dan penasaran akan rasanya, untung saya beranikan diri juga untuk mencobanya. Ternyata enak! Manisnya pas dan aroma wortelnya masih terasa tapi tidak terlalu kuat seperti yang saya takutkan. Rupanya wortelnya diparut bukan diblender, terlihat di dalam cake masih terdapat serpihan-serpihan orange tipis. Tekstur cake terasa agak kasar, tidak terlalu moist tapi tidak sampai keras juga, mengingatkan pada old fashioned cake yang dulu saya makan di masa kecil. Rasanya jadi sedikit bernostalgia ke masa lalu ketika makan cake ini...

Demikianlah cemilan saya kali ini, cukup memuaskan dan kapan-kapan pasti mampir lagi untuk mencoba yang lain. Jakarta Cake House juga menerima pesanan untuk pesta, acara kantor, arisan, dll dengan varian sesuai request, tidak terbatas pada varian yang di-display di toko saja. Selamat mencoba...

Jakarta Cake House
Jl. Lebak Bulus Raya 1 No. 10
Phone: +62 21 7515983

 

 

 

 
 
Recommended Dish(es):  Pudak Jagung,Klapertaart Mocca
 
Spending per head: Approximately Rp20000(Night Snack)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0