OpenRice Index
  
missnl
This is missnl living in Cilandak. I am a graphic designer, work in Lebak Bulus. I like to hang out in Tanjung Duren, Pondok Indah, Senayan. Bali, Chinese, Itali, India are my favorite cuisines. I also love Street Foods, Kafe, Restaurant, lounge and Siomay / Batagor, Pizza & Pasta, sate lilit bali.
Member 10 First(s)
No. of Review67 Review(s)
編輯推介數目33 Editor's Choice
Recommended8 Recommended
Popularity3693 View(s)
Replies in Forum1 Comment(s)
Upload Photos1237 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant42 My Restaurant(s)
Follow58 Following
粉絲391 Follower(s)
missnl  Level 3
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 21 to 25 of 67 Reviews in Indonesia
CNY Celebration at Le Gran Café OK Jun 27, 2014   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Multinasional | Kafe

Chinese New Year a.k.a Imlek, biasa dirayakan dengan tradisi mengunjungi sanak saudara dan kumpul-kumpul makan bersama. Biasanya pula, yang usianya lebih muda selayaknya mengunjungi yang lebih tua. Saya masih ingat masa kecil dulu setiap Imlek cukup "menunggu" di rumah nenek saya karena beliau yang tertua, jadi adik-adik nenek beserta keluarganya pasti akan berkunjung kesana. Seiring berkurangnya generasi nenek saya yang satu demi satu tiada, sekarang tradisi tersebut sudah nyaris "punah" di keluarga besar kami. Kalau pun berkumpul hanya terbatas pada keluarga dari saudara kandung papa saja, sisanya cukup dengan saling telepon, SMS, Whatsapp, BBM, atau melalui social media lainnya. What a modern world!
Di tahun 2014, Imlek menyambut datangnya tahun Kuda Kayu ini dirayakan dengan makan siang bersama keluarga besar papa di Le Gran Café, Hotel Gran Mahakam.
Saya sudah pernah mendengar tentang Le Gran Café dari teman-teman food blogger dan mereka memberi testimoni yang bagus untuk makanannya, tentunya saya jadi mempunyai ekspektasi tinggi untuk restoran ini.
Welcome!

Welcome!

 
Lokasi hotel ini sangat strategis di daerah Mahakam yang ramai, sekaligus sangat familiar karena hanya beberapa langkah di belakang gereja saya. Bangunannya dari luar cukup eye catching dengan gaya Eropa klasik, terlihat berbeda dari gedung-gedung di sekitarnya. Area lobby hotel juga tidak begitu luas, namun tetap ditata dengan apik dengan permainan lighting. Lobby hotel dihiasi pernak-pernik Imlek didominasi warna merah dan kuning keemasan, termasuk tebaran coklat berbentuk kepingan uang emas yang boleh diambil oleh tamu. Ada pula satu spot khusus berupa ruangan kecil dilengkapi dua buah kursi, yang disediakan untuk para tamu berfoto-foto ria dengan nuansa Imlek.
Yellow and gold

Yellow and gold

 
Le Gran Café terletak di lantai Mezzanine yang bisa dicapai dengan tangga atau lift. Mengikuti bentuk gedung hotelnya, buffet restaurant ini memanjang seperti sebuah lorong dengan jarak ujung ke ujung yang cukup panjang. Makanan ditempatkan di sepanjang tepi-tepi ruangan tersebut, jadi untuk mengambil makanan kita perlu berjalan-jalan menjelajahi hampir seluruh penjuru ruangan jika ingin mencoba semua variannya. Di tengah ruangan ada bagian yang dijadikan semacam panggung untuk live music dan band kecil.

 
Interior restoran masih senada dengan konsep bangunan hotelnya yaitu Eropa klasik, yang terlihat dari detail-detail ruangan, perpaduan lantai parket kayu dan marmer, serta tirai tebal yang menghiasi jendela. Konsep klasik ini berpadu cantik dengan gaya modern minimalis yang terlihat dari bentuk meja-kursi makan, station makanan berwarna hitam, serta lampu gantung logam berwarna emas-hitam sebagai aksen ruangan. Cermin-cermin besar ditempatkan di beberapa bagian untuk memberi kesan lebih luas pada ruangan.

Detail-detail di meja makan juga diperhatikan dengan baik mengikuti tema Imlek. Di setiap meja terdapat ornamen kecil seperti vas bunga simple dan semangkuk kecil jeruk mini yang memang selalu ada saat Imlek. Lumayan nih, bisa untuk cemilan selagi menunggu hehehe...

 
Saat kami tiba di restoran sebenarnya sudah mendekati jam makan siang yaitu sekitar jam 12, tetapi restoran masih lengang. Hidangan di beberapa station makanan pun tampaknya ada yang belum siap. Kami sempat menunggu lebih dari 30 menit sebelum akhirnya bisa mulai acara makan siang. Agak aneh juga melihat ketidaksiapan restoran kelas hotel bintang lima ini, apalagi di hari raya besar dimana pastinya akan lebih banyak customer yang datang. Bukankah seharusnya lebih well prepared dibanding hari-hari biasa, ya?
Baiklah, mari mulai makan saja…
Chinese Tea
Free flow Chinese tea sudah termasuk dalam paket buffet disini. Tehnya tidak terlalu pekat dan tidak pahit, baik untuk menetralisir rasa di lidah sehabis makan berbagai menu aneka rasa. Disajikan dalam cawan kecil yang umum tersedia di Chinese restaurant, dan selalu diisi ulang jika sudah kosong.

Seafood Area

 
Satu tempat besar berisi tiram, kepiting, dan udang yang diletakkan di atas es sehingga tetap segar. Terdapat serangkaian buah ukir yang sangat cantik di bagian tengahnya yang justru lebih menarik minat saya untuk mengamatinya. Area seafood ini bersebelahan dengan aneka sushi dan salad terletak di antaranya.
Mixies!

Mixies!

 
Sebagai menu pembuka saya menggabungkan udang rebus dengan fruit salad dan potongan ham. Saya suka udangnya karena masih segar, tidak lembek, dan tidak berbau. Yum!

Salad in Mini Glass
Ada 3 macam salad yang tersedia, satu fruit salad dengan mayonnaise (yang tadi saya pasangkan dengan udang rebus) dan dua mixed vegetable salad dengan 1000 island dressing. Semua salad sudah disajikan lengkap bersama dressing dalam gelas kaca mini sehingga lebih praktis, tidak berantakan, juga tampil lebih menarik. Saya tidak bisa terlalu membedakan antara kedua vegetable salad itu karena isinya sudah terbalut dressing, yang penting semuanya enak.. hehe..

Assorted Sushi
Tentunya saya hanya mengambil sushi yang tidak ada isi ataupun topping ikan mentahnya. Potongan sushi cukup besar sampai memenuhi mulut ketika disantap dalam sekali suapan, tapi rasanya enak. Sebenarnya tersedia pula salmon nigiri dan sashimi, yang tentunya tidak akan menjadi pilihan saya.

Beef Tenderloin
Time for red meat, and it's yummy!

Time for red meat, and it's yummy!

 
Yeah, saatnya makan daging! Tentunya sedikit saja karena saya memang tidak terlalu menyukai red meat. Dagingnya dipotongkan langsung sesuai porsi yang kita inginkan, lalu kita bisa memilih sendiri sausnya. Tersedia tiga macam saus yaitu barbecue, peppercorn, dan mushroom. Saya memilih mushroom sauce ditambah sedikit peppercorn sauce. Dagingnya empuk dan tidak berlemak sama sekali (ini yang saya suka!), dimasak pada tingkat kematangan antara medium well-mendekati well done. Sausnya enak, kekentalannya pas, dan rasanya balance. Antara kedua sauce yang saya coba warnanya sama, tidak jauh berbeda dari segi rasa, dan sepertinya menggunakan base yang sama. Kalau harus memilih, saya paling suka mushroom sauce karena terdapat potongan-potongan jamur champignon yang cukup banyak di dalamnya.

Noodle Soup
Berisi mie keriting halus, jamur enoki, sayuran, dan potongan kepiting yang sudah digoreng dengan balutan tepung, kemudian disiram kuah kaldu. Kuahnya light dan rasanya gurih tidak terlalu asin. Mie keritingnya bertekstur lembut tidak kenyal, hanya saya agak malas makan kepitingnya karena masih bercangkang dan berbalut tepung sehingga makin sulit diambil dagingnya.

Carrot Cake
Setelah menunggu sejenak, carrot cake yang baru di-pan fried tersaji hangat dengan cocolan sambal. Terdapat tiga varian yang hanya berbeda di topping campuran carrot cake-nya, tapi overall rasanya sama saja. Saya justru suka sekali sambalnya yang menggunakan terasi dan ebi, serta tidak pedas.

Assorted Dim Sum
Tersedia dim sum rebus dan goreng, serta ceker ayam (yang tentunya tidak akan saya pilih). Tidak ada yang istimewa dengan kategori dim sum ini, variannya umum dan rasanya standar saja.

Bird Nest Dumpling Soup
A must try!

A must try!

 
Menu spesial yang hanya tersedia pada special occasion seperti sekarang ini, beruntung saya bisa mencobanya. Sarang burung walet sebenarnya tidak mempunyai rasa spesifik yang mempengaruhi keseluruhan rasa masakan, hanya diistimewakan karena katanya berkhasiat untuk kesehatan dan harganya yang selangit. Ok, supnya memang lezat dengan kuah kaldu yang agak bening dan masih terbilang light. Di dalam sup terdapat sebuah dumpling dan potongan kepiting yang sudah digoreng dengan tepung sebelumnya. Saya malah tidak menemukan wujud sarang burung waletnya, apakah sudah dihancurkan sama sekali atau masuk di dalam dumplingnya mungkin. Menu ini disaikan dalam mangkuk keramik bertutup dan selalu diletakkan di steamer sehingga tersaji dalam keadaan panas. Saya suka kuah supnya, apalagi diseruput ketika masih hangat, hanya sedikit terlalu asin untuk saya pribadi.

Cakes, Pie & Eclair

 
Karena sudah hampir kekenyangan, terpaksalah saya menyeleksi pilihan menjadi mini roll cake coklat, mini lychee pie, mini strawberry shortcake, dan sebuah eclair pink. Overall rasanya standar, tapi saya paling suka mini roll cake coklatnya bcoz I'm a chocoholic!

Es Lobi-Lobi
Favorite dessert of Le Gran Cafe

Favorite dessert of Le Gran Cafe

 
Dessert satu ini merupakan andalan Le Gran Café yang direkomendasikan oleh teman-teman food blogger saya. Sederhana saja berupa asinan lobi-lobi yang sudah dimasak dengan air gula, ditambah es serut dan butiran jelly bulat. Meskipun perut sudah hampir habis limitnya, saya coba juga satu porsi karena penasaran dengan rasanya. Ternyata… memang es lobi-lobi ini boleh jadi andalan. Asam, manis, plus sebersit rasa asin bisa kita rasakan disini, kalau lagi ngantuk dijamin segar kembali, deh!
Yellow Barongsai

Yellow Barongsai

 
Khusus pada kesempatan Hari Raya Imlek ini Le Gran Café memberikan compliment berupa Barongsai performance, Yee Shang Ceremony, Fortune Teller, dan free photo capture & printing.

Apakah itu Yee Shang Ceremony?
Ya, saya pun baru kali ini mengikutinya. Konon ini adalah tradisi dari China yang biasa dilakukan pada saat Imlek yang melambangkan pengharapan mendapatkan banyak rejeki di tahun baru.

 
Upacara ini dilakukan belakangan, pada saat para tamu umumnya sudah selesai makan, jadi semua bisa ikut serta tanpa terganggu acara makannya. Urutan upacara sudah terlampir di setiap meja, dimulai dari memasukkan komponen-komponennya dengan urutan tertentu hingga mengaduknya bersama-sama. Setiap langkah ada istilah dan maknanya tersendiri, maka sebaiknya dilakukan pas sesuai urutan. Begitulah menurut tradisinya... boleh percaya, tidak percaya pun tak apa.

Acara CNY Brunch diakhiri dengan foto bersama setiap keluarga atau per meja oleh fotografer dari Le Gran Café. Tak berapa lama foto-foto tersebut sudah di-print dan dibagikan kepada para tamu sebagai kenang-kenangan.
Overall makanan di Le Gran Café cukup memuaskan. Ragam menunya banyak (bahkan ada beberapa yang belum saya cicipi sama sekali karena sudah terlalu kenyang), rasanya rata-rata enak, dan presentasinya diperhatikan dengan baik pula. Untuk pelayanan tergolong baik dengan waiter dan waitress yang cukup banyak jumlahnya sehingga tamu bisa terlayani dengan baik, terutama dalam hal mengambil piring-piring kotor dan refill minuman. Tak heran jika resto ini sering dijadikan tempat gathering atau arisan ibu-ibu, demikian menurut tante saya yang memang sudah sering arisan di sini.

Review dan foto lebih lengkap dapat dilihat di sini: http://andrianiwiria.blogspot.com/2014/04/cny-celebration-at-le-gran-cafe.html
Supplementary Information:
Pilihan makanan banyak namun letaknya tersebar di sepanjang area restoran, jadi berkelilinglah sampai ke ujung untuk mencicipi semua jnis makanannya.
 
Recommended Dish(es):  Es Lobi-Lobi,Sushi,Bird Nest Dumpling Soup,Beef Tenderloin,Assorted cakes and pie,Es Lobi Lobi,Shrimp salad and ham,Seafood corner
 
Table Wait Time: 10 minute(s)


Date of Visit: Jan 31, 2014 

Celebration:  Chinese New Year 

Spending per head: Approximately Rp400000(Lunch)

Dining Offers: family gathering


Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jepang | Restaurant | Kumpul Keluarga

Sukses dengan outletnya di Mall Taman Anggrek, Marugame Udon kini membuka cabang keduanya di Gandaria City. Berlokasi di lantai UG, Mainstreet Dining Area, Marugame Udon cukup mudah ditemukan dengan outletnya yang sangat strategis dan bergaya khas Jepang.

Saya bersama sahabat baik saya berkunjung di hari Minggu, 4 Agustus 2013 pukul 5 sore. Mengingat masih dalam bulan Ramadhan, ini sekaligus jadi acara buka puasa bersama dengan teman-teman. Saya dan beberapa teman datang lumayan 'kepagian', tapi bagusnya kami bisa melihat suasana resto saat masih cukup sepi dan puas mengamati interiornya. Marugame Udon menempati area yang cukup luas, terdiri dari dapur dan area makan yang agak 'menyebar'. Dapurnya terletak di bagian hoek sehingga strategis terlihat dari beberapa arah. Letak dapur dan konsep open kitchen menjadi daya tarik bagi konsumen, bahkan mungkin yang semula hanya sekedar lewat bisa jadi tertarik makan disini setelah melihat proses masak di dapur yang sibuk ini. Selain memperlihatkan proses pembuatan udon from scratch sampai akhirnya siap disantap, dapur yang serba terbuka ini juga memperlihatkan betapa faktor kebersihan sangat dijaga. Dapur harus selalu bersih, teratur, dan semua karyawan harus memakai seragam lengkap dengan topi dan sarung tangan.

Area makannya dapat dikatakan terbagi menjadi 3 bagian, masing-masing dengan suasana yang berbeda. Satu area terletak di bagian bridge dari mainstreet area, agak terpisah di seberang dapur, dengan lantai kayu dan beberapa partisi kayu sebagai 'pagar' area ini. Satu area yang cukup menarik adalah area outdoor/balkon yang memanjang tepi jalan tempat orang lalu lalang, dengan beberapa meja kecil di tepi balkon dan satu meja panjang seperti meja bar yang menghadap ke balkon. Satu area lagi (yang kami tempati) berada di sebelah dapur dengan dinding berlapis batu alam gelap dan sebuah lukisan Gunung Fuji yang cukup besar. Meja-kursinya dari kayu coklat gelap dan pernak-pernik simple bernuansa Jepang tersebar di seluruh area, menjadikan suasana benar-benar seperti sebuah kedai di Jepang.

 

 
Hadir menemani kami saat itu, Edwin Ray (Digital PR Executive) dan Eka Sri Utami (PR Manager) yang menceritakan secara singkat tentang Marugame Udon. Food chain yang berasal dari Jepang ini sudah tersebar di berbagai negara, dan awal 2013 membuka outlet pertamanya di Mall Taman Anggrek. Seperti konsep aslinya di Jepang, sistem self service juga diterapkan di sini. Self service yang dimaksud yaitu customer mendatangi counter untuk memesan udon, pilih dan ambil sendiri tempura yang diinginkan, langsung membayar di kasir, nikmati makanannya, kemudian setelah selesai makan bereskan peralatan makan dari meja untuk diletakkan di tempat yang tersedia. Sayangnya untuk langkah terakhir ini baru tersedia di outlet Mall Taman Anggrek saja. Semoga ke depannya bisa diterapkan juga di outlet Gandaria City, karena konsep ini bagus untuk melatih customer agar tidak 'manja' dan selalu minta dilayani.

 
Mengusung tagline "Freshly Cooked Udon & Tempura", Marugame sangat serius menjaga kesegaran makanan mereka. Udon yang sudah dimasak dan tempura yang sudah digoreng jika tidak terjual dalam waktu 15-20 menit maka akan langsung dibuang dan diganti baru. Jadi bisa dipastikan setiap konsumen akan selalu mendapat udon dan tempura yang baru dimasak. Terdapat supervisor asli orang Jepang yang terlihat mengawasi dan mengatur 'flow' di dapur maupun di resto. Jika seluruh tempat duduk sudah terisi, maka order akan di-stop untuk sementara sampai ada tempat kosong lagi. Jadi customer tidak perlu khawatir tidak mendapat tempat duduk setelah memesan makanan. Saat resto sedang ramai, customer yang sudah selesai makan pun dihimbau untuk tidak berlama-lama duduk karena harus bergantian dengan customer lainnya.

Tak perlu menunggu lama, acara segera dimulai karena resto semakin bertambah ramai mendekati jam berbuka puasa. Selagi kami mengantri untuk memesan makanan, Edwin menjelaskan menu-menu andalan Marugame Udon dan keistimewaannya. Terdapat 8 menu udon dan 10 jenis tempura, serta beberapa menu yang menggunakan nasi (donburi). Menu nasi ini menyesuaikan dengan selera konsumen Indonesia, terutama yang berprinsip "belum berasa makan kalau belum makan nasi". Satu lagi bentuk adaptasi Marugame terhadap selera orang Indonesia adalah dengan disediakannya irisan cabai rawit merah. Buat para penggemar pedas, silakan tambah cabai sesukanya, bebas ambil sendiri… tapi kalau sampai sakit perut, resiko ditanggung sendiri yaa…
Mentai Kamatama+Chix Chilli Tempura+Beef Croquette

Mentai Kamatama+Chix Chilli Tempura+Beef Croquette

 
Mentai Kamatama Udon (IDR 50k)
Menu pesanan teman saya ini terlihat menarik dan 'berwarna' karena toppingnya cukup ramai. Udon ini tidak berkuah, tetapi menggunakan saus special dan toppingnya berupa telur ikan mentaiko, telur ayam setengah matang, serta sejumput nori diiris tipis. Sebelum dimakan, semua topping itu harus diaduk sampai merata dengan udonnya. Ketika saya cicipi.. ternyata enak, saya suka! Udonnya sendiri pas, tidak terlalu kenyal/keras, juga tidak terlalu empuk/lembek.. bisa disamakan dengan al dente pada pasta. Setelah dicampur saus, udonnya jadi terasa gurih, asin, dan sedikit ada rasa manis juga. Sama sekali tidak ada rasa amis dari telur setengah matang yang awalnya saya khawatirkan. Kalau sedang ingin makan udon yang tidak berkuah, maka Mentai Kamatama Udon ini pasti jadi pilihan tepat. Saya sebenarnya ingin mencomot lagi dan lagi, tapi kasihan nanti temanku berkurang jatahnya jadi tidak kenyang hihihi...

Chicken Chilli Tempura (IDR 7k/pc)
Menu tempura yang unik dan hanya dibuat di Marugame Indonesia saja, yaitu cabai hijau besar yang diisi daging ayam cincang. Tidak perlu takut dengan 'image' cabai yang pedas, karena tempura satu ini malah sama sekali tidak pedas. Saya suka dengan aroma cabai hijaunya yang masih cukup terasa walaupun tanpa rasa pedas. Daging ayam isiannya mirip dengan bola-bola baso ayam yang ada dalam menu tori baitang, mungkin memang bahan dan bumbunya sama.

Beef Croquette (IDR 12k/pc)
Kroket dengan campuran daging sapi di dalamnya. Kroket kentangnya lembut dan enak, tapi sedikit sulit mengambilnya dengan sumpit karena mudah hancur. Untuk lidah orang Indonesia, beef croquette ini mirip dengan perkedel kentang dengan bumbu yang berbeda.

 
Tori Baitang Udon (IDR 45k)
Setelah incaran saya keburu dipesan teman yang lain, akhirnya Tori Baitang menjadi pilihan saya karena tertarik dengan bola-bola baso ayam dan kuah kaldu putihnya yang terlihat lezat. Pertama kali pasti saya seruput kuahnya selagi masih hangat. Hmm.. kuahnya memang gurih, asinnya pas, cukup pekat tetapi tidak kental. Saya pun suka dengan baso ayamnya karena dagingnya lembut, gurih, serta rasanya asin dan sedikit manis berpadu pas. Kuah dan basonya memang sesuai dengan ekspektasi saya ketika melihat dummy atau fotonya di daftar menu, tapi.. saya agak menyesal karena memilih menu ini untuk dimakan sendirian. Mungkin menu ini sebaiknya di-share berdua atau bertiga agar bisa segera habis selagi masih hangat, karena kuah kaldunya lama-kelamaan terasa terlalu gurih apalagi saat sudah dingin. Porsi udon yang memang sudah besar untuk ukuran saya, ditambah gurihnya kuah yang terasa "berat" membuat saya lebih cepat merasa kenyang. Dengan sangat menyesal saya pun tidak bisa menghabiskan seporsi udon ini (tinggal udonnya saja yang tersisa).. maaf ya udon, nyerah!!

 
Broccoli Tempura (IDR 10k/pc)
Inilah pilihan tempura saya yang pertama. Sebenarnya saya tertarik pada tempura yang satu ini karena bentuknya yang paling besar dan menarik dengan warna hijau menyembul di antara tepung tempura yang melapisi bagian luarnya. Kebetulan yang saya ambil ini bentuknya rapi dan bisa berdiri dengan indah di piring, sehingga bagus untuk difoto. Ketika dimakan, tepung tempura di bagian luarnya renyah dan broccolinya cukup empuk tapi tidak sampai mudah hancur karena overcooked.

Kisu Tempura (IDR 10k/pc)
Tempura berisi ikan kisu di dalamnya. Saya pilih tempura ini karena penasaran seperti apa rasa ikan kisunya. Setelah dicoba, ternyata tidak ada yang terlalu istimewa dengan ikan tersebut. Daginghya putih, cukup lembut dan tidak kesat, serta tidak ada bau amis ikan.

 
Kake Udon (IDR 33k)
Udon pesanan teman saya ini simple banget, hanya udon dengan kake dashi soup plus topping tepung tempura yang menambah tekstur crunchy. Saya sempat mencicipi kuah kake dashi-nya yang bening kecoklatan… hmm, enak dan light! Sungguh tepat pilihan teman saya ini, karena kuah yang light memang menjadi kesukaannya.

 
Niku Udon (IDR 45k)
Menu ini basically hampir sama dengan Kake Udon, perbedaannya hanya pada lembaran daging sukiyaki yang terdapat di dalamnya. Kuahnya masih sama menggunakan kake dashi soup, tetapi saat saya cicipi rasanya sedikit lebih gurih dari yang di kake udon meskipun warnanya sama-sama bening kecoklatan. Daging sukiyakinya juga empuk dan teksturnya lembut, para penggemar daging pasti akan suka dengan menu ini.

Egg (Tamago) Tempura (IDR 8k/pc)
Tempura telur juga termasuk unik dan jarang ada di tempat lain, karena pembuatannya cukup sulit. Menurut standar dan dummy yang terpajang di depan, telurnya harus masih setengah matang dengan kuning telur yang meleleh ketika dibelah. Sayangnya egg tempura yang diambil oleh teman saya ini sudah lewat dari setengah matang. Kuning telurnya tidak melt lagi meskipun belum sampai mengeras semuanya juga.

Menikmati tempura tentunya tidak lengkap tanpa sausnya, dan Marugame Udon punya saus spesial yang enak. Tak seperti saus tempura umumnya yang encer, saus disini agak kental dan ada sedikit rasa manis. The best tempura sauce ever deh pokoknya… saya suka banget, dan yang penting saus ini bisa dinikmati sepuasnya karena sudah tersedia sebotol di masing-masing meja.

Untuk minumannya, makanan Jepang tentu paling pas dengan ocha. Seperti biasa saya pilih cold ocha karena saya kurang suka minuman panas. Ochanya enak, tidak terlalu pekat, tidak pahit, dan yang penting free refill.

Overall, saya puas dengan Marugame Udon. Pelayanannya cepat, makanannya enak dan harganya sesuai dengan porsinya yang mengenyangkan itu. Memang benar kata Edwin, bahwa disini tempatnya makan enak dan kenyang, bukan 'makan cantik' hehehe... Oh ya, makanan di sini semuanya no pork & no lard, tetapi memang belum mendapat sertifikat halal karena ada penggunaan mirin.

Kami memang tidak bisa duduk-duduk ngobrol berlama-lama seusai makan karena resto sedang ramai sekali malam itu sehingga harus segera memberikan tempat bagi customer lain yang masih mengantri panjang. Pastinya saya akan kembali lagi di lain waktu bersama keluarga untuk mencoba beberapa menu incaran yang tadi belum sempat saya coba.
Thanks 4 the experience tonite, Marugame Udon!

Marugame Udon
Gandaria City Mall, Level UG Mainstreet Dining Area
Kebayoran Lama, Jakarta Selatan
Facebook: Marugame Udon Indonesia Twitter: @MarugameUdonID
 
Recommended Dish(es):  Mentai Kamatama Udon,Niku Udon
 
Date of Visit: Aug 04, 2013 

Spending per head: Approximately Rp70000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
   1 Vote(s)   View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Chinese | Restaurant | Seafood | Halal | Kumpul Keluarga

Menempati lokasi baru di level 3A, satu lantai di bawah tempat lamanya di West Mall Grand Indonesia, Jun Njan yang baru lebih luas dan mempunyai beberapa private room. Ketika kami datang siang itu, antrian waiting list cukup ramai. Saya jadi agak menyesal karena tidak reservasi sebelumnya. Antrian panjang itu sempat membuat 'gentar', tapi saya mendaftar juga ke reception, dan katanya… tempat untuk 4 orang masih waiting list ke-5. Hadeuhh.. berapa lama nunggunya nih? Ya sudah, kami tunggu saja.. eh, tak berapa lama kami pun dipanggil! Ha, what a lucky moment! Rupanya memang meja untuk 4 orang sudah ada yg kosong lebih dahulu. Leganya kami bisa mendapat tempat, mengingat sudah lumayan laperrr.. hehe. Ketika awal duduk, meja kami masih kosong tanpa peralatan makan, rupanya memang baru saja dibersihkan, tapi tak lama beberapa waitress yang sigap telah menata meja kami. Tak membutuhkan waktu lama untuk memilih menu, karena kami sudah beberapa kali ke Jun Njan.

 
Sup Asparagus Telur Kepiting (IDR 32k)
Appetizer ini salah satu menu favorit kami di Jun Njan. Disajikan dalam porsi personal tapi cukup banyak jika dihabiskan sendirian, maka kami hanya pesan 2 porsi untuk berempat. Supnya kental dengan campuran putih telur dan warnanya orange kecoklatan yang larut dari telur kepiting, dan di dalamnya ada potongan-potongan asparagus kalengan. Sup harus dimakan saat masih hangat karena akan lebih enak rasanya, hangat di perut, dan gurih di lidah. Yummy!

 
Udang Rebus (Small = IDR 68k, Medium = IDR 98k, Large = IDR 138k) 
Merupakan 'menu wajib' kami kalau makan di sini, karena memang merupakan signature dish Jun Njan yang paling populer, bahkan sejak masa kecil saya. Menu ini tersedia dalam 3 ukuran yaitu S, M, L jadi bisa disesuaikan porsinya dengan jumlah orang. Kami pilih size M supaya bisa makan sepuasnya hehe.. Udangnya fresh seperti biasa, ditandai dengan teksturnya masih kenyal, warnanya orange cantik dan mudah dikupas. Udang rebus ini dimakan dengan cocolan sambal garlic racikan khas Jun Njan yang tidak terlalu pedas. Rasa manis alami dari udang segar berpadu dengan aroma garlic dari sambalnya terasa pas dan enak, jadi tak mau berhenti makan nih, kupas lagi, lagi, dan lagi... Satu kebiasaan pribadi yang mungkin berbeda dari orang lain, saya selalu mengupas udang di awal sampai terkumpul agak banyak, baru kemudian memakannya sekaligus. Buat saya jadi lebih fokus dalam menikmati rasa udangnya.

 
Tahu Spesial Jun Njan (IDR 46k)
Tahu sutra dimasak dengan saus tiram racikan spesial Jun Njan, rasanya hampir seperti sapo tahu. Tahunya lembut dan sedikit gurih, sedangkan kuah saus tiramnya kecoklatan agak kental dan pastinya enak.

 
Kailan Saus Tiram (IDR 48k)
Menu sayur harus ada untuk menyeimbangkan menu, maka kami pilih kailan yang dimasak dengan saus tiram. Meskipun sederhana, menu ini enak. Kami suka kailannya yang masih berwarna hijau segar tetapi renyah dan tingkat kematangannya pas, berarti nutrisinya tidak hilang atau rusak karena terlalu lama dimasak. Bumbu saus tiram yang disiramkan di atas kailan berwarna coklat gelap, kentalnya pas, dengan rasa asin, sedikit manis, dan pastinya gurih.. enak sekali. Rasanya sayang kalau bumbunya sampai bersisa… hehe..

 
Udang Telur Asin (IDR 88k)
Kami tahu menu ini berkolesterol tinggi, tapi rasanya yang enak sungguh menggoda, jadi guilty pleasure deh.. Udang yang cukup besar digoreng dengan tepung tipis sampai kulitnya crispy, lalu disiram saus yang terbuat dari kuning telur asin. Awalnya saya makan dengan mengupas kulit udangnya, tapi kata nyokap justru akan lebih enak jika dimakan sekaligus dengan kulitnya. Baiklah, saya coba makan dengan kulitnya (don't worry, setelah saya amati ternyata kaki udangnya sudah dibuang bersih). Benar juga… crispy-nya kulit udang, kenyalnya daging udang yang bercampur gurih saus telur asin menjadi perpaduan rasa dan tekstur yang top abiz, plus tidak perlu repot mengupas!

 
Gurame Goreng Garing (IDR 72k)
Ikan gurame digoreng kering dengan cara 'butterfly' sehingga mudah mengambil dagingnya. Sirip dan ekor ikannya crispy sekali sehingga enak dimakan juga. Saus asam manisnya berisi cukup banyak serutan wortel dan lobak yang sudah dibuat acar lebih dahulu, rasanya pas tidak terlalu asam ataupun manis. Isian wortel dan lobaknya memberikan aroma yang khas sehingga menjadikan saus asam manis ini lain dari yang lain.

 
Nasi Goreng Jun Njan (Small = IDR 35k, Medium = IDR 55k, Large = IDR 75k) 
Menu nasi goreng ini juga tersedia dalam 3 ukuran yaitu S, M, L dan kami memilih size M yang sekiranya pas untuk berempat. Sengaja kami tidak pesan nasi putih karena nasi goreng Jun Njan terkenal enak dan menjadi salah satu menu wajib kami juga. Nasi goreng chinese style berwarna kuning kecoklatan, dengan isian seafoodnya hanya udang saja, pas dengan kesukaan saya ;). Nasi goreng ini disukai oleh semua anggota keluarga karena rasanya pas dan lezat, tapi tidak sampai terlalu gurih karena kebanyakan MSG atau 'banjir' minyak.

 
Untuk minumannya kami hanya memesan Chinese Tea dan Strawberry Juice (IDR 25k) saja. Chinese tea-nya disajikan dalam poci dan refillable, sedangkan strawberry juice-nya dari fresh strawberry dan tanpa tambahan susu, tepat seperti kesukaan saya.

Makan di resto favorit keluarga pastinya menjadi "pilihan aman" karena sudah pasti semua suka, semua kenyang dan senang, termasuk saya juga. Menu yang sudah familiar, rasa makanan yang enak, serta pelayanan yang ramah dan cekatan menjadikan acara makan siang keluarga kami berakhir menyenangkan.

Jun Njan
Grand Indonesia Shopping Town
West Mall Lt. 3A Unit 8-9A (Entertainment District)
Jl. MH Thamrin No. 1 Jakarta
Phone: +62 21 23580647/48
Website: www.junnjan-seafood.com   Facebook: Jun Njan Seafood   Twitter: @JunNjan
 
Recommended Dish(es):  Udang Rebus,Nasi Goreng Jun Njan,Sup Asparagus Telur Kepiting
 
Spending per head: Approximately Rp80000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Membeli Suasana di The Rock Bar Smile Apr 10, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Lounge/Bar | Wine | Pesta | Pemandangan Laut | Hang Out

Banyaknya review tentang Rock Bar di berbagai media, membuat saya sangat tertarik mengunjunginya. Meskipun sudah melihat foto2nya di internet dan majalah, tentu belum afdol jika belum datang langsung. Maka dari itu, jauh2 di ujung Jimbaran pun saya datangi tempat ini. The Rock Bar berada di Ayana Resort & Spa, sebuah hotel eksklusif di daerah Jimbaran. Rock Bar merupakan bar terbuka (open top bar) yang sangat terkenal karena lokasinya yang unik yaitu dibangun di karang terjal setinggi 14 meter di pantai Jimbaran oleh arsitek Jepang. Bar ini bergaya modern minimalis dengan lantai kayu, bertingkat-tingkat mengikuti kontur tanahnya. Lokasi ini menjadikan Rock Bar memiliki pemandangan fantastik ke laut lepas. Untuk mencapainya, harus turun dengan semacam cable car dari halaman belakang hotel Ayana. Cable car ini berfungsi sebagai lift yang mengantar tamu datang & pulang. Untuk tamu yang menginap di Ayana Resort sebenarnya ada jalan lain bertangga tanpa harus pakai cable car, tapi tentu lebih jauh mad Dalam perjalanan dengan cable car pun pemandangannya sudah indah. Sekali jalan cable car bisa mengangkut 4-5 orang dewasa dan memakan waktu sekitar 2-3 menit.

Sampai di area Rock Bar, setiap tamu yang datang langsung disambut reception desk untuk mendaftarkan nama baru kemudian diantar oleh usher ke tempat duduk. Jadi tamu tidak bisa masuk sembarangan sesuka hati. Tamu yang menginap di hotel Ayana mendapat privillege karena bisa menempati area bar yang posisinya paling tinggi sehingga view-nya paling baik untuk menyaksikan sunset. Area bar ini baru dibuka untuk umum setelah jam 6. Karena datang agak awal, saya masih bisa mendapat tempat yang cukup strategis di area umum, yang tidak terhalang orang untuk nanti memotret sunset. Di bawah area saya duduk, ada satu bagian yang lebih rendah dengan tempat duduk sofa rotan berpadding empuk dan meja rendah, ketika saya tanyakan, tempat itu hanya untuk tamu yang akan spending 600ribu ke atas. Wow... jadi semua tempat beda harganya di sini. Jika mau dapat tempat terbaik, ada harga yang harus dibayar. Ketika sudah gelap, laut tidak kelihatan lagi, hanya suara ombak saja yang terdengar. Sebagai gantinya, tamu bisa menikmati tata cahaya yang indah disini. Memang harus sedikit hari2 melangkah karena pencahayaannya temaram. Menjelang malam bar makin ramai, terutama tamunya para ekspatriat alias bule. Jika sedang ramai begini, tamu harus pasrah jika untuk naik atau turun ke bar harus mengantri panjang untuk naik cable car.

Saya datang sekitar pk. 16.00, saat matahari masih sangat terik. Sambil memberikan buku menu, waitress pun menawarkan payung untuk menghalau panas, rupanya memang sudah diantisipasi yah.. Saya pun tidak menolak, at least untuk menghalau silaunya matahari yang sangat tak nyaman di mata (karena saya berkaca mata silinder, jadi tidak pakai sunglasses). Saya memang hanya berencana untuk snacking saja disini, karena sudah ada jadwal makan malam sendiri di pantai Jimbaran nanti. Berikut menu snack yang saya pilih:

 
Mixed potato, 50k
Berisi potato wedges, curly fries & pita breads dengan cocolan hummus, curry mayonnaise, & saus tomat. Potato wedges & curly fries biasa saja seperti yang bisa didapat dimana2, tapi pita breads nya yang enak, kering dan renyah. Cocolannya saya paling suka curry mayonnaise yang paling enak. Menu yang sebenarnya sederhana ini tampil sangat menarik karena penyajiannya. Mixed potatoes ditata dalam gelas anyaman rotan, saus masing2 di cobek mini dari batu hitam, semuanya ditempatkan dalam baki kayu hitam dengan pinggiran logam sebagai bingkai. Mewah!

Virgin tropical tango, 80k
Mocktail yang diracik dari strawberry, mango, pineapple, & grenadine. Rasanya asam manis dan bersoda. Cocok diminum ditengah udara panas seperti ini. Warnanya cantik, rasanya enak, dan penyajiannya menarik di gelas pendek dengan garnish simple.

 
Inilah hasil foto yang saya dapatkan dari tempat duduk saya. Walaupun sunset-nya tidak sempurna karena ada awan, tetap menjadi pengalaman tak terlupakan bisa berada di tempat bagus ini. Kesimpulannya, Rock Bar memang 'menjual' tempat dan suasana sebagai yang utama.

 
Spending per head: Approximately Rp130000

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 5  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Thailand | Restaurant | Kumpul Keluarga

Makan malam bersama my best friend ever di PIM.. kami ingin yg agak beda nih, lalu muncul ide untuk makan Thai yang & sampailah kami ke Restaurant Row. Jittlada tampaknya menarik, kami pun memutuskan makan di situ. Areanya tidak terlalu besar, standar ukuran satu kapling di Restaurant Row. Dekorasinya khas thailand dengan adanya patung2 seperti di kuil2 yang pernah saya kunjungi di bangkok, namun perabotannya bergaya modern minimalis dengan meja kursi berwarna coklat kehitaman. Nuansa gelap memang lebih dominan di sini, selain perabotannya, warna dinding pun dibuat mendukung gelapnya ruangan, kemudian di beberapa spot diberi lighting yang menciptakan suasana temaram tapi elegan.

Setelah beberapa saat membolak balik buku menu, berikut pilihan kami:

 
Pad Thai
Semacam mie khas Thailand ini biasanya memang selalu ada di resto Thai, tapi rasanya pun bisa bebeda2 di tiap resto. Maka kami pun ingin mencoba Pad Thai milik Jittlada. Satu porsi ternyata cukup banyak isinya, masih cukup kami share berdua karena kapasitas perut kami memng tidak terlalu besar juga, apalagi ini makan malam (jangan banyak2 makan malam supaya tidak ndut tonguelol). Rasa Pad Thai-nya pas, ada rasa asin, manis, dan gurih dengan taburan kacang tumbuk. Kekenyalan mie-nya pas dan menyatu dengan bumbunya. Satu hal lagi yang kami suka, tidak terlalu banyak minyak.

 
Som Tam
Salad pepaya muda khas Thailand ini juga sebuah menu yang terkenal danbiasa ada di resto2 Thai. Seharusnya som tam memang menjadi appetizer, tapi ketika itu malah datang belakangan setelah pad thai.. tak apalah, jadi kami pun memakannya selang-seling dgn pad thai. Sesuai yang diharapkan, rasanya asam manis menyegarkan dan pedasnya sedang. Pepaya muda-nya pas tidak terlalu empuk atau terlalu keras. Porsinya pun pas untuk kami share berdua.

 
Jittlada Surprise
Salah satu minuman racikan spesial Jittlada rupanya.. terdiri dari peach & orange juice plus blue curacao. Awalnya ketika datang, minuman ini masih terpisah 2 lapisan warna biru & kuning, sayang saya lupa memotretnya ketika baru datang, baru ingat setelah dicampur jadi terlihat hanya berwarna hijau seluruhnya. shocked Rasanya manis, sedikit asam menyegarkan dan bersoda.

Kami berdua puas makan malam di sini.. makanannya enak & pas porsinya untuk kami berdua. Soal harga masih termasuk affordable, sesuai dengan mutunya. Pelayanannya cukup baik, waitress nya sigap & makanan pun cepat keluar meskipun saat itu resto cukup ramai.
 
Recommended Dish(es):  som tam,pad thai
 
Spending per head: Approximately Rp80000

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0