OpenRice Index
  
missnl
This is missnl living in Cilandak. I am a graphic designer, work in Lebak Bulus. I like to hang out in Tanjung Duren, Pondok Indah, Senayan. Bali, Chinese, Itali, India are my favorite cuisines. I also love Street Foods, Kafe, Restaurant, lounge and Siomay / Batagor, Pizza & Pasta, sate lilit bali.
Member 10 First(s)
No. of Review67 Review(s)
編輯推介數目33 Editor's Choice
Recommended8 Recommended
Popularity3664 View(s)
Replies in Forum1 Comment(s)
Upload Photos1237 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant42 My Restaurant(s)
Follow58 Following
粉絲391 Follower(s)
missnl  Level 3
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 31 to 35 of 67 Reviews in Indonesia
Nostalgia Vietnam di Do An Smile Jul 14, 2014   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Vietnam | Restaurant | Bakmi/Kwetiau | Vegetarian | Kumpul Keluarga

Kali ini saya mencoba salah satu restoran khusus makanan Vietnam yang menurut rekomendasi seorang teman rasanya masih "Vietnam banget". Teman saya ini sudah sering bertualang kuliner di Vietnam, tentu bisa saya percaya rekomendasinya.
Đồ Án, sebuah restoran Vietnam yang outletnya sudah tersebar di beberapa area Jakarta, salah satunya di Area 51 Pondok Indah Mall. Outlet Do An terletak di ujung paling dalam lantai 1 Area 51, agak dekat dengan eskalator dan lift. Papan nama restoran terpampang besar dan sangat jelas di bagian atas outlet, beserta gambar seorang perempuan berbaju tradisional Ao Dai dan topi caping yang merupakan ciri khas Vietnam. Dari papan namanya saja kita sudah cukup dapat mengenali identitas Vietnam, ditambah lagi dengan tagline "Vietnamese Experience" di bawah namanya.
Do An Vietnamese Experience #myfood

Do An Vietnamese Experience #myfood

 
Warna merah terang seperti bendera negara Vietnam mendominasi tampilan outlet Do An. Bagian depan outlet tergolong sederhana dengan penataan modern minimalis, dipercantik beberapa lampion gantung. Dapur berada di bagian dalam, tertutup, dengan sebuah jendela kecil tempat mengeluarkan makanan yang siap dihidangkan. Di sebelah kiri depan terdapat papan merah besar berisi daftar menu. Seluruh nama menu masih menggunakan bahasa Vietnam dengan sedikit keterangan berbahasa Inggris di bawahnya. Bingung atau ragu? Jangan khawatir karena setiap menu dilengkapi dengan foto untuk memudahkan customer memilih menu. Jika malas membaca satu persatu menu di papan, masih ada beberapa menu andalan dan best seller yang terpampang dengan foto lebih besar pada neon box dan layar LCD di atas kasir.
Counter #myfood

Counter #myfood

 
Read menu here #myfood

Read menu here #myfood

 
Sebenarnya ada beberapa menu yang menjadi incaran untuk saya coba, namun apa daya, kebetulan saya datang sendiri dan sebelumnya sudah "ngemil" salad ketika menemani teman berbuka puasa. Jadilah saya hanya bisa memilih satu menu saja.
Bun Bo Hue (IDR 55,5k ++)
Spicy beef noodle soup "Hue" style
Malam ini saya sedang ingin makanan yang hangat, berkuah, namun sedikit spicy. Bun Bo Hue adalah pilihan tepat yang memenuhi semua kriteria tersebut. Semangkuk rice noodle berkuah kecoklatan berisi potongan daging sapi serta taburan daun bawang dan cilantro dirajang tipis. Di mangkuk terpisah disediakan pelengkap yang terdiri dari tauge (bean sprouts) mentah, selada, potongan jeruk nipis, dan sambal. Kuahnya yang masih mengepul sangat "mengundang" untuk segera dicicipi.
Main bowl and toppings #myfood

Main bowl and toppings #myfood

 
Seperti biasa saya pasti mencicip kuahnya terlebih dahulu, apa adanya sebelum ditambah pelengkap. Kuah kaldu yang tampak kecoklatan itu sebenarnya bening (clear soup), rasanya gurih tetapi masih light dan terasa tidak terlalu banyak menggunakan penyedap rasa. Saya lihat banyak potongan cabai merah halus di dalam kuah, tak heran kalau pedasnya cukup terasa sejak seruputan pertama. Selain cabai merah (jenis cabai keriting pedas atau bahkan rawit) terdapat juga potongan bawang bombay dan tentunya rajangan daun bawang dan cilantro yang seakan wajib ada dalam noodle soup Vietnam. Potongan bawang bombai sepertinya dimasukkan dalam keadaan mentah saat akan disajikan, lalu menjadi sedikit matang karena siraman kuah panas sehingga teksturnya masih agak crunchy dan terasa manis ketika dikunyah. Aroma cilantro memang sedikit over powering di lidah saya, tetapi memang demikianlah "standar" makanan di Vietnam sana.
Good quality of beef #myfood

Good quality of beef #myfood

 
Vietnamese rice noodle #myfood

Vietnamese rice noodle #myfood

 
Daging sapi yang digunakan seperti daging untuk sukiyaki. Potongannya tipis, empuk, dan tidak banyak lemak sesuai request saya ketika memesan tadi. Mie berasnya tidak lebar, agak tebal, dan berwarna putih pekat, agak berbeda dengan yang saya makan ketika di Vietnam dulu -lebih lebar, tipis, dan warnanya putih sedikit transparan. Tingkat kematangannya pas, tidak terlalu lunak ataupun kenyal.
fresh vegs, lime, and samba #myfood

fresh vegs, lime, and samba #myfood

 
Bahan pelengkap yang disajikan mentah saya masukkan semua ke dalam kuah selagi masih panas sehingga menjadi sedikit matang. Tauge yang digunakan berjenis besar, lebih crunchy dan terasa manis, menambah tekstur dan rasa pada noodle soup ini. Jangan lupa perasan jeruk nipis yang memberikan seberkas rasa asam segar harus ditambahkan agar keseluruhan rasanya menjadi mantap dan balance. Sambal dalam piring plastik kecil itu sebenarnya enak (dimasak dengan terasi atau mungkin semacam teri goreng ditumbuk halus sehingga aromanya sedap), tapi karena kuahnya sudah pedas maka tidak saya tambah sambal lagi.
Put all toppings to the bowl Main bowl and toppings #myfood

Put all toppings to the bowl Main bowl and toppings #myfood

 
Baiklah cukup berkata-kata, saatnya menghabiskan semangkuk Bub Bo Hue yang sudah lengkap dengan toppingnya!
Ready! #myfood

Ready! #myfood

 
Pelayanan di sini standar seperti umumnya food court, dimana customer harus menunggu makanannya disiapkan kemudian membawanya sendiri ke meja. Masalahnya, saya harus menunggu cukup lama untuk semangkuk noodle soup, padahal kondisi resto sedang sepi. Saya lihat customer yang baru memesan setelah saya selesai membayar di kasir justru makanannya tersaji duluan. Sedikit mengecewakan sad Dari segi harga tergolong agak mahal jika kita hanya melihat berdasarkan price list tanpa mencoba, tetapi jadi terasa worth it karena rasanya yang enak dan mirip dengan versi asli di Vietnamnya. Lebih murah jauh daripada terbang langsung ke Vietnam, lho...
Meskipun belum pernah mencoba Bun Bo Hue langsung di kota asalnya (ketika ke Vietnam saya belum sempat mengunjungi kota Hue) menurut saya pribadi rasanya enak dan mewakili cita rasa makanan khas Vietnam. Dari semua komponen yang ada, aroma cilantro pada kuahnya sangat mirip dengan semangkuk pho yang saya nikmati pertama kali di sebuah kedai kecil di kota Hanoi.
 
Recommended Dish(es):  Bun Bo Hue
 
Table Wait Time: 10 minute(s)


Date of Visit: Jul 04, 2014 

Spending per head: Approximately Rp63000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Food Court | Live Music | Hang Out

Kemang, sebagai salah satu pusat keramaian yang sudah ternama sejak lama, menjadi tujuan favorit kaum urban di bilangan Jakarta Selatan untuk kongkow sepulang kerja. Keadaan ini mendorong semakin menjamurnya tempat makan di seluruh area Kemang, mulai dari restoran berjaringan internasional, cafe, food court, hingga warung.
Welcome!

Welcome!

 
Salah satu tempat makan di Kemang yang tergolong baru adalah Kampung Kemang. Menempati lokasi sangat strategis di Jalan Kemang Raya, Kampung Kemang menawarkan konsep food court yang cukup unik yaitu membidik komunitas sebagai target marketnya. Saat ini begitu banyak komunitas di Jakarta namun sering kesulitan mendapat tempat gathering yang nyaman dengan harga terjangkau. Kampung Kemang didirikan untuk menjawab kebutuhan ini dengan area yang luas (kapasitas sekitar 300 orang), lahan parkir yang memadai (dapat menampung hingga 70 mobil), dan makanan enak dengan harga terjangkau. Hebatnya lagi, tidak ada charge khusus untuk menyewa tempat ini, cukup dengan membeli makanan dan minumannya saja tanpa membawa makanan dan minuman dari luar.
Spacey!

Spacey!

 
Bangunannya terletak agak jauh di dalam, tergolong sederhana, tidak bertingkat, dan berlatarkan gedung pencakar langit di kejauhan. Interior di sini ketika saya perhatikan seperti sebuah rumah yang dimodifikasi menjadi lebih terbuka. Area yang luas seakan terbagi menjadi beberapa bagian dengan meja dan kursi makan yang berbeda. Di bagian depan terdapat meja dan bangku kayu panjang tanpa sandaran seperti di warung, di bagian tengah ada meja-meja lebih kecil dengan kursi anyaman rotan seperti umumnya di cafe, sedangkan di bagian belakang adalah area terbuka tanpa atap dengan meja kursi besi. Saat malam hari dan tidak hujan begini area belakang terlihat cantik dan bernuansa romantis dengan hiasan lampu bohlam gantung. Di satu sudut ada sebuah kursi ayunan yang tampak nyaman untuk duduk-duduk sambil menikmati minuman dan snack bersama pasangan, a romantic corner! Area yang luas dan terbuka seperti ini tentunya tidak memakai AC, dan memang tidak perlu karena hembusan angin sebagai "AC alami" sudah cukup membuat nyaman.
A romantic corner

A romantic corner

 

 
Kampung Kemang sendiri hanya menjual minuman saja, dari yang simple seperti kopi, teh, juice hingga minuman beralkohol tetapi tetap dengan harga terjangkau. Untuk segelas cocktail disini kisaran harganya hanya Rp 40.000,- ke bawah (di wilayah elit sekelas Kemang, harga itu murah banget lho!), dan pada periode tertentu ada pula promo buy 2 get 1 free untuk minuman alkohol botolan.
Food tenants to choose

Food tenants to choose

 
Untuk makanannya, seperti umumnya food court, terdapat beberapa tenant di Kampung Kemang. Saat ini terdapat 3 tenant makanan yang mengisi yaitu Martabak D'Marco, Nasi Goreng Laka-Laka, dan Mie Ayam Koga. Menurut Andreas sang owner, Kampung Kemang memang bertujuan memberikan kesempatan kepada kalangan UKM untuk membuka usaha, maka sengaja tidak menghadirkan tenant makanan ternama. Saya lihat masih ada satu space kosong tersedia, barangkali ada yang berminat mengisinya? tongue

Customer yang makan (hampir) pasti membutuhkan minum, dan bisa pula customer yang awalnya hanya ingin minum-minum sambil duduk santai jadi tertarik memesan cemilan hingga makanan berat. Seperti yang sudah saya sebutkan tadi, minuman hanya dijual oleh pihak Kampung Kemang saja, sedangkan tenant hanya menjual makanan tanpa minuman. Jadi, hampir bisa dipastikan setiap customer akan memesan dari Kampung Kemang dan para tenant makanan. Sebuah kerja sama yang saling menguntungkan, bukan?
The Bar

The Bar

 
Area tempat menyajikan minuman terletak di bagian tengah bangunan, berbentuk bar dengan beberapa kursi bar di salah satu sisinya. Berbagai jenis minuman tersedia, baik yang dibuat disini maupun minuman kemasan (botolan). Pada kesempatan ini saya mencoba dua minuman andalan Kampung Kemang.

Ice Chocolate (IDR 17k)

 
Jangan terlalu mengharapkan susu coklat manis nan gurih disini, karena ice chocolate Kampung Kemang benar-benar terasa coklat dengan seberkas rasa pahit dari dark chocolate dan tidak terlalu manis. Penggemar coklat seperti saya justru suka versi ini karena tidak membuat eneg meskipun menghabiskan segelas besar sendirian. Jika sedang tidak ingin minuman dingin, tersedia hot chocolate sebagai alternatif.

Flavour Ice Tea - Peach (IDR 15k)

 
Bosan dengan es teh manis standar? Flavour ice tea bisa menjadi pilihan. Saya mencoba varian peach, es teh dengan sirup peach dan potongan buah peach kalengan. Meskipun bagi saya agak terlalu manis di awalnya, tetapi saya suka karena potongan buah peach-nya cukup royal. Kalau di tempat lain sering saya temukan buah peach dipotong dadu kecil-kecil dan hanya sedikit, versi Kampung Kemang memberikan tiga potong besar buah peach, mantap! Apalagi setelah esnya mencair hingga menetralisir rasa manis yang berlebihan menjadi pas di lidah saya. Tidak mengherankan jika minuman menyegarkan ini menjadi salah satu best seller.
Local Band

Local Band

 
Setelah kenyang makan dan minum, kita masih bisa berlama-lama menikmati penampilan live music dari sebuah band lokal yang tampaknya sudah biasa mengisi acara di sini. Band yang tampil malam itu cukup interaktif dan komunikatif dalam menghibur pengunjung, membuat customer betah dan tidak ingin cepat-cepat beranjak pergi meskipun sudah selesai makan minum. Duduk-duduk santai sekedar menikmati suasana malam atau nonton pertandingan bola selama musim piala dunia bisa menjadi pilihan Anda untuk menutup hari di Kampung Kemang.
Supplementary Information:
Just relax and enjoy your time here!
 
Recommended Dish(es):  ice chocolate,flavour ice tea,Ice Chocolate,Flavour Ice Tea-Peach
 
Date of Visit: Jun 27, 2014 

Dining Offers: Tasting Event


Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

So Special, Nas-Gor Laka-Laka! OK Jul 06, 2014   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Food Court | Hang Out

 
Nasi Goreng Laka-Laka merupakan salah satu tenant yang terdapat di Kampung Kemang, Jakarta Selatan.

Tenant yang satu ini khusus menjual menu nasi goreng saja, tepat sesuai "nama dagang" yang terpampang di depan outlet. Tersedia berbagai pilihan nasi goreng disini, dengan menu jagoan diantaranya Nas-Gor Kambing atau Nas-Gor Pete Kambing. Range harga berkisar antara 25k-35k yang tergolong wajar untuk seporsi nasi goreng di restoran. Menurut promosi yang disampaikan oleh Ika Hendrani mewakili Bayu, owner Nasi Goreng Laka-Laka yang ketika itu berhalangan hadir, bumbu nasi gorengnya so special dan berbeda dari nasi goreng dimana pun. Wah, pas banget saya adalah penggemar nasi goreng, jadi tak sabar ingin mencoba.

Nas-Gor Ayam (IDR 25k)

 
Memang betul sesuai promosi, nas-gor disini bumbunya beda! Racikan bumbu spesial yang belum pernah saya temukan di tempat lain, terasa lebih rich and spicy, sedikit pedas tetapi tergolong tidak seberapa bagi yang suka pedas. Disajikan di piring beralas daun pisang dengan potongan ketimun, tomat, acar, kerupuk udang, serta taburan bawang goreng. Nasi goreng paling nikmat dimakan ketika masih hangat selesai dimasak, sayang sekali ketika saya mencoba nasgor sudah dingin sehingga berkurang kenikmatannya. Untuk saya pribadi, nasinya sendiri terlalu keras (pera) dan akan lebih baik jika lebih lunak sedikit saja.
 
Recommended Dish(es):  Nas-Gor Ayam
 
Date of Visit: Jun 27, 2014 

Dining Offers: Tasting Event


Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Martabak Naik Kelas ala D'Marco Smile Jun 30, 2014   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Food Court | Martabak | Hang Out

Jumat sore selepas jam kantor, ini saatnya melepas kepenatan yang menumpuk selama lima hari. Sudah menjadi semacam habit bagi warga Jakarta untuk hangout di Jumat sore hingga malam, sekedar makan malam sambil ngobrol santai bersama pasangan, teman, atau kolega.
Kali ini saya berkesempatan menyambangi Kampung Kemang, sebuah food court baru yang berlokasi sangat strategis di Jalan Kemang Raya, tepatnya di seberang Plaza Adorama. Kampung Kemang memiliki area yang luas, tempat parkir yang memadai, dan makanan enak dengan harga terjangkau sehingga cocok untuk sekedar kumpul bersama teman hingga mengadakan acara semisal gathering, launching produk, atau mini party.

Seperti umumnya food court, terdapat beberapa stand di Kampung Kemang, salah satunya adalah Martabak D'Marco

 
Welcome!

Welcome!

 
Ika Hendrani, the owner

Ika Hendrani, the owner

 
Sesuai namanya yang merupakan singkatan dari MARtabak dan COffee, D'Marco mengusung martabak sebagai bintang utamanya. D'Marco didirikan pada tanggal 10 Mei 2012 oleh tiga orang yaitu Ika Hendrani, Ira Lathief, dan Budiyono dengan outlet pertama berkonsep mini cafe di Sabang. Beliau bertiga mempunyai visi misi untuk menaikkan derajat martabak manis dari makanan kelas kaki lima yang biasa dijual di pinggir jalan menjadi makanan yang layak disajikan di cafe atau resto. Lebih jauh lagi, ke depannya mereka ingin menjadikan martabak manis sebagai kuliner khas asal Indonesia yang mendunia seperti halnya pizza dari Italia. Setelah mini cafe di Sabang mendapat sambutan baik, D'Marco membuka cabang kedua di daerah Tebet pada 20 November 2013 dengan konsep food court, dilanjutkan cabang ketiga di Kampung Kemang pada 1 Mei 2014 yang juga berkonsep food court.
Bagaimana dengan makanannya? Berbagai varian martabak disediakan di sini, mulai dari varian klasik martabak manis yang jadi menu standar di martabak kaki lima hingga menu modifikasi hasil kreasi ownernya. Penasaran? Mari kita coba…
The Kitchen

The Kitchen

 
Martabak Burger (IDR 30k)

 

 
Salah satu hasil kreasi terbaru dari sang owner yang menjadi menu favorit. Meskipun base-nya berbahan martabak manis, ternyata cocok saja dipadukan dengan topping asin dan savory seperti burger ini. Base martabaknya dibuat tidak terlalu tebal dan tidak ditaburi gula seperti martabak manis di luaran. Di atasnya diletakkan selada, keju, irisan tomat, dan patty burger di paling atas, kemudian digarnish dengan saus sambal dan mayones. Ketika dimakan sekaligus rasanya enak dengan perpaduan rasa dan tekstur dari semua komponennya. Ada rasa asin, sedikit pedas manis, dan gurih semua terasa balance di mulut. Base martabaknya sendiri enak, tidak hambar, ketebalannya pas sehingga tetap empuk, dan yang terpenting untuk saya adalah tidak terlalu berminyak. Tidak percuma jika sang owner sampai belajar langsung dari tukang martabak berpengalaman, sehingga bisa menghasilkan base martabak manis seenak ini. Besar porsinya tergolong mengenyangkan untuk satu orang seperti saya, kecuali jika kapasitas perutnya besar mungkin harus tambah seporsi lagi *wink*.

Martabak Nutella
(IDR 25k)

 

 
Penggemar coklat terutama Nutella pasti suka menu simple nan menggugah selera ini. Martabak manis dioles Nutella spread yang cukup "royal" sebagai pengganti coklat meises pada martabak manis standar, se-simple itu… tapi rasanya jangan ditanya! Saya pribadi suka karena meskipun olesan Nutella cukup tebal tetapi adonan martabaknya tidak manis (justru ada sedikit rasa asin) sehingga secara keseluruhan manisnya tidak berlebihan. Bagi yang ingin variasi rasa lebih, tersedia martabak Nutella dengan pisang, kacang, strawberry, atau Oreo crumbs. Daripada sibuk membayangkan rasanya dari penjelasan saya ini, lebih baik langsung dicoba saja, deh…

Martabak Ice Cheese Oreo

 

 
Ini dia menu baru kebanggaan sang owner, Ika Hendrani, yang pastinya masuk dalam daftar best seller di D'Marco. Martabak manis ditaburi parutan keju dan Oreo crumbs, kemudian diberi satu scoop es krim di atasnya. Tak ketinggalan sebuah biskuit Oreo utuh ditancapkan di puncak es krim sebagai pelengkap garnish. Disarankan untuk menyantapnya segera setelah dihidangkan agar es krim tidak semakin mencair. Ketika dimakan sekaligus semua komponennya, terdapat perpaduan rasa dan tekstur yang begitu kompleks namun balance. Ada rasa asin, manis, creamy, tekstur halus lembut dari es krim dan Oreo crumbs yang agak kasar, serta base martabak yang masih hangat dengan dinginnya es krim… lengkap! Meskipun kelihatannya mudah hanya menggabungkan beberapa topping saja, namun saya yakin resep ini sudah melalui trial & error sebelumnya sehingga menghasilkan komposisi tepat untuk rasa yang pas dan nikmat.
Jika boleh memberi sumbang saran, mungkin akan menarik jika ada menu "create your own martabak" dimana konsumen bisa memesan martabak dengan perpaduan topping yang dikreasikan sendiri. Realisasinya yaitu dengan menjual additional topping secara terpisah, jadi konsumen dapat memesan tambahan topping sesuai kemauannya. Menurut saya, konsumen akan lebih tertarik atau terpancing kreativitasnya membuat menu martabak baru yang belum pernah ada sebelumnya, sesuai selera pribadi masing-masing. Cara ini sekaligus bisa menjadi masukan atau tambahan ide untuk menghasilkan kreasi menu baru yang selanjutnya bisa menjadi menu tetap di D'Marco. Ide dari banyak orang terkadang lebih baik daripada satu atau beberapa orang saja, bukan?
Menu D'Marco

Menu D'Marco

 
Selain beraneka menu martabak, tersedia pula beberapa pilihan menu nasi dan ayam, serta appetizer berupa dimsum, chicken wings, dan french fries. Pilihan menu yang cukup bervariasi menjadikan Martabak D'Marco dapat menjangkau berbagai kalangan dan usia karena konsumen tidak akan cepat bosan datang kesini lagi dan lagi.

Dari segi pelayanan tergolong baik dan makanan disajikan tidak terlalu lama, tapi saya rasa jika akan order dalam jumlah banyak lebih baik memesan sebelumnya. Bisa dimaklumi dari area dapurnya yang terbatas memang tidak memungkinkan membuat martabak dalam jumlah banyak dengan waktu cepat, apalagi jika sedang ramai pesanan.

 
Martabak D'Marco juga membuka peluang untuk kemitraan bersistem waralaba dengan paket investasi menarik. Informasi lengkap bisa dilihat di website www.dmarcocafe.com

Sukses terus Martabak D'Marco, mari kita sama-sama menjadikan martabak manis sebagai kuliner khas Indonesia yang bisa dikenal dunia!
Supplementary Information:
Jika akan datang dalam rombongan besar atau mau order dalam jumlah banyak sebaiknya pesan dahulu agar tidak menunggu lama nantinya.
 
Recommended Dish(es):  Martabak Ice Cheese Oreo,Martabak Nutella,Martabak Burger
 
Date of Visit: Jun 27, 2014 

Dining Offers: Tasting Event


Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 2  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend

CNY Celebration at Le Gran Café OK Jun 27, 2014   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Multinasional | Kafe

Chinese New Year a.k.a Imlek, biasa dirayakan dengan tradisi mengunjungi sanak saudara dan kumpul-kumpul makan bersama. Biasanya pula, yang usianya lebih muda selayaknya mengunjungi yang lebih tua. Saya masih ingat masa kecil dulu setiap Imlek cukup "menunggu" di rumah nenek saya karena beliau yang tertua, jadi adik-adik nenek beserta keluarganya pasti akan berkunjung kesana. Seiring berkurangnya generasi nenek saya yang satu demi satu tiada, sekarang tradisi tersebut sudah nyaris "punah" di keluarga besar kami. Kalau pun berkumpul hanya terbatas pada keluarga dari saudara kandung papa saja, sisanya cukup dengan saling telepon, SMS, Whatsapp, BBM, atau melalui social media lainnya. What a modern world!
Di tahun 2014, Imlek menyambut datangnya tahun Kuda Kayu ini dirayakan dengan makan siang bersama keluarga besar papa di Le Gran Café, Hotel Gran Mahakam.
Saya sudah pernah mendengar tentang Le Gran Café dari teman-teman food blogger dan mereka memberi testimoni yang bagus untuk makanannya, tentunya saya jadi mempunyai ekspektasi tinggi untuk restoran ini.
Welcome!

Welcome!

 
Lokasi hotel ini sangat strategis di daerah Mahakam yang ramai, sekaligus sangat familiar karena hanya beberapa langkah di belakang gereja saya. Bangunannya dari luar cukup eye catching dengan gaya Eropa klasik, terlihat berbeda dari gedung-gedung di sekitarnya. Area lobby hotel juga tidak begitu luas, namun tetap ditata dengan apik dengan permainan lighting. Lobby hotel dihiasi pernak-pernik Imlek didominasi warna merah dan kuning keemasan, termasuk tebaran coklat berbentuk kepingan uang emas yang boleh diambil oleh tamu. Ada pula satu spot khusus berupa ruangan kecil dilengkapi dua buah kursi, yang disediakan untuk para tamu berfoto-foto ria dengan nuansa Imlek.
Yellow and gold

Yellow and gold

 
Le Gran Café terletak di lantai Mezzanine yang bisa dicapai dengan tangga atau lift. Mengikuti bentuk gedung hotelnya, buffet restaurant ini memanjang seperti sebuah lorong dengan jarak ujung ke ujung yang cukup panjang. Makanan ditempatkan di sepanjang tepi-tepi ruangan tersebut, jadi untuk mengambil makanan kita perlu berjalan-jalan menjelajahi hampir seluruh penjuru ruangan jika ingin mencoba semua variannya. Di tengah ruangan ada bagian yang dijadikan semacam panggung untuk live music dan band kecil.

 
Interior restoran masih senada dengan konsep bangunan hotelnya yaitu Eropa klasik, yang terlihat dari detail-detail ruangan, perpaduan lantai parket kayu dan marmer, serta tirai tebal yang menghiasi jendela. Konsep klasik ini berpadu cantik dengan gaya modern minimalis yang terlihat dari bentuk meja-kursi makan, station makanan berwarna hitam, serta lampu gantung logam berwarna emas-hitam sebagai aksen ruangan. Cermin-cermin besar ditempatkan di beberapa bagian untuk memberi kesan lebih luas pada ruangan.

Detail-detail di meja makan juga diperhatikan dengan baik mengikuti tema Imlek. Di setiap meja terdapat ornamen kecil seperti vas bunga simple dan semangkuk kecil jeruk mini yang memang selalu ada saat Imlek. Lumayan nih, bisa untuk cemilan selagi menunggu hehehe...

 
Saat kami tiba di restoran sebenarnya sudah mendekati jam makan siang yaitu sekitar jam 12, tetapi restoran masih lengang. Hidangan di beberapa station makanan pun tampaknya ada yang belum siap. Kami sempat menunggu lebih dari 30 menit sebelum akhirnya bisa mulai acara makan siang. Agak aneh juga melihat ketidaksiapan restoran kelas hotel bintang lima ini, apalagi di hari raya besar dimana pastinya akan lebih banyak customer yang datang. Bukankah seharusnya lebih well prepared dibanding hari-hari biasa, ya?
Baiklah, mari mulai makan saja…
Chinese Tea
Free flow Chinese tea sudah termasuk dalam paket buffet disini. Tehnya tidak terlalu pekat dan tidak pahit, baik untuk menetralisir rasa di lidah sehabis makan berbagai menu aneka rasa. Disajikan dalam cawan kecil yang umum tersedia di Chinese restaurant, dan selalu diisi ulang jika sudah kosong.

Seafood Area

 
Satu tempat besar berisi tiram, kepiting, dan udang yang diletakkan di atas es sehingga tetap segar. Terdapat serangkaian buah ukir yang sangat cantik di bagian tengahnya yang justru lebih menarik minat saya untuk mengamatinya. Area seafood ini bersebelahan dengan aneka sushi dan salad terletak di antaranya.
Mixies!

Mixies!

 
Sebagai menu pembuka saya menggabungkan udang rebus dengan fruit salad dan potongan ham. Saya suka udangnya karena masih segar, tidak lembek, dan tidak berbau. Yum!

Salad in Mini Glass
Ada 3 macam salad yang tersedia, satu fruit salad dengan mayonnaise (yang tadi saya pasangkan dengan udang rebus) dan dua mixed vegetable salad dengan 1000 island dressing. Semua salad sudah disajikan lengkap bersama dressing dalam gelas kaca mini sehingga lebih praktis, tidak berantakan, juga tampil lebih menarik. Saya tidak bisa terlalu membedakan antara kedua vegetable salad itu karena isinya sudah terbalut dressing, yang penting semuanya enak.. hehe..

Assorted Sushi
Tentunya saya hanya mengambil sushi yang tidak ada isi ataupun topping ikan mentahnya. Potongan sushi cukup besar sampai memenuhi mulut ketika disantap dalam sekali suapan, tapi rasanya enak. Sebenarnya tersedia pula salmon nigiri dan sashimi, yang tentunya tidak akan menjadi pilihan saya.

Beef Tenderloin
Time for red meat, and it's yummy!

Time for red meat, and it's yummy!

 
Yeah, saatnya makan daging! Tentunya sedikit saja karena saya memang tidak terlalu menyukai red meat. Dagingnya dipotongkan langsung sesuai porsi yang kita inginkan, lalu kita bisa memilih sendiri sausnya. Tersedia tiga macam saus yaitu barbecue, peppercorn, dan mushroom. Saya memilih mushroom sauce ditambah sedikit peppercorn sauce. Dagingnya empuk dan tidak berlemak sama sekali (ini yang saya suka!), dimasak pada tingkat kematangan antara medium well-mendekati well done. Sausnya enak, kekentalannya pas, dan rasanya balance. Antara kedua sauce yang saya coba warnanya sama, tidak jauh berbeda dari segi rasa, dan sepertinya menggunakan base yang sama. Kalau harus memilih, saya paling suka mushroom sauce karena terdapat potongan-potongan jamur champignon yang cukup banyak di dalamnya.

Noodle Soup
Berisi mie keriting halus, jamur enoki, sayuran, dan potongan kepiting yang sudah digoreng dengan balutan tepung, kemudian disiram kuah kaldu. Kuahnya light dan rasanya gurih tidak terlalu asin. Mie keritingnya bertekstur lembut tidak kenyal, hanya saya agak malas makan kepitingnya karena masih bercangkang dan berbalut tepung sehingga makin sulit diambil dagingnya.

Carrot Cake
Setelah menunggu sejenak, carrot cake yang baru di-pan fried tersaji hangat dengan cocolan sambal. Terdapat tiga varian yang hanya berbeda di topping campuran carrot cake-nya, tapi overall rasanya sama saja. Saya justru suka sekali sambalnya yang menggunakan terasi dan ebi, serta tidak pedas.

Assorted Dim Sum
Tersedia dim sum rebus dan goreng, serta ceker ayam (yang tentunya tidak akan saya pilih). Tidak ada yang istimewa dengan kategori dim sum ini, variannya umum dan rasanya standar saja.

Bird Nest Dumpling Soup
A must try!

A must try!

 
Menu spesial yang hanya tersedia pada special occasion seperti sekarang ini, beruntung saya bisa mencobanya. Sarang burung walet sebenarnya tidak mempunyai rasa spesifik yang mempengaruhi keseluruhan rasa masakan, hanya diistimewakan karena katanya berkhasiat untuk kesehatan dan harganya yang selangit. Ok, supnya memang lezat dengan kuah kaldu yang agak bening dan masih terbilang light. Di dalam sup terdapat sebuah dumpling dan potongan kepiting yang sudah digoreng dengan tepung sebelumnya. Saya malah tidak menemukan wujud sarang burung waletnya, apakah sudah dihancurkan sama sekali atau masuk di dalam dumplingnya mungkin. Menu ini disaikan dalam mangkuk keramik bertutup dan selalu diletakkan di steamer sehingga tersaji dalam keadaan panas. Saya suka kuah supnya, apalagi diseruput ketika masih hangat, hanya sedikit terlalu asin untuk saya pribadi.

Cakes, Pie & Eclair

 
Karena sudah hampir kekenyangan, terpaksalah saya menyeleksi pilihan menjadi mini roll cake coklat, mini lychee pie, mini strawberry shortcake, dan sebuah eclair pink. Overall rasanya standar, tapi saya paling suka mini roll cake coklatnya bcoz I'm a chocoholic!

Es Lobi-Lobi
Favorite dessert of Le Gran Cafe

Favorite dessert of Le Gran Cafe

 
Dessert satu ini merupakan andalan Le Gran Café yang direkomendasikan oleh teman-teman food blogger saya. Sederhana saja berupa asinan lobi-lobi yang sudah dimasak dengan air gula, ditambah es serut dan butiran jelly bulat. Meskipun perut sudah hampir habis limitnya, saya coba juga satu porsi karena penasaran dengan rasanya. Ternyata… memang es lobi-lobi ini boleh jadi andalan. Asam, manis, plus sebersit rasa asin bisa kita rasakan disini, kalau lagi ngantuk dijamin segar kembali, deh!
Yellow Barongsai

Yellow Barongsai

 
Khusus pada kesempatan Hari Raya Imlek ini Le Gran Café memberikan compliment berupa Barongsai performance, Yee Shang Ceremony, Fortune Teller, dan free photo capture & printing.

Apakah itu Yee Shang Ceremony?
Ya, saya pun baru kali ini mengikutinya. Konon ini adalah tradisi dari China yang biasa dilakukan pada saat Imlek yang melambangkan pengharapan mendapatkan banyak rejeki di tahun baru.

 
Upacara ini dilakukan belakangan, pada saat para tamu umumnya sudah selesai makan, jadi semua bisa ikut serta tanpa terganggu acara makannya. Urutan upacara sudah terlampir di setiap meja, dimulai dari memasukkan komponen-komponennya dengan urutan tertentu hingga mengaduknya bersama-sama. Setiap langkah ada istilah dan maknanya tersendiri, maka sebaiknya dilakukan pas sesuai urutan. Begitulah menurut tradisinya... boleh percaya, tidak percaya pun tak apa.

Acara CNY Brunch diakhiri dengan foto bersama setiap keluarga atau per meja oleh fotografer dari Le Gran Café. Tak berapa lama foto-foto tersebut sudah di-print dan dibagikan kepada para tamu sebagai kenang-kenangan.
Overall makanan di Le Gran Café cukup memuaskan. Ragam menunya banyak (bahkan ada beberapa yang belum saya cicipi sama sekali karena sudah terlalu kenyang), rasanya rata-rata enak, dan presentasinya diperhatikan dengan baik pula. Untuk pelayanan tergolong baik dengan waiter dan waitress yang cukup banyak jumlahnya sehingga tamu bisa terlayani dengan baik, terutama dalam hal mengambil piring-piring kotor dan refill minuman. Tak heran jika resto ini sering dijadikan tempat gathering atau arisan ibu-ibu, demikian menurut tante saya yang memang sudah sering arisan di sini.

Review dan foto lebih lengkap dapat dilihat di sini: http://andrianiwiria.blogspot.com/2014/04/cny-celebration-at-le-gran-cafe.html
Supplementary Information:
Pilihan makanan banyak namun letaknya tersebar di sepanjang area restoran, jadi berkelilinglah sampai ke ujung untuk mencicipi semua jnis makanannya.
 
Recommended Dish(es):  Es Lobi-Lobi,Sushi,Bird Nest Dumpling Soup,Beef Tenderloin,Assorted cakes and pie,Es Lobi Lobi,Shrimp salad and ham,Seafood corner
 
Table Wait Time: 10 minute(s)


Date of Visit: Jan 31, 2014 

Celebration:  Chinese New Year 

Spending per head: Approximately Rp400000(Lunch)

Dining Offers: family gathering


Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0