OpenRice Index
  
missnl
This is missnl living in Cilandak. I am a graphic designer, work in Lebak Bulus. I like to hang out in Tanjung Duren, Pondok Indah, Senayan. Bali, Chinese, Itali, India are my favorite cuisines. I also love Street Foods, Kafe, Restaurant, lounge and Siomay / Batagor, Pizza & Pasta, sate lilit bali.
Member 10 First(s)
No. of Review67 Review(s)
編輯推介數目33 Editor's Choice
Recommended8 Recommended
Popularity3664 View(s)
Replies in Forum1 Comment(s)
Upload Photos1237 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant42 My Restaurant(s)
Follow58 Following
粉絲391 Follower(s)
missnl  Level 3
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 41 to 45 of 67 Reviews in Indonesia
Serba Pertama Bersama Teritorri Smile Jul 09, 2013   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jepang | Restaurant | Sushi | Kencan / Berpasangan | Kumpul Keluarga

Sesuatu yang pertama pasti terasa istimewa, apalagi kalau "serba" pertama. Ya, ini pertama kalinya saya mencoba makanan di Teritorri bersama teman-teman. Teritorri sendiri adalah teriyaki chain pertama di Indonesia.. serba pertama, kan? Tenang, nanti masih ada lagi "pertama" yang lain. Berikut catatan seputar food tasting kali ini:

Location

 
Teritorri berada di Area 51, sebuah food junction di Pondok Indah Mall 1 yang terdiri dari 2 lantai. Lantai bawah untuk booth merchant dan lantai atas yang berformat resto/cafe. Di lantai atas inilah Teritorri berada. Area restonya terbagi 2, ada yang indoor yaitu bagian yang menyatu dengan dapur dan outdoor yang tepat di tepi jalan menuju/dari eskalator. Interior restonya (terutama yang di bagian indoor) berkesan homey seperti rumah di pedesaan Jepang dengan lantai, dinding, meja dan kursi serba kayu. Di dinding bagian belakang terdapat rak kayu berbentuk kotak-kotak rapi yang diisi benda-benda pajangan khas Jepang. Gaya interiornya memadukan sentuhan tradisional yang serba kayu dengan gaya modern yang bisa terlihat dari bentuk dan material kap lampu berbahan logam, juga adanya meja yang berkonsep seperti bar (lebih tinggi dari meja makan lainnya) di area outdoor. Meja ala bar inilah yang kami tempati siang itu.

 
Dapurnya sendiri bisa dibilang semi open kitchen, karena tertutup tapi ada jendela sehingga tamu pun bisa melihat semua kegiatan di dapur. Area dapurnya kecil saja, namun rapi dan teratur baik cara kerjanya. Terbukti, meskipun dapurnya kecil tapi makanan cukup cepat terhidang, apalagi rombongan Openricers kami jumlahnya lumayan banyak sekitar 20 orang dan jenis makanan yang dicobakan cukup beragam. Rupanya, kepiawaian "tim dapur" ini tak lepas dari arahan sang head chef yang memang sudah berpengalaman mengelola resto Jepang di dalam dan luar negeri.
Satu hal lagi yang saya perhatikan dan saya suka melihatnya, yaitu graphic design perangkat restoran seperti buku menu, place mat dan sarung sumpit. Karakteristik design Jepang-nya kuat sekali, yaitu simple minimalis dengan nuansa modern.

Drinks
Di awal acara, sejak baru datang dan menunggu semuanya berkumpul, kami mendapat refillable Hot/Cold Ocha (IDR 10k). Saya memilih cold ocha karena memang tidak suka minuman panas. Saya suka ocha-nya tidak terlalu pahit karena tidak pekat, tapi tidak kelewat encer juga. Pelayannya pun sigap menambahkan isinya ketika kita minta refill. Selain ocha, Teritorri juga menyediakan pilihan minuman beberapa jenis iced tea (range harga IDR 12-29k), fresh fruit juice (IDR 29-39k) dan minuman beralkohol termasuk sake (range harga IDR 75-155k).

The Foods
Acara food tasting sudah pasti fokusnya adalah menu yang akan dicoba. Ga sabar untuk mencicipi? Pastinya! Tapi, sebelum mulai makan ada penjelasan dahulu tentang Teritorri dan menu-menunya. Tak tanggung-tanggung, Pak Gatot Ariawan, sang head chef sekaligus co-owner Teritorri sendiri yang turun tangan. Beliau menceritakan secara garis besar seputar pengalamannya di dunia kuliner Jepang, konsep resto Teritorri, serta keunggulan hidangannya yaitu pada bahan baku yang semuanya kualitas utama. Teriyaki, bahan utamanya daging, maka digunakanlah daging terbaik yang didatangkan dalam keadaan chilled, bukan frozen. Keistimewaannya, daging selalu baru/fresh karena tidak bisa disimpan lama dan dari segi harga sudah tentu lebih mahal dari yang frozen. Daging berkualitas itu pun di-grilled dengan Lava Rock yang diimpor langsung dari Aussie. Kelebihan lava rock adalah bisa menghasilkan burnt flavour tapi daging masih tetap juicy. Unuk menu fusion sushi di sini sangat up-to-date dengan trend di USA, tetapi bahan bakunya tetap berkiblat dari Jepang sehingga dari segi rasa tidak terlalu creamy atau cheesy seperti kebanyakan menu fusion sushi di tempat lain.
Usai penjelasannya, kami diajak melihat sample 4 signature dish dari Teritorri yang sudah tersaji:

 
House Salad with Soft Shell Crab (IDR 35k)
Menu ini merupakan salad khas Jepang karena menggunakan soyu dressing, isinya selada segar, kyuri, wakame, dan tomat cherry dengan topping kepiting bercangkang lunak yang digoreng berbalut tepung tempura. Untuk toppingnya bisa dipilih antara soft shell crab, salmon skin (IDR 29k), smoked salmon (IDR 45k), atau house salad saja tanpa topping (IDR 25k). Saya suka salad ini terutama karena soyu dressingnya yang terasa segar, light, dan bercita rasa jepang banget... bahkan tanpa topping tambahan apa pun saya pasti suka salad ini.

 
Flaming Dragon Roll (IDR 75k)
Ini dia salah satu fusion sushi yang sedang trend di USA. Sushi yang satu ini menarik sekali, karena sesuai namanya, disajikan dengan di-flame di depan customer. Dragon roll terbungkus aluminium foil diletakkan di piring panjang yang dituangi sedikit minyak, kemudian waiter akan menyulut api sehingga piring berapi biru kekuningan. Jumlah minyak tentunya sudah disesuaikan kebutuhan sehingga api tipis saja dan akan mati dengan sendirinya, lalu ketika aluminium foil dibuka tampaklah dragon roll yang sudah matang sempurna, siap disantap. Bentuknya memang menarik menyerupai dragon (naga) dengan deretan sushi roll sebagai badannya dan kepala+ekor udang besar di kedua ujungnya. Presentasi yang sebenarnya simple dengan memanfaatkan sampah udang, namun jadi menarik perhatian karena sudah dipikirkan dengan baik sesuai konsep makanannya.Saya beruntung masih kebagian sepotong dragon roll ini. Potongannya besar, rasanya mantap dan kaya tekstur dari crunchy-nya ebi tempura, nasi yang pulen agak sticky, kelembutan potongan tipis alpukat, dan sedikit kenyal dari unagi on top with eel sauce. Basically saya tidak suka unagi lho.. tapi sekali ini saya tidak menyesal 'nekat' melahapnya, karena keseluruhan rasanya memang yummy.

 
Monkey Brain (IDR 35k)
Salah satu menu best seller di Teritorri. Namanya unik agak menyeramkan ya.. tapi jangan khawatir, hidangan ini sebenarnya 'aman' koq. Jamur champignon di-stuffed spicy salmon, kemudian dibalut tepung tempura dan dihidangkan dengan saus spicy mayo. Saat dimakan ada perpaduan antara tekstur crunchy dari tepung tempura, jamur champignon yang agak kenyal, dan lembutnya salmon. Dari segi rasa lebih dominan asin (tapi tidak keasinan yah) apalagi jika dicocol dengan saus spicy mayo yang dibentuk cantik di piring mengelilingi makanannya. Sebagai penyuka jamur dan salmon, menu ini enak dan saya suka baik dari rasa maupun teksturnya, namun bagi beberapa Openricers katanya terasa aneh. Hehe.. masalah selera saja kali yah...

 
US Rib Eye Teriyaki Set (150 gr-IDR 139k; 200 gr-IDR 155k)
Pastinya menu ini merupakan "jagoan" dari Teritorri dengan daging kualitas terbaik pula. Teriyaki disini selalu menggunakan daging "rib eye" dengan 3 jenis daging pilihan mulai dari grade tertinggi (dan termahal harganya) yaitu US, Australia, dan NZ. Ketiga pilihan tersebut masing-masing tersedia dalam ukuran 150 gr dan 200 gr, tinggal disesuaikan kapasitas perut kita tongue. Menu set ini sudah lengkap dengan nasi, salad, dan miso soup.. porsinya pas untuk satu orang. Dari semua komponen dalam set menu ini, teriyaki adalah bintangnya. Daging berkualitas diolah secara maksimal sehingga top enaknya.

 
Bento Special
Selesai mengobservasi keempat hidangan tersebut, Chef Ariawan mengatakan bahwa hidangan sudah siap untuk kami semua... saat makan yang dinanti pun tiba! Hidangan disajikan dalam bentuk bento, sehingga kami bisa mencicipi beberapa macam makanan sekaligus. Bento ini memang khusus hanya disediakan untuk OpenRicers saja, jadi tidak ada di buku menu. Penataannya cukup rapi walaupun simple, berisi nasi, salad, beef & chicken teriyaki, serta 3 potong sushi lengkap dengan wasabi dan pickles. Berikut review untuk setiap komponennya:
- Nasinya putih, pulen, ditaburi potongan nori tipis di atasnya. Saya tidak sanggup menghabiskan seporsi nasi di bento ini karena sudah kekenyangan dengan potongan sushi yang notabene nasi juga... Berat hati rasanya menyisakan makanan, tapi apa daya perut sudah penuh, maaf ya nasi...
- Saladnya berisi sayuran segar dengan mayonnaise home made Teritorri yang rasanya pas antara gurih, asin dan sedikit asam.
- Teriyakinya sudah pasti istimewa dengan saus coklat kehitaman racikan andalan Teritorri. Kekentalan sausnya pas, rasanya enak, walaupun untuk saya sedikit terlalu asin (mungkin karena saya terbiasa mengurangi konsumsi garam).
- Chicken teriyakinya berupa potongan daging ayam yang cukup tipis, masih dengan kulitnya, dilapis tepung tempura kemudian di-deep fried sehingga crunchy saat dimakan. Cukup enak jika dimakan dengan saus teriyakinya, tapi overall tidak terlalu istimewa bagi saya. Sebenarnya di buku menu ada 2 jenis chicken teriyaki yaitu breaded chicken dan skinless grilled chicken. Kalau boleh memilih tentunya saya lebih cocok dengan yang kedua, karena saya tidak suka kulit ayam.
- Bagaimana dengan beef teriyakinya? Nah, ada cerita disini. Agak kaget ketika mengangkat potongan grilled beef dengan sumpit, karena di bagian tengahnya masih terlihat merah. Awalnya agak sedikit ragu, mau dimakan atau tidak ya? Akhirnya nekat, saya coba juga! So, inilah pertama kalinya saya makan daging yang dimasak medium, karena biasanya selalu minta 'well done'. Ternyata enak juga karena daging yang dimasak medium benar-benar masih juicy. Selain itu kualitas daging yang bagus memang tak bisa bohong, terasa lembut dan gurih. Saya yang bukan penggemar daging merah pun kali ini sangat menikmatinya.
- Belum cukup sampai disitu, 3 potong sushi yang terhidang punya cerita sendiri. Dua diantaranya memakai unagi sebagai topping luarnya. Meskipun ini untuk pertama kalinya pula saya makan unagi, langsung santap sajalah.. ternyata, not bad! Unaginya agak kenyal, di-grill dan dibumbui jadi tak masalah karena rasanya menyatu dengan keseluruhan sushi yang berisi crab stick dan kyuri. Tepat saat saya menyantap sushi itu, chef Ariawan yang sedang berkeliling ke meja kami menjelaskan bahwa crab stick yang dipakai adalah 1st grade yang diimpor dari Jepang. Hmm.. tak heran kalau rasanya seenak ini. Sepotong salmon nigiri terakhir menjadi pengalaman tak terlupakan bagi saya. Untuk pertama kalinya… saya menyantap salmon mentah! Sempat ragu sebelumnya, tapi saya pikir kepalang tanggung.. hap, masuk mulut sekaligus. Rasanya, jangan ditanya! Hampir saja keluar lagi, cepat-cepat saya kunyah, telan, langsung minum ocha.. aman! Sungguh pengalaman pertama yang tak akan terlupakan. Salmonnya memang fresh dan kualitasnya tidak diragukan, warnanya orange cantik dan tidak amis, tapi.. sushi berbahan mentah rupanya memang tidak cocok untuk saya. Rasanya ini akan menjadi yang pertama sekaligus terakhir saya makan ikan mentah.. kapok sad

Dessert
Selesai menyantap semua hidangan -beneran ludes semuanya nih..- datanglah seporsi dessert manis menyenangkan yaitu:

 
Matcha Ice Cream with Ogura (IDR 19k)
Satu scoop matcha ice cream dengan sejumput ogura di atasnya. Meskipun bukan penggemar matcha, saya bisa merasakan bahwa yang satu ini memang istimewa rasanya. Aroma matcha dan tingkat kemanisannya pas, ice creamnya lembut, dan oguranya enak.. Hmm, andaikan ada 1 porsi lagi.. hehehe.

Service
Siang itu cukup banyak meja terisi di Teritorri, karena memang sedang jam makan siang. Terlihat jelas bahwa pelayanan di resto ini baik. Saya sempat memperhatikan di meja-meja lain, pelayannya ramah dan sigap sehingga semua tamu terlayani dengan baik, dan makanan pun tidak terlalu lama keluar dari dapur.

Overall memuaskan pengalaman serba pertama saya di Teritorri, dan pastinya akan ada yang kunjungan kedua, ketiga, dst karena memang memuaskan makan disini.
 
Recommended Dish(es):  Monkey Brain,Teriyaki
 
Spending per head: Approximately Rp100000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Perancis | Restaurant | Halal | Kencan / Berpasangan | Kumpul Keluarga

Sudah lama saya mengetahui keberadaan BokaBuka French Restaurant karena lokasinya dekat rumah, tetapi belum sekali pun mampir. Mengapa? Karena saya agak terintimidasi dengan embel-embel "French Restaurant" yang identik dengan escargot, and I won't eat snail, ever!

 

 
BokaBuka berlokasi di daerah Cipete, Jakarta Selatan, tepatnya di jalan Cipete Raya yang menghubungkan antara jalan Fatmawati dengan jalan Pangeran Antasari. Dahulu jalan ini belum seramai sekarang dan jarang ada restoran, berbeda sekali dengan sekarang dimana restoran berderet-deret di kiri-kanan sepanjang jalan, dari yang berupa kedai kecil hingga restoran franchise internasional pun ada. BokaBuka sendiri awalnya hanya menempati satu kapling kecil dengan dua lantai yang menyerupai bangunan ruko. Saya memang belum pernah masuk ke dalamnya, tapi jika saya lewat di malam hari terlihat dari luar resto ini suasananya nyaman dan berkesan romantis. Kini BokaBuka sudah pindah menempati lokasi baru yang hanya di seberang tempat lamanya. Areanya tentu lebih luas dan berbentuk rumah bukan bangunan ruko lagi. Memasuki resto, terasa seperti di sebuah rumah lama bergaya klasik dengan meja dan kursi makan terbuat dari kayu berwarna gelap serta beberapa pernik etnik menghiasi ruangan. Masih terlihat jelas pembagian ruangan-ruangan asalnya seperti ruang tamu, ruang keluarga, kamar, bahkan kamar mandinya masih tetap dibiarkan seperti semula yaitu satu kamar mandi luas hanya ada satu kloset duduk, lengkap dengan shower cubicle. Terbayang kalau resto ini sedang ramai bisa-bisa antrian toiletnya panjang nih. Ketika berjalan menuju toilet, ada yang menarik di dinding sebelah kiri lorong yaitu dua jendela kaca besar yang telah dimodifikasi menjadi rak kaca besar penuh berisi botol-botol minuman keras terpajang rapi. Entah botol-botol itu hanya sekedar pajangan saja atau benar-benar penyimpanan botol minuman keras yang masih dijual. Sudut itu menjadi makin menarik karena kedua rak dipisahkan dinding bercat merah darah dengan lukisan hitam putih, ditambah efek pencahayaan dari taman yang masuk melalui kaca menjadikan botol-botol minuman terlihat "glowing". Cantik!

 
Saya suka taman belakangnya yang mengingatkan suasana di Bali dengan kolam dan banyak tanaman. Jika datang di siang hari sepertinya akan terasa adem duduk-duduk santai di tengah halaman asri dan suara gemericik air, tapi kalau sudah gelap begini sih adanya diserbu nyamuk. Antara ruangan dalam dengan taman dihubungkan oleh pintu kaca, dan tepat kita membuka pintu ada 2 patung bebek dengan ekspresi dan pose yang lucu, diletakkan di bagian bawah kiri dan kanan.. sayangnya tidak bisa saya foto karena terlalu gelap. Ada satu lagi ornamen yang menarik perhatian saya, yaitu papan catur yang ditempatkan di tengah-tengah ruangan dalam. Papan caturnya terbuat dari kayu berbingkai ukiran ornamen klasik, dan bidaknya unik berbentuk tokoh wayang Jawa. Unik juga sebuah resto Perancis didekor dengan sentuhan interior Indonesia.

Kami para "tukang makan" yang diundang ditempatkan di private room tak berpintu yang saya duga tadinya adalah kamar tidur karena letaknya agak di belakang. Ruangannya cukup ideal untuk 10-12 orang, dan bersebelahan langsung dengan area bar/service tempat makanan keluar. Sambil menunggu OpenRicers yang belum sampai, kami disuguhkan ice tea. Tidak ada masalah dengan minumannya, hanya waitress yang menyajikannya sama sekali tidak ada basa-basi ramah, hanya datang, meletakkan minuman-minuman di meja (sekalipun mejanya belum ditempati) kemudian berlalu begitu saja. Kesan pertama yang kurang baik. Sepanjang kami menunggu pun tidak ada pihak resto yang menemui kami untuk sekedar berbincang atau menyapa, padahal resto sedang sepi tidak ada satu pun tamu lain.

Ketika akhirnya acara dimulai dengan dikeluarkannya menu pertama, yang menjelaskan tentang makanan sekaligus menceritakan sedikit latar belakang BokaBuka adalah asisten chef-nya. Resto ini dibuka pada tahun 2002 oleh ownernya yang berkebangsaan Perancis dan istrinya orang Indonesia (tidak mengherankan jika interiornya bergaya Indonesia). Mereka mempunyai teman seorang chef asal Perancis bernama Chantal, yang kemudian dipercaya sebagai head chef BokaBuka. Tahun ini BokaBuka juga membuka cabang di tempat yang sedang 'hitz' di Jakarta Selatan yaitu Street Gallery Pondok Indah Mall. Untuk arti nama BokaBuka diambil dari bahasa Spanyol yaitu boca yang berarti mulut. Arti ini juga diimplementasikan ke logo BokaBuka berupa empat kotak bergambar mulut, bibir, sendok dan garpu.

Drink
Ice Tea (IDR 17k)
Es teh dengan gula cair yang terpisah sehingga kita bebas menentukan kadar manisnya.

Foods

 
BokaBuka Salad (IDR 55k)
Merupakan salah satu signature dish yang sudah ada sejak awal resto ini buka hingga sekarang. Porsinya tidak terlalu besar, satu porsi maksimal hanya untuk di-share berdua. Saladnya berisi lettuce, brokoli, kentang, apel, anggur red globe, potongan smoked beef, dan daun bawang dirajang halus. Dressingnya terbuat dari white vinegar, madu, dan mustard yang dicampur oregano, garam, dan black pepper. Salad berempah ini agak aneh rasanya bagi saya, tidak match antara campuran buah yang manis dengan aroma rempah. Jika salad sayuran saja dicampur rempah masih enak, atau salad sayuran dicampur buah saya suka, tapi kalau dicampur semuanya seperti ini rasanya justru "bertabrakan". Satu hal lagi, mungkin kalau potongan smoked beef-nya digoreng sampai agak kering akan lebih enak dan ada kombinasi tekstur pada salad ini.

 
Cream of Pumpkin Soup (IDR 30k)
Terbuat dari labu parang dan labu kabocha yang dicampur dengan puree kentang sebagai pengikat agar supnya tidak terlalu encer/cair. Bumbunya sendiri sederhana saja hanya dengan bayleaves dan lada-garam. Penyajiannya sangat sederhana tanpa garnish apa pun, hanya dituangi sedikit cream di tengah sup. Rasa labunya cukup kuat, sedikit creamy setelah cream di tengah itu dicampur merata dengan supnya. Overall sup ini biasa saja, 'flat' dan tidak istimewa.

 
Chicken with Onion Butter (IDR 80k)
Fillet dada ayam dimarinasi dengan kikkoman sauce lalu di-pan fried, disajikan dengan onion butter bersama side dish potato gratin dan sayuran rebus. Fillet ayamnya enak, terasa asin, gurih, dan cukup meresap marinasinya.. tapi sayang sekali ada bagian yang belum matang. Sayalah yang kurang beruntung mendapatkan bagian daging yang masih berwarna pink itu, dan cukup banyak jumlahnya kira-kira sepertiga dari potongan fillet yang saya ambil. Saya pun bertanya ke teman di kiri-kanan untuk memastikan daging itu benar tidak matang, bukan hanya saya yang salah lihat dan semuanya sependapat kalau itu memang tidak matang. Onion butter cukup baik karena caramelized onion-nya tidak sampai gosong, hanya mungkin butter yang digunakan terlalu banyak sehingga banyak minyak di dasar piring. Sayuran berupa buncis dan wortel rebus tergolong overcooked karena warnanya sudah agak pucat dan wortelnya patah ketika ditusuk garpu. Satu-satunya komponen yang paling enak di piring ini justru potato gratin. Potongan kentangnya cukup tipis merata sehingga semuanya matang, juga cream diantara layer-layer kentang itu terasa pas baik dari rasa dan jumlahnya.

 
Beef Fillet with Mushroom Sauce (IDR 98k)
Grilled tenderloin (160 gr) yang dimarinasi dengan lada garam, disajikan dengan mushroom sauce dan side dish potato gratin dan sayuran rebus. Ketika kami menanyakan jenis daging yang dipakai, sang asisten chef menjawab ini adalah australian beef, tetapi kami semua meragukannya. Daging yang kami makan cukup alot, tidak juicy sama sekali untuk daging yang katanya dimasak pada tingkat kematangan medium-well. Bahkan beberapa teman yang gemar makan daging berpendapat bahwa ini seperti daging rendang biasa, bukan daging untuk steak. Mushroom sauce yang memakai white wine terasa cukup creamy, tetapi malah tidak bercita rasa jamur, hanya terdapat beberapa potongan tipis jamur saja. Sayuran rebus masih sama overcooked seperti di menu ayam sebelumnya, dan potato gratin tetap jadi juara. Mungkin sebaiknya potato gratin ini dibuat jadi satu menu tersendiri saja, karena rasanya memang enak dan pas, jauh lebih baik dari makanan utamanya.

Dessert

 
Dame Bruxelles (IDR 40k)
Arti namanya adalah "Lady Brussel", merupakan menu dessert spesial di sini. Terdiri dari Belgian waffle dengan satu scoop es krim vanilla, siraman saus coklat, dan taburan icing sugar. Wafflenya enak karena tidak terlalu tebal, empuk, dan agak sedikit crispy di bagian luarnya. Waffle yang masih hangat cocok dimakan dengan ice cream yang dingin, berpadu dengan manisnya saus coklat. Meskipun hampir semua komponennya manis, masih ada rasa asin gurih dari waffle sehingga keseluruhan rasanya balance. Dari semua menu yang di cicipi hari ini, dessert merupakan penutup terbaik tanpa cela diantara semua menu.

Selain pelayanan yang kurang ramah, kami semua cukup heran dengan lamanya makanan keluar dari dapur padahal resto sedang sepi, ragam menu yang disediakan juga tidak banyak (2 appetizer, 2 main course, dan 1 dessert, masing-masing hanya 1 atau 2 porsi saja), dan kedatangan kami tentunya sudah dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika resto ini memang well prepared dan cara kerja dapurnya profesional, rasanya tidak perlu waktu sekian lama untuk memasak semua hidangan. Di akhir acara, tidak ada penutupan dari pihak resto sama sekali. Sang asisten chef tidak keluar lagi menemui kami untuk menanyakan kesan atau masukan mengenai makanannya, padahal resto tetap sedang sepi seperti ketika kami datang tadi. Saya yang semula ingin komplain mengenai daging ayam tidak matang tadi pun jadi mengurungkan niat. Bahkan untuk komplain ke waitress yang membereskan piring makan saya pun sudah malas karena sikap tidak ramah mereka.

Ternyata, baik-buruknya kualitas makanan dan pelayanan suatu resto tidak bisa diukur dari lamanya masa operasional mereka. Dan, maaf, rupanya BokaBuka merupakan salah satu contoh yang kurang baik buat saya.
 
Recommended Dish(es):  Dame Bruxelles (waffle)
 
Date of Visit: Jul 03, 2013 

Spending per head: Approximately Rp150000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 2  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 2  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 2

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Lunch Escape at Delicato Smile May 28, 2013   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Itali | Kafe | Pizza & Pasta | Kencan / Berpasangan

Pas si bos tugas ke luar kota, pas ada undangan lunch gathering dari Openrice nih… lucky me! Jarang sekali saya bisa ikutan gathering siang karena jamnya terlalu lama melewati standard lunch hour, makanya kesempatan langka ini takkan saya sia-siakan.
Delicato, sebuah resto cozy yang berlokasi strategis di Tarogong, Jakarta Selatan. Kebetulan lokasi ini memang sudah familiar buat saya karena tidak jauh dari kantor maupun rumah. Bagi yang kurang familiar dengan area ini, sebagai patokannya tinggal cari Hero Supermarket atau Starbucks Tarogong yang mengapit Delicato, di seberangnya juga ada pom bensin, dan dekat dengan Hotel Kristal.

Inside The Restaurant
Kapasitas Delicato tidak terlalu besar hanya sekitar 30-35 orang dengan area indoor & outdoor. Jika datang di siang hari saat matahari sedang bersinar terik, duduk di dalam resto ini jadi terasa sangat nyaman karena suasananya yang cozy, homey, dan tentunya sejuk dengan bantuan AC. Interiornya dibuat seperti trattoria di italia dengan taplak kotak-kotak merah-putih, meja dan kursi kayu, hiasan vintage poster di dinding, dan lighting yang temaram. Di salah satu dinding bagian samping ada papan tulis besar tempat menuliskan menu-menu "Special Chef" yang berganti setiap bulannya. Sisi dinding satunya dipasang cermin besar sehingga memberi kesan lebih luas pada ruangan. Tak ketinggalan ada musik ala Italia yang menambah nyaman suasana di dalam resto.
Interiors

Interiors

 
The Foods
Special Chef's Menu

Special Chef's Menu

 
Setelah menunggu (para Openricers yang telat) cukup lama, dimulai juga gathering ini dengan dikeluarkannya makanan-makanan lezat nan menggugah selera. Berikut liputannya:
Pastas

Pastas

 
Tortelloni (45k) - Fresh pasta stuffed with minced beef
Sebagai hidangan yang keluar nomor satu, ternyata rasanya nomor satu juga loh! Konsepnya mirip dengan ravioli yaitu pasta yang di dalamnya ada isinya, tapi bentuk dan isinya berbeda. Pastanya sudah tentu home made, dengan ketebalan yang pas sehingga rasanya balance dengan isi dan saus cream-nya. Isian daging sapi cincangnya empuk, dibumbui dengan pas.. dan akhirnya.. saus cream bersama keju mozarella serta taburan parmesan yang menyatukan hidangan ini menjadi enak, creamy dan gurih. This is my favorite one!

Penne Gamberi (48k) - Penne with shrimp in tomato sauce
Penne dengan udang yang dimasak dengan saus marinara. Menurut sang chef, herbs yang digunakan adalah basil dan oregano, dengan home made tomato sauce yang rasanya pas tidak terlalu asam. Topping udangnya cukup besar, lumayan banyak jumlahnya, dan kualitas udangnya baik. Pastanya sendiri dimasak dengan pas, meskipun tidak bisa dibilang al dente karena terasa cukup empuk, melebihi al dente tapi tidak sampai overcooked. Not bad, tapi secara keseluruhan rasanya tidak terlalu istimewa untuk saya, just a penne dish with shrimp in tomato sauce, that's all.
Italian Pizza

Italian Pizza

 
Deluxe Pizza (regular 65k, large 85k)
Thin crispy pizza has Italia yang berisi beef pepperoni, beef sausage, sliced black olive, mushroom, red & green paprika, onion, tomato sauce, and mozzarella. Pizza dough-nya benar-benar tipis dan crispy, ketika dimakan bagian pinggirannya sampai bunyi kriuk-kriuk gitu.. Untuk keseluruhan rasanya enak, khas home made Italian pizza. Semua pizza disini tersedia dalam 2 ukuran yaitu regular dan large, jadi bisa disesuaikan dengan jumlah orang. Pastinya untuk Openricers dihidangkan yang ukuran large (8 slices)… baik hati yah Delicato ini, mungkin ownernya tau kalau Openricers memang jagonya makan semua yah.. hehehe...
Chix n Fish

Chix n Fish

 
Pollo ala Diavolla (85k) - Half chicken with roast potato and vegetables
Setengah ekor ayam yang dipanggang dengan bumbu chilli flakes di bagian luarnya, dimakan dengan mushroom gravy sauce. Side dish berupa roast potato dengan taburan herbs dan mix salad dengan dressing thousand island. Kata salah satu Openricers yang pernah tinggal di Italia, 'diavolla' artinya setan, maksudnya hidangan ini pedas/panas. Setelah dicoba, ternyata ga pedas tuh.. hahaha.. ternyata beda standar pedasnya lidah eropa dengan Indonesia yah. Ayamnya cukup besar, empuk, matang sempurna, hanya sayang kalau menurut saya marinasi dasar (salt & pepper) kurang meresap sehingga daging bagian dalam tidak ada rasanya. Mungkin kurang lama marinasinya, apalagi ayamnya cukup besar dan tebal dagingnya. Roast potato dan salad tidak ada masalah, tapi mushroom gravy-nya asin parah! Saya yang sudah terbiasa mengurangi garam sungguh tersiksa kalau harus makan dengan saus ini.

Petto Valdostana (50k) - Chicken breast stuffed with smoked beef
Satu lagi hidangan ayam, berupa dada ayam utuh yang di-stuffed dengan smoked beef dan mozarella. Konsepnya sama dengan cordon blue, hanya finishingnya berbeda. Jika cordon blue dilapisi breadcrumbs, yang ini hanya di-pan seared lalu disiram mushroom sauce. Side dish hanya berupa mashed potato dengan taburan herbs. Tidak ada masalah dengan stuffed chicken, standar seperti cordon blue, tapiiii mushroom sauce sama asinnya dengan hidangan sebelumnya. Lebih parah lagi, yang ini mashed potatonya juga asin! Sebenarnya saya suka tekstur mashed potatonya yang masih agak sedikit kasar tapi tetap lembut dimakan, hanya ga kuat dengan asinnya. Semua Openricers pun berpendapat sama soal asinnya.

Grilled Fish - Grilled dory with mix salad
Fillet ikan dory di-grill dengan garlic lemon butter, disajikan bersama mix salad dengan balsamic vinaigrette dan olive oil. Sebenarnya ikan dory merupakan kesukaan saya, namun sayang di menu ini ikannya terlalu asin, mungkin karena ikan dory sendiri sudah agak asin dengan garlic butter yang mungkin asin juga, jadinya berlipat ganda asinnya. Sangat disayangkan karena saya jadi tidak bisa menikmati fillet ikannya, justru mixed saladnya yang enak karena saya suka balsamic vinaigrette yang segar dan kaya rasa.
The Beef

The Beef

 
Tagliatta Dimanzo (115k) - Sliced sirloin steak with butter rice
Sirloin steak yang di-sliced dengan topping sauted sliced mushroom dihidangkan bersama butter rice bercampur potongan-potongan kecil sayuran. Sirloin steak dimasak dalam tingkat medium, namun karena hidangan ini sudah cukup lama keluar baru akhirnya kami makan, dagingnya sudah seperti medium-well. Daging yang digunakan juga daging lokal, jadi memang agak sedikit keras/alot. Tidak ada yang spesial untuk butter rice, hanya nasi ditumis dengan sayuran sampai agak kecoklatan, tanpa bumbu tertentu hanya salt & pepper saja. Waitress yang mengantarkan hidangan ini mengatakan, seharusnya ada mushroom sauce untuk makan steaknya, yang akan menyusul keluar. Tapi sampai akhirnya menu ini habis dikeroyok Opernricers, ga datang juga tuh sausnya.

Filleto Con Gamberi (78k) - Grilled tenderloin and shrimp
Grilled tenderloin yang disajikan dengan udang, menurut sang head chef memang hidangan ini sengaja memadukan daging (red meat) yang bersaus creamy dengan seafood sehingga menjadi variasi baru. Daging dihidangkan pada tingkat kematangan well done (meskipun kata chef-nya medium well) tetapi masih cukup empuk dan tidak sampai jadi kering/keras meskipun sama-sama daging lokal juga. Saus zingara yang diletakkan dibawah tenderloin terasa enak dan bagusnya tidak keasinan seperti mushroom sauce di dua hidangan sebelumnya. Side dish berupa mashed potato yang lembut (untungnya yang ini tidak keasinan, leganya!) dan sauted vegetables yang kematangannya pas. Semua komponen hidangan ini menurut saya yang paling pas perpaduannya, juga pas rasanya. Kalau mau dicari kekurangannya cuma satu, yaitu udangnya yang pelit karena cuma seekor saja jadi seperti garnish belaka.

The Drinks
Drinks

Drinks

 
Italian Soda: Mojito & Cherry Cola
Italian soda basically soda water dengan sirup yah.. untuk cherry cola saya kurang suka karena rasa sirup cherry-nya agak aneh, seperti airnya manisan cherry dalam botol gitu x(. Kalau mojito memang sudah banyak dikenal ya, dengan campuran mint dan lemon. Ketika mengantarkan mojito, waitress nya berpesan, mojito ini lebih enak kalau ditambahkan beberapa tetes Tabasco. Kami semua terheran-heran dengarnya. Tabasco, beneran nih? Ga kebayang kayak apa jadinya ya… Awalnya kami semua mencicipi versi aslinya sebagaimana dihidangkan, agak asam dan sedikit wangi aroma mint dan bersoda. Baru ketika di akhir setelah selesai makan, karena masih banyak mojitonya, kami coba juga dituangi beberapa tetes Tabasco. Tak disangka, enak lho! IMO yah.. kalo saya sih suka karena rasanya jadi unik banget, ada sedikit asin, pedas, bahkan jadi ada sebersit rasa manisnya. Meskipun enak, tapi mesti hati-hati meminumnya karena agak pedas, kalo sampai tersedak bahaya nih hehe.. Beberapa Openricers yang lain ga suka sih, apalagi yang ga suka pedas dan mungkin terlalu aneh buat mereka.

Oreo Strawberry Ice
Terbuat dari strawberry ice cream di-blend dengan susu dan biskuit oreo, jadinya seperti milkshake sih sebenarnya. Meskipun ice cream yang digunakan bukan home made Delicato sendiri, tapi katanya es krim impor lho.. makanya rasanya enak, tidak eneg karena ada aroma ice cream strawberry dan tekstur dari biskuit oreo. Manisnya pas, dan tidak terlalu kental. Garnish-nya simple berupa biskuit oreo yang mengambang di bagian atas. Minuman ini yang paling laris dan habis duluan, soalnya memang paling enak diantara yang lain.

Lychee & Peach Ice Tea
Ice tea yang diberi sirup lychee dan peach. Tidak terlalu istimewa sih, apalagi basically saya bukan penggemar teh. Ketika diminum di awal pas baru disajikan masih lumayan berasa aroma sirup lychee & peach, namun ketika sudah selesai makan, si teh ini rasanya sudah benar-benar jadi hambar bahkan aroma teh pun sudah memudar, mirip air putih saja…
Chocoate Cake

Chocoate Cake

 
Chocolate Melt (30k)
Chocolate cake yang terbuat dari terigu, coklat, butter, dan telur. Topping ice cream bisa dipilih antara coklat, strawberry, atau vanilla. Cake coklatnya lembut, empuk dan hangat dengan bagian tengah yang melted (seperti lava cake kurang lebih), jadi perpaduan panas-dingin jika dimakan bersamaan dengan ice cream vanilla yang manis. Sayang ketika dihidangkan es krimnya sudah meleleh, difoto pun tampaknya tidak bagus lagi.. rupanya dessert ini sudah disiapkan agak lama sebelum dihidangkan. Garnishnya simple banget hanya sebatang pocky coklat dan daun mint, se-simple kuenya. Dessert ini enak, terasa cukup kuat coklatnya, tapi untuk saya pribadi terlalu manis meskipun warnanya gelap seperti dark chocolate. Dan.. si hitam manis ini pun menjadi penutup yang manis buat kami para Openricers yang hadir siang itu.

Delicato Crew & Service
Dalam hal service tentunya kami dilayani dengan baik karena memang ada acara khusus yaitu gathering dari Openrice, dan setiap makanan yang keluar dijelaskan ingredient/cara memasaknya. Terlebih lagi siang itu memang resto cukup sepi, selain kami yang 'menguasai' satu meja panjang, hanya ada 3 meja lain yang terisi. Dari yang saya lihat di meja customer lain, waitress dan waiternya sigap dan ramah. Hidangan pun tidak terlalu lama keluar. Untuk kami para Openricers, berkesempatan berbincang dan sedikit tanya jawab dengan sang head chef di akhir acara. Head chef Mulyadi memang piawai meracik hidangan bercita rasa Italia karena sebelumnya berpengalaman bekerja di kapal pesiar Italia. Untuk di Delicato ini, beliau memadukan taste asli Italia dengan citarasa yang disesuaikan untuk lidah orang Indonesia, menghasilkan makanan Italia yang lebih kaya rasa dan pastinya mammamia lezato.

Summary
Delicato sungguh terasa nuansa Italia-nya, baik dari makanan maupun suasana restonya. Berhubung saya belum pernah ke Italia langsung, mungkin ini bisa jadi gambaran seperti apa suasana disana yah.. Satu hal lagi, harga makanannya affordable, ga menguras kantong dan sesuai dengan jenis/kualitas makanan yang kita dapatkan.. jadi jangan ragu datang ke Delicato yah! Saya pribadi puas banget dengan acara gathering Openrice kali ini, it's a real 'escape' for me.
 
Recommended Dish(es):  Tortelloni,Filleto Con Gamberi,Mojito with Tabasco
 
Spending per head: Approximately Rp75000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Membeli Suasana di The Rock Bar Smile Apr 10, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Lounge/Bar | Wine | Pesta | Pemandangan Laut | Hang Out

Banyaknya review tentang Rock Bar di berbagai media, membuat saya sangat tertarik mengunjunginya. Meskipun sudah melihat foto2nya di internet dan majalah, tentu belum afdol jika belum datang langsung. Maka dari itu, jauh2 di ujung Jimbaran pun saya datangi tempat ini. The Rock Bar berada di Ayana Resort & Spa, sebuah hotel eksklusif di daerah Jimbaran. Rock Bar merupakan bar terbuka (open top bar) yang sangat terkenal karena lokasinya yang unik yaitu dibangun di karang terjal setinggi 14 meter di pantai Jimbaran oleh arsitek Jepang. Bar ini bergaya modern minimalis dengan lantai kayu, bertingkat-tingkat mengikuti kontur tanahnya. Lokasi ini menjadikan Rock Bar memiliki pemandangan fantastik ke laut lepas. Untuk mencapainya, harus turun dengan semacam cable car dari halaman belakang hotel Ayana. Cable car ini berfungsi sebagai lift yang mengantar tamu datang & pulang. Untuk tamu yang menginap di Ayana Resort sebenarnya ada jalan lain bertangga tanpa harus pakai cable car, tapi tentu lebih jauh mad Dalam perjalanan dengan cable car pun pemandangannya sudah indah. Sekali jalan cable car bisa mengangkut 4-5 orang dewasa dan memakan waktu sekitar 2-3 menit.

Sampai di area Rock Bar, setiap tamu yang datang langsung disambut reception desk untuk mendaftarkan nama baru kemudian diantar oleh usher ke tempat duduk. Jadi tamu tidak bisa masuk sembarangan sesuka hati. Tamu yang menginap di hotel Ayana mendapat privillege karena bisa menempati area bar yang posisinya paling tinggi sehingga view-nya paling baik untuk menyaksikan sunset. Area bar ini baru dibuka untuk umum setelah jam 6. Karena datang agak awal, saya masih bisa mendapat tempat yang cukup strategis di area umum, yang tidak terhalang orang untuk nanti memotret sunset. Di bawah area saya duduk, ada satu bagian yang lebih rendah dengan tempat duduk sofa rotan berpadding empuk dan meja rendah, ketika saya tanyakan, tempat itu hanya untuk tamu yang akan spending 600ribu ke atas. Wow... jadi semua tempat beda harganya di sini. Jika mau dapat tempat terbaik, ada harga yang harus dibayar. Ketika sudah gelap, laut tidak kelihatan lagi, hanya suara ombak saja yang terdengar. Sebagai gantinya, tamu bisa menikmati tata cahaya yang indah disini. Memang harus sedikit hari2 melangkah karena pencahayaannya temaram. Menjelang malam bar makin ramai, terutama tamunya para ekspatriat alias bule. Jika sedang ramai begini, tamu harus pasrah jika untuk naik atau turun ke bar harus mengantri panjang untuk naik cable car.

Saya datang sekitar pk. 16.00, saat matahari masih sangat terik. Sambil memberikan buku menu, waitress pun menawarkan payung untuk menghalau panas, rupanya memang sudah diantisipasi yah.. Saya pun tidak menolak, at least untuk menghalau silaunya matahari yang sangat tak nyaman di mata (karena saya berkaca mata silinder, jadi tidak pakai sunglasses). Saya memang hanya berencana untuk snacking saja disini, karena sudah ada jadwal makan malam sendiri di pantai Jimbaran nanti. Berikut menu snack yang saya pilih:

 
Mixed potato, 50k
Berisi potato wedges, curly fries & pita breads dengan cocolan hummus, curry mayonnaise, & saus tomat. Potato wedges & curly fries biasa saja seperti yang bisa didapat dimana2, tapi pita breads nya yang enak, kering dan renyah. Cocolannya saya paling suka curry mayonnaise yang paling enak. Menu yang sebenarnya sederhana ini tampil sangat menarik karena penyajiannya. Mixed potatoes ditata dalam gelas anyaman rotan, saus masing2 di cobek mini dari batu hitam, semuanya ditempatkan dalam baki kayu hitam dengan pinggiran logam sebagai bingkai. Mewah!

Virgin tropical tango, 80k
Mocktail yang diracik dari strawberry, mango, pineapple, & grenadine. Rasanya asam manis dan bersoda. Cocok diminum ditengah udara panas seperti ini. Warnanya cantik, rasanya enak, dan penyajiannya menarik di gelas pendek dengan garnish simple.

 
Inilah hasil foto yang saya dapatkan dari tempat duduk saya. Walaupun sunset-nya tidak sempurna karena ada awan, tetap menjadi pengalaman tak terlupakan bisa berada di tempat bagus ini. Kesimpulannya, Rock Bar memang 'menjual' tempat dan suasana sebagai yang utama.

 
Spending per head: Approximately Rp130000

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 5  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Makan Sehat di Heavenly Blush Smile Apr 10, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Es Krim/Yogurt

Biasanya saya ke Heavenly Blush hanya mampir untuk beli frozen yogurt secara take away, namun kali ini ada yang berbeda. Berbekal voucher diskon dari salah satu portal voucher online yang kini kian marak.

Saya mampir sepulang kantor ke Heavenly Blush PIM yang berlokasi di Restaurant Row. Karena ini weekdays, sore2 begini HB sepi banget, sangat berbeda dengan saat weekend yang pasti penuh. Counter HB tidak terlalu besar standar satu kapling di Restaurant Row, bernuansa cerah dengan dominan warna putih dikombinasi magenta dan hijau. Meja dan kursinya pun putih. Saya memilih tempat di pojok belakang yang nyaman. Waitress segera menghampiri dengan list menu, sambil menawarkan tester yogurt drink. Meskipun sudah pernah minum yogurt drink tsb, saya tak menolaknya lol Karena dari awal sudah ingin mencoba salad buahnya, maka tak perlu lama menentukan pilihan. Ketika saya bertanya tentang pilihan dressingnya, saya malah ditawari untuk mencoba dulu masing2 dressing tsb. Asyik, pastinya tak saya lewatkan.

 
Yo Salad - Fruit
Sebenarnya ada 2 pilihan salad yaitu buah atau sayuran dengan grilled chicken. Saya sudah pernah mencoba salad sayurnya, biasa saja sayuran standar salad dengan lettuce yang banyak, sedikit tomat, dan sedikit grilled chicken. Kali ini giliran mencoba salad buahnya. Ternyata memang lebih memuaskan. isinya terdiri dari melon, rock melon, nanas, anggur red globe, lettuce, strawberry, dan taburan kacang mete sangrai. Dressingnya berbahan dasar yogurt dan saya memilih asian dressing yang ada sedikit rasa pedas. Setelah dicampurkan dengan saladnya, ternyata rasanya enak & berbeda dari dresing mayonnaise untuk salad pada umumnya. Porsi saladnya pas, cukup mengenyangkan, cocok sebagai makanan sehat untuk yang sedang diet.smile

Pelayanannya kali ini di HB sangat memuaskan, two thumbs up! Sudah ditawari tester yogurt drink, tester dressing, plus dapat free air putih. Waiter & waitress nya semua helpful dan menguasai menu. Saya juga membeli 2 botol yogurt drink untuk dibawa pulang, maka lengkap sudah makan sehat di HB kali ini. Pastinya saya akan ke HB lagi lain waktu.
 
Recommended Dish(es):  Yo Salad (fruit)
 
Spending per head: Approximately Rp40000

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 5  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
   2 Vote(s)   View Results
Recommend
0