OpenRice Index
  
missnl
This is missnl living in Cilandak. I am a graphic designer, work in Lebak Bulus. I like to hang out in Tanjung Duren, Pondok Indah, Senayan. Bali, Chinese, Itali, India are my favorite cuisines. I also love Street Foods, Kafe, Restaurant, lounge and Siomay / Batagor, Pizza & Pasta, sate lilit bali.
Member 10 First(s)
No. of Review67 Review(s)
編輯推介數目33 Editor's Choice
Recommended8 Recommended
Popularity3669 View(s)
Replies in Forum1 Comment(s)
Upload Photos1237 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant42 My Restaurant(s)
Follow58 Following
粉絲391 Follower(s)
missnl  Level 3
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 21 to 25 of 57 Reviews in Indonesia
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Roti & Kue

Kebetulan kakak sepupu berkunjung ke rumah saya untuk menengok Oma karena mereka sudah lama tidak bertemu. Nah, kakak sepupu saya ini membawa dua kotak cake dari Cheese Cake Factory sebagai oleh-oleh.
Vanilla Fruit (10 x 20 cm, IDR 120k)
Tampilan kuenya menarik dan 'fresh' karena bagian atasnya dipenuhi potongan buah warna-warni yaitu strawberry, kiwi, mandarin orange, dan anggur red globe. Sekeliling sampingnya dibalut dengan roasted almond flakes yang masih crunchy. Di dalamnya terdiri dari vanilla sponge cake yang lembut dan moist, berselang-seling dengan cheese cake. Keseluruhan rasa dari varian yang satu ini tidak terlalu manis dan tidak membuat 'eneg', apalagi jika dimakan bersamaan dengan buah-buahan segar yang menjadi toppingnya itu… yang lagi ngantuk pun langsung segar lagi deh! Varian Vanilla Fruit ini merupakan pilihan tepat bagi mereka yang tidak terlalu suka aroma keju yang kuat, sehingga bisa tetap menikmati cheese cake dengan rasa yang tergolong mild.
Fruity

Fruity

 
Fresh!

Fresh!

 
Yummy

Yummy

 
Hanya ada satu kelemahannya, cake bertopping buah ini sebaiknya dihabiskan sesegera mungkin, kalau bisa di hari yang sama setelah pembelian. Topping buah di bagian atasnya itu sangat mudah basi dan akan mempengaruhi rasa cheese cake-nya juga. Kalaupun terpaksa harus disimpan lebih dari sehari, sebaiknya dimasukkan ke freezer tanpa topping buahnya, hanya saja tekstur cheese cake-nya tentu akan berubah jadi tidak seenak semula. Choice is yours!

Rainbow Cake (10 x 20 cm, IDR 140k)
Tampilannya cukup menarik dengan tiga lapisan berbeda warna, merah-kuning-hijau, seperti lampu lalu lintas yakk.. hehehe… Bagian atasnya dihias minimalis dengan taburan gula halus, rice krispies, dan potongan cake 3 warna (bahan dan warna yang sama dengan isinya) dan sebutir strawberry utuh. Cake-nya agak padat seperti bolu, diantara tiap lapisan cake terdapat cheese cake lembut yang cukup tebal sebagai pelekatnya.
Keseluruhan rasa Rainbow Cake ini lebih manis jika dibandingkan dengan Vanilla Fruit. Ketika saya coba memakan cake-nya saja (garnish potongan cake di atas kue) ternyata memang sudah manis.. ya pantaslah kalau jadi dominan rasa manisnya, apalagi ketika dimakan sekaligus dengan lapisan cheese cake plus taburan gula halus di atasnya. Hey diabetics, beware!

 

 
Like a traffic light

Like a traffic light

 
Cake dari Cheese Cake Factory yang didirikan sejak tahun 2004 ini memang jarang yang mengecewakan. Saya sendiri sudah pernah mencicipi beberapa varian cake lainnya. Rata-rata cakenya enak, hanya memang saya pribadi tidak bisa makan banyak karena tidak terlalu menyukai cake atau kue yang terlalu manis. Satu atau dua slice cheese cake masih bisa diterima, lah.. hehehe. Kedua jenis cake yang saya cicipi kali ini merupakan alternatif lain bagi yang ingin menikmati cheese cake tetapi tidak suka full cheese cake yang kadang membuat eneg bagi sebagian orang. 
CCF

CCF

 
Sesuai dengan tagline-nya "We Are More Than Just A Cake Shop", kini Cheese Cake Factory dengan delapan gerainya yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya mempunyai produk yang lengkap selain dessert yaitu dine in restaurant dengan menu makanan, minuman, hingga wine yang beragam. Tersedia juga layanan delivery dan online order yang sangat praktis dan memudahkan konsumen memesan kue.
 
Recommended Dish(es):  Vanilla Fruit
 
Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Gudeg Adem Ayem OK Oct 15, 2014   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jawa | Restaurant | Halal | Kumpul Keluarga

Kebetulan ada saudara yang datang membawakan oleh-oleh dua porsi gudeg untuk Oma saya. Gudeg itu di-package dalam kotak hijau yang cukup menarik perhatian saya. Pertama, kotaknya berbahan kardus bukan styrofoam. Kedua, design kotaknya terlihat "vintage" dengan warna hijau yang eye catching. Tertarik?
A vintage packaging

A vintage packaging

 
Kalau dilihat dari packagingnya, Rumah Makan Adem Ayem bisa dikategorikan sebagai resto masakan Indonesia "old fashioned" di Jakarta yang sudah ada sejak tahun 1969. Penilaian ini memang masih sangat subyektif dari saya pribadi, mengingat saya tidak mengunjungi restonya langsung, hanya melihat dari logo dan packagingnya saja. Nama restonya tercetak dengan warna hitam solid, flat, dan menggunakan jenis font yang simple. Nah, logogram-nya lumayan "seru" nih… ada gambar ayam berwarna merah terang di atas huruf A berwarna kuning, kemudian di belakangnya ada warna putih, hitam, dan biru gradasi beberapa lapis. Rame dan kontras!
Tak perlu berlama-lama dengan kemasan, saatnya meninjau isi di dalamnya. Satu kotak berisi satu porsi gudeg lengkap dengan sambal goreng krecek, sepotong ayam, sebutir telur, areh dan sambal. Arehnya dibungkus plastik terpisah dan sambalnya ditempatkan dalam plastik ziplock rapi. Dilihat dari tampilan sekilas cukup menjanjikan, semoga demikian juga dengan rasanya.

 

 
Sebagai penyuka gudeg yang tidak terlalu manis, gudeg Adem Ayem ini pas dengan selera saya. Dari tampilan warna coklatnya memang terlihat tidak terlalu banyak kecap, coklatnya merata tapi tidak terlalu gelap. Nangka mudanya dipotong dalam ukuran sedang dan tingkat kematangannya pas, empuk tapi tidak sampai terlalu lunak atau hancur. Sambal goreng kreceknya tidak terlalu pedas, sedap, dan yang penting kreceknya empuk/lembut, tidak kenyal seperti permen karet. Telurnya berwarna coklat di bagian luar dan cukup meresap hingga ke dalam, tandanya bumbu cukup meresap jadi rasanya tidak hambar seperti telur rebus biasa. Sepotong ayam yang menyertai setiap porsi sudah dibuang tulang dan dimasak bersama bumbu hingga empuk. Arehnya berwarna putih kekuningan, tidak terlalu kental, gurihnya pas, dan santannya tidak pecah (split) meskipun dipanaskan. Areh ini dahulunya terbuat hanya dari santan yang dikentalkan hingga jadi gurih dan asin, namun belakangan lazimnya justru santan ditambah putih telur yang diaduk merata sehingga lebih praktis dan menghemat pemakaian santan. Demikian pula areh dari resto Adem Ayem ini sepertinya memakai putih telur tetapi tidak terlalu banyak dan tercampur dengan sangat baik. Satu hal yang saya suka, resto ini tidak pelit areh seperti resto gudeg ternama yang pernah saya coba. Kalau arehnya cuma seiprit sih mana berasa ya? hehehe… Tak ketinggalan, sambalnya yang memiliki citarasa cenderung manis dan tingkat kepedasan menengah melengkapi menu gudeg ini.
Kalau boleh jujur, dari segi rasa gudegnya sendiri buat saya terasa kurang mantap, bisa dibilang "kurang berani bumbu". Rasa gudegnya baru pas dan mantap jika dimakan sekaligus dengan sambal goreng krecek, telur, siraman areh (harus agak banyak), dan tentunya ditambah sambalnya yang agak manis itu. Saya jadi berpikir, mungkin gudegnya sendiri memang sengaja dibuat tidak terlalu dominan agar rasanya justru menyatu pas ketika dimakan dengan pelengkapnya.
Bagi yang penasaran, silakan dicoba saja lho...
 
Recommended Dish(es):  Gudeg Komplit
 
Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Ayam Presto Empuk OK Oct 15, 2014   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Restaurant | Halal | Kumpul Keluarga

Sebenarnya saya sudah cukup lama mengetahui tentang resto ayam yang telah memiliki banyak cabang di Jakarta dan Bali ini, tetapi memang belum pernah mampir, padahal ada juga satu cabangnya yang berlokasi dekat rumah saya. Akhirnya pada satu kesempatan saya pun menyambangi salah satu cabangnya yang berlokasi di Jl. Wolter Monginsidi, Jakarta Selatan.
Menu

Menu

 

 
Memasuki resto berdekor modern minimalis ini, suasana resto fast food terasa "kental" dengan penggunaan meja dan kursi berbahan plastik. Area resto tergolong cukup besar untuk ukuran kavling di tepi jalan raya yang ramai di kawasan elit Kebayoran Baru. Di sebelah kanan pintu masuk resto terdapat smoking room yang dibatasi kaca dan berpintu sehingga asap rokok tidak akan mengganggu pengunjung lainnya.
Resto sedang tidak ramai saat kami datang, hanya ada beberapa meja saja yang terisi. Menu yang tersedia di sini sebenarnya cukup bervariasi, ada pula ragam menu bebek dan bandeng tetapi memang menu ayam yang paling digemari. Tante saya yang sudah beberapa kali makan di resto ini (di beberapa cabang yang berbeda) langsung memilih menu sekaligus membantu memilihkan untuk kami semua.
Makanan tersaji di meja kami dalam waktu yang tidak terlalu lama, selain karena sedang tidak ramai, jenis pesanan kami pun tidak terlalu beragam dan bukan menu yang harus dimasak dalam waktu lama. Oke, berhubung kami sudah cukup lapar, langsung diserbu saja. Selamat menikmati!
Ayam Goreng (1 ekor IDR 68.182, 1/2 ekor IDR 34.545, 1 potong IDR 17.273, 1 paket nasi IDR 22.727)
Comes with Crunchy Kremes

Comes with Crunchy Kremes

 

Di resto ini kita dapat memilih porsi ayam antara satu ekor, setengah ekor, per potong (dada/paha), dan paket. Setiap porsi disajikan dengan lalapan ketimun-daun kemangi dan sambal yang sudah tersedia dalam mangkuk kecil di setiap meja. Menu paket terdiri dari satu potong ayam dengan nasi putih, serta bisa mendapat tambahan menu sayur (plecing kangkung/karedok/pecel sayur) hanya dengan menambah IDR 5.000 saja.
Dikarenakan keluarga kami cenderung lebih menyukai bagian dada ayam, maka kami memesan yang per potong. Satu potong dada ayamnya termasuk cukup besar, porsinya pas untuk seporsi nasi yang mengenyangkan satu orang. Sesuai nama restonya, ayam di sini sudah dipresto sehingga tulangnya lunak dan dapat dimakan seluruhnya hingga tak bersisa. Potongan ayam goreng ini disajikan dengan taburan kremes yang terbuat dari tepung. Kremesnya cukup banyak dan crispy, hanya sayang tidak dibumbui alias hambar, sehingga harus dimakan bersama potongan daging ayam dan sambal supaya ada rasanya. Rasa ayam gorengnya sendiri enak, asinnya pas, dan meresap sampai ke seluruh bagian dada ayam yang cenderung tebal dan padat, serta digoreng dengan tingkat kematangan yang pas hingga crispy tapi tidak sampai menjadi keras.

Ayam Bakar Bumbu Manis (1 ekor IDR 71.818, 1/2 ekor IDR 36.364, 1 potong IDR 18.182, 1 paket nasi IDR 23.636)
Well seasoned

Well seasoned

 

 

Untunglah selain ayam goreng masih ada menu ayam bakar, sehingga saya masih punya pilihan. Untuk menu ini dapat dipilih antara bumbu manis dan manis pedas, sedangkan jenis porsinya sama dengan ayam goreng yaitu seekor, setengah ekor, per potong, dan paket. Kami memilih bumbu manis dengan pertimbangan untuk rasa pedas bisa di-adjust sendiri dengan sambal nantinya, lebih aman daripada memilih bumbu manis pedas dan nantinya kepedasan. Tadinya kami khawatir menu ayam bakar akan tersaji lebih lama, tetapi waiternya mengatakan sama saja waktu memasaknya dengan ayam goreng. Ah, rupanya semua ayam sudah dimatangkan lebih dahulu, hanya tinggal digoreng atau dibakar sebentar jika ada pesanan. Benar saja, semua menu ayam tersaji hampir bersamaan di meja kami.
Ayam bakar bumbu manis ini berpenampilan coklat dan glazy, terlihat berbumbu dan lezat, sangat mengundang untuk segera dimakan. Benarkah rasanya demikian? Ternyata… dominan maniiiiis! Bumbunya hampir seperti dari kecap seluruhnya, tidak ada rasa bumbu racikan yang khas atau unik menurut pendapat saya. Bumbunya memang meresap hingga ke dalam daging, tetapi bagi saya yang kurang menyukai kecap dan rasa manis, menu ini jadi tidak istimewa. Untuk menyeimbangkan rasa manis yang dominan ini saya tambahkan sambal dan sambal mangga sehingga keseluruhan rasanya lebih enak ketika dimakan bersama nasi hangat.

Nasi Putih (IDR 5.455)
Nasi putihnya cukup pulen dan dimasak pas sehingga tidak pera. Satu porsi nasi tergolong pas untuk kami, tetapi bagi yang terbiasa makan nasi banyak sepertinya tidak cukup hanya satu porsi untuk sekali makan. Nasi putih ini dicetak berbentuk memanjang seperti bentuk daun, sedikit lebih cantik daripada bentuk setengah lingkaran yang umum ditemui di resto lain.

Tahu Telur (IDR 22.727)

 

Kami memesan menu ini untuk di-share beramai-ramai sebagai "selingan" diantara menu utama ayam goreng dan bakar. Kami semua sudah familiar dan menyukai tahu telur karena termasuk menu yang simple dan light. Ekspektasi kami pun sebenarnya tidak terlalu tinggi, karena menu se-simple tahu telur memang jarang dimodifikasi bumbunya, jadi rasanya pasti begitu-begitu saja. Porsinya sedang dengan penampilan standar ber-topping kol rebus diiris tipis, tauge rebus, dan kacang tanah goreng. Ketika dicicipi… kenapa ada rasa asam yang cukup kuat, yaaa? Belum pernah kami makan tahu telur dengan rasa asam begini, karena setahu kami memang bumbunya tidak memakai jeruk nipis ataupun asam jawa. Sebenarnya tahu telurnya sendiri cukup tasty, bumbu kecapnya terasa, dan teksturnya kering agak crispy di luar dan lembut di bagian dalam. Bumbu kecapnya pun enak, hanya seharusnya tanpa rasa asam yang merusak keseluruhan rasa. 

Sambal Mangga (IDR 6.818)

 

Saya suka sekali sambal dengan potongan mangga muda atau pencit, maka ketika melihat di menu ada jenis sambal ini, langsung saya pesan. Saya sudah membayangkan sambal yang pedas-asam-segar, tetapi agak kecewa ketika akhirnya mencicipinya. Mangga mudanya sangat lunak seperti sudah dimasak sehingga tidak terasa lagi asam segarnya. Keseluruhan rasa sambalnya cenderung kurang sedap dibanding sambal standar untuk ayam presto yang sudah tersedia di meja dan bisa diambil sepuasnya. Akhirnya saya campurkan sambal mangga dengan sambal standar tersebut sehingga bisa "memperbaiki" keseluruhan rasanya.

Juice Strawberry (IDR 15.455)

 

Usai menyantap ayam goreng yang gurih dan berbumbu, paling enak minum yang segar sekaligus menyehatkan. Pilihan saya jatuh pada fresh strawberry juice yang merupakan minuman favorit saya. Bagusnya, strawberry juice di sini tidak ditambah susu, tepat seperti yang saya inginkan. Ketika saya coba, rasanya tidak mengecewakan. Juice tidak terlalu encer dan penambahan gulanya sudah pas, segar dan enak!

Pelayanan di resto ini cukup baik dan cekatan, makanan pun terhidang cukup cepat sehingga customer tidak bete menunggu terlalu lama. Justru agak disayangkan beberapa menunya dibawah harapan kami -terutama saya- dan di luar dugaan justru saya cukup menikmati menu ayam gorengnya dibanding yang lain. Jarang saya bisa menikmati menu ayam goreng sedemikian ini. Ternyata menu Ayam Goreng Presto Ny. Nita memang layak menjadi primadona!
Supplementary Information:
Menu ayamnya patut dicoba, dan tidak perlu khawatir terlalu lama menunggu karena ayamnya sudah diproses sebelumnya sehingga baik ayam bakar & goreng bisa disajikan bersamaan.
 
Recommended Dish(es):  Ayam Bakar Bumbu Manis,Ayam Goreng
 
Table Wait Time: 10 minute(s)


Spending per head: Approximately Rp50000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Stand / Kios | Bakmi/Kwetiau

Ketika berkesempatan ke daerah Kota, sengaja saya mampir ke Bakmi Kemurnian yang sudah terkenal ini. Lokasinya terletak di Jalan Kemurnian IV, tepatnya di Gang Mangga, maka  warung bakmi ini dulunya lebih terkenal dengan sebutan Bakmi Gang Mangga.
Welcome!

Welcome!

 
Bagi yang menggunakan moda transportasi umum atau tidak mau direpotkan dengan parkir kendaraan, bisa menggunakan bus trasjakarta koridor 1 (Blok M-Kota) dan turun di halte Olimo. Dari halte ini kita bisa berjalan kaki tidak terlalu jauh menuju ke Jalan Kemurnian seperti yang waktu itu saya lakukan. Menurut saya cara ini lebih praktis karena di sekitar restonya sendiri cukup sulit parkir kendaraan mengingat jalan yang sempit dan padat rumah penduduk.
Resto dua generasi

Resto dua generasi

 
Inside

Inside

 
Inside

Inside

 
Bangunan restonya sendiri tidak besar, tidak bertingkat, terlihat sebuah bangunan lama yang sudah direnovasi sedikit-sedikit. Bagian pintu masuknya jelas sudah diganti dengan pintu kaca rayban ala toko/kantor untuk menghadang teriknya sinar matahari. Memasuki resto, nuansa "old style" semakin terlihat dari meja-meja kayu panjang dan bangku plastik sederhana yang mengisi ruangan. Di belakang ruang makan terletak dapur yang berkonsep open kitchen dengan jendela kaca besar. Melalui jendela ini pengunjung dapat melihat seluruh bagian dapur dan menyaksikan sang pemilik meracik menu bakmi. Meskipun resto ini terkesan "jadul" tetapi tidak demikian dengan dapurnya. Menurut saya dapurnya jauh dari kesan "seadanya" dan tergolong modern, serta yang penting bersih dan teratur. Kondisi keseluruhan restonya pun bersih dan nyaman karena sudah dilengkapi pendingin ruangan -sesuatu yang sangat penting ada di daerah utara Jakarta yang terkenal panas, apalagi di siang hari!
Open kitchen

Open kitchen

 
Kitchen

Kitchen

 
Menurut Bapak Alex sang pemilik, warung bakmi ini sudah beroperasi lebih dari 60 tahun dan beliau merupakan pemilik generasi kedua yang menjalankannya. Menu yang tersedia memang hanya bakmi saja, dengan dua pilihan topping yaitu daging ayam dan babi. Bagi teman-teman yang muslim tidak perlu khawatir karena Bapak Alex sangat concern akan hal ini. Jika ada pesanan bakmi ayam dan bakmi babi pada saat bersamaan, maka yang akan diracik lebih dahulu adalah bakmi ayamnya, setelah selesai baru meracik bakmi babi. Dengan cara ini, sangat minim kemungkinan bakmi ayam terkena topping daging babi dari sendok atau sumpit yang digunakan saat meracik. Bagi yang memesan bakmi babi harus sedikit bersabar menunggu, apalagi jika pesanan bakmi ayamnya lebih banyak seperti yang saya alami saat itu.

 
Bakmi Ayam (IDR 24k)
Bakminya sudah pasti home made dan dimasak dengan tingkat kematangan yang pas. Bentuk mie tidak terlalu tipis/halus, keriting, dengan tekstur agak kenyal tetapi enak. Bakmi disajikan kering tidak berkuah dengan topping daging ayam cincang dan sawi hijau rebus, sedangkan kuah kaldu disajikan terpisah dalam mangkuk kecil. Daging ayam yang dicincang kasar sudah dimasak sehingga warnanya sedikit kecoklatan dan tentu tidak hambar. Kuah kaldunya gurih namun dibuat tidak terlalu asin sehingga light dan pas jika dicampurkan dengan mie. 

 

 
Bakmi Babi (IDR 24k)
Sama seperti bakmi ayam, disajikan kering di mangkuk dengan topping daging babi dan sawi hijau, plus kuah kaldu di mangkuk kecil terpisah. Topping daging babi cukup banyak, dimasak dengan sedikit bumbu sehingga dagingnya sudah ada rasanya tidak hambar. Cincangan cukup halus (atau mungkin digiling?), bumbunya meresap ke daging, dan bagusnya tidak banyak daging yang berlemak sehingga saya bisa menikmatinya. Kalau boleh jujur, bakmi babi ini lebih harum dan yummy dari bakmi ayamnya... 
superb!

superb!

 

 
Pelayanan di sini tergolong baik dan cepat. Staff-nya cukup sigap dan terlihat sudah terbiasa menangani banyak pembeli saat resto sedang ramai. Rombongan kami tidak perlu menunggu terlalu lama hingga makanan tersaji. Peralatan makan beserta bumbu pelengkap sudah tersedia di meja sehingga dapat kita tambahkan sendiri sesuai selera. Teman-teman yang menyukai rasa pedas umumnya menambahkan sambal supaya rasanya lebih "nendang", tetapi saya sengaja ingin menikmatinya tanpa tambahan bumbu apa pun sehingga dapat mengetahui cita rasa aslinya. Terbukti Bakmi Kemurnian ini rasanya sudah pas mantap tanpa tambahan apa pun.

Harga makanan tergolong wajar dan sesuai untuk seporsi bakmi dengan topping daging yang cukup banyak, dan yang penting rasanya enak. Tak heran jika Bakmi Kemurnian bisa terus bertahan hingga dua generasi dan selalu ramai pengunjung. Recommended!
Supplementary Information:
Bagi pengunjung muslim tidak perlu khawatir bakminya tercampur topping babi karena sang pemilik sangat berhati-hati dalam memisahkan topping bakminya, dan proses meraciknya bisa disaksikan langsung oleh pengunjung.
 
Recommended Dish(es):  Bakmi Ayam,Bakmi Babi
 
Table Wait Time: 10 minute(s)


Spending per head: Approximately Rp30000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 2  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Tempura Tendon Tenya Smile Oct 15, 2014   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jepang | Restaurant | Halal | Kumpul Keluarga

Tempura merupakan jenis makanan Jepang yang cukup populer di Indonesia. Bagaimana di negara asalnya sendiri? Ternyata di Jepang sana tempura tergolong makanan mahal dengan harga ¥1500-2000 per porsinya. Mengapa bisa sedemikian mahal? Rupanya selain menggunakan bahan bermutu baik, pembuatan tempura membutuhkan keahlian tinggi untuk menghasilkan tempura yang crispy dengan tingkat kematangan sempurna. 

Tenya dapat menjual menu tempura berkualitas baik dengan harga hanya ¥500 sehingga dapat dinikmati lebih banyak kalangan. Bagaimana bisa menurunkan harga secara signifikan tanpa menurunkan kualitasnya? Jawabannya karena Tenya berhasil menciptakan mesin Auto-Fryer yang dapat menggoreng tempura dengan tingkat kematangan tepat dalam waktu relatif singkat. Mesin ini mengendalikan stabilitas temperatur dan waktu menggoreng secara otomatis yang menjaga konsistensi mutu tempura setiap kali menggoreng. Dengan adanya mesin Auto-Fryer, tempura baru akan digoreng saat ada pesanan sehingga tidak akan ada bahan terbuang (waste) namun customer tidak perlu menunggu lama karena hanya membutuhkan waktu sekitar 2 menit untuk setiap proses menggoreng.

Setelah 25 tahun beroperasi dan menjadi pelopor restoran tempura cepat saji yang sukses, Tenya telah memiliki lebih dari 140 outlet di Jepang dan kini memulai ekspansi secara internasional. Indonesia menjadi negara kedua setelah Thailand yang dipilih Tenya untuk perluasan bisnisnya. Cabang pertama Tenya di Indonesia memilih tempat di Cilandak Town Square (Citos), sebuah pusat perbelanjaan ternama di Jakarta Selatan. Bagi penduduk Jakarta wilayah lainnya jangan berkecil hati karena Tenya baru membuka cabang keduanya di Mall Grand Indonesia dan akan segera menyusul di Mall Taman Anggrek.
Tenya Ojisan

Tenya Ojisan

 
Outlet Tenya di Citos bergaya khas restoran cepat saji ala Jepang. Di bagian pintu masuk terkesan terang benderang dengan neon box besar berisi foto menu dan papan nama resto. Seperti umumnya restoran Jepang, di bagian depan dipajang dummy makanan yang selalu menarik minat saya untuk mengamatinya -terutama bukan untuk melihat menunya, melainkan seberapa detail pembuatan dummy itu sendiri. Dia atas dummy menu terdapat patung keramik Jepang, dialah Tenya Ojisan (uncle Tenya) sang maskot restoran. Patung ini harus selalu ada di setiap outlet Tenya, dan di Jepang sana juga dijadikan merchandise untuk promosi ~wah, kalau di Indonesia ada saya pun mau, soalnya patungnya lucuuu...
Tenya Citos

Tenya Citos

 
Area resto Tenya tidak terlalu luas, namun penataan interior yang baik menjadikannya tidak nampak "penuh" meskipun terdapat cukup banyak meja dan kursi makan bergaya food court di dalamnya. Material kayu dan lampu bercahaya kuning memberikan nuansa klasik khas Jepang, dipadukan dengan sedikit aksen bergaya modern kontemporer berupa garis-garis kuning terang di bagian atas hingga ke dinding belakang. Pada dinding tersebut terpampang poster-poster menu berdesain modern yang berfungsi sebagai elemen estetik sekaligus informatif.

Menu andalan Tenya adalah tempura dan tendon. Tempura pasti hampir semua orang sudah mengetahuinya, tetapi apa itu tendon?
Tendon terdiri dari tempura yang diletakkan di atas semangkuk nasi putih, kemudian disiram dengan don tare (saus tare). Saus tare ini berwarna coklat, sedikit kental, dan biasanya bercita rasa gurih agak manis karena terbuat dari campuran kecap asin Jepang dan saus manis unagi (belut panggang). Khusus di Tenya, saus tare lebih dominan rasa gurih ke arah asin dengan seberkas rasa manis yang minim, tetapi justru ini lebih cocok untuk lidah saya. Saus yang langsung didatangkan dari Jepang ini dapat kita tambahkan sesuka hati karena sudah tersedia di setiap meja. Bagi yang menyukai rasa spicy-pedas, Tenya akan segera meluncurkan don tare spicy, yang di-develop khusus oleh Tenya di Jepang untuk cabang di Indonesia. Rasa pedasnya pas menurut pendapat saya, tergolong medium, agak “menyengat” di awal, namun cepat hilang setelah makanan ditelan. Penasaran? Silakan cicipi langsung ke Tenya saja ya..

Selain tingkat kematangan dan warna golden brown yang perfect, satu lagi yang patut diacungi jempol dari Tenya adalah tempuranya tidak terlalu berminyak. Saya perhatikan, ketiga aspek ini konsisten/sama pada sekian banyak porsi tempura yang dihidangkan ketika itu. Thanks to Auto-Fryer!
Di bulan Oktober 2014 Tenya meluncurkan menu baru yang lebih lengkap untuk memanjakan selera konsumennya. Berbagai variasi tendon dan tempura set dapat dipilih sehingga tidak akan membuat bosan meskipun kita berkunjung ke Tenya untuk kedua, ketiga kali, dan seterusnya. Pada dasarnya terdapat sembilan macam menu tendon dengan variasi tempura yang dapat dipilih, yaitu:
Tendon (IDR 45k)
Terdiri dari udang (prawn), cumi (squid), ikan kisu (kisu fish), ubi (sweet potato), dan buncis (green beans). Variasi tempura yang tergolong standar tetapi khas Jepang. Jika sedang menginginkan tendon klasik maka menu ini akan jadi pilihan tepat.
Jo Tendon (IDR 50k)
Penggemar udang silakan pilih menu ini, karena Jo Tendon berisi dua buah tempura udang yang didampingi terong (eggplant), ubi, dan buncis. Udang yang menjadi primadona di sini memang enak sekali. Selain berukuran besar, rasanya gurih, dan kematangannya pas. Terasa jelas bahwa ebi tempura ini menggunakan bahan baku udang berkualitas dan pasti segar. 
For ebi lovers

For ebi lovers

 
All Star Tendon (IDR 65k)
Salah satu menu tendon favorit di Tenya karena memiliki variasi tempura yang cukup lengkap mulai dari udang, cumi, salmon, crab stick, paprika (bell pepper), dan buncis. Tidak mengherankan juga jika menu ini dibanderol dengan harga termahal diantara menu tendon lainnya, namun konsumen pun akan mendapatkan kepuasan yang sesuai dengan harganya.
Most Favorite

Most Favorite

 
Chicken Tendon (IDR 45k)
Berisi tempura daging dada ayam (chicken breast fillet) berbalut tepung tempura, ubi, dan buncis. Kebetulan daging dada ayam adalah satu-satunya bagian dari ayam yang saya suka, jadi saya sudah terbiasa dengan karakteristiknya yang cenderung hambar dan kesat. Memang akan lebih enak jika dada ayam dibumbui lebih banyak atau di-marinade lebih lama sehingga lebih kaya rasa, mengingat tepung tempuranya sendiri plain. Bagusnya chicken tempura ini tidak sampai terasa kering atau keras karena digoreng pada tingkat kematangan yang tepat.
Chicken & Chorizo Mayo Tendon (IDR 50k)
Chorizo bahasa Jepang berarti sosis (sausage). Berisi tempura daging dada ayam dan sosis, plus sweet corn dan potongan tipis kyuri dihidangkan dengan mayonnaise. Jika menginginkan tendon dengan sedikit western twist, menu ini sangat cocok dicoba.
Chicken Kakiage Tendon
Kakiage adalah tempura yang berisi potongan sayur atau daging digoreng dengan bentuk bundar. Konsepnya hampir seperti bakwan pada makanan Indonesia, hanya kakiage menggunakan tepung tempura. Chicken kakiage berisi potongan daging dada ayam dengan bawang bombay (onion) dan potongan cabai hijau besar (sliced green chilies).
Chicken Kakiage (above) & Shrimp Kakiage Tendon

Chicken Kakiage (above) & Shrimp Kakiage Tendon

 
Shrimp Kakiage Tendon (IDR 60k)
Masih kakiage yang sama dengan chicken kakiage, hanya yang ini menggunakan udang kupas sebagai isiannya yang terasa gurih dan masih juicy.
Fish Tendon
Penggemar ikan harus coba menu spesial yang menggabungkan tiga jenis ikan berbeda yaitu salmon, dory, dan gurame. Jenis ikan yang terakhir memang jarang digunakan dalam makanan Jepang, namun ketika saya coba ternyata cocok saja dijadikan tempura. 
Yasai Tendon (IDR 35k)
Sesuai namanya "yasai" yang dalam bahasa Jepang berarti sayuran, tendon ini terdiri dari ubi, terong, paprika, kakiage kecil, dan buncis.
Fried Veggies

Fried Veggies

 
Selain disajikan sebagai tendon, kesembilan variasi tempura tersebut kini tersedia sebagai Tempura Set dimana tempuranya disajikan terpisah dan tidak disiram saus. Sembilan variasi tersebut dapat dinikmati dengan lima macam pilihan karbohidrat, yaitu:
Tempura Set with rice/udon/soba

Tempura Set with rice/udon/soba

 
Tempura Rice Set

Terdiri dari tempura dan saus tentsuyu, nasi putih, miso soup, dan spicy tofu. Parutan lobak dan jahe tersedia sebagai pelengkap untuk tempura.

Tempura Udon Cold Set
Terdiri dari tempura, saus tentsuyu, lobak dan jahe, serta cold udon dan saus celupnya (mentsuyu) beserta parutan jahe dan irisan daun bawang. Tersedia juga chili oil pada cawan kecil untuk menambah rasa pedas pada udon.
Bagi yang baru pertama kali dan belum mengetahui cara makan cold udon, berikut caranya: Campurkan parutan jahe dan irisan daun bawang ke saus celup, lalu aduk hingga tercampur merata. Ambil udon dengan sumpit sebatas satu suapan dan celupkan sebentar ke dalam saus lalu segera dimakan. Jika masih ragu bertanyalah pada waiter/waitress, ya...

Udon di sini agak berbeda dengan yang biasa kita temukan di tempat lain. Bentuknya sedikit lebih kecil/tipis, dan teksturnya tidak terlalu kenyal seperti karet. Selain mudah dikunyah, juga terasa balance dengan saus celupnya. Cold udon sebaiknya segera disantap hingga habis agar sensasi rasa dinginnya tidak berkurang, karena disitulah keunikan menu ini.

Tempura Udon Hot Set
Tempura, saus tentsuyu, lobak dan jahe, serta chili oil masih sama seperti cold set, hanya udon di sini tersaji dalam kuah hangat dengan bersama wakame di dalamnya. Tak ketinggalan irisan daun bawang untuk ditambahkan ke dalam kuah sehingga aromanya lebih harum dan sedap. Kuahnya bening kecoklatan, terasa pas dan light.

Tempura Soba Cold Set
Berbeda dengan udon yang terbuat dari tepung terigu, soba terbuat dari tepung gandum. Isi set menunya hampir semua sama dengan cold udon, hanya ada berbeda pada komponen yang ditambahkan ke dalam saus celup. Jika pada udon menggunakan parutan jahe, pada cold soba diganti dengan wasabi. Saya pribadi lebih suka wasabi karena tidak suka jahe.

Tempura Soba Hot Set
Komposisi yang sama persis dengan hot udon, hanya menggunakan soba.

Ingin makan tendon sekaligus udon/soba tapi takut kekenyangan jika memesan 2 porsi sekaligus? Tenya punya solusinya!
One of Tenya's favourite menu

One of Tenya's favourite menu

 
Tenya Set (IDR 68k)
Tendon berisi udang, cumi, crab stick, terong, dan buncis, serta pendampingnya bisa dipilih udon/soba hot/cold. Meskipun kelihatannya double carbo, tetapi porsinya telah disesuaikan yaitu nasi dan udon/soba lebih sedikit dari porsi satuan. Tenya Set termasuk salah satu best seller di Tenya Jepang, dan di Indonesia pun ternyata cukup digemari.

Bagi yang ingin cemilan ringan untuk menemani ngobrol santai bersama teman atau kerabat, Tenya menghadirkan menu appetizer baru yaitu moriawase. Dalam bahasa Jepang, moriawase diartikan sebagai combination platter, yang biasanya merupakan menu untuk dinikmati bersama-sama. Ada tiga jenis moriawase yang dapat dipilih, masing-masing disajikan bersama saus tentsuyu dan parutan lobak:
L-R: Japanese Moriawase, Yasai Moriawase, Jakarta Moriawase

L-R: Japanese Moriawase, Yasai Moriawase, Jakarta Moriawase

 
Classic Japanese Moriawase
Berisi udang, cumi, ikan kisu, ubi, terong, dan buncis. Rasa dan kualitas tempuranya sama dengan yang terdapat pada tendon atau tempura set.
Yasai Moriawase
Selain ubi, kakiage kecil, dan buncis, ada jagung muda (baby corn) yang tampak menarik dan tidak biasa. Sayangnya rasa tempura jagung muda ini sama sekali hambar. Akan lebih enak jika jagung mudanya dibumbui atau di-marinade sebelum digoreng.

Jakarta Moriawase (IDR 45k)
Jenis combination platter ini hanya ada di Tendon Indonesia saja, lho! Isinya terdiri dari tempura tempe, tahu (tofu), cheddar cheese, dan ubi. Tempe dan tahu bagi orang Indonesia memang jadi terasa biasa saja, tidak jauh berbeda dengan gorengan tempe-tahu di penjual kaki lima, bahkan di sini tepung tempuranya plain tidak berbumbu. Tempura ubi di menu moriawase sedikit lebih baik karena ubinya dipotong kecil-kecil sehingga lebih crispy dan tidak keras seperti yang terdapat di menu tendon. Satu jenis tempura unik yang saya suka adalah cheddar cheese berbalut nori yang kemudian digoreng dengan tepung tempura. Meskipun keju cheddar terasa terlalu asin di lidah saya, namun tetap enak berpadu dengan aroma khas nori. Mungkin akan lebih netral jika jenis kejunya menggunakan mozarella yang tidak terlalu asin dan teksturnya akan menjadi lebih lunak/chewy setelah digoreng.

Ingin ngemil makanan yang tidak digoreng? Masih ada pilihan side dish yang disediakan Tenya, masing-masing dibanderol hanya IDR 10k saja:
Agedashi Tofu, Green Salad, Edamame, Wakame Cucumber with Kani salad

Agedashi Tofu, Green Salad, Edamame, Wakame Cucumber with Kani salad

 
Green Salad with Mayo Dressing
Salad ala western yang menyegarkan dengan sayuran segar dan mayonnaise.

Edamame (Salty)
Menurut pihak Tenya, edamame diimpor langsung dari Jepang untuk menjaga kualitas dan rasa. Setelah saya cicipi memang edamame-nya bermutu baik, namun menurut saya pribadi edamame yang ditaman di dalan negeri juga tidak kalah asalkan benar-benar dipilih yang berkualitas terbaik. Di menu disebutkan bahwa edamame ini asin, tetapi saat saya makan justru tidak terasa asin sama sekali.

Spicy Tofu

Tahu sutra dengan crab stick dan irisan cabai hijau. Menurut saya potongan tahunya terlalu besar untuk sekali suap sehingga rasa tahu sangat mendominasi, seperti makan tahu tanpa bumbu. Saya lebih suka menyantapnya dalam potongan kecil sehingga sausnya lebih terasa. Rasa pedas hanya berasal dari cabai hijaunya saja, maka masih aman bagi yang tidak suka pedas sekali pun.
Agedashi Tofu
The famous Japanese side dish, namun sayang tahu berbalut tepung tipis ini terlihat pucat seperti kurang lama waktu menggorengnya dan sama hambarnya dengan spicy tofu.

Wakame Cucumber Salad
Jika biasanya wakame salad memakai wafu dressing yang terasa asam segar, di Tenya dressingnya hanya terasa asin saja. Untuk saya pribadi asinnya tergolong over powering, dan sejujurnya saya tetap lebih suka wakame salad dengan wafu dressing.

Wakame Cucumber with Kani Salad
Isi dan dressing sama dengan wakame cucumber salad, hanya ditambah crab stick yang dipotong tipis memanjang. Rasa keseluruhan pun masih sama yaitu asiiinnn!

Puas makan tempura, kini saatnya menutup acara makan dengan dessert manis. Jika di resto Italia ada dessert pizza, Tenya pun punya menu dessert tempura!
Dingin & manis segar

Dingin & manis segar

 
Banana Tempura with Ice Cream
Agaknya menu baru ini terinspirasi dari pisang goreng ala Indonesia, hanya tepungnya memakai tempura batter. Berbeda dari beberapa teman yang mengeluhkan tebalnya lapisan tepung, saya justru suka -seperti ketika makan pisang goreng gerobakan pasti saya mencari yang lapisan tepungnya tebal. Meskipun pisangnya tidak terlalu manis, ketika dimakan dengan es krim vanilla dan saus coklat justru manisnya menjadi pas, tidak berlebihan, dan tidak membuat eneg. Jika tidak ingin saus coklat tersedia juga yang menggunakan saus karamel.

Jenis minuman yang tersedia di Tenya tergolong standar, pilihannya tidak banyak, dan tidak menjual minuman beralkohol. Berikut dua diantaranya yang saya coba:
Ocha (above) and Ice Lemon Tea

Ocha (above) and Ice Lemon Tea

 
Cold Ocha (IDR 10k, refillable)
Minuman andalan di resto Jepang pastinya adalah Ocha, dan seperti biasa pilihan saya adalah Ocha Dingin. Disajikan dalam gelas keramik hitam bermotif bunga sakura yang terlihat cantik dan stylish. Rasa ochanya pas, tidak terlalu pekat dan tidak terlalu pahit untuk saya, serta yang penting bisa refill sepuas hati.

Ice Lemon Tea
Kepekatan teh dan rasa lemonnya pas tidak terlalu asam, terasa dingin menyegarkan tenggorokan.

Puas sekali menikmati hidangan Jepang di Tenya. Selain rasa makanan yang enak dan porsi yang tidak pelit, harga makanan dan minuman di Tenya tidaklah menguras kantong. Kepuasan customer semakin lengkap dengan suasana resto yang nyaman dan bersih, serta tak kalah penting kualitas pelayanan yang prima. Memang demikianlah salah satu strategi bisnis Tenya yaitu menghadirkan makanan bermutu tinggi dengan harga terjangkau, plus pelayanan yang ramah dan profesional untuk menjamin kepuasan pelanggan. Tidak berlebihan jika Tenya menjadi "No. 1 Tempura Tendon in Japan".
Supplementary Information:
Sedikit banyaknya nasi pada menu tendon bisa di-adjust sesuai keinginan pelanggan dengan penyesuaian harga (nasi sedikit dikurangi 5000, nasi lebih banyak tambah 10000)
 
Recommended Dish(es):  All Star Tendon,Jo Tendon,Moriawase
 
Table Wait Time: 5 minute(s)


Spending per head: Approximately Rp100000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0