OpenRice Index
  
missnl
This is missnl living in Cilandak. I am a graphic designer, work in Lebak Bulus. I like to hang out in Tanjung Duren, Pondok Indah, Senayan. Bali, Chinese, Itali, India are my favorite cuisines. I also love Street Foods, Kafe, Restaurant, lounge and Siomay / Batagor, Pizza & Pasta, sate lilit bali.
Member 10 First(s)
No. of Review67 Review(s)
編輯推介數目33 Editor's Choice
Recommended8 Recommended
Popularity3669 View(s)
Replies in Forum1 Comment(s)
Upload Photos1237 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant42 My Restaurant(s)
Follow58 Following
粉絲391 Follower(s)
missnl  Level 3
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 31 to 35 of 57 Reviews in Indonesia
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Food Court | Live Music | Hang Out

Kemang, sebagai salah satu pusat keramaian yang sudah ternama sejak lama, menjadi tujuan favorit kaum urban di bilangan Jakarta Selatan untuk kongkow sepulang kerja. Keadaan ini mendorong semakin menjamurnya tempat makan di seluruh area Kemang, mulai dari restoran berjaringan internasional, cafe, food court, hingga warung.
Welcome!

Welcome!

 
Salah satu tempat makan di Kemang yang tergolong baru adalah Kampung Kemang. Menempati lokasi sangat strategis di Jalan Kemang Raya, Kampung Kemang menawarkan konsep food court yang cukup unik yaitu membidik komunitas sebagai target marketnya. Saat ini begitu banyak komunitas di Jakarta namun sering kesulitan mendapat tempat gathering yang nyaman dengan harga terjangkau. Kampung Kemang didirikan untuk menjawab kebutuhan ini dengan area yang luas (kapasitas sekitar 300 orang), lahan parkir yang memadai (dapat menampung hingga 70 mobil), dan makanan enak dengan harga terjangkau. Hebatnya lagi, tidak ada charge khusus untuk menyewa tempat ini, cukup dengan membeli makanan dan minumannya saja tanpa membawa makanan dan minuman dari luar.
Spacey!

Spacey!

 
Bangunannya terletak agak jauh di dalam, tergolong sederhana, tidak bertingkat, dan berlatarkan gedung pencakar langit di kejauhan. Interior di sini ketika saya perhatikan seperti sebuah rumah yang dimodifikasi menjadi lebih terbuka. Area yang luas seakan terbagi menjadi beberapa bagian dengan meja dan kursi makan yang berbeda. Di bagian depan terdapat meja dan bangku kayu panjang tanpa sandaran seperti di warung, di bagian tengah ada meja-meja lebih kecil dengan kursi anyaman rotan seperti umumnya di cafe, sedangkan di bagian belakang adalah area terbuka tanpa atap dengan meja kursi besi. Saat malam hari dan tidak hujan begini area belakang terlihat cantik dan bernuansa romantis dengan hiasan lampu bohlam gantung. Di satu sudut ada sebuah kursi ayunan yang tampak nyaman untuk duduk-duduk sambil menikmati minuman dan snack bersama pasangan, a romantic corner! Area yang luas dan terbuka seperti ini tentunya tidak memakai AC, dan memang tidak perlu karena hembusan angin sebagai "AC alami" sudah cukup membuat nyaman.
A romantic corner

A romantic corner

 

 
Kampung Kemang sendiri hanya menjual minuman saja, dari yang simple seperti kopi, teh, juice hingga minuman beralkohol tetapi tetap dengan harga terjangkau. Untuk segelas cocktail disini kisaran harganya hanya Rp 40.000,- ke bawah (di wilayah elit sekelas Kemang, harga itu murah banget lho!), dan pada periode tertentu ada pula promo buy 2 get 1 free untuk minuman alkohol botolan.
Food tenants to choose

Food tenants to choose

 
Untuk makanannya, seperti umumnya food court, terdapat beberapa tenant di Kampung Kemang. Saat ini terdapat 3 tenant makanan yang mengisi yaitu Martabak D'Marco, Nasi Goreng Laka-Laka, dan Mie Ayam Koga. Menurut Andreas sang owner, Kampung Kemang memang bertujuan memberikan kesempatan kepada kalangan UKM untuk membuka usaha, maka sengaja tidak menghadirkan tenant makanan ternama. Saya lihat masih ada satu space kosong tersedia, barangkali ada yang berminat mengisinya? tongue

Customer yang makan (hampir) pasti membutuhkan minum, dan bisa pula customer yang awalnya hanya ingin minum-minum sambil duduk santai jadi tertarik memesan cemilan hingga makanan berat. Seperti yang sudah saya sebutkan tadi, minuman hanya dijual oleh pihak Kampung Kemang saja, sedangkan tenant hanya menjual makanan tanpa minuman. Jadi, hampir bisa dipastikan setiap customer akan memesan dari Kampung Kemang dan para tenant makanan. Sebuah kerja sama yang saling menguntungkan, bukan?
The Bar

The Bar

 
Area tempat menyajikan minuman terletak di bagian tengah bangunan, berbentuk bar dengan beberapa kursi bar di salah satu sisinya. Berbagai jenis minuman tersedia, baik yang dibuat disini maupun minuman kemasan (botolan). Pada kesempatan ini saya mencoba dua minuman andalan Kampung Kemang.

Ice Chocolate (IDR 17k)

 
Jangan terlalu mengharapkan susu coklat manis nan gurih disini, karena ice chocolate Kampung Kemang benar-benar terasa coklat dengan seberkas rasa pahit dari dark chocolate dan tidak terlalu manis. Penggemar coklat seperti saya justru suka versi ini karena tidak membuat eneg meskipun menghabiskan segelas besar sendirian. Jika sedang tidak ingin minuman dingin, tersedia hot chocolate sebagai alternatif.

Flavour Ice Tea - Peach (IDR 15k)

 
Bosan dengan es teh manis standar? Flavour ice tea bisa menjadi pilihan. Saya mencoba varian peach, es teh dengan sirup peach dan potongan buah peach kalengan. Meskipun bagi saya agak terlalu manis di awalnya, tetapi saya suka karena potongan buah peach-nya cukup royal. Kalau di tempat lain sering saya temukan buah peach dipotong dadu kecil-kecil dan hanya sedikit, versi Kampung Kemang memberikan tiga potong besar buah peach, mantap! Apalagi setelah esnya mencair hingga menetralisir rasa manis yang berlebihan menjadi pas di lidah saya. Tidak mengherankan jika minuman menyegarkan ini menjadi salah satu best seller.
Local Band

Local Band

 
Setelah kenyang makan dan minum, kita masih bisa berlama-lama menikmati penampilan live music dari sebuah band lokal yang tampaknya sudah biasa mengisi acara di sini. Band yang tampil malam itu cukup interaktif dan komunikatif dalam menghibur pengunjung, membuat customer betah dan tidak ingin cepat-cepat beranjak pergi meskipun sudah selesai makan minum. Duduk-duduk santai sekedar menikmati suasana malam atau nonton pertandingan bola selama musim piala dunia bisa menjadi pilihan Anda untuk menutup hari di Kampung Kemang.
Supplementary Information:
Just relax and enjoy your time here!
 
Recommended Dish(es):  ice chocolate,flavour ice tea,Ice Chocolate,Flavour Ice Tea-Peach
 
Date of Visit: Jun 27, 2014 

Dining Offers: Tasting Event


Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

So Special, Nas-Gor Laka-Laka! OK Jul 06, 2014   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Food Court | Hang Out

 
Nasi Goreng Laka-Laka merupakan salah satu tenant yang terdapat di Kampung Kemang, Jakarta Selatan.

Tenant yang satu ini khusus menjual menu nasi goreng saja, tepat sesuai "nama dagang" yang terpampang di depan outlet. Tersedia berbagai pilihan nasi goreng disini, dengan menu jagoan diantaranya Nas-Gor Kambing atau Nas-Gor Pete Kambing. Range harga berkisar antara 25k-35k yang tergolong wajar untuk seporsi nasi goreng di restoran. Menurut promosi yang disampaikan oleh Ika Hendrani mewakili Bayu, owner Nasi Goreng Laka-Laka yang ketika itu berhalangan hadir, bumbu nasi gorengnya so special dan berbeda dari nasi goreng dimana pun. Wah, pas banget saya adalah penggemar nasi goreng, jadi tak sabar ingin mencoba.

Nas-Gor Ayam (IDR 25k)

 
Memang betul sesuai promosi, nas-gor disini bumbunya beda! Racikan bumbu spesial yang belum pernah saya temukan di tempat lain, terasa lebih rich and spicy, sedikit pedas tetapi tergolong tidak seberapa bagi yang suka pedas. Disajikan di piring beralas daun pisang dengan potongan ketimun, tomat, acar, kerupuk udang, serta taburan bawang goreng. Nasi goreng paling nikmat dimakan ketika masih hangat selesai dimasak, sayang sekali ketika saya mencoba nasgor sudah dingin sehingga berkurang kenikmatannya. Untuk saya pribadi, nasinya sendiri terlalu keras (pera) dan akan lebih baik jika lebih lunak sedikit saja.
 
Recommended Dish(es):  Nas-Gor Ayam
 
Date of Visit: Jun 27, 2014 

Dining Offers: Tasting Event


Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Martabak Naik Kelas ala D'Marco Smile Jun 30, 2014   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Food Court | Martabak | Hang Out

Jumat sore selepas jam kantor, ini saatnya melepas kepenatan yang menumpuk selama lima hari. Sudah menjadi semacam habit bagi warga Jakarta untuk hangout di Jumat sore hingga malam, sekedar makan malam sambil ngobrol santai bersama pasangan, teman, atau kolega.
Kali ini saya berkesempatan menyambangi Kampung Kemang, sebuah food court baru yang berlokasi sangat strategis di Jalan Kemang Raya, tepatnya di seberang Plaza Adorama. Kampung Kemang memiliki area yang luas, tempat parkir yang memadai, dan makanan enak dengan harga terjangkau sehingga cocok untuk sekedar kumpul bersama teman hingga mengadakan acara semisal gathering, launching produk, atau mini party.

Seperti umumnya food court, terdapat beberapa stand di Kampung Kemang, salah satunya adalah Martabak D'Marco

 
Welcome!

Welcome!

 
Ika Hendrani, the owner

Ika Hendrani, the owner

 
Sesuai namanya yang merupakan singkatan dari MARtabak dan COffee, D'Marco mengusung martabak sebagai bintang utamanya. D'Marco didirikan pada tanggal 10 Mei 2012 oleh tiga orang yaitu Ika Hendrani, Ira Lathief, dan Budiyono dengan outlet pertama berkonsep mini cafe di Sabang. Beliau bertiga mempunyai visi misi untuk menaikkan derajat martabak manis dari makanan kelas kaki lima yang biasa dijual di pinggir jalan menjadi makanan yang layak disajikan di cafe atau resto. Lebih jauh lagi, ke depannya mereka ingin menjadikan martabak manis sebagai kuliner khas asal Indonesia yang mendunia seperti halnya pizza dari Italia. Setelah mini cafe di Sabang mendapat sambutan baik, D'Marco membuka cabang kedua di daerah Tebet pada 20 November 2013 dengan konsep food court, dilanjutkan cabang ketiga di Kampung Kemang pada 1 Mei 2014 yang juga berkonsep food court.
Bagaimana dengan makanannya? Berbagai varian martabak disediakan di sini, mulai dari varian klasik martabak manis yang jadi menu standar di martabak kaki lima hingga menu modifikasi hasil kreasi ownernya. Penasaran? Mari kita coba…
The Kitchen

The Kitchen

 
Martabak Burger (IDR 30k)

 

 
Salah satu hasil kreasi terbaru dari sang owner yang menjadi menu favorit. Meskipun base-nya berbahan martabak manis, ternyata cocok saja dipadukan dengan topping asin dan savory seperti burger ini. Base martabaknya dibuat tidak terlalu tebal dan tidak ditaburi gula seperti martabak manis di luaran. Di atasnya diletakkan selada, keju, irisan tomat, dan patty burger di paling atas, kemudian digarnish dengan saus sambal dan mayones. Ketika dimakan sekaligus rasanya enak dengan perpaduan rasa dan tekstur dari semua komponennya. Ada rasa asin, sedikit pedas manis, dan gurih semua terasa balance di mulut. Base martabaknya sendiri enak, tidak hambar, ketebalannya pas sehingga tetap empuk, dan yang terpenting untuk saya adalah tidak terlalu berminyak. Tidak percuma jika sang owner sampai belajar langsung dari tukang martabak berpengalaman, sehingga bisa menghasilkan base martabak manis seenak ini. Besar porsinya tergolong mengenyangkan untuk satu orang seperti saya, kecuali jika kapasitas perutnya besar mungkin harus tambah seporsi lagi *wink*.

Martabak Nutella
(IDR 25k)

 

 
Penggemar coklat terutama Nutella pasti suka menu simple nan menggugah selera ini. Martabak manis dioles Nutella spread yang cukup "royal" sebagai pengganti coklat meises pada martabak manis standar, se-simple itu… tapi rasanya jangan ditanya! Saya pribadi suka karena meskipun olesan Nutella cukup tebal tetapi adonan martabaknya tidak manis (justru ada sedikit rasa asin) sehingga secara keseluruhan manisnya tidak berlebihan. Bagi yang ingin variasi rasa lebih, tersedia martabak Nutella dengan pisang, kacang, strawberry, atau Oreo crumbs. Daripada sibuk membayangkan rasanya dari penjelasan saya ini, lebih baik langsung dicoba saja, deh…

Martabak Ice Cheese Oreo

 

 
Ini dia menu baru kebanggaan sang owner, Ika Hendrani, yang pastinya masuk dalam daftar best seller di D'Marco. Martabak manis ditaburi parutan keju dan Oreo crumbs, kemudian diberi satu scoop es krim di atasnya. Tak ketinggalan sebuah biskuit Oreo utuh ditancapkan di puncak es krim sebagai pelengkap garnish. Disarankan untuk menyantapnya segera setelah dihidangkan agar es krim tidak semakin mencair. Ketika dimakan sekaligus semua komponennya, terdapat perpaduan rasa dan tekstur yang begitu kompleks namun balance. Ada rasa asin, manis, creamy, tekstur halus lembut dari es krim dan Oreo crumbs yang agak kasar, serta base martabak yang masih hangat dengan dinginnya es krim… lengkap! Meskipun kelihatannya mudah hanya menggabungkan beberapa topping saja, namun saya yakin resep ini sudah melalui trial & error sebelumnya sehingga menghasilkan komposisi tepat untuk rasa yang pas dan nikmat.
Jika boleh memberi sumbang saran, mungkin akan menarik jika ada menu "create your own martabak" dimana konsumen bisa memesan martabak dengan perpaduan topping yang dikreasikan sendiri. Realisasinya yaitu dengan menjual additional topping secara terpisah, jadi konsumen dapat memesan tambahan topping sesuai kemauannya. Menurut saya, konsumen akan lebih tertarik atau terpancing kreativitasnya membuat menu martabak baru yang belum pernah ada sebelumnya, sesuai selera pribadi masing-masing. Cara ini sekaligus bisa menjadi masukan atau tambahan ide untuk menghasilkan kreasi menu baru yang selanjutnya bisa menjadi menu tetap di D'Marco. Ide dari banyak orang terkadang lebih baik daripada satu atau beberapa orang saja, bukan?
Menu D'Marco

Menu D'Marco

 
Selain beraneka menu martabak, tersedia pula beberapa pilihan menu nasi dan ayam, serta appetizer berupa dimsum, chicken wings, dan french fries. Pilihan menu yang cukup bervariasi menjadikan Martabak D'Marco dapat menjangkau berbagai kalangan dan usia karena konsumen tidak akan cepat bosan datang kesini lagi dan lagi.

Dari segi pelayanan tergolong baik dan makanan disajikan tidak terlalu lama, tapi saya rasa jika akan order dalam jumlah banyak lebih baik memesan sebelumnya. Bisa dimaklumi dari area dapurnya yang terbatas memang tidak memungkinkan membuat martabak dalam jumlah banyak dengan waktu cepat, apalagi jika sedang ramai pesanan.

 
Martabak D'Marco juga membuka peluang untuk kemitraan bersistem waralaba dengan paket investasi menarik. Informasi lengkap bisa dilihat di website www.dmarcocafe.com

Sukses terus Martabak D'Marco, mari kita sama-sama menjadikan martabak manis sebagai kuliner khas Indonesia yang bisa dikenal dunia!
Supplementary Information:
Jika akan datang dalam rombongan besar atau mau order dalam jumlah banyak sebaiknya pesan dahulu agar tidak menunggu lama nantinya.
 
Recommended Dish(es):  Martabak Ice Cheese Oreo,Martabak Nutella,Martabak Burger
 
Date of Visit: Jun 27, 2014 

Dining Offers: Tasting Event


Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 2  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend

CNY Celebration at Le Gran Café OK Jun 27, 2014   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Multinasional | Kafe

Chinese New Year a.k.a Imlek, biasa dirayakan dengan tradisi mengunjungi sanak saudara dan kumpul-kumpul makan bersama. Biasanya pula, yang usianya lebih muda selayaknya mengunjungi yang lebih tua. Saya masih ingat masa kecil dulu setiap Imlek cukup "menunggu" di rumah nenek saya karena beliau yang tertua, jadi adik-adik nenek beserta keluarganya pasti akan berkunjung kesana. Seiring berkurangnya generasi nenek saya yang satu demi satu tiada, sekarang tradisi tersebut sudah nyaris "punah" di keluarga besar kami. Kalau pun berkumpul hanya terbatas pada keluarga dari saudara kandung papa saja, sisanya cukup dengan saling telepon, SMS, Whatsapp, BBM, atau melalui social media lainnya. What a modern world!
Di tahun 2014, Imlek menyambut datangnya tahun Kuda Kayu ini dirayakan dengan makan siang bersama keluarga besar papa di Le Gran Café, Hotel Gran Mahakam.
Saya sudah pernah mendengar tentang Le Gran Café dari teman-teman food blogger dan mereka memberi testimoni yang bagus untuk makanannya, tentunya saya jadi mempunyai ekspektasi tinggi untuk restoran ini.
Welcome!

Welcome!

 
Lokasi hotel ini sangat strategis di daerah Mahakam yang ramai, sekaligus sangat familiar karena hanya beberapa langkah di belakang gereja saya. Bangunannya dari luar cukup eye catching dengan gaya Eropa klasik, terlihat berbeda dari gedung-gedung di sekitarnya. Area lobby hotel juga tidak begitu luas, namun tetap ditata dengan apik dengan permainan lighting. Lobby hotel dihiasi pernak-pernik Imlek didominasi warna merah dan kuning keemasan, termasuk tebaran coklat berbentuk kepingan uang emas yang boleh diambil oleh tamu. Ada pula satu spot khusus berupa ruangan kecil dilengkapi dua buah kursi, yang disediakan untuk para tamu berfoto-foto ria dengan nuansa Imlek.
Yellow and gold

Yellow and gold

 
Le Gran Café terletak di lantai Mezzanine yang bisa dicapai dengan tangga atau lift. Mengikuti bentuk gedung hotelnya, buffet restaurant ini memanjang seperti sebuah lorong dengan jarak ujung ke ujung yang cukup panjang. Makanan ditempatkan di sepanjang tepi-tepi ruangan tersebut, jadi untuk mengambil makanan kita perlu berjalan-jalan menjelajahi hampir seluruh penjuru ruangan jika ingin mencoba semua variannya. Di tengah ruangan ada bagian yang dijadikan semacam panggung untuk live music dan band kecil.

 
Interior restoran masih senada dengan konsep bangunan hotelnya yaitu Eropa klasik, yang terlihat dari detail-detail ruangan, perpaduan lantai parket kayu dan marmer, serta tirai tebal yang menghiasi jendela. Konsep klasik ini berpadu cantik dengan gaya modern minimalis yang terlihat dari bentuk meja-kursi makan, station makanan berwarna hitam, serta lampu gantung logam berwarna emas-hitam sebagai aksen ruangan. Cermin-cermin besar ditempatkan di beberapa bagian untuk memberi kesan lebih luas pada ruangan.

Detail-detail di meja makan juga diperhatikan dengan baik mengikuti tema Imlek. Di setiap meja terdapat ornamen kecil seperti vas bunga simple dan semangkuk kecil jeruk mini yang memang selalu ada saat Imlek. Lumayan nih, bisa untuk cemilan selagi menunggu hehehe...

 
Saat kami tiba di restoran sebenarnya sudah mendekati jam makan siang yaitu sekitar jam 12, tetapi restoran masih lengang. Hidangan di beberapa station makanan pun tampaknya ada yang belum siap. Kami sempat menunggu lebih dari 30 menit sebelum akhirnya bisa mulai acara makan siang. Agak aneh juga melihat ketidaksiapan restoran kelas hotel bintang lima ini, apalagi di hari raya besar dimana pastinya akan lebih banyak customer yang datang. Bukankah seharusnya lebih well prepared dibanding hari-hari biasa, ya?
Baiklah, mari mulai makan saja…
Chinese Tea
Free flow Chinese tea sudah termasuk dalam paket buffet disini. Tehnya tidak terlalu pekat dan tidak pahit, baik untuk menetralisir rasa di lidah sehabis makan berbagai menu aneka rasa. Disajikan dalam cawan kecil yang umum tersedia di Chinese restaurant, dan selalu diisi ulang jika sudah kosong.

Seafood Area

 
Satu tempat besar berisi tiram, kepiting, dan udang yang diletakkan di atas es sehingga tetap segar. Terdapat serangkaian buah ukir yang sangat cantik di bagian tengahnya yang justru lebih menarik minat saya untuk mengamatinya. Area seafood ini bersebelahan dengan aneka sushi dan salad terletak di antaranya.
Mixies!

Mixies!

 
Sebagai menu pembuka saya menggabungkan udang rebus dengan fruit salad dan potongan ham. Saya suka udangnya karena masih segar, tidak lembek, dan tidak berbau. Yum!

Salad in Mini Glass
Ada 3 macam salad yang tersedia, satu fruit salad dengan mayonnaise (yang tadi saya pasangkan dengan udang rebus) dan dua mixed vegetable salad dengan 1000 island dressing. Semua salad sudah disajikan lengkap bersama dressing dalam gelas kaca mini sehingga lebih praktis, tidak berantakan, juga tampil lebih menarik. Saya tidak bisa terlalu membedakan antara kedua vegetable salad itu karena isinya sudah terbalut dressing, yang penting semuanya enak.. hehe..

Assorted Sushi
Tentunya saya hanya mengambil sushi yang tidak ada isi ataupun topping ikan mentahnya. Potongan sushi cukup besar sampai memenuhi mulut ketika disantap dalam sekali suapan, tapi rasanya enak. Sebenarnya tersedia pula salmon nigiri dan sashimi, yang tentunya tidak akan menjadi pilihan saya.

Beef Tenderloin
Time for red meat, and it's yummy!

Time for red meat, and it's yummy!

 
Yeah, saatnya makan daging! Tentunya sedikit saja karena saya memang tidak terlalu menyukai red meat. Dagingnya dipotongkan langsung sesuai porsi yang kita inginkan, lalu kita bisa memilih sendiri sausnya. Tersedia tiga macam saus yaitu barbecue, peppercorn, dan mushroom. Saya memilih mushroom sauce ditambah sedikit peppercorn sauce. Dagingnya empuk dan tidak berlemak sama sekali (ini yang saya suka!), dimasak pada tingkat kematangan antara medium well-mendekati well done. Sausnya enak, kekentalannya pas, dan rasanya balance. Antara kedua sauce yang saya coba warnanya sama, tidak jauh berbeda dari segi rasa, dan sepertinya menggunakan base yang sama. Kalau harus memilih, saya paling suka mushroom sauce karena terdapat potongan-potongan jamur champignon yang cukup banyak di dalamnya.

Noodle Soup
Berisi mie keriting halus, jamur enoki, sayuran, dan potongan kepiting yang sudah digoreng dengan balutan tepung, kemudian disiram kuah kaldu. Kuahnya light dan rasanya gurih tidak terlalu asin. Mie keritingnya bertekstur lembut tidak kenyal, hanya saya agak malas makan kepitingnya karena masih bercangkang dan berbalut tepung sehingga makin sulit diambil dagingnya.

Carrot Cake
Setelah menunggu sejenak, carrot cake yang baru di-pan fried tersaji hangat dengan cocolan sambal. Terdapat tiga varian yang hanya berbeda di topping campuran carrot cake-nya, tapi overall rasanya sama saja. Saya justru suka sekali sambalnya yang menggunakan terasi dan ebi, serta tidak pedas.

Assorted Dim Sum
Tersedia dim sum rebus dan goreng, serta ceker ayam (yang tentunya tidak akan saya pilih). Tidak ada yang istimewa dengan kategori dim sum ini, variannya umum dan rasanya standar saja.

Bird Nest Dumpling Soup
A must try!

A must try!

 
Menu spesial yang hanya tersedia pada special occasion seperti sekarang ini, beruntung saya bisa mencobanya. Sarang burung walet sebenarnya tidak mempunyai rasa spesifik yang mempengaruhi keseluruhan rasa masakan, hanya diistimewakan karena katanya berkhasiat untuk kesehatan dan harganya yang selangit. Ok, supnya memang lezat dengan kuah kaldu yang agak bening dan masih terbilang light. Di dalam sup terdapat sebuah dumpling dan potongan kepiting yang sudah digoreng dengan tepung sebelumnya. Saya malah tidak menemukan wujud sarang burung waletnya, apakah sudah dihancurkan sama sekali atau masuk di dalam dumplingnya mungkin. Menu ini disaikan dalam mangkuk keramik bertutup dan selalu diletakkan di steamer sehingga tersaji dalam keadaan panas. Saya suka kuah supnya, apalagi diseruput ketika masih hangat, hanya sedikit terlalu asin untuk saya pribadi.

Cakes, Pie & Eclair

 
Karena sudah hampir kekenyangan, terpaksalah saya menyeleksi pilihan menjadi mini roll cake coklat, mini lychee pie, mini strawberry shortcake, dan sebuah eclair pink. Overall rasanya standar, tapi saya paling suka mini roll cake coklatnya bcoz I'm a chocoholic!

Es Lobi-Lobi
Favorite dessert of Le Gran Cafe

Favorite dessert of Le Gran Cafe

 
Dessert satu ini merupakan andalan Le Gran Café yang direkomendasikan oleh teman-teman food blogger saya. Sederhana saja berupa asinan lobi-lobi yang sudah dimasak dengan air gula, ditambah es serut dan butiran jelly bulat. Meskipun perut sudah hampir habis limitnya, saya coba juga satu porsi karena penasaran dengan rasanya. Ternyata… memang es lobi-lobi ini boleh jadi andalan. Asam, manis, plus sebersit rasa asin bisa kita rasakan disini, kalau lagi ngantuk dijamin segar kembali, deh!
Yellow Barongsai

Yellow Barongsai

 
Khusus pada kesempatan Hari Raya Imlek ini Le Gran Café memberikan compliment berupa Barongsai performance, Yee Shang Ceremony, Fortune Teller, dan free photo capture & printing.

Apakah itu Yee Shang Ceremony?
Ya, saya pun baru kali ini mengikutinya. Konon ini adalah tradisi dari China yang biasa dilakukan pada saat Imlek yang melambangkan pengharapan mendapatkan banyak rejeki di tahun baru.

 
Upacara ini dilakukan belakangan, pada saat para tamu umumnya sudah selesai makan, jadi semua bisa ikut serta tanpa terganggu acara makannya. Urutan upacara sudah terlampir di setiap meja, dimulai dari memasukkan komponen-komponennya dengan urutan tertentu hingga mengaduknya bersama-sama. Setiap langkah ada istilah dan maknanya tersendiri, maka sebaiknya dilakukan pas sesuai urutan. Begitulah menurut tradisinya... boleh percaya, tidak percaya pun tak apa.

Acara CNY Brunch diakhiri dengan foto bersama setiap keluarga atau per meja oleh fotografer dari Le Gran Café. Tak berapa lama foto-foto tersebut sudah di-print dan dibagikan kepada para tamu sebagai kenang-kenangan.
Overall makanan di Le Gran Café cukup memuaskan. Ragam menunya banyak (bahkan ada beberapa yang belum saya cicipi sama sekali karena sudah terlalu kenyang), rasanya rata-rata enak, dan presentasinya diperhatikan dengan baik pula. Untuk pelayanan tergolong baik dengan waiter dan waitress yang cukup banyak jumlahnya sehingga tamu bisa terlayani dengan baik, terutama dalam hal mengambil piring-piring kotor dan refill minuman. Tak heran jika resto ini sering dijadikan tempat gathering atau arisan ibu-ibu, demikian menurut tante saya yang memang sudah sering arisan di sini.

Review dan foto lebih lengkap dapat dilihat di sini: http://andrianiwiria.blogspot.com/2014/04/cny-celebration-at-le-gran-cafe.html
Supplementary Information:
Pilihan makanan banyak namun letaknya tersebar di sepanjang area restoran, jadi berkelilinglah sampai ke ujung untuk mencicipi semua jnis makanannya.
 
Recommended Dish(es):  Es Lobi-Lobi,Sushi,Bird Nest Dumpling Soup,Beef Tenderloin,Assorted cakes and pie,Es Lobi Lobi,Shrimp salad and ham,Seafood corner
 
Table Wait Time: 10 minute(s)


Date of Visit: Jan 31, 2014 

Celebration:  Chinese New Year 

Spending per head: Approximately Rp400000(Lunch)

Dining Offers: family gathering


Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Thailand | Restaurant | Halal | Kumpul Keluarga

Semakin terjangkaunya transportasi dan akomodasi ke Thailand menjadikan semakin banyak orang bisa "mencicipi" pesona Thailand dan tak ketinggalan tentu saja kulinernya yang sudah mendunia.
Bagaimana jika tiba-tiba kangen dengan makanan Thailand yang rasanya benar-benar seperti di tempat asalnya? Tenang, Thai Alley punya solusinya!
Thai Alley merupakan bagian dari F & B retailer Culinary Concepts yang didirikan pada tahun 2008. Culinary Concepts dengan tagline "Passion for Food, Obsession for Detail" telah mempunyai 5 dining concepts yaitu:
- Culinary Concept Catering
- Thai Alley
- Thai GoGo
- The Apartment Restaurant + Bar
- The Butcher

Thai Alley sendiri telah mempunyai 2 cabang yaitu di Pacific Place dan Gandaria City. Dengan konsep "Authentic Thai Street Food", Thai Alley bermaksud menghadirkan suasana asli Thailand baik melalui cita rasa makanan maupun suasana tempat makannya. Mengapa street food? Ya, karena real taste atau cita rasa otentik dari masakan Thailand memang berakar dari streed food-nya.
Saya dan teman-teman berkesempatan mengunjungi cabang Thai Alley di Gandaria City untuk mencoba menu-menu unggulan mereka. Sangat mudah menemukan letak Thai Alley yang berada di lantai dasar, tepat di sebelah pintu masuk South Lobby.

Interior resto dibuat seperti suasana sebuah sudut di jalan atau gang (alley) di Thailand dengan tembok yang dipenuhi coretan graffiti dan booth yang terbuat dari seng gelombang. Meja dan kursi makan terbuat dari kayu dicat warna-warni cerah tapi sudah berkesan usang. Sebagian tempat duduknya bahkan hanya berbentuk bangku tanpa sandaran, meskipun ada pula yang berbentuk sofa dengan bantalan empuk. Tak ketinggalan pepohonan dalam pot kaleng besar ikut melengkapi suasana sehingga makin menyerupai asli.
Like in Bangkok

Like in Bangkok

 
Di bagian depan terdapat Thai dessert booth yang terang benderang dengan hiasan deretan lampu bohlam. Sofa-sofa di sekitarnya memang pas sekali untuk tempat duduk-duduk santai, ngobrol bersama teman atau keluarga sambil menikmati Thai dessert yang dipesan dari booth tersebut.
Sebuah private room terdapat di bagian belakang, berkapasitas sekitar 25 seating seat. Dindingnya dipenuhi graffiti dan sebagian lagi berupa dinding kaca yang berbatasan langsung dengan dropping area Gandaria City sehingga dari dalam resto terlihat mobil lalu-lalang di luar. Suasananya jadi seperti benar-benar di pinggir jalan di Bangkok, loh...

Selain interior yang sudah dibuat semirip mungkin dengan di Thailand, cita rasa masakan pastinya menjadi perhatian utama. Tak tanggung-tanggung, chef-nya didatangkan langsung dari Thailand! Chef King, yang bertanggung jawab untuk Thai Alley cabang Gandaria City, saat itu mengadakan live demo pembuatan dua macam Thai salad yang sangat ngetop itu. Terdapat sebuah gerobak dipenuhi bahan-bahan pembuatan salad, dan Chef King meracik salad di belakang gerobak seperti penjual makanan kali lima.
Chef King presents Yam Mamuang

Chef King presents Yam Mamuang

 
Sambil meracik salad, Chef King yang sudah cukup lancar berbahasa Indonesia menerangkan tentang bahan-bahan yang digunakan dan langkah-langkah pembuatannya. Beberapa jenis bahan seperti kecap ikan masih didatangkan langsung dari Thailand untuk menjaga keaslian rasa. Tak ketinggalan semacam lumpang kayu tempat menumbuk saladnya juga masih impor dari Thailand. Meskipun dibuat ala street food, di Thai Alley kebersihan sangat diutamakan, salah satunya sang chef selalu memakai sarung tangan saat meracik makanan.

DRINK
Nam Bay Ma Khud (IDR 45k)
Orange leaves, lime, sugar
Daun jeruk yang dimaksud di sini adalah daun jeruk purut yang di Indonesia memang lazim digunakan untuk masakan ataupun minuman. Menurut saya paduan rasa antara daun jeruk purut dengan jeruk nipis ini menghasilkan aroma yang agak unik, segar, dan wangi. Penambahan gulanya pas, sehingga rasa asamnya cukup menyegarkan mata yang lagi ngantuk, tapi tidak akan membuat sakit perut.

SALADS

Yam Mamuang (IDR 45k)
Spicy mango salad with chill and lime juice

 


Bahan-bahannya simple saja yaitu serutan mangga muda, cabai, perasan jeruk nipis, plus saus racikan Thai Alley. Semua bahan ditumbuk kasar, diaduk rata, kemudian ditaburi kacang mete dan kacang tanah sangrai. Asam dan pedasnya mantap karena tadi sang chef memasukkan cabai cukup banyak. Jangan khawatir, customer bisa request tingkat kepedasannya, atau bahkan tidak pakai cabai sama sekali, walaupun menurut Chef King, "makanan Thailand tidak enak kalau tidak pedas."

Som Tam
(IDR 45k)
Spicy papaya salad

 

This is my favorite! Rasanya mirip som tam yang saya makan di Bangkok dulu. Serutan daging pepaya muda, wortel, tomat, dan kacang panjang mentah, ditumbuk dengan saus khas Thai Alley dan kecap ikan, plus taburan kacang tanah sangrai sebagai topping akhir. Rasa asam, manis, pedas, asin, dan gurih dari kecap ikan berpadu pas dan balance. Kalau tidak ingat masih banyak antrian menu lainnya, saya pasti makan salad ini lagi dan lagi…

APPETIZERS

Nang Krob Pad Heng (IDR 45k)
Crispy dried beef skin crackers with tom yum paste
Kerupuk kulit sapi atau yang di beberapa daerah di Indonesia dikenal sebagai kerupuk rambak, ternyata ada juga dalam hidangan Thailand. Di daftar menu disebutkan bahwa kerupuk ini dimasak dengan tom yum paste, tapi bagi saya pribadi hanya terasa dominan manis seperti rasa kecap. Kerupuk kulitnya juga menjadi agak keras dan alot karena siraman bumbu tersebut.

Tod Man Pla
(IDR 45k)
Light curry flavoured fish cake

 
I love fish cakes! Demikian juga cemilan satu ini, enak sekali dengan rasa curry yang agak malu-malu alias tidak terlalu terasa. Fish cake digoreng hingga berwarna kecoklatan yang pas dan merata di seluruh bagiannya, menjadikan bagian luarnya cukup kering tetapi bagian dalamnya masih empuk. Kalau tidak ingat teman-teman yang lain, seisi piring ini pasti akan berpindah ke perut saya.. *wink*

MAINS

Grand Seafood Tower (IDR 398k)
Freshly picked squid, prawn, crab, mussels, baby octopus served with Thai Alley's dipping sauce, Thai mango salad, and Thai papaya salad

 
Sebuah menu komplit bagi pecinta seafood karena di dalamnya tersedia lengkap dari udang besar yang di-grill maupun di-steam, baby octopus digoreng tepung, kepiting, cumi-cumi, dan kerang yang di-steam. Terdapat dua macam dipping sauce untuk menemani makan seafoodnya. Saus berwarna merah seperti sambal Bangkok yang diolah khusus menjadi khas Thai Alley, rasanya asam manis, tidak pedas, cocok untuk makan seafood yang digoreng. Satu saus lain berwarna putih kekuningan dengan aroma bawang putih yang kuat dan cenderung asin, cocok untuk makan seafood yang di-steam. Saya pribadi lebih menyukai saus putih beraroma garlic ini untuk semua jenis seafood, apalagi karena tepung yang membalut calamari cenderung plain, jadi memang memerlukan dipping sauce. Menu ini tidak diragukan lagi, besar sekali! Tiga sampai empat orang rasanya pas untuk menghabiskan satu tower penuh seafood lezat ini.
Tampilannya cantik sekali disusun dalam wadah bersusun dua tingkat dan di paling atas terdapat empat buah udang panggang berdiri tegak. Saya bersama teman-teman semeja malah asyik berfoto seru-seruan dengan seafood tower ini sementara yang lain sudah mulai makan. Boleh lah ya, narsis dikit sebelum towernya diacak-acak. Hihihi...

Neua Yang
(IDR 98k)
Grilled Australian rib eye seasoned with Thai herbs and served with spicy sauce

 

Dari penjelasan menunya saya membayangkan rasanya pedas dan khas Thailand karena ada kata "Thai herbs". Tampilan dagingnya menarik, terlihat tasty, warnanya coklat dengan beberapa bagian bakaran tetapi tidak sampai terlalu gosong. Saya yang tidak terlalu suka red meat pun kali ini tak sabar ingin mencoba. Ketika saya cicipi.. lho koq rasanya seperti sate? Benar-benar menurut saya pribadi ini seperti makan sate sapi kelas premium yang empuk dan enak sekali. Kualitas daging memang sangat berpengaruh, ditambah lagi bumbunya yang sangat meresap membuat saya tidak mau berhenti mengunyah sampai isi piringnya habis. Oh ya, tidak perlu takut dengan kata spicy-nya, karena ini sama sekali tidak pedas.

Pla Garupa Manaow
(IDR 249k)
Steamed grouper fish with fresh lime juice and chill sauce

 

Terhidang agak sedikit "heboh' dengan kompor pemanas di bagian bawahnya, sehingga kuahnya masih terus mengepul menguarkan aroma sedap. Kepala ikan kerapu yang cukup besar di-steam dengan kuah jeruk nipis dan bawang putih. Ikan kerapu memang paling enak dimasak dengan cara di-steam, terbukti di menu ini daging ikannya lembut dan juicy. Pada kuahnya terlihat banyak bawang putih baik yang sudah dicincang halus maupun masih berupa potongan, sehingga tidak mengherankan kalau rasa bawang putihnya dominan sekali dan agak "beradu" dengan aroma jeruk nipisnya. Beberapa potongan cabai rawit merah yang tersebar di kuah ternyata tidak perlu dikhawatirkan karena tidak membuat kuahnya menjadi pedas, kecuali jika potongan cabainya dimakan baru terasa mantap pedasnya.. Saya tetap suka menu ini, hanya saja bukan merupakan favorit saya karena rasa jeruk nipis dan bawang putih yang terlalu tajam di lidah saya.

Pad Thai
(IDR 55k)
Stir fried rice noodle with shrimps, eggs, tomatoes, bean sprouts, and chives

 

Menu basic yang dapat ditemui di hampir semua Thai resto, ibaratnya, kalau tidak ada menu pad thai jangan berani meng-klaim sebagai Thai resto, deh! Pad Thai di sini disajikan dengan beberapa komponen tambahan yang masih terpisah di tepi piring. Mungkin maksudnya jika ada customer yang tidak suka salah satu komponen tersebut bisa dengan mudah menyingkirkannya sebelum dicampur. Kebetulan saya dan teman-teman tidak ada keluhan atau pantangan dengan semua komponen tersebut, jadi kami campur saja semuanya. Tambahan komponen tersebut memberikan rasa dan tekstur yang lengkap pada masakan ini. Misalnya taoge (bean sprouts) mentah memberikan tekstur crunchy-nya sayuran segar dan rasa manis, demikian pula dengan perasan jeruk nipis menambah aroma plus sebersit rasa asam menyegarkan.

Goong Pad Met Mamuang Goong
(IDR 69k)
Stir fried shrimp with sweet and sour sauce, cashew nuts, and dried chill

 

Udangnya besar-besar dan segar, terlihat dari warnanya yang cantik, teksturnya kenyal, dan ada rasa manis ketika dikunyah. Komposisi bumbu asam manisnya pas tidak terlalu dominan, dan cukup meresap ke udangnya. Jika dimakan sekaligus bersama potongan bawang bombai, kacang mete, dan potongan cabai kering yang menyertainya akan menjadi perpaduan nikmat. Jangan takut bagi yang tidak suka pedas, karena tidak terasa pedas kalau tidak mengunyah cabai keringnya. Selain itu potongan cabai keringnya besar-besar sehingga mudah disisihkan. Penggemar udang pasti suka menu ini… that's me!

Broccoli Kratiam
(IDR 49k)
Stir fried broccoli with garlic
Menu sayuran ini terasa ligjt dibanding masakan lainnya, dan satu-satunya yang tidak ada cita rasa khas Thailand, tapi bukan berarti tidak enak. Broccoli tumis bawang putih ini umum kita temui di Chinese food resto, rasanya pun sama dengan aroma bawang putih yang cukup dominan seperti kesukaan saya. Broccolinya sudah dipotong dalam kuntum-kuntum kecil yang pas dalam sekali suap, sehingga kita tidak repot memakannya. Tingkat kematangan broccoli pas, warnanya masih hijau segar, dan ketika dikunyah terasa renyah. Penggemar sayuran terutama broccoli pasti suka menu ini, bahkan mungkin yang tadinya tidak suka broccoli bisa jadi suka karena rasanya enak.

DESSERT

Kati Sod Ma Praw Awn
Homemade fresh coconut ice cream with toppings

 

Menu terbaru dari Thai Alley yang bahkan belum dijual untuk umum. Suatu kehormatan kami menjadi customer pertama yang bisa mencobanya. Biasanya es krim kelapa tidak pernah menarik minat saya, tapi yang ini berbeda. Es krimnya tidak terlalu manis, lembut, dan terasa alami tanpa tambahan artificial flavor. Toppingnya cukup ramai mulai dari daging kelapa muda, sari kelapa, kolang kaling, kacang merah, manisan ubi, dan pipilan jagung manis. Mangkuk sajinya unik memakai batok kelapa muda yang isinya sudah dikeruk untuk topping. Penyajian yang bagus ya, bisa memanfaatkan "sampah" sebelum dibuang. Meskipun masih menu percobaan, tapi kami yakin pasti jadi best seller kelak, soalnya uenakkk! Untuk dessert seenak ini kami rela menjadi kelinci percobaan… yumm!

Sebelum pulang kami masih mendapat Goody Bag dari Thai Alley berupa voucher makan dan dua jenis take away menu dari Thai GoGo.

 
Thai GoGo merupakan salah satu dining concept dari Culinary Concepts yang ditujukan terutama bagi masyarakat urban yang sibuk. Dengan adanya Thai GoGo tidak perlu khawatir lagi kalau sedang tidak sempat makan di restoran, kita tetap bisa menikmati menu Thai yang lezat ini di rumah, di kantor, atau di perjalanan. Masih tidak sempat mampir untuk membeli take away menu? Tenang, tersedia pula GoGo Delivery yang siap mengantar pesanan Anda, cukup dengan menghubungi 021 5797 3139.

Foto-foto yang lebih lengkap dapat dilihat di: http://andrianiwiria.blogspot.com
Supplementary Information:
Thai Alley

Gandaria City, South Lobby

Jl. Sultan Iskandar Muda, Jakarta 12240

Tel. +62 21 2900 8038

Pacific Place, 5th Floor

Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53, Jakarta 12190

Tel. +62 21 5797 3600

Email: thaialley@culinaryconcepts.asia

Facebook-Twitter-Instagram: @ThaiAlley

Thai GoGo

Pacific Place, B1 (BEI Underpass)

Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53, Jakarta 12190

Tel. +62 21 5797 3139

Twitter-Instagram: @thai_gogo
 
Recommended Dish(es):  Tod Man Pla,Som Tam,Grand Seafood Tower,Kati Sod Ma Praw Awn
 
Date of Visit: Apr 11, 2014 

Spending per head: Approximately Rp150000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 5  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend