OpenRice Index
  
missnl
This is missnl living in Cilandak. I am a graphic designer, work in Lebak Bulus. I like to hang out in Tanjung Duren, Pondok Indah, Senayan. Bali, Chinese, Itali, India are my favorite cuisines. I also love Street Foods, Kafe, Restaurant, lounge and Siomay / Batagor, Pizza & Pasta, sate lilit bali.
Member 10 First(s)
No. of Review67 Review(s)
編輯推介數目33 Editor's Choice
Recommended8 Recommended
Popularity3669 View(s)
Replies in Forum1 Comment(s)
Upload Photos1237 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant42 My Restaurant(s)
Follow58 Following
粉絲391 Follower(s)
missnl  Level 3
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 36 to 40 of 57 Reviews in Indonesia
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Barat | Restaurant | Steak & Grills | Halal | Kencan / Berpasangan | Kumpul Keluarga

Awal Februari ini saya mendapat undangan untuk menghadiri food tasting yang diadakan oleh Outback Steakhouse cabang Kuningan City. Acara yang bertajuk Steakopedia ini ternyata bukan sekedar food tasting biasa, karena selain untuk lebih mengenal menu-menu Outback Steakhouse, kami juga mendapatkan pengetahuan tentang steak yang cukup lengkap.
Hello!

Hello!

 
Outlet Outback Steakhouse di Kuningan City cukup luas dan menempati area strategis yang tidak jauh dari pintu masuk. Kesan hangat dan nyaman terpancar dari interior resto yang didominasi unsur kayu pada lantai dan meja-kursi makannya, berpadu dengan lampu-lampu gantung dan lukisan yang berkesan modern dan catchy. Ornamen dengan style Aborigin tampak menghiasi beberapa bagian di restoran asal Amerika bergaya Australia ini.

Acara dibuka dengan perkenalan singkat dari pihak Outback Steakhouse, kemudian tanpa berlama-lama dimulailah "Steak Lesson" yang dibawakan langsung oleh Mr. Dilip Khrisnan, head of marketing Outback Steakhouse for Southeast Asia. Mr. Dilip menjelaskan dengan lengkap segala sesuatu tentang steak, mulai dari jenis-jenis daging sapi, cutting, dan cara memasaknya hingga siap terhidang untuk konsumen. Beberapa tips memilih steak yang enak dan berkualitas juga beliau bagikan, tentunya ini sangat bermanfaat untuk saya yang tergolong tidak berpengalaman soal steak.
Steakopedia presentation

Steakopedia presentation

 
Satu catatan yang ingin saya bagikan disini adalah mengenai tingkat kematangan daging (steak doneness) yang penting diketahui dalam memilih steak:
- Raw (mentah): Memang jarang menu yang disajikan raw, contohnya Carpaccio dan Steak Tartare
- Blue Rare: Daging dimasak secara cepat sehingga hanya bagian luarnya saja yang berubah warna, sedangkan bagian dalam masih merah seluruhnya karena tidak terkena panas. Daging yang dimasak pada tingkat kematangan ini sering disebut dengan istilah populer blood rare atau bloody as hell.
- Rare: Warna bagian luarnya sudah abu-abu kecoklatan, sedangkan bagian dalamnya 75% masih berwarna merah.
Medium Rare: Sedikit lebih matang dari rare dengan bagian dalamnya 50% masih berwarna merah.
- Medium: Sudah lebih matang dengan menyisakan bagian dalamnya 25% masih berwarna pink
- Medium Well: Daging sudah cukup matang tetapi menyisakan sedikit bagian berwarna pink kecoklatan di bagian dalam.
- Well Done: Daging sudah benar-benar matang hingga ke bagian dalamnya 100% berwarna coklat. Biasanya daging sudah tidak juicy lagi dan cenderung keras, sehingga kurang bisa dinikmati rasa dagingnya.
- Overcook: Sudah melewati tingkat well done dimana daging sudah gosong di bagian luar, terasa pahit, dan tekstur daging sudah sangat kering/keras.
Outback Steakhouse sendiri menggunakan daging sapi jenis USDA "Choice" Certified Angus Beef yang berkualitas tinggi namun masih tergolong terjangkau. Ini merupakan pilihan tepat karena kualitasnya tidak diragukan dan harga yang "bersahabat" akan bisa menjangkau lebih banyak konsumen. Daging diimpor dalam keadaan beku (frozen) dan utuh, kemudian disimpan di lemari pendingin pada suhu tertentu. Daging ini akan dibiarkan dalam pendingin selama 3-5 hari, kemudian dimasak selama 2-3 hari menjadi aged beef.
Usai penjelasannya, kami berkesempatan tour ke dapur Outback Steakhouse untuk melihat langsung proses memasak steak yang tadi sudah kami dapatkan "teori"nya. Suatu keberanian besar jika restoran memperlihatkan seluruh bagian dapurnya kepada konsumen, terbukti memang dapur Outback Steakhouse ini memiliki standar yang sangat baik. Dapurnya bersih, tidak terlalu besar, namun semuanya tertata baik dan penempatannya efisien.
Tour to Outback's kitchen!

Tour to Outback's kitchen!

 
Kami juga melihat langsung tim dapur sedang memasak hidangan makan siang yang nanti akan kami santap, dimulai dari memotong daging, dibumbui dengan 17 macam bumbu spesial, dan di-grill sesuai pesanan. Outback Steakhouse menggunakan pemanggang jenis Flat Top dengan 3 bagian temperatur yang berbeda untuk menghasilkan tingkat kematangan sesuai pesanan konsumen. 
Flat Top Grill

Flat Top Grill

 
Tak hanya kualitas daging saja yang harus prima, sayuran untuk side dish pun harus segar dan berkualitas baik. Semua sauce atau dressing yang digunakan pada menu juga dibuat fresh setiap hari sehingga kualitasnya terjaga. Sehabis dari dapur rasanya jadi makin tidak sabar untuk langsung mencicipi makan siang kami, karena tadi sudah melihat dan mencium aromanya yang wangi menggoda. Baiklah, mari makan siang!

Bottomless Iced Tea (IDR 25,9k)
Iced tea merupakan minuman "sejuta umat" yang cocok dengan berbagai hidangan. Demikian pula dengan iced tea di sini, tehnya tidak terlalu pekat ataupun encer, serta aromanya tidak terlalu kuat sehingga bisa menetralkan berbagai rasa di lidah setelah makan. Bagi yang suka minum banyak, kata "bottomless" tentunya jadi pertimbangan penting untuk memilih menu yang satu ini ya.. hehe..

Complimentary Bread
Rotinya lembut dan enak, disajikan dengan plain butter. Khusus untuk roti ini, Outback Steakhouse memesannya dari sebuah produsen roti ternama, dengan resep khusus yang hanya dimiliki oleh Outback Steakhouse saja.

 
Soup of the day:
Chicken and Mushroom Cream Soup (Cup: IDR 29,9k / Bowl: IDR 34,9k)
Saya suka cream soup yang kental dan creamy. Beberapa teman berkomentar supnya terlalu kental, tapi buat saya tidak ada masalah selama rasanya lezat dan tidak bikin eneg... dan yang satu ini enak lhoo!

 
Crispy Fried Mushrooms (IDR 69,9k)
Lightly breaded and fried mushrooms, served with spicy ranch dressing.
Yummy Mushroom!

Yummy Mushroom!

 
Fried mushroom is my favourite! Saya tidak akan melewatkan kesempatan mencicipi menu ini hampir di manapun saya menemukannya. Terlebih lagi fried mushroom dari Outback Steakhouse memang enak sekali karena tepungnya tidak terlalu tebal namun membalut sempurna dan bumbunya pas. Lebih lengkap lagi dicocol dengan spicy dressing-nya yang tidak pedas justru cenderung asin tapi jadi balance karena jamurnya sendiri tidak asin.
Spinach Artichoke Dip (IDR 89,9k)
A creamy blend of spinach, artichokes, Monterey Jack and Parmesan cheese, baked until bubbly. Served with tortilla chips.

 
Sebuah menu baru dari Outback Steakhouse yang belum tercantum di buku menu. Kami beruntung mendapat kesempatan mencobanya sebelum di-launching secara umum. Saya suka tortilla chips-nya yang renyah dan berbumbu pas, bahkan sudah enak dimakan tanpa cocolan. Spinach artichoke dip-nya sendiri buat saya pribadi tidak terlalu istimewa karena rasanya "datar" saja. Aroma dari Monterey Jack dan parmesan cheese yang saya harapkan terasa dominan pun ternyata samar-samar saja. Saya justru lebih sering mencomot tortilla chips-nya saja, lagi dan lagi...
MAIN COURSE
Grilled Salmon (IDR 129,9k)
A boneless Salmon fillet, seasoned an grilled , then served with fresh seasonal veggies and rice pilaf.
I love salmon!

I love salmon!

 
Senangnya ketika membaca ada pilihan menu non beef di daftar menu hari itu. Ketika saya tanyakan ke waitress, dikatakan bahwa pilihannya hanya satu yaitu salmon steak. Ya, dengan segera saya setujui karena salmon merupakan favorit saya, and I definitely won't eat red meat that day! Salmon steak terhidang dengan cukup menarik bersama sayuran dan pilaf rice. Awalnya (dan memang standar menunya demikian) tidak ada sauce yang menyertai, tetapi kebetulan sebelum makan saya sedikit ngobrol dengan Mba Rima, kemudian beliau menawarkan remoulade sauce sebagai pelengkap. Tentunya saya tidak menolak, karena salmon steak tanpa sauce apa-apa rasanya "sepi". Saya suka sauce yang rasanya mirip tartar sauce ini, hanya memang (lagi-lagi) agak terlalu asin. Potongan salmonnya cukup besar, di-grilled dengan sempurna pada tingkat kematangan yang pas. Dagingnya masih cukup empuk, walaupun tidak terlalu juicy tetapi tidak sampai "dry" atau keras. Tampilan luarnya juga cantik dengan garis-garis bakaran yang tidak terlalu gosong. Disajikan dengan sedikit sayuran dan potongan lemon yang menjadikan tampilan di piring saya terlihat "berwarna".
Prime Rib 8oz (IDR 249,9k)
Meticulously aged, then slow-roasted to seal in the savory beef flavor and to ensure tenderness, hand-carved to order and served with our mouth-watering au jus. Or, have it oven roasted slowly then seasoned and seared to perfection.
Outback's speciality!

Outback's speciality!

 
Prime Rib merupakan menu best seller di Outback, tapi karena sehari sebelumnya saya baru saja makan steak, dengan terpaksa saya tidak memilih menu ini. Saya hanya mencicip sepotong dari menu pilihan teman. Disajikan dengan mashed potato, sayuran, dan au jus sauce. Teman saya memesan tingkat kematangan medium well, dan beliau agak menyesal karena seharusnya akan lebih enak jika memesan yang medium. Menurut saya pribadi dagingnya masih empuk, cukup lembut, dan tentunya lezat dengan bumbu spesial Outback. Au jus-nya sendiri tidak begitu diperlukan karena rasanya agak terlalu asin (menurut saya dan juga teman saya). Mashed pototo masih sedikit chunky dan memang tidak dibuat lembut/creamy, tetapi dibumbui dengan baik sehingga enak rasanya.
Outback Special 8oz (IDR 219,9k)
Our signature sirloin is seasoned with bold spices and seared just right.

 
Saya tidak sempat mencoba menu yang satu ini, hanya melihat pesanan milik tetangga sebelah. Saya tidak berani mencoba karena tingkat kematangan yang dipesannya adalah medium rare, sedangkan limit saya untuk steak hanya sampai medium hehehe. Menurut sang tetangga, dagingnya juicy dan tingkat kematangan yang didapat pas seperti keinginannya.
Fish and Chips (IDR 89,9k)
Tender fish fillet, battered and deep fried until golden brown. Served with Aussie Fries and homemade tartar sauce.

Saya juga tidak mencoba menu ini, karena merupakan pesanan tetangga yang agak jauh tempat duduknya. Dari tampilannya sebenarnya saya cukup tergoda untuk mencoba, karena fish fillet terlihat crispy dalam balutan tepung yang digoreng pas pada tingkat golden brown. Berbeda dengan saya yang ditawarkan menu salmon sebagai pengganti steak, tetangga yang satu ini hanya ditawarkan Fish and Chips saja oleh waitress. Wah, beda waitress beda menu ya rupanya?

DESSERT
Chocolate Thunder from Down Under (IDR 69,9k) for share
Fresh-baked pecan brownie is crowned with rich vanilla ice cream, drizzled with our classic warm chocolate sauce and finished with chocolate shavings and whipped cream. A chocolate lover’s dream.
Like a thunder in my mouth!

Like a thunder in my mouth!

 
Ini dia dessert andalan Outback Steakhouse. Sebenarnya menu ini simple saja, brownies dengan es krim, tapi karena semuanya home made maka rasanya jadi spesial. Brownies coklatnya mantap dan es krimnya tidak terlalu manis, so yummy! Sang Chocolate Thunder ini pun menjadi penutup yang tak terlupakan untuk Steakology kami siang itu.
Oh ya, Outback Steakhouse juga mempunyai paket lunch special yang cocok untuk arisan atau gathering bersama teman dan keluarga. Dengan harga mulai dari Rp 159.900++ per pax, sudah bisa menikmati lunch lezat berkualitas dari Outback Steakhouse. Untuk info lengkap dan reservasi bisa langsung menghubungi ketiga cabang Outback Steakhouse di Jakarta.

Untuk foto-foto yang lebih lengkap bisa dilihat di http://andrianiwiria.blogspot.com
Supplementary Information:
Outback Steakhouse

Pondok Indah Mall (Tel. +62 21 750 6771)

Ratu Plaza (Tel. +62 21 725 2188)

Kuningan City Mall (Tel. +62 21 3048 0505)

Facebook: Outback Steakhouse Indonesia Twitter: @OutbackIN

Website: www.outback-sea.com
 
Recommended Dish(es):  Prime Rib,Chocolate Thunder from Down Under,Grilled Salmon,Crispy Fried Mushrooms,Prime Rib 8oz,Chicken and Mushroom Cream Soup,Spinach Artichoke Dip
 
Table Wait Time: 10 minute(s)


Date of Visit: Feb 01, 2014 

Spending per head: Approximately Rp120000(Lunch)

Dining Offers: Tasting Event


Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 5  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jepang | Restaurant | Kumpul Keluarga

Sukses dengan outletnya di Mall Taman Anggrek, Marugame Udon kini membuka cabang keduanya di Gandaria City. Berlokasi di lantai UG, Mainstreet Dining Area, Marugame Udon cukup mudah ditemukan dengan outletnya yang sangat strategis dan bergaya khas Jepang.

Saya bersama sahabat baik saya berkunjung di hari Minggu, 4 Agustus 2013 pukul 5 sore. Mengingat masih dalam bulan Ramadhan, ini sekaligus jadi acara buka puasa bersama dengan teman-teman. Saya dan beberapa teman datang lumayan 'kepagian', tapi bagusnya kami bisa melihat suasana resto saat masih cukup sepi dan puas mengamati interiornya. Marugame Udon menempati area yang cukup luas, terdiri dari dapur dan area makan yang agak 'menyebar'. Dapurnya terletak di bagian hoek sehingga strategis terlihat dari beberapa arah. Letak dapur dan konsep open kitchen menjadi daya tarik bagi konsumen, bahkan mungkin yang semula hanya sekedar lewat bisa jadi tertarik makan disini setelah melihat proses masak di dapur yang sibuk ini. Selain memperlihatkan proses pembuatan udon from scratch sampai akhirnya siap disantap, dapur yang serba terbuka ini juga memperlihatkan betapa faktor kebersihan sangat dijaga. Dapur harus selalu bersih, teratur, dan semua karyawan harus memakai seragam lengkap dengan topi dan sarung tangan.

Area makannya dapat dikatakan terbagi menjadi 3 bagian, masing-masing dengan suasana yang berbeda. Satu area terletak di bagian bridge dari mainstreet area, agak terpisah di seberang dapur, dengan lantai kayu dan beberapa partisi kayu sebagai 'pagar' area ini. Satu area yang cukup menarik adalah area outdoor/balkon yang memanjang tepi jalan tempat orang lalu lalang, dengan beberapa meja kecil di tepi balkon dan satu meja panjang seperti meja bar yang menghadap ke balkon. Satu area lagi (yang kami tempati) berada di sebelah dapur dengan dinding berlapis batu alam gelap dan sebuah lukisan Gunung Fuji yang cukup besar. Meja-kursinya dari kayu coklat gelap dan pernak-pernik simple bernuansa Jepang tersebar di seluruh area, menjadikan suasana benar-benar seperti sebuah kedai di Jepang.

 

 
Hadir menemani kami saat itu, Edwin Ray (Digital PR Executive) dan Eka Sri Utami (PR Manager) yang menceritakan secara singkat tentang Marugame Udon. Food chain yang berasal dari Jepang ini sudah tersebar di berbagai negara, dan awal 2013 membuka outlet pertamanya di Mall Taman Anggrek. Seperti konsep aslinya di Jepang, sistem self service juga diterapkan di sini. Self service yang dimaksud yaitu customer mendatangi counter untuk memesan udon, pilih dan ambil sendiri tempura yang diinginkan, langsung membayar di kasir, nikmati makanannya, kemudian setelah selesai makan bereskan peralatan makan dari meja untuk diletakkan di tempat yang tersedia. Sayangnya untuk langkah terakhir ini baru tersedia di outlet Mall Taman Anggrek saja. Semoga ke depannya bisa diterapkan juga di outlet Gandaria City, karena konsep ini bagus untuk melatih customer agar tidak 'manja' dan selalu minta dilayani.

 
Mengusung tagline "Freshly Cooked Udon & Tempura", Marugame sangat serius menjaga kesegaran makanan mereka. Udon yang sudah dimasak dan tempura yang sudah digoreng jika tidak terjual dalam waktu 15-20 menit maka akan langsung dibuang dan diganti baru. Jadi bisa dipastikan setiap konsumen akan selalu mendapat udon dan tempura yang baru dimasak. Terdapat supervisor asli orang Jepang yang terlihat mengawasi dan mengatur 'flow' di dapur maupun di resto. Jika seluruh tempat duduk sudah terisi, maka order akan di-stop untuk sementara sampai ada tempat kosong lagi. Jadi customer tidak perlu khawatir tidak mendapat tempat duduk setelah memesan makanan. Saat resto sedang ramai, customer yang sudah selesai makan pun dihimbau untuk tidak berlama-lama duduk karena harus bergantian dengan customer lainnya.

Tak perlu menunggu lama, acara segera dimulai karena resto semakin bertambah ramai mendekati jam berbuka puasa. Selagi kami mengantri untuk memesan makanan, Edwin menjelaskan menu-menu andalan Marugame Udon dan keistimewaannya. Terdapat 8 menu udon dan 10 jenis tempura, serta beberapa menu yang menggunakan nasi (donburi). Menu nasi ini menyesuaikan dengan selera konsumen Indonesia, terutama yang berprinsip "belum berasa makan kalau belum makan nasi". Satu lagi bentuk adaptasi Marugame terhadap selera orang Indonesia adalah dengan disediakannya irisan cabai rawit merah. Buat para penggemar pedas, silakan tambah cabai sesukanya, bebas ambil sendiri… tapi kalau sampai sakit perut, resiko ditanggung sendiri yaa…
Mentai Kamatama+Chix Chilli Tempura+Beef Croquette

Mentai Kamatama+Chix Chilli Tempura+Beef Croquette

 
Mentai Kamatama Udon (IDR 50k)
Menu pesanan teman saya ini terlihat menarik dan 'berwarna' karena toppingnya cukup ramai. Udon ini tidak berkuah, tetapi menggunakan saus special dan toppingnya berupa telur ikan mentaiko, telur ayam setengah matang, serta sejumput nori diiris tipis. Sebelum dimakan, semua topping itu harus diaduk sampai merata dengan udonnya. Ketika saya cicipi.. ternyata enak, saya suka! Udonnya sendiri pas, tidak terlalu kenyal/keras, juga tidak terlalu empuk/lembek.. bisa disamakan dengan al dente pada pasta. Setelah dicampur saus, udonnya jadi terasa gurih, asin, dan sedikit ada rasa manis juga. Sama sekali tidak ada rasa amis dari telur setengah matang yang awalnya saya khawatirkan. Kalau sedang ingin makan udon yang tidak berkuah, maka Mentai Kamatama Udon ini pasti jadi pilihan tepat. Saya sebenarnya ingin mencomot lagi dan lagi, tapi kasihan nanti temanku berkurang jatahnya jadi tidak kenyang hihihi...

Chicken Chilli Tempura (IDR 7k/pc)
Menu tempura yang unik dan hanya dibuat di Marugame Indonesia saja, yaitu cabai hijau besar yang diisi daging ayam cincang. Tidak perlu takut dengan 'image' cabai yang pedas, karena tempura satu ini malah sama sekali tidak pedas. Saya suka dengan aroma cabai hijaunya yang masih cukup terasa walaupun tanpa rasa pedas. Daging ayam isiannya mirip dengan bola-bola baso ayam yang ada dalam menu tori baitang, mungkin memang bahan dan bumbunya sama.

Beef Croquette (IDR 12k/pc)
Kroket dengan campuran daging sapi di dalamnya. Kroket kentangnya lembut dan enak, tapi sedikit sulit mengambilnya dengan sumpit karena mudah hancur. Untuk lidah orang Indonesia, beef croquette ini mirip dengan perkedel kentang dengan bumbu yang berbeda.

 
Tori Baitang Udon (IDR 45k)
Setelah incaran saya keburu dipesan teman yang lain, akhirnya Tori Baitang menjadi pilihan saya karena tertarik dengan bola-bola baso ayam dan kuah kaldu putihnya yang terlihat lezat. Pertama kali pasti saya seruput kuahnya selagi masih hangat. Hmm.. kuahnya memang gurih, asinnya pas, cukup pekat tetapi tidak kental. Saya pun suka dengan baso ayamnya karena dagingnya lembut, gurih, serta rasanya asin dan sedikit manis berpadu pas. Kuah dan basonya memang sesuai dengan ekspektasi saya ketika melihat dummy atau fotonya di daftar menu, tapi.. saya agak menyesal karena memilih menu ini untuk dimakan sendirian. Mungkin menu ini sebaiknya di-share berdua atau bertiga agar bisa segera habis selagi masih hangat, karena kuah kaldunya lama-kelamaan terasa terlalu gurih apalagi saat sudah dingin. Porsi udon yang memang sudah besar untuk ukuran saya, ditambah gurihnya kuah yang terasa "berat" membuat saya lebih cepat merasa kenyang. Dengan sangat menyesal saya pun tidak bisa menghabiskan seporsi udon ini (tinggal udonnya saja yang tersisa).. maaf ya udon, nyerah!!

 
Broccoli Tempura (IDR 10k/pc)
Inilah pilihan tempura saya yang pertama. Sebenarnya saya tertarik pada tempura yang satu ini karena bentuknya yang paling besar dan menarik dengan warna hijau menyembul di antara tepung tempura yang melapisi bagian luarnya. Kebetulan yang saya ambil ini bentuknya rapi dan bisa berdiri dengan indah di piring, sehingga bagus untuk difoto. Ketika dimakan, tepung tempura di bagian luarnya renyah dan broccolinya cukup empuk tapi tidak sampai mudah hancur karena overcooked.

Kisu Tempura (IDR 10k/pc)
Tempura berisi ikan kisu di dalamnya. Saya pilih tempura ini karena penasaran seperti apa rasa ikan kisunya. Setelah dicoba, ternyata tidak ada yang terlalu istimewa dengan ikan tersebut. Daginghya putih, cukup lembut dan tidak kesat, serta tidak ada bau amis ikan.

 
Kake Udon (IDR 33k)
Udon pesanan teman saya ini simple banget, hanya udon dengan kake dashi soup plus topping tepung tempura yang menambah tekstur crunchy. Saya sempat mencicipi kuah kake dashi-nya yang bening kecoklatan… hmm, enak dan light! Sungguh tepat pilihan teman saya ini, karena kuah yang light memang menjadi kesukaannya.

 
Niku Udon (IDR 45k)
Menu ini basically hampir sama dengan Kake Udon, perbedaannya hanya pada lembaran daging sukiyaki yang terdapat di dalamnya. Kuahnya masih sama menggunakan kake dashi soup, tetapi saat saya cicipi rasanya sedikit lebih gurih dari yang di kake udon meskipun warnanya sama-sama bening kecoklatan. Daging sukiyakinya juga empuk dan teksturnya lembut, para penggemar daging pasti akan suka dengan menu ini.

Egg (Tamago) Tempura (IDR 8k/pc)
Tempura telur juga termasuk unik dan jarang ada di tempat lain, karena pembuatannya cukup sulit. Menurut standar dan dummy yang terpajang di depan, telurnya harus masih setengah matang dengan kuning telur yang meleleh ketika dibelah. Sayangnya egg tempura yang diambil oleh teman saya ini sudah lewat dari setengah matang. Kuning telurnya tidak melt lagi meskipun belum sampai mengeras semuanya juga.

Menikmati tempura tentunya tidak lengkap tanpa sausnya, dan Marugame Udon punya saus spesial yang enak. Tak seperti saus tempura umumnya yang encer, saus disini agak kental dan ada sedikit rasa manis. The best tempura sauce ever deh pokoknya… saya suka banget, dan yang penting saus ini bisa dinikmati sepuasnya karena sudah tersedia sebotol di masing-masing meja.

Untuk minumannya, makanan Jepang tentu paling pas dengan ocha. Seperti biasa saya pilih cold ocha karena saya kurang suka minuman panas. Ochanya enak, tidak terlalu pekat, tidak pahit, dan yang penting free refill.

Overall, saya puas dengan Marugame Udon. Pelayanannya cepat, makanannya enak dan harganya sesuai dengan porsinya yang mengenyangkan itu. Memang benar kata Edwin, bahwa disini tempatnya makan enak dan kenyang, bukan 'makan cantik' hehehe... Oh ya, makanan di sini semuanya no pork & no lard, tetapi memang belum mendapat sertifikat halal karena ada penggunaan mirin.

Kami memang tidak bisa duduk-duduk ngobrol berlama-lama seusai makan karena resto sedang ramai sekali malam itu sehingga harus segera memberikan tempat bagi customer lain yang masih mengantri panjang. Pastinya saya akan kembali lagi di lain waktu bersama keluarga untuk mencoba beberapa menu incaran yang tadi belum sempat saya coba.
Thanks 4 the experience tonite, Marugame Udon!

Marugame Udon
Gandaria City Mall, Level UG Mainstreet Dining Area
Kebayoran Lama, Jakarta Selatan
Facebook: Marugame Udon Indonesia Twitter: @MarugameUdonID
 
Recommended Dish(es):  Mentai Kamatama Udon,Niku Udon
 
Date of Visit: Aug 04, 2013 

Spending per head: Approximately Rp70000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
   1 Vote(s)   View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Chinese | Restaurant | Seafood | Halal | Kumpul Keluarga

Menempati lokasi baru di level 3A, satu lantai di bawah tempat lamanya di West Mall Grand Indonesia, Jun Njan yang baru lebih luas dan mempunyai beberapa private room. Ketika kami datang siang itu, antrian waiting list cukup ramai. Saya jadi agak menyesal karena tidak reservasi sebelumnya. Antrian panjang itu sempat membuat 'gentar', tapi saya mendaftar juga ke reception, dan katanya… tempat untuk 4 orang masih waiting list ke-5. Hadeuhh.. berapa lama nunggunya nih? Ya sudah, kami tunggu saja.. eh, tak berapa lama kami pun dipanggil! Ha, what a lucky moment! Rupanya memang meja untuk 4 orang sudah ada yg kosong lebih dahulu. Leganya kami bisa mendapat tempat, mengingat sudah lumayan laperrr.. hehe. Ketika awal duduk, meja kami masih kosong tanpa peralatan makan, rupanya memang baru saja dibersihkan, tapi tak lama beberapa waitress yang sigap telah menata meja kami. Tak membutuhkan waktu lama untuk memilih menu, karena kami sudah beberapa kali ke Jun Njan.

 
Sup Asparagus Telur Kepiting (IDR 32k)
Appetizer ini salah satu menu favorit kami di Jun Njan. Disajikan dalam porsi personal tapi cukup banyak jika dihabiskan sendirian, maka kami hanya pesan 2 porsi untuk berempat. Supnya kental dengan campuran putih telur dan warnanya orange kecoklatan yang larut dari telur kepiting, dan di dalamnya ada potongan-potongan asparagus kalengan. Sup harus dimakan saat masih hangat karena akan lebih enak rasanya, hangat di perut, dan gurih di lidah. Yummy!

 
Udang Rebus (Small = IDR 68k, Medium = IDR 98k, Large = IDR 138k) 
Merupakan 'menu wajib' kami kalau makan di sini, karena memang merupakan signature dish Jun Njan yang paling populer, bahkan sejak masa kecil saya. Menu ini tersedia dalam 3 ukuran yaitu S, M, L jadi bisa disesuaikan porsinya dengan jumlah orang. Kami pilih size M supaya bisa makan sepuasnya hehe.. Udangnya fresh seperti biasa, ditandai dengan teksturnya masih kenyal, warnanya orange cantik dan mudah dikupas. Udang rebus ini dimakan dengan cocolan sambal garlic racikan khas Jun Njan yang tidak terlalu pedas. Rasa manis alami dari udang segar berpadu dengan aroma garlic dari sambalnya terasa pas dan enak, jadi tak mau berhenti makan nih, kupas lagi, lagi, dan lagi... Satu kebiasaan pribadi yang mungkin berbeda dari orang lain, saya selalu mengupas udang di awal sampai terkumpul agak banyak, baru kemudian memakannya sekaligus. Buat saya jadi lebih fokus dalam menikmati rasa udangnya.

 
Tahu Spesial Jun Njan (IDR 46k)
Tahu sutra dimasak dengan saus tiram racikan spesial Jun Njan, rasanya hampir seperti sapo tahu. Tahunya lembut dan sedikit gurih, sedangkan kuah saus tiramnya kecoklatan agak kental dan pastinya enak.

 
Kailan Saus Tiram (IDR 48k)
Menu sayur harus ada untuk menyeimbangkan menu, maka kami pilih kailan yang dimasak dengan saus tiram. Meskipun sederhana, menu ini enak. Kami suka kailannya yang masih berwarna hijau segar tetapi renyah dan tingkat kematangannya pas, berarti nutrisinya tidak hilang atau rusak karena terlalu lama dimasak. Bumbu saus tiram yang disiramkan di atas kailan berwarna coklat gelap, kentalnya pas, dengan rasa asin, sedikit manis, dan pastinya gurih.. enak sekali. Rasanya sayang kalau bumbunya sampai bersisa… hehe..

 
Udang Telur Asin (IDR 88k)
Kami tahu menu ini berkolesterol tinggi, tapi rasanya yang enak sungguh menggoda, jadi guilty pleasure deh.. Udang yang cukup besar digoreng dengan tepung tipis sampai kulitnya crispy, lalu disiram saus yang terbuat dari kuning telur asin. Awalnya saya makan dengan mengupas kulit udangnya, tapi kata nyokap justru akan lebih enak jika dimakan sekaligus dengan kulitnya. Baiklah, saya coba makan dengan kulitnya (don't worry, setelah saya amati ternyata kaki udangnya sudah dibuang bersih). Benar juga… crispy-nya kulit udang, kenyalnya daging udang yang bercampur gurih saus telur asin menjadi perpaduan rasa dan tekstur yang top abiz, plus tidak perlu repot mengupas!

 
Gurame Goreng Garing (IDR 72k)
Ikan gurame digoreng kering dengan cara 'butterfly' sehingga mudah mengambil dagingnya. Sirip dan ekor ikannya crispy sekali sehingga enak dimakan juga. Saus asam manisnya berisi cukup banyak serutan wortel dan lobak yang sudah dibuat acar lebih dahulu, rasanya pas tidak terlalu asam ataupun manis. Isian wortel dan lobaknya memberikan aroma yang khas sehingga menjadikan saus asam manis ini lain dari yang lain.

 
Nasi Goreng Jun Njan (Small = IDR 35k, Medium = IDR 55k, Large = IDR 75k) 
Menu nasi goreng ini juga tersedia dalam 3 ukuran yaitu S, M, L dan kami memilih size M yang sekiranya pas untuk berempat. Sengaja kami tidak pesan nasi putih karena nasi goreng Jun Njan terkenal enak dan menjadi salah satu menu wajib kami juga. Nasi goreng chinese style berwarna kuning kecoklatan, dengan isian seafoodnya hanya udang saja, pas dengan kesukaan saya ;). Nasi goreng ini disukai oleh semua anggota keluarga karena rasanya pas dan lezat, tapi tidak sampai terlalu gurih karena kebanyakan MSG atau 'banjir' minyak.

 
Untuk minumannya kami hanya memesan Chinese Tea dan Strawberry Juice (IDR 25k) saja. Chinese tea-nya disajikan dalam poci dan refillable, sedangkan strawberry juice-nya dari fresh strawberry dan tanpa tambahan susu, tepat seperti kesukaan saya.

Makan di resto favorit keluarga pastinya menjadi "pilihan aman" karena sudah pasti semua suka, semua kenyang dan senang, termasuk saya juga. Menu yang sudah familiar, rasa makanan yang enak, serta pelayanan yang ramah dan cekatan menjadikan acara makan siang keluarga kami berakhir menyenangkan.

Jun Njan
Grand Indonesia Shopping Town
West Mall Lt. 3A Unit 8-9A (Entertainment District)
Jl. MH Thamrin No. 1 Jakarta
Phone: +62 21 23580647/48
Website: www.junnjan-seafood.com   Facebook: Jun Njan Seafood   Twitter: @JunNjan
 
Recommended Dish(es):  Udang Rebus,Nasi Goreng Jun Njan,Sup Asparagus Telur Kepiting
 
Spending per head: Approximately Rp80000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Roti & Kue

Suatu siang di bulan Februari 2013, teman kantor saya memberi info bahwa ada toko kue yang baru dibuka di area tidak jauh dari kantor, bisa dicapai dengan berjalan kaki saja dari kantor kami di Lebak Bulus. Bahkan teman saya membawakan business card toko kue tersebut yang berdesain simple tapi cukup cantik. Teman saya baru saja dari sana, dan katanya cake shop ini sedang memberikan free trial untuk semua tamu selama 2 hari. Well, sungguh menarik sebenarnya.. tapi berhubung jam istirahat sudah habis, saya pun berencana untuk mengunjunginya keesokan hari saja, toh memang free trial-nya berlangsung sampai besok.

Keesokan harinya, dengan excited saya berkunjung ke Jakarta Cake House yang dimaksud itu. Saya mengajak seorang teman kantor lainnya yang kebetulan berminat juga (bukan teman yang memberi info kemarin). Cukup berjalan kaki sekitar 5 menit saja, sampailah kami di tempat tersebut. Lokasinya sudah cukup familiar untuk kami, yaitu di bagian depan (teras) dari resto Warung Abah yang sudah cukup dikenal. Tokonya benar-benar 'minimalis' karena memang hanya menempati bagian teras dari resto, dengan satu etalase kaca, satu steamer untuk makanan hangat dan meja panjang tempat meletakkan display kue-kue kering atau makanan yang bisa dipajang di display terbuka. Meja untuk customer hanya ada dua saja, kecil, dengan dua atau tiga kursi masing-masingnya. Minimalis ya? Kalau sedang ramai, customer harus pasrah menunggu atau pesan take away saja nih...

Beruntung saat kami datang cake shop sedang benar-benar sepi. Kami disambut sapaan ramah dua orang waiter dan seorang bapak yang rupanya adalah 'chef' cake shop ini. Waiternya menjelaskan bahwa setiap customer bisa mencoba maksimal dua macam hidangan yang tersedia. Ketika kami tanyakan apakah bisa membeli jika ingin mencoba varian yang lainnya, mereka menjawab bahwa selama masa free trial ini semua makanan tidak dijual.. jadi khusus untuk icip-icip saja. Baiklah... kami datang berdua, berarti seharusnya bisa mencoba maksimal empat varian. Sambil memilih-milih makanan yang mau dicoba, saya sedikit 'melobi' bapak chef tadi. Alhasil, saya pun mendapatkan dua jenis makanan tambahan lagi... senangnya!

http://static1.id.orstatic.com/UserPhoto/photopending/0/KC/0040NQ4EC58385B3E0A2BBc.jpg
Siomay Jamur
Siomay adalah salah satu makanan favorit saya. Kapan pun di mana pun, setiap ada siomay pasti ingin saya coba. Sejak awal datang saya sudah melihat siomay ini tertata di steamer transparan, pastinya jadi pilihan pertama saya! Siomay jamur ini menjadi satu alternatif yang akan menyenangkan para vegetarian atau bahkan vegan sekalipun, karena sama sekali tanpa daging dan ikan. Siomay disajikan lengkap dengan bumbu kacang dan saus-kecap-jeruk limau dalam wadah terpisah. Saya suka dengan plating-nya yang minimalis dan cantik ala resto bintang lima ini. Tampilan sudah ok, lalu bagaimana dengan rasanya, ya? Rasa jamurnya masih cukup terasa, tekstur siomaynya lembut dan tidak terlalu banyak campuran tepungnya. Bentuknya rapi cantik dengan sebutir kacang polong sebagai pemanis di bagian atasnya. Siomay enak belum lengkap tanpa bumbu kacang yang lezat, tapi sayang bumbu kacang disini tidak bisa dibilang enak karena masih terasa aroma kacang yang diblender. Saya pernah mencoba membuat bumbu siomay sendiri di rumah dengan mengikuti resep dari majalah, dan gagal alias tidak enak... nah seperti itulah rasanya bumbu siomay di JCH ini. Mungkin buat orang lain bumbu siomay tidak masalah, tapi bagi penggemar siomay seperti saya, JCH perlu improve lebih banyak lagi untuk bumbu siomaynya.

http://static1.id.orstatic.com/UserPhoto/photopending/0/KC/0040NO439A7E4988C3C7ACc.jpg
http://static4.id.orstatic.com/UserPhoto/photopending/0/KC/0040NP6CBABD67BD194134c.jpg
Pudak Jagung
Penganan tradisional dari Manado ini baru pertama kali saya coba di JCH. Bentuknya sederhana tapi cukup menarik, tampilannya di foto ini jadi seperti mini pocong tapi berwarna kuning ya... hihihi... *imajinasi yang agak berlebihan*. Penganan ini sebenarnya sederhana baik dari bentuk, bahan-bahan, dan cara membuatnya. Bahannya hanya terdiri dari jagung pipilan, kelapa parut, dan santan.. that's all! Jika suka manis bisa ditambahkan gula pasir dan essence vanilla agar lebih harum. Semua bahan diaduk merata, kemudian dibungkus dalam klobot (kulit) jagung lalu dikukus. Sesederhana itu, tapi rasanya enak lho! Pudak jangung yang masih hangat akan terasa manis, legit, seberkas asin, dan ada unsur creamy dari santannya, tetapi keseluruhan tetap light. Tadinya saya mengira penganan ini memakai sedikit susu pada bahannya, tapi ternyata sama sekali tidak. Kulit jagung selain sebagai pembungkus juga berperan memberikan aroma khas yang tidak tergantikan.

Kroket Mini
Ini adalah pilihan teman saya, dan karena bentuknya sudah mini maka saya tidak ikutan mencicipinya.. sekali caplok juga habis, sih.. Menurut teman saya rasanya enak dan kentangnya lembut.

http://static4.id.orstatic.com/UserPhoto/photopending/0/KC/0040NN0DFA2B3167E1C74Cc.jpg
Klappertaart Mocca
Sebuah inovasi yang simple tapi berhasil. Klappertaart original untuk saya pribadi biasanya terasa agak 'berat' dan kadang bikin eneg. Disinilah peran aroma mocca untuk menetralisir rasa eneg tersebut. Klappertaartnya enak, kelapa mudanya pas (tidak terlalu muda atau terlalu tua), di bagian atas bertabur kismis dan kenari cincang yang menambah tekstur, dan yang penting tidak ada aroma cinnamon yang tidak saya sukai itu. Aroma mocca itulah yang menggantikan cinnamon.. hmm, harumnya pas, tidak terlalu kuat tapi masih jelas terasa. Porsinya memang terbilang kecil, tapi justru pas untuk saya.. kalau mau makan lebih banyak tinggal order dua buah atau lebih, fleksibel kan?

Carrot Cake
Awalnya saya ragu mencoba cake yang satu ini, karena saya tidak suka aroma wortel yang diblender atau di-juice. Antara ragu dan penasaran akan rasanya, untung saya beranikan diri juga untuk mencobanya. Ternyata enak! Manisnya pas dan aroma wortelnya masih terasa tapi tidak terlalu kuat seperti yang saya takutkan. Rupanya wortelnya diparut bukan diblender, terlihat di dalam cake masih terdapat serpihan-serpihan orange tipis. Tekstur cake terasa agak kasar, tidak terlalu moist tapi tidak sampai keras juga, mengingatkan pada old fashioned cake yang dulu saya makan di masa kecil. Rasanya jadi sedikit bernostalgia ke masa lalu ketika makan cake ini...

Demikianlah cemilan saya kali ini, cukup memuaskan dan kapan-kapan pasti mampir lagi untuk mencoba yang lain. Jakarta Cake House juga menerima pesanan untuk pesta, acara kantor, arisan, dll dengan varian sesuai request, tidak terbatas pada varian yang di-display di toko saja. Selamat mencoba...

Jakarta Cake House
Jl. Lebak Bulus Raya 1 No. 10
Phone: +62 21 7515983

 

 

 

 
 
Recommended Dish(es):  Pudak Jagung,Klapertaart Mocca
 
Spending per head: Approximately Rp20000(Night Snack)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Serba Pertama Bersama Teritorri Smile Jul 09, 2013   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jepang | Restaurant | Sushi | Kencan / Berpasangan | Kumpul Keluarga

Sesuatu yang pertama pasti terasa istimewa, apalagi kalau "serba" pertama. Ya, ini pertama kalinya saya mencoba makanan di Teritorri bersama teman-teman. Teritorri sendiri adalah teriyaki chain pertama di Indonesia.. serba pertama, kan? Tenang, nanti masih ada lagi "pertama" yang lain. Berikut catatan seputar food tasting kali ini:

Location

 
Teritorri berada di Area 51, sebuah food junction di Pondok Indah Mall 1 yang terdiri dari 2 lantai. Lantai bawah untuk booth merchant dan lantai atas yang berformat resto/cafe. Di lantai atas inilah Teritorri berada. Area restonya terbagi 2, ada yang indoor yaitu bagian yang menyatu dengan dapur dan outdoor yang tepat di tepi jalan menuju/dari eskalator. Interior restonya (terutama yang di bagian indoor) berkesan homey seperti rumah di pedesaan Jepang dengan lantai, dinding, meja dan kursi serba kayu. Di dinding bagian belakang terdapat rak kayu berbentuk kotak-kotak rapi yang diisi benda-benda pajangan khas Jepang. Gaya interiornya memadukan sentuhan tradisional yang serba kayu dengan gaya modern yang bisa terlihat dari bentuk dan material kap lampu berbahan logam, juga adanya meja yang berkonsep seperti bar (lebih tinggi dari meja makan lainnya) di area outdoor. Meja ala bar inilah yang kami tempati siang itu.

 
Dapurnya sendiri bisa dibilang semi open kitchen, karena tertutup tapi ada jendela sehingga tamu pun bisa melihat semua kegiatan di dapur. Area dapurnya kecil saja, namun rapi dan teratur baik cara kerjanya. Terbukti, meskipun dapurnya kecil tapi makanan cukup cepat terhidang, apalagi rombongan Openricers kami jumlahnya lumayan banyak sekitar 20 orang dan jenis makanan yang dicobakan cukup beragam. Rupanya, kepiawaian "tim dapur" ini tak lepas dari arahan sang head chef yang memang sudah berpengalaman mengelola resto Jepang di dalam dan luar negeri.
Satu hal lagi yang saya perhatikan dan saya suka melihatnya, yaitu graphic design perangkat restoran seperti buku menu, place mat dan sarung sumpit. Karakteristik design Jepang-nya kuat sekali, yaitu simple minimalis dengan nuansa modern.

Drinks
Di awal acara, sejak baru datang dan menunggu semuanya berkumpul, kami mendapat refillable Hot/Cold Ocha (IDR 10k). Saya memilih cold ocha karena memang tidak suka minuman panas. Saya suka ocha-nya tidak terlalu pahit karena tidak pekat, tapi tidak kelewat encer juga. Pelayannya pun sigap menambahkan isinya ketika kita minta refill. Selain ocha, Teritorri juga menyediakan pilihan minuman beberapa jenis iced tea (range harga IDR 12-29k), fresh fruit juice (IDR 29-39k) dan minuman beralkohol termasuk sake (range harga IDR 75-155k).

The Foods
Acara food tasting sudah pasti fokusnya adalah menu yang akan dicoba. Ga sabar untuk mencicipi? Pastinya! Tapi, sebelum mulai makan ada penjelasan dahulu tentang Teritorri dan menu-menunya. Tak tanggung-tanggung, Pak Gatot Ariawan, sang head chef sekaligus co-owner Teritorri sendiri yang turun tangan. Beliau menceritakan secara garis besar seputar pengalamannya di dunia kuliner Jepang, konsep resto Teritorri, serta keunggulan hidangannya yaitu pada bahan baku yang semuanya kualitas utama. Teriyaki, bahan utamanya daging, maka digunakanlah daging terbaik yang didatangkan dalam keadaan chilled, bukan frozen. Keistimewaannya, daging selalu baru/fresh karena tidak bisa disimpan lama dan dari segi harga sudah tentu lebih mahal dari yang frozen. Daging berkualitas itu pun di-grilled dengan Lava Rock yang diimpor langsung dari Aussie. Kelebihan lava rock adalah bisa menghasilkan burnt flavour tapi daging masih tetap juicy. Unuk menu fusion sushi di sini sangat up-to-date dengan trend di USA, tetapi bahan bakunya tetap berkiblat dari Jepang sehingga dari segi rasa tidak terlalu creamy atau cheesy seperti kebanyakan menu fusion sushi di tempat lain.
Usai penjelasannya, kami diajak melihat sample 4 signature dish dari Teritorri yang sudah tersaji:

 
House Salad with Soft Shell Crab (IDR 35k)
Menu ini merupakan salad khas Jepang karena menggunakan soyu dressing, isinya selada segar, kyuri, wakame, dan tomat cherry dengan topping kepiting bercangkang lunak yang digoreng berbalut tepung tempura. Untuk toppingnya bisa dipilih antara soft shell crab, salmon skin (IDR 29k), smoked salmon (IDR 45k), atau house salad saja tanpa topping (IDR 25k). Saya suka salad ini terutama karena soyu dressingnya yang terasa segar, light, dan bercita rasa jepang banget... bahkan tanpa topping tambahan apa pun saya pasti suka salad ini.

 
Flaming Dragon Roll (IDR 75k)
Ini dia salah satu fusion sushi yang sedang trend di USA. Sushi yang satu ini menarik sekali, karena sesuai namanya, disajikan dengan di-flame di depan customer. Dragon roll terbungkus aluminium foil diletakkan di piring panjang yang dituangi sedikit minyak, kemudian waiter akan menyulut api sehingga piring berapi biru kekuningan. Jumlah minyak tentunya sudah disesuaikan kebutuhan sehingga api tipis saja dan akan mati dengan sendirinya, lalu ketika aluminium foil dibuka tampaklah dragon roll yang sudah matang sempurna, siap disantap. Bentuknya memang menarik menyerupai dragon (naga) dengan deretan sushi roll sebagai badannya dan kepala+ekor udang besar di kedua ujungnya. Presentasi yang sebenarnya simple dengan memanfaatkan sampah udang, namun jadi menarik perhatian karena sudah dipikirkan dengan baik sesuai konsep makanannya.Saya beruntung masih kebagian sepotong dragon roll ini. Potongannya besar, rasanya mantap dan kaya tekstur dari crunchy-nya ebi tempura, nasi yang pulen agak sticky, kelembutan potongan tipis alpukat, dan sedikit kenyal dari unagi on top with eel sauce. Basically saya tidak suka unagi lho.. tapi sekali ini saya tidak menyesal 'nekat' melahapnya, karena keseluruhan rasanya memang yummy.

 
Monkey Brain (IDR 35k)
Salah satu menu best seller di Teritorri. Namanya unik agak menyeramkan ya.. tapi jangan khawatir, hidangan ini sebenarnya 'aman' koq. Jamur champignon di-stuffed spicy salmon, kemudian dibalut tepung tempura dan dihidangkan dengan saus spicy mayo. Saat dimakan ada perpaduan antara tekstur crunchy dari tepung tempura, jamur champignon yang agak kenyal, dan lembutnya salmon. Dari segi rasa lebih dominan asin (tapi tidak keasinan yah) apalagi jika dicocol dengan saus spicy mayo yang dibentuk cantik di piring mengelilingi makanannya. Sebagai penyuka jamur dan salmon, menu ini enak dan saya suka baik dari rasa maupun teksturnya, namun bagi beberapa Openricers katanya terasa aneh. Hehe.. masalah selera saja kali yah...

 
US Rib Eye Teriyaki Set (150 gr-IDR 139k; 200 gr-IDR 155k)
Pastinya menu ini merupakan "jagoan" dari Teritorri dengan daging kualitas terbaik pula. Teriyaki disini selalu menggunakan daging "rib eye" dengan 3 jenis daging pilihan mulai dari grade tertinggi (dan termahal harganya) yaitu US, Australia, dan NZ. Ketiga pilihan tersebut masing-masing tersedia dalam ukuran 150 gr dan 200 gr, tinggal disesuaikan kapasitas perut kita tongue. Menu set ini sudah lengkap dengan nasi, salad, dan miso soup.. porsinya pas untuk satu orang. Dari semua komponen dalam set menu ini, teriyaki adalah bintangnya. Daging berkualitas diolah secara maksimal sehingga top enaknya.

 
Bento Special
Selesai mengobservasi keempat hidangan tersebut, Chef Ariawan mengatakan bahwa hidangan sudah siap untuk kami semua... saat makan yang dinanti pun tiba! Hidangan disajikan dalam bentuk bento, sehingga kami bisa mencicipi beberapa macam makanan sekaligus. Bento ini memang khusus hanya disediakan untuk OpenRicers saja, jadi tidak ada di buku menu. Penataannya cukup rapi walaupun simple, berisi nasi, salad, beef & chicken teriyaki, serta 3 potong sushi lengkap dengan wasabi dan pickles. Berikut review untuk setiap komponennya:
- Nasinya putih, pulen, ditaburi potongan nori tipis di atasnya. Saya tidak sanggup menghabiskan seporsi nasi di bento ini karena sudah kekenyangan dengan potongan sushi yang notabene nasi juga... Berat hati rasanya menyisakan makanan, tapi apa daya perut sudah penuh, maaf ya nasi...
- Saladnya berisi sayuran segar dengan mayonnaise home made Teritorri yang rasanya pas antara gurih, asin dan sedikit asam.
- Teriyakinya sudah pasti istimewa dengan saus coklat kehitaman racikan andalan Teritorri. Kekentalan sausnya pas, rasanya enak, walaupun untuk saya sedikit terlalu asin (mungkin karena saya terbiasa mengurangi konsumsi garam).
- Chicken teriyakinya berupa potongan daging ayam yang cukup tipis, masih dengan kulitnya, dilapis tepung tempura kemudian di-deep fried sehingga crunchy saat dimakan. Cukup enak jika dimakan dengan saus teriyakinya, tapi overall tidak terlalu istimewa bagi saya. Sebenarnya di buku menu ada 2 jenis chicken teriyaki yaitu breaded chicken dan skinless grilled chicken. Kalau boleh memilih tentunya saya lebih cocok dengan yang kedua, karena saya tidak suka kulit ayam.
- Bagaimana dengan beef teriyakinya? Nah, ada cerita disini. Agak kaget ketika mengangkat potongan grilled beef dengan sumpit, karena di bagian tengahnya masih terlihat merah. Awalnya agak sedikit ragu, mau dimakan atau tidak ya? Akhirnya nekat, saya coba juga! So, inilah pertama kalinya saya makan daging yang dimasak medium, karena biasanya selalu minta 'well done'. Ternyata enak juga karena daging yang dimasak medium benar-benar masih juicy. Selain itu kualitas daging yang bagus memang tak bisa bohong, terasa lembut dan gurih. Saya yang bukan penggemar daging merah pun kali ini sangat menikmatinya.
- Belum cukup sampai disitu, 3 potong sushi yang terhidang punya cerita sendiri. Dua diantaranya memakai unagi sebagai topping luarnya. Meskipun ini untuk pertama kalinya pula saya makan unagi, langsung santap sajalah.. ternyata, not bad! Unaginya agak kenyal, di-grill dan dibumbui jadi tak masalah karena rasanya menyatu dengan keseluruhan sushi yang berisi crab stick dan kyuri. Tepat saat saya menyantap sushi itu, chef Ariawan yang sedang berkeliling ke meja kami menjelaskan bahwa crab stick yang dipakai adalah 1st grade yang diimpor dari Jepang. Hmm.. tak heran kalau rasanya seenak ini. Sepotong salmon nigiri terakhir menjadi pengalaman tak terlupakan bagi saya. Untuk pertama kalinya… saya menyantap salmon mentah! Sempat ragu sebelumnya, tapi saya pikir kepalang tanggung.. hap, masuk mulut sekaligus. Rasanya, jangan ditanya! Hampir saja keluar lagi, cepat-cepat saya kunyah, telan, langsung minum ocha.. aman! Sungguh pengalaman pertama yang tak akan terlupakan. Salmonnya memang fresh dan kualitasnya tidak diragukan, warnanya orange cantik dan tidak amis, tapi.. sushi berbahan mentah rupanya memang tidak cocok untuk saya. Rasanya ini akan menjadi yang pertama sekaligus terakhir saya makan ikan mentah.. kapok sad

Dessert
Selesai menyantap semua hidangan -beneran ludes semuanya nih..- datanglah seporsi dessert manis menyenangkan yaitu:

 
Matcha Ice Cream with Ogura (IDR 19k)
Satu scoop matcha ice cream dengan sejumput ogura di atasnya. Meskipun bukan penggemar matcha, saya bisa merasakan bahwa yang satu ini memang istimewa rasanya. Aroma matcha dan tingkat kemanisannya pas, ice creamnya lembut, dan oguranya enak.. Hmm, andaikan ada 1 porsi lagi.. hehehe.

Service
Siang itu cukup banyak meja terisi di Teritorri, karena memang sedang jam makan siang. Terlihat jelas bahwa pelayanan di resto ini baik. Saya sempat memperhatikan di meja-meja lain, pelayannya ramah dan sigap sehingga semua tamu terlayani dengan baik, dan makanan pun tidak terlalu lama keluar dari dapur.

Overall memuaskan pengalaman serba pertama saya di Teritorri, dan pastinya akan ada yang kunjungan kedua, ketiga, dst karena memang memuaskan makan disini.
 
Recommended Dish(es):  Monkey Brain,Teriyaki
 
Spending per head: Approximately Rp100000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0