OpenRice Index
  
bungtje
This is bungtje . I am a SpectatorI like to hang out in Kebayoran Lama. Manado, Chinese, Jepang are my favorite cuisines. I also love Street Foods, Chocolate / Candy Shop and Siomay / Batagor, Martabak.
Member 23 First(s)
No. of Review26 Review(s)
編輯推介數目17 Editor's Choice
Recommended13 Recommended
Popularity13345 View(s)
Replies in Forum1 Comment(s)
Upload Photos98 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant1 My Restaurant(s)
Follow0 Following
粉絲66 Follower(s)
bungtje  Level 2
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 1 to 5 of 26 Reviews in Indonesia
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Roti & Kue | Halal

1. It is authentically delicious
With Nutella hazelnut (Rp 20K), and cinnamon (Rp 16K)

With Nutella hazelnut (Rp 20K), and cinnamon (Rp 16K)

 
Kürtőskalács is my favourite pastry in my days in Budapest, and the Bread of Kürtös stall in fX is selling pretty much authentic copies of those heavenly rolls (despite a little misspell: they change the ő with ö). These rolls typical of Székely Land — an area in Transylvania, Romania; inhabited mainly by the Székely Hungarians — but are common in food stalls around Budapest and other cities in Hungary.
The rolls are usually baked above charcoal, creating yummy softness inside and crispy outer parts, best eaten while freshly cooked. Due to safety and practical reasons, Bread of Kürtös does not use charcoal, but an oven with heating strips in between the space to, well, roll the rolls.
Getting the rolls into the oven

Getting the rolls into the oven

 
Bread of Kürtös provides traditional flavours I’ve tasted plenty of times in Budapest: the plain and cinnamon ones. The stall expands to less-traditional ones such as garlic cheese, Nutella hazelnut, and chicken floss. My parents and I bought the rolls of cinnamon (Rp 16 K), garlic cheese (Rp 18 K), and Nutella hazelnut (Rp 20 K). All were delicious. The cinnamon one tasted like the ones I had savoured in Budapest, plenty of Nutella and nuts were sticked to the Nutella hazelnut one, and I could not stop myself to keep eating the garlic cheese roll (if only I brought chili sauce with me…).
The stall is not the first store to sell Kürtős rolls in Jakarta, I think Lady Alice Tea Room in Gandaria City is. But I like this one in fX more because it gives more of the street stall vibe found in real stalls in Budapest, while Lady Alice is a tad too fancy for my taste. The rolls in Bread of Kürtös are bigger and more affordable, too, compared with the ones in Lady Alice.
2. The rolls guarantee GADGET-FREE quality time with your loved ones
The rolls are big, so it’s better to share with your friends and families. And because you have to use both hands to peel and eat the rolls, you can not utilize your gadgets. Unless you’re way too addicted to your gadgets and don’t mind making ‘em dirty with your dirty fingers.
So yeah. Gadget-free moments are rare these days and I love any excuse to do so. Especially when it’s related to munching delicious food.
3. The bakers are friendly
You can ask questions about the rolls and they will try their best to answer. You can also snap lots of pictures of them making the rolls and they wouldn’t mind. At least that was what happened when my parents and I went there.
Preparing the rolls

Preparing the rolls

 
Rolls waiting to be baked

Rolls waiting to be baked

 
Baked rolls and indulging toppings

Baked rolls and indulging toppings

 
The only minus point of the stall is they have no seats available. So you have to find somewhere else to sit and eat the rolls while they’re hot. My parents and I chose to sit at Cali Deli on the ground floor of fX and eat the rolls alongside with coffee and tea. We don’t mind that.

Anyway, here is the picture of the first Kürtőskalács I ate in Budapest. It was a beautiful day in the end of summer in Budapest. Iva, my flatmate, and I were walking for our first time in the gardens of Margit-sziget (Margaret Island), located in the middle of Duna (Danube) river of Budapest, just 20 minutes of lazy walk away from our apartment.
Kürtőskalács in Budapest

Kürtőskalács in Budapest

 
 
Recommended Dish(es):  With Nutella hazelnut (Rp 20K) and cinnamon (Rp 16K)
 
Takeaway Wait Time: 10 minute(s)


Date of Visit: Jun 01, 2014 

Spending per head: Approximately Rp20000(Other)

Other Ratings:
Rasa
 5  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 5  |  
Higienis
 5  |  
Sesuai dengan harga
 5

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend

Lapar Mata di Harum Manis Smile Apr 17, 2010   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jawa | Restaurant | Buffet | Kumpul Keluarga

Thanks to OpenRIce, berbekal lima reviews lalu saya dapat voucher makan gratis Rp 250 ribu! *loncat-loncat girang* smile Voucher makan di Restoran Harum Manis yang didapatkan kemarin langsung saya "eksekusi" malam itu juga, bersama keluarga tercinta.

Begitu masuk restoran yang menyajikan makanan Indonesia itu, kami terkagum-kagum dengan desain interior yang bagus. Nyaman, dengan sentuhan Nusantara yang pas. Saya paling suka hiasan logam berbentuk pohon (Kalpataru? atau Beringin?) yang terpasang di cermin di belakang tempat duduk empuk yang menempel di dinding. Piringnya pun kereeeeen hehehe. Tapi, pengharum ruangan yang menyebar aroma bunga Sedap Wangi menyergap terlalu dahsyat. Wanginya enak sih, cuma terlalu menyengat dan bikin Ibu saya protes. mad

Nah begitu melihat menu, kami lapar mata dan rada kalap memesan. shocked Apalagi Mbak Pelayan bilang porsinya nggak terlalu besar. Eh begitu datang barangnya, ternyata gede juga porsinya. Meski terengah-engah, akhirnya kami sanggup menghabiskannya.

Ini nih yang kami lahap tadi malam:
bowl Nasi merah (Rp 12 ribu) -- ada juga pilihan nasi putih dan nasi kuning. Nasi merah kami pilih karena itu yang paling sehat, mengandung banyak serat. Nasi merah versi Harum Manis ini nggak begitu pulen, tapi memang itulah karakteristik nasi merah yang asli. Artinya, nggak dicampur beras putih sama sekali.
bowl Iga Asam Pedas (Rp 58 ribu) -- enaaaak, tidak terlalu pedas, tapi asamnya pas. Seporsi bisa dimakan berdua.
bowl Kepiting Soka Goreng Telur (Rp 68 ribu) -- renyah, bertabur abon ikan, tapi agak asin.
bowl Sate Pentul (Rp 56 ribu) -- empat tusuk sate daging sapi dan kambing yang dililitkan di batang tebu. Satenya empuk dan sedap, bakarannya pas, nggak pakai sambal kacangnya pun sudah enak. Eh di bawahnya ada potongan lontong empat biji hihihi. Oya tebunya masih segar, kalau digigit masih ada sarinya, manis, jadi ingat jaman masih kecil hehehe doyan gigitin tebu yang dijual di depan sekolah.
bowl Kerapu Sendang Tirta (Rp 86 ribu) -- jawaraaaa! Enak banget, syumpah. Sekilas seperti ikan asam manis, tapi yang ini jauh lebih segar. Mungkin karena memakai leci dan nanas. Nyam nyam nyam dalam sekejap langsung tuntas!
bowl Tumis Pucuk Pakis (Rp 38 ribu) -- bonus teri di dalamnya, dan entah-jenis-dedaunan lainnya yang bukan pakis. Sayurnya segar, jadi terasa agak kriuk ketika digigit.

Untuk minumnya, saya memesan Es Teh Kweni (Rp 28 ribu) yang swegaaar dengan potongan mangga kweni dan kolang-kaling, pakai sirup Tjampolay sepertinya. Ayah memilih Wedang Jahe (Rp 28 ribu) berkelapa yang ternyata rasanya kok lebih mirip bandrek, agak pahit. Ibu cukup Teh Panas (Rp 18 ribu) saja.

Ohya sebelum makanan utama datang, Mbak Pelayan menawarkan makanan pembuka, pilihannya banyak, ada lumpia, risoles, otak-otak, dan combro. Kami memilih Combro Ndoro Putri (Rp 9 ribu) dan Otak-otak Abdi Dalem (Rp 9 ribu). Namanya unik, tapi rasanya sih standar.

Nah sewaktu makan, ada grup musik residen yang menghibur dengan lagu-lagu Nusantara yang diaransemen jadi keroncong. Suara penyanyinya, Mbak Tia, baguuuuus banget. shocked Pemusiknya pun -- ada gitaris dan violis -- bermain bagus. Mereka juga berkeliling restoran dan pengunjung bisa memesan lagu. Kami minta Fatwa Pujangga dan Sepasang Mata Bola. Eh, Fatwa Pujangga diaransemen bossa nova, keren banget! Kata Mbak Tia, mereka bermusik di Harum Manis tiap malam, kecuali hari Minggu mainnya siang hari pas program Sunday Brunch.

Ketika bon datang... Huwaaaa sudah dengan voucher pun kami masih harus nombok... *salah sendiri mesennya nggak kira-kira hahaha* Voucher Rp 250 ribu itu memang hanya untuk berdua, dengan jumlah makanan yang normal dan tidak sebanyak kami. Untuk layanan, dikenai biaya (service charge) 10 persen, lalu jumlahnya dipajaki lagi 10 persen. Total habis Rp 568.700, dikurang voucher masih harus nambah Rp 318.700. Untung bawa penyandang dana lol

Makasih OpenRice dan Harum Manis! Saya tunggu voucher makan berikutnyaaaa... lol

----------

Masih banyak menu yang menarik, misalnya Sate Satu Meter (Rp 236 ribu) yang terdiri dari 30 tusuk sate macem-macem, kayaknya seru kalau dimakan ramai-ramai. Ada juga empat macam koktail (Ginger Breeze, Harejo Martini, Frozen Sirsak Margarita, dan Pikir Pink, masing-masing Rp 72 ribu).

Tapi satu menu membuat Ibu saya protes (lagi): Tumis Sayur Poligami (Rp 38 ribu). Kami menentang poligami! huffy
Vouchernya :D

Vouchernya :D

 
Hiasan keren di cermin...

Hiasan keren di cermin...

 
Iga Asem Pedas (Rp 58 ribu)

Iga Asem Pedas (Rp 58 ribu)

 
Kepiting Soka Goreng Telur (Rp 68 ribu)

Kepiting Soka Goreng Telur (Rp 68 ribu)

 
Kerapu Sendang Tirta (Rp 86 ribu)

Kerapu Sendang Tirta (Rp 86 ribu)

 
Sate Pentul (Rp 56 ribu)

Sate Pentul (Rp 56 ribu)

 
Wedang Jahe (Rp 28 ribu) -- terlalu pahit

Wedang Jahe (Rp 28 ribu) -- terlalu pahit

 
Ibu, saya, dan makanan segambreng!

Ibu, saya, dan makanan segambreng!

 
 
Recommended Dish(es):  Kerapu Sendang Tirta, Iga Asem Pedas, Sate Pentul, Es Teh Kweni
 
Date of Visit: Apr 16, 2010 

Spending per head: Approximately Rp190000

Other Ratings:
Rasa
 5  |  
Lingkungan
 5  |  
Pelayanan
 5  |  
Higienis
 5  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
   50 Vote(s)   View Results
Recommend

Kari Paling Gila Se-Jakarta! Smile Oct 09, 2010   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Restaurant | Halal | Kumpul Keluarga

Pekan lalu ulang tahun Alam, sepupu saya. Sesama pengelana di Jakarta. Dia dan pacarnya, Asih, mengajak saya makan di Go!Curry, Citos. Kata mereka, karinya enak. Mereka baru coba kemarin siang dan nggak ragu buat balik lagi malam itu.

"Sebenernya kita tertarik buat ke sana karena tempatnya bagus," kata Alam si arsitek.
"Desain grafisnya juga lucu," ujar Asih yang desainer grafis dan sekarang sedang dalam proses menamatkan sarjana arsiteknya.

Saya yang bukan arsitek maupun desainer grafis cuma bisa mengangguk, semangat menuju makanan gratisan.

Sampai di Go!Curry, ternyata beneeer tempatnya keren! Dan desain grafisnya lucu, ada lima ikon dari lima negara pemakan kari: India, Thailand, Jepang, Inggris, dan Indonesia. Untuk yang Indonesia, gambarnya orang Minang lol

Sistem menu kari di sini empat tahap: pilih jenis kari, tingkat kepedasan, jenis nasi, dan jenis lauknya. Jenis karinya ada brown, green, red, yellow, dan rogan josh. Untuk kepedasan bisa pilih mild, medium, hot, very hot, dan insanely hot (nambah Rp 10 ribu buat yang terakhir itu).

Untuk nasi ada yang plain, cilantro butter, dan yellow nut rice. Lauknya macam-macam, mulai sayur, ikan, buntut sapi, sampai kambing.

Kami pesan dua kari untuk bertiga, karena porsinya lumayan hore. Satu hot red Australian Oxtail curry (Rp 65 ribu), dan satu very hot rogan josh Lamb Cubes with Herbs curry (Rp 65 ribu). Keduanya dipesan dengan cilantro butter rice (yang ternyata memang enak).

"Yang lamb bener very hot? Pedesnya jauh banget lho sama yang hot," tanya mbak pelayan nan ramah.
"Iya yang very hot, soalnya yang hot nggak pedes," jawab Asih yakin.
"Buat aku yang nggak suka pedes aja, yang hot itu nggak pedes," si Alam hakul yakin gitu nambahin komen.

Buat kawan kari, saya juga pesan butter naan (Rp 15 ribu). Di deret naan ini ada juga versi yang plain, garlic (@ Rp 15 ribu), dan cheese (Rp 18 ribu).

Minumnya milih yang segarrr pineapple lime mojito (Rp 25 ribu). Betulan segar, aseeeeem banget tapi cocok lah sama kesukaan saya tongue Lantas saya motret Alam dan Asih yang lagi cengar-cengir mesra-mesra gitu (ih ini kok nada ngiri nggak ditemenin pacar ya) di depan slogan Go!Curry di atas dapurnya: Eat Curry, Be Happy.

Lalu datanglah kari domba yang VERY HOT itu. Warnanya agak coklat, sekilas mirip dengan kari buntut yang kemerahan. Suapan pertama langsung terasa: PEDES BANGET! Bumbu lainnya ketutup sama pedasnya. mad

Alam dan Asih betul-betul sampai menangis kepedesan. Saya juga kepedesan tapi nggak nangis, mungkin karena keasyikan ngetawain pasangan di hadapan saya itu hahaha... tongue

"Gimana Mas? Kalau kurang pedas, bisa ditambah bubuk cabe," kata si mbak tadi dengan nada puas dan sinar mata 'kan-udah-saya-bilang-pedes-banget'.

Saya nyengir kuda. lol

Jadilah kami pesan teh hangat -- TWG Darjeeling dan TWG Chamomile (@ Rp 22 ribu) untuk melunturkan pedas.

Tapi bener sih kata Alam dan Asih, "hot"-nya buntut sapi dari Australia memang nggak terlalu pedas. Masalahnya "very hot"-nya bisa dibilang terlalu drastis, mungkin dua kali lipat si "hot". Tips: lebih baik pesan yang hot lalu minta tambahan bubuk cabe!

Dagingnya sendiri enak, empuuuuuk banget (baik yang domba maupun sapi). Cuma ya bumbu lainnya sumpah mati jadi nggak kerasa setelah kami dihajar cabe VERY HOT itu.

Setelah shock hilang dan makanan ludes (kecuali bumbunya yang kami biarkan tetap di piring karena ya itu tadi: pedeeeeees), kami pesan makanan penutup. Banana katsu (Rp 28 ribu) dan dark chocolate samosa (Rp 28 ribu). Dua-duanya ueeeenak, dan layak dicoba.

Kesimpulannya sih, saya bakal balik lagi ke restoran ajib ini lol
VERY HOT Rogan Josh Lamb Cubes with Herbs Curry

VERY HOT Rogan Josh Lamb Cubes with Herbs Curry

 
Naan

Naan

 
Pineapple Lime Mojito

Pineapple Lime Mojito

 
Chocolate Samosa

Chocolate Samosa

 
si Minang doyan kari

si Minang doyan kari

 
 
Recommended Dish(es):  Lamb Cubes Rogan Josh Curry, Oxtail Red Curry, Cilantro Butter Rice, Chocolate Samosa, Banana Katsu
 
Date of Visit: Sep 26, 2010 

Celebration:  Birthday 

Spending per head: Approximately Rp150000

Other Ratings:
Rasa
 5  |  
Lingkungan
 5  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 5  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
   6 Vote(s)   View Results
Recommend
0

Sendiri Ke Anomali Smile May 13, 2010   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Kedai Kopi & Teh | Halal | Business Meeting

Suatu malam di bulan kemarin, sedang mencoba menikmati waktu sendiri. Teringat nikmatnya ngopi di Anomali. Terletak di Jalan Senopati, kafe itu jauhnya cuma sepelemparan flashdisk (ealah) dari kos saya di Jalan Bakti. smile

Ini salah satu kedai kopi favorit saya. Mereka memakai kopi asli Indonesia untuk semua racikannya. Dan suasana di dalamnya nyaman, hangat, bikin betah. Di foto terakhir itu, di sebelah kiri, terlihat ada mesin giling kopi yang entah kenapa di mata saya tampak keren. shocked

Harganya sih nggak jauh beda dengan Bakoel Koeffie. Mahal. Tapi toh baru gajian hahaha.

Malam itu saya sedang ingin minum yang segar. Jadi saya memilih Iced Mint Temptation (Rp 30 ribu). Sumpah enak bangeeeet! Dingin, maknyus, menghapus haus.

Tetap nggak mantap tanpa mengunyah sesuatu, maka saya pesan pula Onion Rings (Rp 25 ribuan). Enak, banyak, dan perlahan habis juga.

Di sela nyeruput kopi dan ngunyah, saya membaca komik keren hasil berburu diskon di Kinokuniya, Strangers in Paradise. Ketawa-ketiwi diseling sedih sendiri.
Iced Mint Temptation

Iced Mint Temptation

 
Onion Rings

Onion Rings

 

 
 
Recommended Dish(es):  Iced Mint Tempation, Onion Rings
 
Date of Visit: May 29, 2010 

Spending per head: Approximately Rp70000(Night Snack)

Other Ratings:
Rasa
 5  |  
Lingkungan
 5  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
   2 Vote(s)   View Results
Recommend
0

Sendiri Saja ke Dua Nyonya Smile Oct 28, 2010   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Restaurant | Seafood | Halal | Kumpul Keluarga

Pekan lalu, nyangkut di Cikini. Sudah pernah ke Bakoel Koeffie, Cafe Au Lait, dan Vietopia. Ingin mencoba tempat baru, dan memutuskan mampir saja ke Dua Nyonya.

Tempatnya mungil, sempit memanjang, mungkin cuma 2,5 x 8 meter.

Menunya sekilas tampak kurang meyakinkan. Hahaha. Tanpa banyak bertanya, saya pesan Es Leci (Rp 18 ribu) dan Nasi Ikan Cakalang (Rp 29.750).

Es Leci datang duluan dan... betul-betul cuma es leci! Hihi. Enam buah leci kalengan dengan air dari kaleng itu, plus es.

Saya langsung pesimis dan pasrah, seperti apa pula nasi ikan cakalang itu nantinya.

Mbak pramusaji datang dan... JRENG! Porsinya banyak betuuul! Cakalangnya besar, disajikan di wajan tanah liat kecil di atas anglo (yang cuma pajangan karena tak ada baranya). Di piring, bukan cuma nasi yang nangkring, tapi juga emping, sambal dabu-dabu, cah kangkung, dan bakwan jagung.

Mak... ini mah porsi buat dua orang!

Rasanya di luar dugaan. ENAK! Bumbu ikan cakalang meresap, asam pedas bercampur nikmat. Bakwan jagungnya hangat baru digoreng, renyah.

Tapi ya itu tadi, porsinya besaaar. Saya yang gembul ini saja nggak sanggup menghabiskannya sad

Saran saya, makanlah dengan seorang kawan, dan pesan satu nasi lagi. Mungkin bakal lebih nikmat.

Oya, restoran ini menempel pada toko batik lawas berlabel Dua Nyonya juga. Sayang saya datang terlalu malam, toko batik itu tutup pukul 20.00. Dari etalase kacanya sih, batiknya bagus-bagus (tapi sepertinya mahal).
Nasi Ikan Cakalang

Nasi Ikan Cakalang

 
Es Leci

Es Leci

 
 
Recommended Dish(es):  Nasi Ikan Cakalang
 
Date of Visit: Oct 22, 2010 

Spending per head: Approximately Rp55152

Other Ratings:
Rasa
 5  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
   4 Vote(s)   View Results
Recommend
0