OpenRice Index
  
Dhanny
This is Dhanny . I am a Writer and EditorI like to hang out in Cilandak, Cinere, Margonda. Jepang are my favorite cuisines. I also love Chocolate / Candy Shop, Fast Food and Es Krim/Yogurt, Sushi, Bubble Tea / Jus, Mie ayam, nasi goreng.
Member 398 First(s)
No. of Review905 Review(s)
編輯推介數目136 Editor's Choice
Recommended14 Recommended
Popularity15570 View(s)
Replies in Forum3 Comment(s)
Upload Photos2086 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant63 My Restaurant(s)
Follow9 Following
粉絲1730 Follower(s)
Dhanny  Level 4
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 56 to 60 of 905 Reviews in Indonesia
It's Two for Tuesday! Smile Nov 05, 2013   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Fast Food | Pizza & Pasta | Halal | Hang Out

Selain Pizza Hut, ada satu lagi restoran pizza yang sudah mulai cukup dikenal. Namanya Domino’s. Cabangnya sih belum sebanyak Pizza Hut, tapi sudah mulai cukup beredar juga, khususnya di Jakarta dan Bandung. Kebetulan, di daerah Dago Bawah, ada Domino’s Pizza sehingga kalau ingin mencoba bisa pesan.

Lokasinya ada di Superindo Dago. Tempatnya nggak terlalu luas, tapi cukup nyaman. Di depan counter pemesanan kita bahkan bisa melihat dapur tempat pizzanya disiapkan. Berbeda dengan restoran lain, Domino’s menerapkan ‘take it by yourself’. Maksudnya, setelah memesan dan pesanan kita dibuat, kita dipersilakan menunggu. Nantinya setelah pesanan kita beres, kita akan dipanggil untuk mengambilnya sendiri. Berbeda dengan Pizza Hut, di sini kita hanya diberi kardus makanan dan gelas (kalau memesan minuman). Tidak ada piring sehingga makannya bisa langsung pegang pizzanya. Khusus untuk makanan yang agak basah, biasanya dikasih garpu, sendok, atau pisau.

Enaknya adalah Domino’s, bersama dengan Burger King yang sama-sama tergabung dalam MAP, memberikan program yang cukup meringankan kantong untuk yang suka makan di sini. Namanya Two for Tuesday. Jadi, dengan beli pizza American Classic di hari Selasa, cukup dengan membayar Rp60.000, kita bisa dapat satu pizza lagi for free! Gimana nggak senang coba? Makanya, ketika hari Selasa datang, bisa dibilang Domino’s cukup dipenuhi oleh mereka yang ingin menggunakan program Two for Tuesday itu.

Saya dan pacar nggak mau ketinggalan dong. Dengan menggunakan voucher dari Open Rice, kami pun pesan untuk dibawa pulang. Dua pizza yang kami pesan adalah American Cheeseburger dan Meat Lover. Dengan ukuran besar (6 slice per pizza) berarti total ada 12 slice yang harus kami habiskan berdua. Wow! @_@

Oke. Jadi, saya mau mereview American Cheeseburger. Pernah makan cheeseburger kan? Nah, ini adalah cheeseburger yang dipindah ke atas pizza. Toppingnya ada daging, bawang bombay, keju, dan mustard. Yap, persis sama dengan isian cheeseburger cuma kali ini nggak ada roti bulat yang mengapit semuanya itu. Alih-alih roti, diganti dengan adonan pizza yang cukup tebal dengan rasa yang enak dan renyah. Ini adalah salah satu menu pizza favorit saya dan pacar di Domino’s karena enak.

Yang kedua adalah Meat Lover. Sesuai dengan namanya, pizza ini dikhususkan untuk mereka yang suka daging karena isiannya ada daging asap, sosis, dan pepperoni ditambah dengan keju dan saus tomat. Sayangnya, toppingnya menurut saya belum seheboh Pizza Hut, tapi untuk penyuka daging, nggak ada salahnya mencoba menu ini lho.
American Classic Cheeseburger

American Classic Cheeseburger

 

 
 
Date of Visit: Oct 29, 2013 

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 5

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Burger King @ PVJ Smile Nov 04, 2013   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Fast Food | Burger | Halal | Hang Out

Udah cukup lama juga nggak makan Burger King, akhirnya kesampaian juga berkat voucher yang saya dapat dari Open Rice lol. Dan, di mana lagi Burger King di Bandung kalau bukan di Paris Van Java.

Burger King yang terletak di salah satu mal besar di Bandung ini posisinya ada di luar mal. Kalau kita datang dari arah bawah (RS Hasan Sadikin), kita pasti akan langsung melihat bulatan khas ala Burger King. Letaknya sendiri ada di sebelah Starbucks Coffee. Jadi, untuk mencapai Burger King harus melewati parkiran atau Starbucks dulu.

Area di sini sendiri ada dua, yaitu area bawah yang enak dan sejuk serta area atas yang terbuka. Area bawah biasanya digunakan oleh orang-orang yang ingin santai. Coba duduk di sofa di samping jendela besar deh. Enak dan terang lho. Untuk area atas sendiri kebanyakan digunakan oleh orang yang datang berombongan atau ingin merokok. Dari lantai dua ini, kita bisa melihat area PVJ dan Bandung secara keseluruhan. Bagus kalau malam hari.

Untuk pelayanannya sendiri sih samalah kayak pelayanan di restoran-restoran fast food lainnya di mana kita begitu datang bisa langsung memesan makanan di counter. Di sini, sudah ada pelayan yang siap menyambut. Secara keseluruhan, pelayanannya ramah dan cekatan. Kalau kesulitan membawa juga mereka dengan senang hati akan menolong.

Menu di BK sendiri udah ada perubahan. Sebenarnya perubahannya sih udah lama, seperti adanya menu murah yang dimulai dengan harga Rp2.000-Rp10.000 (belum dengan pajak), adanya menu Chick n’ Wrap (semacam daging ayam yang dibungkus dengan lembaran roti seperti kebab), atau menu ayam. Yess, mereka menambah menu ayam kayak di KFC atau McD yang bisa dibeli satuan ataupun paket. Adajuga menu chicken stick yang bisa dibeli cukup dengan menambah uang Rp11.000. Pilihannya makin banyak kan?

Kali ini, saya sama pacar pesan paket single & double swiss mushroom ditambah dengan chicken stick. Totalnya sih sekitar Rp100.000 karena memang untuk paket harganya lumayan mahal untuk yang double. Soalnya si pacar kalau makan single nggak kenyang sih, hehehe. Burger swiss mushroom ini adalah salah satu favorit. Rotinya yang empuk mengapit sebuah daging yang tebal. Kemudian diberi potongan jamur dan keju swiss yang lumer. Udah kebayang dong enaknya?? Nyaaammmm. Terus, untuk chicken stick-nya adalah daging ayam tanpa tulang yang dibumbui tepung dan digoreng. Rasanya enak karena dimakan selagi hangat. Kentangnya juga nggak terlalu asin seperti rasa di beberapa resto fast food dengan ukuran yang sedikit lebih besar.

Overall, saya puas dengan BK. Burgernya dan kentangnya enak. Makan di sini puas di perut dan hati. Mengenyangkan deh pokoknya.

 

 

 
 
Date of Visit: Oct 26, 2013 

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Barat | Restaurant | Kencan / Berpasangan | Kumpul Keluarga

Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti acara Open Rice Gathering yang diadakan di Upper East Bandung. Sebenarnya, gathering di Bandung dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut dengan mengambil tempat di tiga restoran yang berbeda. Sayangnya, karena diadakan pada weekdays, saya jadi nggak bisa ikut. Tapi, ketika dihubungi untuk ambil bagian dalam gathering yang diadakan di Upper East, saya setuju. Selain karena letaknya cukup dekat dengan kosan dan sore hari, saya juga penasaran untuk mencoba restoran yang ada di daerah Dago Pakar.

Sempat takut nyasar karena belum pernah ke sini, untungnya saya dan pacar yang menemani bisa sampai juga. Ternyata, bisa disambangi dengan naik angkot Dago-Kalapa dan juga tidak terlalu jauh dari Terminal Dago. Begitu sampai, saya langsung berkenalan dengan beberapa Open Ricer yang sudah datang. Ada yang sudah beberapa kali hadir gathering, ada juga yang sama seperti saya alias baru pertama kali. Salam kenal ya semuanya lol.

Upper East letaknya cukup enak karena berhadapan dengan pemandangan daerah Bandung yang masih banyak pepohonan. Udaranya juga sejuk karena sudah menginjak Dago Pakar. Siap-siap jaket begitu menginjak pukul 17.00 karena kabut mulai turun dan rasanya dingin banget. Emang pas banget kalau mau ngedate di sini, suasananya morantis, hihihi. Area Upper East sendiri tidak terlalu luas, tapi nyaman. Ada sofa, kursi kayu yang didekatkan ke jendela, dan area bar dengan display kue dan beberapa botol minuman.

 
Setelah para peserta gathering berkumpul, kami pun langsung diarahkan ke bar untuk memulai acara. Emang mau ngapain sih? Ternyata, sang pemilik Upper East sekaligus chefnya, yaitu Chef Ivan Bastiano akan menunjukkan cara memasak beberapa menu yang nantinya bisa kami santap. Yippi! Contek dikit buat konsumsi pribadi ya, Chef. lol lol. Sebelumnya, para pelayan menyiapkan minuman yang biasa dipesan di Upper East. Apa sajakah minuman itu?
Deretan minuman yang yummy to the max

Deretan minuman yang yummy to the max

 
Keterangan gambar:
(ki-ka atas): Capucinno Latte, Lychee Slice Tea, Milkshake Vanilla, Matcha Latte)
(ki-ka bawah): Espresso, Tiramisu Brulee

chopstickCapucinno Latte
Open Ricer tentunya tau dong minuman yang disajikan dalam cangkir ini? Yap, minuman ini memang terkenal banget dan pastinya jadi favorit para pencinta kopi (termasuk saya). Di bagian atasnya dibentuk gambar tulip (yang kalau kata pelayan yang membuat butuh waktu minimal dua bulan buat belajar @_@). Tidak hanya bentuk tulip, ada juga bentuk kelinci yang dibuat oleh mereka. Katanya, bisa rikues gambar lho kalau di sini. Bikin gambar Ultraman bisa nggak ya? tongue

chopstickLychee Slice Tea
Minuman ini disajikan di dalam sebuah toples kecil yang diubah fungsinya menjadi gelas. Unik ya. Campurannya ada teh, sari buah leci, dan potongan lecinya itu sendiri. Rasanya semriwing alias dingin. Sebagai hiasan, sebelum dihidangkan, mulut gelas dicelup dengan larutan gila sehingga ketika mengering mulut gelas akan dihiasi oleh butiran gula. Mau dijilat? Silakan lol

chopstickMilkshake Vanila
Milkshake di sini campurannya agak beda nih karena ada dicampur dengan Baileys original. Perpaduan es dengan vanilla, dan plain milk bikin rasanya seger di tenggorokan. Boleh banget dicoba pas ke sini.

chopstickMatcha Latte
Suka teh hijau? Cobain deh matcha latte. Minuman ini rasanya agak pahit, tapi nggak sampai bikin kita bergidik atau mengernyit saking pahitnya. Jangan lupa diaduk karena gulanya suka mengendap di bawah sehingga menjelang habis baru terasa manis. Di atasnya diberi hiasan whipped cream yang plain, tapi yummy.

chopstickEspresso
Nah, ini nih dewanya pencinta kopi: Espresso. Kenapa disajikan dalam gelas mini?? Karena rasanya yang luar biasa pahit sehingga kalau dikasih di cangkir besar dijamin nggak akan habis. Katanya sih, kalau minum ini harus langsung tenggak biar pahitnya nggak kerasa di lidah. Buat yang nggak suka kopi, minuman ini mungkin a big No No karena selain pahit, tingkat kafeinnya yang tinggi bikin yang minum bakal susah tidur.

chopstickTiramisu Brulee
Pernah dengar nama cream brulee? Kalau di Upper East, brulee-nya dicampur dengan kopi dan rasa tiramisu sehingga jadilah Tiramisu Brulee. Cara bikinnya sendiri nyaris sama dengan Capucinno Latte, tapi di atasnya kemudian diberi taburan gula dan dibakar hingga berwarna kecokelatan (caramel). Cara minumnya, kalau saran Chef Ivan, adalah disendok sedikit demi sedikit supaya brulee dan kopinya terasa.

chopstickUpper East Sunset
Minuman ini nih yang langsung bikin mata seger banget. Warnanya itu lho, kinclong! Perpaduan rasanya sendiri adalah Sunkist dan stroberi jadi warnanya kuning-merah gitu. Pas diseruput dikit, rasanya memang agak asam. Tapi, kalau nggak suka asam, bisa minta tambahan gula kok. Yang pasti, minum ini dijamin mata langsung melek dengan kesegarannya.

 
Kelar minuman, kali ini Chef Ivan yang siap beraksi. Sebagai informasi, Chef yang sekilas mirip Saykoji ini (hihihi, peace Chef!) udah keliling dunia lho. Beliau pernah tinggal di Singapura, Maldives, dan Dubai. Bandung sendiri baru ditempati setahun belakangan. Wah, melihat pengalamannya, kayaknya makanannya dijamin nyam-nyam pisan nih, hehehe. Dengan pake kompor kecil, Chef Ivan mulai beraksi. Ketika masak, gayanya simple banget. Cuma colek, tabur, potong, gongseng, dan voila! Hidangan nikmat menggugah selera udah di depan mata. Sambil memasak, Chef Ivan dengan ramah menjawab pertanyaan para peserta yang penasaran. Saya sendiri sih lebih konsen ngeliat cara masak dan hasilnya, siapa tau bisa dicontek di rumah lol lol. Ini dia, hasil masakan Chef Ivan.
Chef Ivan in action!

Chef Ivan in action!

 
chopstickCaesar Salad (Rp25.000)
Appetizer yang dibuat Chef Ivan pertama adalah Caesar Salad. Bahan-bahannya ada lettuce romain (bedain sama salada yang dijual di pinggir jalan ya, hihihi), potongan daging ayam, beef bacon, keju, dan garlic bread. Untuk dressing alias sausnya sendiri, merupakan campuran dari mayonnaise, anchovies, bawang putih, dan keju. Yuuum, dari bahannya aja kayaknya udah enak. Sebagai hiasan, Chef Ivan meletakkan setengah telur rebus di bagian atas. Ketika dicoba, saya yang nggak suka sayur malah suka banget lho dengan Caesar Salad ini. Rasanya enak dan agak gurih. Mungkin yang agak kurang saya suka adalah garlic bread-nya yang hambar dan keras. Nggak dipanggang kayaknya, hehehe.

 
chopstickSpaghetti Aglio Olio (Rp26.000)
Berikutnya langsung masuk ke main course. Pertama-tama, Chef Ivan bikin Spaghetti Aglio Olio. Dan, saya baru tahu lho kalau bahan dasar banget yang melatari nama spaghetti ini adalah bawang putih. Jadi, bawang putih yang dimasukkan Chef Ivan ketika memasak cukup banyak supaya cukup terasa. Untuk toppingnya, digunakan ikan tuna. Katanya sih bisa diganti dengan ayam atau daging kalau mau. Voila! Setelah aduk-aduk dan campur-campur, Spaghetti Aglio Olio terhidang di hadapannya. Rasanya?? Enaaak! Sesuai dengan yang dibilang Chef Ivan, rasa bawang putihnya memang cukup kuat. Pastanya sendiri dimasak al-dente alias sempurna sehingga nggak terlalu lembek atau malah belum matang.

 
chopstickSteak Diane (t.b.a)
Pada kesempatan kali ini, Chef Ivan sekaligus memperkenalkan menu baru yang bahkan belum ada di daftar menu. Para peserta gathering mendapat kesempatan untuk mencobanya untuk pertama kali. Yaaay, makasih Chef! Namanya Steak Diane, yang terinspirasi dari Putri Diana (kata si pacar sih ya). Makan ini dijamin kenyang. Toppingnya sendiri adalah daging steak yang digoreng setengah matang kemudian dipanggang selama tiga menit. Sambil menunggu, Chef Ivan menyiapkan spaghetti yang ditata di atas piring. Setelah daging matang, daging kembali dimasukkan ke dalam wajan untuk kemudian disiram krim dan jamur. Setelah itu, daging ditaruh di atas spaghetti. Sebagai hiasan, ditaruh onion ring sehingga menyerupai mahkota. Para Open Ricer tentu saja langsung kalap melihat hidangan nikmat nan mewah ini. Saya pun juga nggak mau ketinggalan mencoba. Tapi, ada beberapa hal yang kurang menurut saya. Rasa krimnya kurang gurih jadi terkesan plain atau hambar. Dagingnya pun juga masih alot sehingga untuk memotongnya agak susah. Mudah-mudahan begitu masuk menu sudah lebih ada perbaikan ya.

 
chopstickUpper East Fried Rice (Rp27.000)
Nasi goreng seharga Rp27.000?? Eit, tunggu dulu. Open Ricer harus cobain yang satu ini baru boleh berkomentar. Nasi goreng ini sendiri jadi favorit si pacar yang tertarik untuk mencoba sendiri di dapur kosan, hehehe. Cara bikinnya sih ya sesimpel nasi goreng biasa. Terus, yang membedakan apa dong? Ternyata, Chef Ivan menggunakan pasta tom yam dan pasta sambal untuk memberi rasa a la tom yam Thailand. Rasanya memang jadi unik, agak asam dan juga pedas. Sebagai topping, ada dadar dan udang. Porsinya sendiri cukup besar sehingga mengenyangkan. Nggak percaya? Coba sendiri aja lol.

 
chopstickChurros
Kelar main course, time for dessert! Chef Ivan langsung mengeluarkan dessert andalan yang hanya dibuat di hari Minggu aja. Namanya Churros, asalnya dari Spanyol. Rasanya sendiri kayak kulit kue sus yang dipanggang hingga luarnya agak garing kemudian diberi taburan bubuk kayu manis. Sebagai cocolan, disediakan cokelat cair hangat. Hmmm, rasanya enak banget lho. Garing di luar, tapi lembut di dalam. Nggak cuma bisa jadi dessert, Churros ini juga enak dicemil kayak kue gitu.

 
chopstickAfogato
Ini dia, menu dessert terakhir yang disajikan Chef Ivan. Bagian bawahnya adalah espresso, sementara atasnya diberi campuran es krim vanilla. Rasanya jadi manis dan pahit di saat yang bersamaan. Enak sih, tapi makannya harus diaduk jadi satu kayaknya. Kalau nggak, bisa-bisa begitu udah abis rasanya pahit.

 
Yap, itu dia beberapa menu yang disajikan di Upper East. Semuanya enak. Harganya pun cukup terjangkaulah alias nggak mahal-mahal banget. Sayang, porsi yang disajikan meskipun sedikit lebih besar harus dibagi untuk 12 orang jadinya pada rebutan. Untuk yang nggak kebagian, harus rela merasakan sisanya saja. Akan lebih baik sih kalau misalnya menunya dibagi dengan jumlah orang yang lebih sedikit, misalnya 1 porsi untuk 4 orang sehingga semuanya dapat bagian yang sama rata. Anyway, menyenangkan bisa ikut gathering bersama Open Rice dan nyoba tempat makan baru. Ditunggu gathering selanjutnya ya..
 
Date of Visit: Oct 20, 2013 

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Makan Enak dan Murah di KFC Smile Oct 29, 2013   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Amerika | Fast Food | Kumpul Keluarga

Open Ricer tentunya udah kenal sama yang namanya KFC dong? Yap, ini adalah restoran fast food yang spesialisasinya adalah ayam. KFC atau Kentucky Fried Chicken ini sendiri sudah ada di kota-kota besar Indonesia dan beberapa di antaranya buka 24 jam untuk mengakomodir keinginan masyarakat yang suka ngemil malam-malam lol.

Jadi, pada suatu hari, di Facebook KFC berkumandanglah pengumuman yang maha dahsyat (Hahaha, agak lebay dikit). Di hari Rabu, KFC memberikan diskon sebesar 50% untuk pemesanan Paket Super Besar 2 yang isinya 2 ayam, 1 nasi, dan minuman. Wooow, mata saya dan pacar langsung hijau dong! Bisa dibilang potongan ini lumayan besar karena dari harga semula Rp36.000, kami cukup bayar Rp18.000 saja. Murah kan??

Akhirnya, pada hari Rabu, saya dan pacar langsung janjian dengan teman-teman yang kebetulan kantornya di dekat situ. Kami ber-10 pun langsung menyerbu KFC. Karena datang tepat ketika orang sedang makan siang, jadi bisa bayangin sendiri antriannya kayak apa. Untunglah, kami berdua sudah datang lebih dulu sehingga antrian awal tidak terlalu panjang. Setelah memesan makanan, kami pun langsung mencari tempat duduk.

Hebatnya, kayaknya KFC sudah mengantisipasi kehebohan ini sehingga mereka menyediakan ayam dalam jumlah banyak. Meskipun begitu, untuk ayam crispy, kami memang harus menunggu sebentar sih, tapi nggak masalah kok lol. Tidak berapa lama kemudian, pesanan kami datang. Kumplit, plit, plit. Mari mulai makan!

Karena sedang diskon jadi ayam yang diberi ada dua jenis, yaitu dada dan sayap. Ada juga yang dapat original karena kalau crispy masih harus menunggu lebih lama lagi. Kalau saya sih lebih suka crispy karena menurut saya lebih enak. Lagipula, saya nggak suka makan kulit ayam yang masih lembek. Ayam KFC itu emang beda dari resto-resto fast food kebanyakan. Kulitnya gurih dan renyah. Emang sih ada beberapa resto fast food yang mencoba menjual ayam juga, tapi rasanya jauh berbeda dari KFC. Nasinya juga pulen dan pas rasanya. Tidak terlalu kering atau lembek. Yang agak saya sayangkan cuma minumnya sih. Biasanya kalau pergi ke resto fast food, saya lebih milih mengganti cola dengan lemon tea karena nggak suka kalau abis makan perut terasa kembung. Tapi ya sudahlah. Yang penting bisa makan murah dan enaaak! lol

 
 
Date of Visit: Oct 16, 2013 

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Siomay Hokkie OK Oct 29, 2013   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Street Foods | Siomay / Batagor

Kalau nggak salah, Bandung itu terkenal dengan siomay-nya. Sering kan kita lihat tulisan-tulisan di warung-warung atau gerobak kaki lima di Jakarta yang memajang tulisan ‘Siomay khas Bandung’ atau ‘Siomay asli Bandung’. Nah, pas tinggal di Bandung, saya jadi penasaran, kayak apa sih siomay asli Bandung itu? Ternyata, nggak ada bedanya ah dengan siomay di Jakarta. Bahkan, siomay di Bandung tergolong sulit ditemukan karena kebanyakan adalah batagor. Untungnya, di dekat Simpang Dago ada tukang jual siomay yang biasa mangkal di dekat ATM Simpang Dago. Namanya siomay Hokkie.

 
Siomay ala kaki lima hanya menyediakan dua tempat duduk. Penjualnya adalah ibu-ibu yang siap melayani kita. Uniknya, selain berjualan siomay, ibu ini juga berjualan es campur yang semuanya disatukan di dalam satu gerobak. Kok bisa? Tanya sama si ibu sendiri yaaa, hehehe. Bisa dibilang praktis sih, kalau misalnya haus kan tinggal pesan es campur. Kalau laper tinggal pesan siomay lol lol.

Oke, jadi berdasarkan dorongan hati nurani yang lagi kepengen siomay saya pun akhirnya memutuskan untuk mencobanya. Siomay di sini lengkap. Ada kentang, pare, kol, telor, siomay, dan tahu. Satu bijinya dihargai Rp1.000, sementara untuk telor Rp2.000. Saya akhirnya pesan Rp5.000 yang terdiri dari telor, tahu, siomay, dan kentang.

Dari segi rasa sih cukup standar ya. Campuran ikannya sih agak kurang terasa untuk adonan siomay-nya. Sementara, untuk bumbu kacangnya lumayan enak dan tidak terlalu encer. Dengan harga Rp5.000, siomay pinggiran ini memang tidak mengecewakan, tapi juga nggak wah banget rasanya. Rekomendasi kalau yang lagi pengen makan siomay dengan harga murah, tapi kalau punya duit lebih, nggak ada salahnya coba makan di tempat lain yang lebih enak.

 
 
Date of Visit: Oct 02, 2013 

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0