OpenRice Index
  
Dhanny
This is Dhanny . I am a Writer and EditorI like to hang out in Cilandak, Cinere, Margonda. Jepang are my favorite cuisines. I also love Chocolate / Candy Shop, Fast Food and Es Krim/Yogurt, Sushi, Bubble Tea / Jus, Mie ayam, nasi goreng.
Member 398 First(s)
No. of Review905 Review(s)
編輯推介數目136 Editor's Choice
Recommended14 Recommended
Popularity15641 View(s)
Replies in Forum3 Comment(s)
Upload Photos2086 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant63 My Restaurant(s)
Follow9 Following
粉絲1730 Follower(s)
Dhanny  Level 4
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 1 to 5 of 568 Reviews in Indonesia
Rugby Cry Dec 31, 2013   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Roti & Kue | Halal

Beberapa waktu yang lalu, saya janjian nonton The Hobbit dengan beberapa teman di Braga. Kenapa Braga? Soalnya lebih murah dibandingkan kalau nonton di Ciwalk atau PVJ. Braga Festival sendiri kini sedang dalam masa renovasi sehingga penampilannya berubah. Kalau bagian bawahnya sudah lumayan ramai, bagian atas masih sepi. Di bawah sendiri ada Bread Life, Wendy’s, dan D’Kiosk. Baru buka di situ adalah Giggle Box dan Tokyo Connection.

Karena kami datang agak mepet disebabkan lalu lintas yang luar biasa nggak bersahabat kalau hari Minggu di Bandung, akhirnya saya dan pacar putuskan untuk mengisi perut dulu. Pilihan jatuh ke Bread Life yang memajang rotinya dengan sangat menggiurkan di bagian depan Braga. Siapapun yang lewat dari pintu depan pasti akan melewati Bread Life dan para pelayannya yang menyapa kami untuk mampir.

Di bagian depan, ada deretan roti yang disajikan dalam kotak-kotak bening. Berbeda dengan Bread Talk yang dibuka begitu saja, Bread Life agaknya lebih memperhatikan kebersihan. Pengunjung tinggal membuka kotak dan mengambil roti kemudian menutupnya lagi. Dijamin bersih dari debu (apalagi lokasi di Braga memang agak di pinggir jalan). Pelayanannya sendiri sih sama seperti Bread Talk di mana kita dipersilakan mengambil nampan dan capitan untuk kemudian mengambil sendiri roti yang kita inginkan. Setelah beres, kasir akan menghitung semuanya. Yang mungkin sedikit berbeda adalah penyediaan kursi dan meja di Bread Life sehingga pengunjung bisa menikmati rotinya di tempat. Selain itu, ada juga pilihan menu minuman untuk menemani kita menyantap roti.

Menu yang saya pesan adalah Rugby. Roti ini ukurannya lumayan besar dan bentuknya menyerupai bola rugby. Warnanya kuning dan ada titik-titik hitam, yaitu cokelat Belgia (mulanya saya kira kismis). Menurut gambar yang ada di Bread Life, roti ini merupakan best seller. Makanya, saya agak penasaran seenak apa sih roti ini? Dengan ukuran besar, roti ini terasa menjanjikan untuk tingkat kekenyangannya. Ketika saya makan, hmmm…terasa ada yang kurang dari roti ini. Bagian luarnya terasa kering dan seret di tenggorokan. Biji-biji cokelatnya sih lumayan enak. Bagian dalam anehnya basah seakan adonannya belum matang. Rasanya terlalu manis sehingga makan sedikit saja sudah cukup. Sayang, roti keseluruhannya terasa kering sehingga kurang enak dimakan. Nggak terlalu recommended untuk yang ini.

 
 
Date of Visit: Dec 15, 2013 

Other Ratings:
Rasa
 2  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend

Sate Padang Kembar Jaya Cry Nov 11, 2013   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Padang | Street Foods | Sate

Seperti yang udah pernah saya ceritakan di review-review sebelumnya, pagi-pagi di Simpang Dago itu pilihan sarapannya cukup berlimpah. Perut lapar bukan masalah karena mulai dari yang ringan kayak gorengan hingga berat seperti nasi goreng pun ada. Harganya juga terjangkau kok.

Hampir semua sarapan pagi yang ada di sini sudah saya coba. Karena itu, ketika muncul gerobak baru yang menjual sate padang dengan nama Kembar Jaya, saya langsung tertarik untuk mencoba. Aneh memang makan sate padang sebagai menu sarapan karena biasanya makanan khas dari Sumatera Barat ini baru keluar di malam hari. Cuma, entah kenapa tukang sate padang di Simpang Dago ini memutuskan untuk jualan di pagi hari. Mungkin, untuk memanfaatkan waktu di mana orang-orang sarapan kali ya?

Posisinya tepat di depan kios majalah dan koran. Tinggal pesan dan tukang sate padangnya akan segera membakar sate saat itu juga sehingga ketika dihidangkan masih hangat. Satu porsinya seharga Rp14.000, tapi mungkin bisa pesan setengah porsi.

Sate padang ini entah kenapa selalu disajikan di piring yang diberi tatakan daun pisang, mungkin biar rasanya enak atau mencucinya jadi lebih mudah, hehehe. Yang pasti sate padang yang ini sama saja. Disajikan di atas piring berlapis daun pisang, ada 10 tusuk sate padang dan ketupatnya. Saya tentu saja tidak sabar mencoba.

Begitu menyuap pertama, hmm…rasanya nggak seenak yang saya bayangkan. Yang bikin enak sebuah sate padang itu tentu adalah bumbunya yang berwarna kuning kecokelatan dengan rasa agak pedas. Sayang, bumbu yang ada ini kurang enak. Kalau menurut saya sih, kurang medok rasa padangnya sehingga terasa hambar. Paling yang terasa cuma pedasnya aja. ketupatnya sendiri terasa kering dan agak seret di tenggorokan.

Hmm, gak rekomended deh untuk makanan yang satu ini sebagai menu sarapan.

 
 
Date of Visit: Nov 05, 2013 

Other Ratings:
Rasa
 2  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Sarapan at KFC Merdeka Cry Nov 09, 2013   (Related Review)
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Amerika | Fast Food | Kumpul Keluarga

KFC Merdeka adalah salah satu KFC di Bandung yang buka 24 jam. Dulu sih KFC Dago juga buka 24 jam, tapi mungkin karena kurangnya peminat akhirnya buka dan tutup seperti biasa. Nah, di KFC Merdeka ini ada menu sarapan. Sebenarnya, nggak cuma di KFC Merdeka, tapi juga di KFC Dago dan berbagai tempat KFC lainnya. Pas saya lagi belanja ke Hypermart, saya tertarik untuk mencoba.

Karena menempati gedung sendiri alias terpisah dari Bandung Indah Plaza, tempatnya cukup luas. Ada dua area, yaitu indoor dan outdoor. Kalau mau adem, bisa pilih indoor. Tapi, kalau mau merokok dan duduk-duduk di sofa bisa pilih outdoor. Kalau malam Minggu, suka ada pertunjukan musik yang berada tepat di area outdoor. Bisa dipastikan, saat itu pasti ramai oleh pengunjung. Selain counter untuk memesan makanan berat, ada juga counter KFC Coffee yang dikhususkan untuk makanan yang lebih ringan dan bisa memesan aneka jenis kopi dan teh.

Pelayanan KFC sendiri serupalah dengan pelayanan resto fast food manapun. Ketika datang, kita bisa langsung menghampiri counter untuk memesan makanan. Petugas yang ada di balik counter akan menerangkan dengan ramah menu yang ada dan mengambilkan makanan yang kita pesan. Bayar, abis itu bisa langsung makan deh!

Kalau untuk urusan sarapan, masing-masing resto fast food punya menu yang berbeda-beda lho. KFC sendiri menyajikan menu sarapan yang cukup variatif, mulai dari donat, bubur ayam, scrambled egg, riser (semacam kebab yang diisi daging ayam dan telur orak-arik kemudian disiram dengan thousand island), pancake, waffle, dan masih banyak lagi. Semuanya itu plus ditemani dengan minuman, seperti teh, kopi, atau minute maid pulpy. Oh ya, ada juga promo yang bikin kantong kita nggak bolong lho untuk sarapan. Cukup dengan bayar Rp10.000, kita bisa dapat riser atau donat ditambah dengan teh atau kopi. Kenyang banget.

Untuk kali ini, saya pesan menunya agak banyak. Ada bubur ayam, scrambled egg, dan pom-pom. Jangan tertipu oleh gambar dan iklan, saudara-saudara. Karena menu yang ditawarkan ukurannya kecil! Bubur ayamnya hanya disajikan di gelas karton seperti cream soup. Isinya pun irit banget, yaitu bubur, daun seledri, dan semacam kerupuk. Ayamnya sendiri nyaris nggak ada. Untuk scrambled egg-nya ya seperti telur orak-arik pada umumnya, nothing special. Pom-pom sendiri adalah kentang yang dibentuk kotak-kotak sehingga lebih praktis makannya. Rasanya biasa, malah rasa kentangnya nggak terlalu kentara.

Untuk harga Rp5.500, sayang menu sarapan ini agak mengecewakan. Berbeda dengan riser yang lumayan enak. Nggak terlalu rekomendasi deh, kalau masih bisa sarapan di gerobak pinggir jalan yang lebih murah dengan porsi melimpah.

 

 
 
Date of Visit: Nov 06, 2013 

Other Ratings:
Rasa
 1  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 1

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Harga Orang Kaya, Porsi Mahasiswa Cry Oct 04, 2013   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jepang | Food Court | Ramen | Hang Out

Suatu siang, saya nemenin si pacar ke kampusnya, Universitas Maranatha. Karena belum pernah ke sini sebelumnya, saya cukup kagum juga dengan kampusnya yang perpaduan ala gedung kantoran dengan kampus biasa. Setelah menemani si pacar ke Tata Usaha untuk mengurus beberapa surat, saya minta ditraktir karena udah rela menemani dia. Untungnya si pacar setuju. lollol

Saya pun dibawa ke food court Kampus Maranatha yang besaaaaaar banget. Food court ini sendiri kebagi dua, yaitu hall besar yang hanya berisi tempat duduk dan satunya lagi menyerupai food court dengan stand-stand makanan di sekelilingnya plus kursi dan meja. Bentuk food courtnya sendiri mengingatkan saya sama food court di mal-mal besar, kayak Pondok Indah Mall.

Di sudut terjauh dari pintu masuk, dindingnya diganti jendela sehingga cahaya bisa masuk. Mahasiswa juga bisa duduk-duduk di sana sambil makan, ngobrol, atau ngerjain tugas sambil melihat pemandangan jalanan Surya Sumantri yang sering macet itu. Di tengah-tengah food court sendiri ada sofa-sofa merah yang empuk dan pastinya bakalan dipilih sama mahasiswa yang pengen tidur siang lol. Uniknya, mereka menempatkan sofa-sofa itu di dalam kerangkeng dari bambu (kayak kurungan ayam gitu lho).

 

 
Setelah keliling dan melihat-lihat stand makanan yang ada, saya putuskan untuk mencoba menu Goji Katsu House. Menurut pacar, stand ini udah ada dari sejak ia kuliah di sini. Selain itu, saya juga lihat orang-orang datang dan pergi memesan di stand ini. Ya udah, saya pun penasaran mencoba. Pilihan saya adalah katsu komplit seharga Rp14.000. Dari gambar sih kayaknya mengenyangkan karena ada chicken katsu, omelete, kentang, dan nasi. Oke, saya coba ya. Pacar sendiri pesan menu sosis komplit yang isinya kentang, sosis 2 batang, sama omelete. Kayaknya sih enak yaaa...

Oh ya, untuk minumannya sendiri, Open Ricer bisa pilih jus atau minuman kemasan lain. Cuma, untuk minuman kemasan ini cara belinya bener-bener ribet deh. Kita dateng ke stand, bilang kalau mau beli ke penjaganya, dikasih bon, ke kasir untuk bayar, balik lagi ke stand untuk kasih bon yang udah dicap ke si penjaga, baru dikasih minuman kita. Yaoloh, ribetnyaaaa... sadshockedshocked

chopstick Chicken Katsu Komplit
Menu pesanan saya kemudian datang. Huuummm, jujur yaaa. Dengan harga Rp14.000, nggak worth it deh kayaknya. Kentang yang disajikan cuma sejumput, nasinya lumayan banyak sih (mungkin karena beras lebih murah dari kentang ya). Tapi yang mengecewakan sih telur dadarnya yang setipis kertas. Sempet liat sih tadi kalau pas digoreng itu satu telor dibagi menjadi dua alias untuk dua porsi. Cih, pantesan tipis. Terus, chicken katsunya juga singset pisan alias kurus banget. Cuma tebal di tepung huffyhuffy:

 
chopstick Sosis Komplit
Pesanan si pacar juga sama mengecewakannya. Si pacar sendiri sih udah wanti-wanti, makan di sini nggak kenyang, tapi saya emang penasaran pengen coba. Ternyata emang mengecewakan BANGET (pake huruf kapital). Kentang yang disajikan untuk si pacar lumayan banyak dari porsi saya (mungkin karena dia nggak pake nasi). Telur dadarnya sama tipisnya dan sosisnya juga yang kurus-kurus dan udah retak di sini-sini alias sosis murah.

 
Overall
Untuk sekadar cemilan pengisi perut sambil nunggu jam masuk atau ngobrol sama temen atau ngerjain tugas okelah. Tapi, kalau pengen yang kenyang, harga segini rasanya kalau makan di luaran akan lebih kenyang dengan nasi, lauk-pauk, dan es teh manis deh.
 
Date of Visit: Sep 23, 2013 

Other Ratings:
Rasa
 1  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 2

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Street Foods | Steak & Grills | Halal

Halo Open Ricer, kembali lagi saya ke dunia review kuliner setelah disibukkan dengan berbagai kegiatan (#tsaaah). Kali ini, saya mau mereview tempat makan yang sudah berkembang jauuuuh dari sejak pertama kali saya kunjungi hingga sekarang.

Mahasiswa atau orang-orang yang sering lewat daerah Dipati Ukur pastinya udah nggak asing lagi dengan nama Steak Ranjang. Dulu, steak ini letaknya ada di depan monumen seberang Universitas Padjadjaran dengan mengambil bentuk tenda berwarna pink. Saking laris dan ramainya, akhirnya mereka pindah ke bangunan yang berseberangan dengan travel Cititrans Dipati Ukur. Bangunannya sendiri terbagi menjadi dua lantai, di mana lantai untuk bagian atas diperuntukkan hanya untuk tamu lebih dari 4 orang.

Dekorasinya bisa dibilang minimalis dengan penggunaan cat warna merah dan krem. Sayangnya, warna krem tadi bisa dibilang "bumerang" untuk mereka karena dinding di bagian ini terlihat kotor. Selain itu, dindingnya pun terasa lowong karena tidak diberi gambar atau hiasan apapun. Lucunya, di bagian belakang ruangan ada meja panjang yang menghadap dinding dengan tulisan 'meja para jomblo'. Uuups!

Dari segi pelayanan sih menurut saya agak cepat ya karena memang tenaga yang dikerahkan cukup banyak mengingat para pengunjung Steak Ranjang yang lumayan rame. Tapi, meskipun begitu, banyaknya pegawai ini anehnya tidak dibarengi dengan kebersihan yang memadai. Lantai kotor dan bayangkan saja di lantai bawah meja yang saya makan ada potongan daging katsu yang antara dibuang atau tidak sengaja jatuh. Eeeewwww!

Menu yang disajikan di sini tidak jauh berbeda dengan menu yang mereka berikan di warung tenda dulu. Harganya juga nyaris sama, mungkin naik sekitar Rp2.000-Rp3.000. Yang pasti tidak terlalu berdampak signifikan. Yang agak diperbanyak mungkin adalah minumannya karena ada beberapa tambahan, seperti es Mi-Lo-Gue End (es milo).

 

 
Karena agak lapar, saya pesan spaghetti cheese katsu dengan level kepedasan 2 sementara si pacar pesan Tenderloin Telanjang Panas (Tenderloin tanpa balutan tepung) dengan level kepedasan 3. Minumannya kami samakan, yaitu ice lemon tea. Begitu datang dan menyeruput ice lemon tea, hmmm, rasanya mau protes karena terasa hambar. Kayaknya sih 1 sachet dipakai buat 2 gelas deh sehingga bisa menekan harga (cuma Rp4.000/gelas).
ice lemon tea

ice lemon tea

 
Pesanan makanan kami datang tidak lama kemudian. Mengingat waktu masaknya yang seharusnya lama tapi bisa dipersingkat, kemungkinan mereka sudah menyiapkan menu tersebut dalam jumlah besar dan tinggal dibagi-bagi.

bowl Spagheti Cheese Katsu
Porsinya emang lumayan besar dengan spaghetti dan keju yang berlimpah. Ukuran ayamnya lumayan meski agak lebih kecil dari yang dulu. Rasanya sih standar. Nggak terlalu enak banget, tapi emang sukses mengenyangkan perut karena porsinya itu. Tapi, yang bikn saya ilfeel adalah penggunaan sambel ulek a la warung bakso di atas chicken katsu untuk menambah level kepedasan. Ketika saya sibak sausnya, ternyata ada biji-biji cabe yang berkumpul di atas ayam. Sambel ulek??? Kok perpaduannya kurang pas ya?? >_<
Spaghetti Cheese Katsu

Spaghetti Cheese Katsu

 
bowl Tenderloin Telanjang Panas
Menu daging ini disajikan dengan kentang goreng, buncis, dan wortel. Penyajiannya terlihat berantakan banget, kayak asal ditaruh dan terburu-buru. Sekali lagi, sambal yang digunakan adalah sambal ulek yang dicampur ke dalam bumbu daging. Dan, yang bikin super-duper kecewa adalah dagingnya ternyata bukan daging utuh tapi berupa potongan-potongan daging kecil yang mungkin kurang dari 100 gram beratnya! What??? @_@ Hal ini bikin saya miris karena pas masih di warung tenda, tenderloin yang disajikan benar-benar berbentuk daging utuh.
Tenderloin Telanjang Panas

Tenderloin Telanjang Panas

 
Overall
Memang, perpindahan dari warung tenda ke bangunan tetap membuat biaya bertambah. Belum lagi menggaji pegawai dan memikirkan pemasukan. Tapi, kayaknya jangan sampai mengorbankan kualitas sedemikian rupa. Untuk para pelanggan baru Steak Ranjang mungkin tidak masalah. Tapi, untuk mereka yang pernah mencicip Steak Ranjang ketika masih berbentuk warung tenda pasti akan sangat kecewa.

Recommended? I don't think so.
 
Date of Visit: Sep 05, 2013 

Other Ratings:
Rasa
 1  |  
Lingkungan
 2  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 1  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0