OpenRice Index
  
Leenaa
This is Leenaa . I am a WriterI like to hang out in Sarinah. Sunda, Chinese are my favorite cuisines. I also love Kafe, Restaurant and Siomay / Batagor.
Member 83 First(s)
No. of Review248 Review(s)
編輯推介數目14 Editor's Choice
Recommended14 Recommended
Popularity5236 View(s)
Replies in Forum3 Comment(s)
Upload Photos424 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews1 Recommended Review(s)
My Restaurant118 My Restaurant(s)
Follow7 Following
粉絲256 Follower(s)
Leenaa  Level 4
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 1 to 5 of 248 Reviews in Indonesia
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Food Court | Bakmi/Kwetiau | Halal

Saya selalu doyan bakmie! Se La Lu! Dan waktu jalan jalan ke Beachwalk, kemudian terserang lapar, saya berkelana di area Eat and Eat nya dan mata langsung tertuju ke Bakmie Kepiting! 

Wah, tanpa pikir dua kali, saya langsung sodorin kartu Eat and Eat, lalu memesan seporsi Bakmie Kepiting, dengan kuah yang dipisah.

Disuruh tunggu 5 menit, dikasih bon untuk nanti balik lagi dan ngambil pesenan bakmie nya. Sembari teman saya mencari menu yang mau dia makan, saya duduk duduk dulu. Setelah teman saya kembali dengan makanannya, nah giliran saya deh ke Bakmie Kepiting untuk menjemput makanan saya.

Seporsinya disajikan dalam mangkuk hitam, saya selalu doyan bakmie sih jadi saya ga ada keluhan apa-apa untuk ini. Dikasih pangsit goreng 1, bakso ikan, daging kepiting dan udang. Kuah kaldunya hangat dan enggak asin. Semuanya nampak sempurna, rasanya pun saya doyan banget. Tapiii, daging kepitingnya itu hanya ada 2 butir yang besarnya hanya seukuran jari kelingking. Udangnya juga hanya 2 butir. Bakso ikannya sedikit lebih mending, ada 3 butir (eh, apa 2 butir juga ya?)

Jadi, untuk seporsi bakmie seharga 45,000 rupiah, secara rasa, saya suka banget. Tapi secara isi dagingnya, huhu, sedih, boleh kan yah di-isi lebih banyak daging?

 

 
 
Spending per head: Approximately Rp50000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 5  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Restaurant | Kencan / Berpasangan | Kumpul Keluarga | Pemandangan Pegunungan

Kali itu, saya masih menikmati suasana Bali dalam musim liburan tahun baru dan akhirnya menyempatkan diri untuk mencoba Sari Organik. Dulu sudah pernah ke Pomegranate (sedikit di bawahnya Sari Organik), dan karena kali ini penasaran akan seindah apa pemandangan dari atas sawah Ubud yang lebih tinggi lagi, jadi lah kami tetap serajin mungkin naik ke atas. 

Lokasi: Memang agak sedikit tricky untuk bisa menemukan Sari Organik. Karena jarang ada papan petunjuk, dan lokasinya harus sedikit menjorok turun ke bawah. Setelah menemukan batu besar yang dipahat sebagai penanda pintu masuknya, baru lah kami turun sembari melihat beberapa tanaman organik yang ditanam di lahan mereka. 

 
Begitu sampai di dalam Sari Organik, kami langsung terkesima dengan pemandangan yang muncul. Walaupun saat itu baru pukul setengah 6 sore, langitnya masih cerah dengan rintik hujan yang mulai jatuh perlahan. Sunset di Bali memang biasanya baru kelihatan pada setengah 7 malam. Jadi masih ada banyak waktu, akhirnya kami memesan makanan.

Saking lapernya, saya memesan Nasi Goreng (dengan harapan, setidaknya si nasi goreng akan terasa mirip dengan nasi goreng tek tek pada umumnya). Lalu teman saya memesan Kopi Bali, Guacamole dan French Fries. 

 

 

 

 
Guacamole: bukan selera saya sih, tapi menurut teman saya cukup enak.
Nasi Goreng (50,000): jauh dari kata enak kalau menurut saya, nasi terlalu lembek dan tidak ada rasa.
Kopi Bali (10,000): entah bagaimana mendeskripsikannya, namun hambar dan terasa seperti kopi instan, entahlah.
French fries: Dari semua makanan, pesanan yang ini paling masuk di akal rasanya. Dan yang membuat saya suka, karena disajikan juga dengan ubi goreng, jadi lumayan variasi.

Kesimpulannya: Bagi saya, Sari Organik hanyalah tempat untuk melihat dan menikmati pemandangan, bukan untuk menikmati makanan. Padahal tempatnya sangat sangat sangat sangat indah dan enak luar biasa.

 

 

 

 
 
Date of Visit: Jan 03, 2016 

Spending per head: Approximately Rp70000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 2  |  
Lingkungan
 5  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Restaurant | Halal | Kumpul Keluarga

Sekedar berbagi cerita singkat, review sejenak yah tongue Beberapa waktu lalu sempet baca beberapa artikel tentang Rumate ini, dan tergerak untuk menyambangi resto milik Pak Bondan terbaru ini, masih berada di bawah naungan yang sama dengan Kopi Oey miliknya. Berdiri pada tanggal yang sama dengan hari ulang tahun kota Jakarta, Rumate ini berada bersebelahan dengan Sabang 16 dan Kopi Oey di kawasan Sabang, OpenRicers pasti mudah menemukannya kok..

Okay, langsung saja yah ke kesan pertama ketika masuk, jrengg! My first impression: suram shocked Lampu kuning temaram dengan pemilihan dekor interior yang bernuansa gelap, kayu cokelat tua, dan pigura pigura berbingkai hitam yang semuanya mayoritas adalah poster bergambar Marilyn Monroe atau lainnya, tipikal poster art jaman dulu.. Lalu di bagian kitchennya dengan kusi kayu hitam dan ada papan tulis hitam di bagian atas untuk deretan nama menu, ehhmm, I don't know.. Tapi kalau buat saya pribadi, gelap dan tidak menimbulkan nafsu makan sama sekali, sayangnya udah terlanjur masuk dan duduk, so here we go..

 
Jumlah karyawannya (menurut saya) terlalu banyak, ada 2 orang di bagian kasir, 3 orang di bagian kitchen, 1 orang di pintu masuk, dan 2 orang yang berjaga-jaga.. Let's imagine, di hari Sabtu sore, dengan jumlah customer hanya terisi 2 meja, suasana hening dengan musik sangat pelan, dan jumlah staff nya sampai 8 orang.. Rasanya? Awkward dan kurang nyaman..

Ini pesanan saya: Nasi Item Bantul 18.000 IDR, jreeenggg!

 

 
Isinya adalah daging ayam suwir, dan irisan telur dadar, bawang merah dan beberapa iris cabai, nasinya berwarna kehitaman.. Rasanya, ehmmmm, sangat plain, aromanya aroma daun bakar, not much that I can tell, well, maybe you guys wanna try?

Pesanan teman saya: Nasi Bakar Cakalang 28.000 IDR..

 
Sempet nyobain, dan rasanya lebih mendingan, karena ada potongan ikan cakalang yang gurih dan lebih berani rasa yah, cara makannya persis seperti mau makan Pepper Lunch, hehe, diaduk-aduk dulu semuanya.. Tapi, temen saya gak makan sampai habis, katanya hambar, entahlah, gimana kalo dia makan pesenan saya??

Minuman yang dipesan (semua drinks diskon 50% dalam rangka Opening): Es Teh Daun Mint 15.000 IDR belum dipotong diskon..

 
Minuman ini, enak! Mint-nya terasa tongue Segerrrr dan wangi, untuk minuman ini saya rekomendasikan deh kalau OpenRicers mau coba..

Overall, suasana kurang nyaman yah (kalau untuk saya) karena terlalu gelap, hening, suram, sepi, kaku dan aneh.. Kurang memuaskan sih, atau mungkin gara-gara saya yang put high expectation karena di beberapa media online 'terlihat' oke dan menggoda, ternyataaa...... Membawa nama besar Pak Bondan saja masih belum cukup untuk bertahan di industri kuliner ini.. Beda sama Kopi Oey atau bahkan Sabang 16 yang walaupun menggunakan lampu cukup temaram, tapi suasananya lebih hidup, nyaman dan bikin betah.. Entah yah, mungkin specialitynya ada di minuman Teh nya, karena es teh daun mint saya sih enak kok smile Silahkan dilirik menunya ini jika OpenRicers mau mencoba yah..

 
 
Recommended Dish(es):  Es Teh Daun Mint
 
Spending per head: Approximately Rp50000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 2  |  
Lingkungan
 1  |  
Pelayanan
 2  |  
Higienis
 2  |  
Sesuai dengan harga
 2

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Warung Cahaya for piggy lovers OK Feb 24, 2016   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Indonesian | Stand / Kios

Warung Cahaya ini sebenarnya habis renovasi. Jadi sempat agak repot kalau makan di sini, tapi sekarang sudah selesai renovasinya. Mereka hanya ganti cat dan furniture di dalamnya, nuansanya jadi lovely white gitu, ada pernak pernik yang sangat feminim. Sekilas sih jadi mirip kaya studio foto, bagus buat orang-orang yang demen.

Nah, kali itu saya datang untuk makan menu yang lainnya. Mie Goreng! Sebagai pecinta bakmie, ada kalanya saya selalu buka buku menu dan setelah melihat-lihat, pilihan dijatuhkan kepada mie. Hahaha! 

Persoalannya adalah, saya ga bisa makan sambal matah, terlalu pedas di lidah saya. Lalu di sini sebenernya adalah rekomendasi orang lokal, tapi apa daya, saya tergiur mie nya. 

Pesanan pun datang dengan mie goreng yang terisi oleh sayur, dan daging pork. Sama seperti kunjungan saya sebelumnya, daging pork nya crunchy lembut. Namun sayangnya, si mie goreng ini terlalu asin. Memang toleransi saya terhadap asin tuh tergolong lemah, pas teman saya cobain mie saya, katanya itu normal. Tapi saya merasa keasinan, sampai terasa pusing kepalanya. (Memang ga biasa makan asin).

Overall, ga ada keluhan apapun sih, jadinya mie saya yang tidak habis ini dibungkus bawa pulang deh, hehe.

 
 
Spending per head: Approximately Rp30000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Por Que No Review OK Feb 23, 2016   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Eropa | Restaurant | Hang Out

Por Que No, saya datang kesini tepat 2 hari sebelum mereka opening, karena mau diulas ke dalam artikel. Waktu saya tanya, Por Que No itu artinya apa, ternyata artinya adalah "Why Not?" yang kemudian saya temukan maksudnya ketika melihat menu menu makanannya. Tapi itu nanti yah saya bahas, hehe.

Tempatnya ini lumayan tricky lho, karena berada di lantai teratas sebuah gedung yang tidak diketahui. Dari depan atau dari kejauhan sih sulit ditemukan. Tapi begitu nyampe di atas, wow tempatnya asyik. Bagian outdoor katanya akan dijadikan tempat buat live band. Dekornya sih asyik yah. Saya udah kebayang sih kalau lagi ramai atau kalau ada party, bakalan kayak apa suasananya. 

Nah, mengulas menu, jadi di Por Que No ini lumayan unik2 menunya. Ada nasi mexico yang berwarna hitam karena terbuat dari squid ink. Ada banyak deh menu yang 'nyeleneh' tapi asyik buat dicoba. Dari cara penyajiannya juga menarik.

Seperti ini dia yang saya sempat foto pakai hp, ini adalah sup. Tapi lihat kan bagaimana disajikannya? Dengan tabung kimia kecil yang ala ala percobaan zat. Lumayan seru pas cobain, langsung tenggak aja sedikit sedikit. Rasanya sih saya rada lupa, enak enak aja, tapi cukup sekali coba saja. 

Untuk kisaran harganya juga termasuk ke dalam area middle up. Yah, kalau buat nongkrong-nongkrong lucu sesekali sih boleh juga.

 

 

 
 
Spending per head: Approximately Rp150000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 5  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0