OpenRice Index
  
ichakhairisa
This is ichakhairisa living in Cilincing. I am a Editor, work in Kuningan. I like to hang out in Sudirman, Kelapa Gading, Kuningan. Betawi, Jawa, International food are my favorite cuisines. I also love Chocolate / Candy Shop, Kedai Kopi & Teh and Es Krim/Yogurt, Dessert, Soto/Rawon, Dim Sum, Salad.
Member 98 First(s)
No. of Review218 Review(s)
編輯推介數目148 Editor's Choice
Recommended16 Recommended
Popularity11350 View(s)
Replies in Forum5 Comment(s)
Upload Photos1216 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant2 My Restaurant(s)
Follow1 Following
粉絲1312 Follower(s)
ichakhairisa  Level 4
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 1 to 5 of 218 Reviews in Indonesia
Best Deal Pizza Ever! Smile May 27, 2013   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Fast Food | Pizza & Pasta | Halal

Overview & Venue

Ini pertama kalinya saya mengunjungi dine in resto-nya Domino’s Pizza. Sebelumnya saya hanya tahu mereka punya layanan pesan antar express ataupun pizza express di beberapa food court mal. Awalnya, saya pikir resto mereka ini seperti restoran pizza pada umumnya, kita bisa dining di dalam sambil menikmati makanannya, tapi ternyata oh ternyata mereka mencoba berbeda dari resto pizza yang sudah ada di Indonesia. Kemarin malam saya mengunjungi salah satu gerainya yang terletak di Bellagio Boutique Mal Kuningan. Lokasinya pas di area lobby Bellagioo di samping Jimm’s Café. Saya mungkin gak bisa menyebutnya resto karena tempat ini kecil sekali persis seperti outlet take away pizza. Gerai Domino’s Pizza dari jauh sudah terlihat dengan lampu hias khasnya yang tertempel di jendela bertuliskan Domino’s Pizza yang menyala kelap-kelip. Di bagian depan gerai ini terdapat 4 set meja makan dengan bangku plastik warna merah lengkap dengan mejanya. Lebih tercengangnya saat saya masuk ke bagian dalam, they even don’t have other seat only meja tinggi di sudut sebelah kiri gerai yang kecil ini dengan dua kursi tinggi juga hihihi…Sisanya gerai ini memang seperti take away outlet dengan satu kasir dan deretan display menu di bagian atasnya kemudian saya juga dapat melihat open kitchennya dengan deretan dus-dus pizza mulai dari ukuran small hingga medium.

 
Yang membuat saya tertarik adalah sebuah tong sampah besar di sudut sebelah kiri gerainya bertuliskan “Buanglah bungkus makanan dan minuman Anda setelah selesai”. Wah, kok sampai segitunya, memangnya sering ada orang buang sampah, ternyata saya baru tahu kalau disini kita memang bisa dine in, tapi konsepnya express like take away. Kita tidak akan dilayani dengan waiter yang menghampiri kita tapi dilayani seperti resto fast food umumnya namun benar-benar tidak akan diberikan piring untuk hidangannya! Semua pizza dan makanan lainnya dihidangkan di atas dus ataupun disposal container, tempat makan sekali buang seperti untuk pembungkus lasagne. Hahaha it’s unique I think, soalnya tidak merepotkan waiternya untuk mencuci piring mungkin. Tapi tetap nggak go green karena mereka membuang-buang banyak dus untuk pembungkus makanannya hihi…

 
Menu

Anyway, Domino’s Pizza punya cukup banyak tawaran menu yang membuat saya menelan ludah dan sempat binggung memilih yang mana yang enak hehe…Varian pizza mereka beragam dengan tiga kategori, yaitu Double Decker dengan pilihan pizza classic yang sudah jadi favorit seperti American Classic Cheese Burger, Tasty Spicy Chicken, Delicious Pepper Beef, etc,; Favourite dengan menu pizza seperti Corn Beef, Meat & Meat, Sprinkle Turkey dan Beef Rasher; dan Specialty dengan menu andalan seperti Meatzaa, Hawaian Turkey, Cheese Mania dan Veggie Mania. Oiya untuk crust-nya mereka punya empat pilihan crust, yaitu Double thin crust, classic hand-tossed, crunchy thin crust dan new yor crust. Selain pizza, mereka juga memiliki aneka side dishes seperti Sausage Roll, Chicken Wings, Bread Sticks, Lasagna, Penne Pronto, dll plus dua dessert andalan Choco Lava Cake dan Apple Pie. Yang lebih seru lagi, mereka punya meals package yang luar biasa hematnya, jadi mereka menawarkan paket makan berisi beberapa pilihan pizza, side dishes dan minum dengan harga lebih murah daripada belli menu satuan. Misalnya Value Deal 1 untuk 2-3 orang, hanya dengan Rp50.000 kita bisa mendapatkan pizza medium Classic/Favourite, 1 bread Sticks, dan 1 Liter Soft Drink atau Value Deal 5 misalnya untuk 5-6 orang, dengan hanya dengan Rp104.000 kita sudah bisa mendapatkan 2 medium Classic/Specialty Pizza, 1 liter soft drink, dan 1 bread sticks/cheese roll/sausage roll. Domino’s juga menawarkan promo bulan ini berupa 2 for Tuesday yaitu kita bisa mendapatkan 1 pizza medium gratis jika membeli 1 loyang pizza ukuran medium juga. Wah, seru banget kelihatannya kalau lagi craving for pizza nih!

Food & Beverages

Nah, saking bingungnya memilih, akhirnya saya memutuskan memilih Value Deal 3 untuk dimakan bersama seorang sahabat saya malam itu. Value Deal 3 ini berisi 1 Medium Pizza, 1 Beef Lasagna dan 1 Potato Wedges dan saya hanya membayar Rp86.363 dengan tambahan mineral water dan 10% tax semuanya hanya Rp103.000 saja! Berikut review singkat saya:

American Classic Cheeseburger

 
Pizza ukuran medium ini disajikan dalam kotak pizza dan memiliki 6 potong slices dengan triple cheese layer yang membuat aromanya sudah tercium dari jauh. Untuk toppingnya terdiri dari Tomato Sauce, Beef Rasher, Beef Crumble, Onion, Mustard, Cheddar Cheese, Mozzarella Cheese, Tomatoes, dan Liquid Cheese. Sudah kebayang seperti apa cheesey-nya pizza ini. Saya sangat menyukai tekstur adonan pizza-nya, double thin crust yang tipis tapi padat berisi. Pingirannya sangat crunchy dan bukan seperti adonan roti seperti yang saya temui di pizza a la Indonesia. Triple layer cheese-nya benar-benar melekat dan lelehannya sangat terasa di setiap gigitannya. Saya sampai terpesona dengan aroma dan rasa keju yang begitu pekat saat menggigit pizza ini. Topping beef, tomat, bawang, semuanya melengkapi pizza ini. Ah seriouslu, kalau tahu dari dulu ada pizza dengan cheese topping seenak ini mungkin saya akan sering-sering makan Domino’s Pizza hihihi…

 
Beef Lasagna

Beef Lasagna ini disajikan menggunakan aluminium foil. Tekstur lasagnanya cukup lembut dan terpanggang dengan baik. Ada lelehan cheese di bagian atasnya. Namun sayang saat saya memotongnya sepertinya lapisan lasagne di dalamnya masih terlalu lembek dari ukuran lembek lasagnya pada umumnya dan sedikit berair. Filing daging cincangnya dicampur dengan tomat beserta saus tomat yang gurih namun menurut saya rasa tomatnya terlalu pekat begitu juga dengan cheese-nya. Rasanya buat saya semua ingredients disini terlalu over portion. Keju bercampur tomat yang berlebihan sedikit membuat saya eneg di suapan terakhir.

 
Potato Wedges

I love this simple potatoes. Makanan ini disajikan menggunakan piring kertas seperti umumnya di resto fast food lainnya. Kentangnya digoreng sempurna dengan lapisan luarnya berupa serpihan bubuk keju dan cabe yang gurih, asin, dan sedikit pedas. Ada sedikit aroma dan rasa keju juga saat saya mengigit dan mengunyahnya. Tekstur kentangnya juga well-fried, empuk dan sedikit crunchy di pinggirannya. Love this side dish!

 
Price

Untuk harga saya rasa masih masuk akal. Untuk pizza small range-nya Rp15.445, medium Rp35.000 – 99.000, large mulai dari Rp59.000 – 89.000. Sementara side dishesnya dapat dinikmati mulai dari harga Rp24.000 – 35.000. Dessertnya dapat dijangkau hanya dengan Rp12.000 – Rp16.000 saja. Minuman sih kebanyakan soft drink, standard fast food lah dan harganya juga murah mulai dari Rp6.000 – 9.000. Untuk Value Deal-nya tesedia untuk paket 2-3 orang hingga 5-6 orang dengan harga mulai dari Rp50.000 – 115.000. Very best deal!

Service

I was impressed with their services! Fast food resto memang harusnya cekatan, dan mereka lebih cekatan melayani saya malam itu. Dengan sapaan hangat dan kesabaran menunggu sya yang sibuk memilah-milah menu, saya patut acungi jempol pelayanan kasir dan waiter Domino’s. Makanan juga datangnya pas 15 menit sesuai yang mereka janjikan. Ditambah dengan suasana gerai-nya yang sepi saat itu hanya ad asaya dan teman saya yang sedang makan malam, jadilah acara makan pizza Domino’s Pizza ini sangaaat luar biasa! Will be back for that triple layer cheese crust!
 
Recommended Dish(es):  american classic cheeseburger
 
Date of Visit: May 26, 2013 

Spending per head: Approximately Rp50000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Classic American Bistro  Smile May 27, 2013   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Amerika | Restaurant | Burger

Downtown selalu menjadi pusat bertemunya orang-orang. Pusat kota dimana para pekerja bertemu dan berkumpul menghabiskan waktu mereka. Pusat kota dimana orang-orang yang kesepian hanya menghabiskan waktu mereka disebuah restoran atau kafe sambil berseluncur di dunia maya. Pusat kota dimana sebuah bistro a la American 1950-an berdiri dengan klasiknya di sebuah gedung yang juga menjulang di tengah kota, Landmark Building. Sebutlah Downtown Bistro, sebuah bistro yang telah berdiri setahun lalu ini menempati area belakang Landmark Building, Sudirman dan menspesialisasikan dirinya sebagai a place for working people. Selayaknya New York, Sudirman pu merupakan pusat kota dimana setiap orang pasti butuh tempat singgah setelah lelah bekerja.

 
Bistro yang juga lebih mengarah ke coffee shop bagi para pekerja kantoran ini menghadirkan interior a la Amerika di kala tahun 1950. Klasik, minimalis dan sedikit misterius dengan penerangan yang sangat redup dan memancarkan cahaya cokelat dari pantulan sebagian furniturnya yang juga didominasi cokelat tua. Deretan meja makan dengan perlengkapan makan stainless menyambut saya di bagian tengah ruangan yang bisa dibilang ini area outdoor. Beberapa set sofa juga disediakan untuk duduk santai sambil ditemani semilirnya angina. Di area indoor terdapat lemari buku panjang berisikan buku-buku jaman dahulu, sepintas ruangan ini didesain persis seperti perpustakaan dengan meja dan kursi tinggi juga yang sering terdapat di perpustakaan universitas. Di salah satu sudut lainnya ada little bar dengan gantungan gelas-gelas kaca yang cantik. Sayangnya, dapurnya tertutup jadi pengunjung nggak bisa melihat sibuknya dapur restoran ini.

Downtown Bistro menawarkan beragam menu American untuk menemani waktu santai atau makan malam romantis dengan pasangan kita. Silahkan tengok Downtown Nachos atau atau Asian Beef Salad untuk membuka acara makan kamu. Downtown juga punya bergaman menu appetizer lain yang mayoritas salad dan soup. Pilihan main coursenya juga menarik, The George Steak, The Rocketeer bisa jadi pilihan untuk penyuka grilled beef atau Pan Seared Black Cod atau Fish and Chips bisa jadi pilihan untuk penikmat ikan. Ada aneka pasta juga seperti Jumbo Pesto atau Spicy Tuna yang bisa dipilih serta aneka dessert yang mouth-watering seperti The George Pie sebagai signature dessert mereka. Downtown juga menyediakan pilihan cocktails, decandent chocolate, milkshake, juice atau soda yang menjadi pelengkap makanan disini. Malam itu saya datang bersama teman-teman foodies untuk mencicipi beberapa menu andalan Downtown Bistro secara eksklusif dan dipandu oleh chef-nya langsung. Let’s see what I got from the dinner:

Sebelum makan, Nutella Milkshake (38K) dihidangkan di meja saya. Nutella yang di shake dgn hazelnut ini sungguh surga sebelum saya memulai makan malam. Teksturnya lembut dan aroma nutella serta rasa kacang yang pekat sangat terasa di minuman ini.

Begitu juga dengan Green Tea Milkshake (38K). Rasanya green tea-nya cukup pekat dengan tambahan susu yang juga pas dan tekstur creamy-nya membuat saya makin suka dengna minuman ini.

 
Menu pembuka kali ini adalah Asian Beef Salad (42K). Ini berupa mesclun salad dengan arugula, tomato, ditambah irisan tenderloin yang dimarinated dengan oyster, honey, dan sedikit sesame oil. Untuk garnishnya, Downtown menambahkan wonston skin dan kacang mede. Sedangkan dressingnya berupa campuran season dressing soy sauce, season oil, dan honey. Keseluruhan salad ini enak apalagi dressingnya memberikan efek segar begitu pula potongan dagingnya yang empuk.

 
Dilanjutkan dengan Capuccino Mushroom Soup (30K) yang membuat saya tercengang dengan namanya. Jangan terkecoh dengan namanya, meskipun ada capuccino-nya, ini pure soup bukan kopi. Dinamakan capuccino karena disajikan dalam cangkir dan warna sup-nya memang mirip dengan minuman capuccino. Sup ini memadukan jamur shitake dan champignon yang di blend sempurna sehingga teksturnya selembut cappuccino ditambah dengan milk foam yang membuatnya makin semirip kopi dengan cream di atasnya. Rasanya agak creamy, gurih dan sedikit manis. Simply love it!

 
Downtown Nachos (49K). I love how Downtown made their tortilla chips by themselves. Teksturnya lebih crunchy namun lembut. Mereka juga membuat garnish handmade untuk nachos ini dari potongan jalapeno dan daun cilantro.

 
Masuk ke side menu, saya mencicipi Fish Sandwich (55K). Sandwich dengan roti tebal namun empuk ini diisi dengan ikan Dory yang digoreng tepung yang lembut, foccacia herbs, ice smoked lettuce tanpa dressing. Untuk pelengkapnya ada french fries dan mix salad. Oiya untuk yang bosan dengan french fries, Downtown menyediakan 4 varian olahan kentang seperti mashed potato, potato cakes, potato wedges, dan potato chip.

 
Here’s the main course, The Rockeeter (145K) ini merupakan salah satu signature dish disini. Menu ini terdiri dari Australian Tender Beef marinated with homemade downtown seasoning ditutup dengan arugula, caramelized shallots dan balsamic reduction sauce yang di reduce dengan sugar kemudian disajikan bersama potato chips. Sayangnya, even daging ini digrilled dengan ukuran medium, saya bisa merasakan dagingnya sangat keras/alot. Bahkan saya sampai mengeluarkan sekuat tenaga saya untuk memotong daging yang sudha tipis itu. Hmm…mungkin perlu dikoreksi teknik memasaknya nih Downtown.

 
Pan Seared Black Cod (62K). Gindara fish ini di marinated dengan soy sauce, coriander dan honey. Sementara saus di atasnya terbuat dari miso glazed, dengan garnish cashew nut, leek, dan red chili. Untuk side dishnya mereka meletakkan Asian pickles (asinan) yang terdiri dari parutan carrot, pineaplle, mangga muda dan lettuce. Sayangnya, sama seperti The Rocketeer, ikan ini sepertinya perlu perhatian khusus saat memasaknya. Saya bisa mencium bau amis yang cukup kuat saat memotong dagingnya. Meskipun tekstur ikannya sangat lembut dan segar namun bau amisnya membuat ikan ini tidak terlalu menggugah selera saya.

 
Selanjutnya, untuk penutup dinner, saya disuguhkan dua dessert andalan Diwntown Bistro. Satu yang sangat saya sukai adalah The George Pie (45K). Pie ini merupakan apple pie yang memiliky flaky crust, garing dan lembut. Ditambah dengan cinnamon powder dan kismis serta disajikan dengan vanilla ice cream, dessert ini sungguh menyenangkan perut saya. Aroma apel dan cinnamonnya menyatu dengan sempurna dan tekstur apple yang sudah menyerupa selai di bagian dalam pie-nya juga cukup lembut dan manisnya pas. Please gimme more!

 
Chocolate Mousse Trio (45K) juga menjadi juara dessert mala mini. Cake tiga lapis ini terdiri dari lapisan cokelat, mocca, dan vanilla kemudian diberi garnish white chocolate dan stroberi. Teksturnya seperti ice cream namun padat. Saat saya memakannya, awalnya sedikit padat namun kemudian semuanya meleleh dimulut dengan rasa cokelat, mocca dan vanilla berpadu sempurna, ada rasa pahit dan manis yang menggoyang lidah saya.

 
Terakhir, Espresso Martini (85K) disajikan untuk melengkapi dessert time. Minuman ini merupakan campuran baileys, vodka, absolut blue, dan coffe. Rasanya lebih pekat ke rasa baileys dan coffe. Creamy namun menghangatkan badan. Love it!

 


Dengan begitu banyak pilihan makanan khas America dan lokasi yang strategis, tak salah jika Downtown juga memasang harga yang cukup tinggi namun worth to spend. Menu appetizer dapat dinikmati mulai dari Rp41.000 – 47.000 sementara main coursedapat dinikmati mulai dari Rp63.000 – 160.000. Aneka pasta mulai dari Rp57.000 – 67.000 dan dessert dapat dinikmati mulai dari Rp45.000 – 55.000.

Pelayanan disini buat saya sih cukup ramah dan kekeluargaan. Chef-nya dengan sabra menceritakan teknik memasak setiap menu yang disajikan kepada kami malam itu. Dengan segala komentar dari kami tentang masakannya pun, si chef dan marketingnya tetap opened dan menerima segala masukkan. Makanan pun datangnya dalam porsi wkatu yang pas 15 – 20 menit. Saya menikmati acara makan malam mini namun terus meninggalkan pertanyaan mengapa daging yang dimasak medium bisa sebegitu kerasnya ya? Well, Downtown has the answer. I wish when I comeback here I will get the Rocketeer flies me like a rocket to the heaven of delicious food hahaha!

 
 
Recommended Dish(es):  nutrella milkshake,asian beef salad
 
Date of Visit: May 16, 2013 

Spending per head: Approximately Rp100000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jepang | Restaurant | Ramen | Kumpul Keluarga

Overview & Venue

Ramen masih terus datang silih berganti, seperti my latest post, kali ini saya memuaskan rasa penasaran saya akan gerai ramen terbaru dibilangan Taman Ratu, Green Ville, Jakarta Barat. Ramen ini sedang menjadi pembicaraan hangat dikalangan foodies, tidak hanya rasanya yang otentik, namun keramahan dan how low profile the owner-nya pun membuat semua orang ingin kembali kesini. Sambil ditemani hujan deras kala itu, kaki saya melangkah masuk ke sebuah gerai yang dari depannya tidak akan tampak jika kita tidak jeli. Lokasi gerainya ini memang terapit dua ruko yang juga sama-sama kecil disepanjang jalan Taman Ratu. Namun, jika kita jeli, carilah ruko dengan plang bertuliskan huruf Jepang dan kata-kata Tsurukamedou. Disitulah sebuah resto ramen yang baru lahir beberapa bulan dan sudah dibicarakan banyak orang itu. Restonya kecil mirip dengan tipikal kedai ramen pinggir jalan di Jepang hanya saja dengan tampilann lebih modern. Susunan set meja makan kayu berwarna cokelat muda membuat resto ini terkesan minimalis. Pencahayaannya yang kuning juga makin membuat resto ini hangat dan bersahabat. Open kitchennya membuat pengunjung bisa dengan bebas melihat pembuatan ramennya atau chef asal Jepang asyik meracik ramen untuk kita. Jika bosan, bisa membaca majalah-majalah berbahasa Inggris dan Jepang yang tersedia di depan meja kasir.

 
Saya dan teman-teman langsung disambut hangat oleh sang pemilik yang sangat-sangat low profile dan ramah. Awalnya saya malah tidak tahu kalau ownernya ada diantara kami, karena dia ikut berdiri di depan pintu sambil membantu beres-beres meja juga. Tidak lama kemudian beliau baru menyapa saya dan teman-teman kemudian menceritakan sekilas tentang resto asal Nagoya yang sudah memiliki 8 cabang ini. Kata Tsurukamedou sendiri berasal dari dua pendekar Tsuru dan Kame, Tsuru merupakan pendekar Bangau sedangkan Kame merupakan pendekar kura-kura. Keduanya terinspirasi dari serial Dragon Ball. Resto ini terkenal dengan Hakata Style Super Tonkotsu Ramen-nya yang tidak menyajikan banyak menu hanya pure ramen tradisional dengan beberapa side dish dan aneka topping tambahan. Hal ini dilakukan untuk menjaga citarasa ramennya sampai-sampai kuah ramennya pun harus digodok selama dua hari.

 
Saya setuju sekali dengan kejujuran si pemilik Tsurukamedou apalagi saya bukan seorang ramen judge hanya seorang penikmat, maka saya menikmati malam itu tanpa harapan apa-apa, karena saya tahu dari sebuah keramahan dan kejujuran, saya pasti yakin ramen disini pun akan berbicara jujur. Setelah kami memesan makanan, si pelayan langsung meneriakkan menu yang kami pesan dengan cara berteriak kepada staf di dapur dan kemudian staf di dapur tersebut membalas dengan kata ‘Hai’ atau ‘Ya’ dalam bahasa Jepang. Unik sekali kedengarannya, tapi itulah cara Tsurukamedou berbeda dari yang lainnya.

 
Menu

Karena mereka mengandalkan keotentikan Hakata style, maka menu yang ditawarkan disini pun sangat terbatas. Mereka hanya punya Tonkotsu Ramen dengan base kuah daging babi dan Tori Ramen dengan base kuah daging ayam. Kesemuanya dapat dipesan dengan tambahan topping dan ras akuah yang spicy atau non spicy. Mereka juga punya Chahan dengan empat pilihan ebi, tori, buta, dan shinsen. Sedangkan untuk snacknya mereka punya Tori Kaarage, Tori Katsu, Gyoza dengan tiga pilihan filing yaitu buta, tori, dan ebi yang bisa di grilled ataupun di goreng dan aneka snacks lainnya. Dessert pun hanya berupa compliment Manngo Jelly. Minuman juga terbatas dan ocha yang free refill tentunya jadi jualan utama mereka,

Food & Beverages

Malam itu dibuka dengan segelas ocha hangat yang menghangatkan tubuh saya, disusul dengan sepiring Ebi Gyoza (32K). Cemilan khas gerai ramen ini disajikan enam pieces tiap piringnya. Kita bisa memilih filingnya dan teknik memasaknya, ada yang buta (babi), tori (ayam), dan ebi (udang ebi) baik di fried atau grilled. Ebi Gyoza disini memiliki kulit gyoza yang sangat lunak dan lembut sampai-sampai harus hati-hati memegangnya. Aroma jahe sudah tercium sebelum saya menggigitnya dan semakin kuat saat saya membuka dan mengigit bagian dalamnya. Potongan ayam cincang yang gurih berpadu pas dengan aroma jahenya. I simply love this dish!

 
Tori Kaarage (32K)

Tori Kaarage juga mencuri perhatian saya, daging paha ayam yang dipotong kecil-kecil dan digoreng dengan tepung hingga garing ini benar-benar cemilan yang menyenangkan. Daging paha ayamnya cukup tebal dan saya tidak menemukan sagu yang saya temukan apda Tori Kaarage di ramen resto sebelumnya. Biasanya sagu didalam kaarage dibuat untuk ‘menggemukkan’ tampilan si kaarage, tapi Tsurukamedou tak perlu tambahan sagu, dagingnya yang tebal dan tepung yang crunchy sudah membuat kaarage ini jadi juara. Rasanya gurih namun tiba-tiba berubah jadi pedas hehehe…saya nggak menyangka spicy-nya justru jadi after taste, tapi untung nggak terlalu pedas, jadi masih bisa saya makan. Tori Kaarage ini disajikan dengan coleslaw dengan dressing asin khas Hakata style. Refreshing!

 
Tori Katsu (32K)

Chicken Katsu disini juga tidak tebal karena tepung, tapi ayamnya. Dagingnya memang tebal dan empuk dibalut tepung yang digoreng sangat crunchy dan nggak berminyak. Wah, rasa-rasanya saya sanggup menghabiskan cemilan ini sendirian nih!

 
Tori Ramen (45K)

Berhubung saya tidak mengkonsumsi daging babi, akhirnya saya pilih Tori Ramen. Ramen berkuah ayam ini disajikan dengan potongan ayam, telur setengah matang, nori, jamur dan daun bawang cincang. Saya suka bagaimana mereka memadukan mie ramen yang tipis dengan kuah tidak terllau pkeat namun sangat gurih dan kaya akan kaldu ayam. Saya bahkan sampai menyeruput berkali-kali kuahnya tanpa mie ramennya hahaha! Dibanding kuah ramen otentik Jepang yang saya coba sebelumnya, kuah Tsurukamedou asinnya masih netral dan nggak butuh tambahan kaldu lagi dan yang pasti nggak bikin tenggorokan saya kering dan haus karena ada beberapa kuah ramen yang kandungan MSG-nya tinggi sampai-sampai asinnya bikin haus. Potongan daging ayamnya juga tebal dan lembut. It’s just perfect for non spicy lover!

 
Spicy Tori Ramen (45K)

Ramen versi pedas ini hampir mirip dengan ramen yang tidak pedas. Hanya saja toppingnya berbeda. Spicy Tori Ramen ini hanya bertopping potongan daging ayam, tauge, dan daun bawang cincang. Kuahnya cukup pekat dan pedasnya menusuk lidah. Wah, ini bukan tipe saya, nggak kuat nyeruput kuahnya hehehe….

 
Ebi Chahan (32K)

Nasi goreng Jepang ini disajikan dengan empat pilihan topping ebi, tori, shinsen dan buta. Saya mencicipi yang Ebi Chahan. Saya suka sekali dengan cara mereka memasak nasi goreng ini hingga tidak berminyak, lembut namun tidak lembek. Nasinya pulen dengan aroma ebi dan rasa ebi yang cukup kuat bercampur rasa gurih dari bumbu rahasia Jepang yang langsung memenuhi mulut saya. Nasi goreng ini juga dicampur dengan telur orak-arik dan potongan daun bawang. Simple yet tasty!

 
Mango Jelly

Setelah puas nyobain ramen, kami diberikan complimentary Mango Jelly yang kenyal dan rasanya segar. Aroma manga dan rasa mangganya begitu terasa di jellynya. Perfect closing for tonight!

 
Price

Menikmati ramen disini juga tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Harga semangkuk ramen disini berkisar antara Rp45.000 – 59.000. Untuk aneka snacks seperti gyoza, tori kaarage dan chicken katsu dapat dinikmati dengan harga hampir sama Rp32.000.

Service & Conclusion

Saya merasa seperti punya keluarga disini. Makan bersama teman-teman didampingi dengan owner yang begitu kekeluargaan, dan makanan yang benar-benar jujur apa adanya dan berhasil membuat saya terpesona. Mungkin beginilah seharusnya sebuah authentic restaurant, bukan hanya masakannya yang diutamakan tapi juga bagaimana membuat pengunjung merasa benar-benar ‘dirumah’. Pelayanann mereka sangat cepat, setelah si pelayan berteriak, makanan kami datang hanya 15 menit setelahnya. Ownernya pun ikut membantu kami menawarkan makanan yang menurut dia recommended. I believe that Tsurukamedou need neither a fancy place nor a happening area, the honest taste of Tsurukamedou will bring you a loyal customer in the future. Sure I'll be back here someday!
 
Recommended Dish(es):  tori kaarage
 
Date of Visit: May 19, 2013 

Spending per head: Approximately Rp50000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 5  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
   1 Vote(s)   View Results
Recommend
0

Jadi Tahanan Bahagia Sehari Smile May 22, 2013   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Kopitiam | Kencan / Berpasangan | Kumpul Keluarga

Overview & Venue

Suatu hari ada dua orang sahabat bernama Kim dan Bong yang terpisah karena Kim harus mendekam di penjara akibat kesalahan yang tidak dilakukannya. Karena kesetiaannya, Bong memutuskan menemani Kim dengan menjadi koki di penjara tersebut. Tak disangaka, masakan mereka terkenal enak hingga membuat 3 buronan bernama Lee, Ming dan Ken menyerahkan diri dan akhirnya menutup penjara tersebut dan membuka restoran bernama Bong Kopitown.
Sekilas cerita di atas membuat saya terbayang-bayang suasana penjara dan seperti apa masakan Bong dan Kim yang mampu membuat 3 buronan relamenyerahkan diri tersebut. Bong Kopitown, sebuah restoran yang terbilang baru dibilangan Kelapa Gading ini memang berhasil membawa pengunjungnya terkesima dengan cerita khayalan tentang asal muasal restoran ini. Memang cliché tapi saat mengunjungi restoran ini, saya seperti dibawa masuk ke Hongkong tahun 1967 dimana penjara pada jaman itu terkesan sangat kuno dan kumuh, namun Bong Kopitown tetap mencampurkannya dengan gaya modern. Dimulai di pintu masuknya saya sudah disuguhi aneka barang-barang tempo dulu seperti mesin ketik usang dan beberapa buku-buku jaman dahulu. Masuk ke lantai kedua, area tangganya dihias dengan teralis persis seperti di penjara dan kitapun juga disambut dengan waiter yang berpakain ala tahanan penjara dengan baju bergaris hitam putih. Di salah satu sudutnya terdapat buffet yang berisikan barang-barang kuno. Kapasitas meja disini kira-kira cukup untuk menampung hingga 200 orang.

 
Menu

Resto yang memiliki tagline The Happiest Prisoner on Earth ini mencoba meyakinkan penikmat kuliner kalau di penjara pun kita bisa tetap makan enak. Restoran ini membawa hidangan chinese dan peranakan a la rumahan seperti Singapore Laksa Noodle, Wonton Noodle Soup, Char Kway Teow atau Grandma Porridge. Mereka juga memiliki Kongkow Menu seperti Toast, Cassava with Coconut Milk, Fried Mantau hingga Boiled Eggs. Tak lupa menu andalan mereka, menu Buronan yaitu Ote-Ote, Choi Pan dan Ham Pan dan Nasi Penjara yang benar-benar mengingatkan akan sederhananya sebuah penjara.

Food & Beverages

Setinggi rasa penasaran saya dan seramah pelayanan para sipir penjara, saya merasakan ternyata ada nikmatnya juga masakan a la penjara berikut ini:

Ote-Ote (14K)

Menu buronan Lee ini bahkan tidak diketahui isinya oleh sang owner. Tapi ya setelah dimakan akhirnya ketahuan juga hehe.. Si Ote-ote ini tampilannya mirip pangsit goreng hanya saja ada isinya dan isinya berupa sayura-sayuran dengan campuran ebi dan sedikit rasa asin ebi namun ada after taste manisnya juga. Kulitnya crunchy, cocok banget buat cemilan apalagi dimakannya dicocol dengan sambal cair khas Bong Kopitown.

Choi Pan (14K)

Menu buronan Ming ini sepintas mirip dim sum, namun aslinya makanan ini berasal dari Singkawang. Tekstur kulit luarnya sangat lunak, lembut dan cenderung hambar namun gurih setelah dikunyah. Bagian dalamnya berupa sayuran seperti isian Ote-ote. I love it karena mengingatkan saya pada dim sum.

 
Ham Pan (14K)

Menu buronan Ken ini sebenarnya agak aneh tapi unik. Ham Pan merupakan bubur sumsum yang gurih dan sedikit manis dengan topping sayuran seperti isian Ote-ote. Buat saya rasanya aneh sekali bubur sum-sum yang manis dicampur dengan rasa asin sayuran hehehe….

 
Singkawang Rojak (18K)

Lagi-lagi makanan dari Singkawang dan kali ini rujak dengan ebi dan emping sebagai toppingnya. Wah, belum pernah saya melihat seperti ini nih. Tekstur bumbu kacang untuk sambalnya tidak diblender halus, justru kacang yang masih kasar itu menimbulkan sensasi makan rujak yang berbeda. Sambalnya tidak terlalu pedas dan disajikan dengan buah seperti kedondong, mangga muda, mentimun, dll.

 
Claypot Rice Beef (29K)

Seporsi claypot rice ini berisi nasi yang ditutup dengan potongan daging sapi, jagung, brokoli dan telur orak-arik. Porsinya cukup besar untuk 1 orang. Cara makannya lebih enak jika diaduk bersamaan. Tekstur dagingnya cukup lembut dan ada sedikit rasa saus barbeque didalamnya, sementara jagung, brokoli dan telurnya menjadi pelengkap yang pas.

 
Grandma Porridge Udang Ayam (18K)

Grandma Porridge ini punya tiga pilihan topping, yaitu seafood, chicken atau telur phitan. Yang saya coba kali ini bertopping seafood yang berupa udang dan ayam ditambah dengan potongan pangsit goreng dna daun bawang. Tekstur buburnya lembut sekali, rasanya pun gurih, begitu juga dengan potongan udangnya tidak amis. Ah gak ada yang lebih nikmat memang selain bubur dengan topping yang pas!

 
Bong Fried Rice Seafood (27K)

Nasi goreng ini juga punya tiga pilihan, nasi goreng seafood, daging atau ayam. Saya mencicipi nasi goreng seafoodnya dan buat saya rasanya lumayan. Nasinya pulen dan tidak terlalu berlemak, ditambah dengan irisan seafood seperti cumi dan udang yang tidak amis. Rasa nasi gorengnya mirip perpaduan kecap dengan bumbu pedas khas masakan Chineses yang aroma agak tajam. Disajikan dengan emping, potongan mentimun dan tomat.

 
Penang Fried Noodle (28K)

Tipikal mie a la Malaysian ini memang bertekstur tebal namun lembut. Rasa pedas dan manis cukup terasa di mie goreng ini. Toppingnya berupa potongan baso, ayam, udang dan cumi. Saya suka dengan bumbu a la Penang yang mereka gunakan. Kuat sekali aromanya. Enak deh!

 
Singapore Laksa Noodle (28K)

I love Laksa, baik asli Indonesia atau Singapur apalagi yang punya kuah pekat, gurih dan sedikit pedas dan Singapore Laksa Noodle a la Bong Kopitown ini juara buat saya. Kuah santannya sangat pekat dan terasa seperti kari India namun tidka terlalu pedas. Mie yang digunakan sama dengan mie yang dipakai pada Penang Fried Noodle, agak tebal namun lunak dan lembut. Ditambah dengan irisan ayam, potongan telur, udang, dan irisan daun bawang. Perfect!

 
Nasi Penjara (23K)

This is what makes me wanna stay in prison hahaha! Nasi Penjaranya benar-benar seperti makanan di penjara. Disajikan dalam piring aluminium tipis yang suka dipakai di rumah skait dna penjara, membuat masakan ini makin mirip seperti di penjara. Aslinya ini hanya nasi yang disiram dengan semacam kuah pada kwetiaw siram, kuah sagu yang sedikit pekat dengan sayuran seperti kol, jagung, baso, dan irisan ayam. Kuahnya sangat gurih dan benar-benar pas dicampur dengan nasi. Suka banget sama nasi penjara ini!

 
Untuk menyegarkan tenggorokan saya mencicipi Lychee Ice Tea (17K). Minuman ini sangat segar sekali buat saya. Perpaduan teh dan sirup lecinya pas. Tehnya tidak terlalu pahit dan saya masih bisa merasakan rasa leci yang manis serta aroma teh yang juga wangi.

 
Teh Tarik (15K)

Minuman yang disajikan dingin ini memang sangat khas peranakan Melayu yang sudah familiar di lidah orang Indonesia. Minuman ini memang hanya campuran teh dengan susu dan untungnya disini campurannya pas. Biasanya saya menemukan yang susunya tidak terasa atau tehnya terllau pekat, tapi Bong membuat saya menyeruput teh dengan rasa susu yang sempurna!

 
Price

Makanan a la penjara disini juga disesuaikan dengan kantong setiap orang, berhubung konsep mereka lebih ke kafe, makanya harganya pun sangat terjangkau. Aneka menu Kongkow dapat dinikmati dari harga Rp14.000 – 15.000, menu Buronan Rp14.000, menu utama Rp23.000 – 27.000, aneka minuman Rp6.000 – 20.000. Kalau mau lebih hemat lagi, kita bisa menikmati menu Tertangkap Basah Berdua, dengan hanya Rp19.500 per orang exclude tax dan service charge, kita bisa menikmati 1 menu pilihan plus Ice Tea.

Pelayanan

Jadi tahanan disini sangat dimanjakan sama sipir-sipirnya heheehe…Walaupun berbaju ala tahanan, si pelayan yang harusnya jadi tahanan justru jadi sipir yang melayani pengunjung hehehe…Saat saya kesini kebetulan ketemu dengan marcomm-nya, dia bahkan sangat ramah dan menjelaskan ke saya asal muasal penjara Bong ini. Dengan harga yang murah dan masakan yang juga familiar di lidah saya rasa setiap orang yang kesini bakal jadi the happiest prisoner on earth. Well, wanna try to be a happiest prisoner, silahkan cari Bong Kopitown di Kelapa Gading.
 
Recommended Dish(es):  Singapore Laksa,Nasi Penjara
 
Date of Visit: May 11, 2013 

Spending per head: Approximately Rp25000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 2

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
   1 Vote(s)   View Results
Recommend
0

Failed Rustic American Cry May 21, 2013   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Kafe | Steak & Grills | Bubble Tea / Jus | Kencan / Berpasangan | Hang Out

Overview

Saya teringat percakapan saya dengan beberapa food blogger beberapa hari lalu dan hampir semua setuju kalau kebanyakan restoran baru di Jakarta hanya fokus pada lokasi dan ambience bukan pada signature dishes yang harusnya menjadi ciri khas sebuah restoran. Ya, mungkin ada segelintir saja yang memang fokus pada makanannya dan sayangnya kebanyakan penduduk kota ini lebih mengutamakan urusan ‘tempat’ daripada ‘perut’. Sejak makin mantap di dunia food blogging saya semakin bisa membedakan mana restoran yang memang focus pada makanannya mana yang focus menjual tempatnya. Dan baru saja dua hari lalu saya ‘terjebak’lagi dalam restoran yang hanya focus pada tempat.

 

 
Venue

Bicara soal pemilihan lokasi, restoran yang menamakan dirinya 19th Avenue Kitchen & Bar ini cukup cerdik memilih daerah Taman Ratu, Green Ville dimana disepanjang jalan ini berdiri beragam restoran dan kafe. Keseluruhan interiornya pun dibuat a la Rustic American di era 20-an. Dari mulai pintu masuknya, mereka tidka menggunakan pintu melainkan sebuah gerbang geser seperti di sebuah gudang atau garasi dan berhasil membuat saya bingung bagaimana cara memasukinya hehe…ternyata dari dalam ada waiter yang siap membukakan untuk tamu yang datang ke restoran dengan dua lantai ini. Suasana temaram dengan lampu gantung bergaya industrial, bohlam kuning di dalam sebuah kerangka terbuat dari kawat yang dibentuk unik, langsung menyambu setiap pengunjung. Di bagian tengah mereka malah memberanikan diri memasang lampu hias besar nan mewah seperti yang biasa dipakai di ballroom sebuah hotel dan membuat area ini terkesan sophisticated. Ada bar dengan tulisan HEY AWESOME berhias lampu yang menyala menambah kesan Rustic American semakin kental. Di lantai dua terdapat area indoor dengan kapasitas kursi hingga 100 orang dan area outdoor kecil dengan dinding batu koral yang justru lebih mendekat ke nuansa alam.

 

 
Suasana disini memang sangat nyaman seolah membawa setiap pengunjungnya berada di era Rustic American. Uniknya lagi di setiap meja makan mereka meletakkan sebuah kertas permainan acak kata yang berguna sekali untuk mengisi waktu sambil menungu pesanan datang. Sayangnya, semua kenyamanan dan gemerlapnya abad 20 itu hanya sebuah ilusi di mata tidak untuk di perut saya.

Menu

19th avenue memang menawarkan beragam menu western, mulai dari soup dan salad; light bites seperti bruschetta dan friench fries; aneka pasta seperti creamy salmon, meat in balls, 19th avenue pasta yang kesemuanya bisa based on your preferences bisa spaghetti, fettuccine atau penne; Asian menu seperti Oxtail Fried Rice, Homemade Ribs Soup, Hainan Chicken Rice; Grill section seperti Salamony Salmon, Mc tender 200gr, atau Grilled Chicky; Aneka pizza dan West Side dengan English breakfast dan mini burger sebagai andalannya; hingga Dessert seperti Sweet I’m Sweet atau Chocolate Lava Cake. Untuk minumannya juga beragam, mulai dari aneka tea, coffee, smoothies, milkshake hingga beer. Sayangnya, entah mengapa beberapa menu yang saya cicipi berikut ini sama sekali tak sepadan dengan gemerlapnya Rustic American.

Food & Beverages

Going Nuts Smoothies (20K). Terbuat dari campuran hazelnut, susu, es krim dengan potongan almond dan marshmallow sebagai topping. Untuk pembuka, buat saya minuman ini enak. Perpaduan cokelatnya pas, teksturnya lembut dan creamy namun nggak terlalu manis apalagi ada potongan almond yang sangat saya sukai. But the worst part is teman saya yang juga memesan minuman ini menemukan potongan plastik di dalamnya! How come 19th avenue! I’m just trying to be honest for this part. Secara ini pertama kalinya saya menemui kecerobohan seperti ini. Euw I’m speechless, saat pihak resto mengakui kesalahannya pun saya rasa saya bisa menerimanya tapi masih terheran-heran bagaimana caranya plastik es bisa tak terlihat dan masuk ke dalam gelas sih!

 
Rise and Shine (20K) ini merupakan campuran dari nanas, stroberi, pisang, jeruk dan yoghurt. There no shine melainkan hanya satu kata. Asam! This is not into me. Campuran buah-buahannya nggak membuat smoothies yang pekat ini segar, hanya asam yang pekat di lidah saya. Mungkin 19th Avenue perlu menambahkan sedikit gula.

 
19th Avenue Punch (26K) untungnya bisa menetralkan minuman sebelumnya. Campuran grenadine syrup, sprite, lime dan stroberi ini memang menyegarkan tenggorokan, rasa asam dan manisnya pas.

 
Creamy Salmon Fettuccine (52K). Pasta fettuccine ini dibalut dengan saus yang cukup pekat dan creamy. Cukup gurih dan sedikit manis. Taburan daging salmonnya juga cukup empuk. Hanya saja menurut saya cream-nya terlalu pekat dan tekstur fettuccine-nya agak keras hingga di suapan terakhir saya merasa eneg dan penuh.

 
Pesto Spaghetti (48K). Pasta dengan saus pesto ini cukup gurih, hanya saus pesto-nya masih belum autentik masih terlalu creamy meskipun rasanya enak. Sayang saya tidak berhasil memotretnya karena pencahayaannya parah sekali disini.

Raviolli Scoglio (47K). Ah sayang sekali pasta ini tidak secantik penampilannya. Raviolli-nya overcooked sampai-sampai teksturnya sangat ‘benyek’, daging cincang di bagian dalamnya pun tidak terasa gurih. Dan mussels yang menjadi dippingnya pun masih tercium bau amis.

 
19th Avenue Sauce Spaghetti (35K). Sausnya sedikit hambar dan terlalu kental dengan aroma dan rasa tomat, justru cenderung seperti saus pasta instan yang sering saya temui di supermarket. Tekstur spaghettinya cukup lembut dan chicken teriyaki di atasnya cukup juicy dan crunchy bagian kulitnya.

 
Gindara Teriyaki (49K). Dari sekian jenis makanan yang saya coba sebelumnya, Gindara Teriyaki ini masih lebih baik daripada seporsi pasta yang so so menurut saya. Tekstur gindaranya juicy dan saus teriyakinya gurih dan manis. Gindara Teriyaki ini juga dilengkapi dengan nasi dan salad yang cukup mengenyangkan perut.

 
Cheese Burger (48K). Porsinya lumayan besar dengan French fries sebagai pelengkapnya. Sayangnya, even burger ini terlihat besar dan menggiurkan beef di bagian dalamnya terasa biasa saja cenderung hambar dan tidak ada tambahan saus didalamnya. Keseluruhan burger ini sebelum ditambahkan saus yang banyak menurut saya plain. Untungnya, French fries-nya masih menolong, tidak terlalu asin namun garing.

 
Price

Harga makanan dan minuman disini masih terjangkau menurut saya, hanya kalau sudha melihat porsi dan rasanya menurut saya sih berlebihan. Makanan dapat dinikmati mulai dari Rp27.000-98.000, sedangkan minumannya dapat dinikmati mulai dari Rp15.000-26.000, untuk beer dijual tergantung jenis dan ukuran botolnya rata-rata berkisar antara Rp22.000-75.000 dan untuk per basketnya bisa sampai 300.000.

Service

Servisnya tidak memuaskan buat saya. Saya kan kesini datang bersama teman-teman atas undangan mereka. Sampai disini pun kami hanya disambut ala kadarnya dan langsung ditawarkan untuk memesan makanan yang jumlahnya pun dibatasi. 1 orang hanya boleh 1 makanan dan minuman, itupun makanannya hanya boleh aneka pasta dan menu Asian yang harganya tidak di atas 70 ribu. Tidak ada perkenalan apapun tentang resto ini, bagaimana acara food tasting ini berjalan, sambutannya sangat biasa saja, seolah mereka menjual mahal sekali restorannya. Saat tragedy plastik es di dalam smoothies pun awalnya waiternya seolah menganggap ini hal biasa, kemudian barulah datang marketingnya dan meminta maaf kemudian menjelaskan masalahnya. Saat saya dan teman-teman blogger pulang pun mereka hanya menyalami kami tanpa basa-basi apapun yang menurut saya tidak ramah sama sekali. Well, this is very awkward food tasting ever buat saya.

Overall, saya hanya ingin memberi masukkan kepada 19th Avenue untuk lebih teliti lagi dalam menyajikan makanannya dan treating their customers. Bagaimanapun juga restoran akan maju jika mereka menghargai pengunjungnya. Well, this is my opinion, how about you, eaters?!
 
Recommended Dish(es):  going nuts smoothies
 
Date of Visit: May 19, 2013 

Spending per head: Approximately Rp45000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 2  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 2  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0