OpenRice Index
  
ichakhairisa
This is ichakhairisa living in Cilincing. I am a Editor, work in Kuningan. I like to hang out in Sudirman, Kelapa Gading, Kuningan. Betawi, Jawa, International food are my favorite cuisines. I also love Chocolate / Candy Shop, Kedai Kopi & Teh and Es Krim/Yogurt, Dessert, Soto/Rawon, Dim Sum, Salad.
Member 98 First(s)
No. of Review218 Review(s)
編輯推介數目148 Editor's Choice
Recommended16 Recommended
Popularity11495 View(s)
Replies in Forum5 Comment(s)
Upload Photos1216 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant2 My Restaurant(s)
Follow1 Following
粉絲1312 Follower(s)
ichakhairisa  Level 4
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 1 to 5 of 218 Reviews in Indonesia
Failed Rustic American Cry May 21, 2013   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Kafe | Steak & Grills | Bubble Tea / Jus | Kencan / Berpasangan | Hang Out

Overview

Saya teringat percakapan saya dengan beberapa food blogger beberapa hari lalu dan hampir semua setuju kalau kebanyakan restoran baru di Jakarta hanya fokus pada lokasi dan ambience bukan pada signature dishes yang harusnya menjadi ciri khas sebuah restoran. Ya, mungkin ada segelintir saja yang memang fokus pada makanannya dan sayangnya kebanyakan penduduk kota ini lebih mengutamakan urusan ‘tempat’ daripada ‘perut’. Sejak makin mantap di dunia food blogging saya semakin bisa membedakan mana restoran yang memang focus pada makanannya mana yang focus menjual tempatnya. Dan baru saja dua hari lalu saya ‘terjebak’lagi dalam restoran yang hanya focus pada tempat.

 

 
Venue

Bicara soal pemilihan lokasi, restoran yang menamakan dirinya 19th Avenue Kitchen & Bar ini cukup cerdik memilih daerah Taman Ratu, Green Ville dimana disepanjang jalan ini berdiri beragam restoran dan kafe. Keseluruhan interiornya pun dibuat a la Rustic American di era 20-an. Dari mulai pintu masuknya, mereka tidka menggunakan pintu melainkan sebuah gerbang geser seperti di sebuah gudang atau garasi dan berhasil membuat saya bingung bagaimana cara memasukinya hehe…ternyata dari dalam ada waiter yang siap membukakan untuk tamu yang datang ke restoran dengan dua lantai ini. Suasana temaram dengan lampu gantung bergaya industrial, bohlam kuning di dalam sebuah kerangka terbuat dari kawat yang dibentuk unik, langsung menyambu setiap pengunjung. Di bagian tengah mereka malah memberanikan diri memasang lampu hias besar nan mewah seperti yang biasa dipakai di ballroom sebuah hotel dan membuat area ini terkesan sophisticated. Ada bar dengan tulisan HEY AWESOME berhias lampu yang menyala menambah kesan Rustic American semakin kental. Di lantai dua terdapat area indoor dengan kapasitas kursi hingga 100 orang dan area outdoor kecil dengan dinding batu koral yang justru lebih mendekat ke nuansa alam.

 

 
Suasana disini memang sangat nyaman seolah membawa setiap pengunjungnya berada di era Rustic American. Uniknya lagi di setiap meja makan mereka meletakkan sebuah kertas permainan acak kata yang berguna sekali untuk mengisi waktu sambil menungu pesanan datang. Sayangnya, semua kenyamanan dan gemerlapnya abad 20 itu hanya sebuah ilusi di mata tidak untuk di perut saya.

Menu

19th avenue memang menawarkan beragam menu western, mulai dari soup dan salad; light bites seperti bruschetta dan friench fries; aneka pasta seperti creamy salmon, meat in balls, 19th avenue pasta yang kesemuanya bisa based on your preferences bisa spaghetti, fettuccine atau penne; Asian menu seperti Oxtail Fried Rice, Homemade Ribs Soup, Hainan Chicken Rice; Grill section seperti Salamony Salmon, Mc tender 200gr, atau Grilled Chicky; Aneka pizza dan West Side dengan English breakfast dan mini burger sebagai andalannya; hingga Dessert seperti Sweet I’m Sweet atau Chocolate Lava Cake. Untuk minumannya juga beragam, mulai dari aneka tea, coffee, smoothies, milkshake hingga beer. Sayangnya, entah mengapa beberapa menu yang saya cicipi berikut ini sama sekali tak sepadan dengan gemerlapnya Rustic American.

Food & Beverages

Going Nuts Smoothies (20K). Terbuat dari campuran hazelnut, susu, es krim dengan potongan almond dan marshmallow sebagai topping. Untuk pembuka, buat saya minuman ini enak. Perpaduan cokelatnya pas, teksturnya lembut dan creamy namun nggak terlalu manis apalagi ada potongan almond yang sangat saya sukai. But the worst part is teman saya yang juga memesan minuman ini menemukan potongan plastik di dalamnya! How come 19th avenue! I’m just trying to be honest for this part. Secara ini pertama kalinya saya menemui kecerobohan seperti ini. Euw I’m speechless, saat pihak resto mengakui kesalahannya pun saya rasa saya bisa menerimanya tapi masih terheran-heran bagaimana caranya plastik es bisa tak terlihat dan masuk ke dalam gelas sih!

 
Rise and Shine (20K) ini merupakan campuran dari nanas, stroberi, pisang, jeruk dan yoghurt. There no shine melainkan hanya satu kata. Asam! This is not into me. Campuran buah-buahannya nggak membuat smoothies yang pekat ini segar, hanya asam yang pekat di lidah saya. Mungkin 19th Avenue perlu menambahkan sedikit gula.

 
19th Avenue Punch (26K) untungnya bisa menetralkan minuman sebelumnya. Campuran grenadine syrup, sprite, lime dan stroberi ini memang menyegarkan tenggorokan, rasa asam dan manisnya pas.

 
Creamy Salmon Fettuccine (52K). Pasta fettuccine ini dibalut dengan saus yang cukup pekat dan creamy. Cukup gurih dan sedikit manis. Taburan daging salmonnya juga cukup empuk. Hanya saja menurut saya cream-nya terlalu pekat dan tekstur fettuccine-nya agak keras hingga di suapan terakhir saya merasa eneg dan penuh.

 
Pesto Spaghetti (48K). Pasta dengan saus pesto ini cukup gurih, hanya saus pesto-nya masih belum autentik masih terlalu creamy meskipun rasanya enak. Sayang saya tidak berhasil memotretnya karena pencahayaannya parah sekali disini.

Raviolli Scoglio (47K). Ah sayang sekali pasta ini tidak secantik penampilannya. Raviolli-nya overcooked sampai-sampai teksturnya sangat ‘benyek’, daging cincang di bagian dalamnya pun tidak terasa gurih. Dan mussels yang menjadi dippingnya pun masih tercium bau amis.

 
19th Avenue Sauce Spaghetti (35K). Sausnya sedikit hambar dan terlalu kental dengan aroma dan rasa tomat, justru cenderung seperti saus pasta instan yang sering saya temui di supermarket. Tekstur spaghettinya cukup lembut dan chicken teriyaki di atasnya cukup juicy dan crunchy bagian kulitnya.

 
Gindara Teriyaki (49K). Dari sekian jenis makanan yang saya coba sebelumnya, Gindara Teriyaki ini masih lebih baik daripada seporsi pasta yang so so menurut saya. Tekstur gindaranya juicy dan saus teriyakinya gurih dan manis. Gindara Teriyaki ini juga dilengkapi dengan nasi dan salad yang cukup mengenyangkan perut.

 
Cheese Burger (48K). Porsinya lumayan besar dengan French fries sebagai pelengkapnya. Sayangnya, even burger ini terlihat besar dan menggiurkan beef di bagian dalamnya terasa biasa saja cenderung hambar dan tidak ada tambahan saus didalamnya. Keseluruhan burger ini sebelum ditambahkan saus yang banyak menurut saya plain. Untungnya, French fries-nya masih menolong, tidak terlalu asin namun garing.

 
Price

Harga makanan dan minuman disini masih terjangkau menurut saya, hanya kalau sudha melihat porsi dan rasanya menurut saya sih berlebihan. Makanan dapat dinikmati mulai dari Rp27.000-98.000, sedangkan minumannya dapat dinikmati mulai dari Rp15.000-26.000, untuk beer dijual tergantung jenis dan ukuran botolnya rata-rata berkisar antara Rp22.000-75.000 dan untuk per basketnya bisa sampai 300.000.

Service

Servisnya tidak memuaskan buat saya. Saya kan kesini datang bersama teman-teman atas undangan mereka. Sampai disini pun kami hanya disambut ala kadarnya dan langsung ditawarkan untuk memesan makanan yang jumlahnya pun dibatasi. 1 orang hanya boleh 1 makanan dan minuman, itupun makanannya hanya boleh aneka pasta dan menu Asian yang harganya tidak di atas 70 ribu. Tidak ada perkenalan apapun tentang resto ini, bagaimana acara food tasting ini berjalan, sambutannya sangat biasa saja, seolah mereka menjual mahal sekali restorannya. Saat tragedy plastik es di dalam smoothies pun awalnya waiternya seolah menganggap ini hal biasa, kemudian barulah datang marketingnya dan meminta maaf kemudian menjelaskan masalahnya. Saat saya dan teman-teman blogger pulang pun mereka hanya menyalami kami tanpa basa-basi apapun yang menurut saya tidak ramah sama sekali. Well, this is very awkward food tasting ever buat saya.

Overall, saya hanya ingin memberi masukkan kepada 19th Avenue untuk lebih teliti lagi dalam menyajikan makanannya dan treating their customers. Bagaimanapun juga restoran akan maju jika mereka menghargai pengunjungnya. Well, this is my opinion, how about you, eaters?!
 
Recommended Dish(es):  going nuts smoothies
 
Date of Visit: May 19, 2013 

Spending per head: Approximately Rp45000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 2  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 2  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Freezing Chicken Wings Cry May 15, 2013   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Itali | Steak & Grills | Burger | Pizza & Pasta | Kencan / Berpasangan

Venue

Satu hal yang terlintas dipikiran saya saat melewati restoran ini adalah, apakah ini restoran vegetarian? Kalau dilihat dari nama, Cow Feed Resto, sudah pasti resto ini mengusung tema seperti memberi makan sapi kan. Semua orang sudah tahu sapi itu makanannyan gak jauh-jauh dari rumput atau sayuran. Dan ternyata dugaan saya benar, restoran ini memang menempatkan salad sebagai menu utama mereka. Jadi, buat yang vegetarian atau sedang on diet, restoran ini sepertinya bisa jadi pilihan yang tepat. Dekorasinya dibuat persis seolah kita berada di sebuah peternakan sapi tapi dipadu dengan gaya modern minimalist. Hanya saja menurut saya desainnya sepintas mirip taman kanak-kanak hehehe...

 

 

 

 
Deretan kursi dan bangku pendek yang terbuat dari kayu dengan pot-pot berisi pohon bamboo membuat resto ini jadi bernuansa alam. Penerangan didalamnya cukup hangat dengan lampu gantung berbentuk bulat ditambah dengan beberapa pilar bercat hitam yang bertuliskan kata-kata dalam bahasa inggris bertumpuk yang membuatnya jadi unik. Ada semi open kitchen juga dapat kita lihat di sudut restoran. Area makannya ada yang indoor dan outdoor. Yang outdoornya menghadap langsung ke area taman terbuka Epiwalk yang berada ditengah mall ini.

Menu

Makanan yang ditawarkan disini utamanya salad, mulai dari nicoise salad, farmer salad, dan aneka racikan salad lainnya yang bisa kita pilih sendiri alias you can make your own salad. Ada beragam sayuran disajikan disini mulai dari selada, lettuce, arugula, wortel, mentimun jepang, kentang, jagung yang bisa ditambahkan dengan biji olive oil, dan aneka salad dressing lainnya. Tapi tenang saja, untuk yang non vegetarian, Cow Feed Resto juga menawarkan aneka pasta dan side dishes seperti chicken wings. Umumnya sih, menu yang mereka tawarkan disini menu-menu side dishes aja, jadi jangan berharap menemukan menu utama seperti nasi ya disini hehehe…

 
Berhubung saya dan teman saya yang sedang on diet penasaran juga dengan makanan disini, akhirnya kami memesan dua menu berikut:

Salmon Fettuccine Bolognese (45K)

Yang unik dari makanan ini adalah penyajiannya, pastanya disajikan bukan di dalam piring melainkan sebuah wajan atau penggorengan aluminium tipis dan berukuran sedang. Pasta fettuccine ini disiram dengan saus Bolognese yang kental akan rasa tomat. Tapi menurut saya saking pekatnya rasa tomat, sampai-sampai membuat pasta ini terasa hambar dan saya sampai butuh membuatnya sedikit pedas dengan tambahan saus. Pastanya sendiri direbus dengan sempurna sehingga kenyal dan tidak alot. Salmon-nya sendiri di half-grilled sehingga warnanya masih sangat oranye but it’s juicy dan tender.

 

 
Chicken Wings (28.5K)

Penyajian chicken wings ini juga terbilang tak biasa, karena disajikan di atas sebuah nampan kayu bulat. Namun, saya kecewa sekali dengan penyajian lima sayap ayam bersalut saus teriyaki ini, sudah bumbunya tak meresap, bagian kulitnya pun nggak terasa teriyakinya dan ayamnya disajikan dingin! Saya sampai berulang kali memastikan sama temen saya apakah benar ayamnya dingin dan akhirnya saya sampai meminta pelayannya untuk memanggang kembali ayam ini sampai benar-benar panas. Padahal makanan kami datangnya hampir setengah jam lho, tapi kok sampai bisa pesanan kami jadi dingin begitu. Dan setelah dipanggang pun, si chef-nya memanggang ala kadarnya, yasudah daripada protes lagi dan saya tidak jadi makan, akhirnya tetap dinikmati ala kadarnya.

 
Price

Range harga makanan disini untuk aneka salad mulai dari Rp40.000 – 65.000. Untuk aneka side dishes, mulai dari Rp25.000 – 55.000. Aneka minuman mulai dari Rp15.000 – 25.000.

Pelayanan

Pelayannya gak sigap menurut saya. Pas kami datang pun, duduk, setelah 10 menit memanggil pelayannya baru datang. Padahal saat itu menurut saya restonya sedang sepi. Makan saya juga datangnya lama sekali hamper 30 menit, padahal resto sedang sepi. Ditambah masalah makanan yang dingin itu. Saat saya bertanya ke pelayannya apa alasan ayamnya sampai dingin begitu juga dia Cuma cengar-cengir aja. Dan tanpa babibu langsung ngacir ke dapur, nggak ada permintaan maaf selain kata maaf yang terlihat nggak tulus. Harusnya mungkin saja mereka memberikan pengganti atau compliment sebagai permintaan maaf kan.

Overall, saya sih nggak akan balik lagi kesini. Cukup sekali buat saya mengetahui pelayanan sebuah resto yang nggak tanggap dari awal dengan pesanan si customer. Mungkin mereka butuh sedikit penngembangan terutama memastikan bahwa semua makanan disajikan dengan fresh.
 
Date of Visit: Apr 24, 2013 

Spending per head: Approximately Rp50000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 2  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 1  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Poor Sushi Resto! Cry Jan 02, 2013   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jepang | Restaurant | Sushi | Halal | Kumpul Keluarga

Pas lagi iseng lewat TIS Square Tet, saya dan teman saya mampir cari tempat makan yang kira-kira enak dan tempatnya juga enak. Terpilihlah Sushi Ya karena sayamelihat tampilan restonya dari luar juga sanngat menarik dengan desain ala Eropa mirip seperti Nanny's Pavilon dan dinding berwarna putih. Masuk ke area dalamnya ternyata biasa saja, tak sebagus di luar. Ada dua area, satu lantai bawah dan satu lagi lantai atas. Lantai bawah terdiri dari set meja makan dengan bangku dan meja plastik berwarna hitam dengan dapur semi open kitchen di salah satu sudut kiri dari pintu masuk. Tidak ada nuansa Jepang begitu nampak disini, hanya beberapa lukisan yang 'mungkin' a la Jepang.

 

 

 
Di lantai atas juga sama, ada sekitar kurang lebih 80 kapasitas kursi dengan set meja makna yang sama dengan di bawah. Ruangannya cukup spacious namun AC-nya tidak terlalu terasa menurut saya.

 
Karena perut sudah sangat lapar, harapan saya adalah memesan sushi yang paling cepat datang, sedangkan teman saya memesan nasi dan chicken katsu yang kami rasa juga cepat masaknya. 15 menit pertama ngobrol minuman kami yang hanya es teh pun belum datang, sedangkan saya sudah melihat meja sebelah dengan segerombol keluarga berjumlah 9 orang minumannya sudah datang.

Sabar level 1.

15 menit kedua, saat meja sebelah makanannya sudah datang hampir semua, meja saya baru datang es teh manis. Lho kok? 10 menit selanjutnya, sushi pesanan saya yaitu Angry Roll datang. Gila kudu beneran 'angry' gitu setelah 30 menit sushinya baru datang. Anyway, sushi ini ternyata sushi goreng. Ukurannya mini banget! Jauh dari normalnya sushi yang sering saya makan di rsto 'tetangga'. Bagian luar klit yang sudah digireng terasa sedikit crunchy. Sementara isinya berupa potongan salmon saja. Tekstur nasinya sih cukup lembut buat saya, mayonnaise keju di atasnya juga membuat sushinya lebih gurih dan sedikit pedas. Cuma sayang, porsinya kecil banget!

 

 
Setelah sushi habis, pesanan Nasi Chicken Katsu teman saya belum datang juga ini sudah menit ke 45 lho. Saya heran, kami datang duluan, tapi meja sebelah yang datang belakangan kok makanannya sudah lengkap.

Sabar level 2.

Teman saya sampai naik pitam. Soalnya pesanannya cuma Nasi plus Chicken Katsu. Yaiyalah, dimana-mana juga biasanya resto fastfood sekalipun kalo cuma nasi plus gorengan chicken katsu paling gak sampe 20 menit datangnya, kecuali lupa atau crowded banget. Oke lepas dari crowded yang dimasalahkan adalah kita datang duluan disaat meja lain bahkan belum terisi, tapi makanan orang yang dtang belakang malah datang duluan!

Sabar level 3.

Akhirnya teman saya turun beneran ke dapurnya, sedikit membentak chef-nya akibat makanan kami sudah hampir 1 jam belum datang! Setelah dibentak, baru deh pesanan Nasi plus Chicken Katsu itu datang. Daaan ironisnya, entah salah kami apa, makanan yang datang itu terkesan 'apa adanya' seolah dibuat terburu-buru karena teman saya terlanjur marah-marah.

 
Nasi putih biasa dan sudah hampir dingin disajikan dalam mangkuk hitam sedang diatasnya ada potongan chicken katsu dan saus teriyaki serta daun selada dan potongan bawang bombay. Sausnya pun cuma sedikit-kit-kit. Rasanya, bukan kayak makan nasi katsu a la Jepang, malah kayak makan nasi ama ayam goreng di warteg!

Entah mengapa ini adalah pengalaman makan di restoran Jepang terburuk sepanjang sejarah makan di resto Jepang saya. Harga sih boleh murah mereka punya range harga makanan mulai dari sushi, appetizer, sup salad, donburi, sashimi, special sushi roll, dll mulai dari Rp15.000 - 35.000 saja. Minumannya pun murah dari Rp6.000 - 15.000, tapi bukan berarti menurunkan kualitas dengan mendahulukan pengunjung yang datang dengan jumlah orang lebih banyak kan!

Mungkin Sushi Ya perlu berbenah soal pelayanan kepada pengunjungnya. Saya yang biasa makan di restoran Jepang dari yang pulang sekalipun nggak pernah menunggu 1 jam hanya untuk semangkuk nasi chicken katsu, ditambah dengan pelayannya yang kurang senyum dan pura-pura nggak nengok saat dipanggil.

Overall, jadi pelajaran aja buat Openricers yang doyan makan sushi. Pastikan kita juga jadi pengunjung bijak, dengan sering bertanya ke pelayanan jika pesanan tak kunjung datang. Enjoy your sushi time!
 
Date of Visit: Nov 30, 2012 

Spending per head: Approximately Rp25000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 1  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Talaga Resto Cry May 21, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Restaurant | Kumpul Keluarga

Saya agak penasaran ketika pertama kali melihat resto ini di Epicentrum Walk. Dari namanya saya teringat akan sebuah ‘telaga’ yang mungkin ini bahasa lainnya dari ‘talaga’. Ekspektasi saya sih resto ini menyajikan masakan Sunda, namun ternyata masakan Jakarta tepatnya masakan Betawi. Saya mencoba memasuki resto ini bebarap waktu lalu sengaja ingin tahu apakah masakan mereka benar-benar menyajikan masakan otentik Betawi seperti ekspektasi saya pada salah satu resto Betawi juga yang sudah terkenal di mal-mal Jakarta.

 
Melangkah masuk kesini, saya disuguhkan dengan nuansa Betawi yang cukup kental. Bisa dilihat dari dekorasi dindingnya yang menyertakan model jendela rumah Betawi. Area retsonya cukup luas dengan kapasitas pengunjung sekitar 100 orang. Di sudut kanan depan pintu masuk terdapat pantry dengan lemari yang berisikan pajangan gelas-gelas dan cangkir-cangkir cantik.

 

 

 
Melihat buku menu yang disodorkan pelayannya, saya kaget ternyata masakan yang disajikan Talaga bukanlah masakan Betawi melainkan aneka masakan Indonesia salah satunya khas Betawi seperti gado-gado. Padahal saya berharap menemukan sayur gabus pucung hehehe…Talaga membuka menunya mulai dari tradisional starter seperti lumpia, pempek, telaha, bakwan jagung, siomay udang, salad, dll. Sedangkan menu utamanya terdiri dari Indonesian Favorite dan Talaga Archipelago, seperti buntut bakar, mie godok, mie goreng jawa, ayam panggang talaga warna, rawon ibu, dll. Ada juga pilihan sate dan aneka sayuran. Untuk minumannya, Talaga memiliki traditional beverage seperti the poci, sekoteng madu, bir pletok, wedang jahe, dll. Ada juga aneka softdrink, juice, dan aneka es.

Harga yang ditawarkan masih masuk akal, untuk starter dibanderol dari Rp19.000 – 45.000, sedangkan main course mulai Rp35.000 – 65.000. Minuman mulai dari Rp12.000 – 19.000.

Pempek Talaga menjadi pembuka saya malam itu. Pempeknya yang terlihat simpel disajikan dengan mie kuning dan kuah pempek pada umumnya. Kulit pempeknya tidak terlalu garing dan dagingnya agak sedikit alot. Kuahnya cukup pedas dan cukanya lumayan tajam. Buat saya sih tidak ada yang istimewa dari pempek ini.

 
Ayam Bakar Talaga Warna menjadi menu utama yang ternyata juga mengecewakan. Ayam bakar ini disajikan dnegan urap, selada, kemangi, dan mentimun. Urapnya sedikit bau asam seperti basi. Ayamnya juga kering dan bumbunya bahkan ikut mengering di kulitnya.

 
Yang pasti saya kecewa banget makan disini. Semuanya diluar ekspektasi saya saja. Pelayanannya pun lama sekali. Bahkan untuk menyajikan pempek saja mereka butuh waktu hampir 30 menit.
 
Date of Visit: May 08, 2012 

Spending per head: Approximately Rp50000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 2  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

an Average Meatball Cry Nov 09, 2011   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Stand / Kios | Bakso

Rasanya tiap weekend datang nggak ada yang lebih menyenangkan selain memanjakan diri ini akan rasa hausnya kuliner-kuliner Indonesia. Menelusuri setiap sudut Jakarta memang tidak ada habisnya, namun jika kita tahu dimana ada tempat yang seru untuk ditelusuri kulinernya, rasanya semua penasaran terbayar impas. Beberapa minggu lalu, saya memuaskan rasa penasaran saya akan pusat jajanan Blok S. Saya sudah tahu daerah ini dari dulu, hanya saja karena domisili di jakarta utara, agak malas rasanya menuju daerah sini. Namun, karena sekarang sudah berkantor di daerah selatan, jadi semangat menyambangi daerah ini makin tinggi hehehe....tongue

 
Di daerah Blok S berjejer tempat makan kaki lima yang dijamin akan membuat Anda semua kebingungan mau makan apa hehehe....saya sendiri bingung mau makan apa sampai akhirnya menemukan sebuah warung bakso diantara sekian banyak tempat makan berjejer. Entah mengapa liat bakso yang nan besar-besar itu menggoda perut saya banget. Nama warungnya Bakso Mustika, sepintas memang biasa saja, karena tampilan dari luarnya pun hanya gerobak bakso biasa yang berjejer dengan gerobak makanan lain. Ya, boleh dibilang seperti foodcourt deh Blok S itu. Dibagian depan gerobaknya berjejer dengan rapi bangku dan meja panjang dari ujung ke ujung, persis seperti foodcourt. Satu hal yang membuat saya penasaran ingin menjajal bakso ini karena di depan gerobaknya ada tempelan sertifikat Festival Jajanan Bango. Wah, sepertinya ini makanan enak kalau sampai bisa terpilih untuk berpartisipasi dalam festival jajanan bango nih! Akhirnya, saya memesan semangkuk bakso dengan mie bihun.

 
And here it is, Bakso Mustika:

 
Hmmm…the big meatball seems delicious! Saya pernah mencoba beragam rasa bakso di berbagai tempat. Sejauh ini buat saya hanya bakso di dekat rumah saya saja yang kuah serta daging baksonya begitu pas dan gurihnya luar biasa dan bakso A Fung yang sudh tak diragukan lagi kekenyalan daging baksonya. Saya memasang ekspektasi besar pada Bakso Mustika ini, berharap lebih enak tapi ternyata rasanya biasa saja. It’s even so so….I’ve never found that a place which should be granted as a participant for such huge food festival will serve a so-so food. Ewh!

Daging baksonya sendiri saya akui cukup kenyal, saya suka tekstur lembutnya dan wangi daging khas baksonya yang menggugah selera. Hanya saja 4 buah bakso daging nan bedar itu tidak ditunjang dengan kuah bakso yang setara. Kuahnya hambar. Sangat hambar. Bahkan sepintas seperti air putih biasa yang ditambahkan penyedap rasa. Saya berusaha menambahkan garam dan lebih banyak sambal biar kuahnya terasa, tapi tetap nihil. Intinya, nggak ada yang special dari bakso ini. mad

Harga seporsi Bakso Mustika dibanderol Rp10.000 saja. Murah banget, kan! Jam buka lokasi jajanan Blok S ini dari jam 08.00 -21.00, tapi ada beberapa warung yang buka sampai tengah malam. So, bagi OpenRicers, yang penasaran seperti apa baksom ustika ini atau punya opini lain tentang rasa dan kualitas bakso ini, langsung saja ke Blok S dan sharing pengalamanmu di account saya, ya!

Opini:

(+) Harga dan porsi baksonya seimbang. Pelayanannya cepat dan tanggap. Waktu saya meminta merica dan garam yang tidak tersedia di meja, penjualnya dengan sigap menyiapkan untuk saya. Lokasi jajannya berada I pusat kuliner yang lengkap, jadi bisa cari varian lain untuk melengkapi acara makan bakso kalian. Suasananya cukup nyaman, walaupun di tengah-tengah komplek perumahan dan pinggir jalan, lokasi Blok S banyak dipayungi oleh pohon-pohon besar yang membuat suasana sekitar jadi adem dan cukup sejuk walau di siang hari. Tempat duduk juga tersedia lumayan banyak.

(-) Harga memang tidak menjamin rasa dan kualitas, sih. Jadi kekecewaan saya terhadap kuah baksonya itu ya mungkin setara dengan harganya. Sayangnya, untuk pangsa pasar kaki lima, kalau mereka tidak juga menaikkan kualitas makanannya, harga yang murah seperti itu akan sia-sia sekali dengan makanan yang tidak menunjang. Kemungkinan pelanggan bisa beralih ke bakso setara yang sama murahnya namun lebih enak.
 
Date of Visit: Oct 21, 2011 

Spending per head: Approximately Rp10000

Other Ratings:
Rasa
 1  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 1

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0