OpenRice Index
  
ichakhairisa
This is ichakhairisa living in Cilincing. I am a Editor, work in Kuningan. I like to hang out in Sudirman, Kelapa Gading, Kuningan. Betawi, Jawa, International food are my favorite cuisines. I also love Chocolate / Candy Shop, Kedai Kopi & Teh and Es Krim/Yogurt, Dessert, Soto/Rawon, Dim Sum, Salad.
Member 98 First(s)
No. of Review218 Review(s)
編輯推介數目148 Editor's Choice
Recommended16 Recommended
Popularity11587 View(s)
Replies in Forum5 Comment(s)
Upload Photos1216 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant2 My Restaurant(s)
Follow1 Following
粉絲1312 Follower(s)
ichakhairisa  Level 4
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 31 to 35 of 218 Reviews in Indonesia
Never Been Better with Openricers OK May 14, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Barat | Kafe | Pizza & Pasta | Halal

Overall Description & Venue

Weekend minggu lalu saya dan Openricers menghadiri lunch gathering yang diadakan oleh Openrice di kafe Never Been Better. Never Been Better ini adalah sebuah kafe di daerah Kemang Selatan yang merupakan usaha kecil-kecilan dari tiga sahabat yang ingin punya bisnis sampingan. Never Been Better ini sangat unik, mengusung tema industrial, mereka menghadirkan sebuah kafe anak muda dengan konsep reuse. Seluruh furniture dan dekorasi interior dan eksterior disini menggunakan bahan-bahan daur ulang, lho. Kita bisa melihatnya dari mulai bagian depan kafe ini yang menggunakan krat untuk botol berarna biru yang disusun hingga menjadi sebuah gapura. Dinding-dindingnya juga ditempel dengan asbes dan papan bekas. Tengoklah lampu di dalam kafenya, tiga sahabat itu tidak kehabisan ide menggunakan hanger dan derigen untuk menjadikannya sebuah lampu gantung yang cantik. Meja makannya juga dibuat bisa digeser dengan menggunakan rel serta kursi makan yang menyerupai kursi metromini.

 

 
Menu

Tentunya daur ulang mereka hanya berlaku bagi furniture dan dekorasi, tidak untuk makanannya. Menu yang mereka hadirkan disini rata-rata menu simple yang sengaja dibuat untuk menemani waktu santai pengunjung apalagi kafe ini dilengkapi free high speed wi-fi yang membuat orang betah berlama-lama disini. Never Been Better mempunyai varian Light Meals seperti salad, chicken soup, banana balls, sandwich dan lain-lain untuk yang suka cemilan. Menu utama dibagi dalam dua kategori Delicious dan Authentics yang merupakan perpaduan Indonesian dan Internasional cuisine, seperti Spaghetti Aglio Olio, Beef Satay, Orange Chicken, Nasi Goreng Hijau, Nasi Ayam Penyet, dan lain-lain. Sementara untuk aneka minumannya, @nevbeenbetter ini menyajikan aneka minuman bersoda diantaranya Shirley Temple, Green Paradise, Limun Timun, aneka kopi, teh, dan softdrink

Food & Price

Salad

 
Salad ini berisi campuran selada bokor, mentimun, tomat, dan daging asap. Sayurannya disajikan segar dan mayonnaise homemade-nya juga tidak terlalu pekat. Cocok untuk makanan pembuka.

Spaghetti Bolognaise

 
Spaghetti ini tersaji seperti pada umumnya makanan yang sering ditemui di kafe atau resto modern. Lembutnya spaghetti menyatu sempurna dengan saus bolognesenya. Hanya saja saus ini terlalu pekat dan rasa tomatnya membuat saya sedikit eneg. Mungkin ada baiknya @nevbeenbetter membuatnya light saja sehingga yang tidak suka tomat pun masih bisa menikmati menu ini.

Nasi Goreng Hijau.

 
Nasi goreng yang dibuat dari campuran cabe hijau, daun jeruk, daun limau, sedikit kunyit, ditaburi dengan kacang sangrai membuat nasi ini menjadi favorit saya. Wangi dari dedaunan tersebut menyatu sempurna dengan nasi yang pulen sehingga menghadirkan aroma jeruk dan limau yang kuat dan menggoda selera saya. Rasanya agak sedikit pedas but it’s still okay.

Nasi Ayam Teriyaki

 
Saya tidak melihat ini seperti teriyaki melainkan lebih mirip donburi, karena teriyaki seharusnya agak sedikit basah dan berkuah. Tekstur dagingnya pun agak alot.

Banana Balls

 
Pisang goreng yang dibalut dengan adonan tepung terigu kemudian dibentuk bulat dan ditaburi dengan parutan keju serta susu cokelat menjadi penutup lunch kami siang itu. Pisangnya lembut, ada sedikit aroma vanilla dari dagingnya. Sayangnya tidak disajikan hangat sehingga kulitnya sudah melempem dan mengurangi kenikmatan pisang goreng yang sebenarnya.

Untuk minuman kami disediakan es teh manis yang diracik sendiri, jadi bisa disesuaikan rasa manisnya. Untuk beberapa menu makan disini juga ternyata bisa di request, mau pedasnya dengan level apa, Never Been Better’s chef is ready to serve you!

Untuk harga juga masih affordable apalagi untuk kafe di kawasan Kemang. Untuk makanan ditawarkan dengan harga mulai dari Rp16.000 – 32.000 sedangkan minuman mulai dari Rp12.000 – 23.000.

Overall, Never Been Better bisa menjadi pilihan lain untuk menemani waktu santai atau kumpul-kumpul bersama teman-teman. Saran saya hanya satu variasi makanannya mungkin perlu ditambah. Jika konsep kafenya sendiri sudah unik, mengapa tidak membuat makanan yang unik. Pasar pecinta kuliner pasti dengan senang hati menyambut kafe yang tidak melulu menghadirkan menu yang sama walaupun dengan konsep yang berbeda.
 
Recommended Dish(es):  Nasi Goreng Hijau
 
Date of Visit: May 12, 2012 

Spending per head: Approximately Rp30000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Standing Sushi Bar OK May 10, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jepang | Restaurant | Sushi | Halal | Kumpul Keluarga

Overall Description & Venue

Sushi sudah makin familiar di lidah orang Indonesia. Makanan khas Jepang ini sudah jadi salah satu menu makanan sehat mulai dari kalangan menengah sampai atas. Bahkan kini kalangan menengah ke bawah pun bisa menikmati sushi 'a la kadarnya' di gerai-gerai sushi pinggir jalan yang kini makin marak di Jakarta. Berusaha menyamakan pamor gerai sushi ternama di Indonesia, satu lagi gerai sushi baru hadir di Jakarta, Standing Sushi Bar yang berlokasi di La Piazza, Kelapa Gading.

 
Resto yang mengusung konsep sushi bar ini mendominasi restorannya dengan nuansa oranye dan hitam. Deretan sushi bar tertata rapi di sudut sebelah kanan pintu masuk beserta jejeran kursi panjang dan meja makan yang semuanya terbuat dari kayu. Sebagai pecinta sushi, saya tidak punya ekspektasi apa-apa saat memasuki resto ini, hanya saja saat itu saya penasaran sepertiu apa sushinya dan tergiur dengan promo Sashimi seharga Rp13.900 saja selama masa new opening mereka hehehe...

Menu

Menu yang disediakan sangat variatif mulai dari appetizer berupa aneka salad, dan main course seperti sashimi, robatayaki, sashimi donburi, tempura & agemono, aneka paket bento dan a la carte. Berhubung ini resto sushi, maka saya penasaran ingin mencicipi sushinya saja. Sayangnya, saya tidak menemukan banyak menu sushi yang berpotongan banyak dalam satu piring. rata-rata disajikan hanya dua potong dalam satu piring. Kalaupun ada yang isi enam atau delapan itu menu sushi yang standar saja. Okelah, yang penting testing hehehe...

Food

Sake Kawa Maki - 15K

 
Sushi berisi fried salmon skin dengan alpukat, nori dan ditutup dengan balutan telur salmon ini cukup menggoda lidah saya. Kulit ikan salmonnya renyah sekalli di mulut. Hanya saja saya masih mencium bau amis telur ikannya padahal saya sudah campur dengan banyak kecap asin dan wasabi. Gulungan nasinya pun tidak begitu padat sehingga mudah hancur pas saya gigit di pinggir.

Maguro Salad Maki - 20K

 
Diisi dengan daging tuna lembut, mentimun jepang dan nori, sushi ini terlihat biasa saja buat saya. Tunanya pun terasa sangat asin dan lagi-lagi saya tidak suka tekstur guungan nasinya yang mudah hancur.

Sashimi Salmon - 13,9K

 
This is the best one! Daging salmonnya disajikan segar banget, dingin, kenyal, empuk kayak agar-agar haha, dan pastinya tidak amis. Yeah, simply love it. Apalagi dengan harga promo. Very worth to buy and taste!

Price

Harga yang dipasang Standing Sushi Bar masih sangat affordable. Food ranging from IDR13,000-80,000. Hampir sama dengan beberapa gerai sushi ternama lainnya. Hanya saja harga murah disini tidak didukung dengan kualitas makanan yang disajikan, berbeda dengan resto sushi yang sudah ternama lainnya.

Conclusion

Overall, buat saya cukup sekali sepertinya makan disini. Karena kualitas sushinya jauh diatas pendahulunya. Harganya pun hampir sama dengan gerai sushi ternama yang sudah ada tapi rasanya sangat tidak sesuai harga. Standing Sushi Bar semestinya makin meningkatkan kualitasnya apalagi mereka baru buka beberapa bulan. Orang pasti lebih memilih makan di gerai yang sudah terpercaya rasa dan harganya, mungkin mereka akan sesekali berpindah kesini jika disini bisa menyajikan sushi enak dengan harga yang setara dengan enaknya. But again, it's based on my opinion dan tergantung selera masing-masing orang juga sih!

How about you, openricers? Sudah pernah nyoba makan disini, kalau sudah can't wait to hear your comment. Salam pecinta sushi! ;-)

*all prices are subject to 10% government tax and 5% service charge
 
Date of Visit: Feb 24, 2012 

Spending per head: Approximately Rp40000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Chinese | Kopitiam | Kumpul Keluarga

Overall Description

Kawasan kuliner Jalan Veteran Jakarta ternyata nggak hanya diisi dengan kuliner tempo dulu seperti es krim Ragusa. Ketika saya menelusuri jalan ini hingga keujungnya, saya menemukan banyak resto dan kafe modern berderet disini, salah satunya Limkie Kopitiam. Nama kopitiam mungkin sudah nggak asing lagi di telinga pecinta kuliner Jakarta, kafe yang awalnya ngetren di Singapura ini sekarang membanjiri Jakarta dengan beragam nama tapi tetap dengan konsep yang sama sebuah kedai kopi.

 

 
Limkie kopitiam sendiri menempati sebuah area di hoek Jalan Veteran, pas disampingnya restoran Mbah Jingkrak. Seperti pada umumnya kopitiam yang bernuansa homey, Limkie juga mendesain kafenya dengan suasana rumah. Pas masuk kita akan disuguhkan dengan seperangkat kursi dan meja terbuat dari kayu, dengan beberapa pajangan dan guci khas Chinese tertata apik di dindingnya. Kalau menengok ke kiri, terlihatlah open kitchen yang persis dirumah sendiri. Masuk agak kebelakang ada ruang private dengan kapasitas sekitar 30 orang, di bagian depannya ada lemari pajangan berisikan botol-botol minuman kosong yang unik-unik. Berasa di rumah sendiri deh pokoknya.

Menu & Price

Menu yang disajikan disini juga standar saja. Harganya pun masih ramah dengan kantong. Ada menu sarapan seperti roti bakar, telur ½ matang (7–22K), aneka nasi goreng (18–25K), aneka mie goreng (18–23K), aneka kwetiaw dan bihun (20–23K). Ada juga main course (20–35K) seperti ayam goreng limkie, cumi saus madu, brokoli saus tiram, dan ada juga paket nasi (20–25K)seperti nasi ikan kakap taosi, nasi ayam ala Thai, dll.

Food

Berhubung waktu kesini saya dan teman-teman udah kenyang makan, akhirnya sambil nunggu teman yang belum dating, kita memesan menu yang simple-simpel aja buat cemilan.

Roti Bakar Cokelat Keju

 
A simple toast filled with cheese and chocolate crumbles. Nggak terlalu special. Rotinya juga nggak terlalu kering, soalnya saya suka roti bakar yang agak gosong gitu hehe. Malah kayak roti nggak dibakar jadinya hehe….

French Fries

 
Kentang goreng ini ditaburi cheese powder di atasnya. Digoreng cukup garing. Simple sih, ya lumayan lah buat nyemil-nyemil cantik.

Juice Strawberry

 
Terbuat dari fresh strawberry dan susu segar. Rasanya tidak terlalu asam karena susunya sepertinya banyak sekali. Cukup segar untuk siang yang terik.

Cappuccino

 
Nggak ada yang special sih dari minuman ini. Soalnya ini sepertinya terbuat dari cappuccino sachet-an yang biasa di pasaran, saya saja sampai hapal rasanya soalnya saya suka minum juga hehehe….

Fanta Susu

 
Saya lupa nama minuman ini, tapi pastinya ini terbuat dari campuran fanta dan susu cair. Rasanya ya seperti yang sudah kita tahu, soda dicampur susu pasti ada sedikit asam manisnya. Lumayan seger sih buat siang-siang.

Service

Sorry to say servisnya lama bangeeet! Padahal saat itu hanya ada saya dan empat teman saya, tidak ada tamu lain. Tapi entah mengapa untuk membuat roti bakar saja mereka butuh waktu sampai 30 menit lebih. Saya sampai berulang kali nanya ke pelayannya kapan jadinya. Alesannya “lagi dibuat, mbak. Sebentar ya.”

Conclusion

Kedai kopi memang harusnya menyajikan sesuatu yang cepat dan simple bukan sesuatu yang butuh tangan-tangan segitu terampilnya sampai-sampai makanan saja datangnya lama banget. Buat saya si Limkie kopitiam ini mungkin perlu sedikit mempertimbangkan kebutuhan pengunjungnya yang inginm akan, bukan sekedar menikmati betapa homey-nya kafenya.
 
Recommended Dish(es):  fanta susu
 
Date of Visit: Mar 16, 2012 

Spending per head: Approximately Rp15000(Breakfast)

Other Ratings:
Rasa
 2  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 1  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 2

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Itali | Kafe | Steak & Grills | Kencan / Berpasangan | Hang Out

Overall Description

After the first invitation in Sangrai, Bandung, I back to visit the second invitation from the same owner of Sangrai in an Italian resto called BigParma. Ever heard bout Parma? You must be known if you a football maniac hahaha, but do you know that Parma is also has a best cheese product in Europe. Nah, that was the BigParma is all about. They barely wanna show us the variant of cheese from Parma that other resto rarely to use. Furthermore, they also wanna introduce us with the other variants of Italian food instead of pasta, pizza, spaghetti, you name it! BigParma has its specialty in serving Parmigiana. Strange, right? Lemme explain a little to you.

Parmigiana is a Southern Italian dish made with a shallow-fried sliced filling, layered withcheese and tomato sauce, then baked. Parmigiana made with a filling of aubergine(eggplant) is the earliest version. Variations made with breaded meat cutlets, such as vealand chicken parmigiana, have been popularized in other countries, usually in areas of Italian immigration. (www.wikipedia.org)

However, due to Indonesia taste, the Parmigiana term in BigParma has been modified.

Parmigiana is a Southern Italian dish made by chicken fillet covered with flour, fried then bake into an oven and served with melted Parma authentic cheese, handmade tomato sauce, fried fries, and salad. (BigParma's term)

Venue

 
Big Parma resto is located at Jalan Cemara 83, Sukajadi, Bandung, next to Brands United FO. The place is really closed to the FO and cozy enough to have your chill out time after shopping. All area is outdoor with wooden and table chair and one row of bar table. They also have an open kitchen so that customers can closely see what they cook in the kitchen.

 
Food

As I understood enough to what Parmigiana is, I started to satisfy my tummy with the Original Parmigiana first. It was really a chicken fillet yet I remembered it similar with chicken katsu in Japanese dish. The surprising thing was it really covered with handmade tomato sauce and melted cheese. Yay! The texture of the chicken fillet was good and the cheese was sooooo definitely heaven! Really never tried this kind of cheese before. So far I met a melted cheese who really melted in my mouth, but this one melted in the chicken fillet not melted in my mouth. It’s even created a chewy and savory sensation. I can even chewing the super soft cheese! Great. I dunno why I love the not melted sensation in mouth of this Parma cheese. The taste was also different with similar cheese I’ve ever tasted. However, after several pieces of the parmigiana came into my tummy, I was getting full and wamble.

 
Dunno why maybe it caused by the original taste of tomato sauce that unfamiliar in my Indonesian’s tongue. Watchout BigParma, except your market are tourists or food enthusiasts who loves to try many kind of cuisines, the Indonesian people might be unfamiliar and tend to avoid such taste, think to add a little ingredients or modification to make it familiar with average people who at least dining without any expectation in your resto.

On the other hand, my taste bud was getting better when trying the Smoked Beef Parmigiana, the tomato sauce tend to sweeter and savory than the Original one. The Smoked Beef on the top is also baked well and the portion of both is enough.

 
As my tummy getting full, I only could spent one more dish. So, I decided to take Chicken O’Balls. Unfortunately, it’s not even trigger my appetite due to the chicken was still frozen. How come?! When I get rid the crunchy covered of, I got a frozen and feels-like-raw chicken! I thought that this is a frozen chicken that directly being fried. Euuww, it’s failed BagParma. Sorry. Consider that you better boiled the frozen chicken before going to the frying pan. huffy

 
Having dissapointed by the snacks, I directly close my lunch with drinks. I ordered Blueberry Juice and Green Tea Blended. For God Sake, I looove the Blueberry Juice! It’s fresh and the original of blueberry taste really dancing in my tongue. Aaah delicioso!

 
The Green Te Blended, however, not too good. Too much milk, less green tea. Feels like drink a skim milk with pandanese flavor, sort of.

 
Oh ya, in the opening before tasting the main course, I also tasted their coffee. Hot Caramel Coffee and Hot Cappuccino. Both are not too interesting for me. It felt like a sachet of cappuccino brewing in my glass. The caramel was also not blended with the coffee. I even can’t distinguish whether it’s the cappuccino or the caramel one. It’s mostly similar.

 
Price

The price range is affordable. For the drinks, at around IDR15,000. Food and snacks at around IDR15,000 - 35,000. Cheap price for typical Itailian dishes.

Conclusion

I only noted that actually this resto should consider their menu variation. As I see in the list, the menu similar with Western not too Italian. BigParma might be reconsider to make really authentic Parmigiana menu that suit with Indonesian tongue, except they wanna change the concept into a real Italian resto.

Thanks Pak Joy dan Pak Samsul for the invitation. I’m waiting the new menus of BigParma, lho! Hehehe..

How bout you who loves Italian food, openricers? If you have a chance to taste BigParma, do you feel the same Indonesian-Italian tongue with me or am I too Indonesian til I can’t enjoy the original Italian cuisine haha....Can’t wait to hear your story. Au revoir.
 
Recommended Dish(es):  Smoked Beef Parmigiana
 
Date of Visit: Dec 10, 2011 

Spending per head: Approximately Rp35000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

The Legendary Yamien Lela OK May 08, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Restaurant | Bakmi/Kwetiau | Kumpul Keluarga

Overall Description

Setiap kali ke daerah Dago Pakar, saya selalu menyempatkan diri mengunjungi setiap resto atau tempat makan di daerah sana. Karena di daerah Dago Pakar kita nggak hanya bisa makan, tapi juga disuguhkan dengan mountain dan Bandung city view dari atas bukit. Apalagi udara sejuk di daerah Dago Pakar selalu bikin saya betah ber lama-lama nongkrong disana. Ada sebuah tempat makan yang minimalis namun homey namanya, Warung Lela. Banyak orang yang juga menyebutnya dengan Yamien Lela karena katanya yamiennya tersohor banget. Yamien Lela ini sempat ngehits juga di tahun 2003-an pas novel Cintapuccino-nya Icha Rahmanti lagi booming. Ada bagian dimana tokoh utama perempuannya, Rahmi, ketemu lagi dengan lelaki pujaannya, Nimo, di Yamien Lela ini.

 

 
Anyway, memasuki area Warung Lela seperti memasuki rumah orang pada umumnya. Rumahnya bergaya campuran tradisonal Jawa dan modern minimalis, dengan di beberapa sudutnya ada dinding terbuat dari batu-bata asli dan ukiran-ukiran tradisional pada kayu-kayu furniturnya. Di bagian terllihat luar ada dapur terbuka, masuk ke ruang tamu ada beberapa kursi kayu dengan pajangan pigura foto keluarga si pemilik warung Lela ini. Di teras belakang ada beberapa kursi dan meja kayu juga untuk pengunjung. Teras belakang langsung menghadap ke pemandangan perbukitan yang sayangnya saat saya kesini keadaannya sedang di babat, seperti buat pembangunan.Yamien Manis Spesial dan Baso Campur menjadi pilihan saya untuk makan siang kali ini. Tidak butuh lebih dari 20 menit. Si pelayan sudah menyajikannya di meja saya.

 
Food

Yamien Manis Spesial – 17K

Kalau kata orang yamien disini enak banget, buat saya sih kemanisan. Tekstur mienya bolehlah, tipis dan nggak kenyal banget jadi nggak gampang bikin perut begah. Kuah basonya juga gurih. Hanya saja ya kemanisan aja, kebanyakan kecap sepertinya. Rasa kemanisan dan harga yang overprice rasanya membuat saya nggak berani menyamakan persepsi kalau yamien ini adalah the best di sini.

 
Baso Campur – 12K

Seporsi baso campur berisi 1 buah somay, 3 buah baso, dan 1 buah tahu. Porsinya kecil banget, Tekstur somay, baso, dan tahunya sih lembut hanya saja kuahnya biasa saja, nggak terlalu gurih. Untung harganya nggak overprice juga kayak yamiennya.

 
Es Kelapa Jeruk

Melengkapi makan siang saya, es kelapa jeruk dengan rasa segar air kelapa dan asam jeruk ini berhasil mengobati rasa eneg saya setelah makan yamien kemanisan tadi hehehe..

 
Menu & Price

Selain yamien dan baso Warung Lela juga menawarkan beragam mie ayam jamur, nasi sop buntut, nasi soto ayam, aneka minuman mulai dari kopi, es kelapa, jus, sampai dessert berupa mousse dan cake. Harga makanan untuk yamien aneka baso dan mie ayam dibanderol mulai dari Rp12.000 – 17.000, paling mahal sop buntut Rp27.500. Minuman dibanderol mulai dari Rp6.000 – 18.000 untuk es kopyor yang paling mahal.

Service

Pelayanan disini cukup ramah. Tipikal orang sunda rumahan, si pelayannya dengan ramah melayani saya. Makanannya juga nggak datang terlalu lama. Semua disajikan dalam keadaan fresh.

Conclusion

Overall, untuk suasana dan lokasi Warung Lela bisa jadi rekomendasi yang tepat untuk menghabiskan weekend di Bandung, namun sayangnya harga makanan yang overprice untuk sekelas makanan yang bisa didapatkan di pinggir jalan, membuat orang bisa jadi lebih memilih restoran dengan makanan enak dan view yang sama walau harga lebih mahal.

 
Recommended Dish(es):  Yamin Spesial
 
Date of Visit: Jan 06, 2012 

Spending per head: Approximately Rp20000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 5  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 2

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0