OpenRice Index
  
ichakhairisa
This is ichakhairisa living in Cilincing. I am a Editor, work in Kuningan. I like to hang out in Sudirman, Kelapa Gading, Kuningan. Betawi, Jawa, International food are my favorite cuisines. I also love Chocolate / Candy Shop, Kedai Kopi & Teh and Es Krim/Yogurt, Dessert, Soto/Rawon, Dim Sum, Salad.
Member 98 First(s)
No. of Review218 Review(s)
編輯推介數目148 Editor's Choice
Recommended16 Recommended
Popularity11486 View(s)
Replies in Forum5 Comment(s)
Upload Photos1216 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant2 My Restaurant(s)
Follow1 Following
粉絲1312 Follower(s)
ichakhairisa  Level 4
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 1 to 5 of 218 Reviews in Indonesia
Classic American Bistro  Smile May 27, 2013   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Amerika | Restaurant | Burger

Downtown selalu menjadi pusat bertemunya orang-orang. Pusat kota dimana para pekerja bertemu dan berkumpul menghabiskan waktu mereka. Pusat kota dimana orang-orang yang kesepian hanya menghabiskan waktu mereka disebuah restoran atau kafe sambil berseluncur di dunia maya. Pusat kota dimana sebuah bistro a la American 1950-an berdiri dengan klasiknya di sebuah gedung yang juga menjulang di tengah kota, Landmark Building. Sebutlah Downtown Bistro, sebuah bistro yang telah berdiri setahun lalu ini menempati area belakang Landmark Building, Sudirman dan menspesialisasikan dirinya sebagai a place for working people. Selayaknya New York, Sudirman pu merupakan pusat kota dimana setiap orang pasti butuh tempat singgah setelah lelah bekerja.

 
Bistro yang juga lebih mengarah ke coffee shop bagi para pekerja kantoran ini menghadirkan interior a la Amerika di kala tahun 1950. Klasik, minimalis dan sedikit misterius dengan penerangan yang sangat redup dan memancarkan cahaya cokelat dari pantulan sebagian furniturnya yang juga didominasi cokelat tua. Deretan meja makan dengan perlengkapan makan stainless menyambut saya di bagian tengah ruangan yang bisa dibilang ini area outdoor. Beberapa set sofa juga disediakan untuk duduk santai sambil ditemani semilirnya angina. Di area indoor terdapat lemari buku panjang berisikan buku-buku jaman dahulu, sepintas ruangan ini didesain persis seperti perpustakaan dengan meja dan kursi tinggi juga yang sering terdapat di perpustakaan universitas. Di salah satu sudut lainnya ada little bar dengan gantungan gelas-gelas kaca yang cantik. Sayangnya, dapurnya tertutup jadi pengunjung nggak bisa melihat sibuknya dapur restoran ini.

Downtown Bistro menawarkan beragam menu American untuk menemani waktu santai atau makan malam romantis dengan pasangan kita. Silahkan tengok Downtown Nachos atau atau Asian Beef Salad untuk membuka acara makan kamu. Downtown juga punya bergaman menu appetizer lain yang mayoritas salad dan soup. Pilihan main coursenya juga menarik, The George Steak, The Rocketeer bisa jadi pilihan untuk penyuka grilled beef atau Pan Seared Black Cod atau Fish and Chips bisa jadi pilihan untuk penikmat ikan. Ada aneka pasta juga seperti Jumbo Pesto atau Spicy Tuna yang bisa dipilih serta aneka dessert yang mouth-watering seperti The George Pie sebagai signature dessert mereka. Downtown juga menyediakan pilihan cocktails, decandent chocolate, milkshake, juice atau soda yang menjadi pelengkap makanan disini. Malam itu saya datang bersama teman-teman foodies untuk mencicipi beberapa menu andalan Downtown Bistro secara eksklusif dan dipandu oleh chef-nya langsung. Let’s see what I got from the dinner:

Sebelum makan, Nutella Milkshake (38K) dihidangkan di meja saya. Nutella yang di shake dgn hazelnut ini sungguh surga sebelum saya memulai makan malam. Teksturnya lembut dan aroma nutella serta rasa kacang yang pekat sangat terasa di minuman ini.

Begitu juga dengan Green Tea Milkshake (38K). Rasanya green tea-nya cukup pekat dengan tambahan susu yang juga pas dan tekstur creamy-nya membuat saya makin suka dengna minuman ini.

 
Menu pembuka kali ini adalah Asian Beef Salad (42K). Ini berupa mesclun salad dengan arugula, tomato, ditambah irisan tenderloin yang dimarinated dengan oyster, honey, dan sedikit sesame oil. Untuk garnishnya, Downtown menambahkan wonston skin dan kacang mede. Sedangkan dressingnya berupa campuran season dressing soy sauce, season oil, dan honey. Keseluruhan salad ini enak apalagi dressingnya memberikan efek segar begitu pula potongan dagingnya yang empuk.

 
Dilanjutkan dengan Capuccino Mushroom Soup (30K) yang membuat saya tercengang dengan namanya. Jangan terkecoh dengan namanya, meskipun ada capuccino-nya, ini pure soup bukan kopi. Dinamakan capuccino karena disajikan dalam cangkir dan warna sup-nya memang mirip dengan minuman capuccino. Sup ini memadukan jamur shitake dan champignon yang di blend sempurna sehingga teksturnya selembut cappuccino ditambah dengan milk foam yang membuatnya makin semirip kopi dengan cream di atasnya. Rasanya agak creamy, gurih dan sedikit manis. Simply love it!

 
Downtown Nachos (49K). I love how Downtown made their tortilla chips by themselves. Teksturnya lebih crunchy namun lembut. Mereka juga membuat garnish handmade untuk nachos ini dari potongan jalapeno dan daun cilantro.

 
Masuk ke side menu, saya mencicipi Fish Sandwich (55K). Sandwich dengan roti tebal namun empuk ini diisi dengan ikan Dory yang digoreng tepung yang lembut, foccacia herbs, ice smoked lettuce tanpa dressing. Untuk pelengkapnya ada french fries dan mix salad. Oiya untuk yang bosan dengan french fries, Downtown menyediakan 4 varian olahan kentang seperti mashed potato, potato cakes, potato wedges, dan potato chip.

 
Here’s the main course, The Rockeeter (145K) ini merupakan salah satu signature dish disini. Menu ini terdiri dari Australian Tender Beef marinated with homemade downtown seasoning ditutup dengan arugula, caramelized shallots dan balsamic reduction sauce yang di reduce dengan sugar kemudian disajikan bersama potato chips. Sayangnya, even daging ini digrilled dengan ukuran medium, saya bisa merasakan dagingnya sangat keras/alot. Bahkan saya sampai mengeluarkan sekuat tenaga saya untuk memotong daging yang sudha tipis itu. Hmm…mungkin perlu dikoreksi teknik memasaknya nih Downtown.

 
Pan Seared Black Cod (62K). Gindara fish ini di marinated dengan soy sauce, coriander dan honey. Sementara saus di atasnya terbuat dari miso glazed, dengan garnish cashew nut, leek, dan red chili. Untuk side dishnya mereka meletakkan Asian pickles (asinan) yang terdiri dari parutan carrot, pineaplle, mangga muda dan lettuce. Sayangnya, sama seperti The Rocketeer, ikan ini sepertinya perlu perhatian khusus saat memasaknya. Saya bisa mencium bau amis yang cukup kuat saat memotong dagingnya. Meskipun tekstur ikannya sangat lembut dan segar namun bau amisnya membuat ikan ini tidak terlalu menggugah selera saya.

 
Selanjutnya, untuk penutup dinner, saya disuguhkan dua dessert andalan Diwntown Bistro. Satu yang sangat saya sukai adalah The George Pie (45K). Pie ini merupakan apple pie yang memiliky flaky crust, garing dan lembut. Ditambah dengan cinnamon powder dan kismis serta disajikan dengan vanilla ice cream, dessert ini sungguh menyenangkan perut saya. Aroma apel dan cinnamonnya menyatu dengan sempurna dan tekstur apple yang sudah menyerupa selai di bagian dalam pie-nya juga cukup lembut dan manisnya pas. Please gimme more!

 
Chocolate Mousse Trio (45K) juga menjadi juara dessert mala mini. Cake tiga lapis ini terdiri dari lapisan cokelat, mocca, dan vanilla kemudian diberi garnish white chocolate dan stroberi. Teksturnya seperti ice cream namun padat. Saat saya memakannya, awalnya sedikit padat namun kemudian semuanya meleleh dimulut dengan rasa cokelat, mocca dan vanilla berpadu sempurna, ada rasa pahit dan manis yang menggoyang lidah saya.

 
Terakhir, Espresso Martini (85K) disajikan untuk melengkapi dessert time. Minuman ini merupakan campuran baileys, vodka, absolut blue, dan coffe. Rasanya lebih pekat ke rasa baileys dan coffe. Creamy namun menghangatkan badan. Love it!

 


Dengan begitu banyak pilihan makanan khas America dan lokasi yang strategis, tak salah jika Downtown juga memasang harga yang cukup tinggi namun worth to spend. Menu appetizer dapat dinikmati mulai dari Rp41.000 – 47.000 sementara main coursedapat dinikmati mulai dari Rp63.000 – 160.000. Aneka pasta mulai dari Rp57.000 – 67.000 dan dessert dapat dinikmati mulai dari Rp45.000 – 55.000.

Pelayanan disini buat saya sih cukup ramah dan kekeluargaan. Chef-nya dengan sabra menceritakan teknik memasak setiap menu yang disajikan kepada kami malam itu. Dengan segala komentar dari kami tentang masakannya pun, si chef dan marketingnya tetap opened dan menerima segala masukkan. Makanan pun datangnya dalam porsi wkatu yang pas 15 – 20 menit. Saya menikmati acara makan malam mini namun terus meninggalkan pertanyaan mengapa daging yang dimasak medium bisa sebegitu kerasnya ya? Well, Downtown has the answer. I wish when I comeback here I will get the Rocketeer flies me like a rocket to the heaven of delicious food hahaha!

 
 
Recommended Dish(es):  nutrella milkshake,asian beef salad
 
Date of Visit: May 16, 2013 

Spending per head: Approximately Rp100000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jepang | Restaurant | Ramen | Kumpul Keluarga

Overview & Venue

Ramen masih terus datang silih berganti, seperti my latest post, kali ini saya memuaskan rasa penasaran saya akan gerai ramen terbaru dibilangan Taman Ratu, Green Ville, Jakarta Barat. Ramen ini sedang menjadi pembicaraan hangat dikalangan foodies, tidak hanya rasanya yang otentik, namun keramahan dan how low profile the owner-nya pun membuat semua orang ingin kembali kesini. Sambil ditemani hujan deras kala itu, kaki saya melangkah masuk ke sebuah gerai yang dari depannya tidak akan tampak jika kita tidak jeli. Lokasi gerainya ini memang terapit dua ruko yang juga sama-sama kecil disepanjang jalan Taman Ratu. Namun, jika kita jeli, carilah ruko dengan plang bertuliskan huruf Jepang dan kata-kata Tsurukamedou. Disitulah sebuah resto ramen yang baru lahir beberapa bulan dan sudah dibicarakan banyak orang itu. Restonya kecil mirip dengan tipikal kedai ramen pinggir jalan di Jepang hanya saja dengan tampilann lebih modern. Susunan set meja makan kayu berwarna cokelat muda membuat resto ini terkesan minimalis. Pencahayaannya yang kuning juga makin membuat resto ini hangat dan bersahabat. Open kitchennya membuat pengunjung bisa dengan bebas melihat pembuatan ramennya atau chef asal Jepang asyik meracik ramen untuk kita. Jika bosan, bisa membaca majalah-majalah berbahasa Inggris dan Jepang yang tersedia di depan meja kasir.

 
Saya dan teman-teman langsung disambut hangat oleh sang pemilik yang sangat-sangat low profile dan ramah. Awalnya saya malah tidak tahu kalau ownernya ada diantara kami, karena dia ikut berdiri di depan pintu sambil membantu beres-beres meja juga. Tidak lama kemudian beliau baru menyapa saya dan teman-teman kemudian menceritakan sekilas tentang resto asal Nagoya yang sudah memiliki 8 cabang ini. Kata Tsurukamedou sendiri berasal dari dua pendekar Tsuru dan Kame, Tsuru merupakan pendekar Bangau sedangkan Kame merupakan pendekar kura-kura. Keduanya terinspirasi dari serial Dragon Ball. Resto ini terkenal dengan Hakata Style Super Tonkotsu Ramen-nya yang tidak menyajikan banyak menu hanya pure ramen tradisional dengan beberapa side dish dan aneka topping tambahan. Hal ini dilakukan untuk menjaga citarasa ramennya sampai-sampai kuah ramennya pun harus digodok selama dua hari.

 
Saya setuju sekali dengan kejujuran si pemilik Tsurukamedou apalagi saya bukan seorang ramen judge hanya seorang penikmat, maka saya menikmati malam itu tanpa harapan apa-apa, karena saya tahu dari sebuah keramahan dan kejujuran, saya pasti yakin ramen disini pun akan berbicara jujur. Setelah kami memesan makanan, si pelayan langsung meneriakkan menu yang kami pesan dengan cara berteriak kepada staf di dapur dan kemudian staf di dapur tersebut membalas dengan kata ‘Hai’ atau ‘Ya’ dalam bahasa Jepang. Unik sekali kedengarannya, tapi itulah cara Tsurukamedou berbeda dari yang lainnya.

 
Menu

Karena mereka mengandalkan keotentikan Hakata style, maka menu yang ditawarkan disini pun sangat terbatas. Mereka hanya punya Tonkotsu Ramen dengan base kuah daging babi dan Tori Ramen dengan base kuah daging ayam. Kesemuanya dapat dipesan dengan tambahan topping dan ras akuah yang spicy atau non spicy. Mereka juga punya Chahan dengan empat pilihan ebi, tori, buta, dan shinsen. Sedangkan untuk snacknya mereka punya Tori Kaarage, Tori Katsu, Gyoza dengan tiga pilihan filing yaitu buta, tori, dan ebi yang bisa di grilled ataupun di goreng dan aneka snacks lainnya. Dessert pun hanya berupa compliment Manngo Jelly. Minuman juga terbatas dan ocha yang free refill tentunya jadi jualan utama mereka,

Food & Beverages

Malam itu dibuka dengan segelas ocha hangat yang menghangatkan tubuh saya, disusul dengan sepiring Ebi Gyoza (32K). Cemilan khas gerai ramen ini disajikan enam pieces tiap piringnya. Kita bisa memilih filingnya dan teknik memasaknya, ada yang buta (babi), tori (ayam), dan ebi (udang ebi) baik di fried atau grilled. Ebi Gyoza disini memiliki kulit gyoza yang sangat lunak dan lembut sampai-sampai harus hati-hati memegangnya. Aroma jahe sudah tercium sebelum saya menggigitnya dan semakin kuat saat saya membuka dan mengigit bagian dalamnya. Potongan ayam cincang yang gurih berpadu pas dengan aroma jahenya. I simply love this dish!

 
Tori Kaarage (32K)

Tori Kaarage juga mencuri perhatian saya, daging paha ayam yang dipotong kecil-kecil dan digoreng dengan tepung hingga garing ini benar-benar cemilan yang menyenangkan. Daging paha ayamnya cukup tebal dan saya tidak menemukan sagu yang saya temukan apda Tori Kaarage di ramen resto sebelumnya. Biasanya sagu didalam kaarage dibuat untuk ‘menggemukkan’ tampilan si kaarage, tapi Tsurukamedou tak perlu tambahan sagu, dagingnya yang tebal dan tepung yang crunchy sudah membuat kaarage ini jadi juara. Rasanya gurih namun tiba-tiba berubah jadi pedas hehehe…saya nggak menyangka spicy-nya justru jadi after taste, tapi untung nggak terlalu pedas, jadi masih bisa saya makan. Tori Kaarage ini disajikan dengan coleslaw dengan dressing asin khas Hakata style. Refreshing!

 
Tori Katsu (32K)

Chicken Katsu disini juga tidak tebal karena tepung, tapi ayamnya. Dagingnya memang tebal dan empuk dibalut tepung yang digoreng sangat crunchy dan nggak berminyak. Wah, rasa-rasanya saya sanggup menghabiskan cemilan ini sendirian nih!

 
Tori Ramen (45K)

Berhubung saya tidak mengkonsumsi daging babi, akhirnya saya pilih Tori Ramen. Ramen berkuah ayam ini disajikan dengan potongan ayam, telur setengah matang, nori, jamur dan daun bawang cincang. Saya suka bagaimana mereka memadukan mie ramen yang tipis dengan kuah tidak terllau pkeat namun sangat gurih dan kaya akan kaldu ayam. Saya bahkan sampai menyeruput berkali-kali kuahnya tanpa mie ramennya hahaha! Dibanding kuah ramen otentik Jepang yang saya coba sebelumnya, kuah Tsurukamedou asinnya masih netral dan nggak butuh tambahan kaldu lagi dan yang pasti nggak bikin tenggorokan saya kering dan haus karena ada beberapa kuah ramen yang kandungan MSG-nya tinggi sampai-sampai asinnya bikin haus. Potongan daging ayamnya juga tebal dan lembut. It’s just perfect for non spicy lover!

 
Spicy Tori Ramen (45K)

Ramen versi pedas ini hampir mirip dengan ramen yang tidak pedas. Hanya saja toppingnya berbeda. Spicy Tori Ramen ini hanya bertopping potongan daging ayam, tauge, dan daun bawang cincang. Kuahnya cukup pekat dan pedasnya menusuk lidah. Wah, ini bukan tipe saya, nggak kuat nyeruput kuahnya hehehe….

 
Ebi Chahan (32K)

Nasi goreng Jepang ini disajikan dengan empat pilihan topping ebi, tori, shinsen dan buta. Saya mencicipi yang Ebi Chahan. Saya suka sekali dengan cara mereka memasak nasi goreng ini hingga tidak berminyak, lembut namun tidak lembek. Nasinya pulen dengan aroma ebi dan rasa ebi yang cukup kuat bercampur rasa gurih dari bumbu rahasia Jepang yang langsung memenuhi mulut saya. Nasi goreng ini juga dicampur dengan telur orak-arik dan potongan daun bawang. Simple yet tasty!

 
Mango Jelly

Setelah puas nyobain ramen, kami diberikan complimentary Mango Jelly yang kenyal dan rasanya segar. Aroma manga dan rasa mangganya begitu terasa di jellynya. Perfect closing for tonight!

 
Price

Menikmati ramen disini juga tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Harga semangkuk ramen disini berkisar antara Rp45.000 – 59.000. Untuk aneka snacks seperti gyoza, tori kaarage dan chicken katsu dapat dinikmati dengan harga hampir sama Rp32.000.

Service & Conclusion

Saya merasa seperti punya keluarga disini. Makan bersama teman-teman didampingi dengan owner yang begitu kekeluargaan, dan makanan yang benar-benar jujur apa adanya dan berhasil membuat saya terpesona. Mungkin beginilah seharusnya sebuah authentic restaurant, bukan hanya masakannya yang diutamakan tapi juga bagaimana membuat pengunjung merasa benar-benar ‘dirumah’. Pelayanann mereka sangat cepat, setelah si pelayan berteriak, makanan kami datang hanya 15 menit setelahnya. Ownernya pun ikut membantu kami menawarkan makanan yang menurut dia recommended. I believe that Tsurukamedou need neither a fancy place nor a happening area, the honest taste of Tsurukamedou will bring you a loyal customer in the future. Sure I'll be back here someday!
 
Recommended Dish(es):  tori kaarage
 
Date of Visit: May 19, 2013 

Spending per head: Approximately Rp50000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 5  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
   1 Vote(s)   View Results
Recommend
0

Jadi Tahanan Bahagia Sehari Smile May 22, 2013   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Kopitiam | Kencan / Berpasangan | Kumpul Keluarga

Overview & Venue

Suatu hari ada dua orang sahabat bernama Kim dan Bong yang terpisah karena Kim harus mendekam di penjara akibat kesalahan yang tidak dilakukannya. Karena kesetiaannya, Bong memutuskan menemani Kim dengan menjadi koki di penjara tersebut. Tak disangaka, masakan mereka terkenal enak hingga membuat 3 buronan bernama Lee, Ming dan Ken menyerahkan diri dan akhirnya menutup penjara tersebut dan membuka restoran bernama Bong Kopitown.
Sekilas cerita di atas membuat saya terbayang-bayang suasana penjara dan seperti apa masakan Bong dan Kim yang mampu membuat 3 buronan relamenyerahkan diri tersebut. Bong Kopitown, sebuah restoran yang terbilang baru dibilangan Kelapa Gading ini memang berhasil membawa pengunjungnya terkesima dengan cerita khayalan tentang asal muasal restoran ini. Memang cliché tapi saat mengunjungi restoran ini, saya seperti dibawa masuk ke Hongkong tahun 1967 dimana penjara pada jaman itu terkesan sangat kuno dan kumuh, namun Bong Kopitown tetap mencampurkannya dengan gaya modern. Dimulai di pintu masuknya saya sudah disuguhi aneka barang-barang tempo dulu seperti mesin ketik usang dan beberapa buku-buku jaman dahulu. Masuk ke lantai kedua, area tangganya dihias dengan teralis persis seperti di penjara dan kitapun juga disambut dengan waiter yang berpakain ala tahanan penjara dengan baju bergaris hitam putih. Di salah satu sudutnya terdapat buffet yang berisikan barang-barang kuno. Kapasitas meja disini kira-kira cukup untuk menampung hingga 200 orang.

 
Menu

Resto yang memiliki tagline The Happiest Prisoner on Earth ini mencoba meyakinkan penikmat kuliner kalau di penjara pun kita bisa tetap makan enak. Restoran ini membawa hidangan chinese dan peranakan a la rumahan seperti Singapore Laksa Noodle, Wonton Noodle Soup, Char Kway Teow atau Grandma Porridge. Mereka juga memiliki Kongkow Menu seperti Toast, Cassava with Coconut Milk, Fried Mantau hingga Boiled Eggs. Tak lupa menu andalan mereka, menu Buronan yaitu Ote-Ote, Choi Pan dan Ham Pan dan Nasi Penjara yang benar-benar mengingatkan akan sederhananya sebuah penjara.

Food & Beverages

Setinggi rasa penasaran saya dan seramah pelayanan para sipir penjara, saya merasakan ternyata ada nikmatnya juga masakan a la penjara berikut ini:

Ote-Ote (14K)

Menu buronan Lee ini bahkan tidak diketahui isinya oleh sang owner. Tapi ya setelah dimakan akhirnya ketahuan juga hehe.. Si Ote-ote ini tampilannya mirip pangsit goreng hanya saja ada isinya dan isinya berupa sayura-sayuran dengan campuran ebi dan sedikit rasa asin ebi namun ada after taste manisnya juga. Kulitnya crunchy, cocok banget buat cemilan apalagi dimakannya dicocol dengan sambal cair khas Bong Kopitown.

Choi Pan (14K)

Menu buronan Ming ini sepintas mirip dim sum, namun aslinya makanan ini berasal dari Singkawang. Tekstur kulit luarnya sangat lunak, lembut dan cenderung hambar namun gurih setelah dikunyah. Bagian dalamnya berupa sayuran seperti isian Ote-ote. I love it karena mengingatkan saya pada dim sum.

 
Ham Pan (14K)

Menu buronan Ken ini sebenarnya agak aneh tapi unik. Ham Pan merupakan bubur sumsum yang gurih dan sedikit manis dengan topping sayuran seperti isian Ote-ote. Buat saya rasanya aneh sekali bubur sum-sum yang manis dicampur dengan rasa asin sayuran hehehe….

 
Singkawang Rojak (18K)

Lagi-lagi makanan dari Singkawang dan kali ini rujak dengan ebi dan emping sebagai toppingnya. Wah, belum pernah saya melihat seperti ini nih. Tekstur bumbu kacang untuk sambalnya tidak diblender halus, justru kacang yang masih kasar itu menimbulkan sensasi makan rujak yang berbeda. Sambalnya tidak terlalu pedas dan disajikan dengan buah seperti kedondong, mangga muda, mentimun, dll.

 
Claypot Rice Beef (29K)

Seporsi claypot rice ini berisi nasi yang ditutup dengan potongan daging sapi, jagung, brokoli dan telur orak-arik. Porsinya cukup besar untuk 1 orang. Cara makannya lebih enak jika diaduk bersamaan. Tekstur dagingnya cukup lembut dan ada sedikit rasa saus barbeque didalamnya, sementara jagung, brokoli dan telurnya menjadi pelengkap yang pas.

 
Grandma Porridge Udang Ayam (18K)

Grandma Porridge ini punya tiga pilihan topping, yaitu seafood, chicken atau telur phitan. Yang saya coba kali ini bertopping seafood yang berupa udang dan ayam ditambah dengan potongan pangsit goreng dna daun bawang. Tekstur buburnya lembut sekali, rasanya pun gurih, begitu juga dengan potongan udangnya tidak amis. Ah gak ada yang lebih nikmat memang selain bubur dengan topping yang pas!

 
Bong Fried Rice Seafood (27K)

Nasi goreng ini juga punya tiga pilihan, nasi goreng seafood, daging atau ayam. Saya mencicipi nasi goreng seafoodnya dan buat saya rasanya lumayan. Nasinya pulen dan tidak terlalu berlemak, ditambah dengan irisan seafood seperti cumi dan udang yang tidak amis. Rasa nasi gorengnya mirip perpaduan kecap dengan bumbu pedas khas masakan Chineses yang aroma agak tajam. Disajikan dengan emping, potongan mentimun dan tomat.

 
Penang Fried Noodle (28K)

Tipikal mie a la Malaysian ini memang bertekstur tebal namun lembut. Rasa pedas dan manis cukup terasa di mie goreng ini. Toppingnya berupa potongan baso, ayam, udang dan cumi. Saya suka dengan bumbu a la Penang yang mereka gunakan. Kuat sekali aromanya. Enak deh!

 
Singapore Laksa Noodle (28K)

I love Laksa, baik asli Indonesia atau Singapur apalagi yang punya kuah pekat, gurih dan sedikit pedas dan Singapore Laksa Noodle a la Bong Kopitown ini juara buat saya. Kuah santannya sangat pekat dan terasa seperti kari India namun tidka terlalu pedas. Mie yang digunakan sama dengan mie yang dipakai pada Penang Fried Noodle, agak tebal namun lunak dan lembut. Ditambah dengan irisan ayam, potongan telur, udang, dan irisan daun bawang. Perfect!

 
Nasi Penjara (23K)

This is what makes me wanna stay in prison hahaha! Nasi Penjaranya benar-benar seperti makanan di penjara. Disajikan dalam piring aluminium tipis yang suka dipakai di rumah skait dna penjara, membuat masakan ini makin mirip seperti di penjara. Aslinya ini hanya nasi yang disiram dengan semacam kuah pada kwetiaw siram, kuah sagu yang sedikit pekat dengan sayuran seperti kol, jagung, baso, dan irisan ayam. Kuahnya sangat gurih dan benar-benar pas dicampur dengan nasi. Suka banget sama nasi penjara ini!

 
Untuk menyegarkan tenggorokan saya mencicipi Lychee Ice Tea (17K). Minuman ini sangat segar sekali buat saya. Perpaduan teh dan sirup lecinya pas. Tehnya tidak terlalu pahit dan saya masih bisa merasakan rasa leci yang manis serta aroma teh yang juga wangi.

 
Teh Tarik (15K)

Minuman yang disajikan dingin ini memang sangat khas peranakan Melayu yang sudah familiar di lidah orang Indonesia. Minuman ini memang hanya campuran teh dengan susu dan untungnya disini campurannya pas. Biasanya saya menemukan yang susunya tidak terasa atau tehnya terllau pekat, tapi Bong membuat saya menyeruput teh dengan rasa susu yang sempurna!

 
Price

Makanan a la penjara disini juga disesuaikan dengan kantong setiap orang, berhubung konsep mereka lebih ke kafe, makanya harganya pun sangat terjangkau. Aneka menu Kongkow dapat dinikmati dari harga Rp14.000 – 15.000, menu Buronan Rp14.000, menu utama Rp23.000 – 27.000, aneka minuman Rp6.000 – 20.000. Kalau mau lebih hemat lagi, kita bisa menikmati menu Tertangkap Basah Berdua, dengan hanya Rp19.500 per orang exclude tax dan service charge, kita bisa menikmati 1 menu pilihan plus Ice Tea.

Pelayanan

Jadi tahanan disini sangat dimanjakan sama sipir-sipirnya heheehe…Walaupun berbaju ala tahanan, si pelayan yang harusnya jadi tahanan justru jadi sipir yang melayani pengunjung hehehe…Saat saya kesini kebetulan ketemu dengan marcomm-nya, dia bahkan sangat ramah dan menjelaskan ke saya asal muasal penjara Bong ini. Dengan harga yang murah dan masakan yang juga familiar di lidah saya rasa setiap orang yang kesini bakal jadi the happiest prisoner on earth. Well, wanna try to be a happiest prisoner, silahkan cari Bong Kopitown di Kelapa Gading.
 
Recommended Dish(es):  Singapore Laksa,Nasi Penjara
 
Date of Visit: May 11, 2013 

Spending per head: Approximately Rp25000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 2

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
   1 Vote(s)   View Results
Recommend
0

White European Asparagus Affair Smile May 20, 2013   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Itali | Hotel Restaurant | Fine Dining | Kencan / Berpasangan

Overall Description

is one of the beautiful yet rainy season where some of flowers and vegetables grows seasonally. Asparagus is one of the most-waiting vegetables in this month and that’s why when it comes to April several restaurants are racing to serve delicious dishes with the beautiful asparagus. Scusa, an Italian dining located in InterContinental Jakarta MidPlaza is one of the racers who take part in this racing, with the event called White European Asparagus Affair, they offer white asparagus rather than the green one since it grows seasonally from late April to June. White asparagus is different than the green asparagus because of the planting process where the white colour from the white asparagus comes because the plant did not get any enough sun light, therefore the photosynthetic process is not occurred.

The white asparagus referred to as the royal vegetable which is less bitter and much more tender. It must be peeled before cooking or raw consumption. Besides, this premium vegetable is very healthy with 95% consists of water and has no cholesterols, high levels of antioxidants, a good source of vitamin C and dietary fibre which is good for disease prevention and balance our diet. In this event, Scusa not only bring this European delicacy to their kitchen, but also convince their customers that white asparagus can turn into a beautiful yet scrumptious food which can give customers a good once-in-a-year dining experience.

 

 
Venue

It was me and several food bloggers who was invited to feel this once-in-a-year dining experience. We were gathered in this fine dining restaurant which recently change its concept into casual dining. Scusa has quite spacious room with two private room upstairs which is usually booked for private meeting, while downstairs they have several cozy dining table with chocolate and maroon domination in its furniture, bar with several glasses hanging on the hanging tray and open kitchen. Scusa also provides customers with a warm lighting that make everyone who dining here feel private. We can see several award achieved by Scusa in front of the resto. There are several trophies awarding Scusa in several event such as 1st Runner Up for Best Italian/Spanish Restaurant from NOW! Jakarta Magazine. Near the open kitchen we can see a wine display. Overall, the atmosphere is still fine dining look alike for me.

 

 

 
Food & Beverages

The night was opened by Fantasia Mocktail (55K) with slices of lychee and orange on the top. It was a super refreshing mocktail which became the most favourite drink here. It was a fusion of Orange, Lychee, Mango and Grenadine syrup which offered me a colourful taste from the sour bitterness of orange to the sweetness of mango infused grenadine. Perfect opening!

 


Walnut Bread with Feta Cheese
became a complimentary food tonight. It will and always served for everyone who dining here. This bread filled with a Feta cheese comes from Greece and served with olive oil as a dipping. The taste was a lilttle bit sour but it gave me a super good cheese sensation. The bread was chewy as well. Great for waiting the main course.

 
Then, Chef Wawan Barito as the Chef De Cuisine of Scusa, served us the White Asparagus in a fried egg with Parmesan, black truffle, and rosemary butter sauce. This is the first time I meet white asparagus, I thought they are twins but actually they’re not. White asparagus much crunchier and sweeter than the green one, moreover, the white asparagus here is imported freshly from Peru. The half fried egg was just okay and the rest ingredients completing this dish.

 
Next, White Asparagus Soup came on my table. It served in a plate not in a bowl but the portion still enough to one person. This pale yellow soup is simply like a cream soup but the texture was rougher since it made from puree asparagus. The taste is a little bit sour and savoury, the pesto sauce on the top of soup enhanced the flavour. The surprising part was the cheese ball also in the top of the soup. It made from parmigiano reggiano cheese which has strong flavour but savoury as well. I simply love this soup.

 
Grilled White Asparagus and Beef Tenderloin with gorgonzola, creamed potatoes and béarnaise sauce. I chose medium rare for the beef and it gave me a super juicy and tender meat. The melted cheese and béarnaise sauce were also added the flavour of this beef. Otherwise, I prefer the grilled asparagus, it was crunchy and less water. The creamed potato was also good, it simply looks like a mashed potato but the texture was more solid.

 
We also got side dishes, the White Asparagus Risotto with parmesan and truffle served with fried asparagus. The asparagus here was well-fried like a crunchy snack; however, the texture inside was still moist and succulent. Meanwhile, the risotto’s texture which infused with parmesan and truffle was soft like porridge. The cheese flavour was so strong but melted on my mouth.

 
The best closing for tonight dining, of course, the Warm Melted Cake. This beautiful cake was served with rum raisin ice cream. It was a Chef Wawan masterpiece for me. The cake was moist outside but when you cut it you will find a treasure inside, a melted, flavorous and yummy dark chocolate. Sluuurrpp! The chocolate, however, not so dark, it gave me a sweet after taste as well and it just melted in my mouth. Oh God, who doesn’t love chocolate! The other garnishes, the stick biscuit and the rum raisin ice cream was also completing this dessert. A super winning dessert!

 
Price

Well, this once-in-a-year dining experience can be enjoying from 15 April to June 2013 at Scusa and Bacchus (in Bacchus you can also made your own asparagus dishes). With only Rp105.000++ to Rp445.000++ per portion, trust me you can get a great once-in-a-year dining experience which, yeah might be, enrich your personal knowledge and taste about white asparagus.

Service

No worry about the service, as they are formerly a fine dining resto, they still serve you with the best service and warm staffs even I can chat with Chef De Cuisine of Scusa, Chef Wawan Barito and asking several questions popped up in my mind especially about white asparagus. The service and the food was also good and fast. Everything just perfect for me that night

So, wanna try a once-in-a-year dining experience. Just visit Scusa before June passes your day, Openricers!
 
Recommended Dish(es):  Warm Melted Cake
 
Date of Visit: Apr 24, 2013 

Spending per head: Approximately Rp450000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 5  |  
Lingkungan
 5  |  
Pelayanan
 5  |  
Higienis
 5  |  
Sesuai dengan harga
 5

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
   1 Vote(s)   View Results
Recommend
0

The Long Lasting Coffe Shop Smile May 16, 2013   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Kedai Kopi & Teh

Venue & Facilities

Saat lagi butuh ngobrol santai sambil ngopi cantik di Bandung saya biasanya selalu mencari tempat yang enak, homey dan punya wifi kencang serta bebas pakai sepuasnya. Salah satu tempat yang membuat saya betah berlama-lama disini adalah Kopi Progo. Terletak di Jalan Progo No. 22, Bandung, kedai kopi ini boleh dibilang pioneer kedai atau kafe kopi di daerah ini. Kafe yang berdiri sejak 2009ini menempati sebuah rumah jaman Belanda yang sudah mendapatkan sedikit renovasi di beberapa sisi, namun saya masih bisa merasakan betapa homey-nya tempat ini saat pertama kali kesini. Kali kedua saya kesini, tempat ini mengingatkan saya akan rumah nenek saya.

Kafe ini seolah tidak memberi batas pada pengunjung setianya. Mereka mengijinkan pengunjungnya untuk tak sekedar makan tapi menikmati kalau ini rumah mereka. Nggak heran duduk berlama-lama disini pun nggak akan pernah diusir sama pelayannya hehe...Mereka menyediakan banyak sofa berwarna oranye ciri khas Kopi Progo dan kursi malas di halaman rumahnya dan beberapa kursi kayu di bagian dalam. Bagian dalamnya akan terasa interior rumah khas Bandung jaman dulu yang kental dengan tembok batu alam dan marmer, namun kini sudah dibuat lebih modern dengan marmer warna-warni. Kopi Progo juga menyediakan entertainment space berupa panggung band mini yang sering digunakan untuk live music di waktu weekend serta fasilitas home theater untuk acara nonton bola bareng dan satu lagi yang seru fasilitas wi-fi disini sangat bagus dan bebas dipakai sepuasnya even kita Cuma ngopi dan duduk berjam-jam disini hehehe…

 

 
Menu

Tentunya kopi menjadi incaran setiap orang yang berkunjung kesini. Kopi Progo menghadirkan puluhan sajian kopi yang semuanya berasal dari Indonesia seperti dari Mandailing, Toraja dan Wamena. Serunya lagi disini kita bisa menyesuaikan kopi sesuai keinginan kamu. Kita bisa memilih apakah kopinya akan diolah dengan dreep coffee, kopi peres atau kopi tubruk. Dreep coffee rasanya sangat original dan cocok untuk penggemar kopi berat, sedangkan kopi peres cocok untuk yang ingin kopi agak ringan. Kalau penasaran, kita bisa langsung mampir ke dapurnya dan melihat langsung pembuatannya. Untuk menemani ngopi cantik, Kopi Progo juga menyediakan aneka makanan ringan sampai makanan berat. Coba tengok Risoles Progo, Cheese Roll Pancake, Potato Pie, Potato Broccoli & Cheese sebagai teman ngopi kamu atau kalau sudah lapar berat pilihan aneka steak seperti Sirloin Steak atau Mie Goreng Lasem bisa mengenyangkan perut. Segarkan tenggorokan juga dengan pilihan minuman seperti Green Tea Cream atau Frozen Berrys.

 

 
Food & Beverages

Green Tea Cream

Minuman ini sering sekali disebut sebagai signature drink and one of favourite here. So, I chose it and for me it’s great! Perpaduan green tea, milk, and cream-nya benar-benar pas. Green tea-nya ngeblend dengan susu jadi tidak terlalu pahit dan susunya pun tidak terllau manis plus krim yang membuat minuman ini sangat sempurna buat saya!

 
Potato Pie

Ini menurut saya semi main course, padahal ini appetizer. Potato Pie ini sejenis mashed potato yang teksturnya tidak sekaku mashed potato pada umumnya, cenderung seperti bubur tapi agak padat dan lembut. The surprise part is ada keju mozzarella di dalamnya dan itu langsung meleleh pas saya potong potato pie ini. It’s heaven! Rasanya benar-benar heaven, lembutnya kentang yang rasanya gurih dan sedikit asin berpadu dengan lelehan mozzarella cheese benar-benar tak terlukiskan. Kalau bisa saya gambarkan, potato pie ini seperti perpaduan macaroni schotel yang rich of cheese tapi dalam versi lebih lunak. Ah can’t agree more! This is just delicious!

 
Blueberry Pancake

Sayangnya, penutup nongkrong cantik saya kali ini tidak memuaskan. Pancakenya beda banget sama gambar di buku menunya haha. Porsinya pan kecil. Tekstur adonan pancakenya sih lembut tapi entah mengapa semakiin saya kunyah kok malah semakin kasar dan agak keras ya. Sudah begitu, blueberrynya hanya berupa olesan selai blueberry dibagian luarnya saja, bahkan tidak didalam pancakenya (setidaknya) untung adonannya sedikit manis dan tambahan vanilla ice cream-nya juga sedikit menolong. Karena porsi pancake dan es krimnya gak seimbang, saat es krim sudah lebih dulu habis, pancakenya masih tersisa dan nggak ada pairingnya lagi, ujung-ujungnya mubazir deh.

 
Price

Kita dapat menikmati aneka minuman disini mulai dari Rp7.000 sampai Rp 20.000 sementara untuk makanan sebesar Rp14.000 hingga Rp30.000-an. No service charge hanya pajaknya 5%.

Pelayanan
Saya sangat menghargai pelayanan yang helpful dan make me feel home. Disini pelayannya cekatan dan sigap serta ramah. Saya memang tak disambut dengan greetings ala Jepang, tapi setelah melihat saya duduk mereka langsung menyodorkan buku menu dan mencatat pesanan saya dengan cepat. Makanan saya pun datang tidak sampai 20 menit.

Ah, saya nggak akan pernah bosan sampai kapanpun nongkrong disini. Meskipun buat saya menunya dari tahun ke tahun kebanyakan gak berubah, tapi tempat ini memang sangat pas buat nongkrong dan ngobrol panjang sama teman-teman. Nggak pernah tuh pelayannya mengusir saya hanya karena saya pesan secangkir kopi, internetan gratis dan duduk berjam-jam hehehe…Very recommended café to go for you coffee lover!
 
Recommended Dish(es):  potato pie
 
Date of Visit: Mar 16, 2013 

Spending per head: Approximately Rp25000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0