OpenRice Index
  
ichakhairisa
This is ichakhairisa living in Cilincing. I am a Editor, work in Kuningan. I like to hang out in Sudirman, Kelapa Gading, Kuningan. Betawi, Jawa, International food are my favorite cuisines. I also love Chocolate / Candy Shop, Kedai Kopi & Teh and Es Krim/Yogurt, Dessert, Soto/Rawon, Dim Sum, Salad.
Member 98 First(s)
No. of Review218 Review(s)
編輯推介數目148 Editor's Choice
Recommended16 Recommended
Popularity11501 View(s)
Replies in Forum5 Comment(s)
Upload Photos1216 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant2 My Restaurant(s)
Follow1 Following
粉絲1312 Follower(s)
ichakhairisa  Level 4
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 51 to 55 of 218 Reviews in Indonesia
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jawa | Stand / Kios

Malam pertama di Solo saya habiskan dengan mencari kuliner yang lekat dengan cirinya yang muncul di malam hari, Nasi Liwet atau Sego Liwet salah satunya. Sebenarnya saya nggak terlalu tertarik dengan Nasi Liwet ini melihat beberapa kali saya mencicipi di Jakarta rasanya ya seperti makan nasi biasa dengan lauk pauk malah kadang nasi yang harusnya kental dengan santan itu terasa seperti makan nasi biasa. Tapi lagi-lagi karena ini di Solo, darah dimana si Nasi Liwet aslinya berada, saya wajib mencicipinya.

Saya menelusuri daerah Solo Baru, sebuah kota mandiri di Solo yang dikembangkan secara modern dengan deretan pertokoan, mal dan apartemen yang beberapa masih dalam pembangunan. Di sekitar area ini, kalau malam hari berderet warung tenda dna angkringan yang menjajakan makanan khas Solo, salah satunya Nasi Liwet Yu Sani. Nasi Liwet Yu Sani ini berada di paling ujung, di dean pertokoan Solo Baru. Seperti biasanya, karena warung tenda ini sudah terkenal, rata-rata orang Solo pasti sudah hapal dimana posisi Nasi Liwet Yu Sani ini. Beruntungnya saya kesini sebelum pukul 8 malam, karena katanya nasi liwet ini cepat habis kalau sudah di atas jam 8.

Warung tendanya cukup luas dan bersih, ada area lesehan dan area dengan kursi panjang. Saya bisa menghirup aroma santan yang kuat dari nasi liwet yang masih mengepul di pancinya. Deretan makanan pelengkap nasi liwet yang terhidang di meja seperti ati, ampela, ayam sayur, gudeg, sayur labu langsung memangil-manggil perut saya. Saya memilih memesan nasi liwet dengan ati ampela, sedangkan teman saya dengan ayam sayur kuning.

Tak perlu menunggu lama, nasi liwet datang kehadapan saya disajikan dengan piring yang beralaskan daun pisang. Hmmm...belum saya makan saja, aroma kental santannya lagi-lagi menggoda saya. Nasi liwet memang dibuat dari campuran nasi dan santan kelapa encer sehingga menghasilkan tekstur nasi yang pulen, agak basah, dan wangi. Rasanya perpaduan gurih dan manis. Nasi liwet ini sangat enak dinikmati selagi hangat ditambah dengan sayur labu dan areh, gumpalan santan yang jadi ciri khas pelengkap nasi liwet ini. Ati ampela atau ayam sayur, keduanya sama enaknya. Dagingnya empuk dan cocok dimakan dengan si nasi liwet. Intinya, santan dengan nasi belum pernah seenak ini buat saya!

 

 
Makan seporsi nasi liwet ini nggak perlu mikirin harga, cukup dengan Rp7.000 saya sudah bisa menikmatinya atau kalau mau porsi lengkap cukup tambah Rp2.000 saja. Ah, rasanya ingin menambah satu piring lagi, tapi cukuplah malam ini perut saya berkeliling Solo. Masih ada esok dan kuliner menggoda lainnya yang siap dinikmati perut saya yang sudah membuncit ini hehehe...

 
 
Recommended Dish(es):  nasi liwet
 
Date of Visit: Nov 21, 2012 

Spending per head: Approximately Rp7500(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 1

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Indian Night with Openricers Smile Dec 16, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : India | Restaurant | Kumpul Keluarga

Beberapa minggu lalu gathering dan food tasting invitation mendarat di email saya lagi. Kali ini undangan dari Openrice.com untuk mencicipi masakan India di Samy’s Curry, Pacific Place. Ah kalo ingat masakan India saya langsung ingat pengalaman saya mabok kolesterol di Little India Singapura beberapa waktu lalu. Memang semua makanannya berlemak, tapi ya Tuhan siapa bisa menolak aneka curry dan lam serta prata yang menggoda perut itu hahaha! Jadi, saya lupakan diet #halahdiet, kemudian berkumpul bersama para food blogger dan Openricer sambil ngegossip ria hihihi…

 
Samy’s Curry merupakan restoran yang menyajikan South India cuisine yang terkenal di Singapura. Konsep restonya sih menurut saya tidak berbau India, mungkin karena berlokasi di area food court Pacific Place yang open space. Jadi, hanya ada beberapa set meja makan modern minimalis di bagian depan dan beberapa di bagian dalam. Meskipun tidak bernuansa India langsung, tapi makanan yang dihadirkan mala mini benar-benar fully Indian! Dalam sekejap semua masakan India itu hadir di meja kami. Sampai bingung menghapal namanya nih hehe…Kalau begitu langsung saja saya ceritain petualangan saya menambah berat badan malam ini yaa hehehe…

Dibuka dengan dengan aneka jenis Prata, saya mencicipi Plain Prata dan Egg Onion Prata terlebih dahulu. Karena dua prata ini makannya dicocol dengan kari India. Kalau sudah pernah makan prata pasti tahu bagaimana tekstur tipisnya roti a la India ini, kan. Yang juara buat saya sih karinya, tidak terlalu pekat dan berminyak dan pedasnya juga normal. Untuk menetralkan rasa kari yang sudah mulai membakar mulut saya, saya memasukkan Bomb Prata ke perut saya. Bomb Prata ini berupa prata manis dengan lumuran mentega yang cukup pekat saat digigit. Cenderung seperti martabak manis namun dengan kulit lebih tipis dan kering. Plus Tissue Prata sebagai penutup appetizer. Tissue Pratanya sangat garing dan rasanya cukup gurih.

 
Masuk ke main course Nasi Briyani selalu menjadi menu utama yang tidak boleh dilewatkan. Seperti umumnya nasi khas India, nasi Briyani ala Samy’s Curry ini juga rasanya sama seperti nasi Briyani lainnya hanya tidak terlalu kuat bumbunya.

 
Fish Head Curry yang disajikan dalam semangkuk besar kari membuat saya membelalakkan mata. Gila, itu kepala ikan gede banget dalam hati saya. Ternyata itu kepala ikan kakap putih yang direndam dalam kari yang sangat autentik. Kari yang ini beda dengan kari pada cocolan prata sebelumnya. Karinya lebih hitam, pekat dan after tastenya bukan hanya pedas menggigit lidah tapi pahit merayapi tenggorokan saya. Hmmm…untuk yang ini perut saya agak sedikit tidak bersahabat, soalnya terlalu pekat sih karinya. Daging kepala ikannya juga menurut saya masih sedikit berbau amis.

 
Masala Chicken juga kental dengan bumbu pedas khas India yang mirip bumbu rendang hanya saja pahit dan pedas dari kunyitnya menambah citarasa India yang khas. Enaknya ada after taste manis setelah mengunyah ayam dengan bumbunya. Begitu juga dengan Chicken Tikka-nya. Daging ayam yang dipotong kubik dibalut dengan kari yang sedikit pedas. A typical Indian cuisine as usual. Sementara, Mutton Curry menggunakan daging domba bersalut kari berwarna lebih hitam. Rasanya kental dengan citarasa blackpepper namun tidak terlalu pedas. Dagingnya empuk dan tidak berbau. I kinda love this lamb!

 
Untuk jenis sayurnya, Samy’s Curry memodifikasi kembang kol dengan balutan curry yang lebih kering. Awalnya sih ditujukan untuk anak-anak yang tidak suka sayuran, makanya dibalut kari biar nggak kelihatan kalau ini sayur hehehe…Rasanya sih jadi unik, empuk, pedas di luar gurih di dalam. Satu lagi yang nggak kalah serunya itu, Cheese Dosai, makanan ini kulitnya hampir sama dengan prata hanya saja agak sedikit basah, diisi dengan parutan keju dan mayonnaise. It’s like finding a treasure, pas memotong kulit dosai yang digulung itu, kemudian menemukan tumpukan keju dan mayonnaise yang menyatu dan menghadirkan rasa asin, manis dan gurih yang heavenly banget! Saya suka banget sama yang satu ini!

 
Penutupnya, Mutton Martabak, pancake serupa martabak dengan daging kambing cincang, telur, bawang putih dan merah dan dicocol dengan kari. Teksturnya lembut, dagingnya menyatu sempurna dengan kulitnya. Mirip makan martabak telur tapi ini berisi daging kambing dan lebih padat isinya. Simply love this for closing the dinner.

 
Oh ya, Lemon Squash bisa jadi pilihan yang tepat untuk menetralkan kari yang sudah masuk bertubi-tubi ke perut saya. Atau yang suka susu dan the, Teh Tarik juga bisa melengkapi acara makan kari ini. Buat saya, perpaduan teh dan susunya kurang pas, terlalu banyak susu, tehnya tidak terasa bahkan wangi tehnya juga kurang tercium. Jadi, seperti minum susu cokelat manis saja menurut saya.

 
Untuk masalah harga, Samy’s Curry juga masih terjangkau dengan kantong kita. Harga makanannya mulai dari Rp16.000 – 115.000, sedangkan minuman mulai dari Rp5.000 – 35.000. Soal pelayanan saya nggak bisa menilai, karena ini food tasting jadi makanannay semua tersaji tepat waktu sih, ya mudah-mudahan sih nggak mengecewakan kalau saya kembali kesini.

Anyway, thanks Openrice dan Samy’s Curry for inviting me. Really enjoy the gossiping nite with all crews and members!
 
Recommended Dish(es):  prata,cheese dosai
 
Date of Visit: Dec 12, 2012 

Spending per head: Approximately Rp100000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Stand / Kios

Hari kedua backpacking ke Solo kali ini saya menyempatkan main ke daerah Tawangmangu setelah dikomporin sama teman saya kalau disana ada sop buntut paling enak se-Solo. Tanpai dikomandoi lagi, saya meluncur kesana dengan berbekal mobil sewaan karena seharian hujan dan nggak bisa touring pakai motor. Singkatnya, saya terdampar di daerah pegunungannya Solo, Tawangmangu yang sejuk dan dingin banget dan keputusan nyobain makanan yang hangat seperti sup itu memang pilihan tepat. Sop Buntut dan Pecel Bu Ugi-lah pilihan saya. Rumah makan ini terletak di pinggir Jalan Raya Solo-Tawangmangu, tepatnya disebelah timur pasar Tawangmangu. Posisinya di sebelah kanan dan berada di jalur penanjakan menuju Tawangmangu. Kalau kata teman saya sih, kalaupun kita kesulitan mencari rumah makan ini, cukup bilang Bu Ugi saja semua orang Tawangmangu pasti tau. Soalnya dengar-dengar rumah makan yang awalnya terkenal dengan Nasi Pecelnya ini sudah berdiri sejak tahun 1930 dan merambah ke sop buntut pada tahun 1980-an.

Rumah makannya cukup besar dan nyaman dengan kapasitas kira-kira 50 orang. Interiornya juga sederhana saja, hanya menggunakan kursi dan meja plastiok kayak di warung makan pinggir jalan, cuma karena udaranya dingin jadi ya suasananya nayaman-nyaman aja buat saya.

Baru duduk saja saya sudah bisa mencium aroma sop buntut yang wangi sekali dan membuat perut saya benar-benar bergejolak. Nggak sampai 10 menit setelah order, sop buntut itu datang ke meja saya dan lagi-lagi aroma gurih dan bau daging sapinya itu lho, kok bisaaaa menggoda banget yah hihihi...

 
Saya terkejut pas melihat seporsi sop buntut Bu Ugi ini, beda dengan sajian sop buntut yang biasa saya makan di Jakarta. Semangkuk sop buntut Bu Ugi ini disajikan dengan potongan kentang dan wortel yang besar dan taburan daun bawang. Dagingnya pun gak hanya buntut tapi ada beberapa potongan daging sapi lengkap dengan tulangnya. Plus perkedel dan gorengan tempe yang bisa jadi pelengkap sop.

 
Jangan tanya seperti apa reaksi saya setelah menyeruput kuah sopnya. Yang bisa saya bilang hanya 'Ya Oloh rasa kuahnya mirip sama wanginya!' It's perfect! Saya bisa merasakan rasa daging sapi yang kuat dan gurih bahkan hanya menyeruput kuahnya yang kental itu. Ini jarang-jarang banget lho terjadi pada sop bening yang biasa saya makan. Biasanya cuma wanginya aja, rasanya pasti beda, tapi Bu Ugi make it right! Potongan buntut dan dagingnya pun lembut dan mudah dikunyah. Kalau suka pedas, Bu Ugi menyediakan saus kecap yang sudah ditambah irisan cabai. Kalau buat saya sebenarnya agak failed pas kuahnya diberi kecap pedas, soalnya udah nggak berasa gurih lagi. Percayalah, kuah originalnya itu lebih mantaaaap! Dijamin ketagihan!

 
Seporsi sop buntut ini dihagai Rp17.500 saja. Harga yang sangat murah melihat harga daging sekarang sangat mahal. Nah, lagi-lagi saya nggak nyesel jauh-jauh ke Tawangmangu hanya untuk nyicipin sopnya si Bu Ugi ini, selain suasana pegunungan yang begitu lekat di sekitar saya, mencicipi lezatnya sop ini juga benar-benar memanjakan perut saya. Indahnya bisa menikmati kuliner Indonesia seperti ini. Sampai ketemu di jelajah kuliner Solo saya selanjutnya, eaters!
 
Recommended Dish(es):  sop buntut
 
Date of Visit: Nov 22, 2012 

Spending per head: Approximately Rp20000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 5  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 2

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Menikmati Kere Khas Yu Rebi Smile Dec 16, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jawa | Street Foods | Sate

Tenang aja, kamu nggak akan 'kere' kok cuma karena makan sate ini hihi...sate kere ini memang salah satu makanan khas Solo yang wajib dimakan saat berkunjung disini. Kenapa dinamakan 'kere' karena katanya orang Solo nggak sanggup pesan satu porsi dengan beragam jenis, jadinya dijadiin satu porsi isi macam-macam daging mulai dari daging, babat, ati ampela, gajih, ginjal, sampai torpedo! Tapi sebenarnya 'kere' itu merupakan nama lain dari tempe gembus atau ampas sisa pembuatan tempe. Kere ini diolah lagi sehingga bisa dimakan, deh.

Salah satu gerai sate kere ternama di Solo adalah Sate Kere Yu Rebi. Sudah bertahun-tahun Yu Rebi berjualan disini dengan rumah makan yang semuanya di cat berwarna oranye. Rumah makannya cukup luas berkapasitas kira-kira 80 orang. Di salah satu dindingnya kita bisa melihat foto Yu Rebi dan suaminya lengkap dengan kebaya dan beskapnya. Di bagian depan rumah makan, saya bisa melihat etalase berisi daging-daging yang sudah ditusukkan ke tusuk sate dan sebuah panggangan sate yang selalu mengepul.

Yu Rebi menjajakan aneka jenis sate yang rata-rata jerohan sapi, that's why nama rumah makan ini sebenarnya sudah berubah menjadi Sate Jerohan Sapi Yu Rebi. Sate daging, ginjal, babat, ati, torpedo merupakan pilihan bagi para penikmat jerohan. Seporsi sate tersebut berisi 10 tusuk. Saya memilih sate campur yang berisikan kesemua daging tersebut plus sate kere karena penasaran seperti apa tempe gembus itu.

 
Seporsi sate disini disajikan dengan lontong ataupun nasi. Saya memilih lontong. Lontong dan satenya sama-sama disiram dengan bumbu kacang yang agak sedikit pedas. Bumbunya sangat kental dan rasa kacangnya pun begitu pekat bahkan saya masih melihat potongan kacang kecil-kecil di bumbunya.

 
Sate campur sendiri isinya daging, ati, ampela, babat, gajih, ginjal, dan torpedo. Buat saya ketika semua daging ini dimakan bersamaan dengan bumbunya rasanya sama hehehe...Yang membedakan hanyalah tekstur tiap dagingnya saja dan ada ciri khas rasa tertentunya, seperti ati dan torpedo, kenyalnya beda dengan daging biasa. Anyway, walaupun terlihat tidak pedas, after taste bumbu kacang Yu Rebi ini dahsyat, pedasnya baru berasa di tenggorokan dan perut setelah makan! Nggak membayangkan orang yang menambahkan cabe dan bawang merah tambahan yang juga disodorkan Yu Rebi hihihi...

Sedangkan si sate kere alis si tempe gembus di bentuk kotak panjang dan ditusukkan ke sate. Sama seperti sate lainnya, si kere ini juga di bakar terlebih dahulu hingga kecokelatan. Teksturnya lembut sekali dan sedikit puffy dan terasa sedikit berampas ketika dikunyah. Rasanya gurih, sedikit mirip seperti makan adonan tempe dan tahu yang diblender halus.

 
Soal harga, kalau kata orang Solo yang sudah lama tahu Yu Rebi, harga disini semakin hari semakin mahal, mungkin karena Yu Rebi sudah punya 'nama'. Seporsi sate rata-rata dibanderol dengan harga Rp.22.000. Selain sate, Yu Rebi juga menyajikan sop buntut dan gado-gado komplit atau biasa dengan harga Rp10.000 untuk gado-gado dan Rp22.000 untuk sop buntut. Minuman murah aja rata-rata Rp2.000 - 3.500.

Yah, walaupun mahal berkunjung ke kedainya Yu Rebi nggak akan jadi kere juga kok. Kalau saya sih sangat terobati dengan si sate kere tersebut. Kulineran di kota yang masih kental makanan aslinya itu nggak akan pernah rugi. Hayoo siapa lagi yang mau mampir ke Solo.

 

 
 
Recommended Dish(es):  sate campur
 
Date of Visit: Nov 22, 2012 

Spending per head: Approximately Rp25000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 2

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
   1 Vote(s)   View Results
Recommend
0

Now Rolling : Sushi Den Smile Dec 16, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jepang | Restaurant | Sushi | Halal | Kencan / Berpasangan | Kumpul Keluarga

Mencari tempat makan sushi yang enak di Bandung bagi saya susah, kecuali di tempat sushi terkenal yang ‘you-know-it’ lah. Minggu lalu saya direkomendasikan teman untuk mampir ke sebuah restoran sushi yang berada di bilangan Jalan Hariangbanga, Sushi Den namanya. Pemiliknya kebetulan merangkap sebagai chef disini juga dan dengan ramahnya menyambut saya, kebetulan disaat yang sama saya sedang menghadiri Bandung Culinary Gathering di tempat ini, jadi saya pun bisa mencicipi menu-menu Sushi Den sepuasnya hehehe…

Berada di lokasi yang cukup strategis dan di udara Bandung yang sejuk, Sushi Den mencoba menghadirkan tempat makan yang nyaman dan juga bernuansakan makan a la Jepang dengan meja-meja lesehan dan bantal-bantal empuk yang enak buat duduk-duduk cantik. Ada juga area sushi bar dimana kita bisa melihat langsung para pembuat sushi beraksi dengan tangan-tangan terampilnya. Di bagian dalam restonya terdapat dua area yang cukup luas dan terkesan lebih privat karena semuanya menggunakan sofa, tapi siapa saja boleh duduk disini kok. Beberapa lukisan kartun anime Jepang mempercantik bagian dalam ruangan di Sushi Den ini.

 
Ngomongin soal menu, pasti tidak jauh-jauh dari sushi. Sushi Den punya banyak menu fushion sushi dengan range harga Rp25.000 – 45.000. Ada juga aneka robatayaki, futomaki, nigiri, temaki, dan makimono. Untuk menu non sushi, ada donburi dan paket bento.

Ada satu menu baru yang unik yaitu, Corndog Sushi (30K). Sushi ini dibentuk seperti corndog, digulung lonjong panjang kemudian diberi tepung panir dan digoreng. Saya langsung penasaran mencicipinya. Tampilan luarnya begitu menggoda, dua stik corndog itu mirip seperti risoles ukuran besar namun padat. Ketika saya potong, kulit bagian luarnya begitu crunchy dan gurih. Bagian dalamnya tetap sushi yang sudah diberi adonan salmon, tuna, ayam daaaan ada mozzarella meleleh juga di dalamnya! Heaven banget litany! Karena bentuknya sudah bukan normalnya sushi, menurut saya sih saya seperti makan nasi gulung dicampur adonan ikan saja, but it’s all good and fresh for me! Suka banget sama garing kulit luarnya!

 

 
Cheese Salmon Sushi (40K) menjadi pilihan kedua saya karena perut ini nggak bisa melihat salmon dan keju hihihi…Sushi Den memberikan ukuran sushi yang cukup besar dengan harga yang minim. Cheese Salmon Sushi ini berisi timun Jepang, kani, salad, alpukat dna diberi toping salmon segar serta lelehan keju mozzarella dan saus teriyaki di piringnya. Nasi sushinya lembut dan tidak mudah hancur saat digigit. Topping dan isinya juga segar dan selalu pas untuk perut saya. Nggak ada yang lebih heaven sih daripada salmon dikasih lelehan keju mozzarella begitu hehehe….

 
Untuk soal harga nggak perlu takut, selain tempat yang enak dan porsi sushi yang sama besarnya dengan resto sushi ternama ‘itu’, Sushi Den menawarkan harga sekitar Rp25.000 – 45.000 saja untuk sushinya, sedangkan aneka donburi dan bento dapat dinikmati dengan harga Rp22.500 – 45.000. Cicipi juga aneka punch, atau juice segar seperti Sparkling Sunrise atau Forest Volcano mulai dari Rp12.500 – 15.000 saja.

 

 
Overall, puas banget makan disini, pelayanannya juga oke banget. Saat saya mau minta sendok saja, si mas-masnya sampai sibuk mencarikan tissue buat saya agar sendoknya datang dengan bersih dan rapi di tangan saya, padahal saya tidak perlu segitu repotnya hihihi….So, bagi kamu pecinta sushi di Bandung, Sushi Den jadi tempat recommended untuk menikmati sushi enak dengan harga reasonable. Punya pengalaman seru nyobain sushi lainnya di Bandung? Don’t hesitate to share your stories here, eaters!
 
Recommended Dish(es):  corndog sushi
 
Date of Visit: Nov 24, 2012 

Spending per head: Approximately Rp50000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 5  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
   1 Vote(s)   View Results
Recommend
0