OpenRice Index
  
ichakhairisa
This is ichakhairisa living in Cilincing. I am a Editor, work in Kuningan. I like to hang out in Sudirman, Kelapa Gading, Kuningan. Betawi, Jawa, International food are my favorite cuisines. I also love Chocolate / Candy Shop, Kedai Kopi & Teh and Es Krim/Yogurt, Dessert, Soto/Rawon, Dim Sum, Salad.
Member 98 First(s)
No. of Review218 Review(s)
編輯推介數目148 Editor's Choice
Recommended16 Recommended
Popularity11502 View(s)
Replies in Forum5 Comment(s)
Upload Photos1216 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant2 My Restaurant(s)
Follow1 Following
粉絲1312 Follower(s)
ichakhairisa  Level 4
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 56 to 60 of 218 Reviews in Indonesia
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Restaurant | Kedai Kopi & Teh | Kumpul Keluarga

Apa yang nikmat dari jalan-jalan ke daerah pegunungan yang sejuk kemudian hujan deras dan badan kedinginan? Minum yang hangat-hangat kalau buat saya. Nggak heran ketika terjebak hujan deras di daerah Kemuning, Karanganyar, Solo, saya dan teman-teman memutuskan berteduh sambil ngeteh cantik di sebuah rumah teh bernama Ndoro Donker. Rumah teh yang memiliki nama sepintas seperti nama orang Belanda ini sebenarnya memang dimiliki oleh seorang lelaki berkebangsaan Belanda bernama Donker yang juga memiliki perkebunan teh di daerah Desa Kemuning ini. Rumah teh ini berdiri cantik di tengah-tengah perkebunan teh yang asri. Dengan konsep gaya Belanda, saya disuguhkan suasana homey mulai dari pelataran parkir rumah ini. Di bagian dalamnya terdapat dua area, area indoor dan outdoor. Di outdoor terdapat set meja makan kayu dan beberapa ada yang dipayungi oleh payung pantai cantik berwarna merah. Suasana taman dan pegunungan sangat terasa jika makan di area outdoor ini. Jika ingin merasakan suasana rumah Belanda, coba tengoklah ke bagian indoornya. Ada deretan pigura-pigura foto tempo dulu di dindingnya yang putih dan furnitur jaman dulu lengkap dengan karung berisi rempah-rempah di salah satu sudutnya. Kita juga bisa melihat rak berisikan kotak-kotak teh siap minum hasil dari perkebunan teh ini.

 
Karena saya dan teman-teman mau menikmati suasana dinginnya pegunungan dan hijaunya kebun teh, maka area outdoor lah yang dipilih. Makanan yang ditawarkan disini juga beragam, rata-rata sih masakan Indonesia yang namanya diubah dengan nama Belanda hehe...Minuman yang jadi jualan utama sih pastinya teh, mereka punya varian teh diantaranya Teh Hijau Kemuning, Teh Oolong, Teh Hitam Donker, Teh Aroma 63, Teh Aroma Inggris dengan pilihan earl grey, passion fruit, lady grey, dll), dan Teh Herbal. Semuanya disajikan baik dalam ukuran cangkir ataupun teko.

 
Passion Fruit Tea dan Teh Aroma 63 Mint menjadi pilihan kami. Untuk yang mint rasanya dingin ketika masuk di tenggorokan walaupuun disajikan panas dan tidak terlalu pahit. Oya, untuk pemanisnya disini juga disuguhkan gula jawa lho. Jadi, lebih mantap rasa dan aroma tehnya. Sedangkan, Passion Fruit malah terasa sangat pahit di lidah saya, jadi mesti banyak-banyak makan gula jawa deh hehehe....

Untuk menu pembuka, saya dan teman-teman memilih beragam snack karena perut belum terlalu lapar. Holand Aardapel, kentang yang disiram dengan bumbu khas Belanda menjadi awalan cemilan kami. Saya terkejut dengan tampilan luarnya, kentang panggang di potong kubik kemudian disiram dengan bumbu kuning dan ditaburi parutan keju yang buanyaaak banget! Sayangnya, tampilan dalamnya tidak seenak luarnya, kentangnya mungkin well-baked hanya saja bumbu kentalnya itu rasanya kurang cocok dengan kentang yang plain. Bumbunya manis dengan after taste seperti kuah soto dan tercium aroma bawang yang sangat kuat. Ah perpaduannya yang kurang pas buat saya, bahkan kejunya pun malah membuat semuanya eneg.

 
Gebakken Cassave atau Ubi Goreng khas Donker ini mengembalikan selera saya, ubi manis yang sepintas mirip kroket ini dibalut dengan tepung yang crunchy dan dicocol dengan mayonnaise. Manis ubinya pas dan tidak membuat saya eneg walaupun dicocol di mayonnaise yang asam.

 
Begitupun dengan Zoete Aardappelen, ketela goreng potong kubik yang dilumuri madu dan wijen menjadi cemilan manis yang menggugah selera saya. Ketelanya empuk dan madunya juga nggak terlalu manis. Enak deh seperti kesukaan saya jaman kecil, makan gorengan dicocol dengan lelehan gula jawa hehehe...

 
Gegrilde Banana juga cemilan yang cukup asik dimakan di dinginnya udara pegunungan. Pisang goreng yang dipotong kipas ini disiram dengan lelehan cokelat dan taburan keju. Pisangnya tidak terlalu lembek dan terigunya juga tidak terlalu pekat. Everything just well for my belly.

 
Masuk ke main course, pilihan menyantap Soup Iga Donker yang masih hangat sangatlah tepat. Aroma gurih iga langsung menjilat indera penciuman saya bahkan saat mangkuknya agak jauh dari hadapan saya. Kuahnya super gurih dengan taburan bawang goreng dan potongan daun bawang serta seledri. Iganya juga lembut dan mudah dipotong. Segar sekali disantap di siang yang dingin ini.

 
Iga Bakar Donker tak kalah juaranya, disajikan dengan nasi putih yanng dibentuk hati, iga bakar ini dibakar dengan kematangan yang pas dan bumbu kacang dan kecapnya meresap sampai kedalamnya. Potongannya juga kecil-kecil sehingga mudah untuk memotong dagingnya kembali.Sambal merahnya juga tidak terlalu pedas, masih normal untuk lidah saya yang bukan pecinta pedas.

 
Wah, rasanya perut saya puas banget bisa ngeteh cantik sambil menikmati lezatnya menu-menu Indonesia disini plus ngobrolin traveling dengan sesama backpacker. Coba suasana seperti ini bisa didapatkan tidak jauh dari Jakarta ya, pasti saya akan sering-sering kesini. Anyway eaters, buat kamu yang akan mampir ke daerah Kemuning, Solo, coba deh sempatkan mampir kesini. Harga makanan mereka juga masuk akal kok. Untuk appetizer mulai dari Rp5.000 - 12.500; main course Rp15.000 - 30.000; minuman Rp6.000 - 25.000. Happy tea hunting, eaters!
 
Recommended Dish(es):  iga bakar donker
 
Date of Visit: Nov 22, 2012 

Spending per head: Approximately Rp25000(Tea)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 1

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
   1 Vote(s)   View Results
Recommend
0

Makan Steak a la Orang Solo  Smile Nov 28, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jawa | Restaurant | Kumpul Keluarga

Satu-satunya alasan saya mau datang ke Solo adalah masih banyak restoran yang menjunjung tinggi nuansa tradisional dan homey-nya rumah di perkampungan Solo dalam interior ataupun eksterior restorannya, salah satunya adalah Omah Selat. Mulsi dari area bagian depannya saja sudah disuguhkan suasana rumah tempo dulu dengan deretan kursi dan dinding dari kayu jati dihiasi dengan perlengkapan rumah tangga jaman dulu mulai dari nampan corak bunga dari besi yang sudah berkarat, piring-piring kaca, juga lampu petromak yang dimodifikasi.

 
Masuk ke bagian dalam nuansa tradisional semakin terasa dengan dinding kayu berukiran khas Solo dan penerangan redup yang menghasilkan cahaya kuning di segala sisinya. Ada beberapa area di ruangan ini, area pertama merupakan area lesehan yang di beberapa sudutnya terdapat deretan teko-teko alumunium tua, lemari tua berukiran Jepara dan beberapa pajangan keris gantung.

 
Masuk ke bagian tengah terdapat satu set meja makan. Dindingnya kental dengan beragam ukiran dan hiasan piring-piring keramik dan oh ada satu yang lucu ada frame berisikan foto gadis a la 50-an, tipikal foto-fotonya Andy Warhol. Ada juga pajangan berupa rantang jaman dulu dengan corak hijau army-nya. Lampu gantungnya juga unik, tipikal lampu pada rumah gaya Jawa dan Betawi tempo dulu. Masuk ke bagian agak dalam, atau paling belakang terdapat dua ruangan, ruangan sebelah kiri pertama memiliki dua sofa besar yang bisa ditidurin yey! Di seberangnya terdapat dertan setrikaan sangat kuno yang jaman dulul masih menggunakan arang, tapi lucunya ada TV LCD 29 inch di gantung ditengan dinding. Tak lupa deretan toples usang di bagian samping dan foto-foto pemilik restoran ini. Ruangan sebelahnya terkesan agak private karena sangat tertutup dan memiliki set meja makan yang lebih bagus mirip seperti kursi makan di keraton Solo. Di bagian luarnya terdapat pajangan termos-termos tua dan rantang.

 

 
Ah rasanya masuk ke restoran ini seperti dibawa kembali ke Solo beratus tahun silam dan tidak sampai disini, saya juga dimanjakan dengan kuliner khas Solo yang jadi jualan utama restoran ini, Selat Solo. Mungkin sedikit asing bagi yang belum pernah mendengarnya, saya pun begitu, ternyata selat merupakan makanan yang terbuat dari daging sama seperti steak hanya saja penyajiannya ya a la tradisional.

 
Coba tengok Selat Segar (12.5K) yang saya pesan ini. Selatnya berupa rolade daging yang disiram dengan kuah kecap yang cair disajikan dengan kentang goreng, potongan wortel, telur rebus, kacang polong, selada, dan keripik kentang. Mirip sekali seperti penyajian steak hanya saja steak Solo ini direndam di kuah hihihi... Rasanya? Sama persisi seperti makan beef steak. Daging roladenya empuk, dengan bumbu kecap dan sedikit rempah yang cukup menyengat di lidah. Agak sedikit kemanisan sih buat saya, but so far it's okay. I just enjoy something new dari sebuah kekayaan kuliner Indonesia ;-)

 
Berbeda dengan selat segar, Selat Iga Bakar (20K) yang ini disajikan sebagaimana steak pada umumnya. Potongan iga sapi yang dibakar dan disajikan dengan potongan wortel, buncis, ubi ungu, kentang goreng dan mayonnaise. Lucunya di atas iga yang dibakar ada lelehan kejunya wuoooh makin ngiler saya! Iganya dibakar well-done, dagingnya empuk sekali, dan bumbunya meresap sampai kedalamnya sedangkan sausnya mirip saus bolognese untuk pasta hanya sedikit pedas manis.

 
Soup Lapis Galantin (12.5K) lebih unik lagi, sup ini berisikan selat yang merupakan campuran daging sapi dan ayam ditambah dengan potongan wortel, kacang polong, jamur kuping putih, keripik kentang dan sosis sapi. Kuah supnya gurih dan asinnya pas. Sisanya sih menurut saya seperti menyantap sop pada umumnya saja.

 
Overall, lagi-lagi saya menikmati apapun yang unik disini, lagipula nggak perlu merogoh kocek terlalu dalam juga tiap kali makan di Solo. Disini seporsi selat yang notabenenya sudah bermodel steak mahal saja range harganya masih dikisaran Rp20.000 - 25.000, selat segar dan sop malah hanya Rp12.500. Hmm...nggak salah saya memilih jelajah kulineran disini, selain suasana homey yang saya cari, makanan dengan harga 'terlalu' masuk akal pun bisa saya dapatkan. Pelayanan juga sangat memuaskan. Disini seperti kebiasaan orang Solo yang lembuh lembut dan sopan, kamu dijamin makin betah deh makan disini.

I'm gonna miss this city for sure!
 
Recommended Dish(es):  selat segar
 
Date of Visit: Nov 21, 2012 

Spending per head: Approximately Rp30000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 5  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 2

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Surabi Enhaii OK Nov 28, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Sunda | Kumpul Keluarga

Sepeninggal saya dua bulan ke Kalimantan, ternyata banyak sekali yang berubah tidak hanya di Jakarta, tapi juga di Depok. Terakhir kesini itu hampir enam bulan yang lalu, dan saat weekend kemarin mampir kesini lagi, Depok sudah seperti Bandung, makin padat dengan lokasi kuliner dimana-mana.

 
Satu tempat yang sedang happening banget saat ini yaitu kawasan jajan yang memiliki 4 tempat makan sekaligus, Batagor Ikhsan, Surabi Enhaii, dan Bubur Barito. Kawasan jajan ini terletak tidak jauh dari Universitas Gunadarma. Terletak persis di pinggir jalan dengan area yang sangat luas ini menjadikan tempat ini sangat penuh di waktu weekend.

 
Saya sengaja mampir karena ingin mencicipi Surabi Enhaii. Soalnya tiap kali mampir ke Bandung, pasti nggak kepikiran mau nyobain si Enhaii ini hihihi. Singkatnya, Surabi Enhaii menyediakan aneka menu surabi atau biasa disebut serabi dengan beragam topping. Mulai dari surabi manis, seperti surabi bertopping cokelat, pisang susu, keju cokelat, durian, jagung keju, kurma keju, sampai yang bertopping es krim stroberi juga ada. Ada juga surabi pedas, seperti surabi bertopping ayam special, kornet sosis, abon special, atau jagung pedas. Selain surabi, mereka juga menyediakan aneka main course berupa masakan Indonesia dan simple western food.

Surabi Kornet Sosis menjadi pilihan saya malam itu. Porsi surabinya memang cukup besar. Adonan surabinya empuk dan cukup lembut, seperti pada umumnya adonan surabi, rasa dan tekstur kelapanya cukup kental disini. kornet dan sosinya disisipi di beberapa bagian surabinya dan uniknya, surabi ini disjaikan dnegan mayonnaise pedas yang diklaim handmade. I love the sauce sih. Walaupun agak bikin perut panas hehehe.

 
Habis berpedas-pedas ria, saya mencicipi Surabi Nangka Susu. Dengan tipikal adonan yang sama, surabi ini hanya ditambahkan nangka dan susu diatasnya. Manis dan mengobati rasa terbakar lidah saya.

 
Harga yang ditawarkan juga cukup terjangkau, untuk serabi manis dan pedas berkisar antara Rp8.000 – 15.000, sedangkan aneka main course berkisar antara Rp19.000 – 45.000. Untuk minumannya dengan pilihan aneja jus, ice cream, es teller, milkshake, dll berkisar antara Rp7.000 – 20.000.

Sayangnya, pelayanannya mengecewakan sekali. Entah karena sedang ramai pengunjung atau karena proses membuat surabi yang lama, saya harus menunggu hamper 45 menit hanya untuk surabi saja. Harus sering-sering menegur pelayannya jika makanan ingin cepat sampai di meja. Phiuh.
 
Date of Visit: Oct 20, 2012 

Spending per head: Approximately Rp25000(Night Snack)

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 1  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 2

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

A Short Culinary Journey to Italy Smile Nov 28, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Itali | Pizza & Pasta | Kencan / Berpasangan | Kumpul Keluarga

"A Place where to gather, taste, and appreciate the original Italian cuisine enjoying the slow food philosophy according to the old Italian life style."

Itulah makna dari sebuah nama resto Italia yang berlokasi di Kemang Selatan Raya, A Tavola. Sepintas saya merasa mernding bacanya seolah resto ini akan benar-benar membawa saya menjelajahi negeri Italia yang terkenal akan kejunya itu. Waktu undangan food testing mendarat di email saya pun, saya langsung melonjak kegirangan soalnya penasaran seperti apa authentic Italian cuisine yang mereka bawa. Terlahir dari curiousity Mr. Davide Lomanto, yang berkebangsaan Roma, untuk memadukan traditional Italian culture dengan original Italian product diketatnya persaingan restoran di Jakarta, A Tavola membawa penikmat masakan Italia mencicipi authentic Italian home cooking dengan home made pasta dan variasi Italian salami dan keju.

 
Tidak hanya authentic Italian dishes yang kental, tapi juga nuansa resto Italia dicoba dihadirkan pada dekorasi A Tavola yang terlihat very romantic and cozy. Sepintas dari luar resto ini seperti resto semi fine dining, tapi saat memasukinya saya merasa kesan homey langsung merayapi semua indera saya ditambah dengan alunan lagu Italia membuat saya seolah dibawa terbang langsung ke Italia. Walaupun tatanan meja ditata selayaknya resto classic fine dining, A Tavola menghadirkan beberapa perabotan kuno yang merupakan koleksi asli pemiliknya dan beberapa frame serta hasil liputan media di setiap sudut dindingnya plus lampu gantung cantik yang membuat kita seolah tetap berada dirumah sendiri. Hanya saja meskipun A Tavola berpikir menaruh frame sebanyak itu di dinding aga lebih mirip dengan dekorasi kebanyakan resto/kafe di Italia, bagi saya itu sedikit mengganggu pemandangan mata hehehe....Padahal suasana restonya sudah terkesan lux dan classic, tapi frame yang terlalu banyak dan tak beraturan malah membuat resto ini hilang konsep dan berantakan ditambah TV Plasma di tengan-tengah dinding juga...ah sangat disayangkan lah.

 
Meskipun begitu, saya begitu menikmati menit demi menit mencicipi menu yang dihadirkan malam ini, dimulai dari appetizer berupa Cheese Platter dilanjut dengan Bruschetta Pomodoro & Funghi. Cheese Platter sendiri merupakan menu pembuka yang lazim ada di tiap hidangan orang Italia. Cara makannya itu dari yang paling soft ke yang paling keras. Kalau berdasarkan susunan itu dari keju paling kiri ke keju paling kanan. Dalam satu cheese platter terdiri dari (ki-ka) Bel Paese, Asiago, Mozarella, Grana Padano, dan Gorgonzola dengan pelengkap olive oil, tomat, dan roti. Keju yang mild seperti Bel Paese dan Asiago rasanya memang agak hambar dan cenderung aneh untuk lidah saya yang Indonesia banget ini hehehe....sedangkan Mozarella kalian pasti taulah seperti apa rasanya. Grana padano teksturnya lebih keras dari mozarella dan rasanya cenderung pahit atau bisa dibilang ini keju tua yang biasa dipakai untuk membuat adonan cookies, terakhir Gorgonzola teksturnya cream dan rasanya juga mild dan hambar.

 
Setelah pembuka yang sedikit mengagetkan lidah saya, Bruschetta Funghi bersalut jamur dan lelehan keju mozarella mengembalikan taste bud saya. Bruschetta Pomodoro yang bersalut potongan tomat dan olive oil lagi-lagi terasa hambar dan biasa saja bagi lidah saya. But overall, I love the bread, it's very crunchy!

 
Perjalanan singkat ke menu-menu Italia dilanjutkan dengan menyantap Ravioli Di Manzo. Ravioli disini dibuat home made dengan filing pumpkin, ricotta dan beef disajikan dengan tomato sauce. Tekstur raviolinya sendiri cukup lembut namun menurut saya malah terkesan terlalu lembek dan lagi-lagi I'm not into tomato sauce yang tipikal Italian asli, hambar dan lidah saya masih nggak bisa berkompromi hehehe...

 
Beda dengan Ravioli Di Manzo, Ravioli Con Funghi lebih memiliki 'rasa' buat lidah saya. Apalagi taburan keju mozarella yang begitu banyak membuat cream sauce, jamur, dan keju menjadi satu rasa asin dan gurih yang membuat saya ketagihan.

 
Masuk ke main course, saya memilih Tagliata di Manzo. 200 gr New Zealand sirloin beef yang dipotong tipis-tipis disajikan dengan potongan jamur beserta creamy mushroom sauce, mozarella cheese dan sayuran. I love the topping so much. Keju mozarella dan mushroom sauce-nya meleleh di mullut saya. It's soooo heaven! Sayangnya, daging yang dimasak medium-well ini kok terasa alot yah, sampai susah memotong dan menggigitnya...saya sedikit bertanya-tanya. Apa yang salah dengan daging ini padahal dimasak medium well.

 
Huah, rasanya perut saya sudah terisi penuh, tapi pas makanan terakhir berupa cake saya nggak pernah nolak hehehe... Booming red velvet ternyata masih hangat disini, A Tavola memiliki Red Velvet Cake yang menurut saya one of the best! Teksturnya sangat moist dengan cream cheese yang tidak terlalu pekat dan topping kacang sangrai di atasnya. Karena kepekatan creamnya cukup baik, saya tidka merasa eneg sama sekali makan kue ini, hanya saja lama-lama kok cream cheesenya kurang terasa cheesy yah, malah after taste-nya seperti makan cake dengan cream kacang hihi...Mungkin A Tavola bisa menambahkan rasa cream cheesenya lebih kuat biar mirip dengan tipikal Red Velvet pada umumnya, atau memang ini ciri khas mereka. No problem. I love both of them anyway!

 
Overall, I love to have a short Italian culinary journey here. Harga yang dihadirkan A Tavola juga sangat-sangat affordable untuk kelas authentic Italian cuisines. Untuk appetizer seperti insalate, zuppa, antipasti, dan sandwiches di tag dengan range dari Rp18.000 - 65.000. Pizza dan Pasta mulai dari Rp48.000 - 55.000. Main course baik meat, fish, dan chicken bisa dinikmati mulai dari Rp65.000 -75.000 dan dessertnya hanya sekitar Rp25.000 - 34.000.

Huah, if the cheap Italian food can be found here, why you should go far away to Italia?! It's me, how about you, eaters...do not hesitate to share your Italian culinary journey here...
 
Recommended Dish(es):  raviloli di manzo,red velvet cake
 
Date of Visit: Nov 18, 2012 

Spending per head: Approximately Rp50000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 5  |  
Pelayanan
 5  |  
Higienis
 5  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Morning AYCE at Dragon Court  OK Nov 28, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Chinese | Restaurant | Dim Sum | Kumpul Keluarga

On my last weekend in Jakarta, I spent my Saturday morning with several food reviewer from Openrice.com in a gathering at Dragon Court Chinese Restaurant of the Media Hotel & Towers Jakarta. Dragon Court is a Chinese restaurant located at 4th floor of the Media Hotel & Towers, formerly Sheraton Media, and served the guest with variant of Chinese cuisine.

 

 
In this occasion, I sampled their signature dim sum which also come into their All You Can Eat package of only IDR69.500 nett. You can enjoy this affordable price by munching several types of dim sum and also the buffet. However, don't put too much expectation on the buffet. When you have to pay less, you will also get less, right. The buffet only offer you several light food to company your breakfast, brunch, or lunch, such as fried rice, soup, and porridge.

 
I sampled their signature dim sum which came in many types, such as lo mai kai covered with lotus leaves, ha kau, siomay, pangsit beijing, kaki ayam bumbu lada, spring rolls, bakpau isi, lumpia kulit tahu saus tiram, etc. All those dim sum are made by request. This resto believe that serving a fresh food will make their customer more satisfy. So, they will make the dim sum as soon as you make the order.

 

 
There's nothing so special from the dim sum. At least I found that dim sum in a hotel better than dim sum in a hawker stall. They came in a good filling, soft skin, and all variant have its own unique taste. I love its Ha Kau, I always feel nausea in eating a shrimp, but Dragon Court make it fresh and I just feel okay in eating that shrimp inside hihihi. The siomay, lumpia, and pangsit beijing also went well on my stomach.

I sampled their fried rice. It's just a butter fried rice with meatball. It's light, not so spicy just butter covering my mouth. A simple dish for breakfast. Hmmm...maybe I was not into their bakpau, especially their bakpau filled with corn. Why they should made the corn like a paste? I mean I didn't know how it is made, but I think they blended the corn with maizena flour and it's not a 'corn' popping on my mind. It's a corn paste and moreover it's too sweet. Ah the bakpau dough was also not fully baked. It left an awkward after taste on my tongue, I felt like munching a raw flour.

 
Dragon Court open daily from 08.00 AM to 02.00 PM. For Muslim, don't worry all food here is halal. They serve food contain a pork only by request. Thanks @openrice and the Media Hotel & Towers for the invitation.
 
Recommended Dish(es):  dim sum
 
Date of Visit: Nov 15, 2012 

Spending per head: Approximately Rp65000(Breakfast)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0