OpenRice Index
  
ichakhairisa
This is ichakhairisa living in Cilincing. I am a Editor, work in Kuningan. I like to hang out in Sudirman, Kelapa Gading, Kuningan. Betawi, Jawa, International food are my favorite cuisines. I also love Chocolate / Candy Shop, Kedai Kopi & Teh and Es Krim/Yogurt, Dessert, Soto/Rawon, Dim Sum, Salad.
Member 98 First(s)
No. of Review218 Review(s)
編輯推介數目148 Editor's Choice
Recommended16 Recommended
Popularity11503 View(s)
Replies in Forum5 Comment(s)
Upload Photos1216 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant2 My Restaurant(s)
Follow1 Following
粉絲1312 Follower(s)
ichakhairisa  Level 4
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 41 to 45 of 218 Reviews in Indonesia
Makan sambil Bernostalgia OK Dec 22, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Chinese | Restaurant | Halal | Kumpul Keluarga

Mencari tempat makan dengan suasana modern atau a la Eropa mungkin gampang dengan mudah ditemui, namun mencari tempat makan yang menghadirkan suasana tempo dulu yang benar-benar seperti membawa kita ke jaman dulu masih jarang. Ada beberapa restoran yang berusaha menghadirkan nuansa tempo dulu sebagai desain restorannya pernah saya masuki, namun yang satu ini membuat saya merasa justru kembali ke masa kecil saya. Adalah sebuah restoran bernama Tjap Toean di bilangan Sudirman, Jakarta Selatan yang menarik hati di sore hari sambil ngobrol-ngobrol cantik. Saat masuk kesini saya sudah disuguhkan dengan nuansa sebuah rumah gaya Betawi tempo dulu lengkap dengan tipikal jendela berkanopi kunonya. Resto ini memiliki tiga area, dua indoor di dalam area mall, satu teras depan dan bagian dalam satu gabung dengan kitchen, dan satu outdoor di teras luar mal.

 
Di bagian depan pintu masuk sebelah kanan, terdapat sebuah bangku taman besar dengan hiasan satu pot besar ilalang dan uniknya ada sangkar burung kuno berbentuk persegi panjang yang di cat berwarna putih dan ditutupi dengan selendang warna-warni. Di salah satu sudut lainnya, masih di area indoor namun di bagian luar, juga terdapat sangkar burung bernuansakan campuran gaya betawi kuno dan cina kuno yang kanan kirinya tergantung hiasan rumbai warna-warni.

 
Di area indoor bagian depan, terdapat beberapa variasi set meja makan yang seolah membawa kita ke 3 jaman berbeda. Di area sebelah kiri dari pintu terdapat set meja makan bernuansa Cina era 60-an dengan meja kayu usang dan bangku kotak beralaskan bantal empuk yang sarungnya bergambar cici-cici Cina a la lukisan Andy Warhol. Di sisi sebelahnya terdapat set meja makan a la rumah Betawi tempo dulu lengkap dengan lampu petromak gantungnya dan juga lemari berisikan mesin jahit super usang yang sangat unik!Tjap Toean selain menghadirkan nuansa traditional, kita juga dibawa bernostalgia ke jaman makan a la kedai tempo dulu terbukti dengan seperangkat peralatan makan seperti sendok, garpu, dan sumpit yang semuanya diletakkan di dalam kotak kayu di atas masinng-masing meja makan dan lucunya mereka memiliki ‘horn’ atau terompet pijat yang biasa dipakai tukang roti jaman dulu untuk berkeliling menjajakan dagangannya. Jadi, kalau kita ingin memanggil pelayan, silahkan pencet ‘horn’nya sampai berbunyi ‘teeet’ nyaring, maka datanglah si pelayan hihihi lucu banget ya!

 
Sementara itu, masuk ke bagian dalam area indoor, saya bisa melihat semi open kitchen bernuansa kedai tradisional lengkap dengan pajangan panci-panci dan bakul jaman dahulu. Etalase kitchennya juga semuanya dibuat dari kayu yang mengesankan saya seolah berada di kedai 60 tahun lalu. Berjalan kea rah teras luar, disinilah saya merasa dibawa ke masa kecil saya. Ribuan pesawat mainan kayu warna-warni digantung di langit-langit resto yang terbuat dari susunan bamboo gelondong. Semuanya terlihat cantik dan unik apalagi di sore hari menjelang mala mini ada lampu hias warna-warni yang membuat pesawatnya seolah berkelap-kelip. Wah, ingin rasanya saya awa pulang satu pesawat mainan itu hihi…Di salah satu sudut lainnya di teras malah terdapat kaleng kerupuk usang warna-warni yang masih asli dengan karat di pinggirannya. Jaid inget jaman kecil dulu saya suka nyemil kerupuk putih yang dijual di dalam kaleng ini. A super great idea to bring people into childhood memory!

 

 
Setelah iseng pencet-pencet ‘horn’ maka datanglah si pelayan membawakan menu, saya terheran-heran pas datang kok si pelayanannya malah membawa selembar Koran, eh taunya menu list-nya memang berbentuk Koran. Wuah benar-benar nostalgia yang bagus! Memang agak ribet membuka koran selebar itu dan membaca deretan menunya, tapi semuanya membuat saya lagi-lagi takjub ketika membaca deretan makanan bernama unik. Masakan yang dihadirkan disini berupa old-fashioned Indonesia peranakan, jadi jangan heran jika menemukan menu-menu Cina atau Malaysia disini. Coba tengok deretan makanannya, Tjap Toean punya appetizer mulai dari salad, sup, aneka kari dan nasi campur. Nasi Baba yang berwarna biru, katanya menjadi jagoan disini. Masuk ke menu utama, deretan nama seperti Dortjie (gurame fried in salted eggs) atau Lu Orang (chicken with dark soy sauce) membuat saya ingin tertawa membacanya. Begitu juga dengan snack dan dessertnya. Di deretan dessert nama-nama seperti Nona Tjantik (sticky rice with durian), Martabak Cungkring, Q Pe, Ya Ketan Ijau, menjadi nama-nama yang membuat siapa saja penasaran. Roti bakarnya juga namanya unik-unik seperti Ci-Ca (buttered toast sprinkled with sugar), Pindakaas (toast with peanut butter), atau Manis Mandja (toast with rich caramel spread) juga membuat siapapun geli membacanya. Begitupun minumannya coba saja tengok nama Tju Tju Gue (soy milk with cincau), Gang Kantjil (Siamese orange with basil seeds) atau Si Picis (chocolate milk shake), semuanya membuat rasa penasaran makin tinggi, deh!
Saya pun dibuat penasaran dengan nama-nama unik tersebut, berhubung perut belum terlalu lapar dan ingin nyemil sore, akhirnya saya memutuskan memilih aneka dessert dan toastnya saja.

Pilihan saya jatuh pada si toast Gua Kasih Tau Lu Yah (24.5K), roti bakar ini diisi dengan olesan selai hazelnut dan di bagian luarnya dioles dengan truffle oil. Dari namanya yang sangat membuat saya ngakak, saya berharap rotinya benar-benar unik awalnya, pas datang sih unik soalnya rotinya mengguunakan roti tawar persegi panjang dan disajikan dengan talenan kayu. Sayangnya, ternyata memang hanya seperti roti bakar biasa. Selai hazelnutnya pun menurut lidah saya terasa seperti selai kacang biasa, truffle oil di bagian luarnya juga hanya menghadirkan wangi hazelnut bercampur caramel yang wangi. Tapi sisanya buat saya ini nggak lebih enak dari roti bakar pinggir jalan ditambah dengan harganya yang nggak sepadan.

 
Pilihan lain jatuh ke Swie Kiaw Steam (21.5K), dim sum kesukaan saya ini datang dengan wadah bambu dan berisi 3 swie Kiaw. Kulitnya lembut dan isi sayur serta ayamnya juga lumayan banyak. Cukup menyenangkan sih dim sum yang satu ini.

 
Untuk dessertnya, saya memesan Qi Pe (19.5K) yang sebenarnya sebuah es campur dengan campuran tape, kelapa muda, alpukat, sirop cocopandan, dan susu kental manis. Es campur ini disajikan dalam mangkuk kecil dan terlihat cantik dengan es serut yang dilapisi sirup cocopandan warna hijau dan merah. Rasanya segar sekali, manisnya pas, dan campuran buah-buahannya juga lumayan, walau menurut saya kurang lengkap untuk ukuran es campur normal sih.

 
Harga makanan yang ditawarkan Tjap Toean menurut saya masih masuk akal, meskipun ada beberapa menu snack yang menurut saya overpriced. Untuk appetizer seperti sup, salad, curry, dan nasi campur bisa dinikmati mulai dari Rp24.500 – 34.500. Untuk menu utamanya mulai dari Rp17.500 – 33.500. Roti Canai, Snack aneka dim sum dan toast bisa dinikmati mulai dari harga Rp10.500 – 26.500. Sementara, dessert aneka es-nya bisa dinikmati dari harga Rp17.500 – 26.500 dan aneka minuman mulai dari Rp9.500 – 30.500. Oiya, satu lagi yang lucu, pas saya membayar makanan, kembaliannya diberikan menggunakan dompet kain a la ibu-ibu jaman dulu lhoo hihihi…

Pelayanan disini pun cukup ramah namun agak lama menurut saya. Entah mungkin karena restoran sedang ramai atau apapun. But, I really appreciate resto yang walaupun ramai mereka tetap mengedepankan pelayanan prima dan cepat, sih. Overall, saya menikmati sore saya disini dengan senang hati, selain bisa duduk-duduk manis sambil dibawa kesuasana tempo dulu, perut saya juga cukup kenyang diisi dengan cemilan a la tempo dulu milik Tjap Toean. Wanny bring your memory back, coba deh mampir kesini!
Kesimpulan:

Plus
++ Suasana cozy, homey, penuh dengan nuansa tradisional dan jaman dulu.
++ Nama makanannya unik, membuat pengunjung jadi penasaran dan tertarik mencoba
++ Harganya masih masuk akal tapi sedikit overprice untuk cemilan seperti toast-nya
++ Pelayannya ramah-ramah menjelaskan tiap arti nama unik makanannya

Minus
- Makanannya datangnya lama
 
Recommended Dish(es):  Qi Pe
 
Date of Visit: Dec 21, 2012 

Spending per head: Approximately Rp50000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 5  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 5  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
   1 Vote(s)   View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Street Foods | Bakso

Hujan-hujan yang dingin di Bandung paling enak emang menikmati semangkuk makanan yang hangat. Lucky me, I got an invitation dari seorang teman untuk mencicipi bisnis kulinernya. Wuiih, radar eater saya langsung nyala di tambah perut yang emang udah laper pisan!

Ditemani gerimis kecil, saya menelusuri daerah Kopo mencari-cari dimana letak Toko Ayeuna yang ternyata nyempil di deretan toko di daerah Bojongloa, Kopo. Tepat di depan Toko Ayeuna ini ada sebuah gerobak cukup besar tempat dimana teman saya ini menekuni bisnis kulinernya. Sebut saja Kang Amet, pria bertubuh tambun dan berkepala botak ini meneruskan bisnis keluarganya yang sudah berjualan mie dan bakso ini kurang lebih 40 tahun. Hanya bermodalkan sebuah gerobak dan tempat duduk ala kadarnya, bisnis ini nggak pernah sepi pengunjung. Saya bisa lihat orang-orang hilir mudik datang memanjakan perutnya dengan semangkuk mie yamin, mie ayam, bihun atau bakso disini.

 
Apa yang membuat warung bakso ini begitu tersohor dan bertahan lama? Rahasianya ada pada cara masaknya. Kang Amet menggunakan kompor arang untuk memasak bakso dan kuahnya. Arang ini dipercaya membuat kuah bakso berbau lebih sedap, gurih, dan beda dari bakso dan kuah yang direbus di kompor gas. Cara tradisional yang unik dan menghasilkan sesuatu yang berbeda.

Keunikan teknik memasaknya itu langsung saya buktikan dengan semangkuk mie yamin bihun dan bakso. Yamin disini disajikan dengan semangkuk bakso kuah, bisa disatukan atau dipisah. Mie-nya sendiri bisa bihun atau mie telor. Saya mencoba bihun yamin dan bakso.

Semangkuk bihun yamin disajikan seperti umumnya mie yamin, kental dengan kecap namun Kang Amet masih memberikan sedikit kuah sehingga agak basah. Saya nggak request apa-apa, biasanya saya rewel kalau makan yamin harus kering dan kecapnya pas. Kang Amet tanpa diminta seolah tahu porsi yang pas untuk saya. Bihunnya lembut dan campuran kecapnya tidak terlalu pekat sehingga tidak membuat saya eneg.

 
Sedangkan, semangkuk baksonya berisikan beberapa bakso kecil dan babat serta urat. Kuahnya sedikit keasinan buat lidah saya, harusnya saya memesan garamnya jangan kebanyakan sih ehehe..but overall, kuahnya gurih dan aromanya beda lho! Sedikit berbau arang tapi wangi gitu. Sedangkan baksonya lembut sekali begitu juga dengan babat dan uratnya. Oya, babat disini juga beda dari yang lainnya, kalau biasanya kita melihat babat berkulit hitam, disini Kang Amet membersihkan dan menyingkirkan kulit hitamnya itu sehingga tersisa daging babat yang putih, jadinya tidak menimbulkan bau amis pada kuah baksonya. Pantas awalnya saya pikir ini gajih, pas dimakan kok kenyal dan lembut hihihi...A super perfect idea for Indonesian culinary!

 
Untuk menikmati semangkuk bakso enak ini, saya nggak perlu merogoh kocek terlalu dalam, cukup dengan Rp12.000 saja saya bisa memanjakan perut di siang yang dingin ini. Kang Amet nggak membuka dagangannya di tempat lain. Jadi, bagi yang penasaran kayak apa bedanya bakso ini dengan lainnya, monggo kalau lagi di Bandung silahkan mampir ke depan Toko Ayeuna di Kopo. Dijamin perut kenyang, hatipun senang!

 

 
Happy meatball hunting, eaters!
 
Date of Visit: Nov 29, 2012 

Spending per head: Approximately Rp12000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 2  |  
Pelayanan
 5  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 1

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

All You Can Eat at The Strudels Smile Dec 21, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Roti & Kue | Pancakes / Waffle / Crepes | Kencan / Berpasangan

I’m not gonna talk about the other hippest place in Bandung, I just wanna share how I filled my empty belly with All You Can Eat menu from one of well-known café in Progo. It might be the hippest street in Bandung since it covers several best hang-out places such as Hummingbird, Rocca & Co., Tokyo Connection, Hartwood, Giggle Box, the oldest Kopi Progo, The Strudels Factory House & Cafe, etc. I chose the latter since I’ve already bought the All You Can Eat (AYCE) voucher. The Strudels Factory House & Cafe which is located right across Hummingbird this month offered an AYCE offer for only IDR75,000. I decided to buy this voucher since I curious about this Austrian cake which is modified with Indonesian taste.

 
It has a small area when I stepped on its courtyard. I thought it’s a small cake shop, but when I entered they have a spacious indoor and outdoor area with warm lighting and urban vintage interior. In the front area, there are three area with cozy long black sofa and each partitioned with a thin curtain, make each room feel private and so romantic for couple hehe. In the backyard, there are also spacey area with long sofa and small garden. I choose the front area since it seems private for me and my boyfriend haha.

 
I simply didn’t expect anything from the AYCE menu, since they have certain menu to choose in the AYCE package, so I ordered what I feel the best for me. First is appetizer, Broccoli Soup. The soup was served hot with long thin strudels on the top of the cup. It’s savory and rich of broccoli. Nothing special from this soup.

 
At least, the Green Tea Thai Ice Tea which is so refreshing, neutralize my tummy with its sweetness.

 
Next, I chose Mushroom & Cheese Strudels. When it came to my table, it was look like a stack of nugget burger. On the top, it’s a burger-look-a-like strudel followed by stack of nuggets covered with a super melted mozzarella cheese and the other strudel in the bottom then crunchy fries. I wonder where the mushroom is since the title of this menu is Mushroom & Cheese, and I found the hint when I bite the nugget, voila, the mushroom was inside the nugget! Everything was okay for me. The nugget and fries was fried well and the melted mozzarella cheese never gone wrong for this kind of food.

 
Then, on a half-full belly, I push myself to eat the Grilled Chicken Strudels. The grilled chicken was so juicy and tender. It better with mushroom and melted mozzarella cheese on the top of it.

 
Then, this is the signature and most favorite dessert, Apple Strudels. It came i a big portion, a super high stack of strudels. The strudels itself was so puffy and soft filled with cream and apple slices and condensed milk as the sauce. Overall, this apple strudels is good, sweet enough and I love the crunchy texture of its strudels.

 
Anyway, I was so full with those strudels, the AYCE package was satisfy enough even though I just taste some of the menus. I didn't know how full my belly are if I keep order all of them hahaha...Moreover, I really enjoy the ambiance here til I feel it's enough to eat and better to stay relax in the sofa til my boyfriend decided to buy such curtain hahaha...

One conclusion, after munching some sweet and salty strudels, I think strudels is better served sweet than salty as in main course. It's my tastebuds, how about you, eaters? Share your story and tell me which's best for you.
 
Recommended Dish(es):  apple strudels
 
Date of Visit: Nov 30, 2012 

Spending per head: Approximately Rp50000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Seaweed Hunting! Smile Dec 20, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jepang | Restaurant | Sushi | Halal | Kumpul Keluarga

Makan sushi sebenarnya sudah jadi kesukaan saya sejak kapan tahu, bahkan kadang tanpa pake acara mengenal apa isi dan jenis sushinya. Buat saya asal sushinya masuk akal, segar topping dan filingnya, dan nggak bikin perut eneg, saya bisa bilang sushi itu enak.

Kali ini saya cuma mau cerita singkat soal penjelajahan saya mencari topping sushi yang berbeda,. Ini awalnya dari adik saya yang bilang ada resto Jepang di Depok yang punya Chuka Wakame alias Japanese seaweed alias rumput laut Jepang terenak sejagad dunia persushian di Jabodetabek. Saya sih nggak tau ukuran enaknya kayak apa bagi dia, apalagi yang ada di bayangan saya rumput laut itu biasanya buat jelly atau agar-agar, kok ini masuk di menu list Japanese resto.

 

 
Dan di suatu hari hujan karena kebetulan lagi main ke depok, saya nekat aja sendirian mampir ke resto yang terletak samping Gang Kober, Takarajima. Dengan berbekal kelezatan yang diutarakan adik saya itu, saya mencari si sushi yang bertopping chuka wakame. Sebenernya di rekomen makan si chuka wakame originalnya, tapi berhubung saya lagi ngidam sushi, ya udah saya pesen sushi sekalian. Dan ternyata nama sushinya lucu banget, Lady Gaga roll. Entah dari mana asalnya, tapi yang jelas sushi ini isinya delapan roll dan sempet bikin jiper juga soalnya saya makan sendirian.

Nekat karena terlanjur dipesan si Lady Gaga datang dengan polosnya, beda dengan lady gaga yang rame pisan hahahaa...Sushi roll ini tidak dibalut apa-apa, berfiling crab stick dan nori dan pastinya bertopping chuka wakame. Sempet ragu enak atau enggak, soalnya saya tipikal penyuka sushi yang doyan sushi berfiling dan topping yang ramai. Tapi pas saya cicipi rumput lautnya, wuaaah adik saya enggak bohong!

 
Si rumput laut datang dengan ukuran tipis-tipis seperti parutan rumput laut dengan tekstur yang sangat chewy dan lembut saat digigit. Rasanya manis dan gurih! Enyaaak sumpah, saya bingung menjelaskan seperti apa rumput laut ini. Mungkin seperti makan agar-agar jelly parut rasa sayuran hehehe...

Sushinya sendiri menurut saya sih standar aja soalnya isinya cuma crabstick, tapi yah dengan campuran si seaweed itu, semuanya terasa pas! Dan 8 roll untuk sendirian itu bener-bener dosa besar, saya kenyang sekenyang-kenyangnya! Dan abis makan si Japanese seaweed ini, saya baru sadar rumput laut Jepang ya memang begini bentuknya dan memang dimakan bukan untuk dessert, biasanya untuk soup dan salad hehehe...

 

 
Anyway, udah cukup ceritanya. Kalau penasaran kayak apa enaknya rumput laut disini, langsung aja datangi si Takarajima di Depok atau di Kemang. Mereka juga punya harga yang sangat affordable lho. Start from IDR15.000 untuk kelas nigiri dan maki, IDR25.000-50.000 untuk sushi roll. Ada juga paket ala carte, aneka bento, ramen, dan sushi platter yang bisa dipesan untuk catering.

Pernah nyoba chuka wakame yang lebih enak dari ini? Jangan lupa dishare disini ya biar saya ikutan penasaran juga hihihi...

Salam seaweed hunter!
 
Date of Visit: Nov 10, 2012 

Spending per head: Approximately Rp25000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Itali | Pizza & Pasta | Kencan / Berpasangan | Kumpul Keluarga

When I read the word 'Indonesian Pasta', the first word popping on my mind was 'rendang' and it's all came true when Pasta de Waraku served that kind of fusion into their new menus. Twas on a super sweaty Thursday lunch time and I had to struggle along the Jakarta's traffic to PIM 2 to attend Pasta Dewaraku's food tasting panel.

Being so sweaty after driving the motorcycle, I was glad that all staffs of Pasta de Waraku, one of Ismaya's best resto, welcoming me with their warm regards and also with a super fresh Ice Green Tea Lychee. When some resto put a super sweet lychee syrup into a drink, Pasta de Waraku adding green tea to neutralize the sweetness, and it became a perfect fusion. I could taste a lil bit bitter in the first sip but a sweet after taste that refreshed my throat. A hint for opening lunch!

 
Then, as usual as appetizer, Pasta Dewaraku offered their siganture appetizers such as Koro-koro Tofu and Calamary which I'd have tasted it on their previous food tasting. They're always steal my taste bud.

 
Next, as I told you about Indonesian pasta, today Pasta Dewaraku launched its Indonesia Feast with a Twist, a unique twist of Japanese dishes with the richness of Indonesian taste. Okay don't wanna make it too long, here's my journey in tasting the fusion of two big countries' taste.

The main lunch opened by Salmon Pizza with Curry Sauce. I was curious where's the Indonesia part in this food since I found the curry is typical India taste like in briyani rice, but it went well on my stomach. The thin pizza, the salmon and the curry is a perfect fusion for opening.

 
Beef Spaghetti with Rendang Sauce directly steal my heart since I put too much expectation in it. However, the beef and sauce more likely called a 'serundeng' than a 'rendang'. It's not as spicy as rendang. I believe that as Indonesian we all know how does the rendang's richness flavors like. I better put less expectation then.

 
For the next Grilled Chicken Spaghetti, my taste bud awakened by its juicy grilled chicken on the top. The fusion of chili paste give me the best after taste. It's kinda sweet like honey glaze mixed with chili. While the pasta aglio olio with wafu and rich spicy tomato sauce was not so special for me since it too much and spicy.

 
Until the second dish, I still haven't get the perfect fusion of Indonesian taste. The third dish, Fried Oxtail Spaghetti A la Java, however, more likely close to the typical indonesian food. The spaghetti aglio olio with wafu sauce completed with two types of chili paste: red chili and green chili. It's like we dine in a warung nasi padang with sambal hijau and merah, and the goodness is all paste is really Indonesian. The oxtail also went well for me. It's juicy and tender. The unique one, when I mixed the pasta with the paste, I thought I eat an Indomie goreng pedas ahaha...pardon my so Indonesian bud!

 
After all the dishes, I finally found what I thought the real fusion of Japanese and Indonesian taste. Welcome the Traditional Fried Rice with Angus Beef, this fried rice served also with quail egg. What makes it so special is the 'terasi' smell and 'ikan asin' in the rice! You know how does it smell like. It's sooo Indonesia and you will find the rich Japanese taste on its juicy angus beef. The teriyaki sauce is perfect, the salty soy sauce and blackpepper give it a super rich taste. I love it!

 
Finally, we came into desserts, and as you all know Pasta de Waraku's famous dessert is hanito, a Japanese honey toast with various sweet toppings. Me sampled several favorite baby hanitos such as the favorite Candyland, 6 cubes of honey toast topped with vanilla ice cream, lychee, jelly, strawberry, strawberry sauce and cream cheese. I love the cream cheese so much!

 
Me also sampled Juicy Fruits hanito, Apple Crumble, and Banana Crumble. Most of them all the same, but different toppings. It's best for pampering your sweet-toothed.

Wuah, I feel so full with those dishes! and very proud that this resto could provide Indonesian food with a super homey and warm greetings of the management. The ambience resto is like others Pasta De Waraku with delicious and mouth-watering food dummy. I am so droool to look at them!

 
Recommended Dish(es):  hanito,traditional fried rice with angus beef
 
Date of Visit: Nov 01, 2012 

Spending per head: Approximately Rp75000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 5  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
   1 Vote(s)   View Results
Recommend
0