OpenRice Index
  
ichakhairisa
This is ichakhairisa living in Cilincing. I am a Editor, work in Kuningan. I like to hang out in Sudirman, Kelapa Gading, Kuningan. Betawi, Jawa, International food are my favorite cuisines. I also love Chocolate / Candy Shop, Kedai Kopi & Teh and Es Krim/Yogurt, Dessert, Soto/Rawon, Dim Sum, Salad.
Member 98 First(s)
No. of Review218 Review(s)
編輯推介數目148 Editor's Choice
Recommended16 Recommended
Popularity11505 View(s)
Replies in Forum5 Comment(s)
Upload Photos1216 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant2 My Restaurant(s)
Follow1 Following
粉絲1312 Follower(s)
ichakhairisa  Level 4
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 1 to 5 of 22 Reviews in Indonesia
The Long Lasting Coffe Shop Smile May 16, 2013   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Kedai Kopi & Teh

Venue & Facilities

Saat lagi butuh ngobrol santai sambil ngopi cantik di Bandung saya biasanya selalu mencari tempat yang enak, homey dan punya wifi kencang serta bebas pakai sepuasnya. Salah satu tempat yang membuat saya betah berlama-lama disini adalah Kopi Progo. Terletak di Jalan Progo No. 22, Bandung, kedai kopi ini boleh dibilang pioneer kedai atau kafe kopi di daerah ini. Kafe yang berdiri sejak 2009ini menempati sebuah rumah jaman Belanda yang sudah mendapatkan sedikit renovasi di beberapa sisi, namun saya masih bisa merasakan betapa homey-nya tempat ini saat pertama kali kesini. Kali kedua saya kesini, tempat ini mengingatkan saya akan rumah nenek saya.

Kafe ini seolah tidak memberi batas pada pengunjung setianya. Mereka mengijinkan pengunjungnya untuk tak sekedar makan tapi menikmati kalau ini rumah mereka. Nggak heran duduk berlama-lama disini pun nggak akan pernah diusir sama pelayannya hehe...Mereka menyediakan banyak sofa berwarna oranye ciri khas Kopi Progo dan kursi malas di halaman rumahnya dan beberapa kursi kayu di bagian dalam. Bagian dalamnya akan terasa interior rumah khas Bandung jaman dulu yang kental dengan tembok batu alam dan marmer, namun kini sudah dibuat lebih modern dengan marmer warna-warni. Kopi Progo juga menyediakan entertainment space berupa panggung band mini yang sering digunakan untuk live music di waktu weekend serta fasilitas home theater untuk acara nonton bola bareng dan satu lagi yang seru fasilitas wi-fi disini sangat bagus dan bebas dipakai sepuasnya even kita Cuma ngopi dan duduk berjam-jam disini hehehe…

 

 
Menu

Tentunya kopi menjadi incaran setiap orang yang berkunjung kesini. Kopi Progo menghadirkan puluhan sajian kopi yang semuanya berasal dari Indonesia seperti dari Mandailing, Toraja dan Wamena. Serunya lagi disini kita bisa menyesuaikan kopi sesuai keinginan kamu. Kita bisa memilih apakah kopinya akan diolah dengan dreep coffee, kopi peres atau kopi tubruk. Dreep coffee rasanya sangat original dan cocok untuk penggemar kopi berat, sedangkan kopi peres cocok untuk yang ingin kopi agak ringan. Kalau penasaran, kita bisa langsung mampir ke dapurnya dan melihat langsung pembuatannya. Untuk menemani ngopi cantik, Kopi Progo juga menyediakan aneka makanan ringan sampai makanan berat. Coba tengok Risoles Progo, Cheese Roll Pancake, Potato Pie, Potato Broccoli & Cheese sebagai teman ngopi kamu atau kalau sudah lapar berat pilihan aneka steak seperti Sirloin Steak atau Mie Goreng Lasem bisa mengenyangkan perut. Segarkan tenggorokan juga dengan pilihan minuman seperti Green Tea Cream atau Frozen Berrys.

 

 
Food & Beverages

Green Tea Cream

Minuman ini sering sekali disebut sebagai signature drink and one of favourite here. So, I chose it and for me it’s great! Perpaduan green tea, milk, and cream-nya benar-benar pas. Green tea-nya ngeblend dengan susu jadi tidak terlalu pahit dan susunya pun tidak terllau manis plus krim yang membuat minuman ini sangat sempurna buat saya!

 
Potato Pie

Ini menurut saya semi main course, padahal ini appetizer. Potato Pie ini sejenis mashed potato yang teksturnya tidak sekaku mashed potato pada umumnya, cenderung seperti bubur tapi agak padat dan lembut. The surprise part is ada keju mozzarella di dalamnya dan itu langsung meleleh pas saya potong potato pie ini. It’s heaven! Rasanya benar-benar heaven, lembutnya kentang yang rasanya gurih dan sedikit asin berpadu dengan lelehan mozzarella cheese benar-benar tak terlukiskan. Kalau bisa saya gambarkan, potato pie ini seperti perpaduan macaroni schotel yang rich of cheese tapi dalam versi lebih lunak. Ah can’t agree more! This is just delicious!

 
Blueberry Pancake

Sayangnya, penutup nongkrong cantik saya kali ini tidak memuaskan. Pancakenya beda banget sama gambar di buku menunya haha. Porsinya pan kecil. Tekstur adonan pancakenya sih lembut tapi entah mengapa semakiin saya kunyah kok malah semakin kasar dan agak keras ya. Sudah begitu, blueberrynya hanya berupa olesan selai blueberry dibagian luarnya saja, bahkan tidak didalam pancakenya (setidaknya) untung adonannya sedikit manis dan tambahan vanilla ice cream-nya juga sedikit menolong. Karena porsi pancake dan es krimnya gak seimbang, saat es krim sudah lebih dulu habis, pancakenya masih tersisa dan nggak ada pairingnya lagi, ujung-ujungnya mubazir deh.

 
Price

Kita dapat menikmati aneka minuman disini mulai dari Rp7.000 sampai Rp 20.000 sementara untuk makanan sebesar Rp14.000 hingga Rp30.000-an. No service charge hanya pajaknya 5%.

Pelayanan
Saya sangat menghargai pelayanan yang helpful dan make me feel home. Disini pelayannya cekatan dan sigap serta ramah. Saya memang tak disambut dengan greetings ala Jepang, tapi setelah melihat saya duduk mereka langsung menyodorkan buku menu dan mencatat pesanan saya dengan cepat. Makanan saya pun datang tidak sampai 20 menit.

Ah, saya nggak akan pernah bosan sampai kapanpun nongkrong disini. Meskipun buat saya menunya dari tahun ke tahun kebanyakan gak berubah, tapi tempat ini memang sangat pas buat nongkrong dan ngobrol panjang sama teman-teman. Nggak pernah tuh pelayannya mengusir saya hanya karena saya pesan secangkir kopi, internetan gratis dan duduk berjam-jam hehehe…Very recommended café to go for you coffee lover!
 
Recommended Dish(es):  potato pie
 
Date of Visit: Mar 16, 2013 

Spending per head: Approximately Rp25000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Cilok Naik Kelas Smile Feb 12, 2013   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Stand / Kios | Siomay / Batagor

Masih ingat sama jajanan masa kecil dulu, sagu yang di colok pakai lidi kemudian dicocol saus atau disebut cilok? Mungkin masih ada yang ingat. Nah, kali ini saya menelusuri salah satu sudut kota Bandung untuk mencicipi cilok yang lain daripada yang sudah beredar di pasaran. Kalau biasanya cilok itu berupa bakso rebus atau sagu rebus yang dibentuk bulat dan dicolok, di warung yang satu ini punya gebrakan baru berupa cilok goreng. Ya, tidak salah lagi sagu-nya itu digoreng dan uniknya dicocolnya dengan sambal kacang bukan saus sambal.

 

 
Sebut saja Kang Jeje, si pemilik Cilok Mamang yang berlokasi di daerah Jalan Saparua, depan GOR Saparua, Bandung atau jajaran RS Halmahera Jl. Riau ini baru merintis usaha kecilnya ini sekitar sebulan yang lalu. Warung kecil ini memang benar-benar kecil, hanya sebuah bilik bambu kecil yang di depannya terdapat kursi-kursi plastik untuk pengunjung yang ingin makan di tempat. Didalamnya pun terlihat hanya ada satu penggorengan dan alat kukusan, jadi pengunjung harus bersabar menunggu cilok-nya selesai digoreng karena penggorengannya memang cuma satu. Warung rintisan ini awalnya memang usaha Kang Jeje untuk memasarkan yoghurt handmade-nya, Mimi Yoghurt, setelah sukses makin banyaklah partner yang mengajaknya bekerja sama salah satunya cilok goreng ini. Jadilah Kang Jeje memutuskan mendirikan Cilok Mamang sebagai wadah promosi aneka kuliner handmade hasil karya entrepreneur muda Bandung. Sebut saja Ceciwawa Dessert, Kripik Maicih, Kripik SiJudes, Almon Bakar, Pancake Durian @Cemen_pancake dan Tiramisu @mimiTsu yang bergabung dengan Kang Jeje di Cilok Mamang.

Saya berkesempatan mencicipi jualan utama disini Cilok Goreng (12.5K). Cilok Goreng disini dijual dalam dua porsi, satu porsi (25 pcs) dan setengah porsi (12-13 pcs @ 7K) dengan harga yang sangat murah. Satu porsinya berisi 25 cilok goreng. Penyajiannya pun di sebuah piring bukan dengan plastik kecil kayak di pinggir jalan. Bagi saya, tekstur cilok gorenya sendiri empuk, legit dan lembut banget! Sagunya itu tidak terasa seperti sagu belum matang seperti yang sering saya jumpai di pinggir jalan. Ditambah dengan cocolan sambal kacang yang gurih dan tidak terlalu pedas, makan cilok kali ini rasanya beda sekali. Juara!

 
Sementara Cilok Kukus -nya(12.5K) juga beda, karena di dalamnya disisipkan potongan daging cincang. Teksturnya pun lembut dan mudah dikunyah. Rasa dagingnya pun terasa seperti potongan kornet dan berpadu dengan pas bersama rasa ciloknya yang sedikit hambar. Cocol pake sambal kacangnya, makin mantab! Makin suka deh makan cilok kalau begini!

 
Selain cilok, saya mencicipi aneka dessertnya salah satunya Mimi Yoghurt Strawberry ukuran sedang (7.5K). Disini Mimi Yoghurt tersedia dalam ukuran sedang dan kecil. Yoghurtnya mengunakan wadah yang lumayan besar jadi bisa untuk sharing. Teksturnya tidak terlalu pekat juga tidak terlalu encer. Asamnya juga pas dan segar strawberry-nya sangat terasa.

 
Tiramisu Mimisu (13K) juga nggak kalah juara, apalagi dimakan dalam keadaan beku, seperti makan es krim tiramisu deh! Rasa kopinya juga nggak terlalu pahit cenderung manis dan terasa aroma dan rasa vanilla yang juga pekat. Cocok banget buat cemilan setelah makan sambal cilok yang cukup pedas.

 
Harga cemilan disini sangat terjangkau, hanya merogoh kocek sekitar Rp7.000-12.000 kita sudah bisa mencicipi cilok goreng atau kukus. Sementara untuk makanan lain berkisar antara Rp10.000-30.000, yang paling mahal adalah Ceciwawa sebuah dessert baru, semacam modifikasi es krim, cake, dan cream gitu seharga 30.000 namun disjaikan dalam setoples kaca kecil. Minuman seperti yoghurt dapat dinikmati seharga Rp4.000-7.500 saja. Untuk aneka kerpiki Maicih dijual dengan harga pabrik asli berkisar 15-18K. Jadi, kalau mau cari sensasi nyemil yang beda di Bandung, silahkan mampir ke Warung Mamang, dijamin Kang Jeje menyambut dengan senyum ramah dan cerita-ceritanya.

 
 
Recommended Dish(es):  Cilok goreng
 
Date of Visit: Jan 25, 2013 

Spending per head: Approximately Rp10000(Night Snack)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 1

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Dining in the Bandung's Sky  Smile Feb 07, 2013   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jepang | Restaurant | Shabu Shabu | Kumpul Keluarga

Memanjakan perut dan mata di daerah Bandung paling nyaman memang di daerah perbukitan atas seperti Dago Atas atau Dago Pakar. Nggak heran setiap bulannya pasti ada saja restoran atau kafe baru yang menjual tidak hanya menu-menunya tapi juga view Bandung yang cantik dari ketinggian di siang ataupun malam hari. Takigawa MeatBar In the Sky mencoba peruntungannya kali ini membawa para pecinta kuliner menikmati masakan Jepang dari ketinggian lima lantai sebuah restoran di Bukit Pakar Timur. Takigawa sendiri sudah tersohor di kota-kota besar sebagai salah satu resto Jepang middle to high class yang salah satu pemiliknya seorang penyanyi Dangdut terkenal di Indonesia. Lepas dari itu, di Bandung ini Takigawa mencoba memanjakan perut pecinta kuliner yang tidak suka masakan Jepang dengan menghadirkan konsep Meatbar dengan menu-menu Western, seperti aneka steak, salad, dan pasta.

 

 
Restorannya sendiri terbilang cukup modern dengan tiga area indoor, outdoor dan relax. Memakai nuansa hitam dan kayu jati pada furniture dan interiornya, Takigawa MeatBar in the Sky menambahkan kesan romantis dengan meletakkan helaian-helaian kain putih menggantung di langit-langit selayaknya sebuah tenda pernikahan. Arsitektur bangunannya yang di dominasi dengan kaca juga makin membuat restoran ini terlihat simply luxury. Ditambah dengan lampu-lampu hias yang berkelip cantik dimalam hari dan pemandangan citylight Bandung yang bak bintang bertaburan, membuat setiap orang merasakan seolah dining in the sky.

Begitu juga yang saya rasakan malam itu, ditambah dengan pasangan disamping saya, restoran ini simpelnya memang cocok untuk yang berpasangan. Masakan Jepang menjadi pilihan utama karena saya justru bosan dengan menu Western. Saya merasa tidak pernah bosan dengan menu sushi karena selalu ada variasi sushi yang berbeda dari setiap restoran.

Seperti Cuttlefish Hot Roll, sushi yang tidak menggunakan nasi dan nori sebagai roll ini mengantinya dengan cuttlefish dengan filing salmon, scallop, tobiko, dan cheese roll. Daging cuttlefish-nya begitu segar dan empuk, serta tidak amis begitu juga dengan salmon dan scallop-nya. But the super hint yang awalnya membuat saya kaget pas menggigit roll ini adalah rasa asin manis ditengah-tengah rasa anyir aneka seafood itu adalah si keju batangan! Teksturnya yang agak keras namun kemudian lumer dimulut saya membuat roll ini terasa sempurna!

 
Volcano juga tidak kalah uniknya, bukan saja bentuknya yang tidak seperti roll pada umumnya, tapi juga karena bentuknya pipih dan potongannya besar sekali! Salmon, scallop, crabstick, prawn, carrot, dan tobiko yang berkilau bagai mutiara di bagian atasnya disiram dengan saus special Takigawa membuat sushi ini juga jadi juara buat saya. Kurangnya hanya ukurannya yang terlalu besar sehingga butuh dua kali suapan ke mulut saya hehe…

 
Sayangnya, Takigawa Roll yang sudah menjadi signature disini tidak terlalu cocok dengan selera saya. Meskipun fusion-nya berupa salmon, scallop, crabstick dengan saus special Takigawa dan ditaburi tobiko dan duck liver pate, saya merasa sushi-nya agak amis dan sedikit eneg mungkin karena hati angsanya ya. Anyway this still okay on my stomach.

 
Terakhir, penutup yang tidak pernah saya tinggalkan adalah sashimi. Salmon Carpaccio, potongan salmon segar disajikan dengan vinegar sauce dan taburan telur salmon ini benar-benar fresh dan juicy dagingnya. Very well done!

 
Sebagai pelengkap makan, segelas Fruit Punch (Jus jeruk limo, nanas, jeruk dan jambu klutuk) dan Strawberry Juice yang memberikan sensasi asam manis selalu berhasil menetralkan perut saya setelah makan raw food seperti sushi.

 

 
Soal harga memang harus merogok kocek lebih dalam untuk aneka fusion sushi, sashimi danmenu besar lainnya kecuali aneka nigiri sushi. Range-nya sekitar Rp45.000 – 80.000 per plate atau untuk sushi per plate 4/6/8 roll. Sedangkan untuk nigiri yang rata-rata per plate-nya 2 roll bisa dicicipi mulai dari Rp20.000 – 25.000 saja. Sementara untuk menu di Meatbar saya memperhatikan range harganya sekitar Rp45.000 – 150.000. Untuk minuman cukup merogoh kantong sekitar Rp19.000 -25.000 saja.

Dengan pelayanan yang cepat dan ramah plus suasana Bandung yang sejuk dan semakin cantik serta romantis di malam hari, saya merekomendasikan tempat ini untuk pecinta kuliner yang rindu suasana Bandung yang romantis dengan gemerlap citylight namun tetap nyaman untuk berleyeh-leyeh bersama keluarga atau pasangan.

Adios! Salam penikmat citylight dan makan enak!
 
Recommended Dish(es):  cuttlefish roll
 
Date of Visit: Jan 24, 2013 

Spending per head: Approximately Rp150000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 5  |  
Pelayanan
 5  |  
Higienis
 5  |  
Sesuai dengan harga
 5

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Street Foods | Bakso

Hujan-hujan yang dingin di Bandung paling enak emang menikmati semangkuk makanan yang hangat. Lucky me, I got an invitation dari seorang teman untuk mencicipi bisnis kulinernya. Wuiih, radar eater saya langsung nyala di tambah perut yang emang udah laper pisan!

Ditemani gerimis kecil, saya menelusuri daerah Kopo mencari-cari dimana letak Toko Ayeuna yang ternyata nyempil di deretan toko di daerah Bojongloa, Kopo. Tepat di depan Toko Ayeuna ini ada sebuah gerobak cukup besar tempat dimana teman saya ini menekuni bisnis kulinernya. Sebut saja Kang Amet, pria bertubuh tambun dan berkepala botak ini meneruskan bisnis keluarganya yang sudah berjualan mie dan bakso ini kurang lebih 40 tahun. Hanya bermodalkan sebuah gerobak dan tempat duduk ala kadarnya, bisnis ini nggak pernah sepi pengunjung. Saya bisa lihat orang-orang hilir mudik datang memanjakan perutnya dengan semangkuk mie yamin, mie ayam, bihun atau bakso disini.

 
Apa yang membuat warung bakso ini begitu tersohor dan bertahan lama? Rahasianya ada pada cara masaknya. Kang Amet menggunakan kompor arang untuk memasak bakso dan kuahnya. Arang ini dipercaya membuat kuah bakso berbau lebih sedap, gurih, dan beda dari bakso dan kuah yang direbus di kompor gas. Cara tradisional yang unik dan menghasilkan sesuatu yang berbeda.

Keunikan teknik memasaknya itu langsung saya buktikan dengan semangkuk mie yamin bihun dan bakso. Yamin disini disajikan dengan semangkuk bakso kuah, bisa disatukan atau dipisah. Mie-nya sendiri bisa bihun atau mie telor. Saya mencoba bihun yamin dan bakso.

Semangkuk bihun yamin disajikan seperti umumnya mie yamin, kental dengan kecap namun Kang Amet masih memberikan sedikit kuah sehingga agak basah. Saya nggak request apa-apa, biasanya saya rewel kalau makan yamin harus kering dan kecapnya pas. Kang Amet tanpa diminta seolah tahu porsi yang pas untuk saya. Bihunnya lembut dan campuran kecapnya tidak terlalu pekat sehingga tidak membuat saya eneg.

 
Sedangkan, semangkuk baksonya berisikan beberapa bakso kecil dan babat serta urat. Kuahnya sedikit keasinan buat lidah saya, harusnya saya memesan garamnya jangan kebanyakan sih ehehe..but overall, kuahnya gurih dan aromanya beda lho! Sedikit berbau arang tapi wangi gitu. Sedangkan baksonya lembut sekali begitu juga dengan babat dan uratnya. Oya, babat disini juga beda dari yang lainnya, kalau biasanya kita melihat babat berkulit hitam, disini Kang Amet membersihkan dan menyingkirkan kulit hitamnya itu sehingga tersisa daging babat yang putih, jadinya tidak menimbulkan bau amis pada kuah baksonya. Pantas awalnya saya pikir ini gajih, pas dimakan kok kenyal dan lembut hihihi...A super perfect idea for Indonesian culinary!

 
Untuk menikmati semangkuk bakso enak ini, saya nggak perlu merogoh kocek terlalu dalam, cukup dengan Rp12.000 saja saya bisa memanjakan perut di siang yang dingin ini. Kang Amet nggak membuka dagangannya di tempat lain. Jadi, bagi yang penasaran kayak apa bedanya bakso ini dengan lainnya, monggo kalau lagi di Bandung silahkan mampir ke depan Toko Ayeuna di Kopo. Dijamin perut kenyang, hatipun senang!

 

 
Happy meatball hunting, eaters!
 
Date of Visit: Nov 29, 2012 

Spending per head: Approximately Rp12000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 2  |  
Pelayanan
 5  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 1

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

All You Can Eat at The Strudels Smile Dec 21, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Roti & Kue | Pancakes / Waffle / Crepes | Kencan / Berpasangan

I’m not gonna talk about the other hippest place in Bandung, I just wanna share how I filled my empty belly with All You Can Eat menu from one of well-known café in Progo. It might be the hippest street in Bandung since it covers several best hang-out places such as Hummingbird, Rocca & Co., Tokyo Connection, Hartwood, Giggle Box, the oldest Kopi Progo, The Strudels Factory House & Cafe, etc. I chose the latter since I’ve already bought the All You Can Eat (AYCE) voucher. The Strudels Factory House & Cafe which is located right across Hummingbird this month offered an AYCE offer for only IDR75,000. I decided to buy this voucher since I curious about this Austrian cake which is modified with Indonesian taste.

 
It has a small area when I stepped on its courtyard. I thought it’s a small cake shop, but when I entered they have a spacious indoor and outdoor area with warm lighting and urban vintage interior. In the front area, there are three area with cozy long black sofa and each partitioned with a thin curtain, make each room feel private and so romantic for couple hehe. In the backyard, there are also spacey area with long sofa and small garden. I choose the front area since it seems private for me and my boyfriend haha.

 
I simply didn’t expect anything from the AYCE menu, since they have certain menu to choose in the AYCE package, so I ordered what I feel the best for me. First is appetizer, Broccoli Soup. The soup was served hot with long thin strudels on the top of the cup. It’s savory and rich of broccoli. Nothing special from this soup.

 
At least, the Green Tea Thai Ice Tea which is so refreshing, neutralize my tummy with its sweetness.

 
Next, I chose Mushroom & Cheese Strudels. When it came to my table, it was look like a stack of nugget burger. On the top, it’s a burger-look-a-like strudel followed by stack of nuggets covered with a super melted mozzarella cheese and the other strudel in the bottom then crunchy fries. I wonder where the mushroom is since the title of this menu is Mushroom & Cheese, and I found the hint when I bite the nugget, voila, the mushroom was inside the nugget! Everything was okay for me. The nugget and fries was fried well and the melted mozzarella cheese never gone wrong for this kind of food.

 
Then, on a half-full belly, I push myself to eat the Grilled Chicken Strudels. The grilled chicken was so juicy and tender. It better with mushroom and melted mozzarella cheese on the top of it.

 
Then, this is the signature and most favorite dessert, Apple Strudels. It came i a big portion, a super high stack of strudels. The strudels itself was so puffy and soft filled with cream and apple slices and condensed milk as the sauce. Overall, this apple strudels is good, sweet enough and I love the crunchy texture of its strudels.

 
Anyway, I was so full with those strudels, the AYCE package was satisfy enough even though I just taste some of the menus. I didn't know how full my belly are if I keep order all of them hahaha...Moreover, I really enjoy the ambiance here til I feel it's enough to eat and better to stay relax in the sofa til my boyfriend decided to buy such curtain hahaha...

One conclusion, after munching some sweet and salty strudels, I think strudels is better served sweet than salty as in main course. It's my tastebuds, how about you, eaters? Share your story and tell me which's best for you.
 
Recommended Dish(es):  apple strudels
 
Date of Visit: Nov 30, 2012 

Spending per head: Approximately Rp50000(Dinner)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0