OpenRice Index
  
ichakhairisa
This is ichakhairisa living in Cilincing. I am a Editor, work in Kuningan. I like to hang out in Sudirman, Kelapa Gading, Kuningan. Betawi, Jawa, International food are my favorite cuisines. I also love Chocolate / Candy Shop, Kedai Kopi & Teh and Es Krim/Yogurt, Dessert, Soto/Rawon, Dim Sum, Salad.
Member 98 First(s)
No. of Review218 Review(s)
編輯推介數目148 Editor's Choice
Recommended16 Recommended
Popularity11532 View(s)
Replies in Forum5 Comment(s)
Upload Photos1216 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant2 My Restaurant(s)
Follow1 Following
粉絲1312 Follower(s)
ichakhairisa  Level 4
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 1 to 5 of 22 Reviews in Indonesia
Surabi Enhaii OK Nov 28, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Sunda | Kumpul Keluarga

Sepeninggal saya dua bulan ke Kalimantan, ternyata banyak sekali yang berubah tidak hanya di Jakarta, tapi juga di Depok. Terakhir kesini itu hampir enam bulan yang lalu, dan saat weekend kemarin mampir kesini lagi, Depok sudah seperti Bandung, makin padat dengan lokasi kuliner dimana-mana.

 
Satu tempat yang sedang happening banget saat ini yaitu kawasan jajan yang memiliki 4 tempat makan sekaligus, Batagor Ikhsan, Surabi Enhaii, dan Bubur Barito. Kawasan jajan ini terletak tidak jauh dari Universitas Gunadarma. Terletak persis di pinggir jalan dengan area yang sangat luas ini menjadikan tempat ini sangat penuh di waktu weekend.

 
Saya sengaja mampir karena ingin mencicipi Surabi Enhaii. Soalnya tiap kali mampir ke Bandung, pasti nggak kepikiran mau nyobain si Enhaii ini hihihi. Singkatnya, Surabi Enhaii menyediakan aneka menu surabi atau biasa disebut serabi dengan beragam topping. Mulai dari surabi manis, seperti surabi bertopping cokelat, pisang susu, keju cokelat, durian, jagung keju, kurma keju, sampai yang bertopping es krim stroberi juga ada. Ada juga surabi pedas, seperti surabi bertopping ayam special, kornet sosis, abon special, atau jagung pedas. Selain surabi, mereka juga menyediakan aneka main course berupa masakan Indonesia dan simple western food.

Surabi Kornet Sosis menjadi pilihan saya malam itu. Porsi surabinya memang cukup besar. Adonan surabinya empuk dan cukup lembut, seperti pada umumnya adonan surabi, rasa dan tekstur kelapanya cukup kental disini. kornet dan sosinya disisipi di beberapa bagian surabinya dan uniknya, surabi ini disjaikan dnegan mayonnaise pedas yang diklaim handmade. I love the sauce sih. Walaupun agak bikin perut panas hehehe.

 
Habis berpedas-pedas ria, saya mencicipi Surabi Nangka Susu. Dengan tipikal adonan yang sama, surabi ini hanya ditambahkan nangka dan susu diatasnya. Manis dan mengobati rasa terbakar lidah saya.

 
Harga yang ditawarkan juga cukup terjangkau, untuk serabi manis dan pedas berkisar antara Rp8.000 – 15.000, sedangkan aneka main course berkisar antara Rp19.000 – 45.000. Untuk minumannya dengan pilihan aneja jus, ice cream, es teller, milkshake, dll berkisar antara Rp7.000 – 20.000.

Sayangnya, pelayanannya mengecewakan sekali. Entah karena sedang ramai pengunjung atau karena proses membuat surabi yang lama, saya harus menunggu hamper 45 menit hanya untuk surabi saja. Harus sering-sering menegur pelayannya jika makanan ingin cepat sampai di meja. Phiuh.
 
Date of Visit: Oct 20, 2012 

Spending per head: Approximately Rp25000(Night Snack)

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 1  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 2

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Kafe | Pizza & Pasta | Halal

Sudah tidak asing lagi jika menelusuri daerah Braga, Bandung kesan klasik dan tempo dulu pasti menelusup kedalam pikiran kita. Deretan rumah dan toko-toko jaman dahulu masih menghiasi daerah yang kini semakin diremajakan dengan bergabungnya beberapa resto dan kafe-kafe bergaya modern-klasik. Tengoklah sebuah resto bernuansa modern klasik di ujung Jalan Braga yang kental dengan nuansa merahnya. Ya, Sugarush, sebuah nama resto yang membuat setiap orang pasti memikirkan kata ‘gula’ saat pertama kali mengeja namanya. Nama yang manis itu ternyata membuat resto yang baru berdiri tujuh bulan lalu ini laris manis bak kacang goreng, terlihat dari antrian waiting list panjang saat saya datang kesini di hari Sabtu.

 
Warna merah di bagian depan ternyata sedikit dikurangi dengan dominan warna dinding hitam dan cream di bagian dalam. Dinding-dindingnya dipercantik dengan beberapa tulisan dari kapur tulis dan lukisan orang yang menyerupai bayangan yang membuat saya terkagum-kagum. Kesan klasik Braga dibawa Sugarush dalam deretan lampu-lampu gantung klasik dengan beragam model di langit-langitnya dan juga beberapa lemari berisi patung-patung abstrak dan guci-guci klasik. Kesan modern ditampilkan Sugarush dalam bar yang diletakkan di bagian tengah ruangan dan beberapa lampu gantung di bagian ujung ruangan yang mirip seperti bunga kecubung.

 
Sugarush boleh menampilkan kesan klasik dalam dekorasinya, namun tidak pada menunya. Menu-menu western, Italian, internasional dan Indonesian siap menggugah selera kita. Tengoklah beberapa menu pasta, salad, baked rice, atau sugarush beat untuk main course atau maniskan hari dengan beberapa pilihan cake juara disini seperti Red Velvet dan Rainbow Cake, pancake, waffles, atau churros, si snack khas Mexico.

 
Harga yang ditawarkan disini juga masih cocok dengan kantongn anak muda. Untuk makanan, Sugarush menawarkan harga mulai dari Rp18.000 – 45.000, sedangkan minuman mulai dari Rp13.000 – 20.000. Untuk aneka cake, Sugarush juga masih ramah dengan range rata-rata Rp25.000 per slice.

Pilihan saya jatuh pada main course yang jadi favorit disini Loin Pasta. Penne pasta dengan cream sauce dan beef slice. The penne went well into my stomach, unfortunately cream sauce-nya terlalu rich namun tidak gurih. Agak sedikit ‘enough’ di suapan saya yang terakhir karena cream sauce yang sangat ‘plain’ itu. Untungnya, saus lada hitam pada potongan dagingnya masih bisa menolong rasa si Loin Pasta ini.

 
Hamburg Rice menjadi pilihan saya selanjutnya. Tampilannya sangat unik, mirip seperti jamur raksasa. Namun jangan salah, ternyata ini tumpukan nasi putih yang diatasnya ditutup dengan daging cincang yang dipadatkan dan potongan wortel, jagung dan buncis. Pujian saya mungkin datang pada si daging cincangnya yang soft dan tasty. Bumbunya pas, perpaduan lada hitam dan bolognese taste membuat daging cincangnya terasa rich dan melengkapi si nasi yang mirip dengan nasi lemak itu.

 
Rainbow cake menjadi salah satu cake yang di puja-puja disini. Sayangnya, saat saya mencicipinya entah mengapa saya kurang setuju dengan pendapat banyak orang. Again, this is my own opinion, lho. But for sure, tekstur cakenya kurang moist, cenderung mirip dengan bolu biasa dan mendekati chiffon cake. Manisnya kurang, cream cheesenya juga tidak pekat dan anehnya saya masih bisa merasakan rasa sweet cream yang biasa dipakai untuk birthday cake biasa.

 
Untuk minumannya, saya mencicipi Blueberry Smoothies. Lagi-lagi agak kecewa karena si minuman ini sepertinya kebanyakan air dan kekurangan blueberry. Rasa blueberrynya tidak terlalu terasa, jadi mirip jus blueberry yang dikasih es kemudian mencair, jadi cuma sisa-sisa airnya yang terasa.

 
Overall, Sugarush boleh jadi sudah berhasil menampilkan kepiawaiannya dalam menjaring pecinta kuliner di Bandung dan sekitarnya, hanya saja perlu sedikit banyak pengembangan disana-sini terutama dari sisi menu. By the way, Sugarush sepertinya juga perlu memperhatikan kondisi ruangan disaat crowd lagi penuh-penuhnya. Ruangan yang cantik namun penuh sesak orang hingga AC-pun tidak terasa dan saya sampai keringetan itu jadi nilai minus yang fatal banget buat saya. Makan nggak enak, duduk pun gak tenang. Mudah-mudahan orang lain nggak begitu complain seperti saya hihihi.
 
Date of Visit: Jun 16, 2012 

Spending per head: Approximately Rp50000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 2  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 3

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Itali | Kafe | Steak & Grills | Kencan / Berpasangan | Hang Out

Overall Description

After the first invitation in Sangrai, Bandung, I back to visit the second invitation from the same owner of Sangrai in an Italian resto called BigParma. Ever heard bout Parma? You must be known if you a football maniac hahaha, but do you know that Parma is also has a best cheese product in Europe. Nah, that was the BigParma is all about. They barely wanna show us the variant of cheese from Parma that other resto rarely to use. Furthermore, they also wanna introduce us with the other variants of Italian food instead of pasta, pizza, spaghetti, you name it! BigParma has its specialty in serving Parmigiana. Strange, right? Lemme explain a little to you.

Parmigiana is a Southern Italian dish made with a shallow-fried sliced filling, layered withcheese and tomato sauce, then baked. Parmigiana made with a filling of aubergine(eggplant) is the earliest version. Variations made with breaded meat cutlets, such as vealand chicken parmigiana, have been popularized in other countries, usually in areas of Italian immigration. (www.wikipedia.org)

However, due to Indonesia taste, the Parmigiana term in BigParma has been modified.

Parmigiana is a Southern Italian dish made by chicken fillet covered with flour, fried then bake into an oven and served with melted Parma authentic cheese, handmade tomato sauce, fried fries, and salad. (BigParma's term)

Venue

 
Big Parma resto is located at Jalan Cemara 83, Sukajadi, Bandung, next to Brands United FO. The place is really closed to the FO and cozy enough to have your chill out time after shopping. All area is outdoor with wooden and table chair and one row of bar table. They also have an open kitchen so that customers can closely see what they cook in the kitchen.

 
Food

As I understood enough to what Parmigiana is, I started to satisfy my tummy with the Original Parmigiana first. It was really a chicken fillet yet I remembered it similar with chicken katsu in Japanese dish. The surprising thing was it really covered with handmade tomato sauce and melted cheese. Yay! The texture of the chicken fillet was good and the cheese was sooooo definitely heaven! Really never tried this kind of cheese before. So far I met a melted cheese who really melted in my mouth, but this one melted in the chicken fillet not melted in my mouth. It’s even created a chewy and savory sensation. I can even chewing the super soft cheese! Great. I dunno why I love the not melted sensation in mouth of this Parma cheese. The taste was also different with similar cheese I’ve ever tasted. However, after several pieces of the parmigiana came into my tummy, I was getting full and wamble.

 
Dunno why maybe it caused by the original taste of tomato sauce that unfamiliar in my Indonesian’s tongue. Watchout BigParma, except your market are tourists or food enthusiasts who loves to try many kind of cuisines, the Indonesian people might be unfamiliar and tend to avoid such taste, think to add a little ingredients or modification to make it familiar with average people who at least dining without any expectation in your resto.

On the other hand, my taste bud was getting better when trying the Smoked Beef Parmigiana, the tomato sauce tend to sweeter and savory than the Original one. The Smoked Beef on the top is also baked well and the portion of both is enough.

 
As my tummy getting full, I only could spent one more dish. So, I decided to take Chicken O’Balls. Unfortunately, it’s not even trigger my appetite due to the chicken was still frozen. How come?! When I get rid the crunchy covered of, I got a frozen and feels-like-raw chicken! I thought that this is a frozen chicken that directly being fried. Euuww, it’s failed BagParma. Sorry. Consider that you better boiled the frozen chicken before going to the frying pan. huffy

 
Having dissapointed by the snacks, I directly close my lunch with drinks. I ordered Blueberry Juice and Green Tea Blended. For God Sake, I looove the Blueberry Juice! It’s fresh and the original of blueberry taste really dancing in my tongue. Aaah delicioso!

 
The Green Te Blended, however, not too good. Too much milk, less green tea. Feels like drink a skim milk with pandanese flavor, sort of.

 
Oh ya, in the opening before tasting the main course, I also tasted their coffee. Hot Caramel Coffee and Hot Cappuccino. Both are not too interesting for me. It felt like a sachet of cappuccino brewing in my glass. The caramel was also not blended with the coffee. I even can’t distinguish whether it’s the cappuccino or the caramel one. It’s mostly similar.

 
Price

The price range is affordable. For the drinks, at around IDR15,000. Food and snacks at around IDR15,000 - 35,000. Cheap price for typical Itailian dishes.

Conclusion

I only noted that actually this resto should consider their menu variation. As I see in the list, the menu similar with Western not too Italian. BigParma might be reconsider to make really authentic Parmigiana menu that suit with Indonesian tongue, except they wanna change the concept into a real Italian resto.

Thanks Pak Joy dan Pak Samsul for the invitation. I’m waiting the new menus of BigParma, lho! Hehehe..

How bout you who loves Italian food, openricers? If you have a chance to taste BigParma, do you feel the same Indonesian-Italian tongue with me or am I too Indonesian til I can’t enjoy the original Italian cuisine haha....Can’t wait to hear your story. Au revoir.
 
Recommended Dish(es):  Smoked Beef Parmigiana
 
Date of Visit: Dec 10, 2011 

Spending per head: Approximately Rp35000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

The Legendary Yamien Lela OK May 08, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Restaurant | Bakmi/Kwetiau | Kumpul Keluarga

Overall Description

Setiap kali ke daerah Dago Pakar, saya selalu menyempatkan diri mengunjungi setiap resto atau tempat makan di daerah sana. Karena di daerah Dago Pakar kita nggak hanya bisa makan, tapi juga disuguhkan dengan mountain dan Bandung city view dari atas bukit. Apalagi udara sejuk di daerah Dago Pakar selalu bikin saya betah ber lama-lama nongkrong disana. Ada sebuah tempat makan yang minimalis namun homey namanya, Warung Lela. Banyak orang yang juga menyebutnya dengan Yamien Lela karena katanya yamiennya tersohor banget. Yamien Lela ini sempat ngehits juga di tahun 2003-an pas novel Cintapuccino-nya Icha Rahmanti lagi booming. Ada bagian dimana tokoh utama perempuannya, Rahmi, ketemu lagi dengan lelaki pujaannya, Nimo, di Yamien Lela ini.

 

 
Anyway, memasuki area Warung Lela seperti memasuki rumah orang pada umumnya. Rumahnya bergaya campuran tradisonal Jawa dan modern minimalis, dengan di beberapa sudutnya ada dinding terbuat dari batu-bata asli dan ukiran-ukiran tradisional pada kayu-kayu furniturnya. Di bagian terllihat luar ada dapur terbuka, masuk ke ruang tamu ada beberapa kursi kayu dengan pajangan pigura foto keluarga si pemilik warung Lela ini. Di teras belakang ada beberapa kursi dan meja kayu juga untuk pengunjung. Teras belakang langsung menghadap ke pemandangan perbukitan yang sayangnya saat saya kesini keadaannya sedang di babat, seperti buat pembangunan.Yamien Manis Spesial dan Baso Campur menjadi pilihan saya untuk makan siang kali ini. Tidak butuh lebih dari 20 menit. Si pelayan sudah menyajikannya di meja saya.

 
Food

Yamien Manis Spesial – 17K

Kalau kata orang yamien disini enak banget, buat saya sih kemanisan. Tekstur mienya bolehlah, tipis dan nggak kenyal banget jadi nggak gampang bikin perut begah. Kuah basonya juga gurih. Hanya saja ya kemanisan aja, kebanyakan kecap sepertinya. Rasa kemanisan dan harga yang overprice rasanya membuat saya nggak berani menyamakan persepsi kalau yamien ini adalah the best di sini.

 
Baso Campur – 12K

Seporsi baso campur berisi 1 buah somay, 3 buah baso, dan 1 buah tahu. Porsinya kecil banget, Tekstur somay, baso, dan tahunya sih lembut hanya saja kuahnya biasa saja, nggak terlalu gurih. Untung harganya nggak overprice juga kayak yamiennya.

 
Es Kelapa Jeruk

Melengkapi makan siang saya, es kelapa jeruk dengan rasa segar air kelapa dan asam jeruk ini berhasil mengobati rasa eneg saya setelah makan yamien kemanisan tadi hehehe..

 
Menu & Price

Selain yamien dan baso Warung Lela juga menawarkan beragam mie ayam jamur, nasi sop buntut, nasi soto ayam, aneka minuman mulai dari kopi, es kelapa, jus, sampai dessert berupa mousse dan cake. Harga makanan untuk yamien aneka baso dan mie ayam dibanderol mulai dari Rp12.000 – 17.000, paling mahal sop buntut Rp27.500. Minuman dibanderol mulai dari Rp6.000 – 18.000 untuk es kopyor yang paling mahal.

Service

Pelayanan disini cukup ramah. Tipikal orang sunda rumahan, si pelayannya dengan ramah melayani saya. Makanannya juga nggak datang terlalu lama. Semua disajikan dalam keadaan fresh.

Conclusion

Overall, untuk suasana dan lokasi Warung Lela bisa jadi rekomendasi yang tepat untuk menghabiskan weekend di Bandung, namun sayangnya harga makanan yang overprice untuk sekelas makanan yang bisa didapatkan di pinggir jalan, membuat orang bisa jadi lebih memilih restoran dengan makanan enak dan view yang sama walau harga lebih mahal.

 
Recommended Dish(es):  Yamin Spesial
 
Date of Visit: Jan 06, 2012 

Spending per head: Approximately Rp20000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 5  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 2

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Kedai Kopi & Teh | Street Foods | Bakmi/Kwetiau | Kumpul Keluarga

Jalan-jalan ke Bandung, emang nggak lengkap kalau nggak menelusuri kulinernya. Bahkan saya nggak pernah bosan-bosannya mencari makanan baru disini. Kunjungan kali ini saya menyempatkan diri mengunjungi kafe yang dari dulu saya idam-idamkan setelah melihatnya di salah satu acara rekomendasi kuliner di TV. Namanya Cafe Madtari, lokasinya di Jalan Rangga Gading 12, Dago, Bandung. Tepatnya di dekat Taman Flexi. Gak jauh dari situ deh. Keliatan banget kok tempatnya. Kafe ini punya 3 cabang salah satunya di Jalan Teuku Umar. Cuma yang di Rangga Gading ini yang lebih besar tempatnya dan lebih terkenal.

 
Kafenya sepintas seperti kafe kaki lima, karena menu yang ditawarkan pun memang menu siap saji yang pas buat ngopi sore atau begadang sampai malam. Mulai dari roti bakar, pisang panggang, aneka indomie, aneka sandwich, dan makanan ringan lainnya. Minumannya juga bervariasi mulai dari es teh manis, beragam jenis minuman kopi, wedang jahe, jahe susu, aneka jus, dan aneka minuman beralkohol juga ada hehehe…

Namun, yang paling khas dari kafe ini adalah porsi kejunya pada tiap makanan. Konon, hanya di kafe inilah penjualnya rela ‘obral’ keju sebanyak-banyaknya. Dan betapa terkejutnya pas saya memesan indomie telor kornet keju, ternyata kejunya super banyak gila!

Ini dia indomie telor korned keju yang jadi andalan!

 
Harga makanannya pun bervariasi, cenderung sangat murah. Seporsi aneka mie dibanderol hanya 3 ribu. Untuk mie rebus plus-plus, misal plus telor, plus kornet 8-13 ribu saja. Makanan lainnya macam roti bakar, sandwich, pisang gencet sekitar 5-8 ribu. Minuman hanya 3 ribu saja untuk the, kopi mulai dari 5-8ribu, wedang 5 ribu, jahe susu 7 ribu, dan aneka jus 8 ribu saja. Murah banget deh!

Suasana kafenya ramai banget pas saya bertandang malam hari sekitar jam 8 malam di hari Sabtu. Kafenya terdiri dari bagian outdoor dengan meja-meja panjang da bagian indoor dengan beberapa kursi dan meja bundar serta area lesehan di paling belakang kafe. Namun sayangnya, kafe ini tidak di dukung fasilitas toilet yang memadai. Dan cenderung terlihat kotor lantai di bagian dalam kafenya.

Keseluruhan sih kafe ini masih termasuk recommended bagi kamu yang punya bujet terbatas tapi pengen makan malam mengenyangkan. Cuma siap-siap aja ngerasain ketidaknyamanan kafe ini di saat penuh pengunjung.
 
Recommended Dish(es):  indomi telor korned keju
 
Date of Visit: Feb 11, 2011 

Spending per head: Approximately Rp15000

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 2  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 2  |  
Sesuai dengan harga
 1

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
   1 Vote(s)   View Results
Recommend
0