OpenRice Index
  
ichakhairisa
This is ichakhairisa living in Cilincing. I am a Editor, work in Kuningan. I like to hang out in Sudirman, Kelapa Gading, Kuningan. Betawi, Jawa, International food are my favorite cuisines. I also love Chocolate / Candy Shop, Kedai Kopi & Teh and Es Krim/Yogurt, Dessert, Soto/Rawon, Dim Sum, Salad.
Member 98 First(s)
No. of Review218 Review(s)
編輯推介數目148 Editor's Choice
Recommended16 Recommended
Popularity11501 View(s)
Replies in Forum5 Comment(s)
Upload Photos1216 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant2 My Restaurant(s)
Follow1 Following
粉絲1312 Follower(s)
ichakhairisa  Level 4
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
Display: AllJakarta Bali Bandung Surabaya Semarang Yogyakarta Other Cities  
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 1 to 5 of 14 Reviews in Indonesia
Cabuk Rambak khas Solo OK Dec 16, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jawa | Street Foods

Sehabis saya menikmati Dawet Telasih di Pasar Gede, saya berjalan ke arah pintu keluar pasar dan menemukan penjual Cabuk Rambak. Seorang ibu muda yang menggelar dagangannya di lantai hanya dengan sebuah bakul berisi beberapa ikat ketupat dan cabuk rambak. Jadi cabuk rambak itu berupa bumbu pelengkap, seperti bumbu kacang pada gado-gado atau ketoprak, yang terbuat dari wijen dan ketan yang kemudian diencerkan dengan air dan disiram di atas potongan ketupat. Simple, isn’t it? Sama seperti harganya juga yang membuat saya tercengang-cengang, kalau kemarin saya menemukan Soto Kwali seharga Rp3.500, ini sebungkus cabuk rambak seharga Rp2.000 saja! Oh Solo, bukan Cuma kotanya yang ramah bahkan harga makanan pun sangat sangat ramah disini hehehe…

 

 

 
 
Recommended Dish(es):  cabuk rambak
 
Date of Visit: Nov 23, 2012 

Spending per head: Approximately Rp2000(Breakfast)

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 2  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 2  |  
Sesuai dengan harga
 1

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Steak & Grills | Kencan / Berpasangan | Kumpul Keluarga

Ketika lagi ingin makan steak, teman saya mengajak saya berpetualang menikmati sajian steak yang lain daripada biasanya, yah di kota Solo tempat saya backpacking ini memang selalu saja ada kuliner Indonesia yang tak lazim saya temui sebelumnya. Kali ini saya tidak mampir ke restoran steak melainkan ke sebuah rumah makan yang menyediakan bistik Jawa atau bestik kata orang Solo. Di sebuah rumah makan di pinggir jalan Honggowoso, Solo, bestik ini dijajakan. Rumah makannya memiliki dua area, satu tenda pinggir jalan, satu lagi di dalam ruko. Malam itu saya bisa melihat rumah makan ini begitu ramai dikunjungi, aroma daging dengan kecap menyeruak dimana-mana dan menusuk-nusuk hidung saya. Area tenda terlihat tidak terlalu bersih menurut saya ditambah dengan asap yang mengepul dari gerobak tukang masaknya.

Akhirnya, saya memilih area ruko dengan jejeran bangku dan kursi kayu sederhana dan penerangan yang sedikit redup. Menu andalan disini pastinya bestik, mulai dari bestik daging, bestik ayam, bestik lidah, bestik, jerohan, dll. Ada juga aneka bakmi, mie goreng, nasi goreng, fu yung hai, dan paklai. Saya penasaran dengan Bestik Daging-nya (18K). Dan ketika sampai di meja, saya terbengong-bengong. Lho ini toh bistiknya? kirain salah pesanan hehehe...ya, yang datang di meja saya bukanlah bistik berupa daging berpotongan besar yang di panggang melainkan potongan daging cincang yang disiram kuah kecap lengkap dengan potongan wortel dan kentang serta selada. Wuih, inilah bestik Jawa yang dikenal dikota ini. Mungkin aneh buat saya karena sebelumnya memang belum pernah makan bistik Jawa dimanapun hehehe...

 
Kalau dari segi rasa saya acungi jempol, sama saja seperti saya makan steak potong, bedanya ini dicincang. Dagingnya dicincang halus, kuah kecapnya mirip saus teriyaki dan menguarkan roma daging sapi panggang yang kuat.

Sebagai tambahan, saya coba mencicipi Nasi Goreng Daging (14K) dengan tambahan telur dadar isi daging. Nasi gorengnya kurang bersahabat dengan selera saya, karena rasanya sedikit hambar dan terasa seperti makan nasi gosong. Telur dadarnya cukup enak dengan pottongan daging yang empuk dan gurih.

 
Untuk menyegarkan tenggorokan, Es Coklat (3,5K) menjadi pilihan saya. Sepertinya ini memang hanya cokelat bubuk biasa yang diberi tambahan gula dan es. Cokelatnya cukup pekat, manisnya pas, dan segar buat menetralisir makanan berkuah kental yang saya makan sebelumnya.

 
Overall, nggak pernah ada kata menyesal jika mencicipi kuliner Nusantara, kalaupun itu nggak enak, ya itu semata-mata hanya perbedaan lidah tiap orang kan. Makan di rumah makan sederhana ini juga tak perlu merogoh kocek terlalu dalam, cukup dengan Rp11.000 - 22.000 kamu bisa mencicipi aneka bestik khas Solo dan Rp 2.500 - 3.000 saja untuk minumannya. Pelayanannya agak lama karena memang malam itu penuh sekali warungnya dan agak panas juga karena hanya mengandalkan kipas angin di langit-langit. At least, makan di Solo, selalu masuk akal, bukan!

 

 
 
Date of Visit: Nov 22, 2012 

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 2

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Dawet Telasih Bu Dermi Smile Dec 16, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Dessert | Kencan / Berpasangan | Kumpul Keluarga

Kalau ada kesempatan mampir ke Pasar Gede, Solo, coba masuk lebih dalam ke area Blok Ayam Goreng. Di seberang jejeran pedagang buah, kita bisa melihat spanduk hijau besar bertuliskan Dawet Telasih Bu Dermi. Ya, disinilah salah satu dawet Solo yang tersohor di kota ini. Tempatnya memang hanya kedai kecil di tengah-tengah pasar yang ramai dan bau. Tapi saya menemukan kenikmatan asli makan dawet bersama riuhnya suasana pasar pagi itu.

 
Dawet Telasih atau dawet selasih merupakan salah satu pengembangan dari dawet ayu yang normalnya berisi cendol. Biasanya beda daerah, beda juga penyajiannya meskipun namanya sama-sama dawet. Dawet Solo ini isinya berupa jenang sumsum, ketan hitam, cendol, tape hijau, dan biji selasih. Kuahnya seperti biasa gula jawa dicampur nangka dan santan. I love jackfruit! Makanya pas menyeruput es ini saya seperti dibawa ke surga haha lebay...wangi pandan dan nangkanya bikin minuman ini segar banget dan manisnya ga berlebihan. Ah rasanya semangkuk dawet telasih ini ga cukup buat saya, tapi berhubung saya tidak suka bau khas pasar, ya cukup satu sajalah untuk mengobati rasa penasaran akan es dawet ini.

 
Harganya juga murah banget cuma Rp6.000 saja semangkuk. Minuman enak, ditambah suasana riuhnya pasar dengan keramahan orang-orang Solo, ah rasanya saya gak salah memilih memanjakan perut di kota ini!

 
 
Recommended Dish(es):  Dawet Telasih
 
Date of Visit: Nov 22, 2012 

Spending per head: Approximately Rp6500(Breakfast)

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 2  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 1  |  
Sesuai dengan harga
 1

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Mampir ke Phuket Lewat Solo Smile Dec 16, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Thailand | Restaurant | Kumpul Keluarga

Sebuah percakapan awkward dimulai saat saya ditanyai ingin makan apa di hari pertama di Solo, kira-kira seperti ini:

Teman saya : Mau makan apa?
Saya : Makan apa ya? Bingung baru nyampe hehehe...
Teman saya : Udah pernah ke Phuket?
Saya : (bingung kok nih anak malah nanyain ke Phuket) belum, mau sih abisnya tiketnya mahal...
Teman saya : (ngeliatin saya dengan tampang pengen ketawa) ih kok makan pake tiket segala.
Saya: Lah emang Phuket apaan?
Teman saya : Maksud aku Phuket restoran Thailand lho!
Saya: Ooohh kirain pantai Phuket di Thailand. krik. krik... (saya kepengennya ngetawain temen saya juga, lagian ngejelasin Phuket-nya gak spesifik hihi...)

Anyway, abis obrolan yang krik krik tadi akhirnya saya jalan-jalan ke Phuket walaupun ini hanya sebuah restoran Thailand di Solo. Ya lumayan mengobati lapar saya setelah berjam-jam duduk di kereta yang delay pula. Phuket terletak di Jl. Ir. Sutami 130 tepatnya dekat dengan Taman Satwa Jurug. Resto ini menjadi resto Thailand pertama di Solo dengan modifikasi menu yang disesuaikan dengan lidah Indonesia namun ada juga beberapa menu yang otentik Thailand. Menempati area yang besar, resto ini terlihat sangat pas untuk tempat berkumpul keluarga atau arisan. Restonya juga open space, sehingga semilir angin bisa dengan nikmatnya saya rasakan siang itu. Tidak ada ornamen Thailand yang melekat disini, hanya ada bendera Thailand dan Indonesia didampingkan di langit-langitnya.

Singkatnya, saya meredakan haus saya terlebih dahulu dengan secangkir Cha Dam Yen Sai Num (Thai Ice Tea). Uniknya, Thai Ice Tea disini disajikan dalam sebuah cawan kecil dengan Thai tea original hangat dan segelas es batu. Saya baru tahu rasanya Thai Tea yang belum dikasih es batu ternyata lebih enak. Teh orange kecokelatan dengan rasa manis itu dibagian bawahnya ternyata terdapat ampas kopi juga.

 
Yang unik lainnya, Phuket menyediakan minuman bernama Khreang Deum Chukamlang (Extra Joss Lychee). Sudah pasti minuman ini merupakan campuran Extra Joss dengan sirup leci. Saya pikir akan aneh rasanya, tapi pas dicoba ternyata segar sekali! Seperti perpaduan soda, sirup sarsaparilla dan manisnya leci. Rasa nano-nano yang juara!

 
Selanjutnya, Gurame Goreng Asam Manis tersaji begitu mantap di meja saya. Piring dan ikannya sama guedenyaaa! Si Gurame Goreng Asam Manis ini sudah di potong-potong kubik bagian dalamnya, jadi lebih mudah dimakannya. Ikan goreng ini disiram dengan saus asam manis dengan taburan potongan nanas, paprika merah, selada, tomat, dan kol. Ekspektasi saya besar sekali melihat pemampilan ikan yang begitu cantik. Namun sayangnya ikan guramenya sedikit berbaau lumpur. Ah bagaimana bisa mereka memasaknya tidak sempurna begini. Pas dimakan pun dagingnya masih terasa bau lumpur. Anyir. Untungnya, saus asam manis yang sedikit terasa seperti saus lemon mampu mengobati bau dan rasa anyir lumpurnya itu. Cuma ya jadi nggak sanggup makan lagi hehehe...

 
Untungnya, Khai Cub Pang Thod (Ayam Goreng Wijen) masih masuk akal di perut saya. Ayam goreng wijen ini kulitnya berbalut wijen dan disajikan dengan kremesan juga! Kulitnya crunchy sekali dan daging ayamnya lembut dan tanpa minyak. Sambal hijaunya juga pedasnya pas dan cocok buat cocolan ayamnya.

 
Rotee Phuket (Naan khas Thailand) menjadi penutup yang manis untuk makan siang saya hari ini. Naan-nya garing dan empuk dan nggak ada yang lebih enak dibanding mencocol Naan ke dalam gula jawa yang manisnya pas hehehe...

 
Overall, makan disini juga nggak perlu nyedian duit banyak kok. Kisaran harganya murah banget untuk sekelas menu Thailand. Kamu dapat menikmati makanan khas Thailand dengan harga mulai dari Rp7.000 - 30.000. Sedangkan untuk minuman dapat dinikmati dengan harga mulai dari Rp2.000 - 9.500 saja! Yang paling sebel sih pelayanannya aja yang agak lama sih, padahal pas saya datang restonya lagi sepi, cuma kenapa makanannnya datengnya bisa lebih dari 30 menit ya...Ya walaupun makanannya datangnya lama tetep rasanya cuma di Solo saya bisa menikmati makanan enak dengan harga masuk akal ya hehehe...

 

 
 
Recommended Dish(es):  Rotee Phuket
 
Date of Visit: Nov 22, 2012 

Spending per head: Approximately Rp50000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 2

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Wedang Dongo Keprabon Smile Dec 16, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jawa | Street Foods

Main ke daerah Jawa Tengah belum lengkap rasanya bila belum mencicipi minuman khasnya, wedang. Wedang di beberapa daerah di Jawa Tengah memiliki nama dan jenis yang berbeda-beda. Yang paling terkenal ya wedang jahe atau wedang ronde, namun di Solo namanya Wedang Dongo. Wedang Dongo di Solo tersebar hamper di tiap sudut kota ini. Namun, wedang yang terkenal enaknya dan bahkan sudah pernah masuk ke beberapa liputan media, ada di daerah Keprabon. Saya menelusuri daerah Keprabon kearah selatan Jalan Teuku Umar, disana terdapat deretan warung tenda nasi liwet dan wedangan, yang saya cari ada di sudut jalan sebelah kanan tepatnya sebelum Optik Atlas, Wedang Dongo Keprabon, namanya. Jika bingung mencarinya, yang membedakan warung ini dengan yang lain adalah tendanya, jika rata-rata bertenda satu, waarung ini memiliki dua tenda dengan warna merah putih menyolok bertuliskan Wedang Dongo Keprabon dan ada cap Wisata Kuliner Telkomsel-nya.

Warung wedang ini sudah berdiri 20 tahun dan sekarang sudah dipegang oleh generasi kedua. Si pemilik, kebetulan ibunya teman saya, bernama ibu Naniek Yulianti. Bu Naniek yang terlihat berusia kepala empat ini terlihat masih segar dan ramah melayani kami. Ada dua meja panjang di tiap tenda, yang satu dijadikan tempat untuk meletakkan wadah dan toples berisi bahan-bahan campuran wedang. Sebenarnya memang sangat tradisonal dan sederhana sekali tempatnya, tapi cukup bersih dan nyaman aja kok walau dipinggir jalan. Maklumlah Solo masih bersih, beda kan sama pinggir jalan di Jakarta hehe..

Wedang yang ditawarkan disini ada wedang dongo, wedang asle, wedang kacang putih, dan kacang hijau, wedang sekoteng dan es klengkeng. Saya pun langsung memesan minuman andalan disini, wedang dongo, wedang kacang putih, dan es klengkeng.

 
Wedang dongo ini berupa ronde kacang, kacang sangrai, dan kolang-kaling yang di siram air gula hangat. Hmmm…sudah pasti tau kan lezat dan hangatnya minuman ini. Manisnya pas dan rondenya juga lembut. Pas banget diminum di udara malam Solo yang sedang dingin. Bedanya dengan wedang dongo, Wedang Kacang Putih dipakaikan ketan putih dan warna putih airnya itu karena telah dicampur kacang putih yang sebelumnya dikukus dengan daun pandan hingga warnanya menjadi sangat putih. Rasanya manis seperti minum bubur ketan dengan santan hehehe….

 

 
Sedangkan, si Es Klengkeng ini sebenarnya sangat simple pembuatannya, si ibu malah menggunakan buah klengkeng kalengan kemudian dicampur dengan air gula dan es batu. Rasanya yam anis dan segar. I love this one, soalnya air gula home made bu Naniek ini manisnya nggak membuat saya eneg.

 
Harga aneka minuman yang ditawarkan disini juga murah banget, rata-rata semua wedang dibanderol Rp7.000 saja. Dengan pelayanan Bu Naniek yang snangat cepat apalagi beliau sudah hapal bertahun-tahun respenya, jadi cara minum wedang disini benar-benar nikmat mulai dari harga, rasa, dan keramahan pelayanannya deh!

 
Nah, pernah nyobain wedang yang lebih enak dari ini, eaters? Monggo di share disini pengalamannya…
 
Recommended Dish(es):  wedang dongo
 
Date of Visit: Nov 19, 2012 

Spending per head: Approximately Rp7000(Night Snack)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 1

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0