OpenRice Index
  
ichakhairisa
This is ichakhairisa living in Cilincing. I am a Editor, work in Kuningan. I like to hang out in Sudirman, Kelapa Gading, Kuningan. Betawi, Jawa, International food are my favorite cuisines. I also love Chocolate / Candy Shop, Kedai Kopi & Teh and Es Krim/Yogurt, Dessert, Soto/Rawon, Dim Sum, Salad.
Member 98 First(s)
No. of Review218 Review(s)
編輯推介數目148 Editor's Choice
Recommended16 Recommended
Popularity11501 View(s)
Replies in Forum5 Comment(s)
Upload Photos1216 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant2 My Restaurant(s)
Follow1 Following
粉絲1312 Follower(s)
ichakhairisa  Level 4
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
Display: AllJakarta Bali Bandung Surabaya Semarang Yogyakarta Other Cities  
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 1 to 5 of 14 Reviews in Indonesia
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Restaurant | Kumpul Keluarga

Setelah sarapan pagi yang belum-belum sudah membuat perut saya penuh, jam makan siang kerabat saya lagi-lagi mengajak saya memenuhi perut dengan makanan khas Balikpapan lainnya yang nggak boleh dilewatkan, kepiting! Ada begitu banyak rumah makan yang menawarkan hidangan kepiting di Balikpapan, tapi hanya beberapa saja yang memang tersohor. Biasanya rumah makan tersebut terkenal karena pemilihan dan penyajian kepitingnya serta bumbu campurannya yang beda dari yang lain, dan RM. Torani-lah yang direkomendasikan kerabat saya kalau ingin mencoba bumbu kepiting lada hitam yang nendang rasanya!

 
RM Torani ini sudah berdiri sejak tahun 2006, berlokasi di daerah Stall Kuda, sebelah rumah tahanan Balikpapan. Rumah makan ini memilik area yang sangat luas menampung kurang lebih 300 orang. Dominasi warna biru dan kursi-kursi rotannya plus bau amis ikan segar dan asap dari bakaran ikan mengingatkan saya akan makan ikan lagsung di Pasar Ikan Muara Angke. Benar-benar tipikal resto seafood banget. Sayangnya, (sampe sedih banget nih) pas kesini stok kepitingnya sedang kosong. Kalaupun ada, dipastikan kepitingnya tidak memiliki banyak daging atau kosong. RM Torani menjaga kualitas mereka dengan tidak menyajikan kepiting kosong. Jadi, kalau mereka bilang kepiting sedang kosong, ya tidak akan disediakan.

Alhasil, siang itu saya hanya mencicipi Kepiting Rajungan Lada Hitam (125K). Wah, luar biasa sekali bumbu lada hitamnya. Pedasnya bukan nyangkut di lidah lagi, tapi langsung ketenggorokan. Pedasnya pun nggak terlalu menyengat, namun sangat terasa lada hitamnya. Kepiting rajungannya sendiri bersih dan tidak amis, sangat mudah dikorek-korek dengan tang yang tersedia dan bumbu lada hitamnya sampai menyerap kedalam daging kepiting rajungannya. Seporsi kepiting rajungan ini pas buat 2-3 orang.

 
Selain Kepiting Rajungan Lada Hitam, saya juga mencicipi Bandeng Bakar tanpa Duri (22K). Bandeng yang di bakar dengan bumbu yang nggak terlalu pekat. Namun, dengan begitu rasa ikan bandengnya sangat terasa. Bumbu kunyit juga sedikit tercium, dengan campuran rasa manis, asin, dan gurih dari bumbu-bumbunya seperti jahe, serai, dan laos. Nggak amis dan tulangnya bener-bener dicabutin satu-satu dengan pinset, bukan dipresto, jadi nggak akan ada sama sekali tulang halus yang tersisa.

 
Pepes Kepiting juga menggoda lidah saya siang itu. Pepes ini murni terbuat dari daging kepiting yang dicacah, dicampur dengan bumbu yang pekat dengan kunyit dan cabe merah sehingga rasa yang muncul dimulut saya pedas yang pekat dan kunyit yang menyengat. Agak sedikit tajam di lidah tapi tetep enak soalnya daging kepitingnya lembut banget dan nagih!

 
Overall, saya puas sekali makan di RM Torani ini. Harga makanannya juga standar warung seafood, untuk makanan dibanderol dari Rp20.000-125.000, sedangkan minuman dibanderol dari Rp3.000 - 10.000. Pelayanan juga ramah sekali. Manager operasionalnya bahkan menjelaskan dengan baik saat saya bertanya asal usul resto ini sampai alasan kenapa mereka tidak menyediakan kepiting hari itu.

 
Recommended Dish(es):  rajungan lada hitam
 
Date of Visit: Apr 07, 2012 

Spending per head: Approximately Rp50000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 5  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
   1 Vote(s)   View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Stand / Kios

Hari kedua backpacking ke Solo kali ini saya menyempatkan main ke daerah Tawangmangu setelah dikomporin sama teman saya kalau disana ada sop buntut paling enak se-Solo. Tanpai dikomandoi lagi, saya meluncur kesana dengan berbekal mobil sewaan karena seharian hujan dan nggak bisa touring pakai motor. Singkatnya, saya terdampar di daerah pegunungannya Solo, Tawangmangu yang sejuk dan dingin banget dan keputusan nyobain makanan yang hangat seperti sup itu memang pilihan tepat. Sop Buntut dan Pecel Bu Ugi-lah pilihan saya. Rumah makan ini terletak di pinggir Jalan Raya Solo-Tawangmangu, tepatnya disebelah timur pasar Tawangmangu. Posisinya di sebelah kanan dan berada di jalur penanjakan menuju Tawangmangu. Kalau kata teman saya sih, kalaupun kita kesulitan mencari rumah makan ini, cukup bilang Bu Ugi saja semua orang Tawangmangu pasti tau. Soalnya dengar-dengar rumah makan yang awalnya terkenal dengan Nasi Pecelnya ini sudah berdiri sejak tahun 1930 dan merambah ke sop buntut pada tahun 1980-an.

Rumah makannya cukup besar dan nyaman dengan kapasitas kira-kira 50 orang. Interiornya juga sederhana saja, hanya menggunakan kursi dan meja plastiok kayak di warung makan pinggir jalan, cuma karena udaranya dingin jadi ya suasananya nayaman-nyaman aja buat saya.

Baru duduk saja saya sudah bisa mencium aroma sop buntut yang wangi sekali dan membuat perut saya benar-benar bergejolak. Nggak sampai 10 menit setelah order, sop buntut itu datang ke meja saya dan lagi-lagi aroma gurih dan bau daging sapinya itu lho, kok bisaaaa menggoda banget yah hihihi...

 
Saya terkejut pas melihat seporsi sop buntut Bu Ugi ini, beda dengan sajian sop buntut yang biasa saya makan di Jakarta. Semangkuk sop buntut Bu Ugi ini disajikan dengan potongan kentang dan wortel yang besar dan taburan daun bawang. Dagingnya pun gak hanya buntut tapi ada beberapa potongan daging sapi lengkap dengan tulangnya. Plus perkedel dan gorengan tempe yang bisa jadi pelengkap sop.

 
Jangan tanya seperti apa reaksi saya setelah menyeruput kuah sopnya. Yang bisa saya bilang hanya 'Ya Oloh rasa kuahnya mirip sama wanginya!' It's perfect! Saya bisa merasakan rasa daging sapi yang kuat dan gurih bahkan hanya menyeruput kuahnya yang kental itu. Ini jarang-jarang banget lho terjadi pada sop bening yang biasa saya makan. Biasanya cuma wanginya aja, rasanya pasti beda, tapi Bu Ugi make it right! Potongan buntut dan dagingnya pun lembut dan mudah dikunyah. Kalau suka pedas, Bu Ugi menyediakan saus kecap yang sudah ditambah irisan cabai. Kalau buat saya sebenarnya agak failed pas kuahnya diberi kecap pedas, soalnya udah nggak berasa gurih lagi. Percayalah, kuah originalnya itu lebih mantaaaap! Dijamin ketagihan!

 
Seporsi sop buntut ini dihagai Rp17.500 saja. Harga yang sangat murah melihat harga daging sekarang sangat mahal. Nah, lagi-lagi saya nggak nyesel jauh-jauh ke Tawangmangu hanya untuk nyicipin sopnya si Bu Ugi ini, selain suasana pegunungan yang begitu lekat di sekitar saya, mencicipi lezatnya sop ini juga benar-benar memanjakan perut saya. Indahnya bisa menikmati kuliner Indonesia seperti ini. Sampai ketemu di jelajah kuliner Solo saya selanjutnya, eaters!
 
Recommended Dish(es):  sop buntut
 
Date of Visit: Nov 22, 2012 

Spending per head: Approximately Rp20000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 5  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 2

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Makan Steak a la Orang Solo  Smile Nov 28, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jawa | Restaurant | Kumpul Keluarga

Satu-satunya alasan saya mau datang ke Solo adalah masih banyak restoran yang menjunjung tinggi nuansa tradisional dan homey-nya rumah di perkampungan Solo dalam interior ataupun eksterior restorannya, salah satunya adalah Omah Selat. Mulsi dari area bagian depannya saja sudah disuguhkan suasana rumah tempo dulu dengan deretan kursi dan dinding dari kayu jati dihiasi dengan perlengkapan rumah tangga jaman dulu mulai dari nampan corak bunga dari besi yang sudah berkarat, piring-piring kaca, juga lampu petromak yang dimodifikasi.

 
Masuk ke bagian dalam nuansa tradisional semakin terasa dengan dinding kayu berukiran khas Solo dan penerangan redup yang menghasilkan cahaya kuning di segala sisinya. Ada beberapa area di ruangan ini, area pertama merupakan area lesehan yang di beberapa sudutnya terdapat deretan teko-teko alumunium tua, lemari tua berukiran Jepara dan beberapa pajangan keris gantung.

 
Masuk ke bagian tengah terdapat satu set meja makan. Dindingnya kental dengan beragam ukiran dan hiasan piring-piring keramik dan oh ada satu yang lucu ada frame berisikan foto gadis a la 50-an, tipikal foto-fotonya Andy Warhol. Ada juga pajangan berupa rantang jaman dulu dengan corak hijau army-nya. Lampu gantungnya juga unik, tipikal lampu pada rumah gaya Jawa dan Betawi tempo dulu. Masuk ke bagian agak dalam, atau paling belakang terdapat dua ruangan, ruangan sebelah kiri pertama memiliki dua sofa besar yang bisa ditidurin yey! Di seberangnya terdapat dertan setrikaan sangat kuno yang jaman dulul masih menggunakan arang, tapi lucunya ada TV LCD 29 inch di gantung ditengan dinding. Tak lupa deretan toples usang di bagian samping dan foto-foto pemilik restoran ini. Ruangan sebelahnya terkesan agak private karena sangat tertutup dan memiliki set meja makan yang lebih bagus mirip seperti kursi makan di keraton Solo. Di bagian luarnya terdapat pajangan termos-termos tua dan rantang.

 

 
Ah rasanya masuk ke restoran ini seperti dibawa kembali ke Solo beratus tahun silam dan tidak sampai disini, saya juga dimanjakan dengan kuliner khas Solo yang jadi jualan utama restoran ini, Selat Solo. Mungkin sedikit asing bagi yang belum pernah mendengarnya, saya pun begitu, ternyata selat merupakan makanan yang terbuat dari daging sama seperti steak hanya saja penyajiannya ya a la tradisional.

 
Coba tengok Selat Segar (12.5K) yang saya pesan ini. Selatnya berupa rolade daging yang disiram dengan kuah kecap yang cair disajikan dengan kentang goreng, potongan wortel, telur rebus, kacang polong, selada, dan keripik kentang. Mirip sekali seperti penyajian steak hanya saja steak Solo ini direndam di kuah hihihi... Rasanya? Sama persisi seperti makan beef steak. Daging roladenya empuk, dengan bumbu kecap dan sedikit rempah yang cukup menyengat di lidah. Agak sedikit kemanisan sih buat saya, but so far it's okay. I just enjoy something new dari sebuah kekayaan kuliner Indonesia ;-)

 
Berbeda dengan selat segar, Selat Iga Bakar (20K) yang ini disajikan sebagaimana steak pada umumnya. Potongan iga sapi yang dibakar dan disajikan dengan potongan wortel, buncis, ubi ungu, kentang goreng dan mayonnaise. Lucunya di atas iga yang dibakar ada lelehan kejunya wuoooh makin ngiler saya! Iganya dibakar well-done, dagingnya empuk sekali, dan bumbunya meresap sampai kedalamnya sedangkan sausnya mirip saus bolognese untuk pasta hanya sedikit pedas manis.

 
Soup Lapis Galantin (12.5K) lebih unik lagi, sup ini berisikan selat yang merupakan campuran daging sapi dan ayam ditambah dengan potongan wortel, kacang polong, jamur kuping putih, keripik kentang dan sosis sapi. Kuah supnya gurih dan asinnya pas. Sisanya sih menurut saya seperti menyantap sop pada umumnya saja.

 
Overall, lagi-lagi saya menikmati apapun yang unik disini, lagipula nggak perlu merogoh kocek terlalu dalam juga tiap kali makan di Solo. Disini seporsi selat yang notabenenya sudah bermodel steak mahal saja range harganya masih dikisaran Rp20.000 - 25.000, selat segar dan sop malah hanya Rp12.500. Hmm...nggak salah saya memilih jelajah kulineran disini, selain suasana homey yang saya cari, makanan dengan harga 'terlalu' masuk akal pun bisa saya dapatkan. Pelayanan juga sangat memuaskan. Disini seperti kebiasaan orang Solo yang lembuh lembut dan sopan, kamu dijamin makin betah deh makan disini.

I'm gonna miss this city for sure!
 
Recommended Dish(es):  selat segar
 
Date of Visit: Nov 21, 2012 

Spending per head: Approximately Rp30000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 5  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 2

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jawa | Restaurant | Sate | Kumpul Keluarga

Kalau misalnya kalian sedang berpelesir ke daerah Jawa Barat dan melewati daerah Purwakarta, jangan lupa mampir ke the hottest sate in town "SATE MARANGGI CIBUNGUR". Saya baru ingat saya pernah mampir kesini beberapa bulan lalu sewaktu menghadiri pernikahan sahabat saya. Warung soto ini sudah terkenal dikalangan orang-orang yang sering mudik dan melewati jalan raya Cikampek-Purwakarta. Saya jadi penasaran soalnya orang tua pun heboh bilang kalau sate maranggi dan es kelapanya T.O.P B.G.T deh!

Akhirnya setelah perjalanan panjang dari Subang, rasa penasaran saya pun terbayarkan. Ternyata tempatnya luas banget, dari jauh asep udah ngepul kemana-mana. Walaupun lokasinya di pinggir jalan, tapi tempatnya lumayan nyaman buat makan, karena mejanya besar-besar gitu.

 
Ini suasana kedai satenya...gede bangeettt..parkirnya juga luas lho! Cuma mungkin karena saking ramenya dan sangat berasap, suasananya jadi terlalu riuh kayak di pasar, tapi tetep nyaman kok karena lokasinya di antara hutan-hutan karet.

 
Langsung pas kami datang, segelas es kelapa segar langsung disajikan di gelas melamin. Es kelapanya suegeeeeerrr banget! Manisnya pas…sumpah deh baru kali ini saya minum es kelapa dengan rasa yang enaak banget, manisnya bener-bener ga berlebihan, ga juga hambar karena rasa air kelapanya.

 
Lalu, kami memesan sate maranggi kambing dan sapi. Uniknya sate ini adalah dari tekstur dagingnya. Kalo sate pada umumnya Cuma berupa irisan daging kambing atau sapi tapi kalo sate ini merupakan adonan daging kambing atau sapi yang sebelumnya di kasih bumbu-bumbu khas sate maranggi. Lalu, disajikan dengan sambel tomat yang pedasnya juga bisa diminta dan nasi putih yang dibungkus daun pisang. Disini nggak ada istilah bumbu kacang seperti pada sate biasa, karena bumbunya sudah tercampur di adonan. Dan ternyata bener kata ibu saya, pas saya coba, rasa satenya mantaaaappp...dagingnya halus banget plus sambelnya pedasnya pas dilidah. Saya ampe mesen 3 porsi isi 15 tusuk lho! ahahaha....sekali-kali deh secara jarang-jarang mampir ke Purwakarta.

 
Ada juga sop kaki sapi yang super gurih kuahnya…

 

 
Selain, sate maranggi ini ada juga booth makanan ringan lho, kayak rujak, gorengan, gado-gado dan yang paling terkenal adalah combro maranggi. Wah, maav saya lupa memotretnya. Yang jelas combro disini enak banget, sampai-sampai ibu saya dulu pas ngidam adik keempat saya bela-belain kesini demi beli combro hahaha….

Untuk harga jangan ditanya, harganya murah dan standar harga sate pada umumnya, kok. Seporsi sate maranggi kambing atau sapi isi 10 tusuk dihargai Rp15.000, nasi putih Rp4.000, Sop sapi Rp12.000 dan es kelapanya segelas Cuma Rp10.000. Oya, es kelapanya ini untuk per orangnya satu kelapa lho, jadi wajar harganya sepuluh ribu… puas deh…

Pokoknya, buat kamu yang suka pulang kampung atau sedang bepergian ke daerah Purwakarta, jangan lupa mampir kesini ya. Nyesel kalo nggak mampir deh!
 
Recommended Dish(es):  Sate Maranggi, Es Kelapa Muda
 
Date of Visit: Nov 14, 2010 

Spending per head: Approximately Rp25000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 5  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 1

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
   1 Vote(s)   View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Indonesian | Restaurant | Soto/Rawon | Kumpul Keluarga

Berkunjung ke suatu daerah belum lengkap rasanya bila tidak mencicipi kekayaan kulinernya. Awal bulan kemarin, saya sempat menjejakkan kaki sebentar di Balikpapan, Kalimantan Timur. Sebagai pecinta kuliner, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk hunting kuliner di kota yang juga disebut-sebut sebagai kota 1000 depot ini. Eits, jangan berpikiran depot disini itu semacam depot es, tapi depot disini tak lain adalah kedai makan yang menyajikan beragam makanan sehari-hari penduduk Balikpapan. Dan uniknya depot ini bukan kedai makan atau warung tenda pinggir jalan lho, tapi kedai makan seperti kafe kecil yang rata-rata berlokasi di ruko-ruko. Umumnya, depot di sini buka dari jam 6 pagi sampai jam 12 siang saja. Depot ini memang dikhususkan bagi orang-orang yang mencari sarapan pagi. Makanan yang dijual diantaranya nasi kuning, soto banjar, soto makassar, bubur ayam, roti bakar, dll.

 
Salah satu depot yang tersohor enaknya di Balikpapan adalah Depot Selamat, berlokasi di Jalan Ahmad Yani Blok C-06. Depot ini terletak di sebuah ruko pertokoan pinggir jalan. Saya datang kesini untuk sarapan pagi. Kata orang Balikpapan kalau mau makan di depot harus dari pagi kalau tidak akan cepat kehabisan. Benar saja, saya jam 9 sampai di sana pun depot itu sudah ramainya minta ampun! Depot yang di dominasi warna hijau limau pada interior luarnya ini penuh dengan orang-orang yang habis jalan dan olahraga pagi di hari minggu.

Soto Banjar (15K) menjadi pilihan saya pagi itu. Biasanya saya tidak makan makanan berat pagi-pagi. Hanya saja karena semalam saya tidak berhasil makan soto Banjar itu, Tante saya memaksa saya untuk tetap memakannya. Menurut adat orang Kalimantan, hal seperti itu namanya 'Kapuhunan'. Jadi kalau punya kepengenan sesuatu di Kalimantan harus segera dipenuhi, kalau nggak sampai di Jakarta bakal kebayang-bayang terus.Entah mengapa Soto Banjar asli disini malah kurang ramah dengan lidah saya. Kurang penyedap rasa. Kuahnya gurih tapi nanggung. Isinya sendiri terdiri dari bihun, lontong, potongan telur, keripik kentang, dll.

 
Coto Makassar (15K) juga menjadi pilihan saya. Kuahnya berwarna putih susu, katanya aslinya memang begitu. Tidak seperti coto makassar yang kebanyakan berkuah kuning di Jakarta. Rasanya cukup menyenangkan. Kuahnya gurih dan santannya cukup kental.

 
Untuk masalah harga memang agak mahal dibandingkan di Jakarta sih. Memang katanya biaya hidup dan makan di Kalimantan itu mahal banget. Makanya nggak heran seporsi soto yang biasa didapat di warung pinggir jalan Jakarta seharga 7-10 ribu, disini harus bayar lebih mahal sekitar 15-20 ribu. Tapi setidaknya saya puaaass bisa nyobain makanan asli dari kotanya langsung hehehe....Sarapan pagi yang memuaskan!
 
Recommended Dish(es):  soto banjar
 
Date of Visit: Apr 08, 2012 

Spending per head: Approximately Rp15000(Breakfast)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 2

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0