OpenRice Index
  
ichakhairisa
This is ichakhairisa living in Cilincing. I am a Editor, work in Kuningan. I like to hang out in Sudirman, Kelapa Gading, Kuningan. Betawi, Jawa, International food are my favorite cuisines. I also love Chocolate / Candy Shop, Kedai Kopi & Teh and Es Krim/Yogurt, Dessert, Soto/Rawon, Dim Sum, Salad.
Member 98 First(s)
No. of Review218 Review(s)
編輯推介數目148 Editor's Choice
Recommended16 Recommended
Popularity11501 View(s)
Replies in Forum5 Comment(s)
Upload Photos1216 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant2 My Restaurant(s)
Follow1 Following
粉絲1312 Follower(s)
ichakhairisa  Level 4
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
Display: AllJakarta Bali Bandung Surabaya Semarang Yogyakarta Other Cities  
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 6 to 10 of 14 Reviews in Indonesia
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jawa | Stand / Kios

Malam pertama di Solo saya habiskan dengan mencari kuliner yang lekat dengan cirinya yang muncul di malam hari, Nasi Liwet atau Sego Liwet salah satunya. Sebenarnya saya nggak terlalu tertarik dengan Nasi Liwet ini melihat beberapa kali saya mencicipi di Jakarta rasanya ya seperti makan nasi biasa dengan lauk pauk malah kadang nasi yang harusnya kental dengan santan itu terasa seperti makan nasi biasa. Tapi lagi-lagi karena ini di Solo, darah dimana si Nasi Liwet aslinya berada, saya wajib mencicipinya.

Saya menelusuri daerah Solo Baru, sebuah kota mandiri di Solo yang dikembangkan secara modern dengan deretan pertokoan, mal dan apartemen yang beberapa masih dalam pembangunan. Di sekitar area ini, kalau malam hari berderet warung tenda dna angkringan yang menjajakan makanan khas Solo, salah satunya Nasi Liwet Yu Sani. Nasi Liwet Yu Sani ini berada di paling ujung, di dean pertokoan Solo Baru. Seperti biasanya, karena warung tenda ini sudah terkenal, rata-rata orang Solo pasti sudah hapal dimana posisi Nasi Liwet Yu Sani ini. Beruntungnya saya kesini sebelum pukul 8 malam, karena katanya nasi liwet ini cepat habis kalau sudah di atas jam 8.

Warung tendanya cukup luas dan bersih, ada area lesehan dan area dengan kursi panjang. Saya bisa menghirup aroma santan yang kuat dari nasi liwet yang masih mengepul di pancinya. Deretan makanan pelengkap nasi liwet yang terhidang di meja seperti ati, ampela, ayam sayur, gudeg, sayur labu langsung memangil-manggil perut saya. Saya memilih memesan nasi liwet dengan ati ampela, sedangkan teman saya dengan ayam sayur kuning.

Tak perlu menunggu lama, nasi liwet datang kehadapan saya disajikan dengan piring yang beralaskan daun pisang. Hmmm...belum saya makan saja, aroma kental santannya lagi-lagi menggoda saya. Nasi liwet memang dibuat dari campuran nasi dan santan kelapa encer sehingga menghasilkan tekstur nasi yang pulen, agak basah, dan wangi. Rasanya perpaduan gurih dan manis. Nasi liwet ini sangat enak dinikmati selagi hangat ditambah dengan sayur labu dan areh, gumpalan santan yang jadi ciri khas pelengkap nasi liwet ini. Ati ampela atau ayam sayur, keduanya sama enaknya. Dagingnya empuk dan cocok dimakan dengan si nasi liwet. Intinya, santan dengan nasi belum pernah seenak ini buat saya!

 

 
Makan seporsi nasi liwet ini nggak perlu mikirin harga, cukup dengan Rp7.000 saya sudah bisa menikmatinya atau kalau mau porsi lengkap cukup tambah Rp2.000 saja. Ah, rasanya ingin menambah satu piring lagi, tapi cukuplah malam ini perut saya berkeliling Solo. Masih ada esok dan kuliner menggoda lainnya yang siap dinikmati perut saya yang sudah membuncit ini hehehe...

 
 
Recommended Dish(es):  nasi liwet
 
Date of Visit: Nov 21, 2012 

Spending per head: Approximately Rp7500(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 1

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Stand / Kios

Hari kedua backpacking ke Solo kali ini saya menyempatkan main ke daerah Tawangmangu setelah dikomporin sama teman saya kalau disana ada sop buntut paling enak se-Solo. Tanpai dikomandoi lagi, saya meluncur kesana dengan berbekal mobil sewaan karena seharian hujan dan nggak bisa touring pakai motor. Singkatnya, saya terdampar di daerah pegunungannya Solo, Tawangmangu yang sejuk dan dingin banget dan keputusan nyobain makanan yang hangat seperti sup itu memang pilihan tepat. Sop Buntut dan Pecel Bu Ugi-lah pilihan saya. Rumah makan ini terletak di pinggir Jalan Raya Solo-Tawangmangu, tepatnya disebelah timur pasar Tawangmangu. Posisinya di sebelah kanan dan berada di jalur penanjakan menuju Tawangmangu. Kalau kata teman saya sih, kalaupun kita kesulitan mencari rumah makan ini, cukup bilang Bu Ugi saja semua orang Tawangmangu pasti tau. Soalnya dengar-dengar rumah makan yang awalnya terkenal dengan Nasi Pecelnya ini sudah berdiri sejak tahun 1930 dan merambah ke sop buntut pada tahun 1980-an.

Rumah makannya cukup besar dan nyaman dengan kapasitas kira-kira 50 orang. Interiornya juga sederhana saja, hanya menggunakan kursi dan meja plastiok kayak di warung makan pinggir jalan, cuma karena udaranya dingin jadi ya suasananya nayaman-nyaman aja buat saya.

Baru duduk saja saya sudah bisa mencium aroma sop buntut yang wangi sekali dan membuat perut saya benar-benar bergejolak. Nggak sampai 10 menit setelah order, sop buntut itu datang ke meja saya dan lagi-lagi aroma gurih dan bau daging sapinya itu lho, kok bisaaaa menggoda banget yah hihihi...

 
Saya terkejut pas melihat seporsi sop buntut Bu Ugi ini, beda dengan sajian sop buntut yang biasa saya makan di Jakarta. Semangkuk sop buntut Bu Ugi ini disajikan dengan potongan kentang dan wortel yang besar dan taburan daun bawang. Dagingnya pun gak hanya buntut tapi ada beberapa potongan daging sapi lengkap dengan tulangnya. Plus perkedel dan gorengan tempe yang bisa jadi pelengkap sop.

 
Jangan tanya seperti apa reaksi saya setelah menyeruput kuah sopnya. Yang bisa saya bilang hanya 'Ya Oloh rasa kuahnya mirip sama wanginya!' It's perfect! Saya bisa merasakan rasa daging sapi yang kuat dan gurih bahkan hanya menyeruput kuahnya yang kental itu. Ini jarang-jarang banget lho terjadi pada sop bening yang biasa saya makan. Biasanya cuma wanginya aja, rasanya pasti beda, tapi Bu Ugi make it right! Potongan buntut dan dagingnya pun lembut dan mudah dikunyah. Kalau suka pedas, Bu Ugi menyediakan saus kecap yang sudah ditambah irisan cabai. Kalau buat saya sebenarnya agak failed pas kuahnya diberi kecap pedas, soalnya udah nggak berasa gurih lagi. Percayalah, kuah originalnya itu lebih mantaaaap! Dijamin ketagihan!

 
Seporsi sop buntut ini dihagai Rp17.500 saja. Harga yang sangat murah melihat harga daging sekarang sangat mahal. Nah, lagi-lagi saya nggak nyesel jauh-jauh ke Tawangmangu hanya untuk nyicipin sopnya si Bu Ugi ini, selain suasana pegunungan yang begitu lekat di sekitar saya, mencicipi lezatnya sop ini juga benar-benar memanjakan perut saya. Indahnya bisa menikmati kuliner Indonesia seperti ini. Sampai ketemu di jelajah kuliner Solo saya selanjutnya, eaters!
 
Recommended Dish(es):  sop buntut
 
Date of Visit: Nov 22, 2012 

Spending per head: Approximately Rp20000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 5  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 2

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Menikmati Kere Khas Yu Rebi Smile Dec 16, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jawa | Street Foods | Sate

Tenang aja, kamu nggak akan 'kere' kok cuma karena makan sate ini hihi...sate kere ini memang salah satu makanan khas Solo yang wajib dimakan saat berkunjung disini. Kenapa dinamakan 'kere' karena katanya orang Solo nggak sanggup pesan satu porsi dengan beragam jenis, jadinya dijadiin satu porsi isi macam-macam daging mulai dari daging, babat, ati ampela, gajih, ginjal, sampai torpedo! Tapi sebenarnya 'kere' itu merupakan nama lain dari tempe gembus atau ampas sisa pembuatan tempe. Kere ini diolah lagi sehingga bisa dimakan, deh.

Salah satu gerai sate kere ternama di Solo adalah Sate Kere Yu Rebi. Sudah bertahun-tahun Yu Rebi berjualan disini dengan rumah makan yang semuanya di cat berwarna oranye. Rumah makannya cukup luas berkapasitas kira-kira 80 orang. Di salah satu dindingnya kita bisa melihat foto Yu Rebi dan suaminya lengkap dengan kebaya dan beskapnya. Di bagian depan rumah makan, saya bisa melihat etalase berisi daging-daging yang sudah ditusukkan ke tusuk sate dan sebuah panggangan sate yang selalu mengepul.

Yu Rebi menjajakan aneka jenis sate yang rata-rata jerohan sapi, that's why nama rumah makan ini sebenarnya sudah berubah menjadi Sate Jerohan Sapi Yu Rebi. Sate daging, ginjal, babat, ati, torpedo merupakan pilihan bagi para penikmat jerohan. Seporsi sate tersebut berisi 10 tusuk. Saya memilih sate campur yang berisikan kesemua daging tersebut plus sate kere karena penasaran seperti apa tempe gembus itu.

 
Seporsi sate disini disajikan dengan lontong ataupun nasi. Saya memilih lontong. Lontong dan satenya sama-sama disiram dengan bumbu kacang yang agak sedikit pedas. Bumbunya sangat kental dan rasa kacangnya pun begitu pekat bahkan saya masih melihat potongan kacang kecil-kecil di bumbunya.

 
Sate campur sendiri isinya daging, ati, ampela, babat, gajih, ginjal, dan torpedo. Buat saya ketika semua daging ini dimakan bersamaan dengan bumbunya rasanya sama hehehe...Yang membedakan hanyalah tekstur tiap dagingnya saja dan ada ciri khas rasa tertentunya, seperti ati dan torpedo, kenyalnya beda dengan daging biasa. Anyway, walaupun terlihat tidak pedas, after taste bumbu kacang Yu Rebi ini dahsyat, pedasnya baru berasa di tenggorokan dan perut setelah makan! Nggak membayangkan orang yang menambahkan cabe dan bawang merah tambahan yang juga disodorkan Yu Rebi hihihi...

Sedangkan si sate kere alis si tempe gembus di bentuk kotak panjang dan ditusukkan ke sate. Sama seperti sate lainnya, si kere ini juga di bakar terlebih dahulu hingga kecokelatan. Teksturnya lembut sekali dan sedikit puffy dan terasa sedikit berampas ketika dikunyah. Rasanya gurih, sedikit mirip seperti makan adonan tempe dan tahu yang diblender halus.

 
Soal harga, kalau kata orang Solo yang sudah lama tahu Yu Rebi, harga disini semakin hari semakin mahal, mungkin karena Yu Rebi sudah punya 'nama'. Seporsi sate rata-rata dibanderol dengan harga Rp.22.000. Selain sate, Yu Rebi juga menyajikan sop buntut dan gado-gado komplit atau biasa dengan harga Rp10.000 untuk gado-gado dan Rp22.000 untuk sop buntut. Minuman murah aja rata-rata Rp2.000 - 3.500.

Yah, walaupun mahal berkunjung ke kedainya Yu Rebi nggak akan jadi kere juga kok. Kalau saya sih sangat terobati dengan si sate kere tersebut. Kulineran di kota yang masih kental makanan aslinya itu nggak akan pernah rugi. Hayoo siapa lagi yang mau mampir ke Solo.

 

 
 
Recommended Dish(es):  sate campur
 
Date of Visit: Nov 22, 2012 

Spending per head: Approximately Rp25000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 3  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 2

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
   1 Vote(s)   View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Restaurant | Kedai Kopi & Teh | Kumpul Keluarga

Apa yang nikmat dari jalan-jalan ke daerah pegunungan yang sejuk kemudian hujan deras dan badan kedinginan? Minum yang hangat-hangat kalau buat saya. Nggak heran ketika terjebak hujan deras di daerah Kemuning, Karanganyar, Solo, saya dan teman-teman memutuskan berteduh sambil ngeteh cantik di sebuah rumah teh bernama Ndoro Donker. Rumah teh yang memiliki nama sepintas seperti nama orang Belanda ini sebenarnya memang dimiliki oleh seorang lelaki berkebangsaan Belanda bernama Donker yang juga memiliki perkebunan teh di daerah Desa Kemuning ini. Rumah teh ini berdiri cantik di tengah-tengah perkebunan teh yang asri. Dengan konsep gaya Belanda, saya disuguhkan suasana homey mulai dari pelataran parkir rumah ini. Di bagian dalamnya terdapat dua area, area indoor dan outdoor. Di outdoor terdapat set meja makan kayu dan beberapa ada yang dipayungi oleh payung pantai cantik berwarna merah. Suasana taman dan pegunungan sangat terasa jika makan di area outdoor ini. Jika ingin merasakan suasana rumah Belanda, coba tengoklah ke bagian indoornya. Ada deretan pigura-pigura foto tempo dulu di dindingnya yang putih dan furnitur jaman dulu lengkap dengan karung berisi rempah-rempah di salah satu sudutnya. Kita juga bisa melihat rak berisikan kotak-kotak teh siap minum hasil dari perkebunan teh ini.

 
Karena saya dan teman-teman mau menikmati suasana dinginnya pegunungan dan hijaunya kebun teh, maka area outdoor lah yang dipilih. Makanan yang ditawarkan disini juga beragam, rata-rata sih masakan Indonesia yang namanya diubah dengan nama Belanda hehe...Minuman yang jadi jualan utama sih pastinya teh, mereka punya varian teh diantaranya Teh Hijau Kemuning, Teh Oolong, Teh Hitam Donker, Teh Aroma 63, Teh Aroma Inggris dengan pilihan earl grey, passion fruit, lady grey, dll), dan Teh Herbal. Semuanya disajikan baik dalam ukuran cangkir ataupun teko.

 
Passion Fruit Tea dan Teh Aroma 63 Mint menjadi pilihan kami. Untuk yang mint rasanya dingin ketika masuk di tenggorokan walaupuun disajikan panas dan tidak terlalu pahit. Oya, untuk pemanisnya disini juga disuguhkan gula jawa lho. Jadi, lebih mantap rasa dan aroma tehnya. Sedangkan, Passion Fruit malah terasa sangat pahit di lidah saya, jadi mesti banyak-banyak makan gula jawa deh hehehe....

Untuk menu pembuka, saya dan teman-teman memilih beragam snack karena perut belum terlalu lapar. Holand Aardapel, kentang yang disiram dengan bumbu khas Belanda menjadi awalan cemilan kami. Saya terkejut dengan tampilan luarnya, kentang panggang di potong kubik kemudian disiram dengan bumbu kuning dan ditaburi parutan keju yang buanyaaak banget! Sayangnya, tampilan dalamnya tidak seenak luarnya, kentangnya mungkin well-baked hanya saja bumbu kentalnya itu rasanya kurang cocok dengan kentang yang plain. Bumbunya manis dengan after taste seperti kuah soto dan tercium aroma bawang yang sangat kuat. Ah perpaduannya yang kurang pas buat saya, bahkan kejunya pun malah membuat semuanya eneg.

 
Gebakken Cassave atau Ubi Goreng khas Donker ini mengembalikan selera saya, ubi manis yang sepintas mirip kroket ini dibalut dengan tepung yang crunchy dan dicocol dengan mayonnaise. Manis ubinya pas dan tidak membuat saya eneg walaupun dicocol di mayonnaise yang asam.

 
Begitupun dengan Zoete Aardappelen, ketela goreng potong kubik yang dilumuri madu dan wijen menjadi cemilan manis yang menggugah selera saya. Ketelanya empuk dan madunya juga nggak terlalu manis. Enak deh seperti kesukaan saya jaman kecil, makan gorengan dicocol dengan lelehan gula jawa hehehe...

 
Gegrilde Banana juga cemilan yang cukup asik dimakan di dinginnya udara pegunungan. Pisang goreng yang dipotong kipas ini disiram dengan lelehan cokelat dan taburan keju. Pisangnya tidak terlalu lembek dan terigunya juga tidak terlalu pekat. Everything just well for my belly.

 
Masuk ke main course, pilihan menyantap Soup Iga Donker yang masih hangat sangatlah tepat. Aroma gurih iga langsung menjilat indera penciuman saya bahkan saat mangkuknya agak jauh dari hadapan saya. Kuahnya super gurih dengan taburan bawang goreng dan potongan daun bawang serta seledri. Iganya juga lembut dan mudah dipotong. Segar sekali disantap di siang yang dingin ini.

 
Iga Bakar Donker tak kalah juaranya, disajikan dengan nasi putih yanng dibentuk hati, iga bakar ini dibakar dengan kematangan yang pas dan bumbu kacang dan kecapnya meresap sampai kedalamnya. Potongannya juga kecil-kecil sehingga mudah untuk memotong dagingnya kembali.Sambal merahnya juga tidak terlalu pedas, masih normal untuk lidah saya yang bukan pecinta pedas.

 
Wah, rasanya perut saya puas banget bisa ngeteh cantik sambil menikmati lezatnya menu-menu Indonesia disini plus ngobrolin traveling dengan sesama backpacker. Coba suasana seperti ini bisa didapatkan tidak jauh dari Jakarta ya, pasti saya akan sering-sering kesini. Anyway eaters, buat kamu yang akan mampir ke daerah Kemuning, Solo, coba deh sempatkan mampir kesini. Harga makanan mereka juga masuk akal kok. Untuk appetizer mulai dari Rp5.000 - 12.500; main course Rp15.000 - 30.000; minuman Rp6.000 - 25.000. Happy tea hunting, eaters!
 
Recommended Dish(es):  iga bakar donker
 
Date of Visit: Nov 22, 2012 

Spending per head: Approximately Rp25000(Tea)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 1

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
   1 Vote(s)   View Results
Recommend
0

Makan Steak a la Orang Solo  Smile Nov 28, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jawa | Restaurant | Kumpul Keluarga

Satu-satunya alasan saya mau datang ke Solo adalah masih banyak restoran yang menjunjung tinggi nuansa tradisional dan homey-nya rumah di perkampungan Solo dalam interior ataupun eksterior restorannya, salah satunya adalah Omah Selat. Mulsi dari area bagian depannya saja sudah disuguhkan suasana rumah tempo dulu dengan deretan kursi dan dinding dari kayu jati dihiasi dengan perlengkapan rumah tangga jaman dulu mulai dari nampan corak bunga dari besi yang sudah berkarat, piring-piring kaca, juga lampu petromak yang dimodifikasi.

 
Masuk ke bagian dalam nuansa tradisional semakin terasa dengan dinding kayu berukiran khas Solo dan penerangan redup yang menghasilkan cahaya kuning di segala sisinya. Ada beberapa area di ruangan ini, area pertama merupakan area lesehan yang di beberapa sudutnya terdapat deretan teko-teko alumunium tua, lemari tua berukiran Jepara dan beberapa pajangan keris gantung.

 
Masuk ke bagian tengah terdapat satu set meja makan. Dindingnya kental dengan beragam ukiran dan hiasan piring-piring keramik dan oh ada satu yang lucu ada frame berisikan foto gadis a la 50-an, tipikal foto-fotonya Andy Warhol. Ada juga pajangan berupa rantang jaman dulu dengan corak hijau army-nya. Lampu gantungnya juga unik, tipikal lampu pada rumah gaya Jawa dan Betawi tempo dulu. Masuk ke bagian agak dalam, atau paling belakang terdapat dua ruangan, ruangan sebelah kiri pertama memiliki dua sofa besar yang bisa ditidurin yey! Di seberangnya terdapat dertan setrikaan sangat kuno yang jaman dulul masih menggunakan arang, tapi lucunya ada TV LCD 29 inch di gantung ditengan dinding. Tak lupa deretan toples usang di bagian samping dan foto-foto pemilik restoran ini. Ruangan sebelahnya terkesan agak private karena sangat tertutup dan memiliki set meja makan yang lebih bagus mirip seperti kursi makan di keraton Solo. Di bagian luarnya terdapat pajangan termos-termos tua dan rantang.

 

 
Ah rasanya masuk ke restoran ini seperti dibawa kembali ke Solo beratus tahun silam dan tidak sampai disini, saya juga dimanjakan dengan kuliner khas Solo yang jadi jualan utama restoran ini, Selat Solo. Mungkin sedikit asing bagi yang belum pernah mendengarnya, saya pun begitu, ternyata selat merupakan makanan yang terbuat dari daging sama seperti steak hanya saja penyajiannya ya a la tradisional.

 
Coba tengok Selat Segar (12.5K) yang saya pesan ini. Selatnya berupa rolade daging yang disiram dengan kuah kecap yang cair disajikan dengan kentang goreng, potongan wortel, telur rebus, kacang polong, selada, dan keripik kentang. Mirip sekali seperti penyajian steak hanya saja steak Solo ini direndam di kuah hihihi... Rasanya? Sama persisi seperti makan beef steak. Daging roladenya empuk, dengan bumbu kecap dan sedikit rempah yang cukup menyengat di lidah. Agak sedikit kemanisan sih buat saya, but so far it's okay. I just enjoy something new dari sebuah kekayaan kuliner Indonesia ;-)

 
Berbeda dengan selat segar, Selat Iga Bakar (20K) yang ini disajikan sebagaimana steak pada umumnya. Potongan iga sapi yang dibakar dan disajikan dengan potongan wortel, buncis, ubi ungu, kentang goreng dan mayonnaise. Lucunya di atas iga yang dibakar ada lelehan kejunya wuoooh makin ngiler saya! Iganya dibakar well-done, dagingnya empuk sekali, dan bumbunya meresap sampai kedalamnya sedangkan sausnya mirip saus bolognese untuk pasta hanya sedikit pedas manis.

 
Soup Lapis Galantin (12.5K) lebih unik lagi, sup ini berisikan selat yang merupakan campuran daging sapi dan ayam ditambah dengan potongan wortel, kacang polong, jamur kuping putih, keripik kentang dan sosis sapi. Kuah supnya gurih dan asinnya pas. Sisanya sih menurut saya seperti menyantap sop pada umumnya saja.

 
Overall, lagi-lagi saya menikmati apapun yang unik disini, lagipula nggak perlu merogoh kocek terlalu dalam juga tiap kali makan di Solo. Disini seporsi selat yang notabenenya sudah bermodel steak mahal saja range harganya masih dikisaran Rp20.000 - 25.000, selat segar dan sop malah hanya Rp12.500. Hmm...nggak salah saya memilih jelajah kulineran disini, selain suasana homey yang saya cari, makanan dengan harga 'terlalu' masuk akal pun bisa saya dapatkan. Pelayanan juga sangat memuaskan. Disini seperti kebiasaan orang Solo yang lembuh lembut dan sopan, kamu dijamin makin betah deh makan disini.

I'm gonna miss this city for sure!
 
Recommended Dish(es):  selat segar
 
Date of Visit: Nov 21, 2012 

Spending per head: Approximately Rp30000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 5  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 2

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0