OpenRice Index
  
ichakhairisa
This is ichakhairisa living in Cilincing. I am a Editor, work in Kuningan. I like to hang out in Sudirman, Kelapa Gading, Kuningan. Betawi, Jawa, International food are my favorite cuisines. I also love Chocolate / Candy Shop, Kedai Kopi & Teh and Es Krim/Yogurt, Dessert, Soto/Rawon, Dim Sum, Salad.
Member 98 First(s)
No. of Review218 Review(s)
編輯推介數目148 Editor's Choice
Recommended16 Recommended
Popularity11505 View(s)
Replies in Forum5 Comment(s)
Upload Photos1216 Photo(s)
Upload Videos0 Video(s)
My Recommended Reviews0 Recommended Review(s)
My Restaurant2 My Restaurant(s)
Follow1 Following
粉絲1312 Follower(s)
ichakhairisa  Level 4
Follow Follow  Comment Leave a Message 
Sort By:  Date Smile Smile Cry Cry  Editor's Choice  Overall Score 
Display: AllJakarta Bali Bandung Surabaya Semarang Yogyakarta Other Cities  
 
 
 
 
 
  Full View Full View   |   Map View Map View
Showing 11 to 14 of 14 Reviews in Indonesia
Mie Ongklok Pak Muhadi  Smile May 29, 2012   
Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jawa | Bakmi/Kwetiau

Menjelajahi kota orang belum lengkap rasanya jika tidak mencicipi kuliner khasnya. Teman saya yang asli Wonosobo mengajak saya mencicipi salah satu makanan khas Wonosobo saat libur panjang minggu lalu.

Wonosobo, kota yang terkenal dengan dataran tinggi Dieng-nya yang cantik itu memiliki segudang khasanah kuliner, salah satunya Mie Ongklok. Konon mie ini adalah masakan khas orang-orang Chinese yang banyak menetap disini. Mie Ongklok ini terkenal karena penyajiannya yang unik. Mie kuah disajikan dengan sate daging, unik bukan, tidak seperti mie kuah yang biasa ditemui di Jakarta.

 
Salah satu kedai mie ongklok yang terkenal di sini namanya Mie Ongklok..yang terletak di jalan ahmad yani. Kedainya cukup besar dengan kapasitas kira-kira 80 orang. Deretan bangku dan kursi panjang tertata rapi di dalam kedai. Dapurnya sendiri terletak di luar kedai. Sambil menunggu pesanan mie ongklok, senampan besar mendoan disodorkan di meja saya.

Mendoan versi Wonosobo agak beda dengan mendoan pada umumnya, digoreng sedikit kering dan warna kulitnya pun kuning. Tapi tempenya tetap bertekstur basah didalamnya. Enak banget buat dicemilin.

 
Selang 20 menit, mie ongklok yang tersohor itu disajikan. Memang cukup lama penyajiannya soalnya saat itu sedang ramai dan koki yang saya lihat di luar hanya 3 orang. Mie ongklok disajikan dalam sebuah mangkuk standar dengan mangkuk berisi sate sapi lengkap dengan bumbu kacangnya. Mie ongklok sendiri disajikan sangat unik, mie-nya sudah dicacah dicampur dengan kol dan daun kucai kemudian di bentuk bulat dan disiram dengan kuah gurih. Cara makannya dibarengi dengan sate sapi yang cukup empuk dagingnya. Jadinya rasa yang hadir di mulut saya warna-warni, perpaduan gurihnya kuah asin terbalut dengan manisnya bumbu kacang. Unik dan jarang saya temui dimana-mana.

 

 

 
Makanan yang disajikan disini hanya mie ongklok dengan harga seporsinya Rp16.000. Minuman yang adapun standar hanya teh manis dan aneka soft drink dengan range Rp3.500 -5.000. Namun saya puas makan disini. Karena bisa mencicipi kekayaan kuliner Indonesia khas Wonosobo.
 
Date of Visit: May 26, 2012 

Spending per head: Approximately Rp16000

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 3  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 1

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Indonesian | Restaurant | Soto/Rawon | Kumpul Keluarga

Berkunjung ke suatu daerah belum lengkap rasanya bila tidak mencicipi kekayaan kulinernya. Awal bulan kemarin, saya sempat menjejakkan kaki sebentar di Balikpapan, Kalimantan Timur. Sebagai pecinta kuliner, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk hunting kuliner di kota yang juga disebut-sebut sebagai kota 1000 depot ini. Eits, jangan berpikiran depot disini itu semacam depot es, tapi depot disini tak lain adalah kedai makan yang menyajikan beragam makanan sehari-hari penduduk Balikpapan. Dan uniknya depot ini bukan kedai makan atau warung tenda pinggir jalan lho, tapi kedai makan seperti kafe kecil yang rata-rata berlokasi di ruko-ruko. Umumnya, depot di sini buka dari jam 6 pagi sampai jam 12 siang saja. Depot ini memang dikhususkan bagi orang-orang yang mencari sarapan pagi. Makanan yang dijual diantaranya nasi kuning, soto banjar, soto makassar, bubur ayam, roti bakar, dll.

 
Salah satu depot yang tersohor enaknya di Balikpapan adalah Depot Selamat, berlokasi di Jalan Ahmad Yani Blok C-06. Depot ini terletak di sebuah ruko pertokoan pinggir jalan. Saya datang kesini untuk sarapan pagi. Kata orang Balikpapan kalau mau makan di depot harus dari pagi kalau tidak akan cepat kehabisan. Benar saja, saya jam 9 sampai di sana pun depot itu sudah ramainya minta ampun! Depot yang di dominasi warna hijau limau pada interior luarnya ini penuh dengan orang-orang yang habis jalan dan olahraga pagi di hari minggu.

Soto Banjar (15K) menjadi pilihan saya pagi itu. Biasanya saya tidak makan makanan berat pagi-pagi. Hanya saja karena semalam saya tidak berhasil makan soto Banjar itu, Tante saya memaksa saya untuk tetap memakannya. Menurut adat orang Kalimantan, hal seperti itu namanya 'Kapuhunan'. Jadi kalau punya kepengenan sesuatu di Kalimantan harus segera dipenuhi, kalau nggak sampai di Jakarta bakal kebayang-bayang terus.Entah mengapa Soto Banjar asli disini malah kurang ramah dengan lidah saya. Kurang penyedap rasa. Kuahnya gurih tapi nanggung. Isinya sendiri terdiri dari bihun, lontong, potongan telur, keripik kentang, dll.

 
Coto Makassar (15K) juga menjadi pilihan saya. Kuahnya berwarna putih susu, katanya aslinya memang begitu. Tidak seperti coto makassar yang kebanyakan berkuah kuning di Jakarta. Rasanya cukup menyenangkan. Kuahnya gurih dan santannya cukup kental.

 
Untuk masalah harga memang agak mahal dibandingkan di Jakarta sih. Memang katanya biaya hidup dan makan di Kalimantan itu mahal banget. Makanya nggak heran seporsi soto yang biasa didapat di warung pinggir jalan Jakarta seharga 7-10 ribu, disini harus bayar lebih mahal sekitar 15-20 ribu. Tapi setidaknya saya puaaass bisa nyobain makanan asli dari kotanya langsung hehehe....Sarapan pagi yang memuaskan!
 
Recommended Dish(es):  soto banjar
 
Date of Visit: Apr 08, 2012 

Spending per head: Approximately Rp15000(Breakfast)

Other Ratings:
Rasa
 4  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 4  |  
Sesuai dengan harga
 2

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
      View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Restaurant | Kumpul Keluarga

Setelah sarapan pagi yang belum-belum sudah membuat perut saya penuh, jam makan siang kerabat saya lagi-lagi mengajak saya memenuhi perut dengan makanan khas Balikpapan lainnya yang nggak boleh dilewatkan, kepiting! Ada begitu banyak rumah makan yang menawarkan hidangan kepiting di Balikpapan, tapi hanya beberapa saja yang memang tersohor. Biasanya rumah makan tersebut terkenal karena pemilihan dan penyajian kepitingnya serta bumbu campurannya yang beda dari yang lain, dan RM. Torani-lah yang direkomendasikan kerabat saya kalau ingin mencoba bumbu kepiting lada hitam yang nendang rasanya!

 
RM Torani ini sudah berdiri sejak tahun 2006, berlokasi di daerah Stall Kuda, sebelah rumah tahanan Balikpapan. Rumah makan ini memilik area yang sangat luas menampung kurang lebih 300 orang. Dominasi warna biru dan kursi-kursi rotannya plus bau amis ikan segar dan asap dari bakaran ikan mengingatkan saya akan makan ikan lagsung di Pasar Ikan Muara Angke. Benar-benar tipikal resto seafood banget. Sayangnya, (sampe sedih banget nih) pas kesini stok kepitingnya sedang kosong. Kalaupun ada, dipastikan kepitingnya tidak memiliki banyak daging atau kosong. RM Torani menjaga kualitas mereka dengan tidak menyajikan kepiting kosong. Jadi, kalau mereka bilang kepiting sedang kosong, ya tidak akan disediakan.

Alhasil, siang itu saya hanya mencicipi Kepiting Rajungan Lada Hitam (125K). Wah, luar biasa sekali bumbu lada hitamnya. Pedasnya bukan nyangkut di lidah lagi, tapi langsung ketenggorokan. Pedasnya pun nggak terlalu menyengat, namun sangat terasa lada hitamnya. Kepiting rajungannya sendiri bersih dan tidak amis, sangat mudah dikorek-korek dengan tang yang tersedia dan bumbu lada hitamnya sampai menyerap kedalam daging kepiting rajungannya. Seporsi kepiting rajungan ini pas buat 2-3 orang.

 
Selain Kepiting Rajungan Lada Hitam, saya juga mencicipi Bandeng Bakar tanpa Duri (22K). Bandeng yang di bakar dengan bumbu yang nggak terlalu pekat. Namun, dengan begitu rasa ikan bandengnya sangat terasa. Bumbu kunyit juga sedikit tercium, dengan campuran rasa manis, asin, dan gurih dari bumbu-bumbunya seperti jahe, serai, dan laos. Nggak amis dan tulangnya bener-bener dicabutin satu-satu dengan pinset, bukan dipresto, jadi nggak akan ada sama sekali tulang halus yang tersisa.

 
Pepes Kepiting juga menggoda lidah saya siang itu. Pepes ini murni terbuat dari daging kepiting yang dicacah, dicampur dengan bumbu yang pekat dengan kunyit dan cabe merah sehingga rasa yang muncul dimulut saya pedas yang pekat dan kunyit yang menyengat. Agak sedikit tajam di lidah tapi tetep enak soalnya daging kepitingnya lembut banget dan nagih!

 
Overall, saya puas sekali makan di RM Torani ini. Harga makanannya juga standar warung seafood, untuk makanan dibanderol dari Rp20.000-125.000, sedangkan minuman dibanderol dari Rp3.000 - 10.000. Pelayanan juga ramah sekali. Manager operasionalnya bahkan menjelaskan dengan baik saat saya bertanya asal usul resto ini sampai alasan kenapa mereka tidak menyediakan kepiting hari itu.

 
Recommended Dish(es):  rajungan lada hitam
 
Date of Visit: Apr 07, 2012 

Spending per head: Approximately Rp50000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 5  |  
Lingkungan
 4  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 4

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
   1 Vote(s)   View Results
Recommend
0

Share on TwitterShare on Facebook
Categories : Jawa | Restaurant | Sate | Kumpul Keluarga

Kalau misalnya kalian sedang berpelesir ke daerah Jawa Barat dan melewati daerah Purwakarta, jangan lupa mampir ke the hottest sate in town "SATE MARANGGI CIBUNGUR". Saya baru ingat saya pernah mampir kesini beberapa bulan lalu sewaktu menghadiri pernikahan sahabat saya. Warung soto ini sudah terkenal dikalangan orang-orang yang sering mudik dan melewati jalan raya Cikampek-Purwakarta. Saya jadi penasaran soalnya orang tua pun heboh bilang kalau sate maranggi dan es kelapanya T.O.P B.G.T deh!

Akhirnya setelah perjalanan panjang dari Subang, rasa penasaran saya pun terbayarkan. Ternyata tempatnya luas banget, dari jauh asep udah ngepul kemana-mana. Walaupun lokasinya di pinggir jalan, tapi tempatnya lumayan nyaman buat makan, karena mejanya besar-besar gitu.

 
Ini suasana kedai satenya...gede bangeettt..parkirnya juga luas lho! Cuma mungkin karena saking ramenya dan sangat berasap, suasananya jadi terlalu riuh kayak di pasar, tapi tetep nyaman kok karena lokasinya di antara hutan-hutan karet.

 
Langsung pas kami datang, segelas es kelapa segar langsung disajikan di gelas melamin. Es kelapanya suegeeeeerrr banget! Manisnya pas…sumpah deh baru kali ini saya minum es kelapa dengan rasa yang enaak banget, manisnya bener-bener ga berlebihan, ga juga hambar karena rasa air kelapanya.

 
Lalu, kami memesan sate maranggi kambing dan sapi. Uniknya sate ini adalah dari tekstur dagingnya. Kalo sate pada umumnya Cuma berupa irisan daging kambing atau sapi tapi kalo sate ini merupakan adonan daging kambing atau sapi yang sebelumnya di kasih bumbu-bumbu khas sate maranggi. Lalu, disajikan dengan sambel tomat yang pedasnya juga bisa diminta dan nasi putih yang dibungkus daun pisang. Disini nggak ada istilah bumbu kacang seperti pada sate biasa, karena bumbunya sudah tercampur di adonan. Dan ternyata bener kata ibu saya, pas saya coba, rasa satenya mantaaaappp...dagingnya halus banget plus sambelnya pedasnya pas dilidah. Saya ampe mesen 3 porsi isi 15 tusuk lho! ahahaha....sekali-kali deh secara jarang-jarang mampir ke Purwakarta.

 
Ada juga sop kaki sapi yang super gurih kuahnya…

 

 
Selain, sate maranggi ini ada juga booth makanan ringan lho, kayak rujak, gorengan, gado-gado dan yang paling terkenal adalah combro maranggi. Wah, maav saya lupa memotretnya. Yang jelas combro disini enak banget, sampai-sampai ibu saya dulu pas ngidam adik keempat saya bela-belain kesini demi beli combro hahaha….

Untuk harga jangan ditanya, harganya murah dan standar harga sate pada umumnya, kok. Seporsi sate maranggi kambing atau sapi isi 10 tusuk dihargai Rp15.000, nasi putih Rp4.000, Sop sapi Rp12.000 dan es kelapanya segelas Cuma Rp10.000. Oya, es kelapanya ini untuk per orangnya satu kelapa lho, jadi wajar harganya sepuluh ribu… puas deh…

Pokoknya, buat kamu yang suka pulang kampung atau sedang bepergian ke daerah Purwakarta, jangan lupa mampir kesini ya. Nyesel kalo nggak mampir deh!
 
Recommended Dish(es):  Sate Maranggi, Es Kelapa Muda
 
Date of Visit: Nov 14, 2010 

Spending per head: Approximately Rp25000(Lunch)

Other Ratings:
Rasa
 5  |  
Lingkungan
 3  |  
Pelayanan
 4  |  
Higienis
 3  |  
Sesuai dengan harga
 1

  • Keep it up!

  • Looking Forward

  • Interesting

  • Touched

  • Envy

  • Cool Photo
   1 Vote(s)   View Results
Recommend
0