1
1
0
Level1
1
0
2016-04-23 118 Lihat
Resep Turun-temurun, Eksis Hingga 70 TahunMASIH EKSIS: Rumah Kopi Gembira tetap ramai pengunjung. Ini dikarenakan cita rasa khas yang tetap dipertahankan turun-temurun. Foto: Surya Kawung/MPTua namun eksis. Itulah Rumah Kopi Gembira. Rumah Kopi yang terletak di Kawasan pusat Kawangkoan ini, selalu ramai didatangi pelanggan. Pemilik mengaku kedai ini sudah didirikan sejak 1946.Kedai ini memang tak pernah sepi. Pengunjung baru selalu datang. Dari dulu. Owner Rumah Kopi Gembira Silvana Soesanto men
Baca Ulasan Lengkap
Resep Turun-temurun, Eksis Hingga 70 Tahun

MASIH EKSIS: Rumah Kopi Gembira tetap ramai pengunjung. Ini dikarenakan cita rasa khas yang tetap dipertahankan turun-temurun. Foto: Surya Kawung/MP
Tua namun eksis. Itulah Rumah Kopi Gembira. Rumah Kopi yang terletak di Kawasan pusat Kawangkoan ini, selalu ramai didatangi pelanggan. Pemilik mengaku kedai ini sudah didirikan sejak 1946.

Kedai ini memang tak pernah sepi. Pengunjung baru selalu datang. Dari dulu. Owner Rumah Kopi Gembira Silvana Soesanto mengatakan, dulu bisnis ini dibuat oleh Ip Tae Hang yang tak lain adalah kakeknya sendiri. Rumah kopi ini diklaimnya sebagai rumah kopi pertama di Sulut. Setelah kakek Sil meninggal, giliran ayahnya Herman Soesanto (80) yang mengelola. Hingga saat ini, Sil dan suaminya Adrian Pradana (52) yang mengambil alih. Sebab usia yang menyebabkan ayahnya harus mencari pengganti.

Diakui Sil, rumah kopinya tetap eksis karena mempertahankan cita rasa yang sama, turun-temurun. “Jadi kami kontrol terus proses produksinya. Begitu juga dengan pelayanan di sini. Semboyan kami, cepat, tepat, mantap rasanya,” ujarnya bersemangat.

Dulu, sambung Sil, nama rumah kopinya adalah Kamweng. Namun, nanti setelah tahun 1962 baru diubah menjadi Gembira. Usaha kakeknya berubah nama setelah dikelola ayahnya. “Menunya dulu kue kampung ‘bobengka’. Setelah dua tahun berdiri, barulah ada biapong,” bebernya.

Sil pun mengakui tak gampang menjalankan bisnis ini. Ia pernah mengalami masa sulit. ”Omset kami pernah merosot waktu jalan di Tinoor putus tahun 2014. Karena kebanyakan pelanggan datang dari luar Kawangkoan. Namun, karena semangat bisnis yang diturunkan dari kakek, kami tetap bertahan di tengah menjamurnya rumah kopi,” ujarnya.

Tahun lalu Sil telah membuka cabang di Kelapa Gading Jakarta, dengan nama rumah kopi yang sama. Omset per bulannya bisa mencapai puluhan juta. “Menu primadona kami yaitu biapong ‘ba’ dan ‘temo’ dan kopi susu. Masing-masing dibanderol Rp9 ribu dan Rp6 ribu,” imbuh wanita 52 tahun ini.

Sementara itu, seorang penikmat kopi Yohanes Sidawa mengaku kepincut dengan rumah kopi ini. Ia sudah biasa datang ke Rumah Kopi Gembira. "Kopi di sini rasanya enak. Biapongnya juga sedap. Jadi sering-sering kemari," kuncinya. (ctr-10/adr)

- See more at: http://manadopostonline.com/m/berita/13873/Resep-Turun-temurun-Eksis-Hingga-70-Tahun#sthash.DrpmPwYH.dpuf
8 Lihat
0 Menyukai
0 Komentar
13 Lihat
0 Menyukai
0 Komentar
8 Lihat
0 Menyukai
0 Komentar
12 Lihat
0 Menyukai
0 Komentar
(Ulasan di atas adalah pendapat pribadi dari seorang pengguna yang tidak mewakili pandangan OpenRice.)
Pasang
Penilaian Rinci
Rasa
Dekorasi
Layanan
Higienis
Sesuai Harga
Metode Makan
Di Tempat