12
4
1
Level4
2013-05-21 149 Lihat
OverviewSaya teringat percakapan saya dengan beberapa food blogger beberapa hari lalu dan hampir semua setuju kalau kebanyakan restoran baru di Jakarta hanya fokus pada lokasi dan ambience bukan pada signature dishes yang harusnya menjadi ciri khas sebuah restoran. Ya, mungkin ada segelintir saja yang memang fokus pada makanannya dan sayangnya kebanyakan penduduk kota ini lebih mengutamakan urusan ‘tempat’ daripada ‘perut’. Sejak makin mantap di dunia food blogging saya semakin bisa membedakan m
Baca Ulasan Lengkap
Overview

Saya teringat percakapan saya dengan beberapa food blogger beberapa hari lalu dan hampir semua setuju kalau kebanyakan restoran baru di Jakarta hanya fokus pada lokasi dan ambience bukan pada signature dishes yang harusnya menjadi ciri khas sebuah restoran. Ya, mungkin ada segelintir saja yang memang fokus pada makanannya dan sayangnya kebanyakan penduduk kota ini lebih mengutamakan urusan ‘tempat’ daripada ‘perut’. Sejak makin mantap di dunia food blogging saya semakin bisa membedakan mana restoran yang memang focus pada makanannya mana yang focus menjual tempatnya. Dan baru saja dua hari lalu saya ‘terjebak’lagi dalam restoran yang hanya focus pada tempat.
41 Lihat
2 Menyukai
0 Komentar
49 Lihat
1 Menyukai
0 Komentar
Venue

Bicara soal pemilihan lokasi, restoran yang menamakan dirinya 19th Avenue Kitchen & Bar ini cukup cerdik memilih daerah Taman Ratu, Green Ville dimana disepanjang jalan ini berdiri beragam restoran dan kafe. Keseluruhan interiornya pun dibuat a la Rustic American di era 20-an. Dari mulai pintu masuknya, mereka tidka menggunakan pintu melainkan sebuah gerbang geser seperti di sebuah gudang atau garasi dan berhasil membuat saya bingung bagaimana cara memasukinya hehe…ternyata dari dalam ada waiter yang siap membukakan untuk tamu yang datang ke restoran dengan dua lantai ini. Suasana temaram dengan lampu gantung bergaya industrial, bohlam kuning di dalam sebuah kerangka terbuat dari kawat yang dibentuk unik, langsung menyambu setiap pengunjung. Di bagian tengah mereka malah memberanikan diri memasang lampu hias besar nan mewah seperti yang biasa dipakai di ballroom sebuah hotel dan membuat area ini terkesan sophisticated. Ada bar dengan tulisan HEY AWESOME berhias lampu yang menyala menambah kesan Rustic American semakin kental. Di lantai dua terdapat area indoor dengan kapasitas kursi hingga 100 orang dan area outdoor kecil dengan dinding batu koral yang justru lebih mendekat ke nuansa alam.
40 Lihat
1 Menyukai
0 Komentar
63 Lihat
1 Menyukai
0 Komentar
Suasana disini memang sangat nyaman seolah membawa setiap pengunjungnya berada di era Rustic American. Uniknya lagi di setiap meja makan mereka meletakkan sebuah kertas permainan acak kata yang berguna sekali untuk mengisi waktu sambil menungu pesanan datang. Sayangnya, semua kenyamanan dan gemerlapnya abad 20 itu hanya sebuah ilusi di mata tidak untuk di perut saya.

Menu

19th avenue memang menawarkan beragam menu western, mulai dari soup dan salad; light bites seperti bruschetta dan friench fries; aneka pasta seperti creamy salmon, meat in balls, 19th avenue pasta yang kesemuanya bisa based on your preferences bisa spaghetti, fettuccine atau penne; Asian menu seperti Oxtail Fried Rice, Homemade Ribs Soup, Hainan Chicken Rice; Grill section seperti Salamony Salmon, Mc tender 200gr, atau Grilled Chicky; Aneka pizza dan West Side dengan English breakfast dan mini burger sebagai andalannya; hingga Dessert seperti Sweet I’m Sweet atau Chocolate Lava Cake. Untuk minumannya juga beragam, mulai dari aneka tea, coffee, smoothies, milkshake hingga beer. Sayangnya, entah mengapa beberapa menu yang saya cicipi berikut ini sama sekali tak sepadan dengan gemerlapnya Rustic American.

Food & Beverages

Going Nuts Smoothies (20K). Terbuat dari campuran hazelnut, susu, es krim dengan potongan almond dan marshmallow sebagai topping. Untuk pembuka, buat saya minuman ini enak. Perpaduan cokelatnya pas, teksturnya lembut dan creamy namun nggak terlalu manis apalagi ada potongan almond yang sangat saya sukai. But the worst part is teman saya yang juga memesan minuman ini menemukan potongan plastik di dalamnya! How come 19th avenue! I’m just trying to be honest for this part. Secara ini pertama kalinya saya menemui kecerobohan seperti ini. Euw I’m speechless, saat pihak resto mengakui kesalahannya pun saya rasa saya bisa menerimanya tapi masih terheran-heran bagaimana caranya plastik es bisa tak terlihat dan masuk ke dalam gelas sih!
16 Lihat
1 Menyukai
0 Komentar
Rise and Shine (20K) ini merupakan campuran dari nanas, stroberi, pisang, jeruk dan yoghurt. There no shine melainkan hanya satu kata. Asam! This is not into me. Campuran buah-buahannya nggak membuat smoothies yang pekat ini segar, hanya asam yang pekat di lidah saya. Mungkin 19th Avenue perlu menambahkan sedikit gula.
20 Lihat
1 Menyukai
0 Komentar
19th Avenue Punch (26K) untungnya bisa menetralkan minuman sebelumnya. Campuran grenadine syrup, sprite, lime dan stroberi ini memang menyegarkan tenggorokan, rasa asam dan manisnya pas.
37 Lihat
1 Menyukai
0 Komentar
Creamy Salmon Fettuccine (52K). Pasta fettuccine ini dibalut dengan saus yang cukup pekat dan creamy. Cukup gurih dan sedikit manis. Taburan daging salmonnya juga cukup empuk. Hanya saja menurut saya cream-nya terlalu pekat dan tekstur fettuccine-nya agak keras hingga di suapan terakhir saya merasa eneg dan penuh.
37 Lihat
1 Menyukai
0 Komentar
Pesto Spaghetti (48K). Pasta dengan saus pesto ini cukup gurih, hanya saus pesto-nya masih belum autentik masih terlalu creamy meskipun rasanya enak. Sayang saya tidak berhasil memotretnya karena pencahayaannya parah sekali disini.

Raviolli Scoglio (47K). Ah sayang sekali pasta ini tidak secantik penampilannya. Raviolli-nya overcooked sampai-sampai teksturnya sangat ‘benyek’, daging cincang di bagian dalamnya pun tidak terasa gurih. Dan mussels yang menjadi dippingnya pun masih tercium bau amis.
43 Lihat
1 Menyukai
0 Komentar
19th Avenue Sauce Spaghetti (35K). Sausnya sedikit hambar dan terlalu kental dengan aroma dan rasa tomat, justru cenderung seperti saus pasta instan yang sering saya temui di supermarket. Tekstur spaghettinya cukup lembut dan chicken teriyaki di atasnya cukup juicy dan crunchy bagian kulitnya.
39 Lihat
1 Menyukai
0 Komentar
Gindara Teriyaki (49K). Dari sekian jenis makanan yang saya coba sebelumnya, Gindara Teriyaki ini masih lebih baik daripada seporsi pasta yang so so menurut saya. Tekstur gindaranya juicy dan saus teriyakinya gurih dan manis. Gindara Teriyaki ini juga dilengkapi dengan nasi dan salad yang cukup mengenyangkan perut.
19 Lihat
1 Menyukai
0 Komentar
Cheese Burger (48K). Porsinya lumayan besar dengan French fries sebagai pelengkapnya. Sayangnya, even burger ini terlihat besar dan menggiurkan beef di bagian dalamnya terasa biasa saja cenderung hambar dan tidak ada tambahan saus didalamnya. Keseluruhan burger ini sebelum ditambahkan saus yang banyak menurut saya plain. Untungnya, French fries-nya masih menolong, tidak terlalu asin namun garing.
42 Lihat
0 Menyukai
0 Komentar
Price

Harga makanan dan minuman disini masih terjangkau menurut saya, hanya kalau sudha melihat porsi dan rasanya menurut saya sih berlebihan. Makanan dapat dinikmati mulai dari Rp27.000-98.000, sedangkan minumannya dapat dinikmati mulai dari Rp15.000-26.000, untuk beer dijual tergantung jenis dan ukuran botolnya rata-rata berkisar antara Rp22.000-75.000 dan untuk per basketnya bisa sampai 300.000.

Service

Servisnya tidak memuaskan buat saya. Saya kan kesini datang bersama teman-teman atas undangan mereka. Sampai disini pun kami hanya disambut ala kadarnya dan langsung ditawarkan untuk memesan makanan yang jumlahnya pun dibatasi. 1 orang hanya boleh 1 makanan dan minuman, itupun makanannya hanya boleh aneka pasta dan menu Asian yang harganya tidak di atas 70 ribu. Tidak ada perkenalan apapun tentang resto ini, bagaimana acara food tasting ini berjalan, sambutannya sangat biasa saja, seolah mereka menjual mahal sekali restorannya. Saat tragedy plastik es di dalam smoothies pun awalnya waiternya seolah menganggap ini hal biasa, kemudian barulah datang marketingnya dan meminta maaf kemudian menjelaskan masalahnya. Saat saya dan teman-teman blogger pulang pun mereka hanya menyalami kami tanpa basa-basi apapun yang menurut saya tidak ramah sama sekali. Well, this is very awkward food tasting ever buat saya.

Overall, saya hanya ingin memberi masukkan kepada 19th Avenue untuk lebih teliti lagi dalam menyajikan makanannya dan treating their customers. Bagaimanapun juga restoran akan maju jika mereka menghargai pengunjungnya. Well, this is my opinion, how about you, eaters?!
(Ulasan di atas adalah pendapat pribadi dari seorang pengguna yang tidak mewakili pandangan OpenRice.)
Pasang
Penilaian Rinci
Rasa
Dekorasi
Layanan
Higienis
Sesuai Harga
Tanggal kunjungan
2013-05-19
Pembelanjaan per orang
Rp45000 (Makan Malam)
Makanan Rekomendasi
  • going nuts smoothies