2
0
0
Level3
67
33
2014-10-23 310 Lihat
Mengikuti "tour kuliner" bersama teman-teman yang mempunyai minat sama memang mengasyikkan dan seru, salah satunya saya bisa menyambangi sebuah restoran kecil namun legendaris di daerah Pinangsia. Ada banyak restoran atau warung yang menggunakan nama Lomie Pinangsia, namun Lomie "Amen" Pinangsia ini disebut-sebut sebagai pelopor lomie khas Pinangsia yang berkuah coklat kental bening, bukan kuah putih keruh seperti lomie pada umumnya. Di kemudian hari memang ada juga yang meniru kuah coklat seper
Baca Ulasan Lengkap
Mengikuti "tour kuliner" bersama teman-teman yang mempunyai minat sama memang mengasyikkan dan seru, salah satunya saya bisa menyambangi sebuah restoran kecil namun legendaris di daerah Pinangsia. 

Ada banyak restoran atau warung yang menggunakan nama Lomie Pinangsia, namun Lomie "Amen" Pinangsia ini disebut-sebut sebagai pelopor lomie khas Pinangsia yang berkuah coklat kental bening, bukan kuah putih keruh seperti lomie pada umumnya. Di kemudian hari memang ada juga yang meniru kuah coklat seperti ini, namun jika ingin mencicipi cita rasa yang asli tentu kita harus mencoba dari pelopornya.
28 Lihat
0 Menyukai
0 Komentar
31 Lihat
0 Menyukai
0 Komentar
Lomie "Amen" Pinangsia tempatnya sangat sederhana, terletak di lantai 1 dari rumah pemiliknya yang berbentuk memanjang ke belakang. Logo restoran hanya berupa spanduk yang dipasang di atas pagar depan, namun cukup eye catching dengan huruf berwarna merah di atas background kuning terang. Di sebelah kiri tulisan terdapat foto sang pemilik yaitu Bapak Amen yang juga kami temui secara langsung di restoran saat itu. Bangunannya terlihat sudah lama, tetapi di dalamnya cukup bersih dengan meja-kursi makan yang sederhana pula. Dapur tempat meracik makanan berada di bagian depan dengan pembatas kaca yang fungsinya jadi seperti etalase. Setiap pengunjung yang datang pasti akan melewati bagian dapur ini sebelum masuk dan duduk di ruang makan. Dapurnya memang tidak bisa disebut rapi ala restoran, lebih seperti dapur di rumah biasa, tetapi tergolong bersih. Sang pemilik sendiri langsung turun tangan meracik lomie pesanan customer dengan dibantu karyawan atau anggota keluarganya.

Pelayanan di restoran yang dikelola oleh keluarga ini juga tidak mengecewakan. Ketika customer datang dan duduk, langsung ditanya ingin pesan makanan dan minuman apa. Tak lama setelah memesan, minuman sudah diantarkan, dan tak lama kemudian lomie pun terhidang. Baik anggota keluarga maupun karyawan semuanya sigap dan cekatan melayani customer, terlihat mereka sudah biasa melayani banyak orang saat restoran ramai.

Tak perlu lama-lama memilih karena menu utama di sini hanya lomie saja, dengan pilihan memakai daging babi, ayam, atau campuran keduanya. Daging babi panggang dan ayam rebus yang akan dijadikan topping sudah tersedia di dapur, jadi jika customer ada special request ingin bagian daging tertentu bisa minta langsung saat memesan.
29 Lihat
0 Menyukai
0 Komentar
Lomie Ayam (IDR 40k)
Lomie Ayam
50 Lihat
0 Menyukai
0 Komentar
Saya bersama beberapa teman sepakat berbagi (sharing) karena sebelumnya kami sudah makan di tempat lain sehingga "kapasitas" perut sudah berkurang. Seporsi Lomie terhidang di depan kami tanpa menunggu lama. Kami memilih topping daging ayam karena beberapa di antara kami tidak makan daging babi.
Lomie Ayam
58 Lihat
2 Menyukai
0 Komentar
Lomie
30 Lihat
0 Menyukai
0 Komentar
Porsi lomie cukup besar berisi mie, sayuran, topping daging, dan kuah coklat bening yang terlihat kental. Bentuk mie agak tebal dan teksturnya firm, tetapi tidak terlalu kenyal -dan saya suka mie yang seperti ini. Sayuran berupa bayam dan tauge yang direbus sebentar terasa masih "crunchy" dengan tingkat kematangan yang pas. Topping daging ayam yang diberikan cukup generous, dan saya senang sekali karena mendapat bagian dada yang empuk dan tebal -tepat seperti kesukaan saya. Semua komponen tersebut disiram kuah coklat bening yang sepintas terlihat sangat kental. Setelah diaduk beberapa saat, ternyata kuahnya tidak sekental kelihatannya, dan yang lebih penting rasanya enak sekali! Ini melebihi ekspektasi saya pribadi, karena biasanya saya tidak suka kuah lomie yang putih keruh agak kental. Kuah coklat ini rasanya balance dan ada seberkas aroma jeruk limau yang menjadikannya segar, tidak membuat eneg.

Es Teh Manis (IDR 4k)
Siang hari yang terik di daerah Jakarta Utara begini paling enak minum sesuatu yang dingin. Es teh manis menjadi pilihan tepat yang menyegarkan. Kepekatan dan rasa manisnya pas menghalau dahaga sekaligus menetralisir rasa gurih-asin setelah makan lomie.

Saya merasa puas dan senang bisa makan Lomie Pinangsia di tempat aslinya, langsung diracik oleh pemiliknya sendiri pula. Meskipun tempatnya sederhana dan cukup jauh dari keramaian, semuanya terbayar dengan cita rasa lomie yang istimewa. Tidak heran jika restoran lomie yang sudah beroperasi sejak tahun 1945 ini tetap eksis hingga sekarang, bahkan sudah membuka cabang di salah satu mall besar. Ya, bagi yang ingin menikmati Lomie "Amen" Pinangsia dengan lebih mudah dan nyaman bisa mengunjungi Eat & Eat di Mall Kelapa Gading dan mencari booth Lomie "Amen" Pinangsia di sana.
Info Lainnya: Lomie sebaiknya segera dihabiskan selagi masih hangat karena akan lebih enak rasanya dibanding jika sudah mulai dingin. Ada cabang di Eat & Eat Mall Kelapa Gading.
(Ulasan di atas adalah pendapat pribadi dari seorang pengguna yang tidak mewakili pandangan OpenRice.)
Pasang
Penilaian Rinci
Rasa
Dekorasi
Layanan
Higienis
Sesuai Harga
Waktu Menunggu
7 Menit (Di Tempat)
Pembelanjaan per orang
Rp45000
Makanan Rekomendasi
Lomie Ayam