8
2
3
Level4
Halo Open Ricer, kembali lagi saya ke dunia review kuliner setelah disibukkan dengan berbagai kegiatan (#tsaaah). Kali ini, saya mau mereview tempat makan yang sudah berkembang jauuuuh dari sejak pertama kali saya kunjungi hingga sekarang.Mahasiswa atau orang-orang yang sering lewat daerah Dipati Ukur pastinya udah nggak asing lagi dengan nama Steak Ranjang. Dulu, steak ini letaknya ada di depan monumen seberang Universitas Padjadjaran dengan mengambil bentuk tenda berwarna pink. Saking laris da
Baca Ulasan Lengkap
Halo Open Ricer, kembali lagi saya ke dunia review kuliner setelah disibukkan dengan berbagai kegiatan (#tsaaah). Kali ini, saya mau mereview tempat makan yang sudah berkembang jauuuuh dari sejak pertama kali saya kunjungi hingga sekarang.

Mahasiswa atau orang-orang yang sering lewat daerah Dipati Ukur pastinya udah nggak asing lagi dengan nama Steak Ranjang. Dulu, steak ini letaknya ada di depan monumen seberang Universitas Padjadjaran dengan mengambil bentuk tenda berwarna pink. Saking laris dan ramainya, akhirnya mereka pindah ke bangunan yang berseberangan dengan travel Cititrans Dipati Ukur. Bangunannya sendiri terbagi menjadi dua lantai, di mana lantai untuk bagian atas diperuntukkan hanya untuk tamu lebih dari 4 orang.

Dekorasinya bisa dibilang minimalis dengan penggunaan cat warna merah dan krem. Sayangnya, warna krem tadi bisa dibilang "bumerang" untuk mereka karena dinding di bagian ini terlihat kotor. Selain itu, dindingnya pun terasa lowong karena tidak diberi gambar atau hiasan apapun. Lucunya, di bagian belakang ruangan ada meja panjang yang menghadap dinding dengan tulisan 'meja para jomblo'. Uuups!

Dari segi pelayanan sih menurut saya agak cepat ya karena memang tenaga yang dikerahkan cukup banyak mengingat para pengunjung Steak Ranjang yang lumayan rame. Tapi, meskipun begitu, banyaknya pegawai ini anehnya tidak dibarengi dengan kebersihan yang memadai. Lantai kotor dan bayangkan saja di lantai bawah meja yang saya makan ada potongan daging katsu yang antara dibuang atau tidak sengaja jatuh. Eeeewwww!

Menu yang disajikan di sini tidak jauh berbeda dengan menu yang mereka berikan di warung tenda dulu. Harganya juga nyaris sama, mungkin naik sekitar Rp2.000-Rp3.000. Yang pasti tidak terlalu berdampak signifikan. Yang agak diperbanyak mungkin adalah minumannya karena ada beberapa tambahan, seperti es Mi-Lo-Gue End (es milo).
198 Lihat
1 Menyukai
0 Komentar
248 Lihat
1 Menyukai
0 Komentar
Karena agak lapar, saya pesan spaghetti cheese katsu dengan level kepedasan 2 sementara si pacar pesan Tenderloin Telanjang Panas (Tenderloin tanpa balutan tepung) dengan level kepedasan 3. Minumannya kami samakan, yaitu ice lemon tea. Begitu datang dan menyeruput ice lemon tea, hmmm, rasanya mau protes karena terasa hambar. Kayaknya sih 1 sachet dipakai buat 2 gelas deh sehingga bisa menekan harga (cuma Rp4.000/gelas).
148 Lihat
1 Menyukai
0 Komentar
Pesanan makanan kami datang tidak lama kemudian. Mengingat waktu masaknya yang seharusnya lama tapi bisa dipersingkat, kemungkinan mereka sudah menyiapkan menu tersebut dalam jumlah besar dan tinggal dibagi-bagi.

Spagheti Cheese Katsu
Porsinya emang lumayan besar dengan spaghetti dan keju yang berlimpah. Ukuran ayamnya lumayan meski agak lebih kecil dari yang dulu. Rasanya sih standar. Nggak terlalu enak banget, tapi emang sukses mengenyangkan perut karena porsinya itu. Tapi, yang bikn saya ilfeel adalah penggunaan sambel ulek a la warung bakso di atas chicken katsu untuk menambah level kepedasan. Ketika saya sibak sausnya, ternyata ada biji-biji cabe yang berkumpul di atas ayam. Sambel ulek??? Kok perpaduannya kurang pas ya?? >_<
156 Lihat
1 Menyukai
0 Komentar
Tenderloin Telanjang Panas
Menu daging ini disajikan dengan kentang goreng, buncis, dan wortel. Penyajiannya terlihat berantakan banget, kayak asal ditaruh dan terburu-buru. Sekali lagi, sambal yang digunakan adalah sambal ulek yang dicampur ke dalam bumbu daging. Dan, yang bikin super-duper kecewa adalah dagingnya ternyata bukan daging utuh tapi berupa potongan-potongan daging kecil yang mungkin kurang dari 100 gram beratnya! What??? @_@ Hal ini bikin saya miris karena pas masih di warung tenda, tenderloin yang disajikan benar-benar berbentuk daging utuh.
151 Lihat
2 Menyukai
0 Komentar
Overall
Memang, perpindahan dari warung tenda ke bangunan tetap membuat biaya bertambah. Belum lagi menggaji pegawai dan memikirkan pemasukan. Tapi, kayaknya jangan sampai mengorbankan kualitas sedemikian rupa. Untuk para pelanggan baru Steak Ranjang mungkin tidak masalah. Tapi, untuk mereka yang pernah mencicip Steak Ranjang ketika masih berbentuk warung tenda pasti akan sangat kecewa.

Recommended? I don't think so.
(Ulasan di atas adalah pendapat pribadi dari seorang pengguna yang tidak mewakili pandangan OpenRice.)
Pasang
Penilaian Rinci
Rasa
Dekorasi
Layanan
Higienis
Sesuai Harga
Tanggal kunjungan
2013-09-05